Anda di halaman 1dari 43

BAHAYA MERKURI TERHADAP STRUKTUR DAN FUNGSI BIOMOLEKUL

Yafet Eleanore (G84070040)

Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

Pendahuluan
Aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan kadang menghasilkan dampak terhadap lingkungan. Dampak tersebut dapat berupa dampak positif maupun negatif. Salah satu dampak negatif akibat aktivitas manusia adalah turunnya kualitas lingkungan hidup. Sebagai contoh turunnya kualitas tanah akibat pencemaran limbah yang dihasilkan oleh manusia, baik limbah rumah tangga, industri, maupun pertanian. Salah satu faktor pencemaran tanah yang paling penting adalah limbah logam berat. Logam berat merupakan istilah yang digunakan untuk unsur-unsur transisi yang mempunyai massa jenis atom lebih besar dari 6 g/cm3. Merkuri (Hg), timbal (Pb), tembaga (Cu), kadmium (Cd) dan stronsium (Sr) adalah contoh logam berat yang berupa kontaminan yang berasal dari luar tanah dan sangat diperhatikan karena berhubungan erat dengan kesehatan manusia, pertanian dan

ekotoksikologinya (Darmono 1995). Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat dapat dibagi dalam dua jenis. Jenis pertama adalah logam berat esensial, yang keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun. Contoh logam berat ini adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn, dan lain sebagainya. Sedangkan jenis kedua adalah logam berat tidak esensial atau beracun, yakni keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cr, dan lain-lain. Logam berat ini dapat menimbulkan efek kesehatan bagi manusia tergantung pada bagian mana logam berat tersebut terikat dalam tubuh. Daya racun yang dimiliki akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim, sehingga proses metabolisme tubuh terputus. Lebih jauh lagi, logam berat ini akan bertindak sebagai penyebab alergi, mutagen, teratogen

atau karsinogen bagi manusia. Jalur masuknya adalah melalui kulit, pernapasan dan pencernaan (Aninomousa 2006). Pangan yang dikonsumsi sehari-hari merupakan hasil pertanian. Pangan seharusnya memenuhi kriteria ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Makanan yang bermutu baik dan aman diperlukan untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan individu dan kemakmuran masyarakat. Menurut Ardiansyah (2006) pangan yang aman adalah pangan yang tidak mengandung bahaya biologi atau mikrobiologi, bahaya kimia, dan bahaya fisik. Bahaya biologis atau mikrobiologis terdiri dari parasit (protozoa dan cacing), virus, dan bakteri patogen yang dapat tumbuh dan berkembang di dalam bahan pangan, sehingga dapat menyebabkan infeksi dan keracunan pada manusia. Adanya virus dan protozoa dalam makanan atau bahan pangan masih belum banyak yang diteliti dan diidentifikasi. Bahaya kimia pada umumnya disebabkan oleh adanya bahan kimia yang dapat menimbulkan terjadinya intoksikasi. Bahan kimia penyebab keracunan

diantaranya logam berat (merkuri atau raksa/Hg). Cemaran-cemaran tersebut berasal dari cemaran industri, residu pestisida, hormon, dan antibiotika. Menurut Astawan (2005), logam-logam berat tersebut bila masuk ke dalam tubuh lewat makanan akan terakumulasi secara terus-menerus dan dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan gangguan sistem syaraf, kelumpuhan, dan kematian dini serta penurunan tingkat kecerdasan anak-anak. Sumber kontaminasi logam berat ada dua, yaitu lewat pencemaran udara dan dari bahan makanan. Pencemaran lewat udara terutama berasal dari asap buangan kendaraan bermotor. Data yang dikeluarkan Badan Pengawasan Dampak Lingkungan (Bapedal) DKI tahun 1998, kadar timbal di udara Jakarta ratarata telah mencapai 0,5 mg per meter kubik udara. Untuk kawasan tertentu, seperti terminal bus dan daerah padat lalu lintas, kadar timbal bisa mencapai 2-8 mg per meter kubik udara (Astawan 2005). Mengingat bahayanya akumulasi logam berat dalam lingkungan dan efek buruknya pada kesehatan, konsumen perlu pengetahuan tentang logam berat, sumber dan distribusi logam berat di lingkungan, mekanisme kontaminasi logam berat pada tubuh manusia, serta cara pencegahan akumulasinya. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran akan kesehatan terhadap pangan yang dikonsumsi, mengkonsumsi

pangan yang aman merupakan hal yang harus diperhatikan oleh produsen dan konsumen. Berdasarkan UU Pangan No. 7 tahun 1996, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, serta membahayakan kesehatan manusia (Ardiansyah 2006). Terungkapnya kasuskasus pencemaran pangan telah membangkitkan suatu chemophobia dalam masyarakat. Selain pencemaran melalui tanah, logam berat juga dapat mencemari perairan. Sejalan dengan meningkatnya industrialisasi, konsentrasi unsur logam berat di dalam perairan juga meningkat, sehingga memungkinkan tercapainya tingkat konsentrasi toksik bagi kehidupan akuatik. Salah satu logam berat yang terus meningkat konsentrasinya adalah merkuri. Dalam keseharian, pemakaian merkuri telah berkembang sangat luas. Merkuri digunakan dalam bermacammacam perindustrian, untuk peralatan-peralatan elektris digunakan untuk alat-alat ukur dalam dunia pertanian dan keperluan yang lainnya. Demikian luasnya pemakaian merkuri mengakibatkan semakin mudah pula organisme mengalami keracunan merkuri

Logam Berat Merkuri


Logam merkuri atau air raksa mempunyai nama kimia hydragyrum yang berarti perak cair (Palar 1994). Berdasarkan daya hantar panas dan listriknya, merkuri (Hg) dimasukkan dalam golongan logam. Sedangkan berdasarkan densitasnya, dimasukkan ke dalam golongan logam berat. Merkuri merupakan logam yang secara alami ada dan merupakan satu-satunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair. Logam murninya berwarna keperakan, cairan tak berbau, dan mengkilap. Bila dipanaskan sampai suhu 357C, Hg akan menguap. Merkuri dapat dijumpai di alam seperti di air dan tanah, terutama dari deposit alam, limbah industri dan aktivitas vulkanik (Anonimousa 2006). Selain untuk kegiatan penambangan emas, logam Hg juga digunakan dalam produksi baterai, kosmetik, dental amalgam, peralatan elekronik dan lampu, cat, pestisida, pharmacheutical, thermometer, dan peralatan-peralatan kendaraan bermotor (Yun 2004). Merkuri diperkenalkan pertama kali oleh bangsa Mesir kuno dan Romawi sebagai bahan

pemisah emas dari batuan tambang dan sejak itu pula pemanfaatan merkuri semakin luas di berbagai bidang industri (Widowati 2008). Merkuri dan senyawa-senyawanya tersebar luas di alam, mulai dari batuan, air, udara, dan bahkan dalam tubuh organisme hidup di alam. Umumnya kadar dalam tanah, air dan udara relatif rendah. Berbagai jenis aktivitas manusia dapat meningkatkan kadar ini, misalnya aktivitas penambangan yang dapat menghasilkan merkuri sebanyak 10.000 ton / tahun. Pekerja yang mengalami pemaparan terus menerus terhadap kadar 0,05 Hg mg / m3 udara menunjukkan gejala nonspesifik berupa neurastenia, sedangkan pada kadar 0,1 0,2 mg/m3 menyebabkan tremor. Dosis fatal garam merkuri adalah satu gram (Stern dan Smith 2003). Pada umumnya merkuri berbentuk logam padat dan merupakan salah satu elemen alami yang dapat ditemukan di berbagai lingkungan. Merkuri biasanya dijumpai dalam bentuk logam merkurium dan ion-ion merkuri. Siklus merkuri secara luas terjadi pada lingkungan, dan ketika di udara, merkuri akan terangkut secara global, secara regional maupun lokal (Palar 1994). Sumber utama merkuri di atmosfir adalah penguapan dari tanah dan air, disamping itu pembakaran fossil fuels terutama batubara. Kadar merkuri di udara akan naik dapat juga disebabkan oleh pembuangan sampah padat seperti termometer Hg, switch listrik, baterai, juga pemakaian cat yang mengandung Hg, anti jamur, dan pestisida serta pembakaran limbah minyak. Sumber utama pada air adalah buangan limbah industri (terutama industri tambang emas) dan proses pelapukan batuan karena pengaruh iklim (Donatus 2001). Menurut Palar (1994), secara umum logam merkuri mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: a. Berwujud cair pada suhu kamar (25oC) dengan titik beku paling rendah sekitar 39oC, sehingga mudah menyebar di permukaan air dan sulit dikumpulkan. b. Masih berwujud cair pada suhu 396oC, pada temperatur 396oC ini telah terjadi pemuaian secara menyeluruh. c. Merupakan logam yang paling mudah menguap jika dibandingkan dengan logam yang lain.

d. Tahanan listrik yang dimiliki sangat rendah, sehingga menempatkan merkuri sebagai logam yang sangat baik untuk menghantarkan daya listrik. e. Dapat melarutkan bermacam-macam logam untuk membentuk alloy yang disebut dengan amalgam. f. Merupakan unsur yang sangat beracun bagi semua makhluk hidup, baik itu dalam bentuk unsur tunggal (logam) ataupun dalam bentuk persenyawaan. Merkuri menurut Brodie ( 1979) memiliki sifat kimia dan fisika sebagai berikut: 1. Kelarutan rendah. 2. Sifat kimia yang stabil terutama di lingkungan sedimen. 3. Mempunyai sifat yang mengikat protein, sehingga mudah terjadi biokonsentrasi pada tubuh organisme air melalui rantai makanan. 4. Menguap dan mudah mengemisi atau melepaskan uap merkuri beracun walaupun pada suhu ruang. 5. Logam merkuri merupakan satu-satunya unsur logam berbentuk cair pada suhu ruang 25oC. 6. Pada fase padat berwarna abu-abu dan pada fase cair berwarna putih perak. 7. Uap merkuri di atmosfir dapat bertahan selama 3 (tiga) bulan sampai 3 (tiga) tahun sedangkan bentuk yang melarut dalam air hanya bertahan beberapa minggu. Secara umum sifat merkuri ini ialah logam yang dalam keadaan normal berbentuk cairan berwarna abu-abu, tidak berbau dengan berat molekul 200.59; tidak larut dalam air, alkohol, eter, asam hidroklorida, hidrogen bromida dan hidrogen iodide; larut dalam asam nitrat, asam sulfurik panas dan lipid; tidak tercampurkan dengan oksidator, halogen, bahan-bahan yang mudah terbakar, logam, asam, logam carbide dan amine (Palar 1994). Merkuri banyak sekali digunakan dalam berbagai macam aktivitas manusia, seperti pada industri klor dan soda tajam. Karena merkuri adalah sejenis logam, merkuri dapat menghantarkan listrik, sehingga merkuri digunakan pada

perangkat elektronik. Sumber merkuri yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang berpotensi mencemari udara dan air dapat berasal dari (Achmad 2004): 1. Industri khlor-alkali 2. Produksi energi 3. Pemprosesan gas dan petroleum 4. Penambangan emas 5. Penambangan dan penghasil metal 6. Pembuangan limbah dengan pembakaran 7. Sektor dental 8. Air kotoran

Metabolisme Merkuri
Sumber merkuri yang berasal dari alam dan yang disebabkan oleh aktivitas manusia ini akan masuk ke laut, danau, dan sungai, akan diubah menjadi metil merkuri oleh bakteri tertentu dan kemudian akan terakumulasi pada ikan dan hewan-hewan laut lainnya. Duffus (1980), menjelaskan bentuk dan penggunaan merkuri. Merkuri berada dalam bentuk senyawa, satu diantaranya yang paling utama adalah sinabar (HgS) yang sudah ditambang sejak 700 SM. Pada saat ini digunakan dalam industri dalam tiga bentuk: senyawa logam, senyawa organik, dan senyawa anorganik. Penggunaan paling besar adalah dalam produksi alat elektronik. Penggunaan kedua terbesar adalah dalam industri kloro-alkali, yang memproduksi klorine dan soda kaustik dengan menggunakan merkuri sebagai katoda dalam sel elektrolisis. Pengunaan terbesar ketiga di dunia adalah dalam fungisida termasuk pelindung benih (seed dressing), meskipun perlu dicatat bahwa di beberapa negara penggunaannya telah dilarang. Merkuri di alam terdapat dalam berbagai bentuk sebagai berikut (Achmad 2004): a. Merkuri anorganik, termasuk logam merkuri (Hg2+) dan garam-garamnya seperti merkuri klorida (HgCl2) dan merkuri okside (HgO). b. Komponen merkuri organik/organomerkuri, terdiri dari aril merkuri, alkil merkuri dan alkoksialkil merkuri. Menurut Anonimousa (2006) merkuri dikelompokkan menjadi merkuri anorganik dan merkuri organik (Metil merkuri). Logam merkuri adalah merkuri anorganik yang digunakan dalam pembuatan lampu fluoresen, batere dan

termometer. Metil merkuri adalah merkuri organik yang berbentuk serbuk putih dan berbau seperti belerang pada sumber air panas. Senyawa ini mudah terserap oleh organ pencernaan dan dibawa oleh darah ke dalam otak, liver dan ginjal bahkan kedalam janin. Merkuri terdapat sebagai komponen renik dari minyak mineral, dengan bantuan kontinental yang rata-rata mengandung sekitar 80 ppb atau lebih kecil lagi. senyawa-senyawa alkil merkuri lebih tahan urai daripada senyawa alkil atau merkuri anorganik, oleh karena itu senyawa alkil merkuri lebih berbahaya sebagai bahan pencemar. Merkuri masuk ke lingkungan perairan berasal dari berbagai sumber yang timbul dari penggunaan unsur itu oleh manusia seperti buangan laboratorium kimia, batu baterai bekas, pecahan termometer, fungisida kebun, tambal gigi amalgam dan buangan farmasi (Loomis 1978). Merkuri anorganik dapat berubah menjadi metil merkuri karena ditransformasi oleh bakteri di perairan misalnya Desulfovibrio desulfuricans LS. Merkuri organik akan terserap oleh ikan dan kerang melalui insang atau saluran pencernaan. Metil merkuri yang terbentuk di perairan secara bertahap diakumulasi dalam tubuh ikan dan kerang dan konsentrasinya berlipat ganda dalam rantai makanan biota perairan. Contohnya merkuri dalam plankton diserap oleh ikan kecil dan jumlahnya berlipat sesuai dengan jumlah plankton yang dimakan ikan, kemudian ikan kecil dimakan oleh ikan besar dan merkurinya berlipat ganda. Beberapa polutan seperti metil merkuri dan dioksin yang dilepaskan ke lingkungan menunjukan konsentrasi yang tinggi pada organisme yang menempati puncak rantai makanan. Metil merkuri dalam ikan tidak dapat direduksi dengan memasaknya karena metil merkuri dalam ikan terikat erat pada protein dan pemanasan pada temperatur yang biasa digunakan saat memasak kecuali jika ikan dibakar pada suhu diatas 400oC dan ikan menjadi arang (Muhammad 2002). Merkuri organik (RHg, R2Hg, ArHg) merupakan bentuk senyawa

merkuri yang paling berbahaya. Sebagian besar peristiwa keracunan merkuri disebabkan oleh senyawa ini. Merkuri organik digunakan secara luas pada industri pertanian, industri pulp dan kertas, dan dalam bidang kedokteran. Senyawa ini juga dapat terbentuk dari metabolisme merkuri metalik atau dari merkuri

anorganik dengan bantuan mikroorganime tertentu baik dalam lingkungan perairan ataupun dalam tubuh manusia (Yun 2004). Merkuri klorida (HgCl2) termasuk dalam senyawa merkuri anorganik dan ada dalam bentuk garam Hg yang penggunaannya semakin meluas antara lain digunakan dalam industri elektronik, pembuatan plastik, fungisida, germisida bahkan pernah digunakan sebagai obat cacing. Merkuri klorida dalam sedimen di dasar laut dan sungai akan diubah oleh mikroorganisme menjadi senyawa organik metil merkuri (R O Hg), yang tetap akan larut di dalam air. Di perairan, metil merkuri masuk ke tubuh ikan kemudian terakumulasi pada pemangsa alaminya hingga meracuni manusia (Ngabekti 2005). Baik garam-garam Hg maupun senyawa-senyawa Hg organik bersifat toksik, tetapi senyawa-senyawa Hg organik bahkan memiliki daya racun yang lebih tinggi dari Hg anorganik (Nurhasan 1982). Merkuri anorganik dapat berubah menjadi merkuri organik yaitu metil merkuri (CH3-Hg) oleh aktifitas mikroorganisme. Ion metilmerkuri (CH3Hg') merupakan bentuk senyawa yang sangat beracun dan membahayakan kesehatan manusia. Kadar metilmerkuri yang menyebabkan keracunan pada manusia sebesar 9 - 24 ppm, yang setara dengan 0,3 mg Hg per 70 kg bobot badan per hari (Stern dan Smith 2003). Metilmerkuri mempunyai daya ikat yang kuat dan kelarutan yang tinggi terutama dalam tubuh hewan air. Hal tersebut mengakibatkan merkuri terakumulasi melalui proses bioakumulasi dan biomagnifikasi dalam jaringan tubuh hewan-hewan air, sehingga kadar merkuri dapat mencapai level yang berbahaya baik bagi kehidupan hewan air maupun kesehatan manusia yang mengkonsumsi (Sanusi 1980 dalam Budiono 2003). Faktor makanan dapat mempengaruhi waktu retensi dari metilmerkuri yang masuk melalui mulut dari makanan dan minuman. Makanan dengan kadar protein tinggi dan lemak rendah dapat menurunkan waktu retensi metilmerkuri pada tikus. Kadar vitamin E yang tinggi dapat menurunkan tingkat kematian akibat terserapnya metilmerkuri dan merkuriklorida (Stern dan Smith 2003). Pelepasan merkuri ke dalam tanah, air, dan udara pada saat ini kebanyakan berasal dari keaktifan antropogenik yang dapat melalui beberapa proses ( Soemirat 2003):

1. Penambangan dan peleburan bijih, terutama pada peleburan tambang Cu dan Zn. 2. Pembakaran bahan bakar fosil, terutama batubara. 3. Proses-proses produksi dalam suatu industri, terutama pada proses kloralkali sel Hg untuk memproduksi gas klor dan NaOH. 4. lnsenerasi buangan. Secara global efek antropokogenik tahunan yang dilepas ke lingkungan sekitar 3 x lo6 kg selama tahun 1900, dan telah naik menjadi sekitar 9 x lo6 kg selama tahun 1970. Pelepasannya ke lingkungan lebih kurang 45% ke udara, 7% ke air, dan 48% ke dalam tanah. Toksisitas merkuri berbeda sesuai bentuk kimianya, misalnya merkuri inorganik bersifat toksik pada ginjal, sedangkan merkuri organik seperti metil merkuri bersifat toksis pada sistim syaraf pusat. Dikenal 3 bentuk merkuri (Dreisbach dan Robertson 1987), yaitu: 1) Merkuri elemental (Hg): terdapat dalam gelas termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi, alat elektrik, batu baterai dan cat. Juga digunakan sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik dan desinfektan serta untuk produksi klorin dari sodium klorida. 2) Merkuri inorganik: dalam bentuk Hg++ (Mercuric) dan Hg+ (Mercurous) Misalnya: -Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg inorganik yang sangat toksik, kaustik dan digunakan sebagai desinfektan -Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan untuk teething powder dan laksansia (calomel) Mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar. 3) Merkuri organik: terdapat dalam beberapa bentuk, antara lain : i) Metil merkuri dan etil merkuri yang keduanya termasuk bentuk alkil rantai pendek dijumpai sebagai kontaminan logam di lingkungan. Misalnya memakan ikan yang tercemar zat tsb. dapat menyebabkan gangguan neurologis dan kongenital. ii) Merkuri dalam bentuk alkil dan aryl rantai panjang dijumpai sebagai antiseptik dan fungisida. Merkuri disiano diamida (CH3-Hg-NHCNHNHCN), metil merkuri nitril (CH3-Hg-CN), metil merkuri asetat (CH3-Hg-COOH) dan senyawa etil merkuri

klorida (C2H5-Hg-Cl) merupakan senyawa-senyawa merkuri organik yang digunakan sebagai penghalang pertumbuhan jamur pada produk pertanian. Senyawa-senyawa ini juga digunakan sebagai insektisida dan pemakaiannya dilakukan dengan cara penyemprotan pada areal yang luas, bahkan kadang kala dengan menggunakan pesawat terbang. Penyemprotan pada areal yang luas tersebut dapat membunuh organime lain, karena senyawa-senyawa ini dengan bantuan angin akan menyebar secara meluas (Dreisbach dan Robertson 1987). Fenil merkuri asetat (FMA) digunakan dalam industri pulp dan kertas. Penggunaan FMA bertujuan untuk mencegah pembentukan kapur dan anti bakteri/jamur pada pulp dan kertas basah selama proses penyimpanan. Hal ini sangat berbahaya karena kertas seringkali digunakan sebagai penmbungkus makanan (Dreisbach dan Robertson 1987 ). Thimerosal mengandung 49.6 % etil merkuri, yang digunakan secara luas sejak tahun 1930-an sebagai antibakteri pada vaksin hepatitis. Pengunaan vaksin hepatitis yang mengandung thimerosal terhadap ibu hamil dan bayi lima tahun (balita) diduga menyebabkan meningkatnya epidemik autisme, suatu kelainan pada sistem saraf yang ditandai dengan menurunnya kemampuan interaksi sosial (Dreisbach dan Robertson 1987 ).

Gambar 1. Struktur molekul Thimerosal Metil merkuri merupakan senyawa organik yang paling yang paling berbahaya yang telah dipelajari oleh manusia. Metilasi merkuri dapat terjadi dalam tubuh organime manapun, termasuk manusia. Metil merkuri dapat berikatan dengan basa adenine. Posisi ikatan metil merkuri pada basa adenin bergantung pada pH (Kim 1998). Adanya variasi posisi metilmerkuri ini dapat menjelaskan bagaimana merkuri sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia. Dalam jaringan tubuh manusia terdapat 30 % adenina, 30 % timina, 20 % sitosina dan 20 % guanina Merkuri yang terikat pada adenina dapat mengganggu

enzim, mengganggu biosintesis protein dan lemak serta merusak DNA dan RNA (Ellenhorm et al 1997).

Bahaya Merkuri dan Akibatnya pada Metabolisme Tubuh


Pencemaran lingkungan adalah suatu keadaan yang terjadi karena perubahan kondisi tata lingkungan (tanah, udara dan air) yang tidak menguntungkan (merusak dan merugikan kehidupan manusia, binatang dan tumbuhan) yang disebabkan oleh kehadiran benda-benda asing (seperti sampah, limbah industri, minyak, logam berbahaya, dsb.) sebagai akibat perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan lingkungan tersebut tidak berfungsi seperti semula (Susilo 2003). Lingkungan yang terkontaminasi oleh merkuri dapat membahayakan kehidupan manusia karena adanya rantai makanan. Merkuri adalah unsur kimia sangat beracun (toxic). Unsur ini dapat bercampur dengan enzim di dalam tubuh manusia menyebabkan hilangnya kemampuan enzim untuk bertindak sebagai katalisator untuk fungsi tubuh yang penting. Menurut Budiawan (2006) dalam artikel Kesehatan merkuri dapat pula bersenyawa dengan khlor, belerang dan oksigen senyawa untuk membentuk garam merkurium yang sering digunakan dalam industri krim pemutih kulit. Merkuri dapat pula bersenyawa dengan karbon membentuk senyawa organo merkuri. Senyawa organomerkuri yang paling umum adalah metil merkuri, yang terutama dihasilkan oleh mikroorganisme (bakteri) di air dan tanah. Bakteri itu kemudian terikut (termakan) oleh ikan, maka di ikan cenderung konsentrasi merkurinya akan tinggi. Karena sifat ionnya yang mudah berinteraksi dengan air, maka merkuri dengan mudah memasuki tubuh melalui tiga cara, yaitu melalui kulit, inhalasi (pernafasan) maupun lewat makanan. Adanya sifat beracun dan cukup volatil dari merkuri, maka uap merkuri sangat berbahaya jika terhisap, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil. Merkuri mempunyai tekanan uap pada suhu kamar, sehingga uap merkuri dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Proses ini dapat terjadi terutama pada orang-orang yang bekerja dengan merkuri, misalnya dokter dan perawat gigi pada waktu membuat amalgam. Senyawa-senyawa merkuri dapat mengalami transformasi hayati ke dalam lingkungan maupun di dalam

tubuh. Bila masuk melalui kulit akan menyebabkan reaksi alergi kulit berupa iritasi kulit (Ellenhorm et al 1997). Logam merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui bahan pangan yang dikonsumsi, baik dari tanaman maupun hewan yang telah terkontaminasi oleh logam tersebut. Merkuri bersifat racun yang kumulatif, dalam arti sejumlah kecil merkuri yang terserap dalam tubuh dalam jangka waktu lama akan menimbulkan bahaya. Bahaya penyakit yang ditimbulkan oleh senyawa merkuri diantaranya adalah kerusakan rambut dan gigi, hilang daya ingat dan terganggunya sistem syaraf (Charlena 2004). Beberapa faktor yang menyebabkan kontaminasi logam berat pada lingkungan bervariasi antara lain: kondisi geologi tanah dimana tanaman dibudidayakan, kondisi air yang digunakan untuk penyiraman, adanya kontaminan logam berat tertentu yang berasal dari industri apabila lokasi pertanaman dekat dengan lokasi industri, bahkan bencana yang tidak terduga (Widowati 2008). Faktor yang menyebabkan tingginya kontaminasi logam berat di lingkungan adalah perilaku manusia yang menciptakan teknologi tanpa menimbang terlebih dahulu efek yang akan ditimbulkan bagi lingkungan di kemudian hari. Sebagai contoh, di Indonesia, tingginya kandungan timbal (Pb) pada lingkungan disebabkan oleh pemakaian bensin bertimbal yang sangat tinggi pada hampir semua jenis kendaraan bermotor. Untuk mempermudah bensin premium terbakar, titik bakarnya harus diturunkan melalui peningkatan bilangan oktan dengan penambahan timbal dalam bentuk tetrail lead (TEL). Namun dalam proses pembakaran, timbal dilepas kembali bersama-sama sisa pembakaran lainnya ke udara dan dihirup oleh manusia saat bernafas (Gurandi et al 2000). Kerusakan tubuh yang disebabkan oleh merkuri pada umumnya bersifat permanen, masing-masing komponen merkuri mempunyai perbedaan karakteristik yang berbeda seperti daya racunnya, distribusi, akumulasi atau pengumpulan, dan waktu retensinya (penyimpanan) di dalam tubuh. Apabila semua komponen merkuri berada dalam jumlah yang cukup, maka akan beracun terhadap tubuh. Merkuri dapat berpengaruh terhadap tubuh karena dapat menghambat kerja enzim dan menyebabkan kerusakan sel. Sifat-sifat membran dari dinding sel akan rusak karena pengikatan dengan merkuri, sehingga aktivitas sel dapat terganggu.

Kondisi yang akut dapat menyebabkan kerusakan perut dan usus, gagal kardiovaskular (jantung dan pembuluhnya), dan gagal ginjal akut yang dapat menyebabkan kematian (Anonymous 2004). Beberapa hal terpenting yang dapat dijadikan patokan terhadap efek yang ditimbulkan oleh merkuri terhadap tubuh (Nurhasan 1982), adalah sebagai berikut: a. Semua senyawa merkuri adalah racun bagi tubuh, apabila berada dalam jumlah yang cukup. b. Senyawa merkuri yang berbeda, menunjukkan karakteristik yang berbeda pula dalam daya racun, penyebaran, akumulasi dan waktu retensi yang dimilikinya di dalam tubuh. c. Biotransformasi tertentu yang terjadi dalam suatu tata lingkungan dan atau dalam tubuh organisme hidup yang telah kemasukan merkuri, disebabkan oleh perubahan bentuk atas senyawa - senyawa merkuri dari satu tipe ke tipe lainnya. d. Pengaruh utama yang ditimbulkan oleh merkuri dalam tubuh adalah menghalangi kerja enzim dan merusak selaput dinding (membran) sel. Keadaan itu disebabkan karena kemampuan merkuri dalam membentuk ikatan kuat dengan gugus yang mengandung belerang, yang terdapat dalam enzim atau dinding sel. e. Kerusakan yang diakibatkan oleh logam merkuri dalam tubuh umumnya bersifat permanen. Sampai sekarang belum diketahui cara efektif untuk memperbaiki kerusakan fungsi - fungsi itu. Efek merkuri pada kesehatan terutama berkaitan dengan sistem syaraf, yang memang sangat sensitif pada semua bentuk merkuri. Manifestasi klinis awal intoksikasi merkuri didapatkan gangguan tidur, perubahan mood (perasaan) yang dikenal sebagai erethism, kesemutan mulai dari daerah sekitar mulut hingga jari dan tangan, pengurangan pendengaran atau penglihatan dan pengurangan daya ingat. Pada intoksikasi berat penderita menunjukkan gejala klinis tremor, gangguan koordinasi, gangguan keseimbangan, jalan sempoyongan (ataxia) yang menyebabkan orang takut berjalan. Hal ini diakibatkan terjadi kerusakan pada jaringan otak kecil (serebellum). Beberapa

penelitian oleh Cavanagh dan Chen (1971), pada tikus yang keracunan metil merkuri didapatkan degenerasi serabut saraf sensorik perifer. Oleh Aschner (1986), menemukan gangguan transportasi axonal pada saraf tepi. Dan oleh Hunter serta Russel (1954), menemukan degenerasi selektif sel granula serebellum dan degenerasi pada cortex calcarine yang menyebabkan gangguan lapang pandang. Keracunan pada ibu hamil dapat menyebabkan terjadi mental retardasi pada bayi atau kebodohan, kekakuan (spastik), karena zat metil merkuri yang masuk ke dalam tubuh perempuan hamil tersebut tidak hanya mencemari organ tubuhnya sendiri, tetapi juga janin yang dikandungnya melalui tali pusat.Oleh karena itu merkuri sangat rentan terhadap ibu hamil, ibu menyusui dan mereka yang menderita gangguan neurologis dan mental organik atau fungsional, penyakit parenkim ginjal dan hati, hipertiroidisme atau alkoholisme kronis (Widowati 2008). Metode terbaik penilaian paparan terhadap uap merkuri, senyawa aril dan merkuri anorganik adalah penetapan kuantitatif merkuri dalam kemih dengan spektrometri absorpsi atom atau kolorimetri ditison. Pada paparan senyawa organik (metil merkuri), hendaknya diukur kadar senyawa - senyawa tersebut dalam eritrosit dan plasma ( Kosnett 1994). a. Keracunan Akut Keracunan akut adalah keracunan yang terjadi dalam waktu singkat atau seketika, dapat terjadi karena keracunan dalam dosis tinggi dan atau akibat daya tahan yang rendah. Keracunan akut yang disebabkan oleh logam merkuri umumnya terjadi pada pekerja - pekerja industri pertambangan dan pertanian yang menggunakan merkuri sebagai bahan baku, katalis dan/ atau pembentuk amalgam atau pestisida. Keracunan akut yang ditimbulkan oleh logam merkuri dapat diketahui dengan mengamati gejala - gejala berupa : peradangan pada tekak (pharyngitis), dyspaghia, rasa sakit pada bagian perut, mual - mual dan muntah, murus disertai dengan darah dan shock. Bila gejala - gejala awal ini tidak segera diatasi, penderita selanjutnya akan mengalami pembengkakan pada kelenjar ludah, radang pada ginjal (nephritis), dan radang pada hati (hepatitis). Senyawa

atau garam - garam merkuri yang mengakibatkan keracunan akut, dalam tubuh akan mengalami proses ionisasi (Kosnett 1994). b. Keracunan Kronis. Keracunan kronis adalah keracunan yang terjadi secara perlahan dan berlangsung dalam selang waktu yang panjang. Penderita keracunan kronis biasanya tidak menyadari bahwa dirinya telah menumpuk sejumlah racun dalam tubuh mereka, sehingga pada batas daya tahan yang dimiliki tubuh, racun yang telah mengendap dalam selang waktu yang panjang tersebut bekerja. Pengobatan akan menjadi sangat sulit untuk dilakukan (Kosnett 1994 ). Keracunan kronis yang disebabkan oleh merkuri, peristiwa masuknya sama dengan keracunan akut, yaitu melalui jalur pernafasan dan makanan. Akan tetapi pada peristiwa keracunan kronis, jumlah merkuri yang masuk sangat sedikit sekali sehingga tidak memperlihatkan pengaruh pada tubuh. Namun demikian masuknya merkuri ini berlangsung secara terus menerus sehingga lama kelamaan jumlah merkuri yang masuk dan mengendap dalam tubuh menjadi sangat besar dan melebihi batas toleransi yang dimiliki tubuh sehingga gejala keracunan mulai terlihat. Peristiwa keracunan kronis tidak hanya menyerang orang - orang yang bekerja secara langsung dengan merkuri, melainkan juga dapat diderita oleh mereka yang tinggal di sekitar kawasan industri yang banyak menggunakan merkuri. Hanya saja masa keracunan yang terjadi berjalan dalam selang waktu yang berbeda (Kosnett 1994 ). Untuk mereka yang bekerja langsung dengan menggunakan merkuri, proses keracunan kronis mungkin sudah memperlihatkan gejala dalam selang waktu beberapa minggu. Sedangkan pada mereka yang tidak terkena langsung, proses keracunan kronis merkuri ini baru dapat diketahui setelah waktu bertahun - tahun. Akibat yang ditimbulkan tentu saja berbeda, dimana mereka yang mengalami proses keracunan kronis setelah kemasukan merkuri dalam waktu tahunan akan lebih sulit untuk diobati, bila dibandingkan dengan mereka yang mengalami keracunan kronis dalam selang waktu beberapa minggu. Pada peristiwa keracunan kronis oleh merkuri, ada dua organ tubuh yang paling sering mengalami gangguan, yaitu gangguan pada sistem pencernaan dan sistem syaraf (Sumakmur 1996).

Radang gusi (gingivitis) merupakan gangguan paling umum yang terjadi pada sistem pencernaan. Radang gusi pada akhirnya akan merusak jaringan penahan gigi, sehingga gigi mudah lepas. Gangguan terhadap sistem syaraf dapat terjadi dengan atau tanpa diikuti oleh gangguan pada lambung dan usus. Ada dua bentuk gejala umum yang dapat dilihat bila korban mengalami gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat keracunan kronis merkuri, yaitu tremor ringan (gemetar), dan parkinsonisme yang juga disertai dengan tremor pada fungsi otot sadar. Biasanya, satu dari kedua gejala ini akan mendominasi gejala keracunan kronis dan ada kemungkinan terjadinya komplikasi dengan psikologis. Hal ini diperlihatkan dengan terjadinya gangguan emosional korban, seperti cepat marah yang diluar kewajarannya dan mental hiperaktif yang berat. Gejala tremor biasanya dimulai dari ujung jari tangan atau ujung jari kaki. Gejala pada ujung jari tangan akan terus menjalar sampai pada otot wajah, lidah, dan pangkal tenggorokan (larynx). Tremor tersebut biasanya akan berhenti bila penderita tidur, namun demikian seringkali terjadi gangguan kram secara tiba - tiba dan kontraksi - kontraksi lainnya. Tanda - tanda seorang penderita keracunan kronis merkuri dapat dilihat pada organ mata. Biasanya pada lensa mata penderita terlihat warna abu - abu sampai gelap, atau abu abu kemerahan, yang semua itu dapat dilihat dengan mikroskop mata. Disamping itu, gejala keracunan kronis merkuri yang lainnya adalah terjadinya anemia ringan pada darah (Widowati 2008). Merkuri digunakan secara berlebihan, baik dalam pertambangan, industri, makanan, juga obat-obatan, padahal merkuri terbukti membahayakan kesehatan manusia sejak tahun 1854. Merkuri dalam bentuk Thimerosal juga digunakan dalam pengawetan vaksin. Bila bayi berusia kurang dari 2 tahun mengkonsumsi vaksin dengan Thimerosal, ditambah dengan resonansi merkuri yang berasal dari tambalan gigi amalgam atau crown orang tuanya, maka ia berpotensi untuk kelebihan merkuri 0,23 gram atau 20% dari jumlah merkuri normal yang bisa diterima tubuhnya. Kelebihan merkuri dalam tubuh akan membuat anak hiperaktif, bertenaga kuat, namun tidak berorientasi. Kita sebut anak-anak semacam ini sebagai anak dengan kebutuhan khusus (KK). Di dalam tubuh, merkuri membuat lebih banyak radikal bebas yang dapat merusak protein, DNA dan lemak. pada dasarnya manusia hanya terdiri dari atom-atom sederhana yang

stabil dan kecil seperti O,H,C,N, disamping kalsium (Ca) dan fosfat (P) yang ada dalam tulang. Atom-atom ini kecil, stabil, dan tak berbahaya. Dengan demikian, semua senyawa berbasis OHCN seperti formalin, melamin, kafein, juga nikotin yang ada di tembakau tidak beracun bagi tubuh kita. Komponen-komponen ini menjadi racun karena ada merkuri radikal (Hg*) yang tersembunyi di dalam daun, baik karena proses pemupukan yang menggunakan bahan merkuri maupun karena polusi. Adanya merkuri yang toksik ini sulit dideteksi, karena sifatnya yang metafor (WHO 1990). Ketika memasuki lingkungan akuatik, merkuri dapat ditransformasi oleh mikro-organisma menjadi senyawa yang lebih toksik, methylmercury. Dalam bentuk methylmercury, merkuri memasuki rantai makanan, terakumulasi dan terkonsentrasikan, dimulai dari organisme akuatik termasuk ikan dan kerang, lalu pada burung, mamalia, dan manusia yang berada di ujung akhir rantai makanan. Di beberapa spesies ikan, konsentrasi methylmercury bisa mencapai satu juta kali lipat lebih besar daripada konsentrasi dalam air tempat ikan itu berada (Assegaf 1983) Sepertiga dari merkuri yang masuk ke dalam lingkungan berasal dari sumber alami seperti gunung berapi. Sisanya sebanyak dua-per-tiga berasal dari aktivitas manusia (WHO 1986). Sejak awal era industrialisasi, jumlah total merkuri yang berada di atmosfir, tanah, danau, sungai dan laut telah meningkat, menjadi dua sampai empat kali lebih banyak (Susilo 2003). Tingkat merkuri di lingkungan yang jauh lebih tinggi dari yang alami ini akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan dapat membahayakan kesehatan manusia di seluruh dunia. Merkuri, terutama dalam bentuk methylmercury, sangat beracun untuk manusia. Embrio manusia, janin, balita, dan anak-anak sangat rentan karena merkuri mengganggu perkembangan syaraf. Ketika seorang ibu hamil atau seorang wanita dalam usia produktif memakan makanan yang terkontaminasi dengan methylmercury, zat beracun mengalir melalui plasenta dan terpapar ke janin. Studi menunjukkan bahwa konsentrasi methylmercury dalam janin lebih tinggi dibandingkan konsentrasi di dalam tubuh sang ibu (Bambang Tjahjono 2005).

Merkuri juga terdapat di dalam air susu ibu (ASI) yang akan dikonsumsi oleh balita pada awal pertumbuhan 2 tahun pertama mereka. Anak-anak yang memakan makanan yang terkontaminasi merkuri pada tahun-tahun pertama juga akan terpengaruh. Merkuri mempengaruhi dan merugikan perkembangan otak serta perkembangan system syaraf anak. Merkuri dapat mengurangi kemampuan kognitif dan berpikir, memori, perhatian, penguasaan bahasa, keterampilan motorik halus dan keterampilan ruang visual (Widowati 2008) Orang dewasa juga dibahayakan oleh resiko merkuri. Kelompok manusia yang memiliki resiko paling tinggi adalah orang-orang miskin dan yang paling rentan adalah masyarakat adat, komunitas Arctic, penduduk kepulauan, komunitas pantai dan lainnya yang mendapat asupan protein dari ikan dan makanan laut. Para pekerja juga memiliki resiko yang tinggi, terutama penambang emas skala kecil dan keluarga mereka. Selain itu merkuri juga membahayakan organismaorganisma yang ada di lingkungan dan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Pengaruh merkuri terhadap kesehatan manusia dapat diurai sebagai berikut (Widowati 2008) : 1. Pengaruh terhadap fisiologis. Pengaruh toksisitas merkuri terutama pada Sistem Saluran Pencernaan (SSP) dan ginjal terutama akibat merkuri terakumulasi. Jangka waktu, intensitas dan jalur paparan serta bentuk merkuri sangat berpengaruh terhadap sistem yang dipengaruhi. Organ utama yang terkena pada paparan kronik oleh elemen merkuri dan organomerkuri adalah SSP. Sedangkan garam merkuri akan berpengaruh terhadap kerusakan ginjal. Keracunan akut oleh elemen merkuri yang terhisap mempunyai efek terhadap system pernafasan sedang garam merkuri yang tertelan akan berpengaruh terhadap SSP, efek terhadap sistem cardiovaskuler merupakan efek sekunder. 2. Pengaruh terhadap sistem syaraf. Merkuri yang berpengaruh terhadap system syaraf merupakan akibat pemajanan uap elemen merkuri dan metil merkuri karena senyawa ini mampu menembus blood brain barrier dan dapat mengakibatkan kerusakan otak yang irreversible sehingga mengakibatkan kelumpuhan permanen. Metilmerkuri yang masuk ke dalam pencernaan akan memperlambat SSP yang mungkin tidak

dirasakan pada pemajanan setelah beberapa bulan sebagai gejala pertama sering tidak spesifik seperti malas, pandangan kabur atau pendengaran hilang (ketulian). 3. Pengaruh terhadap ginjal. Apabila terjadi akumulasi pada ginjal yang diakibatkan oleh masuknya garam inorganik atau phenylmercury melalui SSP akan menyebabkan naiknya permiabilitas epitel tubulus sehingga akan menurunkan kemampuan fungsi ginjal (disfungsi ginjal). Pajanan melalui uap merkuri atau garam merkuri melalui saluran pernafasan juga mengakibatkan kegagalan ginjal karena terjadi proteinuria atau nephrotik sindrom dan tubular nekrosis akut. 4. Pengaruh terhadap pertumbuhan. Terutama terhadap bayi dan ibu yang terpajan oleh metilmerkuri dari hasil studi membuktikan ada kaitan yang signifikan bayi yang dilahirkan dari ibu yang makan gandum yang diberi fungisida, maka bayi yang dilahirkan mengalami gangguan kerusakan otak yaitu retardasi mental, tuli, penciutan lapangan pandang, microcephaly, cerebral palsy, ataxia, buta dan gangguan menelan. Jenis dan Toksisitas Merkuri Unsur Merkuri Kurang lebih 80 % uap merkuri yang terhisap diabsorbsi oleh paru paru dan tersimpan dalam tubuh. Jumlah merkuri yang terserap oleh tubuh sama besarnya antara yang dihisap oleh hidung maupun oleh mulut. Unsur yang diserap oleh sistem gastrointestinal jumlahnya sangat sedikit (0,01 % pada tikus). Penyerapan unsur merkuri melalui kulit juga tidak berhubungan secara signifikan dengan jumlah paparan uap merkuri yang diterima manusia ( Ellenhorn et al 1997). Secara umum unsur akibat dari unsur merkuri ialah ( ) : Inhalasi: paling sering menyebabkan keracunan. Tertelan ternyata tidak menyebabkan efek toksik karena absorpsinya yang rendah kecuali jika ada fistula atau penyakit inflamasi gastrointestinal atau jika merkuri tersimpan untuk waktu lama di saluran gastrointestinal. Intravena dapat menyebabkan emboli paru. Karena bersifat larut dalam lemak, bentuk merkuri ini mudah melalui sawar otak dan plasenta. Di otak ia akan berakumulasi di korteks cerebrum dan cerebellum dimana ia akan teroksidasi menjadi bentuk merkurik (Hg++ ) ion merkurik ini akan

berikatan dengan sulfhidril dari protein enzim dan protein seluler sehingga menggangu fungsi enzim dan transport sel. Pemanasan logam merkuri membentuk uap merkuri oksida yang bersifat korosif pada kulit, selaput mukosa mata, mulut, dan saluran pernafasan. Pemaparan akut. Inhalasi gas merkuri dapat menyebabkan bronkhitis korosif yang disertai febris, menggigil, dispnea, hemoptisis, pneumonia, edema paru (Adult Respiratory Distress Syndrome), sianosis bahkan fibrosis paru. Keluhan gastrointestinal berupa: mual, muntah, ginggivitis, keram perut dan diare. Kerusakan sistim syaraf pusat berupa kelainan neuropsikiatrik (erethism), tremor, iritabilitas, emosi yang labil, hilang ingatan, cemas, depresi. sakit kepala, reflek abnormal dan perubahan EEG. Rash kemerahan dengan deskuamasi kulit terutama pada tangan dan kaki dijumpai terutama pada anak-anak. Kelainan pada ginjal dapat berupa proteinuria, kelainan elektrolit urine, disuria dan sakit ejakulasi. Efek psikiatri berupa depresi, perasaan malu, marah, iritabilitas, cemas, nafsu makan menurun atau agresif. Pemaparan merkuri melalui intravena dapat menyebabkan emboli paru-paru dengan hemoptysis dan pada foto thorax dijumpai densitas metalik. Granulomas dapat terbentuk setelah injeksi merkuri elemen (Kossnet 1994). Pemaparan kronis. Menimbulkan triad yang klasik, yaitu: ginggivitis dan salivasi, tremor dan perubahan neuropsikiatri. Gangguan psikiatri berupa depresi, perasaan malu, marah, cemas, iritabilitas, agresif, hilang ingatan, hilangnya kepercayaan diri, sukar tidur, tidak nafsu makan atau tremor ringan. Selain itu dapat dijumpai kelainan pada ginjal berupa proteinuri (Kossnet 1994). Merkuri Anorganik Penyerapan dan pengendapan merkuri anorganik yang terhirup tergantung ukuran partikelnya, kelarutanya, dan lain - lain. Sekitar 10 -15 % pemaparan merkuri anorganik lewat mulut diserap oleh sistem gastrointestinal pada orang dewasa dan mengendap dalam tubuh. Pada anak - anak, penyerapan lewat gastrointestinal mungkin lebih besar. Sering diabsorpsi melalui gastrointestinal, paru-paru dan kulit. Pemaparan akut dan kadar tinggi dapat menyebabkan gagal ginjal sedangkan pada pemaparan kronis dengan dosis rendah dapat

menyebabkan proteinuri, sindroma nefrotik dan nefropati yang berhubungan dengan gangguan imunologis ( Ellenhorn 1997). Pemaparan akut. Setelah menelan zat ini timbul gejala iritasi mukosa berupa stomatitis, rasa logam, rasa panas, hipersalivasi, edema laring, erosi oesofagus, mual, muntah, hematemesis, hematokhezia, keram perut, ARDS, shock dan gangguan ginjal berupa proteinuri, hematuri dan glikosuri. Gagal ginjal akut dapat terjadi dalam 24 jam. Perdarahan gastrointestinal dapat menyebabkan anemia dan syok hipovolemi. Kontak pada kulit akibat penggunaan krem yang mengandung garam merkuri dapat menimbulkan pigmentasi, rasa terbakar dan dapat menyebabkan toksisitas sistemik. HgCl2 dapat menyebabkan iritasi kulit sedangkan merkuri fulminat dan merkuri sulfida menyebabkan dermatitis kontak. Penggunaan calomel (HgCl) dapat menyebabkan Pinks disease pada anak-anak yang ditandai: rash eritematosus, febris, splenomegali, iritabilitas dan hipotonia (Kossnet 1994). Pemaparan kronis. Menimbulkan triad yang klasik, yaitu: ginggivitis dan salivasi, tremor dan perubahan neuropsikiatri Aplikasi garam merkuri pada kulit dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan neuropati perifer, nefropati, eritema, dan pigmentasi (Kossnet 1994 ). Merkuri Organik Informasi tentang pengendapan gas dimetil merkuri dan senyawa aerosol metil merkuri dalam paru - paru sangat kurang. Sejumlah kasus keracunan melalui pernafasan serta kemampuannya menembus membran sel darah secara cepat dapat dinyatakan bahwa sebagian besar alkyl merkuri disimpan dalam sistem peredaran darah. Pada laki - laki kadar methyl merkuri pada sel darah dan rambut menyediakan indikator yang terbaik terhadap penyerapan paparan senyawa metil merkuri pada sistem syaraf. Bentuk rantai pendek alkil (metil merkuri) dapat menimbulkan degenerasi neuron di korteks cerebri dan cerebellum dan mengakibatkan parestesi distal, ataksia, disartria, tuli dan penyempitan lapang pandang. Metil merkuri mudah pula melalui plasenta dan berakumulasi dalam fetus yang mengakibatkan kematian dalam kandungan dan cerebral palsy (Ellenhorn 1997).

Pemaparan akut. Menyebabkan iritasi gastrointestinal berupa mual, muntah, sakit perut dan diare. Keracunan Phenyl mercury (merkuri aromatis) menimbulkan gejala-gejala gastrointestinal, malaise, mialgia dan syndrome mimic viral. Keracunan metil merkuri menyebabkan efek pada gastrointestinal yang lebih ringan tetapi menimbilkan toksisitas neurologis yang berat berupa: rasa sakit pada bibir, lidah dan pergerakan (kaki dan tangan ), konfusi, halusinasi, iritabilitas, gangguan tidur, ataxia, hilang ingatan, sulit bicara, kemunduran cara berpikir, reflek tendon yang abnormal, pendengaran rusak, lapangan penglihatan mendekati konsentris, emosi tidak stabil, tidak mampu berpikir, stupor, coma dan kematian (Kossnet 1994 ). Pemaparan kronis. Menyebabkan suatu sindroma yang kronis. Penelanan kronik bentuk alkil yantai pendek (metil merkuri) menyebabkan disartria, parestesi, ataxia dan tuli. Dapat pula terjadi Tunnel vision dan skotoma multipel atau erethism. Keracunan Fenil merkuri dan methoxyethil merkuri menimbulkan gangguan yang sama dengan pemaparan kronis merkuri inorganik (Kossnet 1994). Merkuri disiano diamida (CH3-Hg-NHCNHNHCN), metil merkuri nitril (CH3-Hg-CN), metil merkuri asetat (CH3-Hg-COOH) dan senyawa etil merkuri klorida (C2H5-Hg-Cl) merupakan senyawa-senyawa merkuri organik yang digunakan sebagai penghalang pertumbuhan jamur pada produk pertanian. Senyawa-senyawa ini juga digunakan sebagai insektisida dan pemakaiannya dilakukan dengan cara penyemprotan pada areal yang luas, bahkan kadang kala dengan menggunakan pesawat terbang. Penyemprotan pada areal yang luas tersebut dapat membunuh organime lain, karena senyawa-senyawa ini dengan bantuan angin akan menyebar secara meluas (Kossnet 1994 ). Fenil merkuri asetat (FMA) digunakan dalam industri pulp dan kertas. Penggunaan FMA bertujuan untuk mencegah pembentukan kapur dan anti bakteri/jamur pada pulp dan kertas basah selama proses penyimpanan. Hal ini sangat berbahaya karena kertas seringkali digunakan sebagai penmbungkus makanan. Thimerosal mengandung 49.6 % etil merkuri, yang digunakan secara luas sejak tahun 1930-an sebagai antibakteri pada vaksin hepatitis. Pengunaan vaksin hepatitis yang mengandung thimerosal terhadap ibu hamil dan bayi lima tahun (balita) diduga menyebabkan meningkatnya epidemik autisme, suatu

kelainan pada sistem saraf yang ditandai dengan menurunnya kemampuan interaksi sosial (Kossnet 1994 ). Efek toksisitas mercuri terutama pada susunan saraf pusat (SSP) dan ginjal, dimana mercury terakumulasi yang dapat menyebabkan kerusakan SSP dan ginjal antara lain tremor serta kehilangan daya ingat. MeHg mempunyai efek pada kerusakan janin dan terhadap pertumbuhan bayi. Kadar MeHg dalam darah bayi baru lahir dibandingkan dengan darah ibu mempunyai kaitan signifikan. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terpajan MeHg bisa menderita kerusakan otak, retardasi mental, tuli dan kebutaan. Efek terhadap sistem pernafasan dan pencernaan makanan dapat terjadi pada keracunan akut.Inhalasi dari elemental Mercury dapat mengakibatkan kerusakan berat dari jaringan paru. Sedangkan keracunan makanan yang mengandung Mercury dapat menyebabkan kerusakan liver (Elberger dan Brody 1993).

Mekanisme Kerja Merkuri Dalam Tubuh


Cara masuk dari merkuri ke dalam tubuh turut mempengaruhi bentuk gangguan yang ditimbulkan, penderita yang terpapar dari uap merkuri dapat mengalami gangguan pada saluran pernafasan atau paru - paru dan gangguan berupa kemunduran pada fungsi otak. Kemunduran tersebut disebabkan terjadinya gangguan pada korteks. Garam - garam merkuri yang masuk dalam tubuh, baik karena terhisap ataupun tertelan, akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada saluran pencernaan, hati dan ginjal. Dan kontak langsung dengan merkuri melalui kulit akan menimbulkan dermatitis lokal, tetapi dapat pula meluas secara umum bila terserap oleh tubuh dalam jumlah yang cukup banyak karena kontak yang berulang ulang ( Palar 1994). Merkuri membentuk berbagai senyawaan anorganik (seperti oksida, klorida, dan nitrat) dan organik (alkil dan aril) (Sugiono et al 1995).Logam merkuri dan uap merkuri termasuk kedalam merkuri anorganik (Palar 1994). Adapun mekanisme kerja merkuri dalam tubuh adalah sebagai berikut ( Palar 1994) : a. Absorbsi Merkuri masuk ke dalam tubuh terutama melalui paru - paru dalam bentuk

uap atau debu. Sekitar 80 % uap merkuri yang terinhalasi akan diabsorbsi. Absorbsi merkuri logam yang tertelan dari saluran cerna hanya dalam jumlah kecil yang dapat diabaikan, sedangkan senyawa merkuri larut air mudah diabsorbsi. Beberapa senyawa merkuri (II) organik dan anorganik dapat diabsorbsi melalui kulit. Masukan merkuri harian melalui makanan berkisar beberapa mikrogram. b. Biotransformasi Unsur merkuri yang diabsorbsi dengan cepat dioksidasi menjadi ion Hg2+, yang mempunyai afinitas terhadap gugus - gugus sulfhidril (-SH), serta berikatan dengan substrat - substrat yang kaya gugus tersebut. Merkuri ditemukan dalam ginjal (terikat pada metalotionen) dan hati. Merkuri dapat melewati darah - otak dan plasenta. Metil merkuri mempunyai afinitas yang kuat terhadap otak. Sekitar 90% merkuri darah terdapat dalam eritrosit. Metabolisme senyawa aril merkuri serupa dengan metabolisme merkuri logam atau senyawa anorganiknya. Senyawa fenil dan metoksietil merkuri dengan cepat diubah menjadi merkuri anorganik, sementara metil merkuri dimetabolisme sangat lambat. c. Ekskresi Sementara unsur merkuri dan senyawa anorganiknya dieliminasi lebih banyak melalui kemih daripada feses, senyawa merkuri anorganik terutama diekskresi melalui feses (sampai 90 %). Waktu paruh biologis merkuri anorganik mendekati 6 minggu. Sejumlah sumber makanan, baik yang berasal dari laut seperti ikan, kerang, dan rumput laut serta dari tanaman dan produk turunannya dapat terkontaminasi logam berat. Logam berat dapat memasuki tubuh dan mengakibatkan kerusakan pada berbagai jaringan tubuh melalui beberapa cara. Mekanisme pertama adalah berikatan dengan gugus sulfhidril, sehingga fungsi enzim pada jaringan tubuh akan terganggu kerjanya. Mekanisme yang kedua adalah berikatan dengan enzim pada siklus Krebs, sehingga proses oksidasi fosforilasi tidak terjadi. Mekanisme yang ketiga adalah dengan efek langsung pada jaringan yang terkena yang menyebabkan kematian (nekrosis) pada lambung dan saluran pencernaan, kerusakan pembuluh darah, perubahan degenerasi pada hati dan ginjal. Tubuh dapat menyerap logam berat melalui permukaan kulit dan

mukosa, saluran pencernaan dan saluran nafas. Akumulasi pada jaringan tubuh dapat menimbulkan keracunan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan apabila melebihi batas toleransi (Charlena 2004).
Merkuri, dalam jumlah yang besar, terus digunakan dalam proses industri seperti pabrik chloralkali dan proses katalitik walaupun alternatif pengganti yang baik sudah tersedia. Banyak merkuri juga digunakan dalam pertambangan emas skala kecil meskipun hal ini menyebabkan pencemaran tingkat tinggi. Banyak dokter gigi masih menggunakan amalgam merkuri walau dokter-dokter yang lain sudah tidak lagi menggunakannya dan menggunakan alternatif yang lebih memuaskan. Terakhir, di beberapa kebudayaan daerah, merkuri masih terus digunakan dalam pengobatan tradisional, upacara keagamaan dan kesenian. Dengan berkembangnya pengetahuan tentang merkuri di bidang kesehatan dan ilmiah serta semua efek bahayanya terhadap kesehatan manusia dan ekosistem, saat ini sebuah perjanjian internasional dibutuhkan untuk mulai mengurangi dan menghapuskan merkuri dari aktifitas-aktifitas manusia ( Yun 2004). Merkuri dapat melintasi jarak yang jauh di lingkungan dan juga diperdagangkan secara global, tidak ada suatu negara ataupun daerah yang bisa bertindak sendiri untuk melindungi masyarakatnya dan lingkungannya dari bahaya pencemaran merkuri. Ketika tubuh menyerap sejumlah raksa melampaui ambang batas, akan berakibat pada berbagai masalah kesehatan, terutama jika ia mencemari tubuh dalam bentuk raksa organik.

Pembakaran amalgam menghasilkan uap yang mengandung raksa di udara, yang turun bersama dengan air hujan, mencemari danau, sungai dan laut. Sebagian besar kandungan raksa ini melekat pada sedimen dan sebagian lagi diubah oleh organisme dan bakteri menjadi raksa organik yang bersifat sangat beracun. Jenis siput dan udang kecil akan menyerap raksa organik ini dari endapan dan air. Ikan yang memakan udang dan siput atau ikan yang terkontaminasi akan mengakumulasi raksa organik dalam tingkat yang tinggi. Raksa organik ini mudah larut dalam air, dan membahayakan fungsi pernafasan dan sistem metabolisme (Yun 2004). Untuk para penambang di lapangan, pencemaran raksa paling banyak terjadi melalui kontak langsung dengan kulit, menghirup asap raksa, dan memakan ikan yang telah tercemar raksa. Untuk masyarakat umum, pencemaran biasanya terjadi karena memakan ikan yang telah tercemar dan menghisap asap raksa yang berasal dari toko emas di sekitarnya ketika amalgam dibakar. Pencemaran raksa

dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan. Masalah kesehatan utama akibat uap raksa terjadi pada otak, sistem saraf pusat dan ginjal. Menghisap uap raksa mengakibatkan iritasi paru-paru, kesulitan bernafas dan sakit di bagian dada, paru-paru basah dan gagal ginjal (Elberger dan Brody 1993 ).

Merkuri terakumulasi dalam mikro-organisme yang hidup di air (sungai, danau, laut) melalui proses metabolisme. Bahan-bahan yang mengandung merkuri yang terbuang kedalam sungai atau laut dimakan oleh mikro-organisme tersebut dan secara kimiawi terubah menjadi senyawa methyl-merkuri. Mikro-organisme dimakan ikan sehingga methyl-merkuri terakumulasi dalam jaringan tubuh ikan. Ikan kecil menjadi rantai makanan ikan besar dan akhirnya dikonsumsi oleh manusia (Darmono 1995). Berdasarkan penelitian, konsentrasi merkuri yang terakumulasi dalam tubuh ikan diperkirakan 40-50 ribu kali lipat dibandingkan konsentrasi merkuri dalam air yang terkontaminasi (Stwertka 1998). Oleh karenanya, usaha pengolahan emas dengan menggunakan merkuri seharusnya tidak membuang limbahnya (tailing) kedalam aliran sungai sehingga tidak terjadi kontaminasi merkuri pada lingkungan disekitarnya, dan tailing yang mengandung merkuri harus ditempatkan secara khusus dan ditangani secara hati-hati. Merkuri yang terdapat dalam limbah atau waste di perairan umum diubah oleh aktifitas mikro-organisme menjadi komponen metil-merkuri (Me-Hg) yang memiliki sifat racun (toksik) dan daya ikat yang kuat disamping kelarutannya yang tinggi terutama dalam tubuh hewan air. Hal tersebut mengakibatkan merkuri terakumulasi baik melalui proses bioakumulasi maupun biomagnifikasi yaitu melalui rantai makanan (food chain) dalam jaringan tubuh hewan-hewan air, sehingga kadar merkuri dapat mencapai level yang berbahaya baik bagi kehidupan hewan air maupun kesehatan manusia yang makan hasil tangkap hewan-hewan air tersebut. Terjadinya proses akumulasi merkuri di dalam tubuh hewan air, karena kecepatan pengambilan merkuri (up take rate) oleh organisme air lebih cepat dibandingkan dengan proses ekresi, yaitu karena metil-merkuri memiliki paruh waktu sampai beberapa ratus hari di tubuh hewan air, sehingga zat ini menjadi terakumulasi dan konsentrasinya beribu kali lipat lebih besar dibanding air disekitarnya (Darmono 1995). Bioakumulasi adalah peningkatan konsentrasi suatu zat sepanjang rantai makanan (Stwertka 1998). Berikut ini adalah gambaran bagaimana perjalanan metil-merkuri dari air hingga masuk ke dalam tubuh manusia dan binatang (Stwertka 1998) :

1. Metil-merkuri di dalam air dan sedimen dimakan oleh bakteri, binatang kecil dan tumbuhan kecil yang dikenal sebagai plankton; 2. Ikan kecil dan sedang kemudian memakan bakteri dan plankton tersebut dalam jumlah yang sangat besar sepanjang waktu; 3. Ikan besar kemudian memakan ikan kecil tersebut, dan terjadilah akumulasi metil-merkuri di dalam jaringan. Ikan yang lebih tua dan besar mempunyai potensi yang lebih besar untuk terjadinya akumulasi kadar merkuri yang tinggi di dalam tubuhnya; 4. Ikan tersebut kemudian ditangkap dan dimakan oleh manusia dan binatang, menyebabkan metil-merkuri berakumulasi di dalam jaringannya. Ikan dapat mengabsorbsi metil-merkuri melalui makanannya dan langsung dari air dengan melewati insang. Oleh karena merkuri terikat dengan protein di seluruh jaringan ikan, termasuk otot, maka tidak ada metoda pemasakan atau pencucian ikan untuk mengurangi kadar merkuri di dalamnya. Merkuri dengan konsentrasi tinggi kadang kala di dapatkan di perairan dan jaringan ikan yang berasal dari pembentukan ion monoetil merkuri yang larut, CH3Hg+ dan (CH3)2 Hg, oleh bakteri anaerobik di dalam sedimen, merkuri dari senyawa-senyawa ini menjadi pekat di dalam lemak jaringan ikan (penguat biologis) dapat mencapai 103 (Stwertka 1998). Sebagai hasil dari kuatnya interaksi antara merkuri dan komponen tanah lainnya, penggantian bentuk merkuri dari satu bentuk ke bentuk lainnya selain gas biasanya sangat lambat. Proses methylisasi merkuri biasanya terjadi di alam di bawah kondisi terbatas, membentuk satu dari sekian banyak elemen berbahaya, karena dalam bentuk ini merkuri sangat mudah terakumulasi pada rantai makanan. Karena berbahaya, penggunaan fungisida alkylmerkuri dalam pembenihan tidak diizinkan di banyak negara (Turkdogan et al 2003). Logam merkuri bila menguap akan mengumpul di udara. Di udara gas merkuri akan turun ke bumi lewat air hujan dan kembali ke tanah dan perairan di muka bumi ini dari danau, sungai hingga laut. Sebagian besar merkuri akan menempel pada sedimen. Merkuri yang sudah berubah jadi senyawa metil merkuri tetap akan larut di air. Di perairan metil merkuri masuk ke tubuh ikan lalu

terakumulasi pada pemangsa alaminya hingga meracuni manusia. Daya serap metil merkuri di tubuh mencapai 95 persen. Merkuri baik dalam bentuk logam, mupun senyawa organik dan anorganik dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Kontaminasi merkuri pada manusia dapat melalui makanan, minuman dan hirupan nafas serta kontak kulit. Bila gas merkuri terhirup mengakibatkan bronkitis, sampai rusaknya paru-paru. Bahaya ini mengancam para penambang emas rakyat, karena setelah terpisah dari pasir mereka menguapkan merkuri dari amalgama untuk memisahkan kembali emasnya. Dalam bentuk logam, merkuri diperkirakan hanya 15 persen yang terserap tubuh manusia. Logam merkuri akan menumpuk sebagian besar dalam ginjal, ditemukan juga dalam otak, hati dan janin. Dalam organ tersebut logam ini akan berubah menjadi senyawa anorganik. Kemudian akan dibuang dalam kotoran, urine dan pernafasan. Penyakit ini juga akan menurun dari ibu yang terkontaminasi merkuri, hingga akan melahirkan bayi yang cacat, karena mengalami kerusakan DNA. Kecacatan bayi yang terjadi seperti gangguan keseimbangan dan gerak motorik, serta tingkat kecerdasannya rendah. Bahkan ada yang lahir tanpa anggota badan, atau bentuk kepala tidak beraturan. Munculnya berbagai tanda dan gejala keracunan merkuri pada seseorang sangat bervariasi dan tidak pula pada kadar yang sama. Untuk mencapai kadar tertentu di dalam tubuh manusia, bisa memerlukan waktu yang sangat panjang, sampai beberapa puluh tahun. Tergantung kadar merkuri yang masuk ke dalam tubuh melalui rantai makan maupun pintu masuk seperti lewat udara (inhalasi) serta kulit . Keracunan merkuri sekurangnya menimbulkan tanda dan gejala pada sistem syaraf, saluran pencernaan dan kulit. Tanda dan gejala pada sistem syaraf pusat antara lain berupa gemetar (tremor), kejang, lapangan pandang menyempit sampai kelumpuhan. Gangguan bisa terjadi juga pada panca indera mulai dari telinga berdengung sampai tuli, pandangan kabur hingga buta, tidak peka terhadap suhu dan bau serta gejala sistem syaraf pusat lain yang jarang disadari, yaitu berupa sukar tidur (insomnia), ketakutan, gangguan kepribadian, depresi sampai pikun. Gangguan pada pencernaan dan gigi, antara lain berupa produksi air ludah berlebihan (hipersalivasi), radang gusi, terdapat garis hitam pada gusi (leadline)

dan gigi mudah lepas. Sedangkan gangguan pada kuit biasanya berupa radang kulit (dermatitis) . Fenomena bioakumulasi senyawa pencemar, baik dalam jaringan hewan maupun tumbuhan, tentu saja berimplikasi pada keamanan pangan. Hal ini ditunjang oleh kenyataan bahwa sampai saat ini hampir seluruh bahan pangan berasal dari jaringan hewan dan tumbuhan. Seperti kita ketahui bahwa ikan merupakan produk yang mengandung protein hewani yang tinggi selain dari telur dan daging ayam. Maka dari itu masyarakat mengkonsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut, tapi apabila produk yang berasal dari perairan tersebut sudah tercemar merkuri maka mau tidak mau harus mengurangi konsumsi untuk menghindari terakumulasinya merkuri di dalam tubuh . Bentuk racun dari air raksa pada proses masuk pada tubuh manusia adalah methyl mercury (CH3Hg+ dan CH3-Hg-CH3) dan garam organik, partikel mercuric khlor (HgCl2). Methyl mercury dapat dibentuk oleh bakteri pada endapan dan air yang bersifat asam. Ion merkuri anorganik adalah bersifat racun akut. Elemen merkuri mempunyai waktu tinggal yang relatif pendek pada tubuh manusia tetapi persenyawaan methyl mercury tinggal pada tubuh manusia 10 kali lebih lama merkuri berbentuk metal (logam) dan menyebabkan tidak berfungsinya otak, gelisah/gugup, ginjal, dan kerusakan liver pada kelahiran (cacat lahir) ( ). Methyl mercury terakumulasi pada rantai makanan, sebagai contoh adalah merkuri bisa masuk ke dalam tubuh manusia dengan mengkonsumsi ikan yang hidup pada perairan yang tercemar merkuri. Senyawa phenyl mercury (C6H5Hg+ dan C6H5-Hg-C6H5) bersifat racun moderat dengan waktu tinggal yang pendek pada tubuh tetapi senyawa ini berubah bentuk secara cepat pada lingkungan menjadi bentuk merkuri anorganik. Dari survei efek bahaya, merkuri ini adalah bersifat racun bagi semua bentuk kehidupan, dan bersifat lambat untuk dikeluarkan dari tubuh manusia. Methyl mercury beracun 50 kali lebih kuat daripada merkuri anorganik. Sel sehat mempunyai kode yang menandai mereka. Kode itu disebut major histocompatibility complex (MHC). Ini kode individual Anda yang disebut diri sendiri. Tubuh Anda menganggap kode lain atau perubahan kode ini menjadi

bukan diri sendiri. Sistem kekebalan tubuh dilatih untuk membunuh dan menyingkirkan segala sesuatu penyerang tubuh yang bersifat bukan diri sendiri. Jika atom merkuri menempel pada sel yang sehat, terbentuk hapten dan sistem kekebalan segera mengenali sel itu sebagai bukan diri sendiri. Sistem kekebalan tubuh kemudian membunuh sel yang tercemar. Jika merkuri menempel pada sel saraf, hasilnya adalah penyakit neurologis, seperti sklerosa ganda, penyakit Lou Gehrig, serangan penyakit mendadak, atau lupus (penyakit kulit yang akut atau kronis, terutama pada wajah dan telapak tangan). Jika merkuri menempel pada makro molekul hormon, fungsi kelenjar endokrin berubah. Merkuri dapat menempel pada hampir semua sel tubuh dan menciptakan penyakit autoimun pada jaringan ini . Belakangan hal ini menjadi jelas bahwa racun bakteri anaerobic (bakteri yang dapat hidup dalam kondisi tanpa oksigen) mempunyai kemampuan yang sama untuk menciptakan penyakit autoimun bukan diri sendiri dengan mengganggu melalui MHC.Keracunan akut yang ditimbulkan oleh logam merkuri dapat diketahui dengan mengamati gejala-gejala berupa: 1. Peradangan pada tekak (pharyngitis) 2. dyspaghia3. rasa sakit pada perut 3. Mual-mual dan muntah 4. Murus disertai dengan darah dan shok. Bila gejala awal ini tidak segera diatasi maka penderita akan mengalami pembengkakan pada kelenjar ludah, radang pada ginjal (nephritis) dan radang pada hati (hepatitis). Keracunan kronis adalah keracunan yang terjadi secara perlahan dan berlangsung dalam waktu yang lama. Keracunan kronis yang disebabkan oleh merkuri, ada dua sistem tubuh yang paling sering mengalami gangguan, yaitu gangguan pada sistem pencernaan dan sistem syaraf.Radang gusi (gingivitis) merupakan gangguan paling umum yang sering terjadi pada sistem pencernaan. Radang gusi akan merusak sistem pertahanan gigi sehingga gigi akan mudah lepas.Ada dua bentuk gejala uumum pada gangguan syaraf, yaitu tremor (gemetar) ringan dan parkinsonisme yang juga disertai dengan tremor pada fungsi otot sadar. Tanda-tanda seorang pennderita keracunan kronis merkuri dapat dilihat pada organ mata. Biasanya pada lensa mata penderita terdapat warna abu2 gelap

atau abu2 kemerahan yang semua itu dapat dilihat menggunakan mikroskop mata. selain itu, gejala keracunan kronis lainnya adalah terjadinya anemia ringan pada darah. Ada 4 proses yang dialami bahan beracun di dalam organisme, yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme dan sekresi. Setiap bahan toksik melewati ke empat proses tersebut. Yang diawali dengan masuknya bahan toksik kemudian didistribusikan atau disebarkan bersama dengan peredaran darah. Setelah melakukan proses distribusi maka akan diserap atau di absorpsi bersama zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh dan mengalami proses metabolism dalam tubuh manusia, setelah proses metabolism maka tubuh akan mengeluarkan zat sisa metabolism tubuh yang disebut dengan proses sekresi. Untuk mengetahui efek negatif bahan toksikan tersebut di dalam tubuh, perlu diketahui perihal zat toksik dan sistem biologis manusia serta interaksi antara keduanya. Zat toksik akan dibawa oleh darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh dan kemudian mengganggu organ tubuh antara lain: keracunan neurotaksik, zat toksik akan dibawa menuju otak, atau zat toksik akan ditimbun dan diproses pada jaringan lemak, otot, tulang, syaraf, liver, pankreas, usus dan kemudian setelah melalui proses sisanya akan disekresikan ke luar tubuh. Ada beberapa cara untuk mengurangi limbah raksa yang dihasilkan kegiatan tambang tradisional. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menggunakan cara yang tidak membahayakan lingkungan, seperti menggunakan sistem tertutup ketika melakukan proses amalgamasi. Hal ini dapat mengurangi jumlah raksa yang terbuang ke tanah dan udara. Hal lain yang dapat dilakukan adalah memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para penambang, untuk mengendalikan peredaran raksa di lingkungan di kemudian hari. Menurut IPCS batas tolerir kadar merkuri dalam tubuh manusia meliputi ; dalam darah 8 mol/l, rata - rata merkuri dalam urine 4 g/l dan dalam rambut berkisar antara 1-2 g/kg 28. Kadar yang berbahaya dalam darah jika melebihi 200 mol/l, dalam urine melebihi 500 g/l, dan konsentrasi merkuri pada rambut bila melebihi dari 1 g/g akan menunjukkan intoksikasi merkuri 22. Sedangkan menurut ACGIH Tahun 1998 mereka yang tidak terpapar secara berarti, yaitu masyarakat pada umumnya maka kadar merkuri dalam urine tidak lebih dari 15

g/lg-kreatin, ambang batas merkuri dalam darah = 15 mol/l dan dalam urine = 15 g/lg-kreatin22. Hingga saat ini belum ada standar international mengenai tingkat kandungan merkuri dalam darah yang dikategorikan normal, angka 8 mol/l yang digunakan IPCS bukanlah batas tertinggi kadar merkuri diperbolehkan melainkan nilai mean untuk penduduk dunia22. Sedangkan Konsentrasi untuk merkuri metalik atau uapnya di udara 0,1mg/m3 dan untuk persenyawaan persenyawaan organik 0,01mg/m3 di tempat kerja dimana pekerjanya bekerja selama 8 jam per hari 25. Kriteria World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kadar normal merkuri dalam darah berkisar antara 5 g/l 10 g/l, dalam rambut berkisar antara 1 mg/Kg 2 mg/Kg sedangkan dalam urine rata - rata 4 g/l .

Pemeriksaan Biologis Keracunan


Metode yang digunakan dalam pemeriksaan total kadar merkuri adalah Atomic Absorbtion Spectrophotometer (AAS) baik untuk pemeriksaan kadar merkuri dalam makanan, darah, urine, rambut dan dalam jaringan. Gas Chomatography Electron Capture digunakan untuk pemeriksaan metil merkuri dalam makanan, jaringan dan cairan biologis, sedangkan Neutron Action digunakan untuk pemeriksaan total merkuri dalam semua media (WHO 1990).Adapun beberapa hal yang perlu diketahui terhadap biomarker merkuri adalah sebagai berikut : a. Merkuri dalam urine Sampel urine merupakan indikator terbaik terhadap kandungan merkuri dalam tubuh pada paparan merkuri anorganik jangka panjang karena paparan uap logam merkuri. Hal ini dikarenakan merkuri dalam urine mencapai puncaknya + 2 - 3 minggu setelah pemaparan dan berkurang dengan sangat lambat dengan waktu paruh 40 - 60 hari untuk pemaparan jangka pendek dan 90 hari untuk pemaparan jangka panjang (EPA 2006). Pemaparan pada masyarakat umum kadar merkuri dalam urine jarang melebihi 10 g/l, sedangkan pada pekerja berbanding lurus antara konsentrasi merkuri di udara dan urine. Pada hasil beberapa studi menunjukkan bahwa tanda awal pengaruh kurang baik yang berkenaan dengan sistem syaraf pusat atau ginjal dapat dilihat pada konsentrasi kadar merkuri dalam urine antara 25 - 35 g/l kreatin. Dan

apabila konsentrasi merkuri dalam urine melebihi 100 g/l kreatin secara pasti mempunyai risiko efek kurang baik pada kesehatan, terutama pada sistem syaraf pusat, tremor, rasa cemas, erethism dan kerusakan ginjal dengan proteinuria dapat diamati. Sedangkan pada pemaparan antara 50 - 100 g/l kreatin dalam urine gejalanya kurang terlihat (IPCS 1994). b. Merkuri dalam darah Sedangkan pemeriksaan sampel darah merupakan pilihan utama pada pemaparan merkuri anorganik jangka pendek dengan konsentrasi tinggi karena merkuri dalam darah meningkat sangat cepat. Waktu paruh merkuri dalam darah + 2 hari, dengan demikian evaluasi terhadap merkuri dalam darah dilakukan terbatas jika jangka waktu sesudah pemaparan sangat penting. Sedangkan pemaparan merkuri organik pengukuran dilakukan dengan pengambilan sampel darah dan rambut. Pengukuran merkuri dalam darah biasanya digunakan untuk

mengidentifikasi pemaparan metil merkuri. Kadar merkuri dalam darah pada masyarakat umum biasanya, pemaparan melalui makanan (ikan, kerang, udang) dan air minum. Konsumen ikan kadar merkuri dalam darahnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarang mengkonsumsi ikan. Pemaparan metil merkuri dalam jangka panjang melalui makanan berhubungan linier dengan kadar merkuri dalam darah. Dan kadar merkuri dalam darah 5 - 10 kali lebih rendah dari kadar merkuri dalam otak ( WHO 1994). c. Merkuri dalam rambut Sampel rambut tidak cocok untuk pengukuran paparan merkuri organik. Analisa merkuri dalam rambut biasanya digunakan untuk penilaian paparan yang terjadi pada ibu selama kehamilan. Status kesehatan adalah kondisi kesehatan pekerja sebelum dan sesudah bekerja di pertambangan emas . Status kesehatan pekerja dapat dikatakan baik jika pekerja tersebut tidak mengalami gejala atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh keracunan merkuri, dan dikatakan sakit jika pekerja tersebut mengalami gejala atau gangguan seperti yang disebutkan di bawah ini (Sumakmur 1996): a. Erethism - Perubahan mood.

- Gangguan tidur (insomnia). - Depresi. - Gangguan daya ingat. - Mudah marah. - Pengurangan pendengaran dan penglihatan. - Kesemutan dari sekitar mulut sampai jari dan tangan. b. Tremor - Gangguan koordinasi. - Gangguan keseimbangan. - Ataxia. - Tulisan tangan menjadi kacau. c. Stomatitis - Salivasi meningkat. - Pneumonitis yang diikuti demam. - Dispnea. d. Gingivitis kronik. e. Penurunan berat badan (anorexia). f. Sakit kepala terus menerus. g. Anemia dan sering kencing. 10. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Merkuri Dalam Darah (Handayani 2002 ) a. Kadar Merkuri Jumlah merkuri yang digunakan pekerja sebagai bahan pecampur pada saat proses amalgamasi dan penggarangan dengan satuan lt/hr. b. Lama Kontak Merkuri Adalah lama seseorang bekerja setiap harinya (dalam satuan jam) dan berapa hari dalam seminggu (dalam satuan hari), sehingga semakin lama jam kerja orang tersebut dalam sehari maka akan semakin banyak jumlah paparan merkuri yang diterima oleh tubuhnya, dan terakumulasi dalam berapa hari kerja selama seminggu. c. Frekuensi Pemakaian Merkuri

Intensitas pekerja kontak dengan merkuri dalam satu minggu yang dinyatakan dalam satuan hr/mg. d. Masa Kerja Adalah lama seseorang bekerja (dalam satuan tahun), dan selama itu pula orang tersebut terpajan merkuri. Karena merkuri bersifat akumulatif maka semakin lama orang tersebut bekerja akan semakin banyak pula jumlah merkuri di dalam tubuhnya. e. Status Gizi Adalah keadaan gizi seseorang, akibat dari keseimbangan antara konsumsi, penyerapan zat gizi dan penggunaan zat - zat gizi tersebut. Gizi berguna untuk mendukung aktifitas fisik maupun mental, sehingga orang tidak akan cepat lelah dalam bekerja dan mampu berfikir secara optimal. Selain itu, orang dengan berat badan yang besar, cenderung kadar racunnya kecil begitu juga sebaliknya pada seseorang dengan berat f. Penggunaan Alat Pelindung Diri Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan untuk

meminimalisasi tingkat paparan bahan berbahaya atau beracun serta menghindari kecelakaan akibat kerja di tempat kerja. APD ada untuk semua jenis bahaya dan keadaan. Jenis APD yang digunakan pada pertambangan emas, meliputi : sarung tangan karet, kaca mata, sepatu boot, dan pakaian panjang (pada proses amalgamasi), sedangkan pada proses penggarangan dibutuhkan masker sebagai alat pelindungnya. Pada dasarnya APD tersebut dapat berfungsi untuk mencegah masuknya merkuri ke dalam tubuh pekerja, baik melalui inhalasi maupun melalui pori - pori kulit. Dengan pekerja memakai APD, diharapkan akan mengurangi risiko yang diakibatkan oleh paparan merkuri. Toksisitas adalah kemampuan suatu molekul atau senyawa kimia dalam menimbulkan kerusakan pada bagian yang peka di dalam maupun di bagian luar tubuh makhluk hidup (Durham 1975 dalam Tandjung 1995). Tolok ukur pengujian efek bahan pencemar yang saat ini dianggap paling tepat adalah derajat toksisitas dengan metode Bioassay. Menurut Connel (1995), respon makhluk hidup yang diuji dapat dimasukkan dalam kategori-kategori sebagai berikut:

a. Pengaruh akut, yaitu respon makhluk hidup terhadap suatu keadaan yang cukup parah sehingga menyebabkan suatu respon cepat biasanya dalam waktu 96 jam. b. Pengaruh subakut, yang merupakan respon makhluk hidup terhadap suatu kondisi yang kurang parah dibandingkan dengan yang ada pada nomor (1) dan biasanya terjadi setelah waktu yang lebih lama. c. Pengaruh kronis, yang merupakan respon makhluk hidup terhadap suatu kondisi berkesinambungan yang terjaga tetap, paling tidak 10% dari waktu hidup makluk hidup. Merkuri masuk ke dalam tubuh organisme hidup terutama melalui makanan yang dimakannya, karena hampir 90% logam berat (merkuri) masuk ke dalam tubuh melalui jalur makanan. Logam merkuri masuk pada jalur tersebut melalui dua cara, yaitu lewat air (minuman) dan tanaman (bahan makanan). Sisanya akan masuk secara difusi atau perembesan lewat jaringan dan melalui pernafasan (insang) (Palar 1994). Merkuri anorgank di perairan akan mengalami metilasi oleh bakteri anaerob sebagai methyl merkuri dan membebaskannya ke perairan. FAO (1971) dalam Budiono (2003) mengemukakan, bahwa merkuri yang dapat diakumulasi oleh ikan atau shellfish adalah berbentuk methyl merkuri. Methyl merkuri yang terbentuk, bersifat tidak stabil sehingga mudah dilepaskan ke dalam perairan yang kemudian masuk ke hewan maupun tumbuhan air dan mengalami akumulasi. Ochiai dalam Connel dan Miller (1995), telah membagi mekanisme toksisitas ion-ion logam secara umum ke dalam tiga kategori yaitu: a. Menahan gugus fungsi biologi yang esensial dalam biomolekul (misalnya protein dan enzim). b. Menggantikan ion logam esensial dalam biomolekul. c. Mengubah konformasi biomolekul. Makanan yang telah terkontaminasi merkuri akan dikonsumsi makhluk perairan termasuk ikan dan akan masuk dalam alur pencernaan. Dari alur pencernaan (gastrointestinal) melalui dinding-dindingnya akan menuju ke cairan sirkulatori. Bahan-bahan kimia setelah dari cairan sirkulatori ada yang di metabolisme dan ada yang bertemu dengan kebanyakan jaringan badan dan selanjutnya ditimbun dalam jaringan lemak. Bahan-bahan kimia (senyawa merkuri) dalam cairan sirkulatori akan teroksidasi menjadi Hg2+ dan akan

terakumulasi dalam hati. Di hati akan dimetabolisme, merkuri dalam hati akan diinaktifkan oleh enzim-enzim di dalam hati sehingga terjadi biotransformasi zatzat berbahaya menjadi zat-zat yang tidak berbahaya yang kemudian diekskresikan oleh ginjal dan mengalami pertukaran. Senyawa-senyawa kimia yang disimpan dalam lipid tubuh mengalami sedikit degradasi, tapi dapat dimobilisasi ulang kedalam cairan sirkulatori. Seluruh biota perairan memperoleh pasokan oksigen lewat insang dengan difusi melalui membran bagian luarnya. Permukaan ini permeabel terhadap moolekulmolekul oksigen, yang membuatnya permeabel terhadap senyawa kimia. Pengambilan oksigen kedalam jaringan-jaringan tubuh melalui permukaan terjadi pada makhluk hidup kecil, seperti jasad renik, namun pada makhluk hidup yang lebih besar termasuk ikan, bahan-bahan kimia mendifusi ke dalam cairan sirkulatori. Senyawa-senyawa kimia selain masuk melalui saluran pencernaan, juga bisa masuk melalui saluran pernafasan (insang). Senyawa kimia tersebut akan masuk melalui insang yang langsung bersentuhan dengan lingkungan air. Setelah melewati insang, bahan-bahan kimia termasuk merkuri akan ikut ke dalam sistem pernafasan sampai akhirnya akan menembus sel epitel endothelial kapiler darah untuk masuk ke dalam darah. Selanjutnya akan terikut ke dalam aliran darah dan akhirnya ikut dalam proses metabolisme (Connel 1995). Merkuri merupakan logam yang terlibat dalam proses enzimatik, terikat dengan protein (ligan binding). Ikatan merkuri dengan protein jaringan membentuk senyawa metallotionein. Metallotionein merupakan protein aditif yang berperan dalam proses homeostatis organisme dalam mentolelir logam berat. Senyawa-senyawa kimia yang telah berikatan dengan protein dan membentuk metallotionein tersebut akan dibawa oleh darah (Darmono 1995). Senyawa merkuri yang masuk bersama makanan, akan masuk ke dalam alur pencernaan, setelah mengalami absorbsi di usus, senyawa merkuri akan dibawa ke hati oleh vena porta hepatik. Selanjutnya di dalam hati senyawa merkuri mengalami metilasi lambat menjadi Hg2+, dan kemudian akan masuk ke dalam darah dan akan teroksidasi sempurna menjadi merkuri bivalensi (Hg2+). Bersama peredaran darah, Hg2+ yang masuk ke hati akan mengalami metabolisme, terdegradasi dan melepaskan Hg2+, sehingga dapat menghambat enzim proteolitik dan

menyebabkan kerusakan sel (Lu 1995). Merkuri yang tadinya masuk ke dalam hati akan terbagi dua: sebagian akan terakumulasi pada hati, sedangkan sebagian lainnya akan dikirim ke empedu. Dalam kantong empedu, akan dirombak menjadi senyawa merkuri anorganik yang kemudian akan dikirim lewat darah ke ginjal, dimana sebagian akan terakumulasi pada ginjal dan sebagian lagi dibuang bersama urin (Palar 1994). Hati merupakan kelenjar tubuh yang paling besar dan memiliki multifungsi kompleks. Pada sel hati terdapat banyak retikulum endoplasma kasar dan retikulum endoplasma halus, hal ini menunjukkan bahwa hati mempunyai peran dalam metabolisme. Retikulum endoplasma (RE) merupakan tempat sejumlah enzim dalam sel. Enzim yang banyak terdapat dalam retikulum endoplasma adalah Sitokrom P450. Logam merkuri dapat sampai ke saluran pencernaan selain melalui makanan, juga dapat terjadi melalui air yang mengandung logam merkuri. Setelah melewati sistem pencernaan, logam merkuri masuk ke peredaran darah dan menuju ke organ tubuh secara sistematik (Lu 1995). Menambang emas telah menjadi kegiatan tradisional yang turun temurun di Kalimantan. Meski demikian, penggunaan pompa pada kasbok inilah menyebabkan kerusakan lingkungan besar-besaran. Akibatnya, para penambang yang mencari nafkah saat ini, secara tidak langsung sedang merusak lingkungan tempat tinggal untuk masa yang akan datang. Banyak orang di Kalimantan sadar bahwa masalah sungai dan daratan yang terjadi adalah akibat dari kegiatan penambangan emas yang terus-menerus. Namun hanya sedikit yang menyadari bahwa pada saat yang sama polusi yang berbahaya juga tersebar saat kegiatan ini dilakukan. Merkuri yang mencemari daratan akan masuk dalam tanah kemudian merembes ke air tanah atau mengalir ke aliran sungai jika hujan turun. Merkuri lalu terisap oleh akar tanaman sayuran dan buah-buahan serta rumput. Selanjutnya, merkuri tersimpan di buah dan daun. Sayuran yang terkontaminasi itu dikonsumsi oleh manusia. Rumput dimakan sapi, susunya lalu diminum oleh manusia. Semuanya bermuara pada manusia. Menurut Buku Pedoman Mutu Lingkungan, kadar merkuri yang terdapat pada makanan kita yang tanpa disadari

adalah : maksimum 0,001 ppm baik dikonsumsi langsung maupun tanpa diolah dulu. Kadar merkuri yang aman dalam darah maksimal 0,04 ppm (part per millions). Kandungan merkuri 0,1-1 ppm dalam jaringan sudah dapat menyebabkan munculnya gangguan fungsi tubuh. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan, kadar merkuri maksimum di dalam air adalah 0,001 mg/l. Bahaya Merkuri pada Kosmetik dapat mengakibatkan memperlambat pertumbuhan janin, mengakibatkan keguguran (Kematian janin dan Mandul), Flek hitam pada kulit akan memucat (seakan pudar) dan bila pemakaian dihentikan, flek itu dapat / akan timbul lagi & bertambah parah (melebar). Selain itu juga menimbulkan Efek REBOUND yaitu memberikan respon berlawanan (kulit akan menjadi gelap/kusam saat pemakaian dihentikan). Untuk wajah yang tadinya bersih lambat laun akan timbul flek yang sangat parah (lebar) dan yang palig parah dapat mengakibatkan kanker kulit. Unsur merkuri yang ada di kosmetik akan diserap melalui kulit, kemudian akan dialirkan melalui darah keseluruh tubuh dan merkuri itu akan mengendap di dalam ginjal yang berakibat terjadinya gagal ginjal yang sangat parah dan menimbulkan kematia. Merkuri dalam krim pemutih (yang mungkin tidak tercantum pada labelnya) dapat menimbulkan keracunan bila digunakan untuk waktu lama.Walau tidak seburuk efek merkuri yang tertelan (dari makanan ikan yang tercemar), tetap menimbulkan efek buruk pada tubuh. Kendati cuma dioleskan ke permukaan kulit, merkuri mudah diserap masuk ke dalam darah, lalu ,memasuki system saraf tubuh. Manifestasi gejala keracunan merkuri akibat pemakaian krim kulit muncul sebagai gangguan system saraf, seperti tremor (gemetar), insomnia (tidak bisa tidur), pikun, gangguan penglihatan, ataxia (gerakan tangan tak normal), gangguan emosi, depresi dll. Oleh karena umumnya tak terduga kalau itu penyakitnya, kasus keracunan merkuri sering didiagnosis sebagai kasus Alzheimer, Parkinson, atau penyakit gangguan otak. Setelah sekian lama, kosmetik tsb akan diserap melalui kulit dan dialirkan melalui darah ke seluruh tubuh, akhirnya merkuri itu akan mengendap di dalam ginjal, sehingga menyebabkan gagal ginjal yang sangat parah bagi pemakainya. Produk kosmetik yang dipakai tersebut akan menyebabkan iritasi parah pada kulit, yakni berupa

kulit yang kemerah-merahan dan menyebabkan kulit menjadi mengkilap secara tidak normal. Kondisi tersebut telah banyak dikeluhkan oleh para konsumen yang sudah terlanjur menggunakan produk-produk kosmetik illegal tersebut.

Kesimpulan
Ada tiga macam bentuk merkuri (Hg), yaitu uap Hg (unsur Hg), garam Hg, dan Hg organik. Unsur Hg biasanya digunakan di laboratorium penelitian, sedangkan garam Hg pernah digunakan sebagai obat cacing (HgCl2), bahkan sekarang masih digunakan dalam sejumlah krim kulit sebagai antiseptik. Selain itu garam Hg juga digunakan dalam industri elektronik, pembuatan plastik, fungisida, germisida, formula algam untuk tambal gigi. Pengaruh dari toksisitas merkuri terhadap tubuh antara lain : kerusakan syaraf, termasuk menjadi pemarah, paralisys, kebutaan atau ganguan jiwa, kerusakan kromosom dan cacat bayi dalam kandungan. gejala-gejala ringan akibat keracunan merkuri adalah depresi dan suka marah-marah yang merupakan sifat dari penyakit kejiwaan, sakit kepala, sukar menelan, penglihatan menjadi kabur, daya dengan menurun, merasa tebal di bagian kaki dan tangannya, mulut terasa tersumbat oleh logam, gusi membengkak dan disertai diare, lemah badan, dan cacat pada janin manusia.
Ada beberapa sumber pencemaran merkuri terhadap lingkungan, beberapa diantaranya dari produk-produk dan peralatan yang mengandung merkuri, pabrik-pabrik, proses industri, aktivitas pertambangan, pemurnian logam, pembakaran batu bara, proses teknologi pembakaran sampah dengan insinerator, cement kiln, timbunan sampah di tempat pembuangan akhir, lahan yang terkontaminasi, krematorium, dan lain-lain.

Standard yang ditetapkan badan-badan internasional untuk merkuri adalah sebagai berikut: di air minum 2 ppb (2 gr dalam 1.000.000.000 (satu milyar gr air atau kira-kira satu juta liter)). Di makanan laut 1 ppm (1 gram tiap 1 juta gram) atau satu gram dalam 10 ton makanan. Di udara 0,1 mg (miligram) metilmerkuri setiap 1 m3, 0,05 mg/m3 logam merkuri untuk orang-orang yang bekerja 40 jam seminggu (8 jam sehari).

Daftar Pustaka
Achmad R. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset.

Anonimousa. 2006. Kesehatan. Bahaya Logam Berat Bagi Kesehatan. [hubungan berkala] http://www.articles.asp.htm [30 September 2006]. Anonymous. 2004. Cara Alternatif untuk Mengolah Limbah Padat yang Mengandung Merkuri dan Arsen. Merujuk Kasus Buyat-. Kompas cyber media edisi Selasa, 31 Agustus 2004. http:// www.kompas.com. [17 Juli 2007]. Ardiansyah. 2006. Keamanan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Tradisional. [hubunganberkala] http://www.BERITA_IPTEK_ONLINE/KeamananPanganFungsional BerbasisPanganTradisional.html [30 September 2006]. Assegaf H. 1993. Nilai Normal Faal Paru Orang Indonesia Pada Usia Sekolah dan Pekerja Dewasa Berdasarkan Rekomendasi American Thoracic Society (ATS). Surabaya: Airlangga University Press. Astawan Made. 2005. Awas Koran Bekas! Kompas cyber media. [hubungan berkala] http://www.kompas.com.[12 Juni 2006] Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal). 1999. Peraturan Pemerintah Nomor : 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Jakarta.

Bambang Tjahjono Setiabudi. 2005. Penyebaran Merkuri Akibat Usaha Pertambangan Emas Di Daerah Sangon, Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. [Kolokium Hasil Lapangan]. Yogyakarta Budiono, A. 2003. Pengaruh Pencemaran Merkuri terhadap Biota Air. [hubungan berkala] http://www.achmadbud. net/ merkuri.pdf. [3 Agustus 2006]. Brodie KC. 1979. Analysis of Arsenic, Mercury and The Other Trace Elements by Vapour Generation. International Labarotory. Charlena. 2004. Pencemaran Logam Berat Timbal (Pb) dan Cadmium (Cd) pada Sayur-sayuran. [Falsafah Sains]. Bogor: Program Pascasarjana S3 IPB. 30 Desember 2004 Connell DW. 1995. Bioakumulasi Senyawaan Xenobiotik. Jakarta: UI Press. Connell DW, GJ Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Jakarta: UI Press Darmono. 1995. Logam Dalam Sistem Biologi Air. Jakarta: UI Press. Palar H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rineka Cipta. Donatus, Argo, Imono. 2001. Toksikologi Dasar. Yogyakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada. Dreisbach RH, Robertson WO. 1987. Handbook of Poisoning , 12th ed. California: Appleton&Lange.

Duffus JH. 1980. Environmental Toxicology. New York.: John Wiley and Sons. Elberger ST, Brody GM. 1993. Cadmium, Mercury, and Arsenic, in: Viccellio P, (Editor). Handbook of Medical Toxicology, First edition. Boston : Little, Brown and Co. Ellenhorn, MJ, Schonwald S, Ordog G, Wasserberger J. 1997. Ellenhorns Medical Toxicology Diagnosis & Treatment of Human Poisoning. Second Ed. Baltimore: Williams & Wilkins. EPA. 2006. Enviroment Protection Agency, Mercury, Human Health. US. Handayani Sri. 2002. Hubungan Industrial di Indonesia. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Gunradi R., Sukmana, Tain, Z. dan Nixon, 2000. Laporan Penelitian Pemantauan Unsur Hg (Merkuri) Akibat Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di Daerah Pongkor, Jawa Barat dengan Pemetaan Geokimia. Koordinator Urusan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Barat. Bandung International Progamme on Chemical Safety (IPCS). 1994.Biological Monitoring of Metal. WHO. Geneva. Kim HT. 1998. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press. Kosnett MJ. 1994. Mercury. in: Olson KR (Editor). Poisoning & Drug Overdose. 2nd edition, London. Prentice Hall Int Inc. Loomis TA. 1978. Toksikologi Dasar. Penerjemah: Donatus. Semarang: IKIP Semarang Press. Lu CF. 1995. Toksikologi Dasar. Jakarta: Universitas Indonesia. Muhammad F. 2002. Penentuan Toksisitas Air Limbah dengan Indikator Ikan Tombro (Cyprinus carpio). Majalah Ilmiah Biologi BIOMA Vol.4 No.2. Semarang : UNDIP. Ngabekti S. 2005. Toksisitas Lethal Akut Merkuri dan Daya Akumulatifnya pada Daging Ikan Mas. Laporan Penelitian. Semarang : Biologi UNNES. Nurhasan. 1982. Pencemaran Merkuri. Warta Balai Industri. Semarang: BPPI. Soemirat. 2003. Toksikologi Dasar. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Stern AH, Smith AE. 2003. An assessment of the cord blood: maternal blood methylmerkuri ratio: implications for risk assessment. Environ Health Perspect. 111(12):1465-70.

Stwertka A. 1998. Guide To The Elements. New York: Oxford University Press. Sugiono, Joko. Wijaya, Caroline. 1995. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. World Health Organization. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sumamur Pk. 1996. Higiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. PT Toko Gunung Agung. Jakarta. Susilo YEB. 2003. Menuju Keselarasan Lingkungan. Malang : Averroes Press. Tandjung SD. 1995. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM. Turkdogan MK, F Kilicel, K Kara, I Tuncer and I Uygan. 2003. Heavy metals in soil, vegetables and fruits in the endemic upper gastrointestinal cancer region of Turkey. J. of Environmental Toxicology and Pharmacology. Vol 13 (3): 175-179. April 2003. Widowati Wahyu. 2008. Efek Toksik Logam. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. World Health Organization (WHO). 1986. Early Detection of Occupational Disease. World Health Organization (WHO) . 1990. Geneva. Yun. 2004. Pencemaran Merkuri dari Darat ke Laut. [hubungan berkala] http:// kompas.com/kompas-cetak/0412/02/bahari/1412383.hlm. [19 Juli 2006].