Anda di halaman 1dari 19

High Temperature ChlorineSulfur Corrosion of Heat-Resisting Steels

M I A D I N I AT I 1106154324 T E K N I K M E TA L U R G I D A N M AT E R I A L

Outline
Pendahuluan Kasus Hasil Penelitian Diskusi

Pendahuluan
Mekanisme korosi pada Temperatur

Tinggi berbeda dari aqueos corrosion, dimana tidak memerlukan elektrolit Biasanya terjadi pada suhu >500oC Pada Korosi di Temperatur tinggi akan terbentuk lapisan film yang disebut SCALE yang tumbuh. Scale biasanya bertindak sebagai penghalang yang memisahkan antara alloy dan lingkungan Tebal scale: tergantung T dan lingkungan Umumnya scale berbentuk Oksida karena secara termodinamika lebih stabil dibanding karbida, nitrida, sulfida

Proses Pembentukan Scale


Penyerapan O2 /lainnya

Terjadinya reaksi kimia untuk membentuk oksida di permukaan

Nukleasi oksida

Perkembangan menjadi lapisan tipis

Pendahuluan
Reaksi high temperature corrosion mirip dengan aqueous corrosion:
Anoda: M M2+ + e-

Katoda: O2 + 2e- O2-

Sifat lapisan oksida yang baik untuk memproteksi logam:


Memiliki ikatan yang baik dengan substrat Tm tinggi Tahan terhadap evaporasi Koefisien termal ekspansi sama dengan logam Suhu plastisitas tinggi

Konduktivitas elektrik rendah


Koefisien difusi rendah untuk kation logam dan anion oksigen

Pendahuluan
Macam - macam Kasus /Sebab High Temperature Corrosion
Oksidasi Sulfidasi Karburisasi
Membentuk lapisan oksida

adanya kontaminasi senyawa sulfur Terjadi ketika terekpos dengan CO, metana, dll pada T tinggi membentuk karbida yang getas

Metal dusting
Nitridasi Halogen Fuel ash and salt deposit Molten salt Corrosion in liquid metals

Produk korosi berupa fine powders karbida, oksida, grafit Terjadi ketika Cr dan elemen lain kombinasi dengan N membentuk nitrida getas Di T tinggi dengan merusak lapisan oksida Adanya reaksi kimia antara deposit dengan lapisan oksida di permukaan lapisan oksida rusak korosi terjadi Mekanisme bervariasi misalnya terjadi di fuel cells, batteries

Saat lelehan agresif dan T tinggi maka CR tinggi, ex. Lelehan baja tidak
agresif, tapi Lelehan lithium agresif Gabungan dari berbagai macam mekanisme korosi

Kompilasi

Pendahuluan
Boiler merupakan bejana

tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air sampai terbentuk steam dimana steam dengan tekanan tertentu digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses Waterwall & superheater pipe pada boiler rentan terhadap high temperature corrosion dengan atmosfer yang mengandung sulfur + chlorine memungkinkan terbentuknya scale yang beragam.

Pendahuluan
Chloride dan sulfur sangat

berpengaruh pada high temperature corrosion dimana bisa dilihat dari terdeteksinya chloride dan sulfur in antarmuka scale/logam. Efek dari klorine (dapat berasal dari HCl/Cl2) akan membuat scale oksida menjadi berporos dan penyerangan lebih cepat. Dapat juga menyebabkan scale spalling karena adanya penetrasi chlorides Adanya sulfur (dari gas yang korosif (SO2 atau molten deposit) dapat mempengaruhi oksidasi dengan mebentuk sulfat di permukaan oksida sehingga mengakibatkan penguapan Cr sebagai lapisan oksida dan mempengaruhi kecepatan oksidasi saat lapisan oksida sudah rusak.

Pendahuluan
Efek paduan terhadap pembentukan scale

Pada low alloy heat resisting steels: Terdapat 2 lapisan scale yang terbentuk, lapisan pertama mengandung oksida besi, hematit, magnetit dan lapisan selanjutnya tepat di material terbentuk FeCl dan FeS
Pada high alloy heat resisting steels: Scale yang terbentuk sama namun tepat di material mungkin terbentuk double chromic dan ferric oxides (spinels)

Struktur sclaleyang terbentuk akibat high temperature chlorine sulfur corrosion

Kasus
Tujuan: mengetahui ketahanan dari heat

resisting steel pada high temperature corrosion in atmosfer oksidasi yang mengandung sulfur dan chlorine. Dimensi sampel: 15 mmx 8 mm x 4mm, yang terbuat dari high alloy steels

Komposisi kimia dari berbagai jenis baja

Kasus
Pengujian: seperti di lingkungan boiler dengan

waste combustion selama 650 jam pada suhu 873K dan 973 K dengan komposisi medium N2 + 9%O2 + 0,2%HCl + 0,08%SO2

Skema pengujian pada atmosfer kompleks

Hasil penelitian
Perubahan massa (setelah pengujian 650 jam):
Di suhu 873 K dan 973 K: 1. Ketahanan korosi paling baik SS TP347H 2. Ketahanan korosi paling buruk: steels P92 dan low alloy steel T23 Kehilangan massa X20 dan P92 pada suhu 873 K > suhu 973 K Kehilangan massa austenitik TP347H pada suhu 873 K < 973 K

Hasil penelitian
Mikrostruktur produk korosi:
P 92

XRD analisa dari P92

P 92 = zona scale yang paling tebal dekat dengan substrat ditemukan adanya sulfur indikasi terbentuknya FeS Bagian terluar dari scale terdiri dari iron oxides: Fe2O3, Fe3O4
Microanalysis baja P92

Hasil penelitian
Mikrostruktur produk korosi:

Morfologi produk korosi sulfida pada suhu 873 K di permukaan P92

Morfologi besi oksida pada suhu 873 K di permukaan P92

Xray microanalysis

Xray microanalysis

Hasil penelitian
Mikrostruktur produk korosi:

X20

XRD analisa dari X20

X20 = terdiri dari 4 zona scale yang paling dekat dengan substrat ditemukan chlorine dan di layer kedua ditemukan sulfur indikasi adanya FeCl2 dan FeS di zona tersebut Outer zone berupa Fe2O3 dan Fe3O4
Microanalysis baja X20

Hasil penelitian
Mikrostruktur produk korosi:
TP347H

Analisa XRF baja TP347 H Mikroanalisa X-ray TP347 H

TP347H = scale yang paling tipis mengandung Fe2O3

Diskusi
Ketahanan terhadap high temperature chlorine sulfur

corrosion tergantung dari kandungan chromium Scale terdiri dari struktur multilayer dimana terdapat besi oksida di bagian zona terluar serta sulfida dan klorin di zona dalam langsung dengan substrat Austenitic stainless steel TP347H memiliki ketahanan korosi temperatur tinggi paling baik dibanding baja X20, P92, T23, dan 2,25% Cr - 1% Mo.

Diskusi
Pengaruh penambahan Unsur Paduan Unsur Chromium: Meningkatkan ketahanan korosi dan oksidasi. Meningkatkan kemampu-kerasan. Meningkatkan kekuatan pada temperatur tinggi. Peningkatan ketahanan terhadap pengaruh abrasi. Unsur pembentuk karbida (elemen pengeras). Minimum untuk pembentukan lapisan pasif 12%Cr, kalau terlalu banyak terbentuk fasa sigma getas Penambahan chromium dapat memberikan efek untuk menahan high temperature corrosion karena Chromium memiliki afinitias terhadap oksigen sangat tinggi membentuk chromia proteksi baja

Diskusi
Pengaruh penambahan Unsur Paduan
Unsur Nikel:
Tidak membentuk karbida Berada dalam ferit, sebagai penguat (efek ketangguhan ferit). Dengan Cr menghasilkan baja paduan dengan kemampuan kekerasan tinggi, ketahanan impak dan fatik yang tinggi. Biasanya ditambahkan hingga 25% Menignkatkan kethaanan terhadao karburisasi, nitridasi, chlorinasi, namun menurunkan ketahanan terhadap sulfidasi

Unsur Molybdenum:
Meningkatkan kemampukerasan baja. Menurunkan kerentanan terhadap temper embrittlement (400-550oC) Meningkatkan kekuatan tarik pada temperatur tinggi dan kekuatan creep

Unsur Mangan: Memiliki kekuatan yang baik pada T tinggi dan creep, Unsur Niobium: Meningkatkan short term creep strength, ketahanan terhadap karburisasi, menurunkaan ketahanan terhadap nitridasi

Unsur Silikon:
Meningkatkan ketahanan oksidasi, nitridasi, sulfidasi, karburisasi, Dengan Cr meningkatakan scale resiliences

Referensi
Hernas, A., M.Imosa, B.Formanek, J.Cizner. High

temperature chlorine sulfur corrosion of heat resisting steels. Journal of Materials Processing Technology 157 158 (2004): 348 353 ASM International. Heat Resistant Materials. ASM International. Handbook Commitee. 1997 High temperature corrosion.
(http://203.158.253.140/media/eBook/Engineer/Corrosion/Handbook%20of%20Corrosion%20Engineering/65 162_03.pdf)

Diakses pada tanggal 21 april 2012 pukul 20.00 WIB