Anda di halaman 1dari 38

H H

F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
37
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

1. Data hasil Observasi dan Wawancara

Gardu Induk Medari terdiri atas 6 buah penyulang (feeder) Yaitu

Medari 1, Medari 2, Medari 3, Medari 4, Medari 5, dan Medari 6. Penyulang

Medari 1,2,3, dan 4 merupakan saluran udara dan Medari 5 dan 6 merupakan

saluran kabel.

Data yang diperoleh sebagai berikut :

Ø Jenis relai arus lebih yang digunakan pada gardu induk medari jenis

standart inverse.

Ø Ratio CT untuk sisi incoming 1000/1 dan sisi outgoing 400/1, karena

disesuaikan dengan besarnya arus setelan primer relai.

Ø Impedansi trafo sebesar 12,54% (dalam PU) untuk sisi.

Ø MVA shot circuit pada sisi 150 kV sebesar 2806,29 MVA.

Ø Jenis penghantar yang digunakan adalah AAAC 240 mm2.

Ø Perbedaan waktu sebesar 5 detik antara sisi incoming dan outgoing karena

mengingat kondisi trafo yang digunakan.

Ø Pada Gardu Induk medari tidak pernah terjadi Simpatetik trip.

37
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
38
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Tabel 1. Arus Beban Dan Panjang Jaringan Untuk Setiap Penyulang

Impdansi Panjang
Penyulang I beban Jenis Penghantar
Trafo Jaringan

Medari 1 98 A 6 km

Medari 2 80Amp 5,8 km


AAAC 240 mm2
Medari 3 125 Amp 17,37 km
12,54% (PU)
Medari 4 208Amp 25,2 km

Medari 5 146 Amp NFA2XSY 240 mm2 1,9 km

Medari 6 70 Amp NFA2XSY 240 mm2 1,9 km

2. Penyetelan Relai Arus Lebih di Gardu Induk Medari

a. Penyetelan Arus Lebih

1) Penyetelan Incoming 20 kV

a) Nilai Penyetelan Relai Arus Lebih

i. Nilai Penyetelan Arus

Untuk menghitung nilai penyetelan relai arus lebih disisi

incoming 20 kV transformator tenaga, perlu terlebih dahulu

dihitung arus nominal trafo tenaga tersebut, sebagai berikut :

Kapasitas = 30 MVA

Tegangan = 150/20 kV

Impedansi = 12,54 %
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
39
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

CT Ratio = 1000/1 (pada sisi incoming 20 kV)

Arus nominal transformator tenaga pada sisi 20 kV :

kVAr
IN (sisi 20 kV) =
kV * 3

30.000
=
20 * 3

= 866,025 Amp

Iset (primer) = 1,2 * IN (sisi 20 kV)

= 1,2 * 866,025 Amp

= 1039,26 Amp

Nilai setelan tersebut adalah nilai primer, untuk mendapatkan

nilai setelan sekunder dihitung menggunakan data ratio trafo

arus (1/1000) yang terpasang pada incoming 20 kV tersebut,

yaitu :

Iset (sec) = Iset (pri) * 1/ ratio CT

= 1039,26 * 1/1000

= 1,039 Amp = 1 Amp

ii. Penyetelan Tms

Nilai Tms pada sisi incoming sebesar 0,25

Waktu kerja relai 1 detik


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
40
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

b) Penyetelan Relai Gangguan Tanah

i. Penyetelan Arus Incoming

Penentuan settingan arus harus memperhitungkan arus

ketidakseimbangan beban yang cukup besar akibat

digunakannya trafo distribusi 1 fasa, dan juga besar arus

hubung tanah dimana arus cukup besar karena pentanahan

lansung. Sehingga ditetapkan bahwa settingan arus adalah :

Iset = 30 –50% x Arus beban puncak

Ibeban puncak = In Trafo

kVAr
IN =
kV * 3

30000
=
20 * 3

= 866,05 Amp

Untuk sistem di DIY digunakan settingan 40% x IN Trafo

Iset pri = 0,5 x IN Trafo

= 0,5 x 866,05 Amp

= 433,025 Amp

Iset sec = Iset pri x (RCT)

= 433,025 x 1 / 1000

= 0,433 Amp

= 0,4 Amp
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
41
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

ii. Penyetelan Tms Incoming

Setelan Tms untuk Incoming sebesar 0,4

Waktu Kerja relai 1detik

2) Penyetelan Outgoing 20 kV

a) Nilai Penyetelan Arus Lebih

i. Nilai Penyetelan Arus

Data ratio trafo arusnya adalah 400/1 serta jenis arus lebih

yang digunakan adalah jenis standar inverse. Dimana I set =

120% X I Ratio CT.

Iset (pri) = Iset * I prim CT

= 1,2 * 400 Amp

= 480 Amp

Nilai setelan tersebut adalah nilai primer, untuk mendapatkan

nilai setelan sekunder, maka harus dihitung dengan

menggunakan data ratio trafo arus yang terpasang di penyulang

tersebut :

Iset (sec) = Iset (pri) * 1 / ratio CT

= 480 * 1/400

= 1,2 Amp (Nilai sama dengan nilai setelan

arus untuk penyulang yang lain).


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
42
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

ii. Nilai Penyetelan Tms

Nilai Setelan Tms sebesar 0,175 (Nilai sama dengan nilai

setelan Tms untuk penyulang yang lain).

Waktu kerja relai sebesar 0,5 detik

b) Nilai Penyetelan Relai Hubung Tanah

i. Nilai Penyetelan Arus

Iset pri = 0,5 x I Ratio CT


= 0,5 x 400 Amp
= 200 Amp
Iset sec = 200 x 1/400 = 0,5 Amp
ii. Nilai Penyetelan Tms

Nilai Setelan Tms sebesar 0,25

Waktu kerja relai sebesar 0,5 detik

b. Kinerja Relai Arus Lebih di GI Medari

Berdasarkan data PMT trip bulan Februari, maret, dan april di

Gardu Induk Medari, PMT trip tidak dalam waktu bersamaan dan bukan

karena satu jenis gangguan. Menandakan bahwa pada Gardu Induk Medari

tidak pernah terjadi Simpatetik Trip. Gangguan yang sering terjadi berupa

gangguan tidak ketemu, gangguan FCO putus, FCO rusak, jaringan kena

bambu, jaringan kena pohon, cuaca hujan dan angin kencang. Berdasarkan

data tersebut menandakan bahwa kondisi jaringan stabil dan peralatan pro-

teksi bekerja dengan baik.


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
43
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

3. Penyetelan Berdasarkan Kajian Pustaka

a. Penyetelan Relai Arus Lebih

1) Perhitungan Arus Hubung Singkat

Gardu Induk Medari terdiri atas 6 buah penyulang (feeder)

Yaitu Medari 1, Medari 2, Medari 3, Medari 4, Medari 5, dan Medari

6. Penyulang Medari 1,2,3, dan 4 merupakan saluran udara dan Medari

5 dan 6 merupakan saluran kabel. Perhitungan arus hubung singkat

dari sistem jaringan 20 KV yang di pasok dari Gardu Induk Medari

seperti gambar berikut :

Gambar 11. Gardu Induk

Bus 150 kV adalah bus yang dipasok dari pusat listrik yang di

interkoneksi. Maka dibutuhkan arus hubung singkat dari sisi 150 kV.

Ini digunakan untuk perhitungan impedansi sumber (Xsc).

Perhitungan arus hubung singkat pada gambar 11 system diatas

adalah sebagai berikut :

• Perhitungan besar impedansi sumber (reaktansi), yang


diperoleh dari data hubung singkat di Bus 150 kV
• Perhitungan reaktansi trafo tenaga
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
44
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

• Perhitungan impedansi penyulang dalam hal ini di di bagi


per 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang.
Data yang di perlukan untuk perhitungan arus hubung singkat
atau koordinasi relay adalah :
- MVA short circuit di Bus 150 kV
- Data trafo
Ø Kapasitas trafo (MVA)
Ø Reaktansi urutan positif trafo (%)
Ø Ratio Tegangan
Ø Mempunyai belitan delta atau tidak
Ø Ratio CT di incoming Feeder
Ø NeutralGrounding Resistance yang terpasang
- Impedansi urutan positif dan nol penyulang
- Arus beban penyulang
- Ratio CT di penyulang
2) Perhitungan Impedansi

Data Hubung singkat di Bus 150 kV GI Medari adalah sebesar

2806,29 MVA

Kapasitas trafo = 30 MVA

Perhitungan impedansi sumber

kV 2 150 2
X sc = = = 8,018Ω
MVAShoort 2806,29

Karena nilai impedansi sumber adalah nilai Ohm pada sisi 150 kV,

dan arus gangguan hubung singkat yang akan dihitung pada sisi 20

kV, maka impedansi sumber tersebut harus dikonversikan dulu kesisi


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
45
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

20 kV, sehingga arus hubung singkatnya sudah mempergunakan 20

kV.

Gambar 12. Konversi ke sistem 20 kV

20 2 400
X sc ( sisi 20kV ) = 2
x8,018Ω = X 8,018 = 0,1425Ω
150 22500

3) Perhitungan Reaktansi Transformator Tenaga

Reaktansi Transformator daya 30 MVA (GI Medari) adalah

sebesar 10 %. Nilai yang didapat pada sisi 20 kV harus dalam Ohm

yang dihitung dengan cara :

kV 2 20 2
XT(pada 100%) = = = 13,33Ω
MVA 30

Nilai reaktansi transformator daya adalah nilai reaktansi urutan

positif,negative (XT1 = XT2).

Maka : XT = 12,454% * XT (100%)

= 12,454% * 13,33

= 1,67

Reaktansi urutan Nol (XT0) diperoleh dengan memperhatikan

data transformator itu sendiri yaitu kapasitas belitan delta yang ada

pada transformator tersebut.


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
46
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

• Untuk trafo daya dengan hubungan belitan Y, dimana kapasitas


belitan Delta sama dengan kapasitas belitan Y, maka X T0 = XT1 =
1,67Ohm.

• Untuk trafo daya dengan belitan Yyd, dimana kapasitas belitan


delta (d) biasanya sepertiga dari belitan Y (belitan yang dipakai
untuk menyalurkan daya, sedangkan belitan delta ada dalam trafo
tetapi tidak dikeluarkan kecuali satu terminal delta untuk
ditanahkan), maka nilai XT0 = 3 * XT1 = 3* 1,67 = 5,01

• Untuk trafo daya dengan hubungan belitan YY dan tidak


mempunyai belitan delta didalamnya, maka besarnya XT0 berkisar
antara 9 s/d 14 * XT1, dan diambil nilai XT0 = 10 * 1,67 Ohm =
16,67 Ohm.
4) Perhitungan Impedansi Penyulang

Impedansi penyulang tergantung dari besarnya impedansi per

Km dari penyulang yang bersangkutan. Untuk GI Medari 1,2,3, dan 4,

jenis kabel untuk penyulang yang digunakan adalah jenis AAAC

240mm2 dimana besarnya tahanan (R) dan Reaktansi (XL) untuk

impedansi urutan positif, negatif adalah 0,3619 + j0,9327 dan

impedansi urutan nol adalah 0,3930 + j0,9435 (Tabel).

Maka : Z = (R + jX) Ohm/km sebesar


Z1 = Z2 = (0,3619 + j0,9327) Ohm/km
Z0 = (0,3930 + j0,9435) ohm/km
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
47
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Nilai impedansi penyulang dengan lokasi gangguan yang

diperkirakan terjadi pada 25%, 50%, 75%, 100% panjang penyulang 6

km, dapat dihitung sebagai berkut :

Tabel 2. Impedansi penyulang urutan positif dan negatif (Z1 & Z2)

% panjang Impedansi penyulang urutan positif dan negatif (Z1 & Z2)
25% 25% * 6 * (0,3619 + j0,9327) = 1,9795 ∠68,8 0
0,5428 + j1,3991
50% 50% * 6 * (0,3619 + j0,9327) = 3∠68,8 0
1,0857+ j 2,7981
75% 75% * 6 * (0,3619 + j0,9327) = 4,5∠68,8 0
1,6286 + j 4,1972
100% 100% * 6* (0,3619 + j0,9327) = 6∠68,8 0
2,1714 + j 5,5962

Tabel 3. Impedansi penyulang urutan Nol

% panjang Impedansi penyulang urutan Nol (Z0)


25% 25% * 6 * (0,3930 + j0,9435) = 1,53 ∠67,38 0
0,5895 + j 1,4152
50% 50% * 6 * (0,3930 + j0,9435) = 3,1 ∠67,38 0
1,179 + j 2,8305
75% 75% * 6 * (0,3930 + j0,9435) = 4,6 ∠67,38 0
1,7685 + j 4,2457
100% 100% * 6 * (0,3930 + j0,9435) = 6,13 ∠67,38 0
2,358 + j 5,661
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
48
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

5) Perhitungan Reaktansi Ekivalen

Perhitungan dilakukan untuk mengetahui nilai impedansi

ekivalen urutan positif (Z1eq), impedansi ekivalen urutan negatif (Z2eq),

dan impedansi ekivalen urutan nol (Z0eq) dari titik gangguan samapi ke

sumber.

Gambar 13. Rangkaian Reaktansi Ekivalen

Perhitungan Z1eq dan Z2eq dapat lansung dijumlahkan

impedansi-impedansi seperti gambar diatas, sedangkan Z0eq dimulai

dari titik gangguan sampai ke trafo tenaga yang netralnya ditanahkan.

Trafo tenaga yang terpasang mempunyai hubungan Yyd dimana

mempunyai nilai XT0 = 3 * XT1.

Perhitungan Z1eq dan Z2eq :

Z1eq = Z2eq = ZS1 + ZT1 + Z1 penyulang


= j 0,1425 + j 1,67 + Z1 penyulang
= j 1,8125 + Z1 penyulang
Karena lokasi gangguan diasumsikan terjadi pada 25%, 50%, 75% dan

100% panjang jaringan, maka Z1eq = Z2eq yang didapat adalah:


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
49
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Tabel 4. Nilai Ekivalen Impedansi penyulang urutan positif dan

negatif (Z1 & Z2)

% panjang Impedansi Z1 = Z2
25% 0,5428 + j1,3991+ j 1,8125 = 2,92 ∠79,310
0,5428 + j 2,8749
50% 1,0857+ j 2,7981+ j 1,8125 = 4,40 ∠75,75 0
1,0857 + j 4,2739
75% 1,6286 + j 4,1972+ j 1,8125 = 5,90 ∠73,98 0
1,6286 + j 5,6730
100% 2,1714 + j 5,5962+ j 1,8125 = 7,16 ∠72,930
2,1714 + j 7,0720

Perhitungan Z0eq

Z0eq = ZT0 + Z0 penyulang


= j (3*1,67) + Z0 penyulang
= j 5,01 + Z0 penyulang
Tabel 5. Impedansi ekivalen urutan nol (Z0eq)

% panjang Impedansi penyulang urutan Nol (Z0)


25% j 5,01 + 0,5895 + j 1,4152 = 0,5895 + 5,44 ∠83,79 0
j 5,4152
50% j 5,01 + 1,179 + j 2,8305 = 1,179 + j 6,93 ∠80,210
6,8305
75% j 5,01 + 1,7685 + j 4,2457 = 1,7685 + 8,43 ∠77,9 0
j 8,2457
100% j 5,01 + 2,358 + j 5,661 = 2,358 + j 9,94 ∠76,28 0
9,6610
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
50
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

6) Peritungan Arus Gangguan Hubung Singkat

Gangguan Hubung Singkat 3 Fasa

Dengan mempergunakan persamaan 21 dapat dihitung besarnya arus

gangguan hubung singkat 3 fasa sebagai berikut :

V
I=
Z1

Dimana I = arus hubung singkat 3 fasa


V = tegangan fasa netral sistem 20 kV = 20.000/ 3 V
Z1 = impedansi urutan positif yang diperoleh dari
perhitungan diatas
Sehingga arus gangguan hubung singkat 3 fasa dapat dihitung sebagai

berikut :

20.000

If3 fasa = 3 Amp


Z1eq

Tabel 6. Arus Gangguan Hubung Singkat 3 Fasa

% panjang Arus Gangguan Hubung singkat 3 fasa


25% 11547 11547
= = 3946,71A
0,5428 + j 2,8749 0,5428 2 + 2,8749 2

50% 11547 11547


= = 2618,54 A
1,0857 + j 4, 2739 1,8057 2 + 4, 2739 2

75% 11547 11547


= = 1956,41A
1,6285 + j 5,6730 1,6285 2 + 5,6730 2

100% 11547 11547


= = 1560,85 A
2,1714 + j 7,0720 2,1714 2 + 7,0720 2
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
51
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Gangguan Hubung singkat 2 fasa

Dengan persamaan 20 dapat dihitung gangguan hubung singkat

2 fasa sebagai berikut :

E
I2fasa =
2Z 1
Karena Z1 = Z2
Dimana I = arus 2 fasa yang dicari
E = tegangan fasa-fasa sistem 20 kV = 20.000 V
Z1 = impedansi urutan positif
Z2 = impedansi urutan negatif

Sehingga arus gangguan 2 fasa adalah sebagai berikut :

20.000
I f 2fasa =
2 * Z 1eq

Tabel 7. Arus Gangguan Hubung Singkat 2 Fasa

% panjang Arus Gangguan Hubung singkat 2 fasa


20000 20000
= = 3417,96 A
25% 2 * (0,5428 + j 2,8749) 1,0857 2 + 5,7498 2

20000 20000
= = 2267,72 A
50% 2 * (1,0857 + j 4,2739) 2,1714 2 + 8,5479 2

20000 20000
75% = = 1694,3 A
2 * (1,6285 + j5,6730) 3,25712 + 11,3460 2

20000 20000
= = 1351,73 A
100% 2 * (2,1714 + j 7,0720) 4,3428 2 + 14,14412
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
52
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Arus Gangguan Hubung Singkat 1 fasa ke tanah

Dengan menggunakan persamaan 19 dapat dihitung besarnya

arus gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah sebagai berikut :

3E ph
I1fasa =
Z1 + Z 2 + Z 0

Dimana : I = arus gangguan hubung singkat ketanah


V = tegangan fasa netral sistem 20 kV = 20000/ 3
Z1 = impedansi urutan positif
Z2 = impedansi urutan negatif
Z0 = Impedansi urutan Nol

Sehingga arus gangguan hubung singkat 1 fasa ketanah dapat dihitung

sebagai berikut :

20.000
3*
3E ph 3 34641,016
If1fasa= = =
Z1eq + Z 2eq + Z 0eq Z1eq + Z 2eq + Z 0eq 2 * Z 1eq + Z 0eq

Tabel 8. Arus Gangguan Singkat 1 Fasa Ke Tanah

% panjang Arus Gangguan Hubung Singkat 1


Fasa Ke Tanah
25% 34641,016 34641,016
= = 3068,27 A
2 * (0,5428 + j 2,8749) + 0,5890 + j5,4152 1,675 2 + 11,16512

50% 34641,016 34641,016


= = 2200,94 A
2 * (1,8057 + j 4,2759) + 1,179 + j 6,8305 3,3504 2 + 15,3784 2

75% 34641,016 34641,016


= = 1712,69 A
2 * (1,6285 + j5,6730) + 1,7685 + j8,2457 5,0256 2 + 19,5918 2
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
53
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

100% 34641,016 34641,016


= = 1400,75 A
2 * (2,1714 + j 7,0720) + 2,358 + j 9,661 67008 2 + 23,80512

7) Perhitungan Koordinasi Relay Arus Lebih

Arus beban penyulang di GI Medari Penyulang Medari 1

adalah sebesar 98 A, data ratio trafo arusnya adalah 400/1 serta jenis

arus lebih yang digunakan adalah jenis standar inverse. Dimana I set

= 120% X I Ratio CT.

a) Nilai setelan arus relai penyulang 20 kV

i. Setelan Arus :

Iset (pri) = Iset * I prim CT


= 1,2 * 400 Amp
= 480 Amp
Nilai setelan tersebut adalah nilai primer, untuk mendapatkan

nilai setelan sekunder, maka harus dihitung dengan

menggunakan data ratio trafo arus yang terpasang di penyulang

tersebut :

Iset (sec) = Iset (pri) * 1 / ratio CT


= 480 * 1/400
= 1,2 Amp
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
54
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

ii. Setelan Waktu (Tms) di Penyulang (Out Going Feeder)

Setelan waktu relai standar inverse dihitung dengan


menggunakan rumus kurva waktu Vs arus, yang dalam hal ini
diambil dari rumus kurva waktu Vs arus dari standard British :
0,14 xTms
t = 0 , 02
(22)
 I FAULT 
  −1
I 
 SET (Pr i ) 

 I 
0 , 02

t *   FAULT  − 1
  I SET  
Tms =  
0,14

Sehingga didapat hasil seperti tabel 9.


Tabel 9. Nilai Setelan Tms Relai
Ihs Iset t
% panjang Iset sec Tms
(Amp) (pri) (dtk)
25% 3417,96 0,13
50% 2267,72 0,10
480 A 1,2 A 0.5
75% 1694,3 0,08
100% 1351,73 0,07

Nilai setelan Tms yang diambil adalah 0,1 (berdasarkan nilai


setingan yang ada pada relai). Karena yang diambil sebagai
acuan penyetelan adalah gangguan antar fasa (2 fasa).
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
55
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

b) Setelan Nilai Incoming 20 kV Transformator Tenaga


i. Nilai Setelan Arus

Untuk menghitung nilai setelan relai arus lebih disisi incoming

20 kV transformator tenaga, perlu terlebih dahulu dihitung arus

nominal trafo tenaga tersebut, sebagai berikut :

Kapasitas = 30 MVA
Tegangan = 150/20 kV
Impedansi = 10 %
CT Ratio = 1000/1 (pada sisi incoming 20 kV)
Arus nominal transformator tenaga pada sisi 20 kV :

kVAr
IN (sisi 20 kV) =
kV * 3
30.000
=
20 * 3
= 866,025 Amp
Iset (primer) = 1,2 * Ibeban
= 1,2 * 866,025 Amp
= 1039,26 Amp
Nilai setelan tersebut adalah nilai primer, untuk mendapatkan

nilai setelan sekunder dihitung menggunakan data ratio trafo

arus (1/1000) yang terpasang pada incoming 20 kV tersebut,

yaitu :

Iset (sec) = Iset (pri) * 1/ ratio CT

= 1039,26 * 1/1000

= 1,039 Amp = 1 Amp


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
56
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

ii. Setelan Waktu (Tms) di Incoming Feeder


Dengan menggunakan persamaan 22 karena Tms pada relai
arus lebihnya pada penyulang yang akan disetkan pada relai
arus lebihnya diambil pada angka arus gangguan hubung
singkat (IFAULT) sebesar arus gangguan 2 fasa pada lokasi
gangguan 25% panjang penyulang (3946,71Amp)
Tabel 10. Setelan Tms OCR incomng Feeder GHS 2 Fasa

% Ihs Iset Iset t


Tms
panjang (Amp) (pri) sek (dtk)
25% 3417,96 0,11
50% 2267,72
1039,26 1,039 0.5`
75% 1694,3
100% 1351,73

Nilai setelan Tms yang diambil adalah 0,25 (berdasarkan nilai


penyetelan yang ada pada relai). Karena yang diambil sebagai
acuan penyetelan adalah gangguan antar fasa (2 fasa).

8) Hasil Perhitungan Penyulang Yang Lain

Untuk Penyulang Yang Lain berdasarkan perhitungan seperti pada

penyulang 1 diatas maka didapat hasil sebagai berkut :

a) Penyulang 2

Data-data trafo dan penghantar :

Kapasitas Trafo : 30 MVA


MVA Shoort circuit : 2806,29 MVA
Reaktansi trafo : 12,454 %
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
57
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Tegangan Primer : 150 kV


Tegangan Sekunder : 20 kV
Ratio CT : 400/1
I Beban : 80Amp
Panjang jaringan : 5,8 km
Jenis Penghantar : AAAC 240 mm2
Impedansi Urutan Positif : 0,3619 + j 0,9320
Impedansi Urutan Nol : 0,3930 + j 0,94435

Tabel 11. Arus Gangguan hubung Singkat dan Tms Penyulang 2

Lokasi 3 Fasa 2 Fasa I fasa Penyulang Incoming

Gangguan (Amp) (Amp) (Amp)


Tms Tms

25 % 4014,177 3476,381 3108,79 0,14 0,17

50 % 2678,857 2319,96 2243,44 0,11

75 % 2007,228 1738,311 1751,631 0,09

100 % 1604,115 1389,285 1435,66 0,07

Berdasarakan tabel 12 maka nilai Tms yang di pilih adalah :

Nilai setelan Tms penyulang 0,1 (berdasarkan nilai setelan yang

ada pada relai).

Nilai setelan Tms incomig 0,25 (Karena relai incoming yang

digunakan satu dengan penyulang lain).


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
58
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

b) Penyulang 3

Data-data trafo dan penghantar :

Kapasitas Trafo : 30 MVA


MVA Shoort circuit : 2806,29 MVA
Reaktansi trafo : 12,454 %
Tegangan Primer : 150 kV
Tegangan Sekunder : 20 kV
Ratio CT : 400/1
I Beban : 125 Amp
Panjang jaringan : 17,37 km
Jenis Penghantar : AAAC 240 mm2
Impedansi Urutan Positif : 0,3619 + j 0,9320
Impedansi Urutan Nol : 0,3930 + j 0,94435

Tabel 12. Arus Gangguan hubung Singkat dan Tms Pnyulang 3

Penyulang Incoming
Lokasi 3 Fasa 2 Fasa 1 fasa
Tms Tms
Gangguan (Amp) (Amp) (Amp)
2 fasa 2 fasa

25 % 1903,39 1648,385 1602,74 0,09 0,06

50 % 1110,693 961,89 1006,74 0,05

75 % 783,67 678,675 729,367 0,024

100 % 605,324 524,23 571,654 0,01


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
59
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Berdasarakan tabel 13 maka nilai Tms yang di pilih adalah :

Nilai penyetelan Tms penyulang 0,025 (Karena relai incoming

yang digunakan satu dengan penyulang lain).

Nilai setelan Tms incomig 0,25 (Karena relai incoming yang

digunakan satu dengan penyulang lain).

c) Penyulang 4

Data-data trafo dan penghantar :

Kapasitas Trafo : 30 MVA


MVA Shoort circuit : 2806,29 MVA
Reaktansi trafo : 12,454 %
Tegangan Primer : 150 kV
Tegangan Sekunder : 20 kV
Ratio CT : 400/1
I Beban : 208Amp
Panjang jaringan : 25,2 km
Jenis Penghantar : AAAC 240 mm2
Impedansi Urutan Positif : 0,3619 + j 0,9320
Impedansi Urutan Nol : 0,3930 + j 0,94435
Tabel 13. Arus Gangguan hubung Singkat dan Tms Pnyulang 4
Penyulang Incoming
Lokasi 3 Fasa 2 Fasa 1 fasa
Tms Tms
Gangguan (Amp) (Amp) (Amp)
2 fasa 2 fasa

25 % 1440,44 1247,46 1271,75 0,07 0,05

50 % 807,07 698,94 749,72 0,03


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
60
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

75 % 560,39 485,31 531,167 0,01

100 % 429,16 371,66 411,205 0,01

Berdasarakan tabel 14 maka nilai Tms yang di pilih adalah :


Nilai setelan Tms penyulang 0,025
Nilai setelan Tms incomig 0,25
d) Penyulang 5

Data-data trafo dan penghantar :

Kapasitas Trafo : 30 MVA


MVA Shoort circuit : 2806,29 MVA
Reaktansi trafo : 12,454 %
Tegangan Primer : 150 kV
Tegangan Sekunder : 20 kV
Ratio CT : 400/1
I Beban : 146 Amp
Panjang jaringan : 1,9 km
Jenis Penghantar : NFA2XSY 240 mm2
Impedansi Urutan Positif : 0,08 + j 0,1 (Tabel)
Impedansi Urutan Nol : 0,24 + j 0,3 (Tabel)
Tabel 14. Arus Gangguan hubung Singkat dan Tms Pnyulang 5

Penyulang Incoming
Lokasi 3 Fasa 2 Fasa 1 fasa
Tms Tms
Gangguan (Amp) (Amp) (Amp)
2 fasa 2 fasa

25 % 6217,78 5384,76 3910,73 0,17 0,23


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
61
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

50 % 6065,13 5247,36 3806,14 0,17

75 % 5906,30 5115,011 3705,6 0,17

100 % 5759,18 4987,6 3608,99 0,17

Berdasarakan tabel 15 maka nilai Tms yang di pilih adalah:

Nilai setelan Tms penyulang 0,175

Nilai setelan Tms incomig 0,25

e) Penyulang 6

Data-data trafo dan penghantar :

Kapasitas Trafo : 30 MVA


MVA Shoort circuit : 2806,29 MVA
Reaktansi trafo : 12,454 %
Tegangan Primer : 150 kV
Tegangan Sekunder : 20 kV
Ratio CT : 400/1
I Beban : 70 Amp
Panjang jaringan : 1,9 km
Jenis Penghantar : NFA2XSY 240 mm2
Impedansi Urutan Positif : 0,08 + j 0,1 (Tabel)
Impedansi Urutan Nol : 0,24 + j 0,3 (Tabel)
Tabel 15. Arus Gangguan hubung Singkat dan Tms
Pnyulang 6
Lokasi 3 Fasa 2 Fasa 1 fasa Penyulang Incoming
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
62
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Gangguan (Amp) (Amp) (Amp) Tms Tms

2 fasa 2 fasa

25 % 5990,53 5190,53 4172,143 0,17 0,25

50 % 4837,81 4189,66 3579,164 0,16

75 % 4048,76 3506,33 3129,43 0,14

100 % 3478,03 3012,06 2777,84 0,13

Berdasarakan tabel 16 maka nilai Tms yang di pilih adalah :

Nilai setelan Tms penyulang 0,15

Nilai setelan Tms incomig 0,25

b. Penyetelan Relai Hubung Tanah

1) Setelan Arus Relai Hubung Tanah

Penentuan settingan arus harus memperhitungkan arus

ketidakseimbangan beban yang cukup besar akibat digunakannya trafo

distribusi 1 fasa, dan juga besar arus hubung tanah dimana arus cukup

besar karena pentanahan lansung. Sehingga ditetapkan bahwa

settingan arus adalah :

Iset = 30 –50% x Arus beban puncak

Ibeban puncak = In Trafo

a) Setelan incoming :
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
63
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

kVAr
IN =
kV * 3
30000
=
20 * 3
= 866,05 Amp
Untuk sistem di DIY digunakan settingan 40% x IN Trafo

Iset pri = 0,5 x IN Trafo

= 0,5 x 866,05 Amp

= 433,025 Amp
Iset sec = Iset pri x (RCT)
= 433,025 x 1 / 1000
= 0,433 Amp = 0,4 A
b) Setelan Penyulang :

Iset pri = 0,5 x I Ratio CT


= 0,5 x 400 Amp =200 Amp
Iset sec = 200 x 1/400 = 0,5 Amp
 I 0 , 02

 FAULT 
t *   − 1
  I SET  
Tms =  
0,14
Untuk incoming dipilih waktu (t) = 1 detik
Untuk penyulang dipilih waktu (t) = 0,5 detik

Tabel 16. Hasil Perhitungan Iset Primer, Iset sec, dan Tms
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
64
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

I Beban Iset pri Iset sec Penyulang Incoming


Penyulang
(Amp) (Amp) (Amp) Tms Tms

0,19 0,26

0,16
Medar 1 98 160 0,16
0,15

0,14

0,12 0,28

0,11
Medari 2 80 346 0,8
0,09

0,08

0,09 0.19

0,07
Medari 3 125 346 0,8
0,07

0,05

0,08 16

0,06
Medari 4 208 346 0,8
0,04

0,03

0,13 0,2

Medari 5 146 346 0,8 0,13

0,13
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
65
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

0,13

0,13 0,23

0,13
Medari 6 70 346 0,8
0,13

0,13

Berdasarakan tabel 18 maka nilai Tms yang di pilih adalah :

Penyulang 1 : Nilai setelan Tms penyulang 0,125 dan Nilai setelan

Tms incomig 0,25

Penyulang 2 : Nilai setelan Tms penyulang 0,1 dan Nilai setelan

Tms incomig 0,25

Penyulang 3 : Nilai setelan Tms penyulang 0,05 dan Nilai setelan

Tms incomig 0,25

Penyulang 4 : Nilai setelan Tms penyulang 0,05 dan Nilai setelan

Tms incomig 0,25

Penyulang 5 : Nilai setelan Tms penyulang 0,125 dan Nilai setelan

Tms incomig 0,25

Penyulang 6 : Nilai setelan Tms penyulang 0,125 dan Nilai setelan

Tms incomig 0,25

2) Perhitungan Kapasitansi Total, Arus Kapasitif, dan Arus 3 I0R


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
66
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Berdasarkan data trafo dan data penyulang pada butir A maka didapat

hasil sebagai berikut :

3 I0R = 0,054 A/km (Untuk Saluran Udara)


= 2 A/km (Untuk saluran kabel)

Tabel 17. Perhitungan Arus Kapasitansi setiap penyulang

Penyulang 1 Penyulang 2
Data
R JX R JX

Z1 / km 0,3619 0,9327 0,3619 0,9327

Z0 / km 0,3930 0,9435 0,3930 0,9435

Saluran terpanjang 6 km 5,8 km

Z1 saluran 2,1714 5,5962 2,09902 5,40966

Z0 saluran 2,3580 5,6610 2,2794 5,4723

Kapasistansi Ce (tabel) 5 x 10-3 µF 5 x 10-3 µF

Total panjang saluran 44,7 km 12,250 km

X Kapasitansi Total

(XKT) = Xc * Total 14249,277Ohm


51995,32 Ohm
panjang saluran

Ice = (3 Eph / 3) / XKT 2,43 Amp 0,66 Amp

Ice penyulang yang lain 10,49 Amp Ice Penyulang lain


= Ice1 + Ice3 + Ice4 +
= Ice2 + Ice3 + Ice4 + Ice5 Ice5 + Ice6
= 12,26 Amp
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
67
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

+ Ice6

3 IoR = 3 IoR * saluran 0.324 Amp 0,3132 Amp

terpanjang

Penyulang 3 Penyulang 4
Data
R JX R JX

Z1 / km 0,3619 0,9327 0,3619 0,9327

Z0 / km 0,3930 0,9435 0,3930 0,9435

Saluran terpanjang 17,37 km 25,2 km

Z1 saluran 6,2862 16,201 9,1199 23,5040

Z0 saluran 6,8264 16,3886 9,9036 23,7762

Kapasistansi Ce (tabel) 5 x 10-3 µF 5 x 10-3 µF

Total panjang saluran 87,2 km 86,6 km

X Kapasitansi Total

(XKT) = Xc * Total 7304,3885 Ohm


7354,996 Ohm
panjang saluran

Ice = (3 Eph / 3) / XKT 4,74 Amp 4,71 Amp

Ice penyulang yang lain 8,18 Amp Ice penyulang yang lain
= Ice2 + Ice3 + Ice1 +
= Ice2 + Ice1 + Ice4 + Ice5 Ice5 + Ice6
= 8,21 Amp
+ Ice6

3 IoR = 3 IoR * saluran 0,93798 Amp 1,5228 Amp


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
68
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

terpanjang

Penyulang 5 Penyulang 6
Data
R JX R JX

Z1 / km 0,08 0,1 0,08 0,1

Z0 / km 0,24 0,3 0,24 0,3

Saluran terpanjang 1,9 km 1,9 km

Z1 saluran 0,152 0,19 0,152 0,19

Z0 saluran 0,456 0,57 0,456 0,57

Kapasistansi Ce (tabel) 0,18 µF 0,18 µF

Total panjang saluran 3,5 km 3,5 km

X Kapasitansi Total

(XKT) = Xc * Total 181983,62 Ohm


181983,62 Ohm
panjang saluran

Ice = (3 Eph / 3) / XKT 0,19 Amp 0,19 Amp

Ice penyulang yang lain = 12,73 Amp Ice penyulang yang lain
= Ice2 + Ice3 + Ice4 +
= Ice2 + Ice3 + Ice4 + Ice1 Ice5 + Ice1
= 12,73 Amp
+ Ice6

3 IoR = 3 IoR * saluran 3,8 Amp 3,8 Amp

terpanjang
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
69
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

Nilai-nilai arus kapasitif ini akan kembali kesumber melalui titik di

penyulang yang terganggu, sehingga pengertiannya adalah jika

gangguan satu fasa ketanah terjadi pada salah satu penyulang, maka

arus kapasitif penyulang-penyulang yang lain seolah memberi

sumbangan arus gangguan di penyulang terganggu.

1) Gangguan satu fasa ketanah pada penyulang satu 1, jumlah arus


kapasitif pada penyulang 2,3,4,5, dan 6 akan mengalir dipenyulang
1 melalui titik gangguan tanah kembali ke sumber dan dirasakan
oleh relai gangguan tanah di penyulang 1 sebesar 10,49 Amp.
2) Gangguan satu fasa ketanah pada penyulang satu 2, jumlah arus
kapasitif pada penyulang 1,3,4,5, dan 6 akan mengalir dipenyulang
1 melalui titik gangguan tanah kembali ke sumber dan dirasakan
oleh relai gangguan tanah di penyulang 1 sebesar 12,26 Amp.
3) Gangguan satu fasa ketanah pada penyulang satu 3, jumlah arus
kapasitif pada penyulang 1,2,4,5, dan 6 akan mengalir dipenyulang
1 melalui titik gangguan tanah kembali ke sumber dan dirasakan
oleh relai gangguan tanah di penyulang 1 sebesar 8,18 Amp.
4) Gangguan satu fasa ketanah pada penyulang satu 4, jumlah arus
kapasitif pada penyulang 1,2,3,5, dan 6 akan mengalir dipenyulang
1 melalui titik gangguan tanah kembali ke sumber dan dirasakan
oleh relai gangguan tanah di penyulang 1 sebesar 8,21 Amp.
5) Gangguan satu fasa ketanah pada penyulang satu 5, jumlah arus
kapasitif pada penyulang 1,2,3,4, dan 6 akan mengalir dipenyulang
1 melalui titik gangguan tanah kembali ke sumber dan dirasakan
oleh relai gangguan tanah di penyulang 1 sebesar 12,73 Amp.
6) Gangguan satu fasa ketanah pada penyulang satu 6, jumlah arus
kapasitif pada penyulang 1,2,3,4, dan 5 akan mengalir dipenyulang
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
70
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

1 melalui titik gangguan tanah kembali ke sumber dan dirasakan


oleh relai gangguan tanah di penyulang 1 sebesar 12,73 Amp.

B. PEMBAHASAN

1. Penyetelan Relai

a. Relai Arus Lebih

Saluran distribusi 20 kV Gardu Induk Medari Terdiri dari 6 penyulang.

Tabel 18. Perbandingan Penyetelan Relai Arus Lebih

Penyetelan di Gardu Induk Penyetelan berdasarkan kajian pustaka

incoming penyulang incoming penyulang

Iset Tms Iset Tms Iset Tms Iset Tms

0,1

0,1

0,025
1A 0,25 1,2 A 0,175 1A 0,25 1,2 A
0,025

0,175

0,175

1) Penyetelan Relai Arus lebih di Gardu Induk Medari

Penyetelan arus lebih pada GI Medari baik. Penyetelan arus lebih ber-

dasarkan yang ada pada Gardu Induk sama dengan penyetelan berda-

sarkan teori sebesar 1 Amp untuk incoming dan 1,2 Amp untuk Out-
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
71
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

going. Penyetelan antara praktek dengan teori terlihat pada penyetelan

Tms pada Relai. Peyetelan Tms relai pada Gardu Induk melihat pada

faktor impedansi jika terjadi gangguan pada saat penyetelan, faktor ke-

salahan PMT, faktor kesalahan relai, kesalahan CT dan faktor kesala-

han wiring dengan waktu kerja untuk penyulang 0,5 detik dan incoming

1 detik. Untuk setiap penyulang peyetelan nilai arus maupun penyetelan

Tms sama besarnya yaitu 1,2 Amp dan 0,175. Pemberian perbedaan

waktu selama 0,5 detik dengan mempertimbangkan factor usia dari pe-

ralatan itu sendiri agar waktu terjadi gangguan tidak dibebani terlalu

lama.

Penyetelan Relai Arus Lebih di Gardu Induk melihat dari besarnya pe-

nyetelan sisi incoming 150 kV. Pertimbangannya karena dilihat dari

segi ekonomis peralatan di GI dan peralatan pengamannya itu sendiri.

2) Penyetelan Relai Arus Lebih Berdasarkan Kajian Pustaka

Berdasarkan teori untuk penyetelan relai arus lebih hanya dilihat dari

faktor impedansi dan faktor panjang jaringan sehingga diperoleh nilai

penyetelan Tms yang berbeda antara penyulang yang satu dengan yang

lain. Waktu kerja relai tidak boleh lebih kecil dari 0,3 detik, hal ini agar

relai tidak sampai trip lagi akibat adanya arus inrush dari trafo distribu-

si sewaktu PMT tersebut dimasukkan. Berarti penyetelan relai arus le-

bih pada Gardu Induk sudah benar.


H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
72
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

3) Analisa Perbandingan Antara penyetelan di GI dengan Kajian

Pustaka

Penyetelan di Gardu Induk Medari lebih baik daripada penyetelan ber-

dasarkan kajian pustka, hal ini dikarenakan penyetelan di GI melihat

banyak pertimbangan lain selain impdansi jaringan dan panjang jarin-

gan. Penyetelan di Gardu Induk juga melihat besarnya penyetelan relai

arus lebih dari sisi incoming 150 kV. Penyetelan pada Gardu Induk

Medari memberikan asumsi panjang jaringan 20 km. Hal tersebut di-

dasari bahwa setelah panjang jaringan +20 km ada pengaman lain se-

bagai pengaman utama.

b. Relai Hubung Tanah

Tabel 19. Perbandinga Penyetelan Relai Hubung Tanah

Penyetelan di Gardu Induk Penyetelan berdasarkan kajian pustaka

incoming penyulang Incoming penyulang

Iset Tms Iset Tms Iset Tms Iset Tms

0,14

0,1

0,05
0,4 A 0,4 0,5 A 0,25 0,25 A 0,3 0,5 A
0,05

0,15

0,15
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
73
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

1) Penyetelan di Gardu Induk Medari

Pada dasanya penyetelan relai hubung tanah sama dengan relai arus le-

bih. Penyetelan pada gardu induk sudah benar yaitu sebesar 30%-50%.

Penyetelan pada incoming sebesar 0,4 Amp dan penyetelan pada pe-

nyulang sebesar 0,5 Amp.

Peyetelan arus pada gardu induk sama dengan hasil perhitungan ber-

dasarkan teori. Perbedaan terletak pada nilai setelan Tms dimana pada

gardu induk nilai setelan untuk semua penyulang adalah sama yaitu

sebesar 0,25.

Berdasarkan data laporan PMT trip, simpatetik trip tidak pernah terjadi

di Gardu Induk medari dimana tripnya PMT untuk setiap penyulang ti-

dak dalam waktu yang bersamaan. Berdasarkan hasil perhitungan arus

3I0R diperoleh hasil yang sangat kecil yaitu penyulang 1 sebesar 10,49

Amp, penyulang 2 sebesar 12,26 Amp, penyulang 3 sebesar 8,18 Amp,

penyulang 4 sebesar 8,21 Amp, penyulang 5 sebesar 12,73Amp dan

penyulang 6 sebesar 12,73 Amp. Nilai kemampuan arus maksimal

jaringan untuk satu fasa ketanah sebesar 200 Amp.

2) Penyetelan Berdasarkan Kajian Pustaka

Berdasarkan teori didapat nilai setelan untuk setiap penyulang berbe-

da-beda hal ini dikarenakan pada perhitungan secara teori melihat be-
H H
F-XC A N GE F-XC A N GE
PD PD

!
W

W
O

O
N

N
y

y
bu

bu
74
to

to
k

k
lic

lic
C

C
w

w
m

m
w w
w

w
o

o
.d o .c .d o .c
c u-tr a c k c u-tr a c k

sarnya panjang jaringan dari masing-masing penyulang yang menen-

tukan besarnya nilai impedansi jaringan.

3) Analisis perbandingan antara Penyetelan di GI dengan Kajian

Pustaka

Penyetelan di Gardu Induk Medari lebih baik daripada penyetelan

berdasarkan kajian pustka, hal ini dikarenakan penyetelan di GI meli-

hat banyak pertimbangan lain selain impdansi jaringan dan panjang ja-

ringan. Penyetelan di Gardu Induk juga melihat besarnya penyetelan

relai arus lebih dari sisi incoming 150 kV.

2. Kinerja Relai

Kinerja relai arus lebih pada Gardu Induk baik, hal ini dapat dilihat da-

ri data PMT trip pada bulan februari sampai april. Terjadinya gangguan seper-

ti gangguan terkena pohon, FCO putus, kontak antar feeder, gangguan tidak

diketemukan, angin kencang, jumper trafo putus, PMT pada gardu induk sela-

lu trip.

Kerja relai hubung tanah baik seperti pada data PMT trip dimana ter-

jadi gangguan isolator pecah, FCO putus, kontak antar feeder, jaringan kena

binatang (ular), angina kencang, PMT digardu induk trip.