Anda di halaman 1dari 17

USAHA

3.1 Usaha (W) dalam Berbagai Proses


Usaha dalam termodinamika selalu mewakili perubahan energi antara sebuah
sistem dan lingkungannya. Perubahan yang dialami sistem dalam interaksi tersebut
selalu dianggap berlangsung secara kuasistatik, maksudnya adalah perubahan itu
dicapai dalam tahapan yang infinit sedemikian rupa, sehingga sistem pada setiap
saat proses berlangsung berada dalam keadaan seimbang (Zemansky, 1986).
Tahapan infinit adalah perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit secara
berkesinambungan hingga perubahan yang diinginkan dapat tercapai (Rapi, 2009).
Contohnya: jika volume suatu gas diperbesar secara kuasistatik, volumenya
ditambah sedikit demi sedikit secara bersinambungan, hingga perubahan yang
diinginkan tercapai dan persamaan f (p,V,T) = 0 pada setiap saat tetap berlaku. Jika
seandainya perubahan volume itu berlangsung secara non-kuasistatik, maka volume
gas diperbesar secara mendadak, sehingga di dalam gas akan terjadi aliran-aliran
turbulen, ataupun terjadi pengembunan yang keduanya bukan keadaan
keseimbangan hingga tidak ada persamaan yang dapat menggambarkan keadaan
sistem.
Di dalam mekanika, besar usaha didefinisikan sebanding dengan besar gaya
dan besar perpindahan, secara matematik dirumuskan:
S F W

...(1)
Dalam sistem gas yang diperhatikan adalah perubahan volume sistem (dV), untuk
lebih memahami usaha di dalam termodinamika, maka dapat dijelaskan sebagai
berikut.
USAHA 1
Gambar 1. Usaha yang dilakukan akibat adanya gaya luar
dF
dS
Apabila kita memiliki sistem seperti Gambar 1, berada pada tekanan p. Gaya
luar dF dikerjakan ke bagian permukaan seluas dA. Dengan ini dF = p dA. Apabila
akibat gaya luar, bagian sistem bergerak sejauh dS, maka kerja yang dilakukan gaya
luar adalah :
W = dF . dS
Integral permukaan menghasilkan:
W = p . dA . dS
A = luas total permukaan, dan dA . dS = perubahan volume sistem = dV, sehingga
kerja luarnya adalah
W = p . dV (2)
Keterangan :
W = Kerja luar (Joule)
p = Tekanan sistem (N/m
2
)
dV = Perubahan volume sistem (m
3
)
Adapun konversi tanda pada yang berlaku dalam persamaan ini adalah :
W positif jika sistem melakukan usaha pada lingkungan, contoh gas panas
di dalam silinder mesin mobil menggerakkan piston, piston terdorong keluar
maka dalam hal ini sistem melakukan usaha, tanda W positif.
W negatif jika sistem dikenakan kerja oleh lingkungan, contoh
memasukkan udara ke dalam ban sepeda dengan pompa dalam hal ini usaha
dikerjakan pada sistem, maka W negatif.
3.1.1 Menentukan Usaha melalui diagram p-v
Proses reversibel dapat digambarkan dengan sebuah garis pada bidang p-v.
Garis ini merupakan proyeksi garis pada permukaan p-v-T yang menggambarkan
proses reversibel.
USAHA 2
Dalam Gambar 2, ditunjukkan bahwa sistem mengalami proses, sehingga
keadaannya berubah dari keadaan a menjadi keadaan b. Usaha per unit massa/mol
untuk perubahaan volume kecil digambarkan oleh daerah diarsir. Jadi usaha adalah
luas daerah dibawah kurva pada bidang p-v. Usaha ini adalah positif jika volume
bertambah besar, dan negatif jika volume bertambah kecil (Hadi, 1993). Usaha total
untuk perubahan volume dari keadaan a ke keadaan b adalah:

b
a
dv p w .
...............................................................................(3)
3.1.2 Usaha pada Proses Siklus
Proses siklus adalah suatu proses dimana pada akhir proses keadaan sistem
kembali seperti keadaan awal.
Gambar 3. Usaha digambarkan dengan area yang diarsir di bawah kurva pada
diagram p-v
USAHA 3
b
a
V
a
V
b
p
a
p
b
p (Pa)
V (m
3
)
Gambar 2. Luas bagian yang bergaris menyatakan besar
usaha untuk perubahan volume dv
p
v
p
a
b
v
a
v
b dv
p
b
p
a
pdv
Dapat dipandang suatu sistem mengalami proses siklus seperti ditunjukkan
pada gambar (3). Untuk menentukan besar usaha pada sistem maka siklus kita bagi
menjadi dua bagian yaitu dari a ke b kemudian dilanjutkan dari b ke a.
Pada bagian ab, sistem melakukan usaha sehingga usaha bertanda
positif, besar usaha sama dengan luas daerah di bawah kurva ab.
Pada bagian ba, sistem dikenakan usaha sehingga usaha bertanda
negatif, besar usaha sama dengan luas daerah di bawah kurva ba.
Usaha total sistem adalah W
ab
- W
ba
sama denga luas daerah di bawah kurva
ab dikurangi dengan luas daerah di bawah kurva ba sama dengan luas daerah di
dalam siklus.
a. Usaha pada proses isobar (tekanan kostan)

Jika tekanan dijaga konstan (isobarik) selama proses, usaha yang dilakukan
bisa dihitung dengan mudah. Sebagai contoh, jika gas pada gambar 4 memuai
dengan lambat terhadap piston, usaha yang dilakukan oleh gas untuk menaikkan
piston adalah gaya F dikalikan jarak d. Tetapi gaya hanya berupa tekanan p dari gas
dikalikan luas A dari piston, F = PA, dengan demikian dapat dituliskan :
W = Fd = P Ad atau W = P V...................................................(4)
Dengan V = Ad adalah perubahan volume gas. Persamaan ini juga berlaku
jika gas ditekan pada tekanan konstan, di mana (kerana V menurun) V negatif,
yang menunjukkan bahwa kerja dilakukan pada gas. Persamaan di atas juga berlaku
untuk zat cair dan padat, dengan syarat tekanan konstan selama proses.
USAHA 4
Gambar 4.
Kerja yang dilakukan pada
piston ketika gas memuai,
menggerakkan piston sejauh d
Gambar 5 . Proses isobar (a-b)
Berdasarkan gambar di atas, maka besarnya usaha adalah sama dengan luas
daerah di bawah kurva a-b.

b
a
dV p W .
; Karena p konstan maka

b
a
dV p W
[ ]
b
a
V p W
( )
a b
V V p W
V p W
.....................................................................................(5)
b. Usaha pada proses isokhorik (Volume Kostan)
Gambar 6 . Proses isokorik
Pada proses isokorik, volume tidak berubah (konstan), sehingga tidak ada
usaha yang dilakukan, W = 0. Atau besar usaha sama dengan luas daerah di bawah
kurva a-b = 0
USAHA 5
p
a
- p
b
V
a
V
b
a b
V
p
p
a
V
a
b
V
p
p
b
Pada proses di atas terlihat bahwa 0 V

b
a
dV p W .
untuk 0 V , maka 0 dV , Sehingga:
W = 0..............................................................................................(6)
c. Usaha pada proses isothermal (suhu kostan):
Gambar 7 menunjukkan isoterm AB. Dalam perjalanan dari A ke D, gas
tidak melakukan kerja karena volume tidak berubah. Tetapi dalam perjalanan dari D
ke B, gas melakukan kerja yang sama dengan PB = (VB VA), dan ini merupakan
usaha total yang dilakukan pada proses ADB (Giancolli, 2001).
Kita akan menghitung usaha yang dilakukan oleh gas yang berekspansi dari
keadaan a (volume V
A
) ke keadaan b (volume V
B
). Kerja yang dilakukan adalah

b
a
dV p W .
. Karean gas adalah gas ideal dan prosesnya berupa kuasitatik proses
maka dapat digunakan persamaan nRT PV untuk setiap keadaan, maka:

b
a
dV p W .
;

b
a
dV
V
nRT
W
. T, n, dan R adalah konstan, maka:

b
a
dV
V
nRT W
1
. Keadaan a (volume V
A
) ke keadaan b (volume V
B
)

B
A
V
V
dV
V
nRT W
1
USAHA 6
Gambar 7.
Diagram pv untuk proses yang
berbeda
B
A
V
V
V nRT W | ln
A
B
V
V
nRT W ln
..............................................................................(7)
Pada proses di atas usaha yang dilakukan sama dengan luas daerah di bawah
kurva PV. Karena gas berekspansi maka
B
V >
A
V dan nilai usaha yang dilakukan oleh
gas bertanda positif. Jika gas dikompres sehingga volume akhir dari gas lebih keci
dari volume awal maka nilai usaha yang dilakukan oleh gas bertanda negatif.
3.1.3 Usaha tergantung pada Lintasan
Panas ialah perpindahan energi ke atau dari suatu sistem akibat perbedaan
suhu antara sistem dengan sekelilingnya. Panas itu disebut positif apabila masuk ke
dalam suatu sistem dan negatif apabila keluar dari suatu sistem. Kerja usaha dan
perpindahan panas adalah metode perpindahan energi, yaitu metode yang
menyebabkan energi suatu sistem dapat bertambah atau berkurang. Untuk
menjelaskan usaha bergantung pada lintasan atau tidak, dapat dijelaskan melalui
diagram berikut.
Pandang suatu sistem keadaannya berubah dari keadaan a menjadi b, banyak proses
reversibel yang bisa ditempuh dari a ke b diantaranya : ab, acb, dan adb seperti
yang ditunjukan pada Gambar 4.
Wacb = Wac + Wcb = Wcb = luas daerah di bawah kurva cb
USAHA 7
p
b
V
a
V
b
p
a
p
V
a
c b
d
Gambar (8)
Wadb = Wad + Wdb = Wad = luas daerah bawah kurva ad
Wab = luas daerah di bawah kurva ab
Dengan melihat luas daerah di bawah kurva, maka Wacb Wadb Wab. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa besar usaha tergantung pada proses yang dijalani sistem, selain
itu besar usaha juga tergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir sistem.
Catatan :
W bukan merupakaan fungsi keadaan sistem (variabel sistem)
dW atau dw bukan merupakan diferensial eksak sehingga ditulis dengan tanda
coret W atau w.
w bukan merupakan perubahan kecil usaha melainkan sejumlah kecil usaha.
Contoh Soal
Gas ideal keadaan awal tekanannya p
1
dan volumenya v
1
, dipanaskan pada
volume konstan sampai tekanan menjadi dua kali (p
2
= 2p
1
), kemudian gas
dibiarkan berekspansi isotermal sampai tekanannya kembali pada tekanan awal,
kemudian ditekan pada tekanan tetap, sehingga volume kembali seperti keadaan
awal. Hitung kerja dalam proses, jika n = 2 kg-mol, p
1
= 2 atm, v
1
= 4 m
3
.
Penyelesaian
Diketahui :
n = 2 kg-mol
p
1
= 2 atm
p
2
= 2p
1
= 2(2 atm) = 4 atm
v
1
= 4 m
3
ditanya :
W = ?
Jawab :
Berdasarkan gambar pada diagram p-V :
1. W
ab
= 0 (Isokhorik)
USAHA 8
2. W
bc
=

,
_

a
b
V
V
T R n W ln
, merupakan proses isotermal.
3. W
ca
=
[ ] Isobarik V V p W
V d p W
c a
a
c

W
bc
=

,
_

a
b
V
V
T R n W ln
Perhatikan titik b :

R n
m m N x
T
T R n m atm
T R n v p
3 2 5
3
1 2
. / 10 16
4 . 4

W
bc
=
Joule x
m m N x
m m N x
m
m
R n
m m N x
R n
5
3 2 5
3 2 5
3
3 3 2 5
10 04 , 11
) 69 , 0 ( . / 10 16
2 ln . / 10 16
4
8
ln
. / 10 16

,
_

,
_

[ ]
( )
Joule x
m m N x
m atm
m m atm
V V atm
V V p W
c a ca
5
3 2 5
3
3 3
2 1
10 8
. / 10 8
) 4 ( 2
8 4 2
) ( 2






W
tot
=W
ab
+W
bc
+ W
ca
W
tot
= 0 J + 11,04 x 10
5
J 8 x 10
5
J
W
tot
= 3,04 x 10
5
Joule.
3.2 Diferensial Parsial
USAHA 9
Cat :
V
c
= V
2
= 8 m
3
V
b
= V
1
= 4 m
3
Berdasarkan diagram p-v
p
1
V
2
= n R T
p
2
V
1
= n R T
p
1
V
2
/ p
2
V
1
= 1
p
1
/ p
2
= V
1
/ V
2
2 atm/4 atm = 4 m
3
/V
2
(2 atm)V
2
= 16 atm . m
3
V
2
= 8 m
3
.
Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah persamaan yang di dalamnya
terdapat suku-suku diferensial parsial, yang dalam matematika diartikan sebagai
suatu hubungan yang mengaitkan suatu fungsi yang tidak diketahui, yang
merupakan fungsi dari beberapa variabel bebas, dengan turunan-turunannya melalui
variabel-variabel yang dimaksud. (Wikipedia, 2011). Dalam hal ini kita akan
mengkaji persamaan diferensial untuk persamaan termodinamika dalam persamaan
keadaan.. Dalam mengkaji persamaan keadaan lebih jauh akan dijumpai konsep laju
perubahan dari suatu fungsi dengan dua variabel. Dalam hal ini diperlukan
pemahaman yang baik tentang konsep diferensial suatu fungsi dengan dua atau
lebih variabel. Untuk itulah perlu dibahas mengenai diferensial parsial tersebut.
Tinjaulah fungsi dengan tiga variabel (x, y, z) yang dinyatakan dengan
( ) 0 , , z y x f , yang secara eksplisit dapat pula dinyatakan dengan:
( ) ( ) ( ) z x f y z y f x y x f z , , , , ,
Jika x dan y berubah maka perubahan z dapat dinyatakan dengan:
dy
y
z
dx
x
z
dz
x
y

,
_

,
_

dengan cara yang sama akan diperoleh:


dz
z
x
dy
y
x
dx
y
z

,
_

,
_

dz
z
y
dx
x
y
dy
x z

,
_

,
_

Substitusi nilai dy ke persamaan dz maka didapat sebagai berikut.


1
1
]
1

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

1
]
1

,
_

,
_

1
1
]
1

,
_

,
_

,
_

,
_

dz
z
y
y
z
dx
x
y
y
z
dx
x
z
dz
dz
z
y
dx
x
y
y
z
dx
x
z
dz
dy
y
z
dx
x
z
dz
x
x
z
x
y
x z
x
y
x
y
dx
x
y
y
z
dx
x
z
dz
z
y
y
z
dz
z
x
y x
x

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

Berdasarkan persamaan di atas didapatkan:


USAHA 10
dx
x
y
y
z
x
z
dz
z
y
y
z
z
x
y x
x
1
1
]
1

,
_

,
_

,
_

,
_

1
1
]
1

,
_

,
_

1
Perubahan dz dan dx adalah bebas. Bila kita ambil 0 dx maka 0 dz ,
sehingga didapatkan:
0 1
1
1
]
1

,
_

,
_

x
x
z
y
y
z
x
x x
x
y
z z
y
z
y
y
z

,
_

,
_

,
_

,
_

1
1
....................................(8)
Sedangkan bila kita ambil 0 dz maka 0 dx , sehingga didapatkan:
y
z
x
y z
x
z
x
y
z
x x
y
y
z
x
z
x
y
y
z
x
y
y
z
x
z

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

1
0
1

,
_

,
_

,
_

z y
x
x
y
z
x
y
z
.............................................................(9)
3.3. Koefisien Ekspansi dan Compresibilitas
a. Koefisien Ekspansi ()
Koefisien ekspansi () didefinisikan sebagai perubahan relatif volume karena
adanya perubahan temperatur (Rapi, 2009).
( )
rata - rata ekspansi koefisien dengan
1 2 1
1 2


T T V
V V
Jika sistem mengalami perubahan infinit artinya perubahan temperatur kecil
dan perubahan volume juga kecil maka yang diperoleh koefisien ekspansi
sebenarnya (), yang ditentukan melalui persamaan berikut.
dT
dV
V dT V
dV 1

Jika proses berlangsung pada tekanan konstan maka:
USAHA 11
( )
( )
p
p
dT
dV
V
1

Karena V merupakan fungsi dari T dan p, maka dalam bentuk diferensial
parsial bentuk
( )
( )
p
p
dT
dV
harus diganti dengan
p
T
V

,
_

sehingga
p
T
V
V

,
_

, di
dalam volume spesifik menjadi:
v
T
v
T
v
v
p p

,
_

,
_

1
................................................(10)
Makna secara fisis dari koefisien ekspansi adalah perubahan volume terhadap
kenaikan temperatur persatuan volume pada tekanan tetap. Koefisien ekspansi
volume menunjukkan seberapa jauh material berkembang terhadap agitasi termal
(Hikam, 2009).
Koefisien Ekspansi Gas Ideal
Kita dapat menentukan koefisien ekspansi gas ideal dengan menurunkannya
dari persamaan gas ideal yaitu
RT v p
. Berdasarkan persamaan (9), dapat
diperoleh:
1

,
_

,
_

,
_

v
p T
p
T
T
v
v
p
Dari persamaan (10), kita harus mencari dulu nilai
p
T
V

,
_

untuk mendapatkan nilai


maka didapatkan:
T
v
v
T
p
v
p T
v
p
T
p
p
T
v
p T
v
p
T
T
v
v
p

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

1
1
Dari persamaan gas ideal didapatkan:
v
RT
p , kemudian kita cari nilai untuk
masing-masing turunan parsial di atas, didapatkan sebagai berikut.
USAHA 12
2
dan
v
RT
v
p
v
R
T
p
T v

,
_

,
_

Maka:
T
v
RT
v
v
R
T
v
v
RT
v
R
v
p
T
p
T
v
p
T
v
p

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

2
2
Sehingga koefisien ekspansi gas ideal adalah:

,
_

,
_

T
v
v
T
v
v
p
1
1

T
1
........................................................................................(11)
Koefisien Ekspansi Gas Van der Walls
Dengan cara yang sama seperti pada gas ideal dapat diterapkan untuk mencari
koefisien ekspansi gas Van der Walls. Persamaan gas Van der Walls yaitu
( ) RT b v
v
a
p

,
_

+
2
. Berdasarkan persamaan (9), dapat diperoleh:
1

,
_

,
_

,
_

v
p T
p
T
T
v
v
p
Dari persamaan (10), kita harus mencari dulu nilai
p
T
v

,
_

untuk mendapatkan nilai


maka didapatkan:
1

,
_

,
_

,
_

v
p T
p
T
T
v
v
p
T
v
v
T
p
v
p
T
p
p
T
v
p T
v

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

1
USAHA 13
Dari persamaan gas Van der Walls didapatkan:
( )
2
v
a
b v
RT
p

, kemudian
kita cari nilai untuk masing-masing turunan parsial di atas, didapatkan sebagai
berikut.
( )
( )
( )
( )

,
_

,
_

,
_

,
_

2 3
2 3
3 2
2 2
b v v
b v a RTv
v
a
b v
RT
v
p
b v
R
T
p
T
v
Maka:
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

2 3
3
2 3
2 3
2 3
2 3
2
2
2
b v a RTv
b v v R
T
v
b v a RTv
b v v
x
b v
R
T
v
b v v
b v a RTv
b v
R
T
v
v
p
T
p
T
v
p
p
p
T
v
p
Sehingga koefisien ekspansi gas Van der Walls adalah:
( )
( )

,
_

,
_

2 3
3
2
1
1
b v a RTv
b v v R
v
T
V
v
p

( )
( )

,
_

2 3
2
2 b v a RTv
b v v R

(12)
USAHA 14
b. Compresibilitas (K)
Kompresibilitas adalah perubahan relatif volume karena adanya perubahan
tekanan (Rapi, 2009).
( )
rata - rata litas kompresibi dengan
1 2 1
1 2

K
p p V
V V
K
Jika volume dan tekanan berubah infinit artinya perubahan volume kecil dan
perubahan tekanan juga kecil maka yang diperoleh kompresibilitas sebenarnya (K),
yang ditentukan melalui persamaan berikut.
dp
dV
V dp V
dV
K
1

Jika proses berlangsung pada temperatur konstan (proses isothermis) maka:
( )
( )
T
T
dp
dV
V
K
1

Tanda negatif disebabkan karena volume selalu menyusut bila tekanan naik,
jadi (V/P)T secara inheren bernilai negatif. Sehingga kompresibilitas merupakan
besaran bernilai positif (Hikam, 2009).
Karena V merupakan fungsi dari T dan p, maka dalam bentuk diferensial
parsial bentuk
( )
( )
T
T
dp
dV
harus diganti dengan
T
p
V

,
_

sehingga
T
p
V
V
K

,
_


1
di
dalam volume spesifik menjadi:
T
p
v
v
K

,
_


1
v K
p
v
T

,
_

...............................................................................(13)
Kompresibilitas Gas Ideal
Kita dapat menentukan koefisien ekspansi gas ideal dengan menurunkannya
dari persamaan gas ideal yaitu
RT v p
. Berdasarkan persamaan (9), dapat
diperoleh:
1

,
_

,
_

,
_

v
p T
p
T
T
v
v
p
USAHA 15
Dari persamaan (10), kita harus mencari dulu nilai
T
p
v

,
_

untuk mendapatkan
nilai K maka didapatkan:
p
v
T
v
p
T
v
p T
v
T
p
T
p
v
p
T
T
v
v
p
p
T
T
v
v
p

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

1
1
Dari persamaan gas ideal didapatkan:
R
pv
T , kemudian kita cari nilai untuk
masing-masing turunan parsial di atas, didapatkan sebagai berikut.
R
p
v
T
R
v
p
T
p
v

,
_

,
_

dan
Maka:
p
v
p
R
R
v
T
v
R
p
R
v
v
T
p
T
p
v
p
p
v
T

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

,
_

Sehingga kompresibilitas gas ideal adalah:

,
_

,
_


p
v
v
K
p
v
v
K
T
1
1
p
K
1

.........................................................................................(14)
USAHA 16
Compresibelitas Gas Van der Waals
Untuk gas Van der Waals K dapat ditentukan, karena v tidak dapat dibuat
ekplisit. Maka untuk menghitungnya digunakan persamaan
p
v
T
v
T
p
T
p
v

,
_

,
_

,
_

Untuk gas Van der Waals, di mana persamaannya yaitu


2
v
a
b v
RT
p

, atau
,
_

+
2
1
v
ab
v
a
pb pv
R
T
Maka:
untuk
( ) b v
R p
T
v

,
_

1

untuk
p
v
T

,
_

=
,
_


3 2
2 1
v
ab
v
a
p
R
, dengan mensubstitusi
2
v
a
b v
RT
p

,
diperoleh:
p
v
T

,
_

=
,
_

3 2
2 2 1
v
ab
v
a
b v
RT
R
, dengan menyamakan
penyebutnya, diperoleh:
p
v
T

,
_

,
_


3
3
) (
) ( 2 ) ( 2 1
v b v
b v ab b v av RTv
R
=

,
_


3
3
) (
) ( 2 ) ( 2 1
v b v
b v ab b v av RTv
R
=

,
_


3
2 3
) (
) ( 2 1
v b v
b v a RTv
R
Sehingga:
-Kv =
T
p
v

,
_

= -
( )

,
_

3
2 3
) (
) ( 2 1
1
v b v
b v a RTv
R
b v
R
= -
( )
2 3
2 3
) ( 2 b v a RTv
b v v

Jadi untuk gas Van der Waals


( )
( )
2 3
2
2 b v a RTv
b v v
K

USAHA 17