Anda di halaman 1dari 16

Rahmad Yusuf

Nama : Rahmad Yusuf Fakultas : Ilmu-Ilmu Kesehatan Danh Keolahragaan Jurusan : Keperawatan Universitas Negeri Gorontalo

FARMAKOLOGI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker adalah suatu penyakit sel dengan ciri gangguan atau kegagalan mekanisme pengatur multiplikasi dan fungsi homeostatis lainnya pada organisme multiseluler. Sifat umum dari kanker ialah sebagai berikut : 1. Pertumbuhan berlebihan umumnya berbentuk tumor. 2. Gangguan diferensiasi dari sel dan jaringan sehingga mirip jaringan mudigah. 3. Bersifat invasif, mampu tumbuh di jaringan sekitarnya. 4. Bersifat metastatik, menyebar ke tempat lain dan menyebabkan pertumbuhan baru. 5. Memiliki heriditas bawaan yaitu turunan sel kanker juga dapat menimbulkan kanker. 6. Pergeseran metabolisme ke arah pembentukan makromolekul dari nukleosida dan asam amino serta peningkatan katabolisme karbohidrat untuk energi sel. Sel kanker mengganggu tuan rumah karena menyebabkan : 1. Desakan akibat pertumbuhan tumor. 2. Penghancuran jaringan tempat tumor berkembang atau bermetastasis. 3. Gangguan sistemik lain sebagai akibat sekunder dari pertumbuhan sel kanker. Kemoterapi dengan atau tanpa pengobatan lain bersifat kuratif pada koriokarsinoma pada wanita, limfoma, burkitt, tumor wilms pada anak, sarkoma ewing, rabdomiosarkoma embrional, dan beberapa kasus penyakit hodgkin, perlu ditekankan disini bahwa penyembuhan oleh kemoterapi saja baru dapat tercapai pada tumor-tumor yang jarang dijumpai. Setelah terjadi metastasis dibutuhkan pendekatan sistemik melalui kemoterapi kanker, disamping pembedahan, radiasi, dan kemoterapi ajuvan. Pada keadaan ini, pengobatan tidak menyembuhkan tetapi hanya bersifat paliatif terhadap gejala, pencegahan komplikasi, support psikologik, dan perpanjangan hidup

yang berarti. Anti kanker diharapkan memiliki toksisitas selektif artinya menghancurkan sel kanker tanpa merusak sel jaringan normal. Pada umumnya antineoplastik menekan pertumbuhan atau proliferasi sel dan menimbulkan toksisitas, karena menghambat pembelahan sel normal yang proliferasinya cepat misalnya sumsum tulang, epitel germinativum, mukosa saluran cerna, folikel rambut dan jaringan limfosit. Terapi hanya dapat dikatakan berhasil baik, bila dosis yang digunakan dapat mematikan sel tumor yang ganas dan tidak terlallu mengganggu sel normal yang berproliferasi. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa saja jenis obat anti kanker dan kemoterapi kanker ? 2. Bagaimana mekanisme kerja obat anti kanker dan kemoterapi kanker ? 3. Bagaimana indikasi dari obat anti kanker dan kemoterpai kanker ? 4. Bagaimana farmakodinamik dari obat Metotreksat ? 5. Bagaimana farmakokinetik dari obat Metotreksat ? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui jenis-jenis obat anti kanker dan kemoterapi kanker. 2. Untuk mengetahui mekanisme kerja dari obat anti kanker dan kemoterapi kanker. 3. Untuk mengetahui indikasi dari obat anti kanker dan kemoterapi kanker. 4. Untuk mengetahui farmakodinamik dari Metotreksat. 5. Untuk mengetahui farmakokinetik dari Metotreksat. BAB II PEMBAHASAN 2.1 KLASIFIKASI OBAT ANTI KANKER A. Golongan Alkilator Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan alkilator yaitu : 1) Mekloretamin

Indikasi : Penyakit Hodgkin, limfusar, karsinoma mama, dan karsinoma ovarium. 2) Siklofosfamid Sediaan : Siklofosfamid tersedia dalam bentuk kristal 100, 200, 500 mg dan 1,2 gram untuk suntikan, dan tablet 25 dan 50 gram untuk pemberian per oral. Indikasi : Leukemia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, Limfoma non Hodgkin, Mieloma multiple, Neuro Blastoma, Tumor Payudara, ovarium, paru, Cerviks, Testis, Jaringan Lunak atau tumor Wilm. Mekanisme kerja : Siklofosfamid merupakan pro drug yang dalam tubuh mengalami konversi oleh enzim sitokrom P-450 menjadi 4-hidroksisiklofosfamid dan aldofosfamid yang merupakan obat aktif. Aldofosfamid selanjutnya mengalami perubahan non enzimatik menjadi fosforamid dan akrolein. Efek siklofosfamid dipengaruhi oleh penghambat atau perangsang enzim metabolismenya. Sebaliknya, siklofosfamid sendiri merupakan perangsang enzim mikrosom, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas obat lain. 3) Melfalan Indikasi : Mieloma multipel, kanker payudara, Ovarium. 4) Klorambusil Sediaan : Klorambusil tersedia sebagai tablet 2 mg. Untuk leukemia limfositik kronik, limfoma hodgkin dan non-hodgkin diberikan 1-3 mg/m2/hari sebgai dosis tunggal (pada penyakit hodgkin mungkin diperlukan dosis 0,2 mg/kg berat badan, sedangkan pada limfoma lain cukup 0,1 mg/kg berat badan). Indikasi : Leukimia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, dan limfoma non Hodgkin, Makroglonbulinemia primer. Mekanisme kerja : Klorambusil (Leukeran) merupakan mustar nitrogen yang kerjanya paling lambat dan paling tidak toksik. Obat ini berguna untuk pengobatan paliatif leukemia limfositik kronik dn penyakin hodgkin (stadium III dan IV), limfoma non-hodgkin, mieloma multipel makroglobulinemia primer (Waldenstrom), dan dalam kombinasi dengan metotreksat atau daktinomisin pada karsinoma testis dan ovarium. 5) Trietilenmelamin Indikasi : Penyakit Hodgkin, Limfosarkoma, Retinobalstoma, Leukimia kronik, Tumor payudara dan ovarium. 6) Trietilentriofosforamid Indikasi : Penyakit Hofgkin, Limfosarkoma, Retinolblastoma, Tumor payudara dan ovarium.

7) Prokarbazin Sediaan : Prokarbazin kapsul berisi 50 mg zat aktif. Dosis oral pada orang dewasa : 100 mg/m2 sehari sebagai dosis tunggal atau terbagi selama minggu pertama, diikuti pemberian 150-200 mg/m2 sehari selama 3 minggu berikutnya, kemudian dikurangi menjadi 100 mg/m2 sehari sampai hitung leukosit dibawah 4000/m2 atau respons maksimal dicapai. Dosis harus dikurangi pada pasien dengan gangguan hati, ginjal dan sumsum tulang. Indikasi : Limfoma Hodgkin. Mekanisme kerja : Mekanisme kerja belum diketahui, diduga berdasarkan alkilasis asam nukleat. Prokarbazin bersifat non spesifik terhadap siklus sel. Indikasi primernya ialah untuk pengobatan penyakit hodgkin stadium IIIB dan IV, terutama dalam kombinasi dengan mekloretamin, vinkristin dan prednison (regimen MOPP). 8) Busulfan Indikasi : Leukimia mielositik kronik. 9) Karmustin Indikasi : Penyakit Hodgkin yang refrakter terhadap pengobatan, melanoma malignum, mieloma multipel (kombinasi dengan prednison). 10) Lomustin Indikasi : Karsinoma paru dan Kolorektal, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, dan karsinoma renal. 11) Semustin Indikasi : Karsinoma paru lewis, melanoma malignum, tumor otak metastatik, penyakit Hodgkin, limfoma non-Hodgkin dan neoplasma saluran cerna. 12) Streptozosin Indikasi : Karsinoma pankreas. 13) Sisplatin Indikasi : Kanker testis, ovarium, buli-buli, esofagus, paru, kolon. Mekanisme kerja : Mekanisme kerja pasti dari sisplastin belum diketahui, tapi diduga mirip dengan alkilator. Tempat ikatan utama adalah N7 pada guanin, namun juga terbentuk ikatan kovalen dengan adenin dan sitosin.

14) Karboplatin Sediaan : Serbuk injeksi 50 mg, 150 mg, 450 mg. Indikasi : Kanker ovarium lanjut. Mekanisme kerja : Mekanisme pasti masih belum diketahui dengan jelas, namun diperkirakan sama dengan agen alkilasi. Obat ini membunuh sel pada semua tingkat siklus, menghambat biosintesis DNA dan mengikat DNA melalui ikatan silang antar untai. Titik ikat utama adalah N7 guanin, namun juga terjadi interaksi kovalen dengan adenin dan sitosin. B. Golongan Antimetabolit Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan antimetabolit yaitu : 1) 5-fluorourasil (5-FU) Sediaan : Obat ini tersedia sebagai larutan 50 mg/mL dalam ampul 10 mL untuk IV. Indikasi : Kanker payudara, kolon, esofagus, leher dan kepala, Leukimia limfositik dan mielositik akut, Limfoma non-Hodgkin. 2) 6-azauridin Indikasi : Mikosis fungoides, polisitemia vera. 3) Floksuridin Indikasi : Leukimia limfostik akut dan kronik, leukimia granulositik akut dan kronik, koriokarsinoma. 4) Fludarabin Indikasi : Hairy cell leucemia, leukemia limfositik kronik, limfoma non-Hodgkin sel kecil. 5) Gemsitabin Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk larutan infus 1-1,2 g/m2. Indikasi : Kanker paru, pankreas dan ovarium. Mekanisme kerja : Sebelum menjadi bahan aktif, gemsitabin mengalami fosforilasi oleh enzim deoksisitidin kinase dan kemudian oleh nukleosida kinase menjadi nukleotida di- dan trifosfat yang dapat menghambat sintesis DNA. Gemsitabin difosfat dapat menghambat ribonukleotida reduktase sehingga menurunkan kadar deoksiribonukleotida trifosfat yang penting untuk sintesis

DNA. 6) 6-Merkaptopurin Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 50 mg. Indikasi : Leukimia limfositik akut dan kronik, leukemia mieloblastik akut dan kronik, kariokarsinoma. Mekanisme kerja : Merkaptopurin dimetabolisme oleh hipoxantin-guanin fosforibosil transferase (HGPRT) menjadi bentuk nukleotida (asam-6-tioinosinat) yang menghambat enzim interkonversi nukleotida purin. Sejumlah asam tioguanilat dan 6-metilmerkaptopurin ribotida (MMPR) juga dibentuk dari 6-merkaptopurin. Metabolit ini juga membantu kerja merkaptopurin. Metabolisme asam nukleat purin menghambat proliferasi sel limfoid pada stimulasi antigenik. 7) Methotrexat Sediaan : Tablet 2,5 mg, vial 5 mg/2ml, vial 50 mg/2ml, ampul 5 mg/ml, vial 50 mg/5ml. Indikasi : Leukimia limfositik akut, kariokarsinoma, kanker payudara, leher dan kepala, paru, buli-buli, Sarkoma osteogenik. Mekanisme kerja : Metotreksat adalah antimetabolit folat yang menginhibisi sintesis DNA. Metotreksat berikatan dengan dihidrofolat reduktase, menghambat pembentukan reduksi folat dan timidilat sintetase, menghasilkan inhibisi purin dan sintesis asam timidilat. Metotreksat bersifat spesifik untuk fase S pada siklus sel. Mekanisme kerja metotreksat dalam artritis tidak diketahui, tapi mungkin mempengaruhi fungsi imun. Dalam psoriasis, metotreksat diduga mempunyai kerja mempercepat proliferasi sel epitel kulit. 8) Pemetrexed Indikasi : Mesotelioma, Kanker paru. 9) Sitarabin Sediaan : Vial 100 mg/ml, dan Vial 1 g/10 ml. Indikasi : Termasuk zat paling aktif untuk leukemia, juga untuk limphoma, leukemia meningeal, dan limphoma meningeal. Sedikit digunakan untuk tumor solid. Mekanisme kerja : Inhibisi DNA sintesis. Sitosin memasuki sel melalui proses carrier dan harus mengalami perubahan menjadi senyawa aktifnya : arasitidin trifosfat. Sitosin adalah analog purin dan bergabung ke dalam DNA, sehingga cara kerja utamanya adalah inhibisi DNA polimerase yang mengakibatkan penurunan sintesis dan perbaikan DNA. Tingkat toksisitasnya mempunyai korelasi linear dengan masuknya sitosin ke dalam DNA, bergabungnya DNA dengan sitosin berpengaruh terhadap aktivitas obat dan toksisitasnya.

C. Golongan Produk Alamiah Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Produk Alamiah yaitu : 1) Vinkristin (VCR) Sediaan : Tersedia dalam bentuk vial berisi larutan 1, 2, dan 5 mL yang mengandung 1 mg/mL zat aktif untuk penggunaan IV. Indikasi : Leukimia limfositik akut, neuroblastoma, tumor Wilms, Rabdomiosarkoma, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin. Mekanisme kerja : Berikatan dengan tubulin dan inhibisi formasi mikrotubula, menahan sel pada fase metafase dengan mengganggu spindel mitotik, spesifik untuk fase M dan S. Vinblastin juga mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan memblok asam glutamat dan penggunaannya. 2) Vinblastin (VLB) Sediaan : Tersedia dalam bentuk vial 10 mg/10 ml. Indikasi : Penyakit Hodgkin, limfosarkoma, kariokarsinoma dan tumor payudara. Mekanisme kerja : Vinblastin berikatan pada tubulin dan menghambat formasi mikrotubula, kemudian menahan sel pada fase metafase dengan cara mengganggu spindel mitotik, spesifik untuk fase M dan S. Vinblastin juga mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan memblok asam glutamat dan penggunaannya. 3) Paklitaksel Indikasi : Kanker ovarium, payudara, paru, buli-buli, leher dan kepala. Mekanisme kerja : Obat ini berfungsi sebagai racun spindel dengan cara berikatan dengan mikrotubulus yang menyebabkan polimerisasi tubulin. Efek ini menyebabkan terhentinya proses mitosis dan pembelahan sel kanker. 4) Etoposid Sediaan : Tersedia dalam bentuk kapsul dan larutan injeksi. Indikasi : Kanker testis, paru, payudara, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukimia mielositik akut, sarkoma kaposi. Mekanisme kerja : Etoposid bekerja untuk menunda transit sel melalui fase S dan menahan sel pada fase S lambat atau fase G2 awal. Obat mungkin menginhibisi transport mitokrondia pada

level NADH dehidrogenase atau menginhibisi uptake nukleosida ke sel Hella. Etoposid merupakan inhibitor topoisomerase II dan menyebabkan rusaknya strand DNA. 5) Irinotekan, Topotekan Indikasi : Karsinoma ovarium, karsinoma paru sel kecil, karsinoma kolon. Mekanisme kerja : Irinotekan merupakan bahan alami yang berasal dari tanaman Camptotheca acuminata yang bekerja menghambat topoisomerase I, enzim yang bertanggung jawab dalam proses pemotongan dan penyambungan kembali rantai tunggal DNA. Hambatan enzim ini menyebabkan kerusakan DNA. 6) Daktinomisin ( AktinimisinD) Sediaan : Tersedia dalam bentuk Injeksi, bubuk untuk rekonstitusi : 0,5 mg (mengandung manitol 20 mg). Indikasi : Kariokarsinoma, tumor Wilms, testis, rabdomiosarkoma, sarkoma kaposi Mekanisme kerja : Terikat pada posisi guanin pada DNA, mengalami interkalasi antara pasang basa guanin dan sitosin sehingga menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta protein. 7) Antrasiklin : Daunorubisin, Doksorubisin, Mitramisin Sediaan : Daunorubisin tersedia dalam bentuk 20 mg daunorubisin hidroklorida dengan mannitol 100 mg. 2 mg/mL (50 mg) daunorubisin dengan 10 : 5 : 1 rasio molar distearofosfatidilkolin : kolesterol : daunorubisin. Doksorubisin tersedia dalam bentuk vial 10 mg dan 50 mg. Indikasi : Leukimia limfositik dan mielositik akut sarkoma jaringan lunak, sarkoma ostiogenik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukemia akut, karsinoma payudara, genitourinaria, tiroid, paru, lambung, neuroblastoma dan sarkoma lain pada anak-anak. Mekanisme kerja : Interkalasi dengan DNA, mempengaruhi transkripsi dan replikasi secara langsung. Selain itu, obat ini juga mampu membentuk kompleks tripartit dengan topoisomerase II dan DNA. (Topoisomerase II adalah enzim dependen ATP yang terikat pada DNA dan memisahkan untai DNA dimulai dari 3 fosfat, menyebabkan DNA terpisah dan kemudian menggabungkannya lagi, fungsi penting dalam replikasi DNA dan repair). Formasi kompleks tripartit dengan antrasiklin dan etoposid menghambat pengikatan kembali untai DNA rusak, mengakibatkan apoptosis. Defek ini memungkinkan sel rusak karena obat ini, sementara adanya overekspresi repair DNA terkait transkripsi menunjukkan resistensi. Antrasiklin juga membentuk radikal bebas dalam larutan pada jaringan normal dan maligna. Intermediat semikuinon yang dihasilkan dapat bereaksi dengan oksigen membentuk radikal anion superoksida yang membentuk radikal hidroksil dan hidrogen peroksida yang menyerang dan mengoksidasi basa DNA (~kardiotoksisitas). Produksi ini dipicu interaksi antrasiklin dengan besi. Antrasiklin berik

atan dengan membran sel mempengaruhi fluiditasdan transpor ion. Inhibisi sintesis DNA dan RNA dengan interkalasi antara basa DNA oleh inhibisi topoisomerase II dan obstruksi sterik. Doksurubisin menginterkalasi pada titik lokal uncoiling dari ikatan heliks ganda. Meskipun mekanisme aksi yang pasti belum diketahui, mekanismenya diduga melalui ikatan langsung DNA (interkalasi) dan inhibisi pembentukan DNA (topoisomerase II) yang selanjutnya memblokade sintesis DNA dan RNA dan fragmentasi DNA. Doksorubisin merupakan logam khelat yang kuat, komplek logam doksorubisin dapat mengikat DNA dan sel membran dan menghasilkan radikal bebas yang akan merusak DNA dan membran sel dengan cepat. 8) Antrasenedion : Mitoksantron Indikasi : Leukemia mielositik akut, kanker prostat dan payudara. Mekanisme kerja : Obat ini berikatan dengan DNA dan menyebabkan putusnya untaian DNA dengan akibat terhentinya sintesis DNA dan RNA. 9) Bleomisin Sediaan : Bleomisin sulfat terdapat dalam vial berisi 15 unit untuk pemberian IV, IM, atau kadang-kadang SK atau intraarterial. Indikasi : Kanker paru, lambung dan anus karsinoma testis dan serviks, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin. Mekanisme kerja : Menghambat sintesis DNA, ikatan-ikatan DNA untuk selanjutnya terjadi pemutusan untai tunggal dan ganda. 10) Mitomisin C Indikasi : Kanker lambung. 11) L-asparaginase Sediaan : Obat ini tersedian dalam bentuk serbuk untuk Injeksi. Indikasi : Leukemia limfositik akut. Mekanisme kerja : Asparaginase menghambat sintesis protein melalui hidrolisis asparaginase menjadi asam aspartat dan amonia. Sel leukimia, terutama limfoblast, memerlukan asparaginase eksogen, sel normal dapat memproduksi asparaginase. Asparaginase adalah daur spesifik untuk fase G1. D. Golongan Hormon dan Antagonis

Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Hormon dan Antagonis yaitu : 1) Prednison Sediaan : Obat tersedia dalam bentuk tablet 5 mg dan kaptab 5 mg. Indikasi : Leukemia limfositik akut dan kronik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, tumor payudara. Mekanisme kerja : Sebagai glukokortikoid, bersifat menekan sistem imun, anti radang. 2) Hidroksiprogesteron kaproat Indikasi : Karsinoma payudara dan endometrium. 3) Medroksiprogesteron asetat Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 5 mg, 10 mg, 100 mg. Indikasi : Tumor endometrium. Mekanisme kerja : Mencegah sekresi gonadotropin pituitari yang akan menghambat maturasi follicular yang menyebabkan penebalan endometrial. 4) Megestrol asetat Indikasi : Tumor endometrium. 5) Dietilstilbestrol Indikasi : Karsinoma prostat dan payudara. 6) Etinil estradiol Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 0,02 mg, 0,03 mg, 0,05 mg dan 0,5 mg. Indikasi : Gejala vasomotor sedang atau parah yang dihubungkan dengan menopause (Tidak ada bukti bahwa estrogen efektif mengatasi gejala kecemasan atau depresi yang mungkin terjadi selama atau sebelum menopause, oleh sebab itu tidak boleh diberikan untuk indikasi tersebut). Hipogonadism pada wanita. Terapi paliatif karsinoma prostat yang tak dapat dioperasi, pada tahap lanjut terapi paliatif kanker payudara yang tak dapat dioperasi, hanya dilakukan dengan pertimbangan khusus : misalnya pada wanita yang sudah lebih 5 tahun postmenopause dengan penyakit yang makin parah dan resisten terhadap radiasi. 7) Tamoksifen

Sediaan : Tamoksifen tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan 20 mg. Indikasi : Tumor payudara. Mekanisme kerja : Berikatan secara kompetitif dengan reseptor estrogen pada tumor atau target lain, membentuk kompleks nuklear yang menurunkan sintesis DNA dan menghambat efek estrogen, agen nonstreroidal dengan sifat antiestrogenik yang berkompetisi dengan estrogen untuk berikatan di bagian aktif pada payudara dan jaringan lain, sel terakumulasi pada fase Go dan G1. Sehingga tamoksifen lebih sifat sitostatik daripada sitosidal. 8) Testosteron propionat Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul, injeksi, topikal, mucoadhesive, pellet, dan transdermal. Indikasi : Tumor payudara. Mekanisme kerja : Androgen endogen bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan organ seks pria dan mempertahankan karakteristik seks sekunder pada pria yang mengalami defisiensi androgen. 9) Flutamid Indikasi : Karsinoma prostat. 10) Mitotan, aminoglutetimid Indikasi : Karsinoma kortek adrenal, karsinoma payudara. 11) Leuprolid Indikasi : Karsinoma prostat. 12) Anastrozol, letrozol, eksemestan Indikasi : Karsinoma payudara. E. Golongan Lain-lain Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan lain- lain yaitu : 1) Hidroksiurea Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul 500 mg. Indikasi : Leukemia mielositik kronik, melanoma malignum, polisitemia vera, trombositosis

esensial. Mekanisme kerja : Hidroksi urea mempengaruhi sintesis DNA, selama fase S pada pembelahan sel, tanpa mempengaruhi sintesis RNA, inhibisi ribonukleosida difosfat reduktase, mencegah konversi ribonukleotida menjadi deoksribonukleotida, bersifat spesifik untuk fase S pada siklus sel dan menahan sel lain pada fase G1 siklus sel. 2) Tretinoin Indikasi : Leukimia promielositik akut. 3) Imatinib Indikasi : Leukemia mielositik kronik, tumor stroma gastrointestinal, sindrom hiper eosinofilia. 4) Gefitinib Indikasi : Non small cell lung cancer. 5) Bortezumib Indikasi : Mieloma multipel. 6) Interferon alfa, interleukin 2 Indikasi : Hairy cell leukemia, sarkoma kaposi, melanoma malignum, tumor karsinoid, ginjal, ovarium, buli-buli, limfoma non-Hodgkin, mycosis fungoides, mieloma multipel, leukemia mielositik kronik. 2.2 PRINSIP KEMOTERAPI KANKER Suatu tumor ganas harus di anggap sebagai sejumlah sel yang seluruhnya harus di basmi. Perpanjangan hidup pasien berbanding langsung dengan jumlah sel yang berhasil di basmi dengan pengobatan. Hal-hal di bawah ini yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pengobatan : 1. Kanker baru dapat dideteksi bila jumlah sel kanker kira-kira 109. Jumlah yang dapat dibasmi diperkirakan 99,9 % jadi sel kanker yang tersisa sekurang-kurangnya 106 sel. 2. Adanya hubungan dosis-respon yang jelas. Berkurangnya sel kanker ternyata berbanding lurus dengan dosis. 3. Diperlukan jadwal pengobatan yang tepat. Untuk dosis total yang sama, pemberian dosis besar secara intermiten memberikan hasi;l yang

lebih baik dan imunosupresi yang lebih ringan, di bandingkan dengan pemberian dosis kecil setiap hari. 4. Kemoterapi harus di mulai sedini mungkin. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa pada keadaan dini jumlah sel kanker lebih sedikit dan fraksi sel kanker yang dalam pertumbuhan lebih besar 5. Kemoterapi harus tertuju kepada sel kanker Tanpa menyebabakan ganguan menetap pada jaringan normal. Obat kanker yang ada pada saat ini umumnya bersifat sitotoksik, baik pada sel normal maupun sel kanker. Toksisitas terhadap sel normal selalu terjadi. Tetapi kenyataan bahwa kemoterapi dapat menghasilkan pemulihan jangka panjang pada leukemia limfositik akut membuktikan bahwa penyembuhan kanker dapat di capai dengan kemoterapi. Sel sistem imun yang juga rusak akibat kemoterapi menyebabkan infeksi lebih muda terjadi dan juga memberi peluang untuk pertumbuhan tumor. 6. Sifat pertumbuhan tumor ganas harus menjadi pertimbangan. Pertumbuhan tumor mengikuti fungsi gompertzian, mula-mula bersifat eksponensial kemudian bersifat lambat. Apabila populasi tumor dikurangi misalnya dengan radiasi atau penyinaran maka sel sisa berkembang secara esponensial kembali dan menjadi lebih peka terhadap kemoterapi. 7. Beberapa sitostatik dan hormon memperlihatkan efek selektif relatif terhadap sel dengan tipe histologik tertentu. 5-fluorourasin lebih efektif terhadap tumor gastrointestinal dari pada terhadap tumor payudara, dan bleomisin terutama efektif terhadap kanker kulit. Hormon kelamin terutama efektif terhadap tumor payudara, tumor prostat dan tumor endometrium yang fisiologik dipengaruhi hormon tersebut. 8. Terapi kombinasi. Dasar pemberian dua atau lebih anti kanker ialah untuk mendapatkan sinergisme tanpa menambah toksisitas. Selain meningkatkan indeks terapi, kemoterapi kombinasi mungkin juga dapat mencegah atau menunda terjadinya resistensi terhadap obat-obat itu. Untuk mencapai hasil yang baik terapi kombinasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Masing-masing obat harus memiliki mekanisme kerja yang berbeda. b. Efek toksik masing-masing obat harus berbeda sehingga dapat diberikan dengan dosis maksimum yang masih dapat diterima pasien. c. Masing-masing obat harus diberikan pada masa siklus sel dimana obatnya paling efektif. 2.3 METOTREKSAT

a. Nama generik Metotreksat. b. Nama kimia 4-amino-4-deoxy-10-methylpteoryl-L-glutamic acid. c. Struktur kimia C20H22N8O5. d. Sifat fisikokimia Serbuk kristal berwarna kuning atau oranye, higroskopis, praktis tidak larut dalam air, alkohol, terurai dalam larutan asam mineral, basa hidroksida dan karbonat. e. Indikasi Leukemia limfositik akut, koriokarsinoma, kanker payudara, leher dan kepala, paru, buli-buli, sarkoma osteogenik. f. Efek samping dan Kontraindikasi Toksisitas obat ini juga terutama mengenai saluran cerna, sumsum tulang dan mukosa mulut. Obat ini dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan sumsum tulang, hati dan terutama gangguan ginjal karena metotreksat hanya dieliminasi melalui ginjal. g. Sediaan dan Posologi Metotreksat tersedia dalam bentuk tablet 2,5 mg dan bubuk untuk suntikan dalam vial 25, 50, 100, dan 250 mg. Untuk kariokarsinoma diberikan dosis tunggal 15 mg/m2 oral atau IM selama 5 hari karena dalam dosis terbagi metotreksat lebih toksik. Pengobatan biasanya diulang setelah 1-2 minggu. Pengobatan diteruskan sebanyak 2 regimen pengobatan setelah titer gonadotropin korionik kurang dari 50 IU/24 jam. h. Stabilitas dan Penyimpanan Tablet dan vial disimpan pada suhu kamar (15-25oC), hindari cahaya matahari langsung. i. Interaksi dengan obat lain Kombinasi metotreksat dengan klorambusil dan daktinomisin efektif terhadap karsinoma testis, limfoma limfositik stadium III dan IV terutama pada anak, dan memberikan remisi temporer pada mikrosis fungoides. Dalam kombinasi dengan berbagai antikanker, metotreksat digunakan pada karsinoma mama, paru dan ovarium, limfoma Burkitt dan limfoma non-Hodgkin.

j. Farmakodinamik Onset kerja: Antirematik 3-6 minggu, tambahan perbaikan bisa dilanjutkan lebih lama dari 12 minggu. Metotreksat berikatan dengan dihidrofolat reduktase, menghambat pembentukan reduksi folat dan timidilat sintetase, menghasilkan inhibisi purin dan sintesis asam timidilat. Metotreksat bersifat spesifik untuk fase S pada siklus sel. Mekanisme kerja metotreksat dalam artritis tidak diketahui, tapi mungkin mempengaruhi fungsi imun. Dalam psoriasis, metotreksat diduga mempunyai kerja mempercepat proliferasi sel epitel kulit. k. Farmakokinetik Absorpsi ), tidak lengkap setelah dosis tinggi. IM : Lengkap. Distribusi Penetrasi lambat sampai cairan fase 3 (misal pleural efusi, ascites), eksis lambat dari kompartemen ini (lebih lambat dari plasma), melewati plasenta jumlah sedikit masuk kelenjar susu. Konsentrasi berangsur-angsur dikeluarkan di ginjal dan hati. Ikatan protein : 50 %. Metabolisme eliminasi dosis rendah 3-10 jam, IM 30-60 menit. Ekskresi Melalui urine sekitar 44%-100%. Melalui feses dalam jumlah kecil. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Keberhasilan pengobatan kanker tergantung dari keadaan pasien dan jenis kanker. Pengobatan bervariasi dari yang sangat intensif sampai tanpa pengobatan khusus sama sekali, kecuali yang bersifat suportif yaitu dukungan mental-emosional-spiritual dan perbaikan keadaan umum. Pasien yang keadaan umumnya masih baik paling mendapat manfaat dari pengobatan, sedangkan yang keadaan umumnya buruk paling sedikit. Status imunologik pasien khususnya imunitas seluler berkolerasi baik dengan hasil pengobatan. Pasien yang imunitas selulernya tidak terganggu memberikan respons baik terhadap pengobatan, sebaliknya yang imunokompetensinya

rendah menunjukkan respons buruk. 3.2 Saran Obat anti kanker merupakan obat spesialistik, batas keamanannya begitu sempit sehingga untuk penggunaannya sebaiknya dokter yang berpengalaman di bidang pengobatan ini. Penggunaan yang kurang cermat hanya akan menambah penderitaan, bersifat fatal dan pemborosan biaya. DAFTAR PUSTAKA v MIMS Indonesia, Volume 7 tahun 2006. Hal. 272, 273, 277. v Drug Information Handbook, 14th ed. Lexi-comp. Hal. 1028. v Martindale, 34th ed. 2005. Hal. 568-4. v Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5 tahun 2007. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 732-756 v www.depkes.go.id v http://127.0.0.1:4001/report/reportpio.php v http://www.google.com/metotreksat.html Nama-nama Anggota Kelompok 4 :

Beri Nilai