Anda di halaman 1dari 34

Materi Pembelajaran

PROGRAM SPECTRUM

BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL Jakarta, 2011

Materi Pembelajaran

PROGRAM SPECTRUM

BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL Jakarta 2011

Buku sumber materi pembelajaran Spectrum dapat diakses pada alamat website : http://futuresgroup.com/resources/software/spectrum/

Softcopy Buku Materi Pembelajaran Spectrum dapat diakses pada alamat website : http://www.bkkbn.go.id/Webs/index.php/data/

Program Spectrum

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya buku Materi Pembelajaran Program SPECTRUM dapat tersusun dan tersajikan. Buku materi ini merupakan ringkasan dari hasil terjemahan tiga buku, yaitu 1) DemProj : a Computer Program for Making Population Projections; 2) FamPlan : a Computer Program for Projecting Family Planning Requirements; dan 3) RAPID : Computer Programs for Examining the Socioeconomic Impacts of Population Growth yang diterbitkan oleh U.S Agency for International Development (USAID) dan Futures Group. Ketiga buku sumber tersebut dapat diakses pada website http://futuresgroup.com/resources/software/spectrum/ Penyusunan buku ini merupakan salah satu bentuk tindak lanjut program pelatihan jangka pendek luar negeri SPECTRUM yang dilaksanakan Pusat Pelatihan dan Kerjasama Internasional Kependudukan dan Keluarga Berencana, (PULIN) BKKBN pada tahun 2010. Dengan tersedianya buku Materi Pembelajaran Program SPECTRUM diharapkan pengetahuan pegawai BKKBN akan Program SPECTRUM sebagai program aplikasi dalam penyusunan perhitungan proyeksi penduduk, perencanaan program KB dan analisis dampak atas pertumbuhan penduduk dapat meningkat. Buku ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam memahami konsepkonsep umum dari aplikasi DemProj, FamPlan, Rapid pada program SPECTRUM bagi peserta Pelatihan Perhitungan Proyeksi Penduduk dan Perencanaan Program KB yang akan diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana, (PULAP) BKKBN. Akhir kata, pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada seluruh pihak yang telah berperan sehingga buku Materi Pembelajaran Program SPECTRUM dapat tersusun. Masukkan dalam rangka penyempurnaan buku materi pembelajaran ini sangat kami harapkan.

Jakarta,

Mei 2011

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan

Dra. Kasmiyati, MSc.

Program Spectrum

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .........................................................................................

DAFTAR ISI ......................................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN ...................................................................... A. Latar Belakang ................................................................... B. Kompetensi Dasar .............................................................. C. Indikator Keberhasilan .......................................................

1 1 2 2

BAB II

KONSEP DASAR ..................................................................... A. Program Spectrum ............................................................. B. DemProj ............................................................................. C. FamPlan ............................................................................. D. Rapid ..................................................................................

3 3 5 5 6

BAB III

PROYEKSI ............................................................................... A. Langkah Penyusunan Proyeksi ......................................... B. Dasar Penentuan Asumsi .................................................. C. Data Input dan Output ........................................................

7 7 8 8

BAB IV

PENUTUP ................................................................................

29

ii

Program Spectrum

Bab

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Program Kependudukan dan Keluarga Berencana merupakan salah satu komponen pembangunan nasional untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera guna mencapai Penduduk Tumbuh Seimbang tahun 2015. Berdasarkan RPJMN tahun 2010 2014 kebijakan pembangunan kependudukan dan KB diarahkan kepada pengendalian kuantitas penduduk dan dengan ditetapkannya Undang-undang nomor 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga serta Peraturan Presiden nomor 62 tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, terdapat dua fokus penting yang menjadi tanggung jawab BKKBN, yaitu : revitalisasi program Keluarga Berencana dan penyerasian kebijakan pengendalian penduduk. Kondisi perkembangan pembangunan Kependudukan dan Program Keluarga Berencana semakin cepat mengalami perubahan. Hal tersebut merupakan sebagai akibat perubahan lingkungan strategis seperti semakin kritisnya masyarakat terhadap transparansi pengelolaan program, dinamisnya perubahan-perubahan sistem pengelolaan di era otonomi daerah dan hal-hal lainnya sehingga mempengaruhi kesinambungan pengelolaan program kependudukan dan Keluarga Berencana secara nasional. Dalam menjaga kesinambungan program kependudukan dan keluarga berencana perlu didukung oleh SDM yang menguasai pemakaian tools untuk analisis demografi, seperti proyeksi penduduk, proyeksi kebutuhan kontrasepsi, penurunan TFR, dan pencapaian CPR. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pemakaian tools tersebut adalah melalui program pelatihan perhitungan proyeksi penduduk dan perencanaan program KB. Program Spectrum merupakan program aplikasi yang dapat membantu melakukan perhitungan proyeksi, perencanaan program KB dan analisis dampak atas pertumbuhan penduduk yang pesat terhadap berbagai sektor pembangunan sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan, urbanisasi dan pertanian. Materi pembelajaran program Spectrum ini disusun sebagai bahan referensi dalam pelatihan perhitungan proyeksi penduduk dan perencanaan program KB yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang konfrehensif bagi peserta latih dalam memahami konsep-konsep umum dari aplikasi DemProj, FamPlan, Rapid pada program Spectrum

Program Spectrum

B. Kompetensi Dasar Meningkatkan pengetahuan dan sikap peserta mengenai konsep-konsep dasar tentang DemProj, FamPlan, Rapid pada program Spectrum. C. Indikator Keberhasilan 1. Menjelaskan mengenai konsep dasar program Spectrum, DemProj, FamPlan dan Rapid; 2. Menjelaskan mengenai langkah-langkah penyusunan proyeksi dalam DemProj, FamPlan dan Rapid pada program Spectrum; 3. Menjelaskan mengenai dasar penentuan asumsi dalam DemProj, FamPlan dan Rapid pada program Spectrum; 4. Menjelaskan mengenai data-data yang dibutuhkan dan dihasilkan dalam DemProj, FamPlan dan Rapid pada program Spectrum.

Program Spectrum

Bab

KONSEP DASAR

A. Program Spectrum 1. Pengertian Program Spectrum merupakan suatu policy model yang berbasis pada sistem komputer, yaitu window. Program Spectrum dikembangkan oleh United State Agency International Development (USAID) Health Policy Intitiave (HPI) agar dapat digunakan para pemangku kebijakan untuk memberikan informasi mengenai suatu dampak pembangunan di masa yang akan datang berdasarkan informasi dari pembangunan saat ini. Salah satu kelebihan policy model Spectrum dari modelmodel sebelumnya yang telah dikembangkan adalah policy model Spectrum telah memadukan beberapa modul-modul kedalam satu sistem. 2. Modul Terdapat sembilan modul dalam program Spectrum, yaitu : a. Modul Demography Projection Modul Demography Projection atau yang disingkat dengan istilah DemProj merupakan suatu program untuk menyusun proyeksi penduduk berdasarkan dua aspek, yaitu (1) jumlah penduduk suatu wilayah pada tahun tertentu berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia; (2) komponen demografi dari suatu wilayah yang terdiri dari tingkat kelahiran, kematian dan migrasi. b. Modul Family Planning Modul Family Planning atau yang disingkat dengan istilah FamPlan merupakan suatu program untuk menghitung komponen dan kebutuhan program Keluarga Berencana dalam rangka mencapai tujuan program Keluarga Berencana. c. Modul Benefit Cost Modul Benefit Cost merupakan suatu program untuk memperkirakan perhitungan biaya dan keuntungan dari pelaksanaan program Keluarga Berencana. d. Modul AIDS Impact Model Modul AIDS impact model atau yang disingkat dengan istilah AIM merupakan suatu program untuk memperkirakan dampak dari epidemik AIDS, termasuk jumlah orang yang terinfeksi HIV, jumlah orang meninggal akibat AIDS, jumlah penderita HIV/AIDS yang memerlukan perawatan dan jumlah orang yang beresiko tinggi.

Program Spectrum

e. Modul Socioeconomic Impacts of High Fertility and Population Growth Modul Socioeconomic Impacts of High Fertility and Population Growth atau yang disingkat dengan istilah RAPID merupakan suatu program untuk melihat dampak dari pertumbuhan penduduk dan angka kelahiran terhadap beberapa sektor sosial ekonomi, seperti ketenagakerjaan, kesehatan, pendidikan, urbanisasi dan pertanian. f. Modul Adolescent Reproductive Health Modul Adolescent Reproductive Health atau yang disingkat dengan istilah NewGen merupakan suatu program untuk memperkirakan dampak dari perilaku kesehatan reproduksi remaja, termasuk informasi mengenai perilaku seksual, perkawinan, kehamilan, aborsi, dan HIV- IMS.

g. Modul Prevention of Mother-To-Child Transmission Modul prevention of mother-to-child transmission atau yang disingkat dengan PMTCT merupakan suatu program untuk mengukur biaya dan manfaat program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, termasuk perawatan antiretroviral, pilihan pemberian makan bayi dan alternatif cara melahirkan. h. Modul Safe Motherhood Modul Safe Motherhood merupakan suatu program untuk menentukan biaya yang dibutuhkan untuk menurunkan angka kematian ibu. i. Modul Allocate Modul Allocate merupakan suatu program mengembangkan perencanaan kesehatan reproduksi nasional untuk efisiensi penggunaan anggaran kesehatan reproduksi.

3. Manfaat Program Spectrum dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, yaitu : a. Menstimulasi terjadinya sebuah dialog mengenai suatu isu atau kebijakan; Isu atau kebijakan yang dapat didiskusikan terkait isu kemiskinan, kematian ibu dan anak yang tinggi, dampak sosial ekonomi sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk dan angka kelahiran yang tidak terkendali. b. Memberikan suatu kerangka pikir yang jelas dalam memahami isu-isu dan mengevaluasi beberapa alternatif . Hasil program Spectrum dapat disusun berdasarkan alternatif-alternatif kebijakan yang direncanakan dan akan diterapkan. Sebagai contoh, kebijakan menurunkan Total Fertility Rate pada tahun 2025 menjadi 2.1 akan mempunyai konsekuensi pada kebijakan program Keluarga Berencana, khususnya mengenai kebutuhan alat kontrasepsi. c. Membantu Pemangku Kebijakan dalam menetapkan tujuan (goal) Program spectrum dapat memfasilitasi pemangku kebijakan dalam menetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai. Selain itu pemangku kebijakan juga dapat melihat mengetahui konsekuensi-konsekuensi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Program Spectrum

d. Memfasilitasi program perencanaan dan pengambilan keputusan. Program Spectrum dapat digunakan untuk perencanaan dan pengambilan keputusan. Berdasarkan tujuan/target yang telah ditentukan maka akan ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dilakukan agar tujuan/target tersebut dapat tercapai.

B. DemProj 1. Pengertian DemProj pertama kali dikembangkan pada tahun 1980 dan dirancang dalam bentuk program komputer yang mudah digunakan untuk menghasilkan informasi yang berguna bagi pemangku kebijakan dan dialog kebijakan. DemProj merupakan suatu program untuk menyusun proyeksi penduduk berdasarkan dua aspek, yaitu (1) jumlah penduduk suatu wilayah pada tahun tertentu berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia; (2) komponen demografi dari suatu wilayah yang terdiri dari tingkat kelahiran, kematian dan migrasi. DemProj merupakan program dasar untuk menyusun proyeksi pada modul-modul lainnya dalam program Spectrum. 2. Manfaat DemProj dapat digunakan sebagai : a. Dasar dalam perencanaan; b. Tools untuk mendapatkan gambaran besarnya masalah yang dihadapi di masa yang akan datang pada proses dialog pemangku kebijakan; c. Tools yang dibutuhkan pada proses penyusunan kebijakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.

C. FamPlan 1. Pengertian Banyak model program komputer yang dikembangkan untuk mengetahui kebutuhan program KB dan menentukan jumlah peserta KB, akseptor baru dan kontrasepsi yang dibutuhkan menurut metode dan sumbernya. Salah satunya, pada tahun 1989 Research Triangle Institute mengembangkan FamPlan yang dapat memproyeksikan jumlah peserta KB dan akseptor yang diperlukan untuk memenuhi target fertilitas atau prevalensi. Modul Family Planning atau yang disingkat dengan istilah FamPlan merupakan salah satu modul dari program Spectrum yang merupakan program komputer untuk menghitung komponen dan kebutuhan dari program Keluarga Berencana dalam rangka mencapai tujuan program Keluarga Berencana, khususnya mengenai ketersediaan kontrasepsi. FamPlan didesain untuk selalu digunakan secara terintegrasi dengan aplikasi DemProj (modul utama pada program spectrum). FamPlan umumnya digunakan untuk memproyeksikan implikasi pencapaian jumlah akseptor berbagai metode kontrasepsi dimasa yang akan datang. Famplan juga

Program Spectrum

dapat digunakan untuk menghitung biaya dan keuntungan program KB dan menghitung peningkatan cakupan per kapita dari layanan sosial yang dapat diharapkan sebagai hasil dari menurunnya pertumbuhan penduduk. 2. Manfaat Terdapat beberapa manfaat dari program FamPlan yaitu, : Menganalisis dampak demografi dan fertilitas dari CPR yang ditetapkan; Menganalisis dampak program Keluarga Berencana atas penetapan fertilitas yang diinginkan; Membandingkan beberapa skenario dari perencanaan program KB, fertilitas dan lain-lain; Mengevaluasi perkembangan pencapaian indikator program KB; Menganalisis dampak dari perubahan mix kontrasepsi; Memperkirakan biaya program KB; Menganalisis dampak dari perubahan proximate determinant.

D. RAPID 1. Pengertian RAPID pertama kali dikembangkan pada tahun 1978, digunakan untuk menyusun proyeksi dampak sosial ekonomi (ekonomi, pendidikan, kesehatan, urbanisasi dan pertanian) akibat tingkat kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk. Proyeksi yang dihasilkan RAPID dapat digunakan sebagai dasar pada materi advokasi yang disusun untuk menyampaikan informasi strategis bagi pemangku kebijakan guna terlaksananya dialog rancangan kebijakan mengenai peranan kependudukan dalam pembangunan sosial dan ekonomi. RAPID menggabungkan indikator-indikator sosial-ekonomi (tingkat partisipasi angkatan kerja, tingkat partisipasi murid sekolah dasar serta menengah, dan jumlah tenaga kesehatan) dengan data-data kependudukan dan proyeksi penduduk untuk mendapatkan gambaran dampak dinamika penduduk terhadap sektor-sektor pembangunan sosial ekonomi di masa mendatang. 2. Manfaat Rapid dapat digunakan untuk : Mendapatkan gambaran konsekwensi dalam suatu negara/daerah dengan tingkat kelahiran yang tinggi dan tingkat kelahiran yang ditekan melalui program Kependudukan dan Keluarga Berencana. Meningkatkan pengetahuan penentu kebijakan terhadap pentingnya penurunan tingkat kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Memberikan gambaran bagaimana tingkat laju pertumbuhan penduduk dapat mempengaruhi pembangunan sosial ekonomi.

Program Spectrum

Bab

PROYEKSI

A. Langkah-langkah Penyusunan Proyeksi Dalam menyusunan proyeksi dengan program Spectrum terdapat sembilan langkah, yaitu : 1. Menentukan prioritas masalah-masalah kebijakan kependudukan, pengumpulan data dan mengembangkan presentasi yang diperlukan. 2. Menentukan wilayah geografis yang akan disusun proyeksinya. 3. Menentukan periode proyeksi. Periode proyeksi dimulai pada tahun dasar hingga pada tahun tertentu yang ditetapkan. Tahun dasar umumnya dipilih berdasarkan keberadaan data, seperti tahun sensus terbaru atau survey skala besar. Periode proyeksi disesuaikan dengan kebutuhan proyeksi. Kegiatan perencanaan umumnya terfokus pada proyeksi jangka pendek (5 tahun) sementara proyeksi yang disusun untuk kebutuhan dialog kebijakan umumnya menggunakan jangka waktu yang lebih lama (10-30 tahun). 4. Mengumpulkan data. Data harus dikumpulkan untuk masing-masing asumsi yang mendasari proyeksi. Kualitas hasil proyeksi ditentukan oleh data yang mendasari asumsi-asumsi tersebut. 5. Menetapkan asumsi. Proyeksi mensyaratkan adanya perkiraan-perkiraan yang disusun berdasarkan asumsi yang mendasari keadaan di masa mendatang. Asumsi ini ditetapkan berdasarkan data dan petunjuk pemilihan yang layak. 6. Menggunakan Aplikasi. Pada saat data tahun dasar dan kebijakan/keputusan yang berkaitan dengan asumsi-asumsi proyeksi telah ditetapkan, program Spectrum dapat digunakan untuk mengolah data dan membuat proyeksi-proyeksi yang dibutuhkan. 7. Menguji hasil proyeksi. Setelah proyeksi tersusun, hasil proyeksi tersebut perlu diuji. Pengujian terhadap hasil proyeksi dapat berfungsi sebagai upaya validasi untuk memastikan bahwa data dasar dan asumsi-asumsi telah diproses dengan benar. 8. Membuat proyeksi alternatif. Setelah proyeksi dasar tersusun, program ini dapat segera digunakan untuk menghasilkan proyeksi alternatif sebagai pembanding dari penetapan asumsi lainnya. 9. Diseminasi hasil proyeksi. Setelah disusun, hasil proyeksi sebaiknya didisemenasikan kepada pemangku kebijakan. Secara khusus, presentasi proyeksi tersebut dapat mendorong terlaksananya dialog kebijakan berkaitan dengan untuk

Program Spectrum

permasalahan strategis. Selain itu, hasil proyeksi juga dapat dijadikan informasi melalui booklet kebijakan, dokumen-dokumen konferensi, dan publikasi lainnya. B. Dasar Penentuan Asumsi Dalam menentukan asumsi terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu : Konsultasi dengan para pakar terkait; Mempelajari referensi atau dokumen-dokumen nasional, khusus dalam menetapkan asumsi target pencapaian proyeksi; Mempelajari data proyeksi yang dihasilkan oleh instansi / pihak lain; Mempelajari dokumen atau data proyeksi yang memiliki kemiripan dengan wilayah yang akan dijadikan project proyeksi. C. Data Input dan Output 1. DemProj Data yang dibutuhkan dalam menu Demproj yaitu : a. Jumlah penduduk pada tahun dasar tertentu (berdasarkan kategori usia dan jenis kelamin); Semua proyeksi harus mulai dihitung dengan titik awal tahun dasar. Jumlah penduduk pada tahun dasar adalah jumlah penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin pada tahun dasar tertentu yang dibagi dalam kelompok usia lima tahunan ( 0-4 tahun hingga 75-79 tahun, termasuk kelompok usia lanjut 80 tahun keatas). b. Total Fertility Rate (TFR) Fertilitas (kelahiran) merupakan salah satu komponen yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk dan bersifat menambah jumlah penduduk. Fertilitas adalah kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang dikaitkan dengan kesuburan wanita atau disebut fekunditas. Akan tetapi dalam perkembangan ilmu demografi fertilitas lebih diartikan sebagai hasil reproduksi nyata (lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita. TFR adalah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang perempuan sampai dengan akhir masa reproduksinya. c. Age Specific Fertility Rate (ASFR) Angka kelahiran menurut kelompok umur (ASFR) menunjukkan banyaknya anak yang dilahirkan oleh perempuan pada suatu tahun tertentu per 1.000 perempuan menurut kelompok umur tertentu. d. Sex Ratio at Birth Sex Ratio adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan pada suatu daerah dan pada waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 jumlah penduduk perempuan. Sex ratio at Birth, di beberapa negara umumnya berkisar antara 103-105 bayi laki-laki per 100 bayi perempuan. e. Life Expectancy (Umur Harapan Hidup) Life Expectancy adalah suatu perkiraan rata-rata lamanya hidup sejak lahir yang akan dicapai oleh penduduk

Program Spectrum

f.

Model Life Tabel Berdasarkan Data IMR Model Life Table adalah tabel yang menerangkan riwayat kehidupan suatu penduduk menurut umur berkenaan dengan riwayat kematian. Model Life Table telah tersedia didalam program Spectrum dan dapat digunakan berdasarkan tingkat IMR yang mendekati tingkat IMR dari wilayah geografis yang menjadi project proyeksi

g. Migrasi Internasional Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat yang lain melampaui batas politik/negara ataupun batas administrasi atau batas bagian dalam suatu negara (batas waktu minimal enam bulan). Migrasi Internasional adalah perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Proyeksi yang dihasilkan dari Modul Demproj adalah : 1) Penduduk Total Penduduk Penduduk usia 0-4 tahun Penduduk usia 5-14 tahun Penduduk usia 15-49 tahun Penduduk usia 15-64 tahun Penduduk usia 65+ Total migrasi internasional bersih 2) Fertilitas TFR GRR NRR Rata-rata Usia Subur Rasio anak perempuan 3) Mortalitas Angka Harapan Hidup IMR U5MR 4) Vital Events Angka Kelahiran Angka Kematian CBR CDR LPP 5) Ratios Sex ratio Dependency ratio 6) Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Semua Usia Kelompok Usia tertentu

Program Spectrum

Usia Median Penduduk (umur yang membagi penduduk menjadi dua bagian dengan jumlah yang sama, bagian pertama lebih muda dan bagian yang kedua lebih tua dibandingkan dengan umur median tersebut.

2. FamPlan FamPlan memerlukan (1) data yang menjelaskan pemanfaatan program KB di negara atau wilayah yang akan pelajari dan (2) data tentang manfaat, efektivitas, dan biaya pelayanan dan metode kontrasepsi yang berbeda-beda. Beberapa data (misalnya prevalensi penggunaan kontrasepsi) harus spesifik untuk area yang sedang dipelajari namun beberapa data (misalnya efektivitas kontrasepsi) dapat berdasarkan pada data lokal ataupun data rata-rata internasional jika data lokal tidak ada. a. Pilihan dan Asumsi proyeksi FamPlan berisi sejumlah pilihan-pilihan yang berbeda yang dapat digunakan untuk menyusun suatu model yang diperlukan berdasarkan situasi yang berbeda. 1) Pemilihan Sasaran Dalam FamPlan terdapat empat pilihan sasaran proyeksi, empat pilihan tersebut merupakan cara-cara alternatif untuk membedakan hasil proyeksi berdasarkan suatu sasaran fertilitas atau prevalensi kontrasepsi.Berikut penjelasan pilihan sasaran proyeksi tersebut: Menurunkan Unmet Need Kontrasepsi Pendekatan ini mengikuti rekomendasi Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan tahun 1994. Secara keseluruhan, unmet need (kebutuhan yang belum terpenuhi) menunjukan pasangan yang secara logis harus menggunakan kontrasepsi berdasarkan pada keinginan mereka untuk memiliki anak dan kerentanan terhadap terjadinya kehamilan, namun karena satu dan lain hal tidak menggunakan kontrasepsi. Berikut ini adalah tiga kategori utama wanita yang diklasifikasikan dalam kelompok unmet need terhadap kontrasepsi: (1) wanita yang belum menginginkan kehamilan lagi dalam waktu dekat, namun terpapar terhadap resiko kehamilan dan tidak sedang menggunakan metode kontrasepsi apa pun; (2) wanita yang baru mengalami kelahiran yang tidak diinginkan atau tidak pada waktunya dan tidak menggunakan kontrasepsi dalam mencoba mencegah kehamilan tersebut; dan (3) wanita yang sedang hamil namun tidak menginginkan kehamilan tersebut atau tidak menginginkannya pada saat itu dan tidak menggunakan kontrasepsi untuk mencegahnya. Perkiraan unmet need bisa didapat dari sebagian besar survey fertilitas. Unmet need umumnya diklasifikasikan sebagai unmet need penjarangan kelahiran (spacing) dan pembatasan kelahiran (limiting). Unmet need untuk penjarangan kelahiran mengacu kepada wanita yang menyatakan masih ingin punya anak lagi namun tidak dalam dua tahun kedepan dan tidak memakai alat kontrasepsi. Unmet need untuk pembatasan mengacu pada wanita yang menyatakan tidak ingin punya anak lagi namun tidak menggunakan alat kontrasepsi.

10

Program Spectrum

Mencapai fertilitas yang diinginkan Alternatif kedua adalah menetapkan TFR sekarang dan TFR yang diinginkan dalam waktu tertentu serta waktu yang dibutuhkan untuk mencapai TFR yang diinginkan. Dalam FamPlan, para pengguna harus memperkirakan presentase pengurangan antara TFR saat ini dan TFR yang diinginkan dalam beberapa tahun kedepan. FamPlan akan menghitung prevalensi yang harus dicapai untuk mencapai target TFR. Mencapai sasaran Prevalensi Kontrasepsi Alternatif ketiga adalah menetapkan CPR sekarang dan CPR yang ingin dicapai dalam waktu tertentu. Pada pendekatan ini, pengguna harus mempunyai angka prevelensi, unmet need dan proporsi perempuan yang akan menggunakan alat kontrasepsi dalam waktu dekat. Mencapai sasaran Angka Fertilitas Total (TFR) Alternatif keempat adalah menetapkan target TFR dimasa yang akan datang untuk tingkat daerah atau nasional. 2) Metode-metode Kontrasepsi Program KB sangat erat kaitannya dengan pilihan metode kontrasepsi yang tersedia. Seluruh metode kontrasepsi yang ada atau yang akan ada dalam program selama periode proyeksi harus disertakan dalam analisa FamPlan. Pilihan metode kontrasepsi yang dapat dimasukkan dalam proyeksi FamPlan adalah: 1) Kondom 2) Sterilisasi wanita 3) Suntik 4) IUD 5) Sterilisasi pria 6) Susuk KB /implant 7) Pil 8) Tradisional 9) Penghambat vaginal/tampon 10) Tablet vaginal 11) Coitus Interuptus 12) LAM 13) Lain-lain 3) Sumber Alat Kontrasepsi Dalam FamPlan, sumber alat kontrasepsi dapat ditentukan. Pilihan sumber alat kontrasepsi dapat ditentukan secara sederhana dan umum, seperti pemerintah, swasta, NGO atau sumber-sumber spesifik seperti Klinik Departemen Kesehatan, kegiatan sosial, dll. Seluruh sumber-sumber strategis pelayanan KB dan alat kontrasepsi harus dimasukkan.

11

Program Spectrum

4) Pembagian Kelompok Usia Ada dua pilihan kelompok usia dalam FamPlan: usia 15-49 dikelompokkan kedalam satu kelompok usia tunggal, atau tujuh kelompok usia lima tahunan (15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-49). Estimasi yang lebih tepat dapat dihasilkan dari usia kelompok lima tahunan. Pada umumnya, pilihan pembagian kelompok usia lima tahunan dipilih untuk aplikasi skala penuh yang dibuat untuk tujuan perencanaan, dan pilihan pembagian kelompok usia tunggal dapat digunakan apabila proyeksi bertujuan untuk melihat trend/kecenderungan atau untuk melakukan pengujian awal sasaran potensial yang akan datang. 5) Estimasi Aborsi yang Disengaja Penentuan aborsi yang disengaja selalu menjadi masalah dalam proyeksi FamPlan. Aborsi merupakan suatu faktor penentu fertilitas yang penting di banyak negara. Namun, informasi mengenai jumlah aborsi pada umumnya tidak tersedia. Dalam prakteknya, jumlah aborsi tidak terlalu berdampak pada hasil proyeksi jika tingkat aborsi tidak berubah secara signifikan selama periode proyeksi. b. Tingkat Fertilitas Suatu proyeksi KB memerlukan asumsi Angka Fertilitas Total (TFR) jika sasarannya adalah untuk mencapai TFR tertentu atau untuk mengurangi perbedaan antara TFR yang diinginkan dengan TFR yang sebenarnya. (Untuk sasaran-sasaran lain, TFR dihitung sebagai suatu output dari proyeksi tersebut).

Perkiraan Angka Fertilitas Total pada Tahun Dasar Perkiraan TFR dapat diambil dari beberapa sumber. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah survey fertilitas nasional, yang umumnya dilaksanakan oleh sebagian besar negara. Sebagian besar survey telah dilakukan dalam serangkaian proyek internasional, termasuk Survey Demografi dan Kesehatan (Demographic Health Survey), Survey Fertiltas oleh Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (Center for Diseases Control and Prevention), Survey Prevalensi Kontraseptif (Contraceptive Prevalance Survey) dan Survey Fertilitas Dunia (World Fertility Survey). Informasi yang dihasilkan survey tersebut dan survey nasional lainnya dikumpulkan dan dilaporkan dalam berbagai sumber, termasuk laporan-laporan ikhtisar dari DHS, Lembaran Data Kependudukan Dunia dari Biro Referensi Kependudukan, dan Indikator Perkembangan Dunia dari Bank Dunia. Sumber-sumber informasi internet mencakup Biro Sensus Amerika Serikat (http://www.cencus.gov/ipc/www/), dan Macro International (http://www.macroint.com/dhs/). Asumsi ke depan untuk Angka Fertilitas Total Ada beberapa cara untuk menentukan asumsi TFR :

12

Program Spectrum

1) Proyeksi Nasional. Sejumlah negara memiliki proyeksi kependudukan resmi dan mencakup asumsi-asumsi arah TFR ke depan dengan beberapa alternatif. Jika proyeksi kependudukan disusun untuk tujuan perencanaan, pada umumnya dianjurkan untuk memakai asumsi dan proyeksi yang resmi. 2) Sasaran Nasional. Sejumlah negara memiliki sasaran kependudukan secara nasional yang mencakup TFR. Sasaran-sasaran ini umumnya digunakan sebagai titik awal proyeksi. Disamping TFR, sasaran kadang dinyatakan dengan angka kelahiran kasar, pertumbuhan penduduk atau angka prevalensi kontrasepsi (CPR). Pada kasus ini, asumsi TFR yang berbeda dapat digunakan untuk mendapatkan proyeksi TFR yang konsisten dengan indikator-indikator dalam sasaran nasional. 3) Proyeksi PBB. Proyeksi kependudukan yang disediakan oleh Divisi Kependudukan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dan disajikan dalam World Population Prospects mencakup tiga asumsi (rendah, menengah, tinggi) tentang angka fertilitas yang akan datang untuk tiap negara. Kekurangan dalam mempergunakan proyeksi ini adalah definisi dari rendah, menengah, dan tinggi belum jelas. 4) Trend Terkini dan Trend Internasional. Jika informasi mengenai TFR pada beberapa tahun terakhir tersedia, maka data tersebut dapat digunakan untuk menganalisa trend TFR dan mengembangkan asumsi ke depan berdasarkan tren TFR yang lalu dan berkelanjutan. Selain itu, pengalaman sejumlah negara dengan penurunan fertilitas dapat juga dianalisa. 5) Perkembangan Sosial Ekonomi dan Kinerja Program Kependudukan. Kajian yang dilakukan menunjukkan bahwa kecepatan penurunan fertilitas berhubungan dengan tingkat perkembangan sosial ekonomi suatu negara dan tingkat kinerja program KB (Bongaarts, Mauldin, dan Phillips 1990). 6) Status Sosial Ekonomi. Metode alternatif untuk memperkirakan terjadinya penurunan angka fertilitas adalah dengan mengevaluasi TFR menurut status sosial ekonomi. Survei fertilitas nasional pada umumnya melaporkan TFR berdasarkan perkotaan/pedesaan dan pendidikan. Biasanya TFR di daerah perkotaan lebih rendah dibanding daerah pedesaan, dan lebih rendah pada wanita dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dari sekolah dasar. Apabila proporsi wanita yang tinggal perkotaan dan berpendidikan di atas pendidikan dasar pada tahun sasaran dapat diperkirakan, maka pengguna dapat menyusun estimasi TFR dengan asumsi status sosial ekonomi tetap konstan. Sebagai contoh, diasumsikan TFR = 4 untuk wanita di perkotaan dan TFR = 6 untuk wanita pedesaan, dan 30% penduduk tinggal di perkotaan. Maka TFR akan menjadi 5.4. Apabila diharapkan pada tahun sasaran perhitungan, 50% dari populasi akan tinggal di perkotaan dan penduduk perkotaan yang baru akan mengikuti sikap penduduk yang ada sekarang, maka TFR akan turun menjadi 5.0 (0.5 x 4 + 0.5 x 6). Pendekatan ini mengindikasikan bahwa penurunan TFR tersebut semata-mata karena faktor pembangunan, tanpa peningkatan yang signifikan dari program KB.

13

Program Spectrum

c. Prevalensi Kontrasepsi Proyeksi tentang KB memerlukan asumsi tentang prevalensi kontrasepsi apabila tujuannya adalah untuk mencapai suatu tingkat prevalensi tertentu atau untuk memenuhi target Unmet need. (Untuk sasaran lainnya, prevalensi kontrasepsi dihitung sebagai suatu output/hasil proyeksi). Prevalensi kontrasepsi adalah persentase perempuan usia reproduksi yang menikah dan menggunakan kontrasepsi. Perkiraan prevalensi biasanya berasal dari hasil survei nasional, misalnya Survey Demografi dan Kesehatan. Meskipun tren prevalensi antara satu negara dengan lainnya bervariasi, umumnya program yang berhasil kenaikan prevalensinya lebih kurang dua persen per tahun (misalnya, dari 40 persen yang menggunakan suatu metode menjadi 42 persen). Kenaikkan di atas level tersebut biasanya tidak berlangsung lama. Terdapat hubungan linear antara prevalensi kontrasepsi dan angka fertilitas total. Setiap kenaikan 10 persen dari prevalensi kontrasepsi berhubungan dengan penurunan angka fertilitas total sebanyak 0.7 kelahiran. Variasi pada sekitar garis regresi dikarenakan perbedaan pola pemakaian kontrasepsi dan perbedaan proximate determinant yang lainnya. d. Method Protection Attributes Method Protection Attributes menunjukkan karakteristik dari pemakaian metode kontrasepsi yang diperlukan untuk menghitung jumlah pemakai metode kontrasepsi, akseptor dan kebutuhan kontrasepsi yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Untuk metoda jangka pendek (kondom, suntik, pil dan tablet vagina) yang perlu diperhatikan adalah perlindungan tahunan pada PUS, atau Couple Years Protection/CYP (dijelaskan di bawah). Hubungan antara metode yang digunakan dengan target yang ditetapkan adalah dalam hal melindungi wanita dari kehamilan yang tidak diinginkan. Untuk metoda jangka panjang (IUD dan Implant) yang perlu diperhatikan adalah rata-rata lama penggunaan metode tersebut. Untuk metoda permanen (sterilisasi perempuan dan laki-laki) lamanya penggunaan dilihat dari usia rata-rata pada saat sterilisasi. 1) Unit Kontrasepsi per CYP FamPlan menghitung pemakaian kontrasepsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran KB. Untuk metode sementara (kondom, suntik, pil), kontrasepsi yang diperlukan dihitung dari jumlah unit yang dibutuhkan untuk melindungi pasangan usia subur selama satu tahun. CYP merupakan perlindungan yang dibutuhkan oleh pasangan dengan menggunakan metoda kontrasepsi tertentu selama satu tahun penuh. Secara teori, satu CYP memerlukan 13 strip pil atau 4 suntikan DepoProvera, semua ini merupakan jumlah yang dibutuhkan untuk melindungi satu orang wanita dalam satu tahun. Jumlah kebutuhan per CYP yang sebenarnya dapat lebih banyak dari jumlah secara teoritis karena faktor yang tidak diinginkan (wastage). Pada metode suntikan faktor ini lebih kecil karena sangat tergantung pada petugas klinik dan sistem distribusinya. Sedangkan pada metode pil faktor tersebut lebih tinggi. Untuk metoda kondom dan tablet vagina, kebutuhan per CYP sangat tergantung pada frekuensi senggama.

14

Program Spectrum

Pada tahun 1997 USAID memperbaiki tentang faktor CYP berdasarkan hasil studi evaluasi proyek (Stover et.al., 1997). Rekomendasi yang diberikan adalah sebagai berikut : Tabel 1. Nilai Standar Kebutuhan Kontrasepsi per CYP Metode Unit Pill 15 siklus Kondom 120 kondom Tablet Vaginal 120 tablet Suntikan Depo Provera 4 dosis Suntikan Noristerat 6 dosis
(Sumber : Stover, et.al., 1997)

2) Rata-rata Lama Penggunaan Kontrasepsi Informasi mengenai rata-rata lama penggunaan metode IUD diperoleh dari pengkajian beberapa hasil Survei Demografi Kesehatan, dari uji klinis secara acak (random) dan dari analisis lanjut. Stover et al. (1997) menyimpulkan bahwa rata-rata lamanya penggunaan IUD adalah 3.5 tahun. Meskipun data yang ada hanya berasal dari beberapa negara saja, namun hasil ini dapat direkomendasikan untuk negara lainnya. 3) Usia Rata-rata Pemakai Kontrasepsi Khusus untuk metode sterilisasi laki-laki dan perempuan yang dibutuhkan adalah informasi usia pada saat mendapatkan pelayanan sterilisasi. Informasi usia rata-rata pemakaian kontrasepsi hanya untuk metode sterilisasi wanita dan pria karena kedua metode tersebut sifatnya permanen meskipun efek proteksi tersebut tidak berguna lagi setelah wanita memasuki usia monopause. Usia rata-rata pada saat sterilisasi biasanya didapat dari statistik pelayanan atau survei nasional. e. Efektivitas Metode Kontrasepsi Efektivitas metode kontrasepsi adalah proporsi dari pemakai kontrasepsi yang tidak menjadi hamil selama satu tahun pemakaian. Evaluation Project melakukan evaluasi terhadap sejumlah penelitian mengenai efektivitas pengunaan metode kontrasepsi (Stover et al., 1997). Penelitian tersebut menemukan bahwa angka kegagalan berkisar antara 4-20 persen untuk pil, 1-8 persen untuk IUD dan 11-40 persen untuk metode barier. Angka kegagalan Norplant dan suntik mendekati nol. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, direkomendasikan angka efektivitas penggunaan alat kontrasepsi sebagai berikut :

15

Program Spectrum

Tabel 2. Efektivitas Penggunaan Metode Kontrasepsi Metode Kontrasepsi Efektivitas Pil 92 % IUD 96 & Metode Barier 81 % Senggama Terputus 50 % Norplant 100 % Suntikan 100 % Sterilisasi 100 %
Sumber : Stover, et.al., 1997, Stover, et.al., 2000

f.

Method Mix Method Mix adalah persentase dari seluruh peserta KB yang menggunakan metode kontrasepsi tertentu. Gambaran ini harus berjumlah 100 persen. Sumber method mix yang terbaik untuk digunakan berasal dari survei nasional, seperti Survei Demografi dan Kesehatan, World Fertility Survey atau CPS Untuk memperkirakan pola mix kontrasepsi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan : 1) Data Survei - Data survey dapat memberikan informasi yang berguna untuk menentukan pola method mix di masa mendatang. Mereka yang ingin menggunakan KB di masa mendatang ditanya mengenai metode yang ingin digunakan di masa mendatang. Metode yang diinginkan dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan KB di masa mendatang. 2) Mengukur tingkat pengetahuan dari pemakai kontrasepsi saat ini tentang jenis kontrasepsi. Pemakai dengan tingkat pengetahuan yang tinggi mengetahui sedikitnya empat metode kontrasepsi modern dan sumber mendapatkan kontrasepsi tersebut 3) Mengetahui mix kontrasepsi saat ini yang digunakan oleh wanita yang tinggal diperkotaan dan berpendidikan tinggi karena diasumsikan wanita tersebut memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan mempunyai akses pelayanan alat kontrasepsi Apabila Angka Fertilitas Total/TFR berubah cukup besar selama periode proyeksi, kemungkinan method mix juga akan berubah. Sebagai tambahan, perlu disusun beberapa target khusus dalam program KB berkaitan dengan method mix. Terlepas dari masalah yang dihadapi, pola perubahan method mix di masa mendatang harus dipertimbangkan dengan baik, karena mix metode kontrasepsi tertentu memiliki efek yang berbeda terhadap beberapa faktor, seperti efektivitas rata-rata, prevalensi, biaya dan hambatan logistik.

g. Source Mix FamPlan juga dapat menghitung kebutuhan berdasarkan sumber kontrasepsi apabila informasi mengenai sumber tersebut tersedia. Source mix adalah persentase pemakai alat kontrasepsi menurut sumber pelayanan kontrasepsi. Sumber pelayan kontrasepsi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti peraturan, keterlibatan pemerintah dalam pelayanan Keluarga Berencana dan

16

Program Spectrum

tingginya peran serta sektor swasta. Informasi mengenai source mix dapat diperoleh dari survey nasional. h. Biaya Pelayanan Kontrasepsi Biaya pelayanan Keluarga Berencana ditentukan oleh jasa pelayanan KB dan sumber pelayanan kontrasepsi. Biaya pelayanan kontrasepsi dibedakan menjadi dua, yaitu berdasarkan metode dan sumber pelayanan. Untuk metode jangka pendek (kondom, suntik, pil dan tablet vaginal) biayanya ditetapkan sebagai biaya per-pengguna kontrasepsi. Untuk metode jangka panjang (sterilisasi, IUD, Norplant) biayanya ditetapkan sebagai biaya per-akseptor. Biaya umumnya merujuk pada biaya pelayanan yang diperoleh dari sumber pelayanan pemerintah. Input data kedua yang berkaitan dengan total biaya pelayanan adalah biaya yang harus dibayar oleh setiap klien. Informasi ini digunakan untuk mengukur total biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah. Berbagai perkiraan mengenai biaya pelayanan Keluarga Berencana telah dibuat. Bank Dunia menyusun serangkaian perkiraan mengenai pengeluaran perpemakai KB pada tahun 1980 (Bulatao, 1985). Data set lain yang dapat digunakan, disiapkan dari pengeluaran pemerintah untuk Keluarga Berencana, yang diterbitkan pada Family Planning and Child Survival (Ross, 1988). Population Action International baru-baru ini mempersiapkan perkiraan mengenai pengeluaran Keluarga Berencana yang bersumber dari 79 negara (Conly, Chaya, dan Helsing, 1995). Karena masing-masing dari pembahasan ini menggunakan pendekatan dan data yang berbeda, hasilnya tidak dapat dibandingkan. Namun demikian, data tersebut memberikan gambaran mengenai pola pengeluaran untuk pelayanan Keluarga Berencana. Biaya juga bervariasi menurut metode kontrasepsi. Beberapa studi telah dilakukan untuk mengetahui biaya menurut metode dan biaya per tindakan maupun biaya per kunjungan. i. Faktor Penentu Fertilitas (Proximate Determinants of Fertility) Faktor yang mempengaruhi tingkat-fertilitas secara langsung disebut variabelantara fertilitas, menjadi perantara di antara tekanan sosial, seperti urbanisasi,pendidikan, dan kemampuan melahirkan. Sedangkan faktor penentu fertilitas adalah variabel yang secara langsung mempengaruhi fertilitas. Dengan meningkatnya kemampuan untuk mengukur beberapa variable ini, variabel-yang sangat penting dalam mempengaruhi fertilitas adalah: proporsi dari wanita menikah, lamanya periode ketidak-mampuan untuk hamil setelah melahirkan, dan kualitas alat kontrasepsi yang digunakan, kemampuan dasar untuk hamil, tingkat aborsi dan prevalensi sterilitas patologis. 1) Persentase wanita kawin Untuk menentukan jumlah wanita usia reproduksi yang berstatus menikah, FamPlan mebutuhkan perkiraan persentase wanita usia 15-49 berstatus kawin. Sumber yang dapat digunakan berasal dari hasil sensus atau survei nasional.

17

Program Spectrum

Pada beberapa negara, persentase wanita kawin umumnya menurun sejalan dengan berkembangnya suatu negara, meningkatnya pendidikan dan meningkatnya persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan, terutama karena meningkatnya umur kawin pertama. Pengguna Famplan harus mempertimbangkan pola tersebut ketika akan menentukan estimasi persentase wanita kawin pada usia reproduksi di masa mendatang. 2) Jangka Waktu Postpartum Insusceptibility Postpartum Insusceptibility adalah periode setelah melahirkan dimana wanita tidak terpapar untuk hamil karena amenorrhea paska kelahiran atau karena pantangan paska kelahiran. FamPlan memerlukan sebuah asumsi jangka waktu rata-rata lamanya Postpartum Insusceptibility dalam bulan. Data tersebut dapat diperoleh dari hasil survey nasional. 3) Angka Total Aborsi Angka Total Aborsi adalah rata-rata jumlah aborsi yang dapat dialami wanita apabila dia bertahan hidup hingga usia 49 tahun dan mengalami aborsi pada usia tertentu. Konsep ini sama seperti angka fertilitas total. Apabila aborsi merupakan tindakan illegal di suatu negara, maka akan sulit mendapatkan data mengenai aborsi. Informasi yang memungkinkan untuk negara berkembang berasal dari statistik namun tidak lengkap, survey, atau dari perkiraan tidak langsung data rumah sakit. Apabila tidak ada informasi, angka aborsi total dapat ditetapkan nol. Di sisi lain, apabila sejumlah aborsi terjadi, disarankan untuk membuat estimasi angka agar dapat menggunakan model untuk mengukur dampak penurunan angka aborsi. 4) Sterilitas Variabel sterilitas mengukur sterilitas alami dan sterilitas patologis. Karena sterilitas alami tidak mungkin berubah banyak, efek utama akan berasal dari sterilitas patologis. Sterilitas diukur oleh persentase wanita yang tidak memiliki anak hingga akhir masa reproduksi. Data mengenai sterilitas dapat diperoleh melalui hasil survey nasional dan sensus yang menyediakan data mengenai persentase wanita yang tidak memiliki anak pada usia 45-49. Hasil penyusunan proyeksi dari FamPlan adalah :

Aborsi. Jumlah aborsi yang terjadi sepanjang tahun Akseptor. Jumlah peserta baru metode kontrasepsi tertentu pada tahun tertentu. Seorang wanita dikategorikan sebagai akseptor apabila dia mulai menggunakan sebuah metode sepanjang tahun dan tidak menggunakan metode itu pada awal tahun. Sebelumnya, wanita tersebut mungkin tidak menggunakan kontrasepsi apapun atau mungkin menggunakan metode yang berbeda. Jumlah akseptor dihitung hanya untuk metode jangka panjang yang dalam pemasangannya memerlukan pelayanan khusus: IUD, sterilisasi, dan implant. Untuk metode jangka pendek (pil, kondom, suntik, vaginal, tradisional), akseptor baru sulit untuk diidentifikasi dan terdapat sedikit perbedaan di dalam pelayanan yang dibutuhkan dibandingkan dengan peserta aktif.

18

Program Spectrum

Kelahiran. Angka kelahiran hidup yang berlangsung selama satu tahun. Kebutuhan Kontrasepsi. Jumlah kontrasepsi yang dibutuhkan dalam berbagai metode untuk memberikan pelayanan Keluarga Berencana. Kebutuhan kontrasepsi diterjemahkankan dalam bentuk jumlah kondom, alat-alat sterilisasi, obat suntik, IUD, implant, pil, dan tablet vaginal. Kebutuhan kontrasepsi dapat ditampilkan untuk berbagai metode kontrasepsi dan untuk seluruh atau kombinasi sumber pelayanan kontrasepsi. Cost per user. Biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk memberikan pelayanan Keluarga Berencana per-peserta KB. Efektivitas. Rata-rata efektivitas dari metode kontrasepsi yang dipilih, dengan mempertimbangkan jumlah peserta KB. Efektivitas ini merupakan proporsi dari wanita yang menggunakan metode kontrasepsi sehingga tidak mengalami kehamilan pada tahun tersebut. Fekunditas. Total Fekunditas adalah potensi fisik seorang wanita untuk melahirkan anak selama usia subur. Di dalam FamPlan, fekunditas dihitung hanya untuk tahun dasar. Fekunditas tetap konstan pada tahun lainnya. Gross Cost. Jumlah total biaya kotor yang dikeluarkan pemerintah untuk memberikan pelayanan Keluarga Berencana. Biaya kotor bisa ditampilkan untuk seluruh metode dan sumber pelayanannya atau kombinasi keduanya. Growth Rate. Kenaikan jumlah dalam total pemakai kontrasepsi dari tahun ke tahun. Kenaikan ini merupakan angka bersih yang terdiri dari peserta baru dan peserta aktiftidak termasuk peserta sebelumnya yang berhenti atau telah melebihi batas usia subur. Married Women on Reproductive Age (MWRA). Jumlah wanita menikah dalam usia reproduksi Net Cost. Biaya bersih yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pelayanan Keluarga Berencana. Biaya bersih bisa ditampilkan untuk seluruh metode dan sumber atau untuk kombinasi-kombinasi metode dan sumber apapun. Kehamilan. Jumlah kehamilan yang terjadiselama satu tahun. Kehamilan bisa diinginkan, tidak diinginkan atau tidak tepat waktu. Kehamilan yang tidak diinginkan adalah kehamilan yang terjadi sehubungan dengan kegagalan metode atau kehamilan yang terjadi pada wanita kelompok unmet need untuk pembatasan. Kehamilan yang tidak tepat waktu adalah kehamilan yang terjadi pada wanita kelompok unmet need untuk penjarangan kehamilan. Kehamilan yang diinginkan dihitung sebagai total kehamilan dikurangi kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak tepat waktu. Pemilihan sasaran untuk proyeksi Keluarga Berencana dapat memiliki dampak terhadap indikator ini. Informasi mengenai unmet need untuk penjarangan dan pembatasan hanya ada untuk sasaran pertama (menurunkan unmet need).

19

Program Spectrum

Prevalensi. Persentase wanita menikah dalam usia reproduksi yang menggunakan beberapa metode kontrasepsi. Umumnya dapat ditampilkan untuk seluruh metode kontrasepsi, sumber pelayanan dan kebutuhan (pengaturan jarak atau pembatasan) atau untuk kombinasi ketiganya. Revenue. Jumlah total pendapatan yang diperoleh dari pelayanan Keluarga Berencana. Pendapatan bisa ditampilkan untuk seluruh metode kontrasepsi dan sumber pelayanan atau untuk kombinasi keduanya. Ringkasan input. input. Tampilan atau hasil cetak rangkuman dari seluruh asumsi

Ringkasan output. Tampilan atau hasil cetak rangkuman dari seluruh indikator output. Angka Fertilitas Total. Jumlah rata-rata anak-anak yang akan dilahirkan oleh cohort wanita yang hidup hingga usia 50 tahun dan melahirkan sesuai dengan angka kelahiran khusus-usia yang berlaku. Peserta KB. Jumlah peserta yang menggunakan metode kontrasepsi. Peserta KB dapat ditampilkan per metode kontrasepsi dan sumber pelayanan atau untuk kombinasi keduanya. Women on Reproductive Age (WRA). Jumlah wanita usia reproduksi, 15 49 tahun

3. RAPID RAPID mengkombinasikan indikator-indikator pada bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, urbanisasi dan pertanian, dengan data-data kependudukan dan proyeksi penduduk untuk mendapatkan gambaran dampak dinamika penduduk terhadap sektor-sektor pembangunan sosial ekonomi di masa mendatang. Dibawah ini adalah dasar penentuan asumsi serta data yang perlu di input dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, urbanisasi dan pertanian. a. Bidang Ekonomi Asumsi proyeksi bidang ekonomi pada RAPID berdasarkan tiga konsep dasar, yaitu rasio ketergantungan penduduk (dependency ratio); jumlah pencari kerja baru (number of new jobs required), dan output per capita dalam bentuk produk domestic bruto (gross domestic products). Rasio Ketergantungan Penduduk (dependency ratio) : Umumnya rasio ketergantungan penduduk menurun ketika laju pertumbuhan penduduk menurun. Pada kondisi tersebut, sumber daya yang tersedia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia akan lebih besar. Disamping itu ketika di suatu wilayah tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup dan pengangguran menjadi hambatan, laju pertumbuhan penduduk yang rendah dapat memberikan kesempatan yang lebih besar bagi penduduk usia produktif untuk mendapatkan pekerjaan.

20

Program Spectrum

Angka rasio ketergantungan penduduk didapatkan dengan cara membandingkan jumlah penduduk produktif usia 15-64 tahun pada angkatan kerja dengan jumlah penduduk non produktif usia 0-15 tahun yang tidak termasuk angkatan kerja. Jumlah penduduk dalam angkatan kerja dihitung sebagai jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun dikalikan dengan persentase jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun yang ada dalam angkatan kerja. Jumlah Pencari Kerja Baru (number of new jobs required) : Umumnya rasio ketergantungan penduduk menurun ketika laju pertumbuhan penduduk menurun. Jumlah pekerjaan baru yang dibutuhkan dihitung sebagai persentase pertumbuhan bersih (net growth) angkatan kerja. Produk Domestik Bruto/GDP per-kapita : Hubungan antara pertumbuhan penduduk dan kemajuan ekonomi terlalu kompleks untuk diproyeksikan dengan sebuah aplikasi sederhana. Oleh karena itu, RAPID hanya memproyeksikan Produk Domestik Bruto/GDP per-kapita dengan asumsi bahwa angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto/GDP dipengaruhi oleh laju pertumbuhan penduduk. Angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto/GDP tahunan diasumsikan berdasarkan pada angka pertumbuhan yang ditetapkan pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang atau pada pengalaman historis. Dalam hal ini, laju pertumbuhan penduduk yang lebih lambat akan menghasilkan tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto/GDP per-kapita yang lebih tinggi. Pada bidang Ekonomi, RAPID dapat menyusun proyeksi tentang : 1) Jumlah Tenaga Kerja Jumlah tenaga kerja dimasa mendatang diproyeksikan dengan mengasumsikan bahwa persentase penduduk berusia antara 10 sampai dengan 64 tahun akan berada di dalam angkatan kerja. Oleh karena itu, jumlah tenaga kerja di masa mendatang dihitung dengan mengkalikan angka tingkat partisipasi angkatan kerja dengan banyaknya jumlah penduduk berusia 10-64 tahun. 2) Angka Ketergantungan Anak Angka ketergantungan anak di masa mendatang diproyeksikan dengan menambahkan jumlah seluruh anak-anak dibawah usia 10 tahun dengan jumlah anak-anak berusia 10-14 tahun yang tidak berada di dalam angkatan kerja. 3) Jumlah Pekerjaan Baru yang Dibutuhkan Jumlah pekerjaan baru yang dibutuhkan dimasa mendatang diasumsikan sama dengan perbedaan jumlah angkatan kerja dari satu tahun ke tahun berikutnya. Dihitung dengan mengurangkan banyaknya tenaga kerja pada tahun sebelumnya dengan jumlah tenaga kerja tahun ini. 4) Produk Domestik Bruto (PDB) Peningkatan PDB di masa mendatang diasumsikan meningkat secara eksogenus berdasarkan angka pertumbuhan PDB 5) Angka Pertumbuhan PDB per kapita (PDB per kapita) Dihitung dengan membagi Produk Domestik Bruto/GDP yang diproyeksikan dengan jumlah penduduk. Indikator ini tepat untuk memperlihatkan dampak meningkatnya laju pertumbuhan penduduk terhadap kinerja ekonomi.

21

Program Spectrum

Data yang harus diinput kedalam RAPID untuk mendapatkan proyeksi tersebut antara lain : 1) Tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk usia 15-64 tahun Angka ini dapat langsung diambil dari sumber-sumber yang ada. Umumnya tingkat partisipasi angkatan kerja akan menurun dengan meningkatnya angka partisipasi murid pada sekolah menengah dan pendidikan lebih tinggi lainnya 2) Tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk usia 10-14 tahun Angka ini dapat langsung diambil dari sumber-sumber yang ada. Apabila tidak ada data tingkat partisipasi angkatan kerja untuk kelompok umur 10-14 tahun, maka tingkat partisipasi angkatan kerja dapat diasumsikan 0 karena penduduk pada usia tersebut bukan merupakan bagian penduduk angkatan kerja. 3) Proyeksi jumlah penduduk usia 10-64 tahun Data proyeksi jumlah penduduk usia 10-64 tahun didapatkan dari proyeksi yang dihasilkan oleh DemProj 4) Produk Domestik Bruto (PDB) dan angka pertumbuhan PDB per tahun (PDB per kapita). Angka ini dapat langsung diambil dari sumber-sumber yang ada. Sumber-sumber data potensial: Rencana Pembangunan Nasional, buku tahunan statistik (Statistik Indonesia, Statistik per provinsi dsb.), Laporan Tahunan UNESCO (Organisasi Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya PBB), Situs Statistik Indonesia, dsb. b. Bidang Pendidikan Proyeksi bidang pendidikan pada RAPID dirancang berdasarkan asumsi bahwa untuk mencapai sasaran pembangunan nasional diperlukan peningkatan sumber daya pendidikan yang lebih besar ketika angka laju pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Sasaran-sasaran tersebut akan lebih mudah dicapai jika angka laju pertumbuhan penduduk dapat ditekan menjadi lebih rendah. Untuk itu pada bidang Pendidikan, RAPID akan menyusun proyeksi untuk : 1) Rata-rata Usia Masuk Sekolah Dasar dan Menengah Anak-anak umumnya memasuki siklus sekolah dasar pada usia 6 atau 7 tahun di sebagian besar negara. Sehingga apabila data tidak tersedia dapat diasumsikan usia rata-rata murid masuk sekolah dasar adalah 6 atau 7 tahun. 2) Jumlah Murid Sekolah Dasar Jumlah murid sekolah dasar di masa mendatang diproyeksikan dengan mengkalikan jumlah anak usia sekolah dasar dengan angka partisipasi murid sekolah dasar 3) Jumlah Guru Sekolah Dasar yang Diperlukan Jumlah guru sekolah dasar yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah anak usia sekolah dasar dengan rasio murid sekolah dasar terhadap jumlah guru sekolah dasar

22

Program Spectrum

4) Jumlah Sekolah Dasar yang Diperlukan Jumlah sekolah dasar yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah anak usia sekolah dasar dengan rasio murid sekolah dasar terhadap jumlah sekolah dasar 5) Rata-rata Biaya Sekolah Dasar yang Diperlukan Rata-rata biaya sekolah dasar yang diperlukan dimasa mendatang diproyeksikan dengan mengkalikan jumlah anak usia sekolah dasar dengan biaya rutin rata-rata per murid sekolah dasar 6) Jumlah Murid Sekolah Menengah Pertama Jumlah murid sekolah menengah pertama di masa mendatang diproyeksikan dengan mengkalikan jumlah anak usia sekolah menengah pertama dengan angka partisipasi murid sekolah menengah pertama 7) Jumlah Guru Sekolah Menengah Pertama yang Diperlukan Jumlah guru sekolah menengah pertama yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah anak usia sekolah menengah pertama dengan rasio murid sekolah menengah pertama terhadap jumlah guru sekolah menengah pertama 8) Jumlah Sekolah Menengah Pertama yang Diperlukan Jumlah sekolah menengah pertama yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah anak usia sekolah menengah pertama dengan rasio murid sekolah menengah pertama terhadap jumlah sekolah menengah pertama 9) Rata-rata Biaya Sekolah Menengah Pertama yang Diperlukan Rata-rata biaya sekolah menengah pertama yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan mengkalikan jumlah anak usia sekolah menengah pertama dengan biaya rutin rata-rata per murid sekolah menengah pertama. Data yang akan diinput ke dalam RAPID untuk menyusun proyeksi tersebut antara lain : Usia rata-rata murid masuk sekolah dasar Usia rata-rata murid masuk sekolah menengah pertama Proyeksi jumlah penduduk usia sekolah dasar Proyeksi jumlah penduduk usia sekolah menengah pertama Angka partisipasi murid sekolah dasar Angka partisipasi murid sekolah menengah pertama Rasio murid sekolah dasar terhadap jumlah sekolah dasar Rasio murid sekolah dasar terhadap jumlah guru sekolah dasar Rasio murid sekolah menengah terhadap jumlah sekolah menengah pertama Rasio murid sekolah menengah terhadap jumlah guru sekolah menengah pertama Pengeluaran rutin rata-rata per murid sekolah dasar Pengeluaran rutin rata-rata per murid sekolah menengah pertama

23

Program Spectrum

Catatan : Angka tersebut diatas (kecuali data proyeksi jumlah anak pada usia sekolah dasar dan menengahpertama) dapat langsung diambil dari sumber-sumber yang ada Data proyeksi jumlah anak pada usia sekolah dasar dan menengah pertama didapatkan dari proyeksi yang dihasilkan oleh DemProj Angka partisipasi murid sekolah dasar adalah angka partisipasi kasar, yaitu: jumlah murid sekolah dasar dibagi dengan jumlah penduduk yang dianggap berada pada usia sekolah dasar Angka partisipasi murid sekolah menengah pertama adalah angka partisipasi kasar, yaitu: jumlah murid sekolah menengah pertama dibagi dengan jumlah penduduk yang dianggap berada pada usia sekolah menengah Sumber-sumber data potensial: Rencana Pembangunan Nasional, buku tahunan statistik (Statistik Indonesia), Statistik Pendidikan (Kementerian Pendidikan), Laporan Tahunan UNESCO (Organisasi Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya PBB) c. Bidang Kesehatan Proyeksi bidang kesehatan pada RAPID terfokus pada proyeksi sumber daya yang harus ditingkatkan untuk mencapai target pelayanan kesehatan. Dalam RAPID dapat diproyeksikan jumlah dokter, perawat, puskesmas, rumah-sakit, dan jumlah tempat tidur rumah-sakit yang diperlukan untuk mencapai sasaran di masa mendatang. RAPID juga memproyeksikan pengeluaran yang diperlukan untuk menjaga atau meningkatkan pelayanan-pelayanan kesehatan. Indikatorindikator ini memperlihatkan peningkatan beban yang diperlukan di semua sektor sosial berkaitan dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Untuk itu pada bidang Kesehatan, RAPID dapat digunakan untuk menyusun proyeksi tentang : 1) Jumlah dokter yang diperlukan Jumlah dokter yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah penduduk dengan rasio jumlah penduduk terhadap jumlah dokter Jumlah perawat yang dibutuhkan Jumlah perawat yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah penduduk dengan rasio jumlah penduduk terhadap jumlah perawat Jumlah Puskesmas yang dibutuhkan Jumlah Puskesmas yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah penduduk dengan rasio jumlah penduduk terhadap jumlah Puskesmas Jumlah rumah sakit yang dibutuhkan Jumlah rumah sakit yang diperlukan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah penduduk dengan rasio jumlah penduduk terhadap jumlah rumah-sakit

2)

3)

4)

24

Program Spectrum

5)

Jumlah tempat tidur rumah sakit yang dibutuhkan Jumlah tempat tidur rumah sakit yang dibutuhkan di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi jumlah penduduk dengan Rasio jumlah Penduduk terhadap jumlah tempat tidur rumah-sakit Rata-rata pengeluaran kesehatan per tahun Rata-rata pengeluaran kesehatan per tahun dihitung dengan mengalikan jumlah penduduk dengan pengeluaran rutin kesehatan rata-rata per individu. Penduduk resiko tinggi Penduduk yang mempunyai risiko kesehatan yang tinggi diasumsikan sebagai jumlah bayi dan anak-anak (semua balita) ditambah wanita usia produktif (antara 15 dan 49 tahun). Kelompok ini dianggap sebagai orangorang yang mempunyai risiko tertentu yang berhubungan dengan usia dan jenis kelamin. Misalnya, anak-anak balita lebih peka terhadap penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya yang belum berkembang dan status nutrisinya yang lemah. Wanita usia produktif juga dikategorikan berisiko tinggi karena rentannya golongan tersebut akan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan beresiko tinggi yang seringkali didapatkan di negara dengan tingkat kelahiran tinggi.

6)

7)

Data yang akan diinput kedalam RAPID untuk menyusun proyeksi tersebut antara lain : Rasio jumlah penduduk terhadap jumlah dokter Dihitung dengan membagi jumlah penduduk dalam satu tahun dengan jumlah dokter di tahun yang sama. Asumsi yang berhubungan dengan jumlah penduduk per dokter di masa yang akan datang dapat tetap konstan (mencerminkan perbaikan tingkat pelayanan kesehatan saat ini), atau dapat dirubah untuk mencerminkan sasaran dalam rencana pembangunan. Rasio jumlah penduduk terhadap jumlah perawat Dihitung dengan membagi jumlah penduduk dalam satu tahun dengan jumlah perawat di tahun yang sama. Asumsi yang berhubungan dengan rasio penduduk per-perawat dapat tetap konstan di masa yang akan datang (mencerminkan perbaikan pelayanan sistem pelayanan kesehatan saat ini), atau dapat berubah untuk mencerminkan sasaran pada rencana pembangunan. Rasio jumlah penduduk terhadap jumlah puskesmas Dihitung dengan membagi jumlah penduduk dalam satu tahun dengan jumlah Puskesmas pada tahun yang sama. Asumsi yang berhubungan dengan penduduk per-pusat kesehatan masyarakat dapat tetap konstan di masa yang akan datang, atau dapat berubah untuk mencerminkan sasaran dalam rencana pembangunan Rasio jumlah penduduk terhadap jumlah rumah-sakit Dihitung dengan membagi jumlah penduduk dalam satu tahun dengan jumlah rumah-sakit pada tahun yang sama. Asumsi penduduk per-rumah-sakit di masa yang akan datang dapat konstan, atau dapat berubah untuk mencerminkan sasaran dalam rencana pembangunan

25

Program Spectrum

Rasio jumlah penduduk terhadap jumlah tempat tidur rumah-sakit Dihitung dengan membagi jumlah penduduk di dalam satu tahun dengan jumlah tempat tidur rumah-sakit pada tahun yang sama. Asumsi yang berhubungan dengan penduduk per tempat tidur rumah-sakit dapat konstan di masa yang akan datang, atau dapat berubah untuk mencerminkan sasaran dalam rencana pembangunan. Biaya kesehatan rutin rata-rata per orang Dihitung dengan membagi biaya rutin untuk kesehatan dalam satu tahun dengan jumlah penduduk di tahun yang sama. Biaya kesehatan rutin perorang di masa yang akan datang dapat konstan atau dapat berubah untuk mencerminkan sasaran meningkatnya kualitas sistem pelayanan kesehatan. Penduduk dengan risiko kesehatan tinggi Data proyeksi jumlah penduduk dengan risiko kesehatan tinggi didapatkan dari proyeksi yang dihasilkan oleh DemProj.

d. Urbanisasi Pesatnya pertumbuhan penduduk perkotaan di negara berkembang umumnya mengakibatkan sebagian besar dari penduduk perkotaan tinggal di dalam kondisi di bawah standar. RAPID memproyeksikan besarnya jumlah penduduk di daerah perkotaan dalam berbagai kondisi untuk menggambarkan besarnya masalah yang diakibatkan oleh pertumbuhan daerah perkotaan. Untuk itu pada bagian urbanisasi, RAPID akan menyusun proyeksi : 1) Jumlah penduduk daerah perkotaan di suatu wilayah 2) Jumlah penduduk di suatu wilayah perkotaan besar Data yang akan diinput kedalam RAPID untuk menyusun proyeksi tersebut antara lain: Persentase jumlah penduduk perkotaan yang tinggal di kota besar Dihitung dengan membagi penduduk yang tinggal di kota besar di suatu wilayah dalam satu tahun dengan jumlah penduduk perkotaan di suatu wilayah di tahun yang sama. Asumsi ini dapat tetap konstan di masa yang akan datang, atau dapat dirubah untuk mencerminkan kebijakan-kebijakan migrasi. Asumsi ini juga dapat dirubah berdasarkan pada pertumbuhan kota besar pada masa lalu. Proyeksi jumlah penduduk usia 12-25 tahun di daerah perkotaan Data proyeksi jumlah penduduk usia 12-25 tahun di daerah perkotaan didapatkan dari proyeksi yang dihasilkan oleh DemProj

e. Bidang Pertanian RAPID memproyeksikan luas tanah subur yang diperlukan untuk bercocok tanam per tahun, permintaan serta persediaan atas bahan pangan tertentu di masa yang akan datang. Hal tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan kebutuhan akan bahan pangan tertentu yang diakibatkan oleh laju pertumbuhan penduduk yang tinggi.

26

Program Spectrum

Untuk itu pada bidang Pertanian, RAPID akan menyusun proyeksi : 1) Luas lahan subur per kapita Luas lahan subur per kapita di masa mendatang diproyeksikan dengan membagi luas lahan subur dengan jumlah penduduk pada tahun yang sama. Indikator ini berguna untuk memperlihatkan bagaimana total luas area subur yang menopang masing-masing orang (atau keluarga) akan berkurang di masa yang akan datang (karena pertumbuhan penduduk sementara jumlah area subur relatif konstan, sehingga luas tanah yang ada untuk menopang masing-masing penduduk akan menjadi lebih sempit). Jumlah area subur umumnya tetap konstan. Namun, dapat dirubah untuk mencerminkan rencana pembangunan (misalnya: perluasan tanah layak tanam melalui perancangan irigasi atau pengurangan tanah layak tanam sehubungan dengan program pemerintah). 2) Jumlah konsumsi bahan pangan pokok Jumlah konsumsi bahan pangan pokok di masa mendatang diproyeksikan dengan mengkalikan rata-rata konsumsi bahan pangan pokok dengan proyeksi jumlah penduduk setiap tahun. Hal ini berguna dalam menunjukkan bagaimana produksi makanan dan atau impor makanan akan meningkat sejalan dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. 3) Produksi bahan pangan pokok Produksi bahan pangan pokok di masa mendatang diproyeksikan dengan mengkalikan jumlah produksi bahan pangan pokok pada tahun sebelumnya dengan angka pertumbuhan penduduk. Hal ini berguna untuk memperlihatkan kesulitan dalam memenuhi jumlah produksi makanan berkaitan dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Data yang akan diinput kedalam RAPID untuk menyusun proyeksi tersebut antara lain : 1) Luas lahan subur Angka ini dapat langsung diambil dari sumber-sumber yang ada. 2) Konsumsi bahan pangan pokok per kapita per tahun Dihitung dengan membagi jumlah konsumsi bahan makanan pokok dalam satu tahun dengan jumlah penduduk di tahun yang sama. Konsumsi bahan makanan pokok per tahun dapat konstan, atau dirubah untuk mencerminkan peningkatan atau penurunan pendapatan individu. Angka ini dapat langsung diambil dari sumber-sumber yang ada. 3) Total produksi bahan pangan pokok pada tahun dasar Angka ini dapat langsung diambil dari sumber-sumber yang ada. 4) Peningkatan produksi bahan pangan pokok tahunan Angka ini dapat langsung diambil dari sumber-sumber yang ada. Asumsi yang berhubungan dengan peningkatan produksi bahan pangan pokok tahunan di masa yang akan datang dapat tetap konstan di masa yang akan datang, atau dapat berubah untuk mencerminkan sasaran pertanian sebuah negara.

27

Program Spectrum

Menetapkan asumsi yang mencerminkan sasaran di masa mendatang berguna untuk memperlihatkan bahwa pencapaian sasaran pertanian hanya akan memberikan sedikit dampak dalam meningkatkan keadaan sosial ekonomi di wilayah tersebut bila tidak diimbangi dengan pencapaian sasaran kependudukan karena peningkatan produksi pertanian sebagian besar akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dari peningkatan jumlah penduduk.

28

Program Spectrum

Bab

PENUTUP

Bahan ajar ini merupakan materi pokok dalam Pelatihan Perhitungan Proyeksi Penduduk dan Perencanaan Program KB dengan menggunakan program Spectrum. Melalui bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan pemahaman bagi peserta pelatihan. Bahan ajar ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan versi dari Program Spectrum. Oleh karena itu bagi pengguna dan pembaca diharapkan terus melakukan pengembangan lebih lanjut sesuai perkembangan versi Program Spectrum. Kepada pihak terkait yang telah membantu dalam penyusunan bahan ajar ini diucapkan terima kasih. Masukan dan saran untuk penyempurnaan bahan ajar ini sangat diperlukan dari berbagai pihak.

29