Anda di halaman 1dari 15

NASIONALISME

Disusun oleh Kelompok : 1. Fulan 3. Fulanah 5. misal 2.Fulanah 4.Test 6.hohoh

Dosen Pembimbing : Hardowiyono

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI & ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG, 2012

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah : a) mengetahui kondisi permasalahan Nasionalisme di Indonesia dan pemecahannya b) Menambah pemahaman tentang nasionalisme.

1.3 Manfaat Penulisan a) Teoritis : a. Menambah wawasan dan menumbuhkan rasa Nasionalisme di Indonesia

b. Pemecahan masalah Nasionalisme di Indonesia c. Memenuhi tugas mata kuliah Kewarganegaraan,

b) Praktis : a. Menambah wawaran tentang Nasionalisme bagi pembaca b. Menambah pengetahuan akan Nasionalisme bagi pembaca

1.4 Metode Penelitian Metode penilitian diperoleh dengan studi literatur tentang Nasionalisme di Indonesia serta melalui media media informasi terkini

BAB II RUMUSAN MASALAH

2.1 Rumusan Masalah Rumusan rumusan masalah yang akan dibahas antara lain : 1. Apa yang dimaksud Nasionalisme dan SARA serta sejarahnya di Indonesia ? 2. Faktor faktor apa saja yang memudarkan rasa Nasionalisme di Indonesia ? 3. Bagaimana dengan Undang Undang yangmengatur Nasionalisme di Indonesia ? 4. Bagaimana solusi dalam meningkatkan rasa Nasionalisme di Indonesia ?

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Pengertian Nasionalisme dan SARA serta sejarahnya di Indonesia

Nasionalisme secara etimologi adalah : Paham (ajaran) untukmencintai bangsa dan Negara sendiri. Kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yang secara potensial atau actual bersama-sama mencapai , mempertahankan , dan mengabadikan identitas , integritas , kemakmuran dan kekuatan bangsa itu,semangat kebangsaan. Definisi diatas berdasarkan dari kamus besar bahasa Indonesia. Nasionalisme secara terminologi berdasarkan pendapat dari para ilmuwan sosial baik dari zaman modern maupun lampau antara lain : 1. Joseph Ernest Renan(civic nationalism,1882) bahwa nasionalisme adalah sekelompok individu yang ingin bersatudengan individu-individu lain dengan dorongan kemauan dan kebutuhan psikis. Sebagaicontoh adalah bangsa Swiss yang terdiri dari berbagai bangsa dan budaya dapat menjadisatu bangsa dan memiliki negara. 2. Otto Bauer (the question of nationalities and social democracy,2000) mengatakan bahwa nasionalisme adalah kesatuan perasaan dan perangai yangtimbul karena persamaan nasib, contohnya nasionalisme negara-negara Asia. 3. Menurut Hans Kohn(The Idea of Nationalism:A Study In its Origins and Background,2005) nasionalisme adalah kesetiaan tertinggi yang diberikan

individukepada negara dan bangsa 4. Louis Snyder (The New Nationalism,1968) mengemukakan nasionalisme adalah hasil dari faktor-faktor politis, ekonomi,sosial dan intelektual pada suatu taraf tertentu dalam sejarah. Sebagai contoh adalahtimbulnya nasionalisme di Jepang.

Pada mulanya unsur-unsur pokok nasionalisme itu terdiri atas persamaan-persamaan darah (keturunan), suku bangsa, daerah tempat tinggal, kepercayaan agama, bahasa dan kebudayaan. Nasionalisme akan muncul ketika suatu kelompok suku yang hidup di suatu wilayah tertentu dan

masih bersifat primordial berhadapan dengan manusia-manusia yang berasal dari luar wilayah kehidupan mereka. Lambat laun ada unsur tambahan, yaitu dengan adanya persamaan hak bagi setiap orang untuk memegang peranan dalam kelompok atau masyarakat (demokrasi politik dan demokrasi sosial) serta adanya persamaan kepentingan ekonomi. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah nasionalisme modern. Dari Uraian definisi diatas secara umum kita bisa mengartikanNasionalisme adalah suatu situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan kepada negara dan bangsa atas nama sebuah bangsa. Jika kita melihat dari sejarah beberapa Negara di dunia munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkraman para penjajah dari Negara tersebut seperti yang terjadi di Mesir , Indonesia , India dan lainya. Nasionalisme dapat diwujudkan dalam sebuah identitas politik/kepentingan bersama dalam bentuk sebuah wadah yang disebut bangsa (nation). Dengan demikian bangsa (nation) merupakan suatu badan (wadah) yang didalamnya terhimpun orang-orang yang memiliki persamaan keyakinan dan persamaan lain yang merekamiliki seperti : ras, etnis, agama, bahasa dan budaya. Dari unsur persamaan tersebut semuanya dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama untuk menentukan tujuan bersama. Menurut Dean A. Mix dan Sandra M. Hawley, nation-state merupakan sebuah bangsa yang memiliki bangunan politik seperti ketentuanketentuan perbatasan teritorial pemerintah sah, pengakuan bangsa lain dan sebagainya. Menurut Koerniatmante Soetoprawiro secara hukum peraturan tentang kewarganegaraan merupakan suatu konsekuensi langsung dari perkembangan nasionalisme.

Sejarah Nasionalisme Indonesia

Secara Umum proses tumbuhnya nasionalisme di Indonesia muncul melalui beberapa fase pada kurun waktu tertentu yang dapatdibagi dalam beberapa fase : 1. Fase I (abad ke 6-15): Masa Kerajaan kerajaan di jawa dan Aceh ,nasionalisme belum muncul karena masih kuatnya pengaruh dan kekuasaan masing-masing kerajaan walaupun pernah ada ide penyatuan wilayah nusantara dibawah salah satu kerajaan jawa . 2. Fase II (abad 15-16) : Kolonisasi Portugis dan Spanyol , dengan adanya upaya monopoli perdagangan yang kemudian diikuti penaklukan bebeerapa kerajaan oleh para negara

kolonial mulai ada persamaan nasib serta kesamaan rasa sebagai bangsa yang ditindas bangsa asing , walau ide nasionalisme belum lahir secara jelas dan kuat . 3. Fase III (abad 17-20) : Kolonisasi VOC dan Belanda , pada masa ini dimana penjajah belanda sangat lama menjajah Indonesia hingga mulai muncul beberapa tokoh yang memimpin perlawanan walau sifatnya lokal ,tapi terjadi merata pada wilayah jajahan mulai menguatkan rasa perlawanan dan pembebasan . Pada masa ini juga diberlakukan politik etis oleh belanda dimana menjadi titik awal lahirnya para cendekia dan kaum intelektual lewathak edukasi yang diberikan oleh penjajah. Ide Pergerakan Nasional mulai terbentuk 4. FaseIV : merupakan fase yang revolusioner dari nasionalisme Indonesia. Pada tahap fase ke IV di masing-masing daerah terbentuk kelompok-kelompok perjuangan namun tidak langsung mengikrarkan diri sebagai kelompok perlawanan namun dengan latar belakang kelompok-kelompok pemuda, kedaerahan maupun pendidikan. Seperti contoh adalah pembentukan Budi Utomo.

Organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatra nen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes dan lain-lain dapat dipersatukan. Manifesto Politik Persatuan Indonesia (PI) di Belanda tahun 1925 adalah penegasan pertama dari sikap bersama kaum nasionalis terhadap rezim kolonial. Itu kemudian dilanjutkan dengan Sumpah Pemuda padatahun1928.

Pada akhirnya yang mereka perjuangkan tentu bukan sekedar kemerdekaan itu sendiri,melainkan suatu cetak-biru (blue-print) Indonesia Merdeka. Cetak-biru Indonesia Merdeka terletak dalam Pembukaan UUD 1945, termasuk di dalamnya rumusan Pancasila. Isinya antara lain ialah: Terbentuknya pemerintahan yang melindungi segenap anak-bangsa Menyejahterakan rakyat (negara kesejahteraan) Mencerdaskan kehidupan bangsa dan bukan membodohinya. Ikut berperan serta dan setara dalam kancah internasional.

produk pemikiran terbaik dari para pendiri bangsa ini, yang diperjuangkan hampir setengah abad lamanya dan mencapai klimaksnya selama perang kemerdekaan (1945-1950).Keberadaan negara

Indonesia semakin diperkuat setelah sebelumnya penyebutan istilah Indonesia telah disebutkan oleh berbagai ahli dan organisasi seperti : J.R. Logan menggunakan istilah Indonesia untuk menyebut penduduk dan kepulauan nusantara dalam tulisannya pada tahun 1850 Earl G. Windsor dalam tulisannya di media milik J.R. Logan tahun 1850 menyebut penduduk nusantara dengan Indonesia Serta tokoh-tokoh yang mempopulerkan istilah Indonesia di dunia internasional

Istilah Indonesia dijadikan pula nama organisasi mahasiswa di negara Belanda yang awalnya bernama Indische Vereninging menjadi Perhimpunan Indonesia Nama majalah Hindia Putra menjadi Indonesia Merdeka Istilah Indonesia semakin populer sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Melalui Sumpah Pemuda kata Indonesia dijadikan sebagai identitas kebangsaan yang diakui oleh

SARA (Suku , Agama , RasdanAntarGolongan)

SARA adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Setiap tindakan yang melibatkan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan yang didasarkan pada identitas diri dan golongan dapat dikatakan sebagai tidakan SARA. Tindakan ini mengebiri dan melecehkan kemerdekaan dan segala hak-hak dasar yang melekat pada manusia.

SARA Dapat Digolongkan Dalam Tiga Kategori : Kategori pertama yaitu Individual : merupakan tindakan Sara yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Termasuk di dalam katagori ini adalah tindakan maupun pernyataan yang bersifat menyerang, mengintimidasi, melecehkan, memprovokasi dan menghina identitas diri individul maupun secara golongan.

Kategori kedua yaitu Institusional : merupakan tindakan Sara yang dilakukan oleh suatu institusi, termasuk negara, baik secara langsung maupun tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja telah membuat peraturan diskriminatifdalam struktur organisasi maupun

kebijakannya

Kategori ke tiga yaitu Kultural : merupakan penyebaran mitos, tradisi dan ide-ide diskriminatif melalui struktur budaya masyarakat.

Dalam pengertian lain SARA dapat di sebut diskriminasi yang merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku, antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi Diskriminasi langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama. Diskriminasi tidak langsung, terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan. SARA akhir-akhir ini muncul sebagai masalah yang dianggap menjadi salah satu sebab terjadinya berbagai gejolak sosial di negara kita. Ali Maschan Moesa dalam bukunya menyebutkan Pemegang Kekuasaan (dalam hal ini di konteks Orde baru) selalu mengambil jalan pintas dengan mengembangkan sistem politik yang sangat otoriter, antara lain birokratisasi serta korporatisasi di hampir semua organisasi kemasyarakatan dalam menghadapi realitas dinamika masyarakat yang plural dan hal ini kemudian menyebabkan masayarakat bergolak kemudian bersatu dan menghasilkan konflik yang disertai kerusuhan yang didalamnya jugadi barengi dengan konflik antar ras (pribumi vs non-pribumi) yang telah lama dan tentu saja hal ini menjadi embrio dari konflik-konflik selanjutnya . Perkelahian antara suku Madura dan suku Dayak di Kalimantan Barat, perkelahian antara suku Makasar dan penduduk asli Timor yang kemudian berkembang menjadi pergesekan antaragama Katolik dan Islam, merupakan contoh peristiwa SARA (suku, agama, ras, antargolongan) di negara kita. Indonesia terdiri dari pulau-pulau dan suku bangsa, maka masalah SARA merupakan hal biasa. Tapi ada beberapa hal menarik untuk dicermati dalam masalah SARA

Pertama : hubungan antara suku pribumi dan nonpribumi (baca: Cina) sampai saat ini belum dapat dipecahkan, dan tetap menjadi pemicu potensial timbulnya konflik sosial.

Kedua

: SARA muncul kembali sebagai faktor pendorong timbulnya "nasionalisme

daerah", berupa upaya memisahkan suatu wilayah dari wilayah Republik Indonesia, meskipun masalah ini secara historis seharusnya sudah selesai ketika bangsa ini memproklamasikan Sumpah Pemuda 1928. Ketiga : ada gejala bergesernya sebab pemicu timbulnya gejolak sosial dari masalah SARA ke masalah yang bersifat struktural.

2.2 Faktor faktor penyebab pudarnya Nasionalisme di Indonesia

Pikiran Manusia adalah generatif, kreatif, proaktif dan reflektif, tidak sekedar reaktif. (Albert Bandura, 2001, Hal 4). Kutipan definisi pikiran manusia yang diambil dari teori Albert Bandura merupakan suatu makna yang luas dan sangat identik dengan jiwa Nasionalisme yang saat ini semakin berkurang dari masa kemasa. Dalam tubuh Nasionalisme terdapat beberapa elemen yang mendasar dan berpengaruh kuat, dalam pikiran manusia sangat berpadu dengan jiwa Nasionalisme yang dapat diaplikasikan dengan,pertama: Budaya yang generatif,kedua: Ekonomi kreatif, ketiga: kepimpinan yang proaktif dan keempat: sosial yang reflektif.

1. Faktor Penyebab Internal

a) Pemerintahan pada zaman reformasi yang jauh dari harapan masyarakat, sehingga membuat mereka kecewa pada kinerja pemerintah saat ini. Terkuaknya kasus-kasus korupsi, penggelapan uang Negara, dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat Negara membuat masyarakat enggan untuk memerhatikan / respect lagi terhadap pemerintahan. b) Sikap keluarga dan lingkungan sekitar yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme dan

patriotisme, sehingga para pemuda meniru sikap tersebut. Para pemuda merupakan peniru yang baik terhadap lingkungan sekitarnya. c) Demokratisasi yang melewati batas etika dan sopan santun dan maraknya unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan masyarakat dan hilangnya optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois dan, emosional. d) Tertinggalnya Indonesia dengan Negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat masyarakat tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia. e) Timbulnya etnosentrisme yang menganggap sukunya lebih baik dari suku-suku lainnya, membuat masyarakat lebih mengagungkan daerah atau sukunya daripada persatuan bangsa.

2. Faktor Penyebab Eksternal a) Cepatnya arus globalisasi yang berimbas pada moral masyarakat. Mereka lebih memilih kebudayaan Negara lain, dibandingkan dengan kebudayaanya sendiri, sebagai contohnya para pemuda lebih memilih memakai pakaian-pakaian minim yang mencerminkan budaya barat dibandingkan memakai batik atau baju yang sopan yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Para pemuda kini dikuasai oleh narkoba dan minum-minuman keras, sehingga sangat merusak martabat bangsa Indonesia. b) Paham liberalisme yang dianut oleh Negara-negara barat yang memberikan dampak pada kehidupan bangsa. Masyarakat meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan sikap acuh tak acuh pada pemerintahan. 3. Hubungan Memudarnya Nasionalisme dengan Kehancuran Bangsa.

Pemuda adalah penerus bangsa. Bangsa akan menjadi maju bila para pemudanya memiliki sikap nasionalisme yang tinggi. Nasionalisme sangat penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara karena merupakan wujud kecintaan dan kehormatan terhadap bangsa sendiri. Dengan hal itu, pemuda dapat melakukan sesuatu yang terbaik bagi bangsanya, menjaga keutuhan persatuan bangsa, dan meningkatkan martabat bangsa dihadapan dunia. Namun, dengan memudarnya rasa nasionalisme dapat mengancam dan menghancurkan bangsa Indonesia. Hal itu

terjadi karena ketahanan nasional akan menjadi lemah dan dapat dengan mudah ditembus oleh pihak luar. Bangsa Indonesia sudah dijajah sedari dulu sejak rasa nasionalisme memudar. Bukan dijajah dalam bentuk fisik, namun dijajah secara mental dan ideologi.

4. Upaya Untuk Menumbuhkan Kembali Nasionalisme

1. Peran Keluaga Memberikan pendidikan sejak dini tentang sikap nasionalisme terhadap bangsa Indonesia. Memberikan contoh atau tauladan tentang rasa kecintaan dan penghormatan pada bangsa. Memberikan pengawasan yang menyeluruh kepada anak terhadap lingkungan sekitar, dan Selalu menggunakan produk dalam negeri.

2. Peran Pendidikan Memberikan pelajaran tentang pendidikan pancasila dan kewarganegaraan dan juga bela Negara. Menanamkan sikap cinta tanah air dan menghormati jasa pahlawan dengan mengadakan upacara setiap hari senin. Memberikan pendidikan moral, sehingga para pemuda tidak mudah menyerap hal-hal negatif yang dapat mengancam ketahanan nasional. 3. Peran Pemerintah Menggalakan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme, seperti seminar dan pameran kebudayaan. Lebih mendengarkan dan menghargai aspirasi masyarakat untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi.

2.3 Undang Undang tentang Nasionalisme

Nasionalisme yang telah diatur dalam Undang Undang antara lain menyangkut bahasa, bendera lambang negara dan lagu Nasional Indonesia. Tepatnya tahun 2009 lalu, Indonesia memiliki undang-undang yang menyangkut hal hal Nasionalisme yaitu UU No. 24 Tahun 2009. Walaupun agak terlambat, terbitnya undang-undang tersebut merupakan kemajuan besar atas pengakuan keberadaan dan penggunaan bahasa Indonesia di tanah air. Bayangkan undang undang ini baru diciptakan 81 tahun semenjak ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional Indonesia untuk pertama kalinya , yaitu semenjak peristiwa deklarasi Sumpah Pemuda PERTAMA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA. KEDOEA KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA. KETIGA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

UU tersebut tidak sekadar berisi materi kebahasaan, melainkan juga materi tentang bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Di satu sisi, beberapa pihak menyayangkan "UU Bahasa" tersebut "tercampur" dengan materi lain. Di sisi lain, itu adalah pengakuan negara bahwa kedudukan bahasa Indonesia sejajar dengan bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Ini tentu saja merupakan kedudukan strategis.

Namun sejalan dengan dengan adanya undang undang tersebut , banyak pelanggaran yang menyangkut tentang hal hal nasionalisme tidak ditegakkan secara hukum. [kompas 2009 :

andre moller]Contoh kecil nya adalah penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa wajib. Banyak istilah istilah asing yang digunakan produsen untuk produknya misalnya penggunaan kata body wash , yang seharusnya dapat digunakan kata sabun karena makananya sama. Penegakkan hukum yang lemah menjadikan Undang Undang ini hanya sebagai formalitas belaka, bahwa kita sebagai bangsa Indoensia mempunyai lambang lambang nasionalisme tetapi tidak ada aksinya dalam kehidupan nyata. Law In Action yang lemah ini menyebabkan lunturnya semangat nasionalisme dikalangan masyarakat Indonesia. Anak anak muda banyak yang melupakan bahasa Nasionalnya. Mereka justru bangga dengan bahasa yang mereka ciptakan sendiri, contoh bahasa yang mereka kenal bahasa alay, penulisan dan pemaknaanya justru makin tidak jelas . Banyangkan jika anda menerima pesan ini mhS5wku, 5y4 hr1 1n 4d4 rApT, jd kLh dt4d4k4n YacH ?????. Butuh berapa menit untuk mencernanya ?? padahal jika diartikan kedalam bahasa Indonesia Mahasiswaku saya hari ini ada rapat, jadi kuliah ditiadakan. Mana yang lebih mudah ? tapi mengapa justru bahasa alay yang lebih dibanggakan , bahkan iklan iklan di televisi banyak menggunakan bahasa alay ini. Padahal notabene televisi adalah media penyiaran yang paling efektif dan cepat. Apa jadinya jika yang menonton adalah anak kecil yang langsung mengikutinya. Hal hal yang kecil ini justru yang sering dilupakan . Pembangunan jiwa nasionalisme tidak secepat belajar bahasa Inggris, perlu ditanamkan dari semenjak usia dini. Dimulai dari hal kecil, menggunakan bahasa Indonesia, menyanyikan lagu kebangsaan mengibarkan bendera merah putih dan yang lainnya. Penegakkan hukum yang jelas harus dijalankan dalam

mendukung menegakkan eksistensi Nasionalisme

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan

1. Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman SARA yang rentan terprovokasi jika tidak diimbangi dengan wawasan toleransi dan perdamaian yang luas 2. Penyebab memudarnya rasa nasionalisme dikarenakan oleh faktor internal dan eksternal. faktor. Faktor internal seperti kekecewaan terhadap kinerja pemerintah, dan sebagainya, sedangkan faktor eksternal seperti arus globalisasi yang membawa pengaruh negatif. 3. Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dibutuhkan peran keluarga, pendidikan, dan pemerintah. 4. Undang undang yang berlaku harus dijalankan sesuai amanat UUD 45

4.1 Saran Dari hasil pembahasan ini , kita memberikan saran agar rasa Nasionalisme mulai dipupuk dari individu dan lingkup yang paling kecil contohnya lingkup keluarga.Pendidikan akan Nasionalisme harus diajarkan mulai usia dini. Keanekaragaman suku dan agama di Indonesia mestinya menjadikan Indonesia negara yang kuat toleransinya antar penduduknya. Dan untuk semua ini diperlukan peran serta pemerintah sebagai pengawas melalui undang undang dan hukum yang berlaku

DAFTAR PUSTAKA Jamli, Edison dkk. Kewarganegaraan .2005.Jakarta: Bumi Akasara B. R. Hergenhann, Matthew H. Olson, Theories of Learning , Prenada Media Group: 2008, Jakarta Cindy Adams, Bung Karno penyambung lidah rakyat, Gunung Agung: 1966, Jakarta Sagimun MD, Pahlawan Diponogero , Gunung Agung: 1986, Jakarta Usep Sutaman, Amerts Dhama Putra SH, Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia , Arnico: 1991, Bandung. http://nasional.kompas.com/read/2012/04/30/16292430/Nasionalisme.Elit.Bangsa.Patut.Dipertan yakan Rabu, 2 Mei 2012 Undang-Undang Bahasa, andre moller, kompas 2009 Badan bahasa, kemendiknas UU_2009_24 http://kamusbahasaindonesia.org/nasionalisme Moesa, Ali Maschan , Nasionalisme Kiai : konstruksi sosial berbasis agama, 2007,LKiS , Yogyakarta http://rudybyo.blogspot.com/2011/04/pengertian-sara-suku-ras-agama-dan.html