Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberadaan pasar modal syariah merupakan fenomena yang menarik dalam
industri pasar modal di tanah air. Seperti pendirian bank syariah, pasar modal
syariah didirikan berdasarkan pada kenyataan bahwa mayoritas penduduk
Indonesia adalah muslim.
Dalam public release yang dibuat oleh Bapepam, perkembangan pasar modal
syariah Indonesia menunjukkan kemampuan yang sangat mengesankan. Hal ini
terlihat dari kenaikan indeks harga saham-saham kelompok jakarta islamic Index
(JII) sebesar 37,90 persen dari 118,952 pada akhir tahun 2003 menjadi 164,029
pada penutupan akhir tahun 2004. Bahkan sepanjang tahun 2007, pertumbuhan
indeks JII melebihi pertumbuhan indeks LQ-45 dan IHSG. Pertumbuhan indeks
JII mencapai 58,38 persen, sedangkan pertumbuhan indeks LQ-45 dan IHSG
masing-masing mencapai 52,58 persen dan 52,08 persen.
Mengamati perkembangan tersebut, terlihat perkembangan keuntungan pasar
rata-rata pada saham yang tergabung di JII lebih tingii dari perkembangan
keuntungan pasar di kelompok LQ-45. Ketiga puluh jenis saham yang tergabung
pada JII juga merupakan bagian dari seluruh jenis saham yang ditransaksikan di
BEI. Peningkatan indeks pada JII dikarenakan adanya konsep hala, berkah, dan
bertambahn pada pasar modal syariah yang memperdagangkan saham syariah.
Pasar modal syariah menggunakan prinsip, prosedur, asumsi, instrumentasi, dan
aplikasi bersumber dari nilai epistemologi Islam.
Kehadiran dari indeks islam ini selain untuk menggairahkan pasar modal, setelah
banyak bermunculan bank-bank yang menerapkan prinsip syariah, juga
diharapkan mampu menarik pemodal dan masyarakat Islam yang ingin bermain
di lantai bursa. Mereka bukan hanya para pemodal yang telah menanamkan
modalnya di pasar modal namun juga investor yang masih ragu-ragu untuk
melepas dananya untuk membeli saham karena tidak mengetahui secara
mendalam aturan syariah.
Kesuksesan BEI mengeluarkan indeks Islam ini merupakan kelanjutan dari
keberhasilan cendekiawan muslim dan pihak-pihak lain yang peduli terhadap
pentingnya penerapan nilai-nilai syariah dalam perekonomian dalam upayanya
menciptakan suatu tatanan ekonomi dan bisnis yang Islami. Pemilihan obyek
penelitian dengan menggunakan saham-saham yang tercatat dalam Jakarta
Islamic Index didasarkan pada pertimbangan bahwa masih minimnya retelatur
yang membahas investasi syariah di pasar modal dan Jakarta Islamic Index
merupakan satu-satunya index yang menggunakan syariat Islam pertama kali di
Indonesia. Keberhasilan Jakarta Islamic Indeks sebagai indeks yang memiliki
kapitalisasi pasar terbesar yang terlihat dari nilai agregat saham-saham JII
cukup signifikan dibandingkan kapitalisasi seluruh saham yang aktif
diperdagangkan. Kecenderungan ini mudah sekali dimengerti bahwa masyarakat
yang semakin terdidik akan semakin tidak suka menanamkan dana mereka di
bank komersial karena bank komersial memberikan return yang lebih kecil,
resikonya juga relatif lebih kecil. Masyarakat yang semakin paham akan pasar
keuangan, semakin mengerti akan penilaian dan pengendalian risiko investasi.
Portofolio merupakan suatu kombinasi atau gabungan dari sekumpulan aset,
baik berupa aset riil (real asset) yang berbentuk pembelian aset produktif,
pendirian pabrik, pembukaan pertambangan, pembukaan perkebunan dan aset
keuangan (financial asset) yang dilakukan di pasar uang baik berupa sertifikat
deposito, commercial paper, dan surat berharga pasar uang yang dimiliki oleh
investor. Portofolio dikatakan efisien apabila portofolio tersebut ketika
dibandingkan dengan portofolio lain mempunyai expected return terbesar dengan
risiko yang sama atau memberikan risiko terkecil dengan expected return yang
sama. Pada hakekatnya pembentukan portofolio adalah untuk mengurangi resiko
dengan diversifikasi, yaitu dengan mengalokasikan sejumlah dana pada berbagai
alternatif investasi yang berkorelasi negatif. Penelitian ini mencoba menerapkan
model indeks tunggal yang merupakan penyederhanaan dari model Markowitz.
Metode indeks tunggal juga dapat digunakan untuk menghitung return ekspektasi
dan risiko portofolio, hal tersebut yang dijadikan peneliti sebagai alasan dalam
penggunaan indeks tunggal sebagai alat analisis untuk membentuk portofolio
optimal pada saham-saham Jakarta Islamic Index.
Minimnya informasi mengenai tingkat keuntungan dan risiko yang akan didapat
oleh seorang investor dalam menghadapi risiko-risiko yang akan terjadi dalam
menanamkan modalnya. Berdasarkan latar belakang peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul Analisis Portofolio Optimal Dengan Pada
Saham-saham JAKARTA ISLAMIC INDEX
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis mengambil perumusan
masalahnya adalah :
1. Saham-saham apa saja yang terbentuk pada portofolio yang optimal ?
2. Berapa besarnya proporsi dari saham yang terbentuk dalam portofolio
optimal ?
C. Batasan Penelitian
Pembatasan penelitian perlu dilakukan dengan tujuan agar pokok penelitian yang
diteliti tidak terlalu melebar dari yang sudah ditentukan. Peneliti dalam hal ini
membatasi penelitian sebagai berikut :
1. Periode penelitian adalah periode tahun 2004-2006
2. Return aktiva bebas risiko (RBR) menggunakan Sertifikat Wadiah Bank
Indonesia (SWBI) bulanan.
3. Data Harga saham dan Indeks JII dari perusahaan yang tercatat dalam
Jakarta Islamic Indeks bulanan.
D. Tujuan Penelitian
3. Untuk mengetahui portofolio yang optimal pada saham-saham Jakarta
Islamic Indeks.
4. Untuk mengetahui seberapa besar proporsi masing-masing saham di
dalam portofolio optimal.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi investor
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dalam pembentukan
portofolio yang optimal untuk mengambil keputusan investasi dalam saham-
saham JII di pasar modal.
2. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu referensi untuk
penelitian lebih lanjut, terutama yang berkaitan dengan portofolio optimal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Peneliti Terdahulu
Penelitian tentang pembentukan portofolio optimal pernah dilakukan
oleh Ninik Rahayu Puji Astutik pada tahun 2005 dengan judul Penentuan
Portofolio Yang Optimal Dengan menggunakan Metode Indeks Tunggal
(Studi Pada Saham Yang Listing Di Bursa Efek Jakarta Pada Periode
Pebruari 2004-Januari 2005). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menentukan portofolio yang optimal pada saham blue-chip di Bursa Efek
Jakarta. Adapun perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan model
indeks Tunggal menghasilkan komposisi sebagai berikut :
1. Jumlah anggota portofolio yang optimal sebanyak 4 sekuritas. Saham
yang masuk dalam portofolio optimal antara lain : UNVR, TINS, TLKM,
dan ASII dengan ERB masing-masing sebesar 0,015415; 0,010811;
0,010754; dan 0,003362. proporsi portofolio optimal tertinggi oleh saham
ASII sebesar 0,426354 dan proporsi portofolio optimal terendah oleh
saham UNVR sebesar 0,183480.
2. Besarnya pengembalian (return) saham dari sekuritas yang membentuk
portofolio optimal sebesar 67,231657 atau sebesar 100% dengan risiko
sebesar 51820,57 atau sebesar 98,8%.
Peneliti terdahulu memiliki persamaan dan perbedaan dengan peneliti
yang sekarang. Adapun persamaannya adalah alat analisis yang digunakan
untuk mencari portofolio optimal menggunakan model indeks tunggal.
Perbedaan peneliti sekarang dengan peneliti terdahulu adalah sebagai
berikut :
1. Obyek penelitian sekarang adalah saham-saham yang tercatat di Jakarta
Islamic Index sedangkan obyek peneliti terdahulu adalah saham-saham
yang listing di Bursa Efek Jakarta.
2. Data harga saham yang digunakan peneliti terdahulu adalah data harga
saham harian, sedangkan peneliti sekarang menggunakan data harga
saham bulanan
3. Return aktiva bebas risiko (RBR) untuk peneliti terdahulu menggunakan
Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Peneliti saat ini menggunakan Sertifikat
Wadiah Bank Indonesia (SWBI).
4. Periode pengamatan pada peneliti terdahulu menggunakan periode
pengamatan dari Pebruari 2004-Januari 2005, sedangkan peneliti
sekarang menggunakan periode pengamatan dari tahun 2004-2006.
Tinjauan Teori
1. Investasi
Investasi merupakan penggunaan modal untuk menciptakan uang, baik
melalui sarana yang menghasilkan pendapatan maupun melalui ventura
yang lebih berorientasi ke risiko, yang dirancang untuk mendapatkan
perolehan modal (Downes dan Goodman dalam Warsono, 2001;1).
Sedangkan menurut (Halim, 2005:4) investasi merupakan penempatan
sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan
di masa mendatang.
Umumnya investasi dibedakan menjadi dua, yaitu pertama investasi
pada aset-aset keuangan (financial asset) yang dilakukan di pasar uang,
misalnya berupa sertifikat deposito, commercial paper, surat berharga pasar
uang dan lainnya. Investasi dapat juga dilakukan di pasar modal, misalnya
berupa saham, obligasi, waran, opsi, dan lain-lain. Kedua investasi pada
aset-aset riil (real assets) yang berupa pembelian aset produktif, pendirian
pabrik, pembukaan pertambangan, pembukaan perkebunan dan lainnya.
2. Proses Investasi
Proses investasi menunjukkan bagaimana seharusnya seorang investor
membuat keputusan investasi pada efek-efek yang dapat dipasarkan, dan
kapan dilakukan. Beberapa tahapannya adalah sebagai berikut:(Halim,
2005:4)
Menentukan tujuan investasi
Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam tahap ini, yaitu tingkat
pengembalian yang diharapkan (expected rate of return), tingkat risiko (rate of
risk), dan ketersedian jumlah dana yang akan diinvestasikan.
2. Melakukan analisis
Dalam hal ini investor melakukan analisis terhadap suatu efek atau sekelompok
efek. Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi efek yang
salah harga (mispriced), apakah harganya terlalu tinggi ataukah terlalu rendah.
Untuk itu ada dua pendekatan yang dapat digunakan, yaitu :
1. Pendekatan fundamental. Pendekatan ini berdasarkan pada informasi-
informasi yang diterbitkan oleh emiten maupun oleh administrator bursa
efek.
2. Pendekatan teknikal. Pendekatan ini didasarkan pada data (perubahan)
harga saham di masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga
saham di masa mendatang.
1. Membentuk portofolio
Dalam tahap ini dilakukan identifikasi terhadap efek-efek mana yang akan dipilih
dan berapa proporsi dana yang akan diinvestasikan pada masing-masing efek
tersebut.
2. Mengevaluasi kinerja portofolio
Dalam tahap ini dilakukan evaluasi atas kinerja portofolio yang telah dibentuk,
baik terhadap tingkat pengembalian yang diharapkan maupun terhadap tingkat
risiko yang ditanggung.
3. Merevisi kinerja portofolio
Tahap ini merupakan tindak lanjut dari tahap evaluasi kinerja portofolio. Investasi
dalam aktiva keuangan dapat dilakukan dengan investasi langsung ataupun
investasi tidak langsung (Jogiyanto, 2000:7).
1. Investasi langsung adalah investasi yang dilakukan dengan pembelian
langsung aktiva keuangan suatu perusahaan yang diperjual belikan.
Aktiva keuangan bisa berupa tabungan dan deposito. Serta investasi
langsung yang dapat diperjual belikan berupa surat berharga
pendapatan tetap dan saham.
2. Investasi tidak langsung adalah suatu investasi yang dilakukan melalui
pembelian dari perusahaan investasi dimana perusahaan investasi
merupakan perusahaan yang mengelola dana investasi yang
mempunyai aktiva-aktiva keuangan dari perusahaan lain. Perusahaan
investasi sendiri dapat diklasifikasikan menjadi Unit Investment Trust,
Closed-end Investment companies dan Open-end Investment
Companies Investasi (Jogiyanto, 2000:10)
3. Analisis portofolio
Portofolio merupakan kombinasi atau gabungan atau sekumpulan aset, baik
berupa aset riil maupun aset financial yang dimiliki oleh investor. Hakikat
pembentukan portofolio adalah untuk mengurangi risiko dengan jalan
diversifikasi, yaitu mengalokasikan sejumlah dana pada berbagai alternatif
investasi yang berkorelasi negatif (Halim,2005:54).
Investor dapat menentukan kombinasi efek-efek untuk membentuk portofolio,
baik yang efisien maupun yang tidak efisien. Suatu portofolio dapat dikatakan
efisien apabila memenuhi dua kriteria yaitu: (Halim,2005:54)
a. Memberikan ER terbesar dengan risiko yang sama.
b. Memberikan risiko terkecil dengan ER yang sama.
Semua portofolio yang terletak pada efficient frontier merupakan portofolio yang
efisien sehingga tidak dapat dikatakan portofolio mana yang optimal. Sedangkan
untuk membentuk portofolio yang optimal kita harus menawarkan return yang
diharapkan dan risiko yang sesuai dengan prevensinya (Halim, 2002:59).
4. Risiko investasi pada saham
Pengertian dasar risiko terkait dengan keadaan adanya ketidakpastian dan
tingkat ketidak pastiannya terukur secara kuantitatif. Risiko merupakan suatu
subyek yang memiliki ukuran kuantitas dan dapat diketahui tingkat probabilitas
kejadiaannya serta memiliki data pendukung mengenai kemungkinan
kejadiaannya. Risiko dalam kontek manajemen investasi merupakan besarnya
penyimpangan antara tingkat pengembalian yang diharapkan dengan tingkat
pengembalian yang dicapai secara nyata.
Prevensi investor terhadap risiko dibagi menjadi tiga (Halim, 2002:38) :
1. Investor yang suka terhadap risiko (risk seeker) merupakan investor yang
apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan
tingkat pengembalian yang sama dengan risiko yang berbeda, maka
orang tersebut akan lebih suka mengambil investasi dengan risiko
yang lebih besar. Karakteristik investor jenis ini bersikap agresif dan
spekulatif dalam mengambil keputusan investasi
2. Investor yang netral terhadap risiko (risk neutrality) merupakan investor
yang akan meminta kenaikan tingkat pengembalian yang sama untuk
setiap kenaikan risiko. Investasi jenis ini umumnya cukup flexible dan
bersikap hati-hati (prudent) dalam mengambil keputusan investasi.
3. Investor yang tidak suka terhadap risiko (risk averter) merupakan investor
yang apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan
tingkat pengembalian yang sama dengan risiko yang berbeda, maka
lebih suka mengambil investasi dengan risiko yang lebih kecil.
Karakteristik investor jenis ini cenderung selalu mempertimbangkan
secara matang dan terencana atas keputusan investasi.
Dalam kontek portofolio risiko dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Risiko sistematis. Merupakan risiko yang tidak dapat dihilangkan atau
dikurangi dengan cara penggabungan berbagai risiko
(Djohanputro,2006:18).
2. Risiko tidak sistematis. Merupakan risiko yang dapat dihilangkan dengan
jalan diversifikasi, karena risiko ini hanya ada dalam satu perusahaan
atau industri tertentu.
5. Return dalam investasi
Dalam konteks manajemen investasi return merupakan imbalan yang diperoleh
dari investasi. Return ini dibedakan menjadi dua, pertama return yang telah
terjadi (actual return) yang dihitung dengan menggunakan data historis, dan
kedua return yang diharapkan (expected return) akan diperoleh investor di
masa mendatang (Halim, 2002:30).
Komponen return meliputi (Halim, 2002:30) :
1). Capital gain (loss) merupakan keuntungan (kerugian) bagi investor yang
diperoleh dari kelebihan harga jual (harga beli) di atas harga beli (harga
jual) yang keduanya terjadi dipasar sekunder.
2). Yield merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima investor secara
periodik, misalnya berupa dividen atau bunga. Yield dinyatakan dalam
persentase dari modal yang ditanamkan.
Expected return secara sederhana adalah rata-rata tertimbang dari berbagai
return historis, faktor penimbangnya adalah probabilitas masing-masing return.
Sedangkan untuk expected return pada portofolio adalah rata-rata tertimbang
dari expected return saham individual, faktor penimbangnya adalah proporsi
dana yang diinvestasikan pada masing-masing saham (Halim, 2002:31).
6. Investasi syariah
Dalam Islam dikenal syariah, sebagai Gods laws atau Islamic Laws, yang
mengatur persoalan ibadah dan muamalah. Syariah adalah seperangkat dos &
donts, mengatur yang dibolehkan dan dilarang. Landasan syariah adalah
kebijaksanaan dan kebahagian manusia di dunia dan akhirat. Kesejahteraan ini
terletak pada keadilan, kasih sayang, kesejahteraan, dan kebijaksanaan.
Tujuan syariah yang paling dasar adalah memajukan kesejahteraan manusia
yang terletak pada jaminan atas keyakinan, intelektual, masa depan, dan harta
milik (Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Alam al-Muwaqqiin, dalam Achsien
2003:1).
Kehidupan sosial ekonomi, termasuk sistem keuangan dan instrumentasinya,
tidak pula luput dalam pengaturan tersebut, dan dalam hal ini jatuh kepada
lingkup shariah muamalah. Islamic Finance adalah syariah based finance,
keuangan yang secara logis menggunakan prinsip, prosedur, asumsi, sekaligus
instrumentasi, dan aplikasi dari nilai epistimologi (sumber pengetahuan) Islam.
Industri Islamic fiinancial services merupakan industri yang tumbuh paling
cepat secara global, rata-rata sebesar 10% sampai 15% per tahun (Achsien,
2003:2).
Berkembangnya Islamic finance merupakan representasi masuknya hukum-
hukum religius dalam wilayah kehidupan komersial. Islamic finance menantang
hukum komersial sekuler yang diasumsikan lebih efisien dan superior,
menantang hukum komersial yang memisahkan dirinya dari pertimbangan
religius dan kepatuhan ajarannya.
Konsep diskonto sangat penting dalam teori analisis modal dan investasi.
Secara praktis, digunakan dalam evaluasi proyek ataupun keputusan investasi.
Dalam capital and interest dan Positive Theory of Capital memang
menyebutkan bahwa positive time preference merupakan pola ekonomi yang
normal, sistematis, dan rasional. Diskonto dalam posotive time preference ini
didasarkan pada, atau paling tidak berhubungan intim dengan, tingkat bunga
(interest rate).
Perbedaan pendapat terjadi pada saat suatu rate tertentu digunakan sebagai
faktor diskonto. Yang satu menganggap dilarang karena Islam melarang
adanya riba, di pihak lain, ditemukan adanya praktek penjualan dalam bentuk
bay as-salam dan bay muajjal yang ternyata tidak dilarang dalam
Islam.pendapat yang membolehkan penggunaan rate sebagai faktor diskonto
didasarkan pada alasan bahwa discount rate dan interest rate merupakan dua
hal yang berbeda. Dan faktor diskonto ini diperlukan secara definitif untuk
kepentingan effisiensi. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah
supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS 3:130).
Islamic capital market dalam perkembangannya saat ini telah mempunyai Dow
Jones Islamic Index (DJII) untuk portofolio pasar internasional, RHB Islamic
Index di Malaysia dan Jakarta Islamic Index (JII) di Indonesia yang dapat
dijadikan benchmark untuk market portofolio. Namun, hal ini memunculkan
permasalahan untuk penggunaan risk free rate yang dalam proxi Barat
menggunakan T-Bills rate. Secara teoritis tidak ada yang ekuivalen dengan
Islamic market, karena tidak diizinkan pemerintah meminjam dengan basis
bunga. Dalam melakukan perhitungan portofolio optimal untuk memperoleh
variabel i atau return aktiva bebas risiko (RBR) yang biasa menggunakan
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk konvensional, sedangkan untuk portofolio
dengan indeks syariah menggunakan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI)
yang merupakan instrumen moneter berdasarkan prinsip syariah. Al-wadiah
dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu
atau badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip
menghendaki. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan
amanat (titipan), kepada yang berhak menerimanya..... (an-Nisaa:58).
Al-wadiah dalam penggunaannya dibedakan menjadi dua, pertama wadiah
yad al-amanah (tangan amanah), artinya ia tidak bertanggungjawab atas
kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada aset titipan selama hal itu bukan
akibat dari kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara
barang titipan. Kedua wadiah yad adh-dhamanah (tangan penanggung) yang
bertanggung jawab atas segala kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada
barang tersebut (Antonio Syafii; 2001:86). Aplikasi perbankan dalam Sertifikat
Wadiah Bank Indonesia (SWBI) mengacu pada wadiah yad adh-dhamanah
karena dalam hal ini bank memanfaatkan al-wadiah untuk tujuan current
account (giro) dan saving account (tabungan berjangka). Bank sebagai
penerima titipan, sekaligus juga pihak yang telah memanfaatkan dana tersebut,
tidak dilarang untuk memberikan semacam insentif berupa bonus dengan
catatan tidak disyaratkan sebelumnya dan jumlahnya tidak ditetapkan dalam
nominal atau presentase secara advance, tetapi betul-betul merupakan
kebijaksanaan dari manajemen bank.
Gambar 2.1
Skema al-Wadiah Yad adh Dhamanah


NASABAH
Muwaddi
(Penitip)
Bank
Mustawda
(Penyimpan)
Users Of Fund
(Dunia usaha)




Keterangan :
Dengan konsep al-Wadiah yad adh-dhamanah, pihak yang menerima
titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang
dititipkan. Pihak bank dalam hal ini mendapatkan bagi hasil dari pengguna
dana. Bank dapat memberikan insentif kepada penitip dalam bentuk bonus
(Antonio Syafii; 2001:88).
7. Model indeks tunggal
Model indeks atau model faktor mengasumsikan bahwa tingkat pengembalian
sutau efek sensitif terhadap perubahan berbagai macam faktor atau indeks.
Sebagai proses perhitungan tingkat pengembalian, suatu model indeks
berusaha untuk mencakup kekuatan ekonomi utama yang secara sistematis
dapat menggerakkan harga saham untuk semua efek. Secara implisit, dalam
kontruksi model indeks terdapat asumsi bahwa tingkat pengembalian antara
dua efek atau lebih akan berkorelasi (Halim,2005:82).
Suatu pernyataan formal mengenai hubungan itu adalah model indeks atau
model faktor dari tingkat pengembalian efek. Hasilnya, dapat memberikan
informasi yang diperlukan untuk menghitung ER, varians, dan covarians setiap
efek sehingga dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik sensitivitas
portofolio terhadap perubahan faktor atau indeks (Halim,2005:82).
Model indeks tunggal dapat digunakan sebagai alternatif dari model Markowitz
untuk menentukan efficient set dengan perhitungan yang lebih sederhana.
Model Indeks Tunggal merupakan penyederhanaan dari model Markowitz
Model Indeks Tunggal dikembangkan oleh William Sharpe (1963) yang disebut
dengan single-index model, yang dapat digunakan untuk menghitung return
ekspektasi dan risiko portofolio.
Model indeks tunggal didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu
sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar, karena return dari
suatu sekuritas dan return dari indeks pasar.
Model ini mengasumsikan bahwa tingkat pengembalian antara dua efek atau
lebih akan berkorelasi yaitu akan bergerak bersama dan mempunyai reaksi
yang sama terhadap satu faktor atau indeks tunggal yang dimasukkan dalam
model. Faktor atau indeks tersebut adalah Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) (Halim,2005:82). Tujuan penggunaan model indeks tunggal adalah
untuk menyederhanakan perhitungan portofolio model Markowitz. Pada
portofolio model Markowits dibutuhkan parameter-parameter input berupa:
1). Tingkat keuntungan yang diharapkan masing-masing saham.
2). Variance masing-masing saham.
3). Covariance antar saham-saham.
Perhitungan portofolio optimal akan sangat dimudahkan jika hanya didasarkan
pada sebuah angka yang dapat menentukan apakah suatu sekuritas dapat
dimasukkan ke dalam portofolio optimal tersebut. Angka tersebut adalah rasio
antara ekses return dengan beta (excess return to beta). Excess return dapat
didefinisikan sebagai selisih return ekspektasi dengan return aktiva bebas
risiko. Excess return to beta berarti mengukur kelebihan return relatip terhadap
satu unit risiko yang tidak dapat dideversifikasikan yang diukur dengan Beta.
Rasio ERB ini juga menunjukkan hubungan antara dua faktor penentu
investasi, yaitu return dan risiko (Jogiyanto,2000:225).
1. Kerangka pikir
Kerangka pikir atau disebut juga kerangka konseptual merupakan model
konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang
telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Suatu kerangka pikir akan
memberikan penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi masalah
penelitian.
Peneliti dalam hal ini mengungkapkan bagaimana proses, logika atau
rasionalitas kemungkinan terjadinya portofolio saham yang optimal pada saham-
saham Jakarta Islamic Index. Seorang investor yang rasional dalam menentukan
keputusan investasi pasti akan memilih berinvestasi pada saham portofolio
optimal karena saham ini mempunyai tingkat risiko rendah dengan tingkat
pengembalian tertentu. Untuk membentuk suatu portofolio saham yang optimal
seorang investor dapat menggunakan model indeks tunggal sebagai alternatif
dari model Markowitz untuk menentukan efficient set dengan perhitungan yang
lebih sederhana. Model ini mengasumsikan bahwa tingkat pengembalian antara
dua efek atau lebih akan berkorelasi yaitu akan bergerak bersama dan
mempunyai reaksi yang sama terhadap satu faktor atau indeks tunggal yang
dimasukkan dalam model. Hasil perhitungan yang didapat dengan menggunakan
model indeks tunggal akan menghasilkan saham portofolio optimal yang nantinya
dapat digunakan investor sebagai bahan pertimbangan apakah nantinya akan
melakukan investasi pada saham tersebut apakah tidak.
Gambar 2.2
Prosedur Pembentukan Portofolio Optimal

















Saham-saham
Jakarta Islamic Index
Investor
Analisis Portofolio
Optimal
Model Indeks Tunggal
Portofolio Optimal
Keputusan Investasi
Model Indeks Ganda
Pasar Modal
IHSG, LQ 45
Jakarta Islamic Index
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1. Jenis penelitian
Penelitian ini adalah studi kasus dalam arti bahwa implikasi dan hasil penelitian
ini hanya dapat diterapkan pada perdagangan Jakarta Islamic Indeks.
2. Jenis dan Sumber data
Jenis data yang digunakan adalah dokumenter yang diperoleh dari data
sekunder yang berupa harga saham dan indeks JII bulanan serta data Sertifikat
Wadiah Bank Indonesia bulanan selama periode 2004-2006.
2. Teknik Pengumpulan data
Menggunakan teknik dokumentasi, dengan mengumpulkan data-data yang
diperlukan untuk analisa pada perusahaan yang telah dipilih sebagai populasi
dan telah dipublikasikan dalam Jakarta Islamic Indeks
F. Populasi dan Sampel
Penelitian ini populasinya adalah seluruh saham-saham yang tercatat di Jakarta
Islamic Index yang berjumlah 30 perusahaan. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode purposive sampling yaitu
pengambilan sampel yang dilakukan terhadap populasi yang memiliki kriteria
tertentu yaitu :
1. Saham-saham yang selalu tercatat dalam Jakarta Islamic Index periode
2004 2006.
2. Saham-saham yang mempunyai rasio keuangan lengkap periode 2004
2006.
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan terdapat 10 perusahaan yang dapat
dijadikan sampel penelitian diantaranya ANTM (Aneka Tambang,Tbk), GJTL
(Gajah Tunggal, Tbk), INDF (Indofood Sukses Makmur, Tbk), INTP (Indocement
Tunggal Prakasa, Tbk), ISAT (Indosat, Tbk), MEDC (Medco Energi Internasional,
Tbk), TLKM (Telekomunikasi Indonesia, Tbk), UNTR (United Tractors, Tbk),
UNVR (Unilever Indonesia, Tbk), SMCB (Semen Cibinong, Tbk).
G. Definisi operasional variabel
a. Return aktiva bebas risiko (RBR) menggunakan Sertifikat Wadiah
Bank Indonesia (SWBI) yang merupakan indikator moneter untuk
mengatasi kelebihan likuiditas pada perbankan syariah Satuan (%).
b. Expected return saham individual E(Ri) merupakan tingkat
pengembalian yang diharapkan dari masing-masing sekuritas.
c. Beta adalah pengukur risiko sistematik dari suatu sekuritas atau
portofolio relatif terhadap risiko pasar.
d. Variance adalah suatu pengukur risiko yang merupakan kuadrat dari
deviasi standar.
e. ERB adalah suatu angka yang dapat menentukan apakah suatu
sekuritas dapat dimasukkan ke dalam portofolio optimal atau tidak.
f. Ci adalah nilai C untuk sekuritas ke i yang dihitung dari kumulasi nilai-
nilai Ai sampai AJ dan nilai Bi sampai dengan BJ.
g. Proporsi dana masing-masing portofolio adalah sejumlah angka yang
menunjukkan berapa jumlah dana yang nantinya akan diinvestasikan
dalam portofolio saham.
H. Teknik Analisa Data
Analisis pembentukan portofolio yang optimal dapat dilakukan dengan
langkah sebagai beikut :
1. Menghitung tingkat pengembalian saham individual :
1
1

=
t
t t
it
P
P P
R
(Jogiyanto; 2003:111)
Keterangan :
it
R
= tingkat pengembalian individual
t
P
= harga investasi sekarang
1 t
P
= harga investasi periode lalu
2. Menghitung tingkat pengembalian pasar
1
1

=
t
t t
m
IHSG
IHSG IHSG
R
(Jogiyanto; 2003:232)
Keterangan :
m
R
= Return pasar
t
IHSG
= Indeks harga saham gabungan periode t
1 t
IHSG
= indeks harga saham gabungan sebelum periode t

3. Menentukan nilai dari Beta( ) | :
( ) ( )( )
( ) ( )
2 2
X X n
Y X XY n


= |
(Halim, 2005 : 85)
4. Menentukan nilai Alpha :

X Y a | = rata-rata Y atau rata-rata X (Halim, 2005 : 85)
5. Varians residual :
( ) { }
mi i i i ei
R R | o o + =
2
(Halim, 2005 : 85)
6. Koefisien korelasi :
( )
( ) ( )( )
( ) ( ) { } ( ) ( ) { }
2 2 2 2
,
Y Y n X X n
Y X XY n
m A


=
(Halim, 2005 : 85)
7. Excess return to beta ratio. Rasio ini adalah :
( )
i
BR i
R R E
i
ERB
|

=
(Jogiyanto; 2003:254)
Keterangan :
i
ERB = excess return to beta sekuritas ke-i
( )
i
R E = return ekspektasi berdasarkan model indeks ganda untuk
sekuritas ke-i
BR
R
= return aktiva bebas risiko menggunakan sertifikat Wadiah Bank
Indonesia (SWBI)
i
|
= Beta sekuritas ke-i
8. Kemudian hitung nilai Ai dan Bi untuk masing-masing sekuritas ke-i
sebagai berikut:

( ) | |
2
.
ei
i BR i
i
R R E
A
o
|
= dan
2
2
ei
i
i
B
o
|
=
Notasi :
2
ei
o = varian dari kesalahan residu sekuritas ke-i yang juga merupakan
risiko unik atau risiko tidak sistematik. (Jogiyanto; 2003:254)
9. Hitung nilai Ci rumusnya sebagai berikut :

i
n
i
BR
BR i
n
i
i
B R
R A
C
1
1
. 1
.
=
=
+

=
(Jogiyanto; 2003:254)
10. Setelah sekuritas yang membentuk portofolio optimal telah dapat
ditentukan dicari besarnya proporsi untuk sekuritas ke-i adalah sebesar :
i
k
j
i
i
X
X
W

=
=
1
dan,
nilai Xi sebesar : ( )
*
2
C ERB X
i
ei
i
i
=
o
|
(Jogiyanto; 2003:258)
Keterangan :
Wi = proporsi sekuritas ke-i
Xi = proporsi sekuritas ke-i
K = jumlah sekuritas di portofolio optimal
i
| = Beta sekuritas ke-i
2
ei
o = varian dari kesalahan residu sekuritas ke-i
ERBi = excess return to Beta sekuritas ke-i
C* = nilai cut off point yang merupakan nilai Ci terbesar.
11. Menentukan return ekspektasi portofolio yang merupakan rata-rata
tertimbang dari return-return ekspektasi masing-masing sekuritas tunggal
di dalam portofolio :
( ) { }
i i
n
i
p
R E W R E . ) (
1

=
=
(Jogiyanto; 2003:148)
Keterangan :
E(Rp) = return ekspektasi dari portofolio
Wi = porsi dari sekuritas i terhadap seluruh sekuritas di portofolio
E(Ri) = return ekspektasi dari sekuritas ke i
n = jumlah dari sekuritas tunggal.
12. Risiko portofolio :
2
1
2
2
1
2
. . . |
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
=

= =
n
i
ei m
n
i
Wi i Wi p o o | o
(Jogiyanto; 2003:248)
Keterangan :
2
p
o
= risiko portofolio
Wi = proporsi sekuritas
i
| = beta yang mengukur koefisien yang mengukur perubahan Ri
akibat dari perbedaan Rm
2
ei
o
= varian residu
2
m
o
= varian pasar.