Anda di halaman 1dari 8

TECHNICAL AND ECONOMICAL ANALYSIS OF SACRIFICIAL ANODE CATHODIC PROTECTION SYSTEM WITH MAPPING SECTOR METHOD ON LEGUNDI - CERME

ONSHORE PIPELINES NEW PIPELINES OF PT. PERUSAHAAN GAS NEGARA, Tbk. REGION SBU II JABATI
Angger Pungkas Caesario 1) Trika Pitana 2) A.A.Bagus Dinariyana DP 3)
1)

Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS Surabaya, email : larasario@ne.its.ac.id 2) Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS Surabaya, email : trika@its.ac.id 3) Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS Surabaya, email : kojex@its.ac.id a Jaringan Pipa (pipeline) terdiri dari flowline yang menyalurkan minyak atau gas di sumur ke stasiun pengumpul atau stasiun meter, yang selanjutnya disalurkan melalui pipa trunkline ke proses pengolahan atau sebagai bahan baku (gas). Jaringanjaringan pipa tersebut pada umumnya terbuat dari baja karbon, atau baja paduan khusus. Risiko terjadinya korosi baik dari dalam maupun dari luar bagian pipa merupakan suatu masalah yang perlu ditangani. Korosi adalah proses alami yang pasti akan terjadi, namun dengan teknologi yang telah ada sekarang, korosi dapat dikendalikan. Pengendalian risiko korosi terhadap jaringan pipa sangatlah berbeda jika kita deferensiasi menurut lingkungan dimana jaringan pipa tersebut berada. Sistem yang akan digunakan perlu diklasifikasikan bila jaringan pipa tersebut berada di bawah laut (offshore pipeline) atau berada di darat (onshore pipeline). Bahkan di setiap lingkungannya perlu dicari suatu nilai efektif dan efisien untuk penggunaan suatu mekanisme yang tepat guna. Dimana dalam hal ini, obyek yang diamati merupakan jaringan pipa di wilayah Legundi - Cerme milik PT. Perusahaan gas Negara, Persero, Tbk. yang merupakan jaringan pipa darat atau Onshore Pipeline yang tentunya sebagai asset vital yang memiliki tingkat risiko korosi yang perlu untuk dikendalikan. Dengan mengetahui dasar-dasar dan karakteristik dari ilmu korosi, maka penanganan untuk melakukan mitigasi terhadap risiko korosi dapat dilakukan. Prinsip dasar yang perlu diketahui yaitu korosi terjadi dimana arus listrik meninggalkan logam menuju elektrolit dan sebaliknya korosi tidak terjadi dimana arus listrik masuk ke dalam logam. Salah satu yang dapat diaplikasikan dengan mengacu pada prinsip dasar korosi tersebut adalah dengan membalikkan arah arus korosi atau listrik dalam proses korosi, yang berarti mengalirkan arus listrik searah ke seluruh permukaan logam melalui elektrilit atau yang lebih sering disebut dengan Sistem Proteksi Katodik. Dari gejala tersebut dapat disimpulkan, bahwa jika kita dapat memperlakukan logam secara keseluruhan sebagai katodik, maka logam tersebut tidak akan terkorosi. Perlakuan ini berarti kita harus memindahkan atau memisahkan bagian yang bersifat anodik agar tidak ke tempat lain yang masih berada dalam lingkungan elektrolit sama dan dihubungkan secara elektrikal dengan logam tadi. Ini berarti kita harus menciptakan suatu anoda tambahan baru. Daerah anodik terisolasi dan logam tidak terkorosi lagi, dengan mengisolasi anoda dengan anoda baru ini maka seluruh logam sekarang bersifat katodik dan tidak terkorosi. Salah satu yang paling banyak digunakan pada Sistem Proteksi Katodik adalah Sacrificial Anodes. Anoda magnesium, alumunium dan Seng merupakan contoh kebutuhan Anode yang diperlukan dalam Galvanic System pada Sistem Proteksi Katodik. Anoda korban memiliki prinsip kerja sebagai suatu material lain yang ditambahkan dengan voltase natural yang tertinggi sesuai dengan deret Volta yang berfungsi untuk mengalirkan arus listrik searah ke seluruh permukaan logam melalui elektrilit. Dengan mengetahui mekanisme perhitungan untuk pengaplikasiannya pada suatu obyek, maka diharapkan penanganan korosi pada jaringan pipa dengan penggunaan Sacrificial Anode merupakan suatu pengendalian korosi yang tepat bagi jaringan pipa khususnya pada Onshore Pipeline di wilayah Legundi-Cerme dengan melihat berbagai kondisi lingkungan yang ada. Salah satu poin penting dalam penentuan beberapa mekanisme perhitungan untuk penentuan Sacrificial Anode adalah

ABSTRACT
Corrosion is a vital cause of loss and failure of material oil and gas industry. One of the important assets in the oil and gas industry is the distribution of oil and gas from oil wells in offshore and offshore to be connected to the receiving stations or offtake station on land which later distribute to customers. In this case, the observed object is a pipeline in the region Legundi Cerme owned by PT. Perusahaan Gas Negara, Persero, Tbk. SBU II Jabati. SBU II Jabati which is a overland pipeline or the Onshore Pipeline is certainly a vital asset that has a high risk of corrosion that needs to be controlled. One of the most widely used in controlling the rate of corrosion of the pipe is the use of cathodic protection system with Sacrificial Anodes. Magnesium anode, aluminum and zinc are examples of the necessary requirements in Galvanic Anode System on cathodic protection system. In this paper analyzes the optimization of selection of the proper specification of Sacrificial anode according to technical and economic overview of each sector in the region throughout the region legundi - cerme which will be presented in the form of recommendations based on the calculation that has been done in terms of both technical and financial planning based on data that has been obtained. The results show that, Zinc Anode is the most fulfill all of the criteria to used. Based on Economycal analysis, the brand of anode which is recommended is Farwest Company type Zinc ZUR-34 with total amount investation along new project Legundi-Cerme Pipelines is about Rp43.493.360,52.

KEYWORDS
Corrosion, Cathodic Protection System, Sacrificial Anode, Mapping Sector, Legundi Cerme

PENDAHULUAN
Logam sebagai bahan baku utama suatu industri memiliki karakteristik tersendiri dalam penanganan atau mitigasi risikonya. Salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian adalah pengendalian terhadap korosi. Korosi merupakan penyebab vital dari kerugian dan kegagalan material industri migas. Salah satu aset penting dalam industri minyak dan gas adalah penyaluran minyak dan gas bumi dari sumur-sumur minyak di lepas pantai dan di laut dalam untuk disalurkan menuju stasiun-stasiun penerima atau offtake station di darat yang kemudian didistirbusikan kepada pelanggan. Maka digunakan sistem jaringan pipa atau pipelines sebagai jalur transmisi dan distribusi paling mudah, aman, dan efisien, yang secara ironi menjadi pemilik persentase kerusakan material tertinggi pada industri migas yang diakibatkan karena korosi [2].

Gambar 1. Kerugian Material Industri Migas Akibat Korosi

mengetahui data Soil Resistivity atau Tahanan Tanah. Mekanisme yang secara kontinyu dilakukan oleh PT. Perusahaan Gas Negara adalah penyamarataan suatu wilayah tertentu dengan karakteristik lingkungan yang sama adalah memiliki nilai Tahanan Tanah yang sama. Hal ini memiliki akibat pada perhitungan jumlah dan spesifikasi dari Sacrificial Anode akan memberikan hasil yang sama. Untuk itu perlu adanya suatu optimalisasi penggunaan Sacrificial Anode dengan jumlah dan spesifikasi yang tepat sesuai dengan tingkat Tahanan Tanah di berbagai area yang berbedabeda sepanjang proyek pipa wilayah Legundi-Cerme.

tidak ada lagi daerah anodic dan katodik. Hal ini dapat dicapai dengan mengalirkan arus listrik searah ke arah logam melalui elektrolit, yang dikenal dengan teknik Proteksi Katodik. Membuat R tak terhingga tidak lain menciptakan tahanan antara anoda dan katoda sebesar mungkin, misalnya dengan menerapkan isolasi antara keduanya. Dalam aplikasinya hal ini dikenal dengan penerapan isolasi (coating).

Tahanan Tanah
Pada proses korosi, elektrolit memegang peranan penting. Melalui elektrolit ion dapat mengalir. Kriteria dari elektrolit adalah kandungan dari ion-nya. Semakin konduktif maka semakin banyak mengandung ion. Sehingga salah satu informasi yang penting dalam desain sistem proteksi katodik atau investgasi fenomena katodik adalah tentang tahanan tanah bila material dalam elektrolit tanah dan tahanan air bila dalam lingkungan air. Kategori tahanan tanah didefinisikan oleh standard seperti NACE, kriteria umum yaitu semakin rendah tahanan tanah maka semakin korosif lingkungan tersebut. Berikut adalah daftar kriteria tahanan tanah berdasarkan NACE. Tabel 1 Kriteria Tahanan Tanah Besar Tahanan (Ohm.cm) >700 700 2000 2000 5000 5000 10000 >10000 Kriteria Korosi Sangat Korosif Korosif Sedang Ringan Tidak Korosif

Penyebab Utama Korosi Jaringan Pipa


Jaringan Pipa (pipeline) terdiri dari flowline yang menyalurkan minyak atau gas di sumur ke stasiun pengumpul atau stasiun meter, yang selanjutnya disalurkan melalui pipa trunkline ke proses pengolahan atau sebagai bahan baku (gas). Jaringanjaringan pipa tersebut pada umumnya terbuat dari baja karbon, atau baja paduan khusus. Korosi baik dari dalam maupun dari luar bagian pipa merupakan suatu masalah yang perlu ditangani. Unsur-unsur korosif dari dalam bagian dalam pipa antara lain karena air, oksigen, klorida, gas co2, gas h2s, sulfur polisulfida, dan asam organic. Kondisi tambahan yang dapat mempengaruhi korosi adalah suhu, tekanan dan padatan. Unsur-unsur korosif dari dalam bagian luar pipa antara lain klorida, senyawa, bakteri pereduksi sulfur, stray curent (sebaran arus). Kondisi lain yang dapat memperparah kondisi korosi adalah aliran elektrolit, suhu dan tahanan tanah.

Korosi Galvanis
Dalam suatu konstruksi, terkadang sulit untuk menghindarkan penggunaan lebih dari satu jenis logam dan dalam aplikasinya saling berhubungan satu dengan yang lain. Hal ini akan menimbulkan korosi galvanis yang disebabkan oleh adanya perbedaaan potensial antara dua jenis logam tersebut. Korosi galvanis ini dapat diprediksi dengan mengetahui perbedaan potensial antara dua logam yang saling berhubungan tersebut. Namun bila terdapat perbedaan yang nilainya kurang dari 0,05 Volt, maka korosi galvanis dapat diabaikan. Perbedaan luas antara logam yang bersifat anodic dan katodik berperan besar. Perbandingan anodic/katodik yang lebih kecil sangat berbahaya karena korosi akan berlangsung intensif, sehingga perbandingan tersebut harus tetap terjaga.Konduktivitas listrik dari lingkungan juga berperan penting. Jika konduktivitas tinggi, maka serangannya merata, namun bila rendah dapat timbul serangan lokal. Pencegahan Korosi Galvanis antara lain adalah menghindarkan penggunaan dua macam logam yang saling kontak sedekat mungkin, memasang isolasi antara dua logam tersebut, inhibitor dan melapis permukaan dengan lapisan pelindung.

Konsep Pengendalian Korosi


Korosi adalah proses proses yang terjadi secara alami yang pasti akan terjadi, namun dengan teknologi yang telah ada sekarang, korosi dapat dikendalikan. Ditinjau dari definisinya, konsep pengendalian korosi salah satunya adalah dengan cara elektrokimia. Yaitu membalikkan arah arus korosi atau listrik dalam proses korosi, yang berarti mengalirkan arus listrik searah ke seluruh permukaan logam melalui elektrilit. Cara ini disebut juga Proteksi Katodik. Pengendalian korosi juga dapat ditinjau darai Hukum Ohm, bila korosi berlangsung, laju korosi sama besarnya dengan arus yang mengalir (I), dimana I = E/R. Dimana E adalah beda potensial antara daerah anodic dan katodik, sedangkan R adalah besarnya tahanan daerah anodic dan katodik. Mengendalikan korosi berarti membuat I sekecil mungkin, atau menjadikan I 0, ini berarti membuat E = 0, atau membuat nilai R tak terhingga. Membuat E = 0 tidak lain adalah membuat seluruh permukaan logam potensialnya menjadi sama, sehingga

Pengukuran tahanan tanah perlu dilakukan sepanjang jalur dengan interval minimum 1 km atau sesuai dengan medan atau kondisi lapangan yang dihadapi. Bila didapati beberapa area yang khusus misal adanya rawa, persilangan dengan fasilitas lain perlu diukur tahanan tanahnya. Metode pengukuran tahanan tanah dapat dilakukan dengan cara metode Four Wenner Electrode yang secara detail dijelaskan dalam standard ASTM G57. Secara sederhana metode pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan empat elektroda yang ditancap dengan jarak antar elektroda yang sama. Kemudian dilakukan pengukuran dengan alat ukur tahanan tanah yang akan menginjeksi arus bolak balik ke tanah. Hasil pengukuran secara horizontal dapat merepresentasikan secara vertikal. Misalnya pengukuran dengan spasi 5 meter, maka data yang didapat adalah untuk kedalaman 5 meter, karena sifat dari elektroda yang akan mendispersikan arus secara radial atau membentuk bola.

Proteksi Katodik
Bila suatu logam/paduan terkorosi ada bagian-bagian yang bersifat sebagai anodic dimana korosi terjadi dan ada bagianbagian yang bersifat katodik dimana korosi tidak terjadi. Korosi terjadi dimana arus listrik meninggalkan logam menuju elektrolit dan sebaliknya korosi tidak terjadi dimana arus listrik masuk ke dalam logam. Dari gejala tersebut dapat disimpulkan, bahwa jika kita dapat memperlakukan logam secara keseluruhan sebagai katodik, maka logam tersebut tidak akan terkorosi. Perlakuan ini berarti kita harus memindahkan atau memisahkan bagian yang bersifat sebagai anodic tidak ke tempat lain yang masih berada dalam lingkungan elektrolit sama dan dihubungkan secara elektrikal dengan logam tadi. Ini berarti kita harus menciptakan suatu anoda tambahan baru. Daerah anodic terisolasi dan logam tidak

terkorosi lagi, dengan mengisolasio anoda dengan noda baru ini maka seluruh logam sekarang bersifat katodik dan tidak terkorosi. Inilah Konsep Dasar dari Proteksi Katodik. Dalam keadaan terproteksi, logam yang diproteksi dialiri arus listrik melalui anoda dan lingkungan menuju logam, logam dibanjiri dengan electron.

Gambar 4 Typical Zinc Anodes Secara komersial seng tersedia dan dapat dipakai karena menghasilkan suatu keuntungan bahkan dengan beberapa modifikasi sebagai material anoda. Sifat-sifat dan komposisi seng yang telah digabungkan untuk dipakai dalam anoda tumbal. Diantara bahan-bahan paduannya yang paling merusak efek anoda adalah besi. Kelarutannya dalam seng sedemikian rendah, sehingga kalau berlebih, kelebihan itu akan berupa partikelpartikel terpisah yang membentuk sel galvanic lokal yang menghasilkan suatu lapisan seng hidroksida/seng karonat yang tidak dapat larut dan tidak dapat menghantarkan listrik, sehingga anoda tidak akan efektif. Penambahan alumunium menguntungkan karena menyebabkan terbentuknya antar logam yang lebih tidak mulia sehingga mengurangi efek-efek sel korosi lokal. Seng dapat dipakai melindungi instalasi di dalam air laut dimana 99% seng murni akan memberikan keuntungan di dalam proses instalasi. Seng dapat dipakai sebagai material anoda dengan tegangan pembangkit yang rendah. Seng tergolong logam rapuh, tetapi pada temperatur 100-150C mempunyai sifat-sifat mudah diroll dan ditarik menjadi kawat. Logam ini mempunyai susunan kristal hcp. Dari produksi seng 45% digunakan untuk galvanisasi (pelapisan agar tahan terhadap karat). Seng ini juga sangat cocok digunakan untuk paduan brass, bronze dsb. Sifatsifat: lunak, ulet dan kekuatan tariknya randah tahan terhadap korasi. Penggunaan: banyak digunakan untuk melapisi pelat baja untuk mendapatkan "galvanised iron" dasar dari paduan penuangan cetak sebagai unsur paduan pembuatan kuningan. Allumunium Anode Protection (ALLAP). Logam yang akan bertindak sebagai anode tumbal terhadap baja adalah alumunium. Dalam keadaan normal, alumunium murni sangat tidak andal digunakan untuk anoda tumbal, ini diakibatkan oleh lapisan oksida yang selalu membungkus logam itu ketika masih berada dalam udara bebas. Karena itu unsur paduan yang ditambahkan dalam paduan alumunium adalah unsur yang dapat mencegah terbentuknya selaput oksida yang merata, melekat erat dan protektif sehingga kegiatan galvanic terus berlansung. Sifat aluminium yang menonjol adalah berat jenisnya yang rendah dan daya hantar listrik/panas yang cukup baik. Logam aluminium mempunyai struktur kristal FCC. Logam ini tahan terhadap korosi pada media yang berubah-ubah dan juga mempunyai duktilitas yang tinggi. Sifat-sifat aluminium antara lain paling ringan diantara logam-logam yang sering digunakan, penghantar panas dan listrik yang tinggi, lunak, ulet dan kekuatan tariknya rendah dan tahan terhadap korosi . Karena sifatnya yang ringan, maka banyak digunakan dalam pembuatan kapal terbang, rangka khusus untuk kapal laut modern, kendaraan-kendaraan dan bangunan-bangunan industri. Karena ringan dan penghantar panas yang baik, banyak dipakai untuk keperluan alat-alat masak. Banyak dipakai untuk kabelkabel listrik karena konduktivitas listriknya tinggi dan relatif

Gambar 2. Prinsip Proteksi Katodik

Proteksi Katodik Sistem Anoda Korban


Magnesium Anode Protection (MAGNAP) . Anoda magnesium digunakan untuk lingkungan tanah karena daya dorong listriknya paling tinggi dan keluaran arusnya juga besar, dan juga digunakan untuk lingkungn air tawar/rawa dan tangki air.

Gambar 3 Magnesium Sacrificial Anode Magnesium mempunyai potensial korosi bebas yang sangat negatif, artinya bahwa logam itu larut agak cepat dalam air laut. Dengan demikian penggunaannya akan efektif untuk melindungi jalur pipa yang dikubur dalam tanah, tanki penyimpanan air tawar/payau. Magnesium sangat berbahaya jika berada di dekat api, ini juga merupakan salah satu kelemahan magnesium. Magnesium tergolong logam ringan, dan tahan terhadap karat berkat lapisan oksida magnesium. Magnesium alloy dapat di tuang pada cetakan pasir dan juga dapat dilas dan di mesin. Sifat-sifat: lunak dan kekuatan tariknya renda serta tahan korosi. Penggunaan magnesium umumnya dipadu dengan unsur-unsur lain untuk memperoleh bahan-bahan struktural terutama digunakan untuk roda pesawat terbang, panel-panel pesawat. Zinc Anode Protection (ZAP). Anode seng ini sangat luas penggunaannya, baik untuk lingkungan tanah dengan resistivitas rendah maupun lingkungan laut. Belakangan ini anoda seng terdesak oleh anoda alumunium untuk penggunaan lepas pantai, tetapi untuk pipa atau struktur yang berada dalam lumpur, anoda seng lebih unggul.

lebih murah jika dibandingkan dengan tembaga. Aluminium tuang dibuat jika dikehendaki konstruksi yang ringan dengan kekuatan yang tidak terlalu besar. Melalui kondisi yang ada, maka ditentukan bahwa untuk sistem proteksi katodik yang diberikan pada jaringan pipa Legundi-Cerme menggunakan system Sacrificial Anode atau Anoda Korban. Setelah penentuan sistem tersebut, maka mulai dilakukan tahap-tahap perhitungan untuk menentukan rentang arus proteksi sehingga diperoleh jumlah desain anoda korban yang ekonomis dan sesuai.

Aspek Ekonomi Perancangan Anoda Tumbal


Menurut (Supomo, 2003) di dalam ilmu kerekayasaan, korosi adalah salah satu masalah yang sangat bebahaya dan menelan biaya yang tidak sedikit. Hal ini terbukti dengan adanya korosi maka umur dari suatu struktur akan semakin menurun dan penyusutannya semain cepat. Dalam melakukan perbaikan dan perlindungan struktur terhadap korosi, maka perlu dilakukan pengkajian yang terinci dalam hal investasi yang ditanamkan. Hal ini mengingat bahwa fungsi ekonomi suatu stuktur akan sangat menentukan cara atau metode dalam melakukan pencegahan korosi. Sistem pencegahan korosi mempunyai umur yang terbatas, dengan demikian maka modal yang ditanamkan untuk tujuan tersebut harus memenuhi persyaratan selama periode waktu atau umur sistem pencegahan tersebut. Dalam aspek ekonomi perancangan desain anoda tumbal ini hanya memperhitungkan biaya awal/biaya investasi (Nia Mihmidaty, 2009). Melalui buku Peabody, Corrosion Book, biaya pemasangan atau instalasi dari Cathodic Protection diperkirakan meliputi beberapa hal, antara lain : Engineering Time atau biaya yang diperlukan sewaktu proses rekayasa, perencanaan, persiapan, pengujian dan desain. Cost of Material atau biaya dari pembelian material ditambah dengan beberapa persen margin yang digunakan untuk mengcover biaya penyimpanan dan pengadaan. Margin ditentukan sendiri oleh perusahaan yang bersangkutan. Cost of Right-of-Way atau biaya yang digunakan untuk kemudahan pengerjaan di sepanjang jalur pipa. Unit Construction Cost atau biaya yang dipakai dari komponenkomponen yang berkaitan dengan system pemasangan Proteksi Katodik. I nspection Time atau biaya untuk peninjauan. Completed System Check Out atau biaya sebagai verifikasi dan justifikasi mengenai kelayakan dari Sistem Proteksi Katodik yang telah terpasang. On-Going Operating Cost atau biaya selama masa beroperasi, meliputi : Power Cost atau biaya yang digunakan untuk mensuplai power (biasanya untuk metode Impressed Current). Maintenance and system checkout costs atau biaya perawatan dan peninjauan kelayakan beroperasi. Pada tugas akhir ini, secara spesifik biaya yang dijadikan bahan acuan dan perbandingan adalah : Biaya pengadaan anoda. Berdasarkan jumlah anoda yang dipakai per periode sampai masa periode tersebut habis. Biaya ini diperoleh dari total berat anoda dikalikan dengan harga anoda per kilogramnya. Biaya pemasangan anoda. Berdasarkan nilai jam orang yang telah berlaku untuk pemasangan per unit anoda (untuk semua tipe anoda) dikalikan dengan biaya yang berlaku tiap jam orang (JO).

Gambar 5. Metodologi Teknis dan Ekonomis Sacrificial Anode

Perhitungan Teknis Sacrificial Anode


Melalui Buku Peabody, Corrosion Book berdasarkan NACE dijelaskan tahap-tahap dalam melakukan perhitungan Sistem Proteksi Katodik pada Onshore Pipelines, yaitu : Menghitung Luas Permukaan Pipa A = x D x L..(3.1)

dimana : A = Luas Permukaan Pipa (m2) D = Diameter Luas Pipa (m) L = Panjang Pipa (m) Menghitung Luas permukaan pipa yang mengalami cacat coating selama 20 tahun Abreak = 3% x x D x L..(3.2)

METODOLOGI
Adapun metodologi yang dilakukan dalam pengerjaan tugas akhir ini yaitu : Karena menggunakan PE atau Polyethelene sebagai lapisan coating atau cat pipa, coating yang mengalami kerusakan sebesar 3% dari luas permukaan pipa.

Menghitung Kebutuhan Arus Proteksi. Seperti yang diketahui, proses korosi adalah reaksi elektrokimia. Pada korosi besi, suatu bagian dari besi diberikan anoda, dimana besi mengalami proses oksidasi. Fe+ + 2H20 Fe+2 + 2H+ +2OH- +V Melalui deret volta, maka untuk melindungi coating yang rusak diperlukan arus sebesar 5 mA/m2. Sehingga, Ip = 5 mA/m2 x Abreak (3.3)

polarisasi adalah 100 mV. Sehingga kita menentukan bahwa potensial reaksi minimum untuk Magnesium sebesar 700 mV, Alumunium sebesar -50 mV, dan Seng sebesar 250 mV. Menghitung Arus Keluaran dari Tiap Anoda. Untuk menghitung arus keluaran dari tiap anoda dapat dihitung dengan menggunakan rumus, dimana, E = Driving Voltage Rh = Tahanan tiap anoda Menghitung Jumlah dari Anoda

(3.6)

Mengetahui Specification atau Data dari Anoda yang akan digunakan. Melalui perolehan data yang didapat sebeleumnya, maka beberapa dari dimensi material akan dijadikan nilai yang digunakan dalam perhitungan pada tahap selanjutnya. Menghitung Tahanan dari tiap anoda. Melalui Dwight Formula, kita dapat menghitung tahanan dari tiap anoda. =

dimana : Rh P L D

)(3.4)

dimana, N = Jumlah dari Anoda Ip = Arus Proteksi I = Arus Keluaran Anoda Menghitung Umur dari Tiap Anoda. Untuk menghitung umur dari tiap Anoda, menggunakan rumus,

.(3.7)

= Tahanan anoda dipasang horizontal (ohm) = Tahanan tanah sepanjang jalur pipa (ohm/cm) = Panjang Anoda (inch) = Diameter Anoda (inch)

Menghitung Keluaran Arus Tiap Anoda. Range dari Potensial Anoda dinamakan Driving Voltage, dimana, DV = E= Potensial Anoda Potensial Minimum Proteksi (3.5) Ini mempunyai hubungan dengan Deret Galvanik, dimana dikutip dari http://en.wikipedia.org/wiki/Galvanic_series yaitu Deret Galvanik (atau deret elektropotensial) adalah serangkaian logam dan semi logam. Saat dua logam di-submerger dalam suatu elektrolit, dimana dihubungkan secara elektrik maka hal itu termasuk dalam korosi Galvanik. Laju dari korosi dideterminasi oleh elektrolit dan perbedaan dari nobility. Perbedaan tersebut dapat dihitung dalam voltage potential. Sehingga kita dapat mengetahui Potential Anoda dari, Tabel 2 Deret Galvanik Galvanic Series in Netral Soil Metal Mg, 1,4 Mn Mg, 6Al-3Zn Zn 95Al, 5Zn Alumunium Baja, bersih baja, berkarat Mill scale Besi tuang Fero-silikon Brass, bronze Potential (-mV,CSE) 1750 1550 1100 1050 800 700 300 200 500 200 200

dimana, k U Wa (3.5) Uf I

= Konstanta Anoda = Umur dari Anoda = Berat dari Anoda = Efisiensi, diambil 50% = Faktor Utilisasi, diambil 85% = Arus Keluaran (A)

..(3.8)

Menghitung Jumlah Anoda untuk Desain Proteksi Pipa Selama 20 Tahun (3.9) dimana, = Umur dari Anoda = Jumlah Anoda

Dihitung dengan menggunakan rumus, =

U n

Menghitung Tahanan dari Pipa. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus,

dimana, R = Tahanan Pipa (ohm/km) D = Diameter Pipa, dalam meter t = Ketebalan Pipa, dalam meter Menghitung Konduktivitas dari Coating /Lapisan Pelindung. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus, G =1000 x x D x g.(3.11) dimana, G = Konduktivitas dari Coating /Lapisan Pelindung (ohm/km) D = Diameter Pipa (meter) g = Konduktivitas Spesifikasi Coating (ohm/km2), diberikan 0,002 ohm/km2

....(3.10)

Dari NACE 0169-92, kit adapt mengetahui criteria dari proteksi logam untuk menentukan potensial reaksi minimum di tanah, yaitu -850 mV atau kurang, dengan CSE dan sisa minimum

Menghitung Jangkauan Proteksi. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus,

diberikan, Ex = Potensial minimum proteksi (850 mV) Eo = Potensial Anoda sesuai Deret Galvanik (mV) X = Jangkauan proteksi (Km)

..(3.12) (( ), )

( )

Data Lingkungan. Data mengenai keadaaan wilayah tempat pipa di-laying adalah sebagai berikut : Panjang jalur : 20.000 meter Seksi : Legundi Cerme Area : Surabaya I dan Surabaya II Wilayah : Gresik Daerah Operasi : SBU Distribusi Wilayah II Jabati

ANALISA DAN PEMBAHASAN


Data Spesifikasi Pipa. Adapun data yang didapatkan dari PT. Perusahaan Gas Negara, Persero, Tbk. berdasarkan obyek adalah sebagai berikut : Grade : API 5L Grade B X-46 (STD) Jenis : ERW Diameter : 12 inci (323.9 mm) / + 0.75 % Tebal : 9.53 mm (toleransi : -12.5% s/d +15%) Panjang Maksimal : 13,72 m (DRL) Panjang Minimal : 10.67 m Bevel :V Sudut bevel : 30 35 derajat Root Face : 1.5 mm 0,8 mm Coating Ekternal : Three Layer (3rd Layer) PE Coating Internal : Epoxy Standar : API 5L SMYS : 46,000 psi Ultimate Tensile Strength : 60,000 psi (minimal) Elongation : 27 % (minimal) Dari data di atas, dapat dilihat bahwa sepanjang proyek pipa menggunakan grade atau bahan pipa yang sama yaitu API 5L Grade B X-46 (STD) dengan diameter luar pipa atau outside diameter sebesar 12 inch. Hal lain yang berhubungan dengan perhitungan proteksi katodik pada data di atas salah satunya adalah jenis coating atau lapisan pelindung yang digunakan pada pipa. Tertera pada data bahwa coating eksternal menggunakan Three Layer (3rd Layer) dari Polyethilene. Hal ini yang nantinya menentukan besarnya nilai persentase yang akan digunakan untuk menghitung luas permukaan pipa yang mengalami cacat coating selama 20 tahun. Tabel 3 Spesifikasi gas bumi yang akan dipasok unnormalized %mol
97.1650 1.0110 0.4620 0.0990 0.1020 0.0500 0.0500 0.3980 0.5620 99.8990

Gambar 3 Lokasi awal pekerjaan Pada kondisi awal pekerjaan, dapat dilihat bahwa lokasi merupakan wilayah padat lalu lintas yang juga padat akan permukiman penduduk dimana jalan tersebut merupakan milik Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga.

Gambar 4 Lokasi KM. 0+400 Dapat dilihat bahwa pada KM. 0+400 memiliki bahu jalan yang lapang, sehingga cukup memudahkan proses pengerjaan laying pipa. Hal ini juga menandakan bahwa adanya perbedaan tingkat kepadatan populasi atau keramaian pada sector ini.

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Senyawa
Metana Etana Propana iso-Butana n-Butana iso-Pentane n-Pentana Carbon Dioksida Nitrogen Total

Rumus Molekul
CH4 C2H6 C3H8 i-C4H10 n-C4H10 i-C5H12 n-C5H12 CO2 N2

normalized %mol
97.2632% 1.0120% 0.4625% 0.0991% 0.1021% 0.0501% 0.0501% 0.3984% 0.5626% 1.0000

Gambar 5 Lokasi Crossing pada KM.3+000

Terdapat Crossing pipa sepanjang 14 meter yang memungkinkan memiliki perbedaan nilai Soil Resistivity.

Mapping Sector
Sesuai dengan permasalahan yang diangkat pada tugas akhir ini dimana pola pengerjaan Sistem Proteksi katodik yang dilakukan pada obyek proyek jaringan pipa baru Legundi-Cerme oleh PT. Perusahaan Gas Negara, Persero, Tbk. adalah penyamarataan nilai dari Soil Resistivity sepanjang jaringan pipa yaitu 20.000 meter atau 20 kilometer sebesar /cm. Sedangkan 2500 berdasarkan survey lapangan yang telah dilakukan, keadaan wilayah sepanjang Legundi hingga Cerme memiliki perbedaaan. Sehingga akan menimbulkan asumsi mengenai nilai dari Soil Resistivity yang akan berbeda pula. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap perhitungan Sistem Proteksi Katodik dimana dalam kasus ini menggunakan Sacrificial Anode. Oleh karena itu pada tugas akhir ini, penulis mengelompokkan beberapa sector atau wilayah yang dirasa memiliki perbedaan keadaan lingkungan untuk dilakukan pengukuran terhadap nilai Soil Resistivity yang ada pada sector tersebut. Sehingga dengan mengetahui berbagai kondisi, baik data spesifikasi dari pipa dan kondisi lingkungan yang telah dilakukan survey, maka pola pensektor-an yang dilakukan adalah sebagai berikut,

Gambar 6 Lokasi Crossing Rel Kereta Api Kondisi lokasi dimana terdapat crossing rel kereta api merupakan daerah yang padat lalu lintas dan memiliki perbedaan kepadatan tanah dengan lingkungan lainnya serta perbedaan konstruksi kekuatan terhadap hantaman beban kereta api. Sehingga memungkinkan adanya perbedaan nilai tahanan tanah.

Gambar 9 Mapping Sector Legundi-Cerme Adapun rincian sector yang dilakukan adalah sebagai berikut : Gambar 7 Lokasi pipa Crossing sungai Dengan melintasnya pipa menyeberang sungai tentunya memiliki tingkat dan jenis tanah yang berbeda dengan kondisi lingkungan yang lainnya. No. 1 Tabel 3 Rincian Mapping Sector Legundi-Cerme Sector 1 KM 0+000 s.d 0+200 0+200 s.d 3+100 3+100 s.d 15+500 15+500 s.d 15+600 15+600 s.d 16+000 16+000 s.d 17+500 17+500 s.d 20+000 Keadaan Lokasi Awal pekerjaan wilayah Legundi, terdapat crossing Merupakan lokasi padat lalu lintas Merupakan lokasi yang padat penduduk dan terdapat 3 (tiga) crossing di titik KM. 3+100, KM. 10+800, dan KM. 15+500. Merupakan lokasi yang cukup lengang penduduk karena mendekati wilayah Sungai Lamong. Pipa melintas di Sungai Lamong, kondisi tanah becek dan berlumpur. Merupakan lingkungan yang padat akan pemukiman dan lalu lintas Kondisi lokasi cukup ramai dan melintasi jalur rel kereta api dan lengang di bagian akhir dari bagian pipa.

5 Gambar 8 Lokasi akhir penanaman pipa Pada lokasi akhir penanaman pipa, dapat terlihat bahwa kondisi di sekitarnya merupakan daerah yang cukup lapang dan tidak padat penduduk. 6

Sedangkan setelah dilakukan pengukuran terhadap nilai Tahanan Tanah atau Soil Resistivity, maka didapatkan data sebagai berikut: Tabel 4 Nilai Tahanan Tanah tiap Sektor No. 1 2 3 4 5 6 7 Sector 1 2 3 4 5 6 7 Soil Resistivity (ohm/cm) 2500 2260 2380 2780 1600 2240 2680

KESIMPULAN
Memperhatikan pada pengamatan mengenai metode yang secara kontinyu kerap dilakukan oleh PT. Perusahaan Gas Negara dalam pelaksanaan Proteksi Katodik pada Jaringan Pipa baru dengan menyamaratakan nilai suatu tahanan tanah di sepanjang proyek yang dilaksanakan memberikan akibat kurang optimumnya jumlah suatu anoda yang harus dipasang di sepanjang proyek pipa. Dengan metode Mapping Sector yang dilakukan dengan pengelompokkan sektor atau wilayah yang memiliki perbedaan keadaan lingkungan untuk dilakukan pengukuran terhadap nilai Soil Resistivity yang ada pada sektor tersebut dengan memperhatikan pengamatan visual lingkungan dan potensi risiko teknis. Metode ini mampu memberikan analisis yang secara akurat menunjukkan pemilihan optimum bahan anoda yang sesuai untuk digunakan, ditinjau dari segi teknis, melalui perhitungan yang memberikan jumlah anoda yang lebih tepat dan optimal di sepanjang jalur proyek pemasangan pipa. Hasil analisa ekonomi pada seluruh sektor adalah dengan menjumlahkan nilai investasi pengadaaan anoda sebesar Rp9.521.789,93 dengan biaya pemasangan anoda tanpa memasukkan biaya peralatan tambahan yang dibutuhkan untuk pemasangan anoda sebesar Rp33.971.570,59,. Sehingga besarnya nilai investasi adalah Rp43.493.360,52.

(Sumber : Validasi PT. Perusahaan Gas Negara berdasarkan survey manual pada 22 November 2011)

Perolehan Data Non Lapangan


Beberapa informasi mengenai spesifikasi Anoda yang nantinya akan dibandingkan satu dengan yang lainnya terhadap kesesuaian teknis dan optimalisasi ekonomis didapatkan dari beberapa catalog pengadaan anoda di beberapa perusahaan. Perusahaan supplier anoda tersebut merupakan beberapa merk dan spesifikasi yang menjadi rujukan penggunaan Anoda untuk Onshore Pipelines. Sehingga kemudian dinilai relevan untuk diperbandingkan. Adapun beberapa merk perusahaan tersebut antara lain, Galvotec Inc, Farwest Company dan Corrpro Inc. Merk Perusahaan di atas memiliki spesifikasi masing-masing anoda untuk setiap jenis material yaitu Alumunium Anode, Zinc Anode, dan Magnesium Anode. Tentunya melalui batasan permasalahan yang telah ditentukan pada bab Pendahuluan, spesifikasi massa yang digunakan untuk dibandingkan berkisar antara 13 s.d. 16 kilogram. Informasi yang perlu diketahui dari dimensi dan spesifikasi anoda yang telah didapatkan yang akan digunakan sebagai perhitungan antara lain bahan anoda, panjang anoda, diameter anoda, berat anoda, efisiensi anoda (ditentukan), faktor utilisasi (ditentukan), konstanta anoda, potensial anoda dan potensial minimal proteksi (sesuai bahan).

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Dr. Eng. Trika Pitana selaku dosen pembimbing pertama yang memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis serta Bapak A.A.Bagus Dinariyana DP, ST., M.Sc. P.hd selaku dosen pembimbing kedua atas bantuan, arahan dan masukan kepada penulis. Tak lupa kepada Bapak M. Munari selaku pembimbing di PT. Perusahaan Gas Negara, Persero, Tbk. SBU II Jabati. SBU II Jabati. yang dengan sabar membimbing dan mengarahkan. Kedua Orang Tua tercinta yang selalu mendoakan dan mendukung penulis. Serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah ikut memberi ide dan masukan sehingga terselesaikannya tugas ini.

Pemilihan Anoda
Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, maka disimpulkan bahwa kriteria analisa teknis agar anoda dinilai mampu untuk memberikan proteksi kepada pipa pada sektor tersebut adalah umur anoda harus bernilai di atas 20 tahun sesuai umur desain pipa, jumlah Anoda yang digunakan untuk memproteksi pipa selama 20 tahun harus bernilai lebih dari atau sama dengan 1 (satu) dan jangkauan proteksi yang diberikan harus menunjukkan nilai lebih dari 0 Km.

DAFTAR PUSTAKA
[1] [2] [3] [4] DNV RP B401 Cathodic Protection Design. Ismail, Alfajri. 2007. Kerugian Akibat Korosi. Workshop Basic Chemistry of Corrosion and Corrosion Control. : Jakarta Mihmidaty, Nia. 2006. Analisis Desain Perlindungan korosi Eksternal pada Subsea Pipeline dengan Sistem Sacrificial Anode. ITS : Surabaya NACE RP 0176 Corrosion Control of Steel, Fixed Offshore Platform Associated with Petroleum Production. Peabody. 2001. Corrosion Book 2nd Edition. NACE International The Corrosion Society : Texas. Perusahaan Gas Negara, PT. 2008. Diktat Cathodic Protection Level-1. Engineering-DPPP : Jakarta Perusahaan Gas Negara, PT. 2009. Pengendalian Korosi. PPT: Bandung Perusahaan Gas Negara, PT. 2009. Dasar Korosi. PPT: Bandung Perusahaan Gas Negara, PT. 2010. Cathodic Protection System. PPT: Jakarta Soegiono. 2007. Pipa Bawah Laut. ITS Press : Surabaya Tanpa Nama. 2001. Cathodic Protection.: Cepu

Perhitungan Ekonomis
Adanya pertimbangan di segi ekonomis merupakan aspek tak terpisahkan dari langkah setelah pelaksanaan analisa teknis. Analisa ekonomis ini akan membandingkan antara penggunaan merk dan bahan anoda satu dengan lainnya pada setiap sektor yang kemudian akan diberikan rekomendasi kombinasi penggunaan merk dan bahan anoda yang sesuai dengan analisa teknis dan ekonomis. Untuk melakukan analisa ini perlu adanya data non lapangan yang didapatkan dari referensi internet mengenai harga dari anoda berdasarkan bahan dihitung tiap kilogramnya dan adanya biaya pemasangan anoda. [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11]