Anda di halaman 1dari 26

A.

Latar Belakang Masalah Belajar merupakan perubahan perilaku yang disebabkan oleh

pengalaman. Pengalaman secara otomatis menjadi unsur penting dalam aktivitas pembelajaran. Sebagian pengalaman tersebut merupakan umpan balik dari lingkungan sekitar. Pentingnya lingkungan, baik yang

dimanfaatkan maupun yang dirancang besar kecilnya banyak dipercayai dan dibuktikan sebagai salah satu usaha untuk mempermudah peserta didik dalam belajar. Sekolah merupakan satu lingkungan yang secara sengaja dirancang untuk mempermudah siswa dalam belajar. Sekolah sebagai lembaga dengan standar sistem yang terus ditingkatkan dari waktu ke waktu memiliki ruang yang cukup besar dalam mengembangkan aktivitas belajar. Aktivitas belajar ini tentunya perlu didukung banyak aspek diantaranya adalah perangkat sekolah. Perangkat sekolah sebagai unsur dari bergeraknya sistem tersebut tentu memiliki karakteristik dan fungsi tersendiri dalam menentukan ketercapaian tujuan pendidikan pada setiap jenjangnya. Perangkat sekolah meliputi banyak bentuk salah satunya adalah sarana dan prasarana. Pada sekolah formal sarana dan prasarana pokok untuk mendukung pembelajaran tentunya adalah ruang kelas. Kebanyakan sekolah mengkategorikan kelas sebagai ruangan yang ditempati kelompok-kelompok siswa secara permanen dalam periode satu tahun ajar. Mekanisme belajar yang terjadi kemudian adalah guru yang mendatangi siswa di kelas. Proses pembelajaran tentunya tidak jarang membutuhkan sumber-sumber belajar

yang dibuat ataupun dimanfaatkan untuk mendukung efektifitas pembelajaran yang tentunya akan berbeda antara satu pelajaran dengan pembelajaran yang lain. Alat atau bahan sumber belajar ini otomatis harus dibawa guru setiap kali mengajar ke ruang kelas. Suasana yang terbangun di lingkungan kelaspun akan cenderung monoton dan tidak menunjukkan karakteristik mata pelajaran tertentu. Lingkungan kelas dengan karakteristik siswa menetap ini juga tidak memberikan banyak kesempatan siswa untuk dapat bergerak. Biasanya siswa akan duduk atau diam di kelas sambil menunggu jam pelajaran berikutnya. Guru mata pelajaranpun tidak jarang melupakan aspek keaktifan siswa secara fisik dalam proses pembelajaran. Padahal aktifasi siswa secara fisik sangat perlu ditingkatkan dalam masa-masa perkembangan, selain untuk

meningkatkan kebugaran juga bermanfaat untuk mengembalikan konsentrasi belajar. Mekanisme belajar seperti ini tentu mempengaruhi pengalaman dan persepsi siswa mengenai aktivitas belajar di sekolah, tidak menutup kemungkinan juga memiliki hubungan dengan aspek-aspek penilaian hasil belajar. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006 pada bab III mengenai beban belajar menyebutkan pilihan mengenai sistem paket dan sistem satuan kredit semester (SKS). Beban belajar ini mencakup satuan waktu dari program pembelajaran yang harus diikuti peserta didik pada setiap jenjangnya. Sistem yang ditawarkan dalam Permendiknas di atas pada dasarnya adalah untuk mengkategorikan sekolah yang belum memenuhi

standar nasional dengan sekolah yang sudah atau hampir memenuhi standar nasional. Sekolah dengan kategori mandiri atau yang sudah dan hampir memenuhi standar nasional pendidikan diinstruksikan untuk mulai

menggunakan sistem kredit semester yang selanjutnya disebut SKS. SKS mengindikasikan perlunya sistem pembelajaran yang baru karena fleksibilitas penentuan beban belajar yang diambil diserahkan pada siswa. Salah satu implikasi dari diterapkannya SKS di jenjang sekolah menengah adalah munculnya sistem pembelajaran moving class. Kehadiran dan pelaksanaan sistem pembelajaran moving class selain disebabkan oleh penegasan Permendiknas No 22 Tahun 2006 diatas juga dilatarbelakangi oleh alasan-alasan mengenai peningkatan kualitas

pendidikan. Misalnya dalam salah satu artikel dalam portal web wikimu Robertus Maluk Nugroho mengungkapkan: Kemampuan belajar setiap anak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Anak-anak akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar yang didukung lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep yang jelas. Untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bereksplorasi, mencipta, berpikir kreatif, dan mengembangkan kemampuan lain yang dimiliki siswa, sekolah perlu menerapkan berbagai model pembelajaran yang dikelola dengan sistem Moving class. Artikel yang dibuat oleh Robertus diatas mengungkapkan bahwa dalam proses belajar lingkungan yang dirancang secara cermat dengan konsep yang jelas akan mendukung kemampuan siswa dalam mengembangkan potensi diri siswa. Salah satu alternatif pengelolaan pembelajaran yang dapat digunakan

untuk mencapai tujuan tersebut adalah sistem moving class. Sistem moving class adalah sistem belajar dan pengelolaan kelas yang mengindikasikan bergeraknya peserta didik ke kelas sesuai dengan mata pelajaran yang akan dipelajarinya. Kelas-kelas yang ada dalam sistem moving class adalah kelas mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran, sehingga setting kelas maupun peralatan dan media yang dibutuhkan untuk mempelajari pelajaran tertentu dapat diletakkan dalam kelas, layaknya konsep laboratorium. Konsep moving class telah lama dikenal dalam dunia pendidikan terutama pendidikan tinggi. Saat ini sistem belajar moving class mulai coba diterapkan di sekolah-sekolah menengah. Beberapa alasan melatarbelakangi penerapan konsep ini, misalnya faktor kesiapan siswa. Berpindahnya siswa dari satu ruangan ke ruangan lain membuat siswa bergerak dan diharapkan mengembalikan konsentrasi dan menghindari kejenuhan belajar dalam kelas yang sama sepanjang hari. Selain itu, beberapa kelebihan yang dimiliki sistem moving class seperti yang diungkapkan dalam Juknis Sistem Moving Class SMA yang diluncurkan oleh Direktorat Pembinaan SMA adalah peserta didik memiliki waktu untuk bergerak, sehingga selalu segar untuk

menerima pelajaran. Bagi peserta didik, mereka lebih fokus pada materi pelajaran, suasana kelas menyenangkan, dan interaksi peserta didik dengan guru lebih intensif. Bagi guru, mempermudah mengelola

pembelajaran, lebih kreatif dan inovatif dalam mendesain kelas, guru lebih maksimal dalam menggunakan berbagai media, pemanfaatan waktu belajar lebih efisien, dan lebih mudah mengelola suasana kelas.

Kontribusi penerapan moving class ini juga pernah

dibahas dalam

skripsi karya Liana Ekasari yang menggali masalah pelaksanaan moving class terhadap motivasi siswa. Penelitian dengan judul Kontribusi Sistem Pembelajaran Moving Class Terhadap Motivasi Belajar Siswa: Studi Kasus Siswa Kelas XI Jurusan Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Sumedang ini menghasilkan temuan sebagai berikut: (1) menurut persepsi siswa, penerapan sistem pembelajaran moving class di SMK Negeri 1 Sumedang sudah berjalan dengan baik, (2) motivasi belajar siswa kelas XI jurusan teknik gambar bangunan SMK Negeri 1 Sumedang termasuk ke dalam kategori tinggi, (3) terdapat hubungan yang kuat antara penerapan sistem pembelajaran moving class di SMK Negeri 1 Sumedang dengan motivasi belajar siswa, (4) kontribusi penerapan sistem pembelajaran moving class di SMK Negeri 1 Sumedang terhadap motivasi belajar siswa adalah sebesar 56,7%. Dalam hasil penelitian di atas peserta didik memiliki motivasi yang tinggi dengan menerapkan moving class. Kontribusi positif terhadap motivasi ini bisa jadi berhubungan dengan prestasi belajar. Penelitian mengenai pemanfaatan moving class saat ini lebih banyak difokuskan pada pelaksanaan maupun pengaruh intrinsik peserta didik seperti motivasi. Hubungan penerapan sistem moving class dengan prestasi belajar tentunya merupakan studi yang penting, mengingat pengalaman belajar yang telah dirancang sedemikian rupa salah satu tujuannya adalah mendorong potensi dan prestasi peserta didik. Salah satu penelitian yang menunjukan pengaruh moving class dengan prestasi belajar siswa adalah skripsi karya Ayus Bahrul Qolbi. Penelitian yang berjudul Pengaruh Implementasi Moving Class Terhadap Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Di SMA Negeri 2 Situbondo ini mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh langsung implementasi moving class terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Seni Budaya sebesar 38,6%, (2) terdapat pengaruh langsung implementasi moving class terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Seni Budaya sebesar 22,6%, (3) terdapat pengaruh langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Seni Budaya sebesar 23,0%, (4) terdapat pengaruh tidak langsung implementasi moving class terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Seni Budaya sebesar 8,8%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ayus diatas tentunya dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh yang cukup berarti dari implementasi moving class dengan motivasi dan prestasi belajar siswa. Hal ini membuktikan bahwa prestasi siswa juga dipengaruhi langsung oleh proses dan pengelolaan lingkungan pembelajaran yang baik. Sistem belajar kelas menetap dan moving class pada dasarnya merupakan sistem penataan lingkungan dan sirkulasi pembelajaran yang diciptakan sekolah demi mencapai tujuan pendidikan. Kedua sistem tentunya ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam pelaksanaan dan pertimbangan kontribusi yang dihasilkan. Salah satu kontribusi yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem belajar ini adalah prestasi belajar. Perbedaan dan pengaruh pada beberapa aspek sistem belajar kelas menetap dengan sistem belajar moving class telah dijabarkan peneliti sebelumnya, namun perlu diadakan penelitian yang lebih komperhensif untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pada prestasi siswa yang signifikan antara siswa yang menggunakan sistem kelas menetap dengan sistem moving class. Merujuk pada permasalahan diatas maka penulis membuat judul

penelitian ini sebagai Studi Komparatif Antara Prestasi Belajar Siswa Moving Class Dengan Siswa Kelas Menetap B. Rumusan Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan sebelumnya maka peneliti mencoba menarik rumusan masalah umum yakni Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan sistem kelas menetap dengan siswa yang menggunakan sistem moving class di kelas IX SMA? Sedangkan rumusan masalah khususnya diuraikan sebagai berikut: 1. Bagaimana prestasi belajar siswa kelas IX yang menggunakan sistem moving class? 2. Bagaimana prestasi belajar siswa kelas IX yang menggunakan sistem kelas menetap? 3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa yang menggunakan moving class dengan siswa yang menggunakan kelas menetap? C. Tujuan Penelitian Pada setiap kegiatan yang dilakukan tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai peneliti adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pencapaian prestasi belajar yang signifikan antara siswa yang menggunakan sistem belajar moving class dengan siswa yang menggunakan sistem belajar menetap. Peneliti juga memiliki tujuan khusus yang ingin dicapai yakni:

1. Untuk mengetahui gambaran prestasi belajar siswa kelas IX yang menggunakan sistem belajar moving class. 2. Untuk mengetahui gambaran prestasi belajar siswa kelas IX yang menggunakan sistem belajar kelas menetap. 3. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa yang menggunakan moving class dengan siswa yang menggunakan kelas menetap. D. Manfaat Hasil Penelitian Manfaat yang diharapkan dapat dicapai dari hasil penelitian ini yakni sebagai berikut: 1. Manfaat Praktis a. Guru Memberikan informasi mengenai hubungan penggunaan sistem belajar dengan prestasi belajar sehingga dapat memberikan motivasi dan pertimbangan untuk manajemen kelas, pemanfaatan sumber belajar dan peningkatan aktifitas pembelajaran ke arah yang lebih baik. b. Sekolah yang diteliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat positif terhadap pihak sekolah, sebagai bahan referensi maupun dokumentasi sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang akan diambil guna meningkatkan mutu dan citra lembaga.

c. Peneliti Bagi peneliti dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mengetahui gambaran penerapan pengelolaan lingkungan belajar serta pengaruh mekanisme sistem belajar dengan kelas menetap dan moving class terhadap siswa, guru dan perangkat sekolah lainnya. Peneliti juga berharap mendapatkan pengalaman langsung serta wawasan mendalam mengenai bidang kajian keilmuan Teknologi Pendidikan dan keterkaitannya dalam mengelola sistem dan lingkungan belajar yang baik dalam pencapaian tujuan pendidikan. 2. Manfaat Teoritis a. Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Bagi jurusan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pengetahuan mengenai penerapan sistem kelas menetap dan moving class di SMA. b. Peneliti selanjutnya Bagi peneliti yang tertarik untuk mengembangkan teori mengenai sistem pelaksanaan dan pengaturan pembelajaran moving class maupun kelas menetap penelitian ini dapat dijadikan rujukan dan pertimbangan penelitian. E. Definisi Operasional Agar tidak terjadi salah pengertian dalam mengartikan masalah yang dikemukakan dalam penelitian, maka sekiranya peneliti menjelaskan definisi operasional dari judul penelitian, yakni sebagai berikut:

1.

Penerapan Penerapan dalam konteks penelitian ini adalah proses aktualisasi konsep dan kebijakan moving class di SMA.

2.

Sistem moving class Moving class adalah sistem belajar mengajar dengan karakteristik peserta didik yang mendatangi guru di kelas. Sistem ini membagi kelas sesuai dengan mata pelajaran atau rumpun ilmu yang akan dipelajari peserta didik.

3.

Sistem kelas menetap Sistem kelas menetap adalah sistem kelas konvensional yang biasanya ditemukan pada sekolah dasar hingga menengah. Ciri sistem kelas menetap adalah sekelompok siswa yang telah digolongkan menurut kriteria masing-masing sekolah menetap pada satu ruang kelas selama periode satu tahun ajar sehingga guru yang mendatangi siswa dalam kelas selama jam pelajaran yang telah ditentukan.

4.

Prestasi belajar Prestasi belajar adalah hasil usaha bekerja atau belajar yang menunjukan ukuran kecakapan yang dicapai dalam bentuk nilai. Kecakapan atau kemampuan yang dicapai disini adalah meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik.

10

F. Landasan Teori 1. Belajar Belajar adalah usaha sadar dan terencana untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya sebagian besar dilakukan melalui pengalaman. Pengalaman belajar merupakan bagian penting dalam proses belajar. Proses belajar adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pada individu untuk mencapai tujuan belajar. Ada faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, diantaranya seperti yang diterangkan Baharudin dan Wahyuni (2008: 19) ada dua kategori yakni faktor internal dan eksternal. a. Faktor Internal Faktor internal meliputi: 1) Fisiologis Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktornya dibedakan menjadi dua macam yakni keadaan tonus jasmani dan keadaan fungsi fisiologis. Keadaan tonus seperti kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar. Salah satu usaha untuk meningkatkannya adalah dengan melakukan aktifitas fisik seperti rajin berolahraga dan menjaga daya tahan tubuh. Keadaan fungsi fisiologis yang penting dan sangat mempengaruhi hasil belajar adalah pancaindera. Menjaga agar keadaan pancaindera dalam

11

fungsi maksimalnya merupakan hal yang perlu dilakukan demi proses belajar yang baik. 2) Faktor psikologis Beberapa faktor yang utamanya mempengaruhi proses belajar diantaranya adalah kecerdasan yang dapat meliputi kecerdasan intelegensi (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ), motivasi dari dalam diri, minat atau ketertarikan dalam suatu bidang, sikap, serta bakat atau potensi. b. Faktor eksternal Syah (2003) dalam Baharudin dan Wahyuni (2008: 26) menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial. 1) Lingkungan Sosial Lingkungan sosial terdiri dari lingkungan sosial sekolah, lingkungan sosial masyarakat dan lingkungan sosial keluarga. 2) Lingkungan Nonsosial Lingkungan Nonsosial terdiri dari lingkungan alamiah, faktor instrumental dan faktor materi pelajaran. Lingkungan alamiah merupakan kondisi lingkungan daerah yang alami dan tidak bisa dirubah. Faktor instrumental yakni perangkat pembelajaran yang berupa hardware (gedung, alat belajar, fasilitas dan lainnya) dan software (kurikulum, tata tertib dan sejenisnya). Faktor materi

12

pelajaran adalah rumpun atau kategori ilmu beserta isinya yang diajarkan kepada peserta didik. Dari faktor-faktor penentu proses pembelajaran diatas tentu sekolah akan mempertimbangkan mengenai sistem belajar yang sesuai untuk belajar peserta didik. Sistem belajar yang digunakan di Indonesia pada umumnya adalah sistem belajar menetap, yakni peserta didik dari setiap starta dan jurusan atau kategori memiliki kelas sendiri selama setahun periode pembelajaran. Hal ini salah satunya dikarenakan sistem paket yang berlaku dalam kurikulum pendidikan dasar hingga menengah. Namun saat ini sudah mulai diberlakukan sistem SKS sebagai ciri Sekolah Kategori Mandiri (SKM) dimana sistem belajar tergantung dan berpusat pada kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Ciri Sekolah Kategori Mandiri juga mengisyaratkan untuk memberlakukan sistem belajar moving class. Namun, dalam Juknis Pelaksanaan Moving Class di SMA menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan pelaksanaan moving class pada kurikulum paket. 2. Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai peserta didik dalam usahanya melakukan aktivitas belajar. Hal ini sejalan dengan pengertian prestasi belajar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan prestasi sebagai hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah atau perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui penilaian.

13

Prestasi belajar tentunya dapat dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal sebagai berikut: 1. Faktor internal Faktor internal meliputi segala sesuatu hal dari dalam individu yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor internal ini terdiri dari intelegensi, bakat, minat dan motivasi. 2. Faktor eksternal Faktor ekternal adalah faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta didik yang sifatnya berasal dari luar diri individu, bisa berupa lingkungan fisik maupun nonfisik, pengalaman, dan lainnya. Saat ini hasil belajar atau prestasi siswa dapat dilihat dari penilaian kognitif, afektif dan psikomotor. Penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotor kerap dikaitkan dan didasarkan dengan teori taksonomi dari Bloom. Benjamin S. Bloom membagi tujuan pendidikan menjadi 3 aspek yang didalamnya masih terdapat hierarki yang disesuaikan dengan perkembangan anak atau peserta didik yakni sebagai berikut: 1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. 2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti persepsi, minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

14

3.

Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, mengoperasikan komputer dan lainnya. Ranah tujuan pendidikan diatas biasanya digunakan sekolah untuk

menilai hasil belajar siswa yang kemudian disajikan dalam bentuk laporan tertulis. Laporan hasil belajar siswa ini biasanya dilaporkan setiap pergantian semester sebagai pertanggungjawaban serta alat evaluasi bagi semua pihak yang terlibat dalam pendidikan siswa. 3. Moving class Moving class terdiri dari dua kata yakni moving yang berarti pindah atau bergerak dan class yang berarti kelas. Dari pengertian tersebut maka dapat diambil pemahaman bahwa sistem moving class adalah sistem belajar yang yang mengharuskan peserta didik belajar dengan bergerak ke kelas-kelas sesuai dengan mata pelajaran yang dipelajarinya. Moving class atau kelas bergerak dalam pengertian dan konsep yang diterangkan Direktorat Pembinaan SMA merupakan sistem belajar yang peserta didik/kelompok belajar berpindah pelajaran sesuai mata pelajaran ruangan yang setiap penggantian

dipelajarinya. Guru mata

pelajaran beserta perangkat pembelajarannya menetap di ruang mata pelajaran yang telah ditetapkan. Beberapa perbedaan sistem moving class dengan kelas menetap: No. 1. Moving class Kelas Menetap Pendidik menetap dalam ruang Peserta didik menetap dalam mata pelajaran, peserta didik kelas, guru berpindah-pindah berpindah-pindah

15

2.

3. 4. 5.

Alat peraga/alat bantu KBM berada dalam ruang mata pelajaran Ruang belajar mencirikan kekhasan mata pelajaran Identitas ruang belajar adalah ruang mata pelajaran Setiap pergantian pelajaran tercipta suasana baru bagi peserta didik karena kondisi ruang mata pelajaran yang suasananya berbeda-beda Tujuan penyelenggaraan

Alat peraga/alat bantu KBM harus dibawa guru berpindah-pindah kelas Ruang belajar tidak mencirikan kekhasan mata pelajaran Identitas ruang belajar adalah ruang kelas Suasana baru peserta didik diperoleh sewaktu jam istirahat dan pulang sekolah

pembelajaran

moving

class

adalah

untuk

meningkatkan

kualitas

proses pembelajaran, meningkatkan

efektivitas dan efisiensi waktu pembelajaran, meningkatkan disiplin peserta didik dan guru, meningkatkan keterampilan guru dalam menggunakan metode dan media pembelajaran yang bervariasi, serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, meningkatkan keberanian peserta didik untuk bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat, dan bersikap terbuka pada setiap mata pelajaran, serta meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Sistem moving class juga memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahan dari pembelajaran moving class yang dapat dijabarkan adalah: a. Ada waktu belajar yang terpakai karena perpindahan dari satu kelas ke kelas lain. b. Ketidak hadiran guru akan menyebabkan kesulitan penanganan kelas.

16

c.

Peserta didik dengan tingkat kompetensi rendah akan semakin dijauhi temannya.

d.

Penyelenggaraan moving class membuat biaya pembelajaran semakin tinggi. Kelebihan yang dimiliki pembelajaran dengan moving class yakni:

a.

Guru atau kelompok guru memiliki ruang mengajar sendiri sehingga memungkinkan untuk melakukan penataan yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran. Atmosfir dan tatanan kelas dapat memperlancar aktivitas dan proses pembelajaran. Semua elemen dalam kelas menjadi semacam reinforcer (penguat) dan stimulator untuk membangkitkan gairah dan aktivitas belajar terhadap mata pelajaran tertentu. Hal ini secara otomatis dapat membuat guru lebih aktif dalam mengelola dan mengontrol pembelajaran.

b.

Guru dapat memanfaatkan sumber-sumber belajar yang diperlukan dalam pembelajaran tanpa harus mengkhawatirkan hambatan dan keterbatasan sirkulasi.

c.

Setiap hari, siswa dapat menikmati dan mengalami proses belajar pada tempat dan lingkungan belajar yang bervariasi. Mobilitas gerak seperti ini dapat menghindarkan siswa dari kejenuhan akibat tata ruang kelas yang monoton.

d.

Pergerakan-pergerakan yang dialami siswa saat perpindahan kelas memungkinkan terjadinya interkasi yang lebih aktif dan hidup di kalangan siswa. Ini dapat menstimulasi dan mengembangkan sikap-

17

sikap empati, kerjasama, kepedulian, dan berbagai sikap prososial siswa lainnya. e. Penilaian terhadap hasil belajar peserta didik lebih objektif dan optimal. 4. Kelas Menetap Kelas menetap adalah sistem belajar yang peserta didik/kelompok belajar menetap di ruang kelas dan guru berpindah sewaktu

pergantian jam pelajaran sesuai jadwal mengajarnya. Kelas menetap ini merupakan sistem belajar yang paling umum digunakan pada sekolah dasar hingga menengah. Ruang kerja guru dalam kelas menetap biasanya digabungkan kedalam satu atau dua ruangan. Pada sistem kelas menetap ini sirkulasi perpindahan peralatan dan sumber belajar juga ditentukan oleh guru sebagai fasilitator sehingga akan berpindah juga seiring dengan pergantian jam pelajaran. Guru juga biasanya tidak melakukan penataan kelas yang sesuai dengan gaya mengajarnya, walaupun ada beberapa guru yang juga mengembangkan kreatifitasnya dan mengubah susunan dan tatanan tempat duduk misalnya, namun hal itu biasanya dilakukan dengan mengorbankan jam pelajaran. G. Hipotesis Penelitian Fraenkel dan Wallen dalam Zainal Arifin (2011: 197) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan prediksi mengenai kemungkinan hasil suatu

18

penelitian. Hipotesis juga diasosiasikan pada jawaban sementara rumusan masalah yang diungkapkan dalam rancangan penelitian. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) H0 : Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan sistem belajar moving class dengan siswa yang menggunakan sistem belajar kelas menetap. 2) H1 : Prestasi belajar siswa yang menggunakan sistem belajar moving class lebih besar daripada siswa yang menggunakan sistem belajar kelas menetap. H. Prosedur Penelitian 1. Metode Penelitian Setiap melakukan pemecahan masalah tentu kita harus memilih cara atau metode yang tepat untuk membantu melakukan langkahlangkah penelitian sehingga dapat diperoleh data dan langkah penyelesaian masalah yang sesuai dengan maksud dan tujuan. Sugiyono (2008, 3) mengungkapkan hal senada dengan menyatakan bahwa secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk

mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi komparatif. Studi komparatif (comparative study) atau studi kausal komparatif (causal comparative study) merupakan jenis penelitian yang digunakan untuk membandingkan antara dua kelompok atau lebih dari suatu variabel tertentu (Zainal Arifin, 2011:46). Studi ini dipilih karena

19

tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk membandingkan prestasi belajar antara siswa yang menggunakan moving class dengan siswa yang menggunakan kelas menetap. Langkah penelitian dalam metode ini tidak ada pengontrolan variabel, penelitian dilakukan secara alamiah, pengumpulan data dilakukan sesuai instrumen yang telah ditetapkan lalu analisis data dilakukan secara statistik. Uji statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif dan inferensial dengan uji-t dua sampel. 2. Partisipan Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Negeri 21 Bandung yang beralamatkan di Jalan Ciwastra, Bandung dan Sekolah Menengah Atas Negeri 26 Bandung yang beralamatkan di Cibiru, Bandung. 2. Populasi Penelitian Populasi penelitian merupakan objek penelitian yang akan dijadikan sumber data dalam penelitian, sehingga yang akan dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA 21 Bandung dan SMA 26 Bandung. 3. Sampel Sampel merupakan sebagian dari populasi yang akan diteliti atau dapat juga dikatakan bahwa sampel adalah populasi dalam bentuk mini (Zainal Arifin, 2011: 215). Penelitian ini mengambil

20

sampel dengan teknik purposive sampling yakni mengambil sampel dengan pertimbangan subjektif dari peneliti berdasarkan

karakteristik yang tertentu yang dianggap berkaitan dengan karakteristik yang telah dipertimbangkan sebelumnya. Dalam hal ini berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti untuk menggolongkan starta dari siswa sehingga diperoleh sampel yang seimbang untuk dibandingkan. Sampel yang dipilih peneliti merupakan siswa SMA kelas IX pada SMA 21 dan SMA 26 . 3. Teknik Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan instrumen berupa: 1. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi merupakan teknik untuk menganalisis bahan tertulis lembaga yang dalam penelitian ini merupakan dokumen sekolah berupa hasil belajar siswa, dokumen kebijakan sistem moving class, tata tertib, jadwal pelajaran, overhead jalan/peta sekolah serta arsip-arsip atau naskah lain yang dapat membantu melengkapi penyelesaian masalah penelitian. 2. Wawancara Wawancara dilakukan untuk memperoleh data melalui percakapan dan tanya jawab yang dilakukan dengan narasumber atau responden baik langsung maupun tidak langsung untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang ingin dicapai dari pengumpulan data

21

dengan teknik wawancara adalah untuk mengumpulkan informasi terkait pelaksanaan sistem belajar baik kelas menetap maupun moving class serta informasi lainnya yang terkait dengan pokok permasalahan penelitian. 4. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah penelitian serta menguji hipotesis yang dinyatakan sebelumnya. Hasil dari pengumpulan data yang dilakukan melalui studi dokumentasi dan wawancara kemudian diolah dalam bentuk tabel dengan menggunakan teknik deskriptif dan komparatif. Metode analisis data yang dapat digunakan dan dirasa relevan dengan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. 1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data hasil perolehan prestasi belajar siswa dalam penelitian seperti rata-rata, nilai tengah, modus, variansi, simpangan baku, nilai minimum dan maksimum data. 2. Statistik Inferensial Statistik inferensial digunakan peneliti untuk dapat menetapkan batas generalisasi hasil penelitian dari data sampel. Analisis inferensial digunakan untuk menentukan apakah hipotesis diterima

22

atau ditolak dan mengukur signifikansi rata-rata antar sampel yang diteliti yaitu uji-t atau uji-t dua sampel. 5. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 1. Tahap Persiapan Tahap persiapan diawali dengan kegiatan konsultasi

mengenai rancangan penelitian dengan dosen pembimbing. Selama persiapan rancangan, peneliti juga melakukan studi pendahuluan di lokasi penelitian, untuk mendapatkan data awal, menentukan populasi serta sampel yang dibutuhkan serta mengurus perizinan pelaksanaan penelitian. 2. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mulai menyusun rancangan desain penelitian termasuk menyiapkan alat dan teknik untuk pengumpulan data serta instrumen penelitian. 3. Tahap Pengumpulan Data Peneliti mengumpulkan data yang penting untuk

penyelesaian masalah penelitian sesuai dengan instrumen serta pedoman yang telah disusun dan ditetapkan sebelumnya. 4. Tahap Pengolahan Data Hasil Penelitian Data yang terkumpul di lapangan kemudian diolah secara statistik untuk menguji hipotesis penelitian serta menarik kesimpulan hasil penelitian.

23

5. Tahap Pelaporan Rumusan hasil penelitian kemudian disajikan ke dalam laporan berbentuk skripsi dan diserahkan kepada tim penguji sidang untuk diberi penilaian.

24

DAFTAR PUSTAKA Anderson, G.J dan Walberg, H.J. (1974). Assesing Classroom Learning Environments. Environments for Learning. 153-163. Arifin, Z. (2011). Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Baharudin, dan Wahyuni, E. N. (2008). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Dahar, R. W. (1989). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Direktorat Pembinaan SMA. (2010). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembelajaran Moving class di SMA, Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA. Ekasari, L. (2010). Kontribusi Sistem Pembelajaran Moving class terhadap Motivasi Belajar Siswa: Studi Kasus Ssiwa Kelas XI Jurusan Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Sumedang. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Nugroho, R. B. (2009). Strategi Belajar dengan Moving class. [Online]. Tersedia:http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=1444 3 [17 April 2012] Pendidikan Dan Latihan Profesi Guru. (Tanpa Tahun). Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Bahasa berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di Sekolah Menengah. Makassar: Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar. Qolbi, Ayus Bahrul. (2010). Pengaruh Implementasi Moving Class terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar SiswapPada Mata Pelajaran Seni Budaya di SMA Negeri 2 Situbondo. Malang: Universitas Negeri Malang.

25

Penelitian tentang perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan sistem pembelajaran dengan kelas menetap dan moving class

Prediksi SMA 21 Bandung (Ciwastra) dengan SMA 26 Bandung (Sukaluyu)

Iklim kelas! Artikel lain yang mendukung penerapan moving class seperti yang dipaparkan oleh Yudi Supriyadi selaku Guru SMPN 1 Gekbrong Cianjur mengenai penerapan moving class pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh langsung implementasi moving class terhadap motivasi belajar siswa sebesar 15,7 persen, pengaruh langsung implementasi moving class terhadap siswa berprestasi 27,8 persen, dan pengaruh langsung motivasi belajar siswa terhadap prestasi 17,1 persen. Selanjutnya, pengaruh implementasi moving class terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar 2,7 persen.

26