Anda di halaman 1dari 10

TUGAS TKKE

ENERGI ALTERNATIF: BIODIESEL DARI BIJI NYAMPLUNG

OLEH

Oleh :

FERRY SETYO K

2410.105.006

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK FISIKA JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2012

NYAMPLUNG Nyamplung (Calophyllum inophyllum L) termasuk dalam margo Callophylum yang mempunyai sebaran cukup luas di dunia yaitu Madagaskar, Afrika Timur, Asia Selatan dan Tenggara, Kepulauan Pasifik, Hindia Barat, dan Amerika Selatan. Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan sebutan EYOBE (Enggano), PUNAGA (Minangkabau dan Makasar), PENAGO (Lampung), CAMPLONG (Madura, Bali, dan Timor), MANTAN (Bima), DII\lGKALRENG (Sangir), DONGKALAN

(Mongondow), DUNGALA (Gorontalo), PUDE (Bugis), HATAN (Ambon), dan FITAKO (Ternate). Tanaman nyamplung berbuah sepanjang tahun dan mulai berbuah pada umur tujuh tahun. Musim buah umumnya pada bulan Agustus sampai September. Pohon masih berproduksi sampai umur 58 tahun, jumlah biji kering per kilogram sebanyak 100-150 butir. berikut: Tabel 1 Kandungan/ komposisi asam lemak pada biji nyamplung Nyamplung mengandung asam lemak dengan komposisi

Penentuan Bilangan Asam Minyak Biji Nyamplung Minyak nyamplung sebanyak 5 mL dimasukkan dalam erlenmeyer 50 ml, kemudian ditambahkan dengan 23 mL etanol 96 % dan dipanaskan pada suhu 60oC selama 10 menit sambil di aduk. Setelah itu, campuran tersebut dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing ditambahkan dengan 3 tetes indikator phenolftalein dan dititrasi dengan larutan KOH telah yang distandarisasi hingga berwarna merah jambu. Nilai bilangan asam dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini.

Pemanfaatan biji Nyamplung sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN) memiliki keunggulan dibandingkan Jarak Pagar maupun Kelapa Sawit. Biji Nyamplung memiliki kekentalan melebihi minyak tanah serta kandungan minyak yang mencapai 50-70%. Kelebihan lainnya adalah, dapat berbuah sepanjang tahun, proses budidaya mudah serta proses pemanfaatannya tidak bersaing dengan kepentingan pangan. Keunggulan Nyamplung Keunggulan nyamplung sebagai sumberdaya terbarukan (renewable resources) adalah: 1. Tanaman nyamplung tumbuh dan tersebar secara alami hampir di seluruh pantai berpasir Indonesia; 2. Relatif mudah dibudidayakan oleh petani kecil, dapat ditanam secara monokultur atau campuran dengan tanaman pertanian (tumpang sari), permudaan alami banyak, dan berbuah sepanjang tahun; 3. Produktivitas biji lebih tinggi dibandingkan jenis lain (Jarak pagar : 5 ton/ha; sawit : 6 ton/ha; nyamplung : 20 ton); 4. Pemanfaatan nyamplung sebagai biofuel tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan; 5. Hampir seluruh bagian tanaman nyamplung berdayaguna dan menghasilkan bermacam produk yang memiliki nilai ekonomi, terutama biji untuk bahan baku biofuel; 6. Dapat ditanam sebagai tanaman wind breaker dan konservasi sempadan pantai. Keunggulan biodiesel yang dihasilkan dari nyamplung adalah sebagai berikut: 1. Rendemen minyak nyamplung tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman lain (Jarak pagar :40-60 %, Sawit : 46-54 %; dan nyamplung : 40-73 %); 2. Sebagian parameter telah memenuhi standar kualitas biodiesel Indonesia. 3. Minyak biji nyamplung memiliki daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah. Dalam uji untuk mendidihkan air, ternyata minyak tanah yang dibutuhkan 0,9 ml, sedangkan minyak biji nyamplung hanya 0,4 ml; 4. Mempunyai keunggulan kompetitif di masa depan antara lain: a. Biodiesel nyamplung dapat digunakan sebagai pencampur solar dengan komposisi tertentu, bahkan dapat digunakan 100 % apabila teknologi pengolahan tepat; b. Kualitas emisi lebih baik dari solar;

c. Dapat digunakan sebagai biokarosen pengganti minyak tanah. Pengolahan Proses pengolahan biodiesel dari nyamplung hampir sama dengan pengolahan minyak sawit, kelapa dan jarak pagar. Tetapi karena biji nyamplung mengandung zat ekstraktif yang tinggi, maka pada proses pengukusan lebih lama dan pemisahan getah (degumming) dilakukan pada konsentrasi tinggi Tahapan pengolahan biji nyamplung hingga menghasilkan minyak nyamplung: 1. Penyimpanan biji Dilakukan pada biji yang telah dikuliti (daging biji dipisahkan dari tempurung) dan telah dikeringkan dan mencapai kadar air 8-12%. Biji dimasukan kedalam karung goni dan ditutup rapat. Karung berisi biji nyamplung di simpan didalam gudang dengan suhu 26-27 oC dan kelembapan sekitar 60-70%. 2. Pengeringan biji Pengeringan biji tanpa tempurung bisa dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : - Dikeringkan di bawah sinar matahari - Digoreng tanpa minyak (sangrai) - Pengeringan dengan mesin Pengeringan dilakukan sampai biji nyamplung berwarna coklat kemerahan. Pengeringan yang tepat akan menentukan rendemen minyak yang dihasilkan 3. Pengepresan biji Bisa dilakukan dengan dua macam mesin pres, yaitu : Mesin pres hidrolik manual dan mesin pres ekstruder (sistem ulir). Mesin pres hidrolik memerlukan energi listrik yang kecil (1000 watt) karena produksi minyaknya dalam satu hari juga kecil yaitu 10 liter. Sedangkan mesin pres ekstruder memerlukan energi listrik hingga 5 KVA dengan produksi minyak 100 liter/hari. Minyak yang keluar dari mesin pres berwarna hitam/gelap karena mengandung kotoran dari kulit dan senyawa kimia seperti : alkoloid, fosfatida, karotenoid, khlorofil, dll. Proses selanjutnya adalah pemisahan getah (dugemming terhadap minyak nyamplung yang dihasilkan oleh mesin pres. 4. Degumming Degumming dilakukan pada suhu 80 oC selama 15 menit, sampai terjadi endapan. Endapan dipoisah kan, kemudian dicuci dengan air hangat (suhu 60 oC)

hingga jernih. Selanjutnya air dipisahkan/diuapkan dari minyak dengan pengeringan vakum pada suhu 80 oC agar tidak terjadi reaksi oksidasi. Degumming bertujuan untuk memisahkan minyak dari getah/lendir yang terdiri dari fostatida, protein, karbohidrat, residu, air dan resin. Proses degumming dilakukan dengan penambahan asam fosfat 20% sebesar 0,3-0,5% (b/b) minyak,sehingga akan terbentuk senyawa fosfasida yang mudah terpisah dari minyak. Hasil dari proses degumming akan memperlihatkan perbedaan warna yang jelas dari minyak asalnya, yaitu berwarna jernih kemerah-merahan. Selanjutnya proses yang dilakukan adalah pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel. Namun hasil penelitian terbaru dengan tahapan pengolahan yang berbeda dari tahapan di atas, memberikan standar kualitas minyak nyamplung yang lebih baik. Tahapan pengolahan dari penelitian terbaru adalah sebagai berikut : a. Pemipilan/pemisahan daging biji dengan tempurungnya. b. Pengukusan biji tanpa tempurung dilakukan selama dua jam. c. Degumming dilakukan untuk mengendapkan asam fosfat teknis pada konsentrasi 1%. Proses pengolahan yang baru ini menghasilkan minyak yang standarnya sesuai dengan SNI hingga 100% karena semua parameter standar telah terpenuhi. 5. Pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel dilakukan dengan tahapan : a. Esterifikasi menggunakan metanol, dengan katalis HCL 1%, selama 1 jam. b. Transesterifikasi menggunakan metanol, dengan katalis Na OH 1%, selama satu jam c. Bila bilangan asam dari minyak yang dihasilkan melebihi standar, diperlukan proses netralisasi sesuai dengan FFA (asam lemak bebas) yang tersisa Kualitas minyak yang telah dihasilkan dari proses ini telah mencakup parameter Densitas, Viskositas Tititk Kabut, Residu Karbon dan Bilangan asam, oleh karena itu 100% telah kualitasnya memenuhi SNI.

Biodesel

Gambar 1 Diagram alir proses produksi biodiesel dari biji Nyamplung

Gambar 2 proses pembuatan biodiesel dari biji nyamplung

Tabel 2. Komposisi biodiesel dari minyak nyamplung hasil analisis GCMS

Tabel 2 menunjukkan bahwa seluruh asam lemak telah dikonversi menjadi bentuk metil ester. Komposisi kimia biodiesel dari minyak nyamplung yang dianalisis menggunakan GCMS (Gas Chromatography Mass Spectrofotometry) menunjukkan bahwa biodiesel terdiri dari metil ester yang berasal dari asam lemak jenuh dan tidak jenuh (C:8 C:22) dengan metil ester yang dominan adalah metil palmitat, metil stearat, metil oleat dan metil linoleat. Sebagian kecil terdiri dari metil ester yang berasal dari asam lemak dari rantai pendek adalah metil kaprilat dan metil peralgonat. Metil ester yang berasal dari lemak jenuh rantai panjang diantaranya metal arakhidat, metil erukat dan metil behenat. Karakteristik biodiesel nyamplung sangat dipengaruhi oleh titik leleh dan titik kabut, metil stearat, oleat, linoleat, linolenat dan palmitat.

Pemanfaatan Aneka Produk dari Proses Pengolahan Minyak Nyamplung Dari proses minyak nyamplung dapat dimanfatkan untuk berbagai tujuan yaitu antara lain : 1. Minyak dari biji nyamplung sebagai bahan baku biodiesel. 2. Minyak nyamplung dapat digunakan sebagai bahan bakar pencampur minyak tanah (biokerosene), yaitu: a. Kompor sumbu dengan perbandingan campuran minyak tanah dan minyak nyamplung 50:50; b. Kompor semawar dengan perbandingan campuran minyak tanah dan minyak nyamplung 30:70; dan c. Tungku semen-pasir dengan perbandingan campuran minyak tanah dan minyak nyamplung 70: 30; selain itu tungku ini dapat menggunakan bahan bakar biji utuh dan briket limbah

Kinerja Dari enam kilogram biji nyamplung segar akan diperoleh empat kilogram biji nyamplung kering. Setelah diolah, empat kilogram biji nyamplung mampu menghasilkan satu liter biodiesel nyamplung.

Kualitas Biodiesel Nyamplung Analisis sifat fisiko kimia biodiesel terdiri dari massa jenis, viskositas kinematik, bilangan setana, titik nyala, titik kabut, korosi kepingan tembaga, residu karbon, air dan sedimen, suhu distilasi, abu tersulfatkan, belerang, fosfor, bilangan asam, gliserol total, kadar ester alkil dan bilangan iodium. Metode uji menggunakan prosedur dari ASTM, AOCS dan SNI Sifat-sifat biodiesel minyak nyamplung hampir seluruhnya telah memenuhi persyaratan SNI 04-7182-2006. Khusus untuk bilangan asam dengan proses EET dapat diturunkan dari nilai yang sangat tinggi 59,94 mg KOH/g menjadi sangat rendah, sehingga memenuhi persyaratan SNI. Kadar ester alkil sebesar 96,99% secara langsung menunjukkan bahwa proses EET telah sesuai untuk pembuatan biodiesel minyak nyamplung, karena nilainya lebih tinggi dari standar (96,5%). Penurunan kadar FFA terjadi kemungkinan karena tercucinya sedikit asam lemak bebas berantai pendek.

Tabel 3. Sifat fisiko kimia minyak nyamplung

Proses pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel sangat tergantung dari kadar asam lemak bebas awal dari minyak nyamplung setelah deguming (refined oil). Ada 3 kategori proses pengolahan minyak nyamplung berdasarkan klasifikasi kompleks/kerumitan pengolahannya yaitu : 1. Proses Transesterifikasi (T). Proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil 1%. 2. Proses Esterifikasi-Transesterifikasi (ET). Proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil berkisar antara 1020%. 3. Proses Esterifikasi-Esterifikasi-Transesterifikasi (EET). Proses ini digunakan apabila kadar FFA refined oil lebih besar dari 20%.

Gambar 2 Reaksi Transesterifikasi

Gambar 3 Tahap-tahap reaksi Transesterifikasi