Anda di halaman 1dari 4

Jakarta, 28 Jan 2011

SARCOPENIA
1. Pendahuluan Sarcopenia adalah penyakit kronis pada usia lanjut yang disertai menurunnya status gizi, hilangnya masa otot beserta fungsinya, dimana akan berakibat turunnya kualitas hidup dan meningkatnya risiko angka morbiditas dan mortalitas penderita (1). Prevalensi klinis dari sarcopenia berkisar 8,8% pada wanita muda sampai usia lanjut dan 17,5% pada laki-laki usia lanjut (2). Angka tersebut menunjukkan perbandingan yang lebih besar pada jenis kelamin laki-laki dibanding wanita dan pada pasien sarcopenik yang disertai obesitas ("kelebihan lemak") akan berdampak lebih buruk disbanding sarcopenik non-obesitas (3). Mekanisme yang mendasari proses ini semakin hari semakin dipahami (4). 2. Definisi Sarcopenia adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan hilangnya masa otot dan kekuatannya akibat proses penuaan (2). Sangatlah penting bisa mendeteksi dini tanda hilangnya masa dan kekuatan otot terutama pada pasien usia lanjut agar terapinya baik. Klinisi bisa gagal mendeteksi penyebab adanya kehilangan otot rangka dimana akan berkorelasi pada gagalnya pendekatan terapi dan respon yang akan dilakukan. 3. Patogenesis

Masa otot berkurang karena anoreksia secara fisiologis karena usia lanjut disebabkan gangguan keseimbangan pada lambung bagian fundus dan pelepasan dan aktivitas cholecystokin (5). Terdapat bukti dengan bertambah lanjutnya usia maka terjadi penurunan sintesa rantai panjang protein di myosin (protein anabolik utama). Inervasi otot motorik juga turun pada usia lanjut dan disertai peningkatan ketidakteraturan unit pembakaran otot (4). Terdapat indikasi peran sitokin (terutama interleukin-1, faktor nekrosis tumor, dan interleukin-6) dalam patogenesa sarcopenia, dengan akibat mempercepat turunnya fungsi pada usia lanjut. Pada kasus yang ditangani sering disertai anoreksia dan turunnya berat badan (5). Ditemukan keterlibatan sarcopenia karena turunnya kadar hormon anabolik pada usia lanjut, misal: testosteron, hormon pertumbuhan dehidroepiandrosteron dan faktor pertumbuhan insulin-I. Itulah mengapa diagnosa anoreksia fisiologis harus bisa segera ditegakkan (5). Depresi dianggap sebagai diagnosa tersering yang ditegakkan sehubungan turunnya berat badan pada usia lanjut (7). Kejadian sarcopenia pada otot jantung berkaitan dengan usia pada studi hewan (tikus) terbukti bahwa LV remodeling karena tekanan end diastole mendasari disfungsi LV karena usia (6). Lebih jauh dilaporkan terjadi peningkatan proses apoptosis pada atrofi otot akut karena gagalnya pembentukan masa otot (percobaan pada tikus tua) yang kondisinya dibuat sedemikian rupa menyerupai kondisi tirah baring yang cukup lama. Hal ini menjadi bukti awal pula bahwa apoptosis bisa menyebabkan kehilangan masa otot berkaitan dengan usia lanjut pada subyek manusia (7).

4. Diagnosa Diagnosis sarcopenia didasarkan pada adanya gabungan dari dua kriteria sebagai berikut

(1)

Masa otot yang rendah, yaitu persentase masa otot 2 standar deviasi di bawah rata-rata yang diukur pada orang dewasa muda dengan jenis kelamin dan etnis yang sama. Pasien yang berusia 18-39 tahun di NHANES 3 populasi dapat digunakan sebagai referensi. Diagnosis T-score berbasis disarankan sarcopenia berkaitan erat dengan diagnosis osteoporosis. Kemampuan jalan kecepatan rendah, misalnya kecepatan berjalan dibawah 0.8 m/detik, saat dilakukan tes berjalan 4-m.

5. Pengobatan

Turunnya nafsu makan dan turunnya berat badan pada pasien usia lanjut yang lemah sangat mungkin menjadi penyebab deplesi protein viseral (berkorelasi meningkatnya morbiditas) (1). Faktor turunnya produksi hormon anabolik juga berperan penting sebagai penyebab gangguan ini dan harus diketahui dengan jelas. Terapi hormon anabolik pengganti merupakan metode yang sangat strategis saat ini dan sedang diselidiki untuk pengobatan sarcopenia. Kombinasi antara aerobik, latihan ketahanan dan peregangan otot terbukti memberi efek menguntungkan. Dibutuhkan pemahaman lebih lanjut terhadap molekuler proses yang menjelaskan umur otot baik di tingkat pemahaman genetik dan modifikasi protein agar ditemukan strategi pengobatan baru yang lebih baik (3). Pasien sarcopenia yang kebetulan sedang dirawat di rumah sakit dan mendapat terapi infus sebaiknya dengan hati-hati diberi cairan infus maintenance yang lebih rasional, dimana tidak hanya mencegah dehidrasinya tetapi juga dapat mencegah anoreksia dan melawan fatiguenya. PT Otsuka Indonesia telah meluncurkan infus maintenance terkini, yaitu "Aminofluid " dengan kemasan canggih double chamber softbag, dimana bisa memberi 3 manfaat sekaligus (3 in 1) yaitu mengatasi dehidrasi, anoreksia dan melawan fatigue (8) (lihat diagram di bawah ini):

Referensi:

1. Consensus definition of sarcopenia, cachexia and pre-cachexia: Joint document elaborated by Special Interest Groups (SIG) cachexia-anorexia in chronic wasting diseases and nutrition in geriatrics; http://www.elsevier.com/locate/clnu 2. Morley, John E, et al; Sarcopenia (from the Chicago Meetings); J Lab Clin Med 2001;137:231-43. 3. Moerley, John E, BCh; Anorexia, Sarcopenia, and Aging; Nutrition, 2001; 17:660663. Elsevier Science Inc. 200 4. Greenlund, LJS; Nair, K.S. Nair Department of Endocrinology, Mayo Clinic, 200 First Street SW, Rochester, MN 55905, USA 5. Edstrm, Erik, et all; Factors contributing to neuromuscular impairment and sarcopenia during aging; Karolinska Institutet, Department of Neuroscience, Retzius Laboratory, S171 77 Stockholm, Sweden; Physiology & Behavior 92 (2007) 129135. 6. Lin, Jing A, et all; Age-related cardiac muscle sarcopenia: Combining experimental and mathematical
Dapus: Otsuka. 2011. Sarcopenia. Available online at http://www.otsuka.co.id/?content=article_detail&id=218&lang=id (17 mei 2012)