Anda di halaman 1dari 9

Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukan kinerja yang baik.

Perekonomian Sulsel pada triwulan III-2011 tumbuh cukup tinggi sebesar 8,35% (y.o.y), atau lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2010 (7,39%) dan sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,63%

(sumber: Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan). Perekonomian Sulsel pada triwulan III-2011 masih tumbuh di atas pertumbuhan nasional yang sebesar 6,5% (y.o.y).

Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2012 mencapai Rp. 36.075,5 milyar, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp. 13.924,5 milyar. Pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan I-2012 dibandingkan triwulan IV-2011, yang diukur dari kenaikan PDRB meningkat sebesar 1,18 persen (q-to-q). Pertumbuhan ini didukung oleh sektor Pertanian dan sektor Industri Pengolahan yang tumbuh di atas 5 persen. Penggerak pertumbuhan sektor Pertanian yang bisa mencapai 6,17 persen (pertumbuhan tertinggi) adalah sub-sektor Tanaman Bahan Makanan yang tumbuh hingga 18,09 persen. PDRB Sulsel pada triwulan I-2012 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2011 (y-on-

y) mengalami pertumbuhan sebesar 6,25 persen. Pertumbuhan ini didukung oleh semua sektor ekonomi yang tumbuh positif, kecuali sektor Pertanian yang mengalami kontraksi sebesar 4,8 persen dan sektor Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi 7,6 persen. Pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor Listrik, Gas, dan Air yang mencapai angka 22,02 persen. Struktur perekonomian Sulsel pada triwulan I-2012 masih didominasi oleh sektor Pertanian yang menyumbang 23,79 persen terhadap total ekonomi, sektor Perdagangan, Restoran, dan Hotel yang menyumbang 18,22 persen, dan sektor Jasa-jasa yang menyumbang sekitar 17,92 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan I-2012 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2011 (y on y) didukung oleh kenaikan seluruh komponen pengeluaran, kecuali Ekspor yang terkontraksi sekitar 17,12 persen dan Impor yang tumbuh -7,93 persen. Komponen PMTB memberikan pertumbuhan tertinggi hingga 22,58 persen. Pada triwulan I-2012 dibandingkan dengan triwulan IV-2011, Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga secara riil meningkat sebesar 1,15 persen, Pengeluaran Konsumsi LNPRT sebesar 0,09 persen, sedangkan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah turun sebesar 4,1 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto turun 2,01 persen. Ekspor Barang dan Jasa juga turun sebesar 7,2 persen dan Impor Barang dan Jasa turun sebesar 10,03 persen. Masih dari sisi Pengeluaran, pada triwulan I-2012 komponen Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga masih mempunyai kontribusi terbesar terhadap PDRB Sulsel, yakni 49,39 persen, turun sekitar 0,06 poin dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (49,55 persen). Sementara kontribusi komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT sebesar 0,81 persen merupakan kontribusi terendah. Dari sisi penawaran (sektoral), secara tahunan (y.o.y) seluruh sektor mengalami pertumbuhan positif. Beberapa sektor menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan yaitu pertanian, perdagangan-hotelrestauran, keuangan-persewaanjasa perusahaan dan industri pengolahan.

Dibandingkan triwulan II-2011, secara umum sektor-sektor perekonomian di Sulsel mengalami peningkatan pertumbuhan pada triwulan laporan kecuali 4 (empat) sektor, yaitu sektor pertanian, pertambangan-penggalian, perdagangan-

hotel-restoran dan jasa-jasa yang pertumbuhannya melambat pada level yang moderat. Sektor keuangan-persewaan-jasa perusahaan merupakan sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada triwulan III-2011, yaitu hingga mencapai 20,60% (yoy). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor keuangan-jasa perusahaan, diikuti berturut-turut oleh sektor konstruksi, angkutan-komunikasi, perdagangan-hotel-restoran, industri pengolahan, pertanian, jasa-jasa, listrik-gasair bersih dan pertumbuhan terendah tercatat pada sektor pertambanganpenggalian.

Perlambatan pertumbuhan sektor pertanian dimaksud, juga dicerminkan oleh menurunnya pertumbuhan indeks yang diterima petani yang juga relatif menurun dibandingkan periode sebelumnya (grafik 1.6.1 dan 1.6.2) yang mencerminkan pertumbuhan hasil panen yang relatif belum optimal. Secara keseluruhan, kesejahteraan petani masih baik yang tercermin pada Indeks Nilai Tukar Petani yang meningkat karena penurunan pertumbuhan indeks yang dibayarkan petani lebih besar daripada yang diterima petani. Dibandingkan triwulan III-2010 yang tumbuh sebesar 6,42% (y.o.y), pertumbuhan kinerja sektor pertanian pada periode laporan tercatat sedikit lebih kecil. Pada triwulan III-2011, kinerja sektor perkebunan tidak optimal.

Analisis Sektor Pertanian Sulawesi Selatan Industri pengolahan hasil pertanian di Indonesia khususnya Propinsi Sulawesi Selatan, semakin hari semakin terfragmentasi, tak terintegrasi dengan sektor pertanian sebagai hulunya. Industri pengolahan kakao, misalnya, memasok bahan baku impor, sementara Indonesia banyak mengekspor biji kakao. Karena buruknya penanganan pascapanen atau tidak adanya industri pengolah antara, industri hilir menjadi tidak efisien jika memanfaatkan bahan baku hasil pertanian dalam negeri. Selain tidak terintegrasi optimal dengan industri pengolahan, hasilhasil pertanian juga tak jarang kalah bersaing dengan produk impor di pasar

konsumsi domestik. Survei Asia Foundation seperti dikutip Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menunjukkan, biaya distribusi di Indonesia lewat jalan darat paling mahal dibandingkan dengan Malaysia, Vietnam, Thailand, dan China. Kualitas jalan yang buruk, pungutan liar oleh aparat jembatan timbang, kepolisian, tentara, dinas perhubungan, sampai preman, dan tumpang tindih retribusi pemerintah daerah membuat produk kita sulit bersaing dengan produk impor sejenis. Sektor pertanian, sudah tentu memakan waktu yang dimulai dari pembukaan lahan, penanaman bibit, perawatan, dan seterusnya. Belum lagi jika sebagian lahan terserang hama atau penyakit. Akhirnya, impor bahan baku lebih diprioritaskan untuk mendukung industri hilir. Kondisi ini yang terjadi pada industri gula nasional. Semestinya, pemerintah kita tidak terbujuk rayuan negara lain untuk lebih mendorong ekspor bahan baku mentah. Sudah semestinya pemerintah lebih tegas dengan menciptakan pasar domestik bagi produk lokal sambil meminta importir bahan mentah mendirikan industri bahan jadi di Indonesia. Mereka yang mau melakukannya harus diberi berbagai insentif fiskal dan moneter supaya lebih bergairah mendirikan industri hilir pertanian yang terintegrasi dengan hulu. Kelapa sawit, karet, kakao, kopi, tebu, sampai jagung semuanya andalan pertanian kita. Sudah cukup bangsa kita menjadi petani tanpa pernah mengecap keberhasilan industrialisasi pertanian. Seribu langkah pun dimulai dari satu langkah. Dalam waktu 10 tahun, Indonesia pasti menjadi negara industri pertanian termaju di dunia.

Negara Pertanian Termaju Dunia Jepang merupakan negara kepulauan yang terletak di kawasan Asia Timur, tepatnya di sebelah Timur daratan Semenanjung Korea. Secara astronomis, Jepang berada antara 30LU - 46LU dan 128BT - 179BT. Luas negara ini sekitar 377.837 km dengan jumlah penduduk mencapai 127.333.000 jiwa. Berdasarkan kedua indikator tersebut, rata-rata kepadatan penduduk Jepang sekitar 323 jiwa/ km. Sebagai negara kepulauan, Jepang memiliki beberapa pulau besar sebagai pulau utama, yaitu Honshu (pulau terluas sekaligus letak ibukota

Jepang, Tokyo), Hokkaido, Kyushu, dan Shikoku. Selain itu, terdapat lebih dari 3.000 pulau kecil yang mengelilinginya. Di bidang perekonomian, Jepang banyak memegang peran penting, pendapatan perkapitanya yang tinggi (mencapai 31.410 US dollar) serta kestabilan mata uangnya mengantarkan Jepang sebagai salah satu negara maju di kawasan Asia. Di percaturan dunia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan mendapat julukan Macan Asia karena kemampuan negara - negara tersebut dalam memperkukuh pengaruh perekonomiannya di kawasan Asia. Daratan Jepang memiliki banyak gunung dan pegunungan, sehingga topografinya relatif kasar. Kondisi ini menyebabkan Jepang memiliki luas wilayah pertanian yang tidak begitu luas, yaitu hanya 16% dari seluruh wilayah daratannya. Akan tetapi, meskipun luas wilayah pertaniannya relatif sempit, Jepang ternyata mampu menghasilkan produk pertanian yang berkualitas. Hal ini dipengaruhi oleh kesuburan tanah dan kemampuan sumber daya manusia dalam mengolah dan berinovasi di bidang pertanian, terutama dalam pemanfaatan teknologi dalam menciptakan varietas - varietas baru unggulan, pupuk, alat - alat pertanian dan obat - obatan. Jika dibandingkan dengan Jepang, potensi pertanian Indonesia sangat melimpah,baik dalam besarnya kawasan maupun tingkat keragamannya. Fakta ini didukung oleh jumlah sumber daya manusia (SDM) yang cukup besar dan mampu terserap oleh sektor tersebut. Namun sayangnya, fakta lain menjelaskan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya pertanian masih berada pada garis kemiskinan. Sejauh ini telah ada kebijakan pemerintah untuk mengadopsisistem pertanian negara Jepang yaitu model pertanian OVOP (One Village One Product) yang tujuan adalah untuk mengembangkan komoditi pasar lokal menjadi komoditi ekspor. Model program OVOP ini berada pada pendekatan pengembangan potensi daerah di suatu wilayah untuk mempromosikan produk inovatif dan kreatif lokal berdasarkan potensi sumber daya yang ada. Model ini melibatkan peran seluruh pihak yang dalam sebuah negara, baik pemerintah, swasta, edukator, peneliti dan masyarakat. Dalam hal ini, pemberdayaan petani yang dilakukan menghasilkan cooperative entrepreneurship, di mana ada insiatif pelaku usaha untuk

memberikan value added pada sumberdaya lokal dan pengembangan kapasitas SDM melalui pelatihan. Pemerintah sebagai regulator merupakan dasar dari kelancaran program pengembangan sektor pertanian. Pemerintah menetapkan peraturan dan ketepatan dalam mengatur, membina, merencanakan dan mengawasi kelangsungan program. Edukator dan peneliti merupakan satu kesatuan dalam pengembangan sistem. Peneliti berperan sebagai perancang dan pengembang sistem termasuk memperbaiki dan membuat inovasi unsur-unsur sistem. Rancangan sistem kemudian disosialisasikan oleh edukator sebagai tenaga pendidik, penyuluh, dan pembimbing dalam mengembangkan komoditas dan memberdayakan pelakupelaku sektor pertanian terutama petani. Pihak swasta berperan sebagai penunjang permodalan dan pengadaan barang dan jasa. Pembiayaan permodalan dilakukan oleh bank, lembaga keuangan bukan bank maupun perusahaan pembiayaan. Pengadaan barang berfungsi untuk memfasilitasi sektor pertanian seperti alat atu mesin pertanian, industri penghasil pupuk, pestisida, bibit unggul, industri pengolah pertanian, dan lain-lain. Pengadaan jasa berfungsi untuk menjembatani pemasaran dan distribusi aliran produk/output yang telah diolah. Sedangkan masyarakat pada akhirnya akan berfungsi sebagai pengawas sosial yang mengawasi jalannya program yang dilakukan pemerintah. Dalam mengadopsi program OVOP ini, ada 3 aspek dasar yang harus dipenuhi yaitu : 1) Lokalitas produk mampu memenuhi pasar global 2) Masyarakatnya mampu bekerja secara mandiri 3) SDM memiliki mental siap dididik dan dibina. Apabila dalam sebuah kawasan memiliki potensi ketiga aspek tersebut, maka program OVOP akan sangat mudah untuk diterapkan. Contoh berbagai produk binaan program OVOP Oita, Jepang: 1) Jeruk KABOSU OITA, setelah dikemas menarik, daya jualnya meningkat dengan sangat signifikan, sehingga mampu mensejahterakan petani jeruk sekitar.

2) Menjual potensi daerah melalui program pariwisata, sebagai contoh di Nagaoka, dimana SDA terbatas, yang digarap adalah seni pertunjukkkan musik klasik. Walaupun di kota ini belum dibangun gedung pertunjukan music, tetapi masyarakat setempat dapat meminjam gedung sebuah sekolah untuk mengadakan pertunjukan music dengan mengundang musisi-musisi ternama. Tahun 1979, saat itu kota OITA jarang sekali dikunjungi wisatawan, kemudian dibuatlah program homestay bagi pelajar dan mahasiswa untuk menginap dalam jangka waktu tertentu di rumah penduduk. Dengan cara seperti ini terjadi pertukaran informasi dan budaya, sehingga bersama-sama penduduk setempat dan pendatang membangung tanah pertanian di desa sehingga menarik dan dapat dijadikan agrowisata. Dampak positif dari program ini adalah dengan meningkatnya sumber pemasukan dari agrobisnis secara sangat signifikan dibandingkan dengan industri motor. Dalam kasus pembangungan daerah di Jepang, ditanamkan kesadaran bahwa negara agraris sebaiknya mengolah lahan agrari seoptimal mungkin, daripada mengembangkan industry motor yang SDAnya tidak mampu dipenuhi secara kontinyu. Kekuatan dalam mengolah ide orisinil dalam OVOP bergantung pada mental dan pola piker masyarakatnya serta kekuatan potensi kawasan lokal. Dukungan dari pihak pemerintah seperti bantuan dari program litbang pertanian Jepang, adanya badan riset nasional yang menjalin kerjasama dengan pusat pelatihan kriya, sehingga informasi material, teknik dan energi terus dapat dikembangkan. Dalam hal pelatihan teknologi, didukung oleh lembaga riset dan eksperimen tingkat provinsi (Balai Besar), bersama-sama dengan lembaga pengembangan dan improvisasi produk tingkat provinsi. Hal yang paling berat dalam menadopsi program OVOP adalah saat harus membangun SDM lokalnya. Jepang membangun SDM dengan slogan : Practice, Enlighten and Continuance dimana sumber daya manusia dididik untuk selalu mau berlatih, memiliki mental belajar, dan mampu melihat pentingnya peranan kesinambungan dalam bekerja.

Bila terjadi kegagalan, segeralah mencari penyebab kegagalan, analisa masalah tersebut dan harus terus mencoba solusi masalah dan pantang mundur. Berikut ini adalah 6 hal yang perlu dilakukan untuk keberhasilan program OVOP: 1) Membangun kesadaran dan wawasan masyarakat 2) Mampu mengidentifikasi masalah 3) Kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi setiap masalah yang datang 4) Mampu meningkatkan nilai jual sebuah produk 5) Adanya jaminan ketersediaan rute/ jalur perdagangan 6) Pendidikan SDM