Anda di halaman 1dari 15

BAYI BERAT LAHIR RENDAH Definisi BBLR Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru

lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2.499 gram). (Rusepno Hasan, 1998) Istilah prematuritas telah diganti dengan BBLR karena terdapat 2 bentuk penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gram, yaitu karena umur hamil kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur cukup atau karena kombinasi keduanya. (Manuaba, 1998) Pembagian kehamilan menurut WHO 1979 adalah sebagai berikut : Preterm : umur hamil < 37 minggu (259 hari) Aterm : umur hamil antara 37 sampai 42 minggu (259-293 hari) Post-term : umur hamil di atas 42 minggu (294 hari)

BBLR dapat dikelompokkan menjadi : 1. Prematuritas murni / bayi kurang bulan : Adalah bayi yang lahir dengan masa kehamilan < 37 minggu, berat badan sesuai masa kehamilan dihitung dari mulai hari pertama haid terakhir dari haid yang teratur. 2. Small for date (SFD) / kecil masa kehamilan (KMK) Adalah bayi yang beratnya kurang dari semestinya, menurut masa kehamilannya atau kecil untuk masa kehamilannya. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dapat dikelompokkan menjadi : BBLR, BCB, SMK Bayi berat badan lahir rendah, bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan. BBLR, BKB, KMK Bayi berat badan lahir rendah, bayi kurang bulan, kecil masa kehamilan. BBLR, BKB, BMK Bayi berat badan lahir rendah, bayi kurang bulan, besar masa kehamilan. BBLR, BCB, KMK Bayi berat badan lahir rendah, bayi cukup bulan, kecil masa kehamilan. BBLR, BLB, KMK Bayi berat badan lahir rendah, bayi lebih bulan, kecil masa kehamilan. (Sukardi, Abdurrohman, 2002: 104-105)

Ciri-Ciri BBLR Berat kurang dari 2500 gram. Panjang kurang dari 45 cm. Lingkaran dada kurang dari 30 cm. Lingkar kepala kurang dari 33 cm. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Kepala relatif lebih besar. Kulit: tipis transparan, rambut lanugo banyak, lemak kulit kurang. Otot: hipotonik lemah. Pernafasan tak teratur dapat terjadi apnea (gagal nafas). Ekstremitas: paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi lurus. Kepala tidak mampu tegak. Pernafasan sekitar 45-50 x/menit. Frekuensi nadi 100-140 x/menit. (Manuaba, 1998: 328)

Aktivitas bayi dengan BBLR berbeda-beda sehingga perlu diperhatikan gambaran umum kehamilan sebagai berikut : Ingat hari pertama menstruasi Denyut jantung terdengar pada minggu 18 sampai 22 Fetal quickening minggu 16 sampai 18 Pemeriksaan : tinggi fundus uteri, ultrasonografi (konsultasi) Penilaian secara klinik : berat badan lahir, panjang badan, lingkaran dada dan lingkaran kepala.

Etiologi Penyebab kelahiran bayi kurang bulan (BKB) sebagian besar belum diketahui. BKB pada banyak kasus BBLR berhubungan dengan kondisi sebagai berikut : Faktor Ibu Gizi saat hamil yang kurang. Umur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat. Penyakit menahun ibu (hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok). Faktor pekerjaan yang terlalu berat.

Faktor Kehamilan kehamilan dengan hidramion kehamilan ganda perdarahan antepartum komplikasi hamil : pre-eklampsia / eklampsia, ketuban pecah dini. Faktor Janin cacat bawaan infeksi dalam rahim Faktor Lain bahan toksoid radiasi (Manuaba, 1998: 326-327)

Komplikasi BBLR Asfiksia Perinatal 1. Susunan saraf pusat Aktifitas refleks batuk masih lemah. Refleks primitif seperti menoleh, menghisap dan menelan masih lemah. Perdarahan germinal matriks / periventrikuler dan perdarahan intraventrikuler. Leukomolasia periventrikuler. 2. Komplikasi pada saluran pernafasan Penyakit membran hyaline. Apnea rekuren Apnea adalah periode tidak bernafas selama lebih dari 20 menit yang disertai bradikardi dan sianosis. Sindroma kebocoran udara. Brochopulmonary dan sumber panas. Thermoregulasi dan sumber panas. 3. Komplikasi pada kardiovaskuler. Metabolisme bisa mengalami ikterus neonaturum, hipolikemia, dan hipokalsemia. 4. Komplikasi hematologist seperti anemia prematurus, imunologis, komplikasi penyakit pada ginjal, ophtalmologis. (Sukardi Abdurrohman, 2002: 108-111)

DAMPAK MASALAH PADA BBLR (BAYI BERAT LAHIR RENDAH)

Pada bayi yang dilahirkan prematur belum mempunyai alat tubuh lengkap seperti bayi matur. Oleh sebab itu ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya. Makin pendek masa kehamilannya maka makin kurang sempurna pertumbuhannya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi seperti : 1. Sistem Kardiovaskuler Jantung relatif kecil saat lahir pada beberapa bayi prematur kerjanya lambat dan lama. Hal ini merupakan sebab dari timbulnya kecenderungan perdarahan intrakranial, tekanan darah lebih rendah dari bayi aterm. Tekanan sistolik + 45-60 mmHg, nadi bervariasi antara 100-120 x/menit. 2. Sistem Pernafasan Lebih pendek masa gestasi maka semakin kurang berkembangnya paru bayi, alveoli cenderung lebih kecil dengan adanya sedikit pembuluh darah yang mengelilingi stroma seluler matur dan lebih besar berat badannya, maka semakin besar alveoli pada hakekatnya dindingnya dibantu oleh kapiler. Otot pernafasan bayi lebih lemah dan pusat pernafasan kurang berkembang, terdapat pula kekurangan lipoprotein paru-paru, surfaktan bertindak dengan cara menstabilkan alveoli yang kecil sehingga mencegah terjadinya kolaps pada saat terjadi respirasi. Pertumbuhan dan perkembangan paru yang sebelum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung sering menyebabkan terjadi aspirasi pneumonia. Di samping itu sering timbul apnoe yang disebabkan oleh gangguan dasar pernafasan selama kurang dari 20 detik atau cukup lama sehingga menimbulkan sianosis dan beradikardi. 3. Sistem Pencernaan Belum berfungsi sempurna, sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemah / kurang baik. Aktivitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna, sehingga pengosongan lambung berkurang. Mudah terjadi regurgitasi isi lambung dan dapat menimbulkan aspirasi pneumonia.

4. Sistem Urogenitas Fungsi ginjal kurang efisien dengan adanya filtrasi glomerulus yang menurun mengakibatkan kemampuan untuk mengabsorbsi urin menurun, Akibatnya mudah jatuh dalam dehidrasi gangguan keseimbangan dan elektrolit mudah terjadi dari tubulus yang kurang berkembang, produksi urin yang sedikit tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit akibatnya mudah terjadi oedema dan asidosis. 5. Sistem Neurology Perkembangan sistem saraf sebagian besar tergantung pada derajat maturitas. Pusat pengendalian fungsi sifat seperti pernafasan suhu tubuh dan pusat reflek. Pada berat badan lebih rendah pusat reflek kurang berkembang (reflek morro ditemukan pada bayi prematur normal). Karena perkembangan saraf lemah, maka pada bayi kecil lebih sulit untuk membangunkan dan mempunyai tangis lemah. 6. Sistem Pembuluh Darah Lebih dari 50% prematur menderita perdarahan intraventrikuler yang disebabkan karena bayi prematur sering menderita apnoe, asfiksia berat dan syndrome gangguan pernafasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi dan hiperapnoe menyebabkan aliran darah ke otak bertambah yang akan lebih banyak dan tidak ada otoregulasi serebral pada bayi prematur sehingga mudah terjadi perdarahan pembuluh kapiler yang rapuh dan ischemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nukleus kaudatus dan ependin. 7. Sistem Imunologik Daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya Ig G. gamma globin bayi prematur belum sanggup membentuk antibodi dan daya fugositas serta reaksi terhadap peradangan masih lebih baik. 8. Sistem Imaturitas Imaturitas memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K serta imaturitas pada ginjal mengatur Pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna, sehingga mudah terjadi edema.

DIAGNOSIS DAN GEJALA KLINIS BBLR (BAYI BERAT LAHIR RENDAH)


1. Sebelum bayi lahir a. Pada anamnese sering terjadi adanya riwayat abortus partus dan prematurus serta lahir mati. b. Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan. c. Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat walaupun kehamilan sudah lanjut. d. Sering dijumpai dengan oligo hidramnion / hidramnion. Hyperemesis gravidarum dan hamil lanjut dengan perdarahan antepartum. 2. Setelah bayi lahir a. Bayi dengan retardasi perdarahan intra uteri, tanda-tanda bayi : tengkorak kepala keras gerakan bayi terbatas abdomen cekung dan merata jaringan lemak bawah kulit tipis / sedikit vernick caseosa sedikit / tidak ada kulit tipis, kering dan berlipat-lipat, mudah diangkat tali pusat tipis dan lembek kehijauan b. Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu, ciri-cirinya : vernick caseosa ada jaringan lemak bawah kulit sedikit tulang tengkorak lunak, mudah bergerak muka seperti boneka abdomen buncit tali pusat tebal dan segar menangis lemah kulit tipis, merah dan transparan c. Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya karena sangat peka terhadap gangguan pernafasan, infeksi, trauma kelahiran, hipotermia, dll. Pada bayi kecil masa kehamilan alat-alat dalam tubuh lebih berkembang dibandingkan dengan bayi prematur dengan berat badan sama karena itu akan lebih mudah di luar rahim. Namun tetap lebih peka terhadap infeksi dibandingkan dengan bayi prematur dengan BB normal.

PENANGANAN BBLR (BAYI BERAT LAHIR RENDAH)

Mempertahankan suhu dengan ketat BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat. Bayi dimasukkan dalam inkubator dengan suhu yang diatur. Berat badan lahir di bawah 2 kg : 35 0C Berat badan lahir 2 kg 2,5 kg : 34 0C Suhu inkubator diturunkan 1 0C tiap minggu, setiap bayi dapat ditempatkan pada suhu lingkungan sekitar 24 27 0C. Mempertahankan suhu tubuh optimal Untuk mempertahankan suhu lingkungan tubuh optimal 37 0C (36,5 37,5 0C) BBLR / BKB membutuhkan suhu lingkungan yang termonetral serta kelembaban udara 60%. Mengenai suhu lingkungan termonetral sesuai berat lahir dan masa gestasi serta usia pasca natal. Oleh karena itu BBLR / BKB seharusnya dirawat dalam incubator atau dengan cara teknologi tepat guna dengan perawatan ketat / metode kanguru, bayi akan mendapatkan sumber panas melaui kontak langsung secara terus menerus dari ibu secara alami. (Sukardi Abdurrohman, 2002: 115)

Memenuhi kebutuhan O2 Untuk mempertahankan hidup BBLR/BKB membutuhkan tekanan arterial O2 berkisar : PaO2 50-80 TOrr. Di sini memerlukan monitoring analisa gas darah (AGD) atau PO2 transkutan maupun dengan pulsa oksimetri (SiO2). BBLR / BKB dengan asfiksia ringan / sedang gangguan nafas ringan, dapat diberi O2 konsentrasi lebih tinggi (> 40%) melalui : O2 inkubator O2 head box O2 sungkup / maks (Sukardi Abdurrohman, 2002:116) Jika bayi sianosis (biru) atau sukar bernafas (frekuensi < 30 atau > 60 /menit) tarikan dinding dada ke dalam atau merintih) Isap mulut dan hidung untuk memastikan jalan nafas bersih. Beri oksigen 0,5 1 L/menit lewat kateter hidung atau nasal prong. Rujuk ke kamar bayi atau ke tempat pelayanan yang dituju. Jaga bayi tetap hangat, bungkus bayi dengan kain lunak, kering, selimut dan pakai topi untuk mencegah kehilangan panas.

Mencegah infeksi dengan ketat BBLR sangat rendah akan infeksi, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi. Cara membersihkan tangan sebelum tindakan Lepaskan semua perhiasan. Posisikan tangan di atas siku, basahi tangan seluruhnya dan gunakan sabun. Mulailah dari ujung jari sampai berbusa, lalu bilas dengan menggunakan gerakan memutar. Bilas di antara jari-jari, gerakkan dari ujung jari menuju siku pada satu tangan dan kemudian ulangi untuk tangan berikutnya. Basuh setiap lengan secara terpisah, ujung jari lebih dahulu, jaga tangan dalam posisi lebih tinggi dari siku. Cuci selama 3-5 menit. Gunakan handuk yang bebeda untuk mengeringkan setiap tangan, keringkan mulai dari ujung jari sampai siku kemudian buang handuknya. Pastikan tangan yang telah dibersihkan tidak bersentuhan dengan barang-barang yang tidak didisinfeksi tingkat tinggi atau disterilkan. Jika tangan menyentuh permukaan yang terkontaminasi, ulangi membersihkan tangan dengan cara di atas. Cara perawatan tali pusat 1. Jangan membungkus pusar ataupun mengoleskan bahan atau ramuan apapun ke puting tali pusat dan nasehati keluarga untuk tidak memberikan apapun pada pusar bayi. 2. Mengusapkan alkohol atau pourdon iodine masih diperkenalkan sepanjang tidak menyebabkan tali pusat basah / lembab. 3. Beri nasihat pada ibu dan keluarganya sebelum penolong meninggalkan bayi: Lipat popok di bawah putung tali pusat. Jika putung tali pusat kotor, cuci secara berhati-hati dengan air matang (DTT) dan sabun, keringkan secara bersama dengan kain bersih. Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan perawatan jika pusar menjadi merah atau mengeluarkan nanah atau darah. Jika pusar menjadi merah atau mengeluarkan nanah atau darah segera rujuk bayi ke fasilitas yang mampu untu memberikan asuhan bagi bayi baru lahir secara lengkap. Pengawasan nutrisi / ASI

Asupan kalori, cairan, dan suplementasi vitamin dan mineral harus diawasi selama kunjungan tiap minggu. Kebutuhan gizi pada saat di NICU biasanya 1200 kkal/kg/hari. Jumlah ini biasanya turun menjadi 100 kkal/kg/hari pada saat pemulangan. Bayi yang diberikan formula dengan kandungan kalori melebihi 24 kkal/ons lebih rentan terhadap dehidrasi. Maka dari itu bayi harus dilihat adanya tanda-tanda dehidrasi dan kadar elektrolit harus diperiksa jika timbul muntah atau diare yang signifikan. Sebagian besar bayi tidak tahan terhadap formula mengandung lebih dari 30 kkal/ons (ASI dan formula standar mengandung sekitar 20 kkal/ons). ASI melindungi dari infeksi dan bayi yang mendapat ASI memiliki pertumbuhan pada usia 18 bulan yang lebih baik daripada bayi yang mendapat susu formula. Ibu yang berencana menyusui sebaiknya menggunakan pompa payudara setelah bayi lahir untuk merangsang payudara. Susu yang dipompakan dapat diberikan kepada bayi. Apabila bayi mampu mengisap, ibu harus mulai menyusui untuk mendorong produksi susu lebih lanjut. Pada waktu pemulangan dari rumah sakit, sebagian besar bayi prematur membutuhkan pemberian makan paling sedikit tiap tiga jam. Ibu harus menyusui tiap 1,5-2 jam dalam sehari pada 24-48 jam pertama setelah pulang dari rumah sakit untuk memastikan produksi susu yang cukup. Setelah itu, bayi normalnya disususi tiap 2-3 jam atau 8-10 kali per hari. Enam sampai 8 popok basah per 24 jam menunjukkan asupan cairan yang cukup. Bila bayi menolak disusui, ibu harus mencoba lagi dalam setengah sampai satu jam. Ibu dapat mendorong bayi untuk menyusu dengan mengeluarkan tetes-tetes susu, mendorong puting atau memposisikan bayi. Pemberian tambahan gizi dengan menggunakan selang saat bayi sedang disusui berguna bagi bayi yang membutuhkan kalori lebih banyak daripada jumlah yang diperoleh selama mendapatkan ASI biasa. Konsultan laktasi dapat membantu mengatasi masalahmasalah dalam menyusui. Mekanisme menelan pada bayi belum mampu menerima makanan padat sampai 2,5-3,5 bulan setelah tanggal lahir yang seharusnya. Susu sapi idealnya tidak boleh diberikan sampai bayi berusia 12 bulan setelah tanggal lahir yang seharusnya. Bayi kecil menurut masa kehamilan atau bayi sakit dengan catch-up growth harus tetap diberikan ASI atau formula sampai ukuran tubuhnya berada dalam kisaran normal sesuai masa kehamilan. Bayi sakit seringkali membutuhkan intervensi diet khusus.

Vitamin D, E, K, dan asam folat penting terutama untuk bayi berat lahir rendah. Selain vitamin D, biasanya tidak terdapat defisiensi vitamin setelah pemulangan dari NICU. Walaupun defisiensi vitamin jarang terjadi, semua bayi yang diberi ASI sebaiknya diberikan suplementasi vitamin selama satu tahun pertama. Dosis standar vitamin bayi yang memberikan 400 IU vitamin D per hari dianjurkan baik untuk bayi prematur maupun cukup bulan. Jika bayi diberikan formula standar, pemberian vitamin tambahan dianjurkan sampai bayi minum sebanyak 950 ml formula per hari. Jika formula khusus yang diberikan, kandungan vitaminnya harus dicek untuk menentukan apakah diperlukan suplementasi vitamin. Suplementasi besi dianjurkan, baik dalam bentuk formula dengan fortifikasi besi atau dalam bentuk cair, diberikan dengan dosis 2-4 mg/kg/hari pada bayi yang mendapat ASI atau bayi yang mendapat formula dengan kadar besi rendah. Suplentasi besi sebaiknya dimulai 2 minggu sampai 2 bulan setelah kelahiran dan dilanjutkan selama 12-15 bulan.

Penimbangan berat Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi, nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh oleh sebab itu penambahan berat badan harus dilakukan dengan ketat. Kebutuhan cairan untuk BBLR 120-150 ml/kg/hr atau 100-120 kal/kg, pemberian dilakukan sesuai dengan bertahap sesuai kemampuan segera mungkin mencukupi kebutuhan cairan atau nutrisi.

Stimulasi Dini Bayi Prematur Berbagai permasalahan yang beresiko mengganggu perkembangan bayi prematur diperlukan rangsangan yang terus menerus melalui berbagai sistem dan fungsi tubuh agar keterlambatan dan resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang ada dapat dioptimalkan. Intervensi yang dilakukan sejak dini, dilakukan secara berkesinambungan dan berlangsung lebih lama akan memberikan manfaat lebih besar di bandingkan dengan intervensi yang terlambat atau dilakukan dalam waktu singkat. Stimulasi psikososial

Bayi dengan kelahiran prematur adalah bayi dengan resiko tinggi yang secara klinis belum menunjukkan hambatan perkembangan, tetapi berpotensi untuk mengalami gangguan perkembangan akibat faktor-faktor resiko biomedik ataupun lingkungan psikososial atau ekonomi, yang dialami sejak masa konsepsi sampai masa neonatal. Prematuritas termasuk salah satu resiko biomedik yang tersering ditemukan dan berpotensi untuk menghambat tumbuh kembang. Umumnya gangguan perkembangan bersumber pada gangguan perkembangan otak. Plastisitas otak adalah kemampuan susunan syaraf untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan atau kerusakan yang disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Pada bayi, kemampuan plastisitas ini tinggi karena jumlah neuron, percabangan akson, dendrit serta jumlah sinaps jauh lebih banyak dibandingkan dengan dewasa. Struktur yang dimanfaatkan akan menetap bahkan berkembang menjadi rangkaian fungsional, tetapi bila tidak dimanfaatkan maka struktur tersebut akan mengalami eliminasi. Stimulasi bayi prematur yang harus dilakukan adalah 1. Stimulasi Rangsang Taktil (pijat, fleksi, ekstensi, posisi) 2. Stimulasi Vestibular kinestetik (menggoyang, mengayun) 3. Stimulas Pendengaran (menanyi, musik, rekaman suara ibu, irama jantung ibu) 4. Stimulasi Visual (gerakan, warna, bentuk) Stimulasi Dini Yang Bisa Dilakukan Pada Bayi Prematur Sesuai Usia perkembangan Stimulasi sebaiknya dilakukan secara teratur dan berlkesinambungan dalam janghka panjang. Stimulasi dapat dilakukan dalam kehidupoan sehari-hari saat menjelang tidur, memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan.

Stimulasi untuk bayi 0 3 bulan. Stimulasi untuk bayi 0 3 bulan dapat dilakukan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan

Stimulasi untuk bayi 3 6 bulan. Stimulasi untuk bayi umur 3 6 bulan dapat dilakukan dengan cara dengan bermain cilukba, melihat wajah bayi dan pengasuh di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolakbalik, duduk. Stimulasi untuk bayi 3 6 bulan. Stimulasi untuk umur 6 9 bulan dapat dilakukan dengan cara memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan. Stimulasi untuk bayi 9 12 bulan. Stimulasi untuk umur 9 12 bulan dapat dilakukan dengan cara mengulang-ulang menyebutkan mamapapa, kakak, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan. Stimulasi untuk bayi 12 18 bulan. Stimulasi untuk umur 12 18 bulan dapat dilakukan dengan cara latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna, menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintahperintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda. Stimulasi untuk bayi 18 24 bulan. Stimulasi untuk umur 18 24 bulan dapat dilakukan dengan cara menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah, mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta dll), latihan menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana baju, bermain melempar bola, melompat. Stimulasi untuk bayi 2 3 tahun. Stimulasi umur 2 3 tahun dapat dilakukan dengan cara mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil / besar di toilet. Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan

teman dll. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau sejenisnya.

PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG BAYI BBLR & PREMATUR Bayi prematur dengan berbagai resiko dan komplikasi yang dideritanya saat dalam kandungan dan saa dalam perawatan di rumah sakit menimbulkan dampak dan resiko gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga dipelukan pemantauan yang ketat dalam tumbuh dan berkembangnya di kemudian hari. Berbagai faktor tumbuh kembang yang harus dilakukan pemantauan secara ketat adalah :

Pemantauan pertumbuhan Untuk memantau pertumbuhan bayi prematur dapat digunakan kurva seperti kura Babson and Benda, IHDP (Infant Health and Develompment Program), Gairdner and Pearson serta kurva CDC. Berdasarkan konvensi, untuk memantau pertumbuhan digunakan untuk koreksi, yaitu umur kronologis jumlah minggu prematuritas sampai bayi mencapai 2 tahun. Pengukuran dilakukan terhadap :

Panjang badan. Panjang badan bayi prematur rerata umur pasca menstruasi 30-40 minggu, turun di bawah persentil 50 kurve pertumbuhan intera uterin. Tumbuh umur 1,5-7,5 bulan. Dari umur 7,5 bulan sampai 5 tahun, pertumbuhannya sama atau sedikit lebih cepat dari bayi-bayi aterm Berat badan. Sejak umur pasca menstruasi 32 minggu sampai 1 bulan setelah aterm, rerat meningkat persentil ke 10 kurve pertumbuhan intra uteri aterm. Rerata berat badan bayi umur 2-18 bulan, berkisar antara 0-1 SD dibawah rerata bayi aterm. Lingkar kepala. Setelah umur kronologis 3-4 minggu, pertumbuhan kepala bayi prematur sub-optimal yaitu 0,2 cm/minggu, kemudian diikuti dengan pertumbuhan cepat (1 cm/minggu) selama 1-2 bulan. Setelah itu

tumbuh dengan laju normal, yaitu 1 cm/bulan dalam 6 bulan pertama dan 0,5 cm/bulan untuk 6 bulan berikutnya. Pertumbuhan kepala yang tidak memadai merupakan indikator awal adanya gangguan perkembangan . Pemantauan Perkembangan Perkembangan bayi prematur dalam 2 tahun pertama dinilai berdasarkan umur koreksi. Kemajuan perkembangan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain umur kehamilan, nutrisi, penyakit, stimulasi dan pemberian kasih sayang. Alat yang digunakan dalam pemantauan perkembangan bayi prematur adal;ah dengan BINS (Bayley Infant Neurodevelopment Screening).

DDST II (Denver Development Screening Test II). Pada DDST yang dinilai adalah 4 sektor perkembangan, yaitu perilaku sosial, gerakan motorik halus, gerakan motorik kasar dan bahasa. Setiap kemampuan dalam kotak persegi panjang horizontal yang berurutan menurut umur. Penilaian dilakukan dengan memberikan nilai lulus (passed = P), tidak lulus (failed = F) atau tidak melakukan (no opprtunity = N.O). saat ini digunakan DDST II, hasil revisi dari Frakenbrurg y ang merupakan pengembangan dari DDST dan DDST-R. BINS adalah suatu metode untuk menilai perkembangan anak yang berusia 3-24 bulan.

BINS (Bayley Infant Neurodevelopment Screening). Pada BINS yang dinilai adalah fungsi neurologis (N), reseptif (R), ekspresif (E), dan kognitif (K). Resiko untuk terjadi gang guan perkembangan dilihat dari beberapa nilai yang didapatkan, anak digolongkan menjadi resiko rendah, rendah dan tinggi. Bila hasil skrining menunjukkan hasil yang tidak normal, perlu dilanjurkan dengan pemeriksaan neurologis. Agar perkembangan bayi menjadi optimal perlu diberikan intervensi berupa stimulasi dini.

Pemeriksaan Penunjuang lain Yang Harus Dilakukan

Pemeriksaan fungsi penglihatan.

Pada bayi dengan berat lahir < 1700 gr, 50 % menderita ROP, 5 % di antaranya ROP berat. Semua bayi dengan resiko tinggi harus dilakukan pemeriksaan mata pada umur 4-6 minggu atau sebelum bayi dipulangkan. Bila ditemukan kelainan, diperlukan pemeriksaan berkala tiap 2 minggu, sehingga progesivitas penyakit dapat sangat diketahui. Bila tidak ditemukan kelainan, pemeriksaan mata diulangi pada umur 12-24 bulan.

Pemeriksaan fungsi pendengaran. Tuli kongenital lebih sering ditemukan pada bayi beresiko tinggi, termasuk bayi prematru. Intervensi dini akan memberikan perubahan bermakna pada kesempatan bicara. Fungsi pendengaran perlu dievaluasi ulang pada umur 12-24 bulan

Pemantauan Gangguan lainnya. Bayi prematur mempunyai kemungkinan empat kali lebih tinggi untuk dirawat kembali di rumah sakit dalam usia pertama kehidupan. Gangguan yang mungkin timbul adalah gamgguan hipersensitifitas saluran cerna, resiko penyakit alergi meningkat, anemia defisiensi besi dan hipertensi.

INDIKASI MEDIS BERIKUT :

UNTUK

PEMULANGAN

ADALAH

SEBAGAI

1. suhu tubuh dapat dipertahankan bila bayi berada di ruangan, biasanya pada usia 34 minggu atau berat 2000 gram; 2. bayi dapat makan melalui mulut cukup untuk mendapatkan tambahan berat seberat 20-30 g per hari; 3. bayi tidak mendapatkan pengobatan yang membutuhkan penanganan di rumah sakit, 4. tidak terdapat perubahan besar dalam pengobatan atau pemberian oksigen. 5. Beberapa komplikasi dan permasalahan kesehatan sudah tertangani baik