Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS NEUROLOGI SPACE OCCUPYING LESSION

Pembimbing : Dr. AGUS PERMADI, Sp.S

Disusun Oleh : YULIANA PRIMAWATI 030.07.279

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RUMAH SAKIT OTORITA BATAM PERIODE 9 APRIL -12 MEI 2012

IKHTISAR KASUS
1

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Tanggal masuk RS No. RM II. ANAMNESIS Autoanamnesis dan Alloanamnesis dilakukan pada tanggal 10 April 2012. Keluhan utama : Badan sebelah kanan terasa lemas sejak 3 minggu SMRS. Keluhan tambahan : Sakit kepala, mual, dan muntah. Riwayat penyakit sekarang Pasien datang ke Rumah Sakit Otorita Batam dengan keluhan badan sebelah kanan terasa lemas sejak 3 minggu SMRS. Pasien mengeluh sulit menggerakkan tangan dan kaki kanan yang terjadi perlahan lahan. Pasien mengeluh nyeri kepala berdenyut yang hilang timbul, pandangan mata kabur, pandangan double disangkal, kedua telinga berdenging, hilang timbul. Setelah bunyi berdenging pada telinga hilang maka akan diikuti dengan nyeri kepala yang hebat. Pasien mengeluh sulit berbicara, sulit tidur dan gelisah. Tidak ada demam, mual (+) dan muntah 2x berisi cairan tanpa ampas makanan, tidak ada darah. Pingsan disangkal, tidak ada kejang. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat hipertensi disangkal. Riwayat penyakit jantung tidak ada Riwayat Diabetes Mellitus disangkal Kebiasaan merokok dari SMA, sehari 1 bungkus rokok.
2

: Tn. A : 40 Tahun : Laki-laki : Kristen : Menikah : Buruh : 09 April 2012 : 30-82-12

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Diabetes Mellitus disangkal Riwayat hipertensi disangkal Riwayat penyakit jantung disangkal
III. PEMERIKSAN FISIK

Keadaan umum Kesadaran Kesan sakit Tanda vital Nadi Suhu Pernapasan : Compos Mentis : Sakit Sedang : : 90 x / menit : 36 , 6C diukur di axilla : 20 x / menit

Tekanan darah : 130 / 80 mmhg

Status Generalis Kepala Wajah Mata : Normocephali, rambut hitam, tidak mudah dicabut. : Simetris, pucat (-), ikterik (-), sianosis (-), tidak ada nyeri tekan sinus frontal dan maxilla. : Ptosis(-), exopthalmus(-), oedem palpebra(-), pupil bulat, isokor, conjungtiva pucat +/+, sklera ikterik -/Telinga: Normotia, membran timpani intak, serumen (-), sekret (-) Hidung : Pernapasan cuping hidung (-), septum deviasi (-), sekret (-), mukosa hiperemis (-), oedem concha (-) Tenggorokan : Faring hiperemis (-), deviasi uvula (-) Bibir Leher Thorax Paru-paru Inspeksi : Gerak napas simetris pada kedua hemithorax, retraksi otot-otot pernapasan (-)
3

: Simetris, sianosis (-) : Kaku kuduk (-), tidak teraba pembesaran KGB

Palpasi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Auskultasi Extremitas

: Vocal fremitus simetris pada kedua hemithorax, nyeri tekan(-) : Suara napas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-

Perkusi: Sonor pada kedua hemithorax

: Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis tidak teraba : S1 S2 reguler, gallop (-), murmur (-)

: Perut tampak datar : Supel, nyeri tekan (-), hepar/limpa tidak teraba membesar : Bising usus (+) normal

Perkusi: Timpani

Extremitas atas Extremitas bawah

: Akral hangat +/+, oedem (-), sianosis (-) : Akral hangat +/+, oedem (-), sianosis (-)

IV. STATUS NEUROLOGIS

Dilakukan pada tanggal Kesadaran NI N II : Compos mentis Saraf cranial : : Penciuman tidak diperiksa : Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak Langsung +/+. Gangguan lapang pandang pada lateral kedua bola mata (hemianopsia bitemporalis) N III : Nistagmus (-), gerak bola mata ke medial +/+, gerak bola mata ke atas +/+, gerak bola mata ke bawah +/+, gerak bola mata ke atas dalam +/+ N IV : Gerak bola mata ke nasal inferior +/+
4

N VI NV

: Gerak bola mata ke lateral +/+ :

Motorik m. Masseter : +/+, deviasi rahang : tidak ada Sensorik Cabang 1 : baik Cabang 2 : baik Cabang 3 : baik N VII : Sudut mulut sebelah kiri sedikit tertinggal Pengecapan tidak ada kelainan N VIII : Ketajaman pendengaran Test Schwabach Test Rinne Test Romberg di pertajam Past pointing Test Stepping Test N IX dan N X : Refleks batuk (+) Refleks menelan(+) Uvula simetris Refleks faring normal N XI : : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

M. Sternocleidomastoideus kiri Statis : Kontur baik, normotrofi, fasikulasi(-), tonus baik Dinamis : Kekuatan normal M. Sternocleidomastoideus kanan = kiri M. Trapezius Statis : Kontur baik, normotrofi, fasikulasi(-), tonus baik Dinamis : Kekuatan normal
5

N XII : Lidah Statis : Besar normal, normotrofi, tidak berkerut, deviasi (-), tremor(-), fasikulasi (-) Dinamis : Deviasi (-), parese (-) Motorik Kekuatan otot : Klonus : 3 5 3 5 --Sensorik Rangsang suhu: Tidak dilakukan Rangsang raba Rangsang nyeri Refleks Refleks fisiologis
-

: Hiperestesi /baik : Hiperestesi / baik

Refleks bicep Refleks tricep Refleks patella Refleks achilles

: N/N : N/N : N/N : N/N

Refleks dinding perut : N/N

Refleks patologis
-

Refleks oppenheim Refleks gordon Refleks schaefer Refleks chaddock Refleks babinsky

: -/: -/: -/: -/: -/6

Rangsang meningeal
-

Brudzinsky I Brudzinsky II

: -/: -/-

Perasat Kernig Negatif


-

Laseque

: Negatif

Fungsi luhur Afasia Otonom Koordinasi : (-) : BAK normal : baik skor 27

MMSE (Mini Mental State Exam) Clock drawing test V. skor 3

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Lab Darah 10 April 2012 Hb Ht Trombosit Leukosit : 14,8 : 46,2 : 234.000 : 4.800

CT Scan : tampak lesi hipodens inhomogen (HU =16) di serebelum kanan ukuran1,92x2,8 cm bentuk realtif membulat, dinding relative tebal, tak tampak gambaran peritumoral oedema
Ventrikel lateralis kiri dan kanan, sulci corticalis, fissure dan sisterna normal 7

Tidak tampak midline shift Diferensiasi gray white matter baik Extraaxial tidak tampak perdarahan atau koleksi cairan patologis Kedua orbita simetris, retrobulbar tidak tampak massa Sinus paranasalis dan selulae mastoidea kiri kanan cerah Tulang-tulang intak, tidak tampak fraktur Kesimpulan : Mengarah gambaran massa padat hipodens kemungkinan suatu tumor primer atau metastase DD abcess cerebelum kanan tanpa adanya peritumoral oedem. Tidak tampak adanya perdarahan intracranial. Tak tampak adanya tanda-tanda sinusitis maupun mastoiditis. Saran : CT head kontras lanjutan VI. RESUME

Pasien datang ke Rumah Sakit Otorita Batam dengan keluhan badan sebelah kanan terasa lemas sejak 3 minggu SMRS. Pasien mengeluh sulit menggerakkan tangan dan kaki kanan yang terjadi perlahan lahan. Pasien mengeluh nyeri kepala berdenyut yang hilang timbul, pandangan mata kabur, pandangan double disangkal, kedua telinga berdenging, hilang timbul. Setelah bunyi berdenging pada telinga hilang maka akan diikuti dengan nyeri kepala yang hebat. Pasien mengeluh sulit berbicara, sulit tidur dan gelisah, mual (+) dan muntah 2x berisi cairan tanpa ampas makanan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan : Tekanan darah : 130 / 90 mmHg Status generalis dalam batas normal. Status neurologis : Kesadaran Saraf cranial : Compos mentis :

N. I, III, IV, VI, VIII, IX, X tidak ada kelainan


8

N II: Hemianopsia bitemporalis N VII : Sudut mulut sebelah kanan tertinggal Pengecapan tidak ada kelainan. N XII : Lidah Dinamis : Motorik Kekuatan otot Sensorik baik Refleks : Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Tanda rangsang meningeal (-) Fungsi luhur : MMSE (Mini Mental State Exam) Clock drawing test VII. skor 3 skor 27 : 4 5 4 5

DIAGNOSIS KERJA

Space occupying lesion VIII. TERAPI IVFD 2A/8 jam Dexametasone 3x1 Ranitidine 1x1 Neurobion 5000 1x 1 Ikaneuron 1x1

IX.

PROGNOSIS : Dubia ad bonam

Ad vitam

Ad functionam: Dubia ad bonam Ad sanationam: Dubia ad bonam

FOLLOW UP Tanggal 10 April 2012 S : lengan kanan masih sulit digerakkan, kaki kanan terasa pegal. TD Nadi : 130 / 90 mmHg : 88 x / menit Suhu : 36,5 oC RR : 20 x / menit

Status generalis : Mata Thorax : Conjuctiva anemis -/-, sklera ikterik -/: C S1 S2 reg, M(-), G(-) P Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), BU (+) Ekstremitas : Akral hangat (+), oedem (-) Status neurologicus : N. I, III, IV, VI, VIII, IX, X tidak ada kelainan N II N VII N XII : Hemianopsia bitemporalis : Sudut mulut simetris : Lidah Dinamis : 4 5 4 5 Sensorik tidak ada kelainan Refleks : Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Tanda Rangsang meningeal (-) A: SOL P: IVFD 2A/8 jam Dexametasone o,5 mg 3x1 Neurobion 5000 1x 1 Ikaneuron 1
10

Motorik Kekuatan otot

Tanggal 11 April 2012 S : sulit tidur, kepala masih terasa nyeri TD Nadi : 120 / 80 mmHg : 84 x / menit Suhu : 36,7 oC RR : 20 x / menit

Status generalis : Mata Thorax : Conjuctiva anemis -/-, sklera ikterik -/: C S1 S2 reg, M(-), G(-) P Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), BU (+) Ekstremitas : Akral hangat (+), oedem (-) Status neurologicus : N II : Hemianopsia bitemporalis 4 5 4 5 Sensorik tidak ada kelainan Refleks : Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Tanda Rangsang meningeal (-) A: SOL P: IVFD 2A/8 jam Dexametasone 3x1 N 5000 1x 1 Ikaneuron 1

Motorik Kekuatan otot :

Tanggal 12 April 2012


11

S : sudah bisa tidur, sakit kepala berkurang TD Nadi : 120 / 90 mmHg : 88 x / menit Suhu : 36,5 oC RR : 20 x / menit

Status generalis : Mata Thorax : Conjuctiva anemis -/-, sklera ikterik -/: C S1 S2 reg, M(-), G(-) P Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), BU (+) Ekstremitas : Akral hangat (+), oedem (-) Status neurologicus : N. I, III, IV, VI, VIII, IX, X tidak ada kelainan N II N VII N XII : Hemianopsia bitemporalis : Sudut mulut simetris : Lidah Dinamis : 4 5 4 5 Sensorik tidak ada kelainan Refleks : Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Tanda Rangsang meningeal (-) A: SOL P: IVFD 2A/8 jam Dexametasone 3x1 N 5000 1x 1 Ikaneuron 1 Tanggal 13 April 2012 S : sakit kepala berkurang
12

Motorik Kekuatan otot

TD Nadi

: 130 / 90 mmHg : 84 x / menit

Suhu : 36,7 oC RR : 20 x / menit

Status generalis : Mata Thorax : Conjuctiva anemis -/-, sklera ikterik -/: C S1 S2 reg, M(-), G(-) P Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), BU (+) Ekstremitas : Akral hangat (+), oedem (-) Status neurologicus : N. I, III, IV, VI, VIII, IX, X tidak ada kelainan N II N VII N XII : lapang pandang lateral terbatas : Sudut mulut simetris : Lidah Dinamis : 4 5 4 5 Sensorik tidak ada kelainan Refleks : Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Tanda Rangsang meningeal (-) A: SOL P: IVFD 2A/8 jam Dexametasone 3x1 N 5000 1x 1 Ikaneuron 1 Tanggal 14 April 2012 S :tidak ada keluhan TD Nadi : 120 / 90 mmHg : 88 x / menit Suhu : 36,5 oC RR : 20 x / menit
13

Motorik Kekuatan otot

Status generalis : Mata Thorax : Conjuctiva anemis -/-, sklera ikterik -/: C S1 S2 reg, M(-), G(-) P Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), BU (+) Ekstremitas : Akral hangat (+), oedem (-) Status neurologicus : N. I, III, IV, VI, VIII, IX, X tidak ada kelainan N II N VII N XII : Hemianopsia bitemporalis : Sudut mulut simetris : Lidah Dinamis : 4 5 4 5 Sensorik tidak ada kelainan Refleks : Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Tanda Rangsang meningeal (-) A: SOL P: IVFD 2A/8 jam Dexametasone 3x1 N 5000 1x 1 Ikaneuron 1

Motorik Kekuatan otot

ANALISA KASUS
1. Dasar diagnosis Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan : a. Identitas Pasien adalah Pria berusia 40 tahun.
14

Insiden tertinggi pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade ke 5, 6, 7 dengan tingginya insiden pada pria usia dewasa. b. Anamnesis Pasien datang ke Rumah Sakit Otorita Batam dengan keluhan badan sebelah kanan terasa lemas sejak 3 minggu SMRS. Pasien mengeluh sulit menggerakkan tangan dan kaki kanan yang terjadi perlahan lahan. Pasien mengeluh nyeri kepala berdenyut yang hilang timbul, pandangan mata kabur, kedua telinga berdenging, hilang timbul. Setelah bunyi berdenging pada telinga hilang maka akan diikuti dengan nyeri kepala yang hebat. Pasien mengeluh sulit berbicara, sulit tidur dan gelisah. Mual (+) dan muntah 2x berisi cairan Hal ini sesuai dengan anamnesis SOL dimana terjadi peningkatan tekanan intracranial yang menyebabkan nyeri kepala. Pada SOL nyeri kepala bersifat dalam, terus-menerus, tumpul dan kadang- kadang bersifat hebat sekali, biasanya paling hebat pada pagi hari dan diperberat saat beraktivitas yang menyebabkan peningkatan TIK, yaitu batuk, membungkuk dan mengejan. Nausea dan muntah akibat rangsangan pada medual oblongata. Gangguan penglihatan kemungkinan akibat statis vena yang menimbulkan pembengkakan papila saraf optikus. c. Pemeriksaan Fisik Status neurologis : Saraf cranial N II : : Hemianopsia bitemporalis.

Motorik Kekuatan otot Sensorik Rangsang raba Rangsang nyeri : Hiperestesi /baik : Hiperestesi / baik : 3 5 3 5

15

Berdasarkan pemeriksaan fisik, tampak adanya gangguan fungsi pada saraf kranial yang merupakan masalah yang sering ditemukan pada penderita SOL pada umumnya yakni gangguan penglihatan serta adanya hemiparese pada ekstremitas superior sebelah kanan.. d. Pemeriksaan penunjang CT Scan Hasil : Mengarah gambaran massa padat hipodens kemungkinan suatu tumor primer atau metastase DD abcess cerebelum kanan tanpa adanya peritumoral oedem. 2. Dasar penatalaksanaan Pada pasien ini diberikan :
Infus 2A yang isinya glukosa 5% dan natrium klorida 0,45% yang berguna

untuk mengatasi dehidrasi, menambah kalori, dan mengembalikan keseimbangan elektrolit.


Dexamethasone merukapan steroid untuk mengurangi edema di sekitar tumor.

Dexamathasone 10 mg IV/ p.odilanjutkan dengan 4mg setiap 6 jam Ranitidine Suatu antagonis histamin pada reseptor H2 yang menghambat kerja histamin secara kompetitif pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung. Kadar dalam serum yang diperlukan untuk menghambat 50% perangsangan sekresi asam lambung adalah 36 94 mg/ml. kadar tersebut bertahan selama 6 8 jam setelah pemberian dosis 50 mg IM/IV.
Neurobion 5000 Drip berisi Vitamin B1 yang berperan sebagai koenzim

pada dekarboksilasi asam keto dan berperan dalam metabolisme karbohidrat. Vitamin B6 didalam tubuh berubah menjadi piridoksal fosfat dan piridoksamin fosfat yang dapat membantu dalam metabolisme protein dan asam amino. Vitamin B12 berperan dalam sintesa asam nukeat dan berpengaruh pada pematangan sel dan memelihara integritas jaringan saraf.
Ikaneuron 1 beisi Vitamin B1 100 mg, Vitamin B6 200 mg, Vitamin B12

200 g. indikasinya untuk Polineuritis (degenerasi saraf-saraf tepi secara serentak dan simetris), neuralgia (nyeri pada saraf)
16

TINJAUAN PUSTAKA
SPACE OCCUPYING LESION ( SOL ) Definisi SOL ( Space Occupying Lesion ) merupakan generalisasi masalah tentang adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kontusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor intracranial. Karena cranium merupakan tempat yang kaku dengan volume yang terfiksasi maka lesi-lesi ini akan meningkatkan tekanan intracranial. Suatu lesi yang meluas pertama kali diakomodasi dengan cara mengeluarkan cairan serebrospinal dari rongga cranium. Akhirnya vena mengalami kompresi, dan gangguan sirkulasi darah otak dan cairan serebrospinal mulai timbul dan tekanan intracranial mulai naik. Kongesti venosa menimbulkan peningkatan produksi dan penurunan absorpsi cairan serebrospinal dan meningkatkan volume dan terjadi kembali hal-hal seperti diatas.1 Posisi tumor dalam otak dapat mempunyai pengaruh yang dramatis pada tanda-tanda dan gejala. Misalnya suatu tumor dapat menyumbat aliran keluar dari cairan serebrospinalatau yang langsung menekan pada vena-vena besar, meyebabkan terjadinya peningkatantekanan intracranial dengan cepat. Tanda-tanda dan gejala memungkinkan dokter untuk melokalisir lesi akan tergantung pada terjadinya gangguan dalam otak serta derajat kerusakan jaringan saraf yang ditimbulkan oleh lesi. Nyeri kepala hebat, kemungkinan akibat peregangan durameter dan muntah-muntah akibat tekanan pada batang otak merupakan keluhan yang umum. Pungsi lumbal tidak boleh dilakukan pada pasien yang diduga tumor intracranial. Pengeluaran cairan serebrospinal akan mengarah pada timbulnya pergeseran mendadak hemispherium cerebri melalui takik tentorium kedalam fossa cranii posterior atau herniasi medulla oblongata dan serebellum melalui foramen magnum. Pada saat ini CT-scan dan MRI digunakan untuk menegakkan diagnosa.1 Tumor otak adalah sebuah lesi yang terletak pada intrakranial yang menempati ruang di dalam tengkorak. Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak / ganas yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak. 1 ETIOLOGI
17

Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu: 1,2

Herediter: Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas.

Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest). Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya.

Radiasi: Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma.

Virus: Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.

Substansi-substansi Karsinogenik: Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.

PATOFISIOLOGI 3

Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan edema serebral Aktivitas kejang dan tanda-tanda neurologis fokal Hidrosefalus Gangguan fungsi hipofisis

Pada fase awal, abses otak ditandai dengan edema local, hyperemia, infiltrasi leukosit/ melunaknya parenkim trombosis sepsis dan edema, beberapa hari atau minggu dari faseawal terjadi proses uque fraction atau dinding kista berisi pus. Kemudian rupture maka infeksi akan meluas ke seluruh otak dan bisa timbul meningitis.
18

Terjadi proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal secara sangat cepat pada daerah central nervus (CNS). Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat disekitarnya mengakibatkan terjadi gangguan neurologis (Gangguan Fokal Akibat Tumor Dan Peningkatan TIK). Tumor-tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20 % dari penyebab semua kematian kanker. Tumor-tumor otak biasanya manifestasi dari paru-paru, payudara, cairan gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal, dan kulit (melanoma). Insiden tertinggi pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade ke 5, 6, 7 dengan tingginya insiden pada pria usia dewasa tumor otak banyak dimulai dari sel gelia (sel untuk membuat struktur dan mendukung sistem otak dan medula spinalis ) dan merupakan supratentorial (Terletak diatas penutup cerebellum) jelasnya neoplastik dalam palastik menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan atau adanya peningkatan TIK. MANIFESTASI KLINIS 4 a. Peningkatan tekanan intracraniala Nyeri kepala Nyeri bersifat dalam, terus-menerus, tumpul dan kadang- kadang bersifat hebat sekali, biasanya paling hebat pada pagi hari dan diperberat saat beraktivitas yang menyebabkan peningkatan TIK, yaitu batuk, membungkuk dan mengejan. b. c. Nausea dan muntah Papil edema Akibat rangsangan pada medual oblongata. Statis vena menimbulkan pembengkakan papila saraf optikus. KLASIFIKASI 4 Berdasarkan jenis tumor dapat dibagi menjadi : a. Jinak Acoustic neuroma a. Meningioma b. Pituitary adenomaAstrocytoma ( grade I ) b. MalignantAstrocytoma ( grade 2,3,4 )
19

a. Oligodendroglioma b. Apendymoma Berdasarkan lokasi tumor dapat dibagi menjadi : a. Tumor intradural Ekstramedular a. Cleurofibroma b. Meningioma intramedural c. Apendimoma d. Astrocytoma e. Oligodendroglioma f. Hemangioblastoma b. Tumor ekstradural Merupakan metastase dari lesi primer. PEMERIKSAAN PENUNJANG4,5 CT Scan : Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran, kepadatan, jejas tumor, dan meluasnya edema serebral sekunder serta memberi informasi tentang sistem vaskuler. MRI : Membantu dalam mendeteksi jejas yang kecil dan tumor didalam batang otak dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang menggunakan CT Scan Biopsi stereotaktik : Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan serta informasi prognosisi. Angiografi : Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor Elektroensefalografi ( EEG ) : Mendeteksi gelombang otak abnormal. KOMPLIKASI4,5

Gangguan fungsi neurologis. Gangguan kognitif Gangguan tidur dan mood Disfungsi seksual

DIAGNOSA 1,2

Gangguan perfusi jaringan berhubungn dengan obstruksi ventrikel. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK. Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan kurang nutrisi.
20

Gangguan imobilitas fisik berhubungan dengan tekanan pada serebelum (otak kecil). Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan penglihatan INTERVENSI3,4,5 1.Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan obstruksi ventrikel a.Tujuan :
Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam diharapkan perfusi jaringan kembali

normal dengan KH : TTV normal


Kesadaran pasien kembali seperti sebelum sakit

Gelisah hilang Ingatanya kembali seperti sebelum sakit b. Intervensi :


1. Pantau status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan

keadaan normalnya seperti GCS


2. Pantau frekuensi dan irama jantung 3. Pantau suhu juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan. Batasi

penggunaan selimut dan lakukan kompres hangat jika terjadi demam.


4. Pantau masukan dan pengeluaran, catat karakteristik urin, tugor

kulit dan keadaan membrane mukosa


5. Gunakan selimut hipotermia

6. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi seperti steroid, klorpomasin, asetaminofen

c. Rasional :
1. Pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran

dan potensi TIK adalahsangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran, luas,dan perkembangan darikerusakan.
2. Perubahan pada frekuensi dan disritmia dapat terjadi yang

mencerminkan trauma atau tekanan batang otak tentang ada tidaknya penyakit.
21

3. Demam biasanya berhubungan dengan proses inflamasi tetapi

mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan pada hipotalamus.


4. Hipertermi meningkatkan kehilangan air dan meningkatkan resiko

dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun.


5. Membantu dalam mengontrol peningkatan suhu 6. Dapat

menurunkan

permebilitas mengatasi

kapiler

untuk

membatasi dapat

pembentukan

edema,

menggigil

yang

meningkatkan TIK, menurunkan metabolisme seluler/menurunkan konsumsi oksigen 2. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK a. Tujuan :

Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam nyeri hilang dengan KH : Nyeri hilang Pasien tenang Tidak terjadi mual muntah Pasien dapat beristirahat dengan tenang
1.

b. Intervensi : Berikan lingkungan yang tenang. Tingkatkan tirah baring, bantu perawatan diri pasien. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin diatas mata. Dukung pasien untuk menemukan posisi yang nyaman. Berikan ROM aktif/pasif. Gunakan pelembab yang agak hangat pada nyeri leher/punggung Kolaborasi pemberian obat analgetik seperti asetaminofen, kodein 2. 3. 4. 5.
6.

yang tidak ada demam. 7. sesuai indikasi c. Rasional :


1. Menurunkan reaksi terhadap stimulus dari luar dan meningkatkan istirahat 2. Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri. 3. Meningkatkan vasokontriksi, penumpukan resepsi sensori akan menurunkan

nyeri.
22

4. Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut 5. Membantu merelaksasi ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri. 6. Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit. 7. Untuk menghilangkan nyeri yang hebat.

3.

Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan kurang nutrisi

Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan pasien menjadia dekuat dengan KH : Mual muntah hilang Napsu makan meningkat BB kembali seperti sebelum sakit Intervensi :
1. Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan. 2. Beri makanan dalam jumlah kecil dan sering. 3. Timbang berat badan.

4. Kolaborasi dengan ahli gizi Rasional :


1. Menentukan pemilihan terhadapjenis makanan sehingga pasien terlindungi dari

aspirasi.
2. Meningkatkan proses pencernaan dan kontraksi pasien terhadap nutrisi yang

diberikandan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan.


3. Mengevaluasi keefektifan/ kebutuhan mengubah pemberian nutrisi.

4. Merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori \nutrisi

DAFTAR PUSTAKA 1. Long, B. C. Perawatan medikal bedah. 1996. Jakarta: EGC 2. Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. Buku ajar keperawatan medikal bedah. (Ed.8).2001.

Jakarta: EGC

23

3. Price, S. A., & Wilson, L. M. Patofisiologi; konsep klinik proses- proses penyakit.

(Ed. 4). 1995.Jakarta: EGC


4. Herainy, H. (2008). Tumor otak. Diperoleh pada tanggal 12 April 2012 dari

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/11_TumorOtakTinjauanKepustakaan.pdf/11_Tum orOtakTinjauanKepustakaan.html
5. Carpenito, L. J. Diagnosa keperawatan. 1997. Ed. 6. Jakarta: EGC 6. Doenges, M. E. , et al. Rencana asuhan keperawatan. 1997.Jakarta: EGC

24