Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS Branchial Cyst

PEMBIMBING :

Dr. Herry Setya Yudha Utama,SpB,MHKes,FInaCS


DISUSUN OLEH : DIAN PRATIWI PUTRI PRIMANIA FITRI KASARI ARIEF NUGROHO (1102007086) (1102006205) (1102003037)

SMF ILMU BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARJAWINANGUN KABUPATEN CIREBON MARET 2012

PERSENTASI KASUS ___________________________________________________________________ I.


IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Alamat Tanggal masuk RS ANAMNESA Keluhan utama Keluhan Tambahan : Tn.A : 68 tahun : Laki-laki : Petani : Danawinangun : 13 Maret 2012

II.

: Terdapat benjolan pada leher :

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Poli RSUD Arjawinangun, dengan keluhan terdapat benjolan pada leher yang tepatnya berada disamping kiri dan kanan,tapi terutama lebih besar yang sebelah kiri,benjolan ini sudah dirasakan sekitar 2 bulan belakangan ini, pasien mengaku benjolan dilehernya ini makin lama dirasakan semakin membesar,tadinya satu benjolan yang terdapat dibagian leher sebelah kiri, kemudian timbul lagi dibagian leher lainya, dan sekarang sudah terdapat 3 benjolan pada lehernya.Benjolan ini dirasakan tidak nyeri.Tidak mengeluarkan nanah atau pun darah. Keluhan demam sebelumnya, batuk lama lebih dari 2 minggu disangkal oleh pasien.. Keluhan adanya benjolan bagian tubuh lain seperti ketiak , dilipat paha disangkal oleh pasien. Riwayat Penyakit Dahulu : Keluhan mengalami keluhan seperti ini sebelumnya disangkal oleh pasien . Riwayat TB disangkal oleh pasien Riwayat Hipertensi disangkal oleh pasien Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga yang mempunyai keluhan yang sama dengan pasien.

III.

PEMERIKSAAN FISIK A. Pemeriksaan Umum Kesan umum Kesadaran Vital sign

: Tampak sakit sedang : Compos mentis TD : 150/90 N : 78 x/menit R : 18 x/ menit S : 36,5 C ( suhu aksila ) : Normocephal, rambut berwarna hitam : : Tidak Anemis : Tidak tampak kuning : Bulat isokor : Langsung +/+ Tidak langsung +/+ Gerakan bola mata baik kesegala arah. : Terdapat 3 benjolan kosistensi kenyal,mobile,tidak Ada Nyeri tekan, warna nodul sama dengan warna Kulit Sekitar.Dengan masing-masing berdiameter 7cm,5cm,2-3cm, permukaan rata. : Ictus cordis tidak terlihat : Ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicula sinistra. : Batas jantung kanan : pada ICS V linea parasternal dextra Batas jantung kiri : pada ICS V satu jari medial linea midclavicula sinistra. Batas jantung atas :pada ICS III linea parasternalis sinistra. : BJ I-II reguler , Gallop (-), Murmur (-) : Gerakan hemitorax kanan kiri simetris dalam Keadaan statis dan dinamis.

B. Pemeriksaan Khusus Kepala Mata Konjugtiva Sklera Pupil Reflex cahaya

Leher

Thorax Cor : Inspeksi Palpasi Perkusi

Auskultasi Pulmo : Inspeksi

Palpasi Perkusi Aukultasi

: Vokal fremitus kanan dan kiri simetris :Terdengar sonor di kedua hemitorax : Vesikuler di kedua hemitorax. Rh -/- Wh
3

Ekspirasi -/Abdomen: Inspeksi : Permukaan datar,simetris,tidak terlihat penonjolan Massa, tidak tampak pergerakan usus. Palpasi Perkusi Auskultasi Hepar/lien : Supel, tidak teraba massa/ benjolan. : Timpani pada seluruh abdomen : BU (+) normal : Tidak terba adanya pembesaran

NT (+) pada ulu hati, NL/Nk : -/Ekstremitas : atas Bawah IV. PEMERIKSAN PENUNJANG Darah Rutin Hb Leukosit Ht Trombosit : udema -/-, sianosis -/: udema -/-, sianosis -/-

: 11,3 g/dl : 6.400/mm3 : 34,8% : 336.000/mm3

V.

VI. VII.

Foto Thoraks : Kesan : Tidak tampak TB paru aktif Tidak Tampak pembesaran jantung Bronchitis kronis dengan emfisema pulmonal. DIAGNOSIS KERJA Branchial Cyst . DIAGNOSIS BANDING : Higroma kistik leher Pemeriksaan Anjuran

VIII. PENATALAKSANAAN Inf. RL 20 tts/menit Cefoperazon 2x1 Tramadol 2x1 Ranitidin 2x1 ampl
4

IX.

TERAPI BEDAH Pembedahan eksisi PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo fungsionam : ad bonam

X.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Leher merupakan bagian tubuh yang terbuka dan karena itulah pembengkakan padadaerah ini mudah dikenali oleh penderita atau dideteksi selama pemeriksaan rutin.Untuk tujuan deskriptif, leher dibagi menjadi dua bagian oleh garis tengah vertikal, dansetiap sisi dibagi menjad segitiga anterior dan posterior oleh ototsternokleidomastoideus. Sebagian besar massa yang tampak seperti tonjolan terjadi pada segitiga servikal anterior. Beberapa kelainan, seperti kista celah brankial, kistaduktus tiroglosus, atau celah palatum, sering terjadi. Benjolan di leher dapat sebagai kelainan primer maupun sebagai manifestasi penyakit lain yang dapat mengenai kelenjar leher (limfadenopati) atau jaringan lain.Lebih dari 75 buah kelenjar terdapat di kanan kiri leher dan masing-masing merupakanaliran tertentu di daerah leher dan kepala seperti rongga mulut, lidah, tonsil, nasofaring,hidung, telinga , laring, maupun dari daerah leher sendiri seperti tiroid dan kelenjar liur mayor maupun minor. Kelainan lain kemungkinan suatu kelainan bawaan sepertilimfangioma (higroma kistik), kista dermoid, sisa duktus tiroglosus, kista branchial dankarsinoma bronkogenik dan laringokel. Aparatus brankial pertama kali dikemukakan oleh VonBaer, kelainan yang terjadi pada perkembangan brankial kemudian diuraikan oleh Von Ascherson pada tahun 1832.Ascherson berpendapat bahwa kista brankial adalah kista yang dihasilkan olehkegagalan hilangnya celah brankial. Pada tahun 1864, Heusinger memperkenalkanistilah fistula brankial. Fistula dan kista celah brankial menunjukkan sekitar 20 % massa leher yang seringterjadi pada anak-anak. Dari beberapa kasus, 2/3 pasien kista ini terlihat pada umur di bawah 30 tahun. Kista yang bersifat bilateral sekitar 1 % dari kasus, tanpa adanya kecendrungan ke salah satu sisi (kanan atau kiri) di mana biasanya berkembang.Biasanya kista ini berlokasi di region cervikalis, parotis dan mediatinum. Benjolan pada leher umumnya timbul pada anak-anak tetapi multiplisitas danlokasinya biasanya khas. Penelitian klinis pada anak-anak dapat sangat sulit karena kistacelah brankial dapat menyerupai nodus limfatikus, bahkan dapat timbul dan berlanjut pada penyakit radang saluran pernafasan atas. Pada adolesen dan dewasa muda, kista celah brankial mungkin merupakan penyebab tersering bagi pembengkakan ovoid, soliter, rata dan besar di lateral leher.Biasanya lebih besar dari nodus limfatikus dan mula-mula timbul di trigonumkarotikum, tepat diliputi tepi anterior muskulus sternokleidomastoideus. Seperti kistaduktus tiroglossus, ia sering membesar dan menjadi sangat nyeri tekan pada infeksisaluran pernapasan atas. Beberapa kista celah brankial terletak lebih tinggi (di ekor parotis). Biasanya tidak disertai dengan abnormalitas lain pada sistem brankial. Oleh karena itu, penulis menyusun referat ini untuk mengembangkan pendekatanrasional terhadap massa pada leher, khususnya kelainan brankial, sehingga diharapkandapat secara tepat dalam penatalaksanaan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Kista celah brankial merupakan sisa aparatus brankial janin yang tertinggal dimanastruktur leher berasal. Kista celah brankial dilapisi oleh campuran epitel skuamosa danepitel respiratorius serta dikelilingi oleh dinding jaringan limfoid, sehingga mungkinterjadi kekacauan histologi. Sebagian besar kista celah brankial (berkembang dari arkus kedua, ketiga dankeempat) biasanya terdapat sebagai tonjolan atau muara saluran sinus sepanjang batasanterior otot sternokleidomastoideus. Saluran interna atau muara kista terletak padaderivatif embriologik sulkus faringeal yang sama, misalnya tonsil (arkus kedua), atausinus piriformis (arkus ketiga dan keempat). Letak saluran kista juga ditentukan olehhubungan embriologik arkusnya dengan derivat arkus yang terletak proksimal dankaudal terhadap arkus.

Gambar 2.1 Kista celah brankial 2.2 Embriologi Pada masa embrio awal tidak ada leher yang jelas, memisahkan toraks dari kepala.Leher dibentuk seperti jantung, dimana berasal dari di bawah foregut, yang bermigrasi ke rongga toraks dan aparatus brankial berkembang menjadi bentuk yang sekarang.Migrasi dari jantung merupakan sebab mengapa beberapa struktur dari leher bermigrasiterakhir. Pada masa embrio awal terdapat beberapa tonjolan sepanjang tepi dari Foregut yang juga dapat dilihat dari luar. Tonjolan ini adalah aparatus brankialis.1.8 Meskipun secara filogenik terdapat enam arkus brankialis, arkus kelima tidak pernah berkembang pada manusia, dan hanya membentuk ligementum
7

arteriosum.Hanya empat arkus yang dapat dilihat dari luar. Setiap arkus brankialis mempunyaisepotong kartilago, yang berhubungan denga kartilago ini adalah arteri, saraf, dan beberapa mesenkim yang akan membentuk otot. Di belakang setiap arkus terdapat alur eksternal yang terdiri dari ektordermal dan kantong yang berisi endodermal. Daerahdiantara ektodermal dan endodermal dikenal dengan lempeng akhir.

Gambar 2.2 perkembangan aparatus brankial

Gambar 2.3 derivat dari aparatus brankial Bagian dari struktur yang disebut diatas berkembang menjadi struktur dewasa yang tetap. Bagian yang seharusnya hilang dapat menetap dan membentuk struktur yang abnormal pada dewasa. Menetapnya bagian aparatus brankialis abnormal dapat menimbulkan bermacam kista, sinus, dan fistula. Menetapnya ektodermal dari arkus brankialis pertama dapat menyebabkan kista atau sinus yang terletak sejajar dan bahkandapat memperbanyak pada saluran telinga luar. Jenis yang berbeda dari menetapnya bagian aparatus brankialis dapat menimbulkan kista, sinus atau fistula
8

yang terletak pada satu garis bagian dalam telinga luar melalui kelenjar parotis sampai pada sudutmandibula di depan otot sternokleidomastoideus. Seperti sisa arkus pertama dapatmelalui di depan di belakang, bahkan melalui cabang saraf fasialis.1,8,9 Ektodermal dan endodermal dari arkus kedua dan ketiga dapat juga menimbulkankista, sinus, dan fistula. Normal muara dari arkus kedua, ketiga dan keempat diliputioleh pertumbuhan dari daerah yang disebut tonjolan epiperikardial. Saraf pada daerahini adalah asesorius spinalis, dan mesenkimnya membentuk otot sternokleidomasteideusdan trapesius. Tonjolan epikardial menyatu dengan arkus brankialis kedua, menutupimuara alur brankialis kedua, ketiga dan keempat sebagai kista ektodermal, sinusservikalis dari His, yang normalnya menghilang. Juga otot lidah yang berasal darimiotom post-brankialis, bermigrasi ke dasar mulut, melalui belakang derivat brankialis Oleh karena itu muara derivat brankialis persisten terletak di depan ototsternokleidomastoideus dan salurannya melalui bagia atas saraf hipoglosus. Oleh karenaitu daoat diduga sacara tepat garis dari kista, sinus, dan fistula brankialis kedua danketiga.1,8,9,10 Fistula brankialis kedua terbuka di depan otot sternokleidomastoideus, masuk keleher di depan arteri karotis komunis dan interna, biasanya di antara arteri karotisinterna dan eksterna, kemudian di atas glosofaringeus dan hipoglosus kea rah tonsila.Fistula brankialis ketiga terbuka di depan otot sternokleidomastoideus, melalui bagian belakang arteri karotis komunis dan interna dan si atas saraf hipoglosus tetapi di bawahsaraf glosofaringeus dan stilofaringeus, masuk ke faring di atas daerah yang dipersarafioleh saraf laringeus superior. Tanda-tanda sisa kantong brankialis keempat dapatmenetap sebagai saluran dari faring bagian bawah sampai daerah tiroid dan kadang-kadang dapat menyebabkan tiroiditis supuratif.1,8,9

Tabel 2-1 Derivat dari Aparatus Brankialis

2.3Anatomi Leher dapat dijelaskan sebagai bagian tubuh yang terletak di antara tepi inferior mandibula dan linea nukae superior (di atas) dan incisura jugularis dan tepi superior calvicula (di bawah).11

10

Jaringan leher dibungkus oleh 3 fasia, fasia colli superfisialis membungkusm.sternokleidomastoideus dan berlanjut ke garis tengah di leher untuk bertemu denganfasia sisi lain. Fasia colli media membungkus otot pretrakeal dan bertemu pula dengan fasia sisi lain di garis tengah yang juga merupakan pertemuan dengan fasia collisuperfisialis. Ke dorsal fasia colli media membungkus a.carotis communis,v.jugularis interna dan n.vagus menjadi satu. Fasia colli profunda membungkusm.prevertebralis dan bertemu ke lateral dengan fasia colli lateral.11 Pembuluh darah arteri pada leher antara lain a.carotis communis (dilindungi oleh vagina carotica bersama dengan v.jugularis interna dan n.vagus, setinggi cornu superior cartilago thyroidea bercabang menjadi a.carotis interna dan a.carotis externa),a.subclavia (bercabang menjadi a.vertebralis dan a.mammaria interna).11 Pembuluh darah vena antara lain v.jugularis externa dan v.jugularis interna. Vasalymphatica meliputi nnll.cervicalis superficialis (berjalan sepanjang v.jugularis externa)dan nnll.cervicalis profundi (berjalan sepanjang v.jugularis interna). Inervasi oleh plexus cervicalis, n.facialis, n.glossopharyngeus, dan n.vagus.11 Sistem aliran limfe leher penting untuk dipelajari karena hampir semua bentuk radang atau keganasan kepala dan leher akan terlihat dan bermanifestasi ke kelenjar limfe leher. Kelenjar limfe yang selalu terlibat dalam metastasis tumor adalah kelenjar limfe rangkaian jugularis interna yang terbentang antara klavicula sampai dasar tengkorak, dimana rangkaian ini terbagi menjadi kelompok superior, media dan inferior.Kelompok kelenjar limfe yang lain adalah submental, submandibula, servicalissuperficial, retrofaring, paratrakeal, spinalis asesorius, skalenus anterior dansupraclavicula.11 Daerah kelenjar limfe leher, menurut Sloan Kattering.Memorial Cancer Center Classification dibagi dalam 5 daerah penyebaran kelompok kelenjar yaitu daerah: I. Kelenjar yang terletak di segitiga submental dan submandibula II. Kelenjar yang terletak di 1/3 atas dan termasuk kelenjar limfe jugular superior,kelenjar digastik dan kelenjar servikal posterior superior III. Kelenjar limfe jugularis diantara bifurkasio karotis dan persilangan m.omohioiddengan m.sternokleidomastoid dan batas posterior m.sternokleidomastoid. IV. Grup kelenjar di daerah jugularis inferior dan supraclavicula V. Kelenjar yang berada di segitiga posterior servikal

11

Untuk keperluan deskripsi, leher dibagi menjadi trigonum cervikalis anterior dan posterior oleh otot sternokleidomastoideus yang terletak di depan dan di belakang otot tersebut.1

Gambar 2.5 Trigonum cervicalis 2.4 Klasifikasi

Gambar 2.4 penyebaran kelenjar

Kista brankial diklasifikasikan ke dalam empat tipe: a. Kista celah brankial pertama (First Branchial Cleft Cyst ) Kista celah brankial pertama dibagi menjadi tipe I dan tipe II. Kista tipe I berlokasi dekat kanalis auditorius eksterna. Umumnya, kista ini berada di inferior dan posterior dari tragus, tetapi bisa saja berada di glandula parotis atau angulusmandibula. Kista ini sangat sulit dibedakan dengan massa padat parotis dalam pemeriksaan klinis. Kista tipe II berhubungan dengan glandula submandibula atauditemukan di anterior trigonum 12,13,14 cervikalis. b. Kista celah brankial kedua (Second Branchial Cleft Cyst ) Kista celah brankial kedua dilaporkan sebanyak 90% dari kelainan brankialis.Kebanyakan, kista ini di temukan sepanjang pinggir anterior sepertiga atas ototsternokleidomastoideus. Bagaimanapun, kista ini bisa terlihat dimanapun sepanjangsaluran fistula brankialis kedua, yang berjalan dari kulit lateral leher, di antaraarteri karotis eksterna dan interna, dan sampai tonsil palatine. Oleh karena itu, kistacelah brankial sebagai diagnosa pembanding dari massa parafaringeal.12,15 c. Kista celah brankial ketiga (Third Branchial Cleft Cyst) Kista celah brankial ketiga dan keempat jarang terjadi. Kista celah brankialketiga terlihat di anterior otot sternokleidomastoideus dan di leher lebih rendahdibandingkan kista celah brankial pertama dan kedua. Kista
12

d.

ini berada lebih dalamke lengkunagan derivatif ketiga (misalnya nervus glosofaringeal dan arteri carotisinterna) dan superficial ke lengkungan derivatif keempat (misalnya nervus vagus).Kelainan ini berakhir di faring pada membran tirohioid atau sinus piriformis.13,16,17 Kista celah brankial keempat ( Fourth Branchial Cleft Cyst ) Kista celah brankial keempat memiliki manifestasi klinis yang sama dengankista celah brankial ketiga. Biasanya didapatkan pada anak-anak dan dewasa mudayang sering ditemukan sebagai abses leher lateral yang telah resisten terhadap pengobatan antibiotik. Seperti yang dilaporkan oleh Godin dkk, 93 % kista celah brankial berlokasi di cervikalis lateral sinistra di trigonum cervikalis. 17

Gambar 2.6 A. Pembukaan kista celah brankial di sisi leher oleh saluran fistula. B.fistula dan kista celah brankial di depan otot sternokleidomastoideus. C. kista celah brankial menuju faring pada permukaan tonsil palatine 2.5 Diagnosa dan pemeriksaan 2.5.1 Anamnesa dan pemeriksaan fisik mendiagnosa berbagai massa pada leher dimulai dengan anamnesa yangteliti. Serangkaian pertanyaan-pertanyaan logik dapat mempersempit kemungkinandiagnostik secara cepat dan pemeriksaan dan penatalaksanaan selanjutnya. Pertanyaan- pertanyaan dan artinya terdapat dibawah ini.1 1. Berapa umur penderita? Lesi kongenital jauh lebih sering terjadi pada inividuyang lebih muda, sedangkan lesi keganasan lebih sering pada yang lebih tua. Kistacelah brankial biasanya terdapat di antara 20 sampai 30 tahun. Pada anamnesa dapatdiketahui kista merupakan bawaan sejak lahir.1,12 2. Apakah massa tumbuh dengan cepat? Tidak adanya tanda-tanda infeksi, lesikegansan (limfoma, kanker metastase) jauh lebih mungkin mengalami
13

3.

4.

5. 6.

pertumbuhanyang lebih cepat dibandingkan massa yang jinak. Kista celah brankial membesarnyalambat yang terletak pada leher lateral.1,13 Apakah terdapat tanda-tanda infeksi atau peradangan? Sementara massa di leher dapat menjadi infeksi, massa-massa tersebut yang tampak meradang atau terinfeksi jauh lebih mungkin menunjukkan massa yang jinak. Kista celah brankialmerupakan massa jinak kongenital. Seperti kista duktus tiroglossus, ia seringmembesar dan menjadi sangat nyeri tekan pada infeksi saluran pernapasan atas.Kista celah brankial sering ditemukan sebagai abses leher lateral. 1,4,9 Dimanakah letak massa pada leher? Letak massa sebaiknya digambarkan secarateliti dengan istilah-istilah berikut: Apakah massa tersebut terletak pada garis tengahatau lateral?1 Apakah massa kistik atau padat? Massa kistik seringkali merupakan lesikongenital seperti kista celah brankial dan kista duktus tiroglosus.1,5,12 Apakah terdapat tanda-tanda sumber infeksi atau keganasan di tempat lain pada kepala dan leher?1

Pemeriksaan fisik dapat dimulai dengan inspeksi leher untuk melihat adanya benjolan yang nyata. Benjolan ini kadang-kadang lebih baik dilihat daripada diraba.Suruh pasien menelan dan perhatikan gerakan kartilago tiroidea dan ada atau tidaknya geraknan mass yang dapat ditemukan. Benjolan lateral bukan kelenjar limfe mencakup aneurisma arteri karotis, higroma kistik dan kista celah brankial. Aneurisma akan berdenyut. Higroma kistik terutama ditemukan pada anak-anak dan tampak terang padat transluminasi. Kista celah brankial biasanya timbul pada orang dewasa sebagai pembengkakan kistik yang keras di bawah otot sternoklei domastoideus, dekat angulus mandibula.9,10,11 Palpasi suatu massa dilakukan untuk menentukan letak, konsistensi, ukuran danmobilitasnya. Kelenjar limfe dapat terpisah-pisah atau menyatu, seperti karet atau kerasseperti batu, bebas atau melekat, tidak nyeri atau nyeri tekan. Sedikit banyaknyafluktuansi massa kistik pada leher, tergantung pada tebal dinding kista, viskositas didalamnya, dan tekanan dalam kista. Demikian pula pada transluminasi memberikanhasil yang berbeda-beda pula.18 Auskultasi hanya dilakukan jika diperlukan saja. Bila pasien berusia lebih dari 50 tahun, dengarlah di ats tiap sinus karotikus kemungkinan adanya aliran turbulensi pada pembuluh darah atau bising karotis.18

14

2.5.2 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan dianostik untuk massa leher dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok : 1. Pemeriksaan yang memberikan keterangan tentang sifat-sifat fisik yang khas atau letak massa (pemeriksaan tidak langsung). Ultrasonografi, CT scan, MRI scan, dan angiografi merupakan contoh pemeriksaan tidak langsung.1 a. Ultrasonografi membedakan lesi padat dari lesi kistik dan sebaiknya digunakan pada keadaan yang jarang di mana hanya ada keterangan yang dibutuhkan.1 b. Angiografi berguna untuk menilai pembuluh darah, aliran darah spesifik dari massa, atau keadaan arteri karotis tetapi memberikan sedikit keterangan tentangsifat-sifat fisik yang khas dari masa tersebut.1 c. CT scan dan/atau MRI scan berguna dalam memberikan keterangan mengenaisifat-sifat yang khas maupun pembuluh darah massa dan di samping itu jugamenjelaskan hubungannya dengan struktur-struktur yang berdekatan. Karena itu, pemeriksaan tersebut merupakan pemeriksaan tidak langsung yang sangat berguna dan paling sering diminta.1 d. X-ray dengan menggunakan kontras untuk mengidentifikasi fistula.15

Gambar 2.7 X-ray dengan menggunakan fistula.A.Anteroposterior; B.Lateral

kontras

untuk

mengidentifikasi

15

A B C Gambar 2.8 proyeksi MRI kista celah brankial. A. Korona; B. Aksial; C. Sagital

Gambar 2.9 CT Scan yang menunjukkan adanya kista celah brankial kanan 2. Pemeriksaan yang mencari diagnosis histologik (pemeriksaan langsung). Pemeriksaan langsung melibatkan pemriksaan histologik jaringan dari massa. Jaringan ini dapat diperoleh pada satu dari tiga jalan yang berbeda: (1) Aspirasi jarum halus ( Fine needle aspiration/FNA), (2) biopsi jarum, atau (3) biopsi terbuka.1 FNA melibatkan pemasukan jarum kecil (ukuran 23 sampai 25) yang dilekatkan pada spuit ke dalam massa untuk memperoleh sel-sel yang cukup untuk pemeriksaansitologik. Metode biopsi jarum yang besar (yang memperoleh inti jaringan) dan pembedahan teknik biopsi terbuka lebih invasif dan mempunyai risiko penyebaran keganasan yang lebih tinggi dan menimbulkan komplikasi penatalaksaan selanjutnya.12

16

Gambar 2.10 Gambaran secara sitologi kista celah brankial (jaringan limfoma) FNA(May-Grunwald-Giemsa stain X 400) Kriteria untuk sitologi FNA: a) tebal, kuning, pus seperti cairan, b) anuclear,keratinizing cells, c) squamous epithelial cells of variable maturity dan d) latar belakang amorphous debris.12 2.6 Penatalaksaan Pengobatan terdiri dari pengangkatan pembedahan yang sempurna dari kista dansalurannya (pembedahan eksisi). Jika terdapat infeksi atau peradangan, sebaikya diobati dan dibiarkan sampai tenang sebelum dilakukan pengangkatan. Insisi dan drainase sebaiknya dihindari. Insisi dan drainase karena salah didiagnosis sebagai abses adenitisservikalis mengakibatkan drainase persisten dan menyulitkan usaha pengangkatan menyeluruh nantinya. Terapi elektif kista celah brankial dengan eksisi teliti, danmempertahankan struktur di sekitarnya. Nervus hipoglosus dan asesorius terletak sangatdekat dengan dinding kista.1,8,9,12 Pembedahan eksisi dengan melakukan cervikotomi transversal dengan anastesiumum adalah pilihan pengobatan dengan prognosa yang baik. Untuk membantu pembedahan dapat disuntikkan larutan methylene blue ke dalam saluran sebelum operasi sehingga jaringan yang berwarna ba digunakan sebagai petunjuk panjang danluasnya kista/fistula. Zat warna itu mungkin tidak memasuki seluruh cabang-cabangyang lebih kecil sehingga diperlukan ketelitian selama diseksi untuk saluran-salurankecil yang tidak berwarna. Beberapa ahli bedah yang berpengalaman dalam menangani penyakit ini merasa bahwa penyuntikan zat warna harus ditinggalkan karena penyebaranzat warna ke sekitarnya akan mengorbankan jaringan sehat dengan sia-sia.8,9,12 Cara lain ialah dengan fistulografi, yaitu dengan cara memasukkan zat kontras kedalam muara fistel, lalu dilakukan pemeriksaan radiologic. Pada pemeriksaan
17

fistulografi tidak menggambarkan jalur traktus yang sebenarnya karena infeksi yang berulang menimbulkan tersumbatnya traktus oleh jaringan fibrosis. Identifikasi, selamaoperasi, arteri karotis eksterna dan interna, nervus vagus, hipoglosus, glosofaringeal, laringeal superior harus dihindari sehingga tidak mencederai struktur tersebut.Komplikasi yang ditimbulkan dapat berupa perdarahan, kekambuhan, pembentukan jaringan fibrotic atau keloid, dan paralisis nervus kranial.9,12 2.7 Prognosis Kista celah brankial umumnya memiliki prognosis yang baik jika kista/fistula ini ditanggulangi secara terampil dan cermat maka hasilnya akan memuaskan dan kecil kemungkinan untuk residif.12

Gambar 2.11 Pembedahan eksisi kista celah brankial

18

BAB III KESIMPULAN Benjolan pada leher dapat berupa kelainan bawaan, peradangan, tumor jinak dan tumor ganas serta metastase dari penyakit lain. Kelainan bawaan dapat berupa higromakistik, kista dermoid, sisa duktus tiroglosus, karsinoma bronkogenik, laringokel, dan kista celah brankial. Kista selah brankial merupakan 20 % massa yang sering terjadi pada anak-anak. Kista celah brankial pada anak sulit dinilai karena menyerupai noduslimfatikus sehingga sering ditemukan pada dewasa muda sebagai benjolan yang telah dialami sejak lahir.Kista celah brankial merupakan massa yang licin, tidak begitu nyeri, membesarnya lambat yang terletak di lateral leher. Kista ini biasanya terdapat di antara usia 20-30tahun. Kista ini berjalan sepanjang bagian anterior dari otot sternokleidomastoideus.Kista ini biasanya dijumpai sebagai abses adenitis servikalis karena telah mengalami peradangan. Kista celah brankial memiliki empat tipe. Kista celah brankial kedua merupakan jenis yang paling sering terjadi. Pengobatan terdiri dari pengangkatan pembedahan yang sempurna dari kista dan salurannya. Jika terdapat infeksi atau peradangan, sebaiknya diobati dan dibiarkan sampai tenang sebelum pengangkatan. Identifikasi, selama operasi, arteri karotis eksterna dan interna, nervus vagus, hipoglosus, glosofaringeal, laringeal superior harus dihindari sehingga tidak mencederai struktur tersebut. Pengobatan terdiri dari pengangkatan pembedahan yang sempurna dari kista tdansalurannya. Jika terdapat infeksi atau peradangan, sebaiknya diobati dan dibiarkansampai tenang sebelum pengangkatan. Identifikasi, selama operasi, arteri karotiseksterna dan interna, nervus vagus, hipoglosus, glosofaringeal, laringeal superior harusdihindari sehingga tidak mencederai struktur tersebut.

19

DAFTAR PUSTAKA 1. Adams GL, Boies LR, Higler PA. BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6 .Jakarta.Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997 2. Roezin A. Penatalaksanaan penyakit dan kelainan Telinga Hidung Tenggorok Edisiketiga. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Hal: 208-209. 2003. 3. Pearson BW. Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorokan . Jakarta. Penerbit BukuKedokteran EGC; Hal: 374-377. 1986 4. Anjaneyulu C, Sharan CJ. Complete Branchial Fistula. Bahrain Medical Bulletin;25(4); December 2003 5. Gore D, Masson A. Anomaly of First Branchial Cleft. Annals of Surgery. August1959 6. Mitroi M, Dumitrescu D, Simionescu C, et al. Management of Second Branchial Cleft Anomalies . Romanian Journal of Morphology and Embryology; 49(1): p69-74.2008 7. Park. Second Branchial Cleft Cyst. Visitorsare. Available athttp://pediatricimaging.wikispace.com. Accessed on November 2010. 8. Sadler TW. The Ninth Edition of Langmans Medical Embryology. Lange. Availableathttp://www.lww.com. Accessed on November 2010. 9. Lalwani AK. Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head and Neck Surgery. McGraw-Hill Lange. 2007 10. Healy GB. Otolaryngology Basic Science and Clinical Review. Thieme; p207-211.2005 11. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Bagian 3 . Jakarta: PenerbitBuku Kedokteran EGC; Hal: 220-223. 2003 12. Thomaidis V, Seretis K, Tamiolakis, et al. Branchial Cyst A Report of 4 Cases. ActaDermatoven APA; 15(2): p85-89. 2006 13. Anniko M, Sprekelson MB, Bonkowsky V, et al. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. European Manual of Medicine. p613-615. 2006 14. Ada M, Korkut N, Giivenc MG, et al. Unusual Extension of the First Branchial Cleft Anomaly. Eur Arch Otorhinolaryngol; 263: p263-266. 2006. 15. Gold BM. Second Branchial Cleft Cyst and Fistula. AJR 134: p1067-1069. 1980 16. Aneeza WH, Mazita A, Marina MB, et al. Complete Congenital Third Branchial Fistula:does the Theorical Course Apply?. Singapore Medical Journal; 51(7): p122-125. 2010 17. Hamoir M, Rombaux P, Cornu AS, et al. Congenital Fistula of the Fourth Branchial Pouch. Eur Arch Otorhinolaryngol; 255: p322-324. 2008 18. Burnside JW, McGlynn TJ. Diagnosis Fisik Edisi 7. Jakarta. Penerbit KedokteranEGC.1995

20