Anda di halaman 1dari 15

SURAT KEPADA SETAN

Karya: Putu Wijaya I Hari ini usiaku 60 tahun. Radio mengobral lagu-lagu kebangsaan sejak subuh buta. Tepat pukul sepuluh pagi di lapangan parkir ada upacara menaikkan sang saka merah putih. Anak-anak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan mengharukan. Sementara rumah-rumah sederhana di sepanjang rel kereta api membuat sungai merah putih yang berliku panjang. Rakyat jelata berlomba naik pohon pinang. Ibu-ibu rumah-tangga tarik tambang. Penyandang cacad bertanding volli duduk. Bapak-bapak main sepakbola dengan memakai daster. Gadis-gadis kecil berlomba menangkap belut. Sementara di pemukiman mewah orang-orang masih tidur mendengkur menikmati hari libur. Banyak yang tak mau men gibarkan bendera. Untuk apa kata mereka, apa kibaran bendera satu hari bisa mengubah kebrengsekan yang sudah berkerak puluhan tahun? Aku sendiri kelaparan. Gusti Allah, kataku bersemedi, apa lagi yang bisa aku ganyang sekarang. Mulutku asem, harus olahraga sebab perutku gembung kebanyakan angin. Aku harus mengunyah, kalau tidak makan badanku lemes. Kalau lemes bagaimana aku bisa jaim? Tapi aku tidak mau asal kenyang, aku mau makan enak. Lebih lezat lebih mahal dari yang dimakan oleh orang lain. Itu baru namanya nikmat. Jadi supaya puas, ukurannya bukan lagi jumlah, itu matematika kuno, sekarang harus nomor satu, pokoknya lebih dari orang lain baru uenak tenan. Karena itu, bukan hanya asal enak, ngapain, mereknya yang lebih penting. Dan merek yang bisa dipercaya hanya yang datang dari mancanegara. Paling sedikit yang dibeli di Singapura. Segala yang impor itu jaminan mutu, buatan Indonesia alah lebih banyak menipu. Makanya korupsi penting, itu sudah profesi yang paling afdol untuk melipatgandakan rezeki. Harga proyek satu juta, bodo kalau ongkos bikinnya tidak bisa diteken jadi sepuluh perak, lainnya digerogoti. Jangan takut, rakyat sudah biasa ditipu semalam suntuk. Mereka malah ketagihan. Maaf lagi-lagi aku ngelantur, maklum usia sudah uzur. Buat manusia, 60 tahun bagai mobil yang mau parkir, jalannya x-tra waspada supaya jangan kecebor kali atau digebuk polisi. Tapi buat negara, 60 tahun masih kenceng-kencengnya, bagai pengantin di malam pertama. Bisa tiga kali semalam. Maksudku tiga kali bangun, mungkin bisa empat lima kali. Ada yang mengaku sepuluh kali. Lho jangan salah, terpaksa bangun karena masih ada saja tamu kasep yang mau kasih selamat. Jadi bukan soal makan atau tidak, tapi mau makan apa hari ini, Pak, kataku mengadu pada Bupati. Tapi cepat-cepat aku disuruh pergi menjumpai Pak Wali. Dari kantor walikota aku dikirim ke Gubernuran. Sebelum Gubernur menyarankan datang ke Presiden aku ingatkan bahwa Presiden sedang repot mengurus korupsi, jadi lebih baik beliau saja yang berperan. Apa yang bisa aku makan, Bapak Gubernur?

Walah, Ente ini bagaimana, Indonesia kaya-raya, makan saja kok repot, kata Gubernur, sikat saja itu orang-orang tua, para pengemis, penganggur dan anak-anak tanggung yang kerjanya bikin kerusuhan, sekalian bikin bersih kota, daripada sweeping orang-orang asing atau rumah judi. Itu kan bisa mengurangi pendapatan abdi-abdi negara yang sudah susah-payah mengamankan Anda. Ayo! Aku kaget. Lho Gubernur, Bapak serius? Jangan berkata begitu. Masak terus-terang mengakui abdi-abdi negara itu melindungi judi. Betul itu? Kalau didengar oleh wartawan, sekarang juga kursi Bapak bisa dicopot! Mereka kan sekarang sudah garang, dan ingat itu bukannya tanggungjawab Bapak juga! Ha-ha-ha, Guberbur tertawa, aku hanya guyonan katanya sambil menepuk pantatku, maaf bahuku. Ini campur sari. Kalau serius terus, kita bisa cepat mampus, ngurus rakyat yang semuanya mau enak sendiri, itu makan hati. Kalau tidak hati-hati, aku bisa mati berdiri. Jadi terpaksa sedikit pakai komedi. So what gitu lho! Oke jadi Ente datang untuk cari makan? Iya, Pak, apa lagi! Itu kan bagian tugas Bapak sebagai pemimpin rakyat, bukan hanya urusan perut kami. Tenang, itu gampang Dik, katanya sambil menunjuk seribu orang TKI yang tidak jadi diekspor ke luar negeri sebagai pembantu karena N.G. Itu semua aja ambil. Habis kalau nggak mati, pulangnya babak belur semua seperti Nirmala Bonar. Yang selamat, dipereteli di bandara oleh calop-calo yang kejemnya ngajubilah, lupa bahwa ibunya juga perempuan yang susah cari makan. Itu saja, kata Gubernur, silakan ambil semuanya, habiskan biar nggak jadi makanan koran. Lho ya kan? Koran itu lho, televisi apalagi, edhan sekarang. Makin rusuh beritanya, makin banyak iklannya, makin tinggi oplagnya, makin nomor satu ratingnya. Namanya juga cari makan. Lho Bapak kok nyuruh saya makan orang? Itu kan kanibal, Pak. Memangnya saya ikan Arwana? Emangnya saya, Bapak? Ya itu terserah, ini negeri demokrasi, Bapak kan hanya menunjukkan peluang, silakan berjuang. Mainkan saja bolanya yang sekarang siap ditendang, aku masih banyak urusan. Jadi mohon diizinkan pamit demi melanjutkan pekerjaan. Masak mentang-mentang pejabat tidak berhak liburan, itu kan perikemanusiaan?! Sebelum sempat dicegah Gubernur sudah kabur. Lalu seribu perempuan, calon-calon pembantu yang enji itu datang berlari menyerbu. Yaaaaaa! Ya Tuhan, kalau hanya empat, masih bisa kuatasi, ini seribu! Dengan dua ribu tangan yang menggapai-gapai mau menggerayangi barangku, maaf, maksudku menggerayangi tubuhku, minta dilindungi, aku jadi keenakan maksudku kewalahan, lalu tak sadar aku berteriak supaya mereka jangan ngamuk. Awasssssss! Jangan terlalu dekat, Mbak, Ibu, Dik, sayang, aku bisa koit, malah nanti tidak bisa melihat! Mundur! Udah ah! Di situ saja, aku sudah tahu kok, jumlah kalian seribu, semuanya sudah kena tipu dan sekarang mau mengadu. Betul nggak? Betul!!!!! Jawab mereka seru.

Tetapi terus-terang aku belum tahu mesti ngapaian dengan semua kamu. Apa yang bisa beta lakukan kan daku manula yang sudah rongsokan, masak mau duel dengan seribu perempuan yang kelaparan, maksudku tidak punya pekerjaan. Bukan hanya pekerjaan, kami juga sudah tidak punya kehormatan! Ya Tuhan, jadi kalian semua sudah tidak perawan?! Jeger aku ditampar sampai mental. Seribu pasang mata melotot mau membakar mulutku yang sudah becek lepas kontrol. Kehormatan dan kehormatan itu berbeda Pak, teriak pemimpinnya. Ternyata bekas calonya juga. Yang satu kehormatan di atas erut, yang bernama harga diri. Itu sudah kikis habis karena terpaksa kami gadaikan, tapi tak sanggup menebus agar dikembalikan. Yang lain, kehormatan yang lokasinya di bawah perut ini, tapi itu hari ini tidak kita bicarakan. Kami hanya minta satu saja. Jangan cuma janji mau mensejahterakan, carikan kami pekerjaan buat makan! Tanpa makan bagaimana bisa bertahan? Edhan! Lho aku sendiri juga mau makan, jangan suruh aku mengurus nasib kalian. Kalau Bapak juga mau makan, itu namanya lempar batu sembunyi tangan, lalu siapa lagi yang bisa kami harapkan? Yang lain-lain! Kan banyak. Itu lho para konglomerat! Ah mana sempat! Semuanya juga mengaku melarat! Kalau begitu lapor Para Wakil Rakyat! Apalagi Wakil Rakyat! Mereka sedang baku hantam untuk melindungi rakyat! Lha kamu kan rakyat? Bukan! Ah bukan? Lalu kamu siapa? Kami perempuan. Perempuan bukan rakyat karena dianggap tidak masuk hitungan! Ya kami selalu dikorbankan! Makanya kami selalu menuntut persamaan!!!! Kalau terus-terusan cucitangan tidak mau menghiraukan, kami akan turun tangan! Tiba-tiba, semuanya membuka pakaian. Waduh aku penggemar gambar porno dan suka nonton penari strip yang sekarang mulai disuguhkan di caf. Tapi seribu orang, amit-amit. Apalagi setelah telanjang bulat semua, mereka berlari datang menyerbu. Satu orang, empat orang , aku masih kuat ladeni, tapi ciloko seribu orang, lebih baik aku kabur. Tapi ngibrit ke mana lagi,

sekelilingku sudah dikepung, aku akan habis terganyang dalam ronde pertama. Akhirnya aku meloncat keluar yaak dan terbangun dari mimpi. Ya Tuhan, puji syukur, untung Kau ciptakan alam kesadaran, untuk menyelamatkan diri kalau sudah tidak ketulungan. Aku terbangun dari mimpi buruk. Alhamdulillah. Tapi aduh masih ada dua yang katut, sanggulnya tersangkut sepatuku lalu ikut tersembul keluar sambil memegang kakiku. Jangan pegang ini bukan punya kamu. Tapi dia menggigit, aduh pangeran, enak-enak geli tapi aku tidak mau ditarik kembali ke alam mimpi, lalu aku sentakkan, jangan ditarik nanti pedot, dimana cari serepnya nggak ada yang jual, aduh, aduh, aduh, aduh jadi melar ini. Isin aku! Aku terpaksa menarik dan menyentakkan yaaaaaak! Dan berhasil? Beres! Tapi nanti dulu, celanaku merosot, celana dalamku ikut melorot merekam tarik. Aku jadi pindang, bebvas tanpa hambatan! Aku berteriak dan mencoba menutupi auratku yang bebas hambatan. Tolonggggggg! Tiba-tiba aku terkejut. Ternyata, ternyata, maaf nyuwun ngampuro, I am so sorry, tidak ada kata lain yang bisa menggantikan ucapan ini, kemaluanku sudah hilang. Kok bisa hilang ya? Hilang Bang, hilang, padahal tadi masih gagah di sini. Wong aku eman-eman kok. Coba periksa sekli lagi. Ya Tuhan benar blas hilang! Aduh, aduh bagaimana aku bisa hidup tanbpa kemaluan. Jangan-jangan sejak tadi, sejak kemaren-kemaren, sejak 30 tahun, sejak 60 tahun yang lalu, tanpa aku sadari, aku sudah kehilangan kemaluan. Jangan-jangan kita semua memang tidak punya kemaluan lagi. Coba. Yang jujur aja! Itu yang paling belakang sana coba periksa, jangan tertawa, apa? Masih ada, tapi tinggal separo katanya. Ini yang di depan kelihatan geli, kenapa Mas? Oh! Memang tidak hilang, katanya, tapi sekarang jadi kembar. Lihat ini dua! Waduh bahaya! Kemaluan tidak perlu banyak, satu saja asal yang mantap, karena kalau kebanyakan kita juga repot. Aku juga hanya punya satu, tapi sekarang sudah hilang. O tidak! Sudah ada lagi, tapi ya Tuhan kenapa sekarang bercabang-cabang! Cabangnya tambah banyak. Di cabangnya tumbuh cabang lagi. Ganas seperti akar tunjang. Panjang-panjang, kenceng lagi. Seperti gurita menggapai-gapai. Dia hidup sendiri. Menjurai ke segala arah. Apa saja mau ditonjok dan dibelit. Ganas dan lapar. Ya Tuhan, aku juga dibelit. Kakiku , seluruh tubuhku dililit. Tanganku tidak lagi berfungsi, otakku juga beku. Hanya mataku dan mulutku yang masih bisa dipakai. Aduh aku sudah dihajar habis oleh kemaluanku sendiri. Tolongggggg!

II Ini pasti perbuatan Setan. Setanlah yang sudah bertugas membayang-bayangi kehidupan manusia dengan kegelapan. Dari dulu sampai sekarang, segala malapetaka berasal dari Setan. Setanlah yang sudah membuat negeri ini terpuruk oleh berbagai macam musibah. Krisis ekonomi, kegoncangan politik, separatisme, disintegrasi, narkoba, judi, bom, terorisme, tsunami, bencana banjir, televisi semakin ganas, brutal dan asosial, korupsi dan harga-harga naik lagi! Semuanya karena ulah Setan. Termasuk perselingkuhan. Setan mau menyulap bangsa dan negeri kita ini ini menjadi kerikil yang cakar-cakaran. Dan itu akan kejadian karena kita tidak sanggup

melawan Setan. Kita hanya bisa membenci, mengutuk, menghujat dari jauh, tanpa berbuat apaapa. Setan tidak pernah kalah apalagi menyerah. Apa pun yang kita lakukan pasti sia-sia. Sudah waktunya kita harus ganti taktik. Sebaliknya dari membenci sebab itu hanya memboroskan enersi, kita harus berhenti membuat jarak, lalu merangkul. Memeluk Setan supaya dia merasa akrab, lalu berjalan bersebelahan, berpegangan tangan, bagai prajurit yang saling setia kawan, sebab kita sama-sama berjuang. Mari bergotong-royong dengan Setan! Tapi jangan lupa, itu semua hanya taktik dan strategi, bukan tujuan. Begitu Setan lengah dan mulai percaya sama kita, pelan-pelan lehernya kita bekuk, lalu masukkan belati ke tenggorokannya supaya urat nadinya putus. Kita gorok dia supaya tamat riwayatnya, supaya kita benar-benar bebas dan mereka dalam arti yang sesmpurna-sempurnanya. Yak. Sudah waktunya menulis surat kepada Setan. Sekarang. Jangan ditunda lagi. Merdeka! Horas! Sahabat sejati, Setan yang baik hati. Di mana pun kini kau berada, aku menyampaikan salam hormat dan cinta. Mari akhiri permusuhan, bergotong-royong menggarap kesempatan demi masa depan mapan anak-cucu kita seratus keturunan. Selama kita saling dengki dan curiga mencurigai, hasilnya akan kurang mamadai. Masa lalu yang tidak produktif harus diakhiri. Mulai detik ini, kita bahu-membahu, dalam satu barisan yang padu. Semua laba kita bagi rata. Kalau perlu kau sembilanpuluh persen, aku sisanya. Aku tunggu balasanmu secepatnya, Setan! Surat aku masukkan ke pos tanpa membubuhkan nama atau pun alamat. Tukang pos pasti tahu ke mana harus dibawa. Siapa yang tidak tahu rumah setan. Kalau toh tukang posnya bego, setan sendiri pasti akan langsung mengambil surat itu, sebab dia tahu apa yang harus dia lakukan. Namanya juga setan. Lalu aku menunggu. Berhari-hari, berminggu-minggu, setahun, lima tahun, kalau perlu sampai 30 tahun aku akan tetap setia menanti. Ternyata tidak ada jawaban. Aku panik. Jangan-jangan setan menolak. Jangan-jangan ia sudah tahu akal bulusku mau mengguntingnya dalam lipatan. Jangan-jangan ia sudah diup-grade, hingga tidak bisa lagi dikecoh. Setan kan selalu lebih hebat dari manusia. Kenapa aku jadi lupa? Rasa takut mulai menusuk. Sukmaku bergetar, ngeri kalau-kalau setan menyerang karena merasa terhina. Habis aku sudah memperlakukannya seperti idiot. Sebentar-sebentar kalau ada mobil berhenti di depan rumah, aku panik, siap kabur. Tapi jebulnya itu hanya pegawai negeri yang pulang naik angkot sebelum selesai jam kantornya. Kan Jumat. Ketakutan makin membengkak aku ngos-ngosan terhimpit. Akhirnya aku coba mengatasi dengan ekstasi, tapi semakin diatasi, semakin menjadi-jadi. Dengan panik aku mengunjungi psikolog. Tapi alumni mancanegara itu mengulangi lagi nasehat basi, aku harus berpikir positip. Jangkrik. Aku balik ke rumah dan akhirnya berdoa. Tuhan, ini tidak adil, aku kan mahluk ciptaanMu. Tak mungkin Kau tidak mencintai yang Kau ciptakan sendiri. Lindungi aku. Jangan biarkan setan menang. Aku bersumpah kalau manusia

yang menang, aku jamin dunia ini akan lebih indah. Orang tidak perlu mati sebelum masuk surga, sebab dunia bisa kami bikin jadi surga oleh rasa cinta yang pada dasarnya juga adalah karuniaMu kepada kami juga! Doa membawa ketenangan. Akhirnya aku pasrah. Cemas sudah membuatku berpikir. Dengan berpikir muncul ide-ide baru. Takut adalah bagian dari karunia untuk membuat peradaban manusia sempurna. Waktu itu kringgg, kringggg, tukang pos datang. Ada surat untuk Anda, katanya sambil tersenyum sopan, silakan diterima. Aku mengurut dada lega, syukurlah, akhirnya tiba. Orang sabar kasihan Tuhan. Setelah membubuhkan tanda tangan tanda terima, lalu penasaran surat aku buka: Merdeka! Horas! Kawan sejati, Setan yang baik hati. Di mana pun kini Anda berada, aku menyampaikan salam hormat dan cinta. Mari akhiri permusuhan, bergotong-royong menggarap kesempatan demi masa depan mapan anak-cucu kita seratus keturunan. Selama kita saling dengki dan curiga-mencurigai, hasilnya akan kurang mamadai. Masa lalu yang tidak produktif harus diakhiri. Mulai detik ini, kita bahu-membahu, dalam satu barisan yang padu. Semua laba kita bagi rata. Kalau perlu kau sembilanpuluh persen, aku sisanya. Aku tunggu balasanmu secepatnya, Setan! Ya Tuhan ini kenapa jadi begini, aku bukan setan, aku bukan setan, aku bukan setannnnnn! Aku bukan setannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn .. kata Setan!

Merdeka
Posted on 26 November 2007 by Wibisono Sastrodiwiryo | Tinggalkan Komentar

Di penghujung 2007 Amat bingung. Apakah kemerdekaan sebuah kemenangan. Apakah kemenangan sebuah kebahagiaan. Kalau ya, mengapa dalam kemerdekaan dan kemenangan, masih ada derita? Makin marak kemiskinan? Bahkan bencana , permusuhan, kekacauan, kerancauan kebenaran, ketidakadilan dan kejatuhan moral kian edhan-edhanan? Amat terkenang pada peringatan hari kemerdekaan yang lalu. Memang sudah usang karena sudah 62 kali diulang-ulang dengan jawaban yang juga bulukan. Merdeka berarti tidak lagi disuapi, dilindungi, dijaga dan diasuh oleh negara penjajah. Merdeka berarti harus cari makan dan bertahan hidup di atas kaki sendiri. Merdeka sama dengan tidak lagi ditindas, tidak diinjak-injak, tidak lagi dikadali oleh sang penjajah di bawah ancaman senjata, tetapi atas kemauan kita sendiri. Amat terkejut.

Dengan kemauan sendiri? Kemauan siapa? Siapa yang masih mau diinjak, ditindas, dikadali hari gini? Ya kalau sudah merdeka, berarti seluruh perbuatan adalah atas kehendak diri sendiri. Atas pilihan yang bersangkutan. Tidak karena diperintah. Bukan akibat tekanan. Bahkan mana mungkin akibat disuruh-suruh oleh orang lain. Pastilah itu kehendak sendiri yang sudah bebas bersuara, lepas bertindak, yang sudah merdeka dalam merasa dan berpikir. Jadi kemiskinan. Keterpurukan. Perpecahan. Gontok-gontokan dan kemerosotan moral yang terjadi di sekitar kita sekarang itu, adalah kehendak sendiri? Gila! Habis kehendak siapa lagi, kan kamu sudah merdeka?! Amat kaget. Mana mungkin! Tidak ada orang yang ingin membuat dirinya miskin, terpuruk apalagi bejat moral. Itu semua pemutar-balikkan fakta! Terserah, kamu sudah merdeka jadi bebas untuk menuduh dan mencari kambing hitam! Kamu juga boleh seenak perut kamu mengeluarkan apa saja dari mulutmu yang merdeka. Tapi ingat, yang tidak benar walau pun keluar dari mulut yang merdeka tetap saja salah. Amat marah sama renungannya sendiri. Tapi waktu ia hendak membentak, istrinya muncul. Kok ngomong sendiri, Pak? Bukan ngomong sendiri, aku sedang berpikir. Mikiran apa? Mau kawin lagi? Amat tertawa. Boro-boro kawin lagi, yang satu saja nggak habis. O jadi kalau kawin itu berarti menghabisi?! Bukan begitu! Ya memang begitu! Kawin itu berarti menghabisi masa edan-edanan yang Bapak lakukan waktu masih jomblo. Kawin itu berarti menghabisi bertindak tanpa memakai perhitungan, bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain, bertindak yang merusak, seperti yang Bapak lakukan waktu masih bujangan. Kawin itu memang menghabisi apa yang tidak perlu! Amat tertegun. Sudah jangan mikir lagi. Cepat pasang bendera ini! Bu Amat mengulurkan bendera merah-putih yang baru dibelinya.

Lho, Ibu beli bendera lagi? Kan yang tahun kemaren masih ada? Itu warnanya sudah belel! Belel juga itu bendera kita. Bukan warnanya yang penting, tetapi artinya sebagai simbol! Sudah Bapak jangan ribut lagi. Pasang saja! Amat memperhatikan bendera baru itu. Lalu ia menghampiri tiang di depan rumah yang mengibarkan bendera lama. Lalu bendera lama diganti yang baru. Seorang tetangga menghampiri. Pak Amat kalau bendera lama tidak dipakai lagi, biar saya kibarkan di rumah, kalau boleh. Amat menggeleng. Kan tidak dipakai? Ya, menang. Ini akan disimpan sebab sudah ada yang baru. Makanya kalau tidak dipakai, daripada nganggur biar saya kibarkan saja. Amat menolak tegas. Bendera itu memang tidak dipasang, tetapi dia tetap dikibarkan di dalam rumah kami. Tetangga ketawa. Masak mengibarkan bendera dalam rumah. Ada-ada saja!! Amat tersenyum. Kalau benar-benar mau merayakan ulang tahun kemerdekaan, benderanya jangan minta, tapi beli sendiri! Ah bilang saja pelit! Sambil tertawa Amat membawa bendera itu masuk rumah. Ketika membuka laci almari untuk menyimpannya, ia tertegun. Di dalam laci itu ada sekitar 10 buah bendera merah-putih dari tahun-tahun sebelumnya. Amat kembali berpikir. Apa dengan mengibarkan bendera, seseorang menjadi merdeka. Atau karena merdeka orang boleh mengibarkan benderanya? Sudah sepuluh tahun, setiap kali menaruh bendera lama di dalam kotak ini, Bapak menanyakan hal itu, pak Amat! Amat kaget. Tapi ini adalah upacara. Di dalam upacara memang yang ada adalah pengulangan. Pengulangan itulah yang membedakan upacara dengan peristiwa. Perayaan hari kemerdekaan ini bukan

peristiwa tetapi upacara. Tegasnya pengulangan. Dengan mengulang, memang banyak yang sama. Namun hasilnya berbeda. Kita jadi semakin dalam memahami. Memahami apa? Memahami apakah kita benar sudah merdeka? Apakah kita sudah merdeka? Kalau tidak merdeka, kita tidak akan boleh mengatakan betapa miskin, betapa tertindas, betapa terpuruk, betapa merosotnya moral kita. Karena hanya orang yang benar-benar merdeka memiliki kebebasan untuk menyatakan apakah dirinya masih terjajah, tersiksa atau angkara. Hanya orang yang merdeka yang mampu mengatakan bahwa dirinya belum merdeka.

Naskah Lakon

MALAM JAHANAM
KARYA : MOTINGGO BOESJE/ Motinggo Busye ................ PAIJAH Kurang ajar! Kurang ajar! Kurang ajar, si Utai sinting! MATANYA MELIHAT JEMURAN DAN MENGAMBIL SATU PERSATU JEMURAN ITU, TETAPI IA MASIH JUGA MENCARI-CARI SI UTAI. KETAWA SI UTAI MELEDAK UTAI Ampun! Ampun! MUNCUL DARI PERSEMBUNYIANNYA SAMBIL MENGGARUK KEPALA PAIJAH Babi! (tapi kemudian tertawa lucu). Ayo bawa pakaian si kecil ini ke jemuran! Eh, edan! Eh, ke jemuran (latah), Eh, bukan! Ke dalam! UTAI Saya kira saya mau dipukul tadi! (mengambil pakaian) Saya sudah panas dingin (sambil tertawa ia masuk)

FOREDI UTK TAHAN LAMA SEX REKOMENDASI BOYKE! GASA REKOM BOYKE UTK EREKSI KERAS LEBIH KENCENG! METODE ALAMIAH TAMBAH UKURAN VITAL GASA REKOMENDASI BOYKE BIKIN ISTRI KETAGIHAN MLULU BISNIS ONLINE UNTUK PEMULA BUKA FACEBOOK 1 JAM DAPAT UANG 5 JUTA!!! air oxygn

MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU INVESTASI 95 RIBU HASIL 30 JUTA/BULAN, MAU ? FOREDI ANTI EJAKULASI DINI REKOMENDASI BOYKE! FOREDI UNTUK TAHAN LAMA SEX,REKOM BOYKE,BPOM. MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU Cara Mudah Berbisnis

KumpulBlogger.com PAIJAH BERJALAN MENUJU BANGKU DI MUKA RUMAHNYA, DUDUK, BERNAFAS LEGA. TAK LAMA KEMUDIAN KELUAR UTAI TERTAWA GELI. UTAI Si kecil tidur lagi biarpun kepalanya panas. (tak dihiraukan), He, kau anggap batu saja mulut saya ya? PAIJAH (dengan nada mengambang) Sudah malam belum pulang. UTAI Siapa? PAIJAH Mat Kontan! UTAI Dia itu orang paling repot di kampung kita. Tidak? Tidak ha? PAIJAH Dari pagi belum pulang. UTAI He eh! Dari pagi saya belum merokok sebab dia nggak ada. Kemana sih dia?

PAIJAH Mestinya beli burung ke Kalianda! (melengos ke gantungan sangkar di samping). Nggak cukup satu dua. (diam sebentar) kalau tidak, mestinya pergi taruhan. Kalau tidak ............ UTAI (melihat sesuatu terbang) Kalau tidak, menangkap kumbang MELOMPAT DAN BERPUTAR-PUTAR DI HALAMAN SAMBIL TANGANNYA MENANGKAP SESUATU TAPI TIDAK KENA-KENA PAIJAH Bangsat. orang omong benar dia main-main. UTAI (kecewa karena tidak mendapatkan). Apa tadi mpok? Apa? PAIJAH Si Kontan, lakiku. Mat Kontan. SUARA TANGIS BAYI DI DALAM MENGAGETKAN PAIJAH

PAIJAH Duuuuh! Si Kontan kecil nangis lagi, tuh! Kau sih ribut tertawa saja! ............. Read more: http://bandarnaskah.blogspot.com/2010/04/naskah-malamjahanam.html#ixzz1u4NYkg6r

PUISI ANAK SD
Posted on Desember 16, 2008 by ahewa KUMPULAN PUISI DI BAWAH INI adalah puisi yang saya coba kirimkan di sibi.or.id, dalam lomba penulisan pengayaan untuk guru. Memang puisi di bawah ini masih perlu kritik dan saran , karena belum sempat menang dalam sayembara itu . BUKU KUMPULAN PUISI JUDUL PENULIS : BINTANG MASA DEPAN : AKHID HERU PRABAWA

INSTANSI : DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SLEMAN

2. Kapten Pattimura Kapten sungguh aku berbangga hati Hormat padamu kapten dari Maluku Jutaan rakyat Indonesiaku kini mengenang Jutaan jasamu yang benderang Kau torehkan garis keberanianmu Melawan cambuk-cambuk di benteng Victoria Kau lawan keganasan pecut-pecut itu Walaupun akhirnya engkau harus rela

menancap di tembok Victoria itu Keberanianmu kini membawakan bekas pada kami untuk ikut dalam lenteramu.

3. Puputan Margarana Hukum tawan karang kau tak berlaku Biarlah kau meledak di tanah Dewata Kami lebih suka karena kami punya kebebasan Buleleng kau jadi lautan merah Jutaan pedang bersimbah Jutaan peluru bertumpah Kau alirkan darah di tanah kami Biarlah puputan menjadi saksi kekuatan kami Di bawah tangan jelantik Kami akan menghabiskan titik merah terakhir ini.

4. Amukti Palapa Amungkubumi mahapatih berpetuah Mengucap seribu janji Membawakan Hasta Dwipa Nusantara Gajah Mada benar benar telah membuka Negara kertagama Pancasila Bersatukan Bhineka Tunggal Ika Dalam wadah Indonesia Ayolah para amukti kita bergulir Bergandeng tangan kanan dan kiri Menancap di bumi Indonesia.

5. Romusha 3,5 tahun kau menancap Di bumi Indonesiaku Menorehkan barisan-barisan tak berbelas kasihan Seberkas sarung goni melekatku Seuntai cambuk membara menemaniku siang dan malam Tangisan-tangisan malam menjerit Merintih kesakitan menahan pecut Ku tak masuk sesuap nasipun Hingga mati itu datang merajut kepadaku

6. Batavia Batavia..oh Batavia negri berjuta serbu Nikmatmu membawa pikat Lenteramu menoreh sejarah Di kala itu sang kincirpun datang dari negri seberang Membawa maksud untuk mengepung Menyimpan udang dibalik batu Sungguh berkemauan membabi buta Tak henti-hentinya mereka mengepung

berbagai mutiara rempah-rempahku Di pelataran negri loh jinawi ini kami sungguh tak berkutik ikut menyaksikan lembaran kisahmu tuk menjadi Batavia Sunda Kelapa Ibu kotaku Jakarta