Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Katarak umumya penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga jadi pada bayi dan juga anak-anak. Katarak yang terjadi segera setelah lahir sampai bayi berusia 1 tahun disebut katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan kepada bayi yang cukup bearti terutama akibat penangananannya yang kurang tepat. Katarak kongenital merupakan penyebab hampir 10 % kebutaan pada anak-anak diseluruh dunia. Frekuensi atau jumlah kejadian total katarak kongenital di seluruh dunia belum diketahui pasti. Di Amerika Serikat disebutkan sekitar 500-1500 bayi lahir dengan katarak kongenital tiap tahunnya dengan insiden 1,2-6 kasus per 10.000 kelahiran. Sedangkan di Inggris, kurang lebih 200 bayi tiap tahunnya lahir dengan katarak kongenital dengan insiden 2,46 kasus per 10.000 kelahiran. Di Indonesia sendiri belum terdapat data mengenai jumlah kejadian katarak kongenital, tetapi angka kejadian katarak kongenital pada negara berkembang adalah lebih tinggi yaitu sekitar 0,4 % dari angka kelahiran.3,4 Terdapat berbagai macam bentuk dan jenis katarak kongenital berdasarkan letaknya, dan gambaran kekeruhan yang terdapat pada lensanya. Katarak kongenital ini ada yang tidak mengganggu tajam penglihatan dan ada yang sangat mengganggu penglihatan sehingga memerlukan tindakan bedah segera.

Mengetahui penyabab, gambaran klinis, penggolongan penatalaksanaan, dan prognosis katarak kongenital adaah penting untuk pencegahannya dan penurunan angka kebutaan terutama kepada anak-anak.

1.2 BATASAN MASALAH Clinical Science Session ini membahas mengenai anatomi dan embriologi lensa, definisi, frekuensi, etiologi, penggolongan, gambaran klinik, penatalaksanaan serta prognosis katarak kongenital.

1.3 TUJUAN PENULISAN Penulisan Clinical Science Session ini bertujuan untuk menambahkan pengatahuan mengenai katarak sekunder.

1.4 METODE PENULISAN Penulisan Clinical Science Session ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu pada berbagai litratur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI LENSA Lensa adalah suatu struktur bikonveks avaskular tidak bewarna dan hampir transparan sempurna yang berasal dari ektoderm permukaan serta dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi, pada lensa juga tidak terdapat serat nyeri, pembuluh darah atau saraf dilensa.1 Tebalnya sekitar 4 mm dengan diameter 9 mm. Di belakang iris, lensa digantung oleh zonula zinnii, yang menhubungkan lensa dengan korpus siliare. Di sebelah anterior lensa terdapat humor aquaeus dan disebelah posterior terdapat vitreus. Kapsul lensa adalah satu memberan semipermeabel (sedikit lebih permeabe dari dinding kapiler) yang akan memperbolehkan air dan elektrolit masuk. Kapsul ini terdiri dari zat kolagen yang terdiri dari kapsul anterior dan posterior. Di bagian bawah kapsul anterior terdapat satu lapis sel epitel (epitel subkapsuler) yang kearah ekuator menghasilkan serabut (serat lamellae) lensa yang terus diproduksi sehingga lama kelamaan lensa menjadi lebih besar dan kurang elastik. 2 Serabut yang usianya tertua ditemukan di sentral dan membentuk nukleus lensa sedangkan yang lebih muda terletak di perifer (di bahagian luar nukleus) membentuk korteks lensa. Korteks yang terletak disebelah depan nukleus lensa disebut korteks anterior, sedangkan yang terletak dibelakangnya disebut korteks posterior. Nukleus lensa mempunyai konsistensi yang lebih keras berbanding korteks lensa. Nukleus dan korteks terbentuk dari serabut atau serat lamellae konsentris yang panjang.garis persambungan

yang terbentuk dengan persambungan lamallae ini ujung ke ujung di anterior dan posterior di sebut sutura lensa yang berbentuk Y bila dilihat dengan slitlamp. Bentuk Y ini tegak di anterior dan terbalik di posterior.2 Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu yaitu: 1.kenyal atau lentur karena memegang peranan terenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung. 2.jernih atau transparan karana diperlukan sebagai media penglihatan 3. terletak di tempatnya Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamentum yang disebut zonula zinnii, yang tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliare da menyisip kedalam ekuator lensa. 65% lensa terdiri dari air, sekitar 35% protein (kandungan protein yang tertinggi di antara jaringan tubuh), dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh yang lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi daripada di kebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi ataupun terreduksi.6

2.2 EMBRIOLOGI LENSA Mata berasal dari tonjolan otak (optik vesikel) atau piala mata lensanya berasal dari ektodem permukaan, pada tempat template yang kemudian mengadakan invaginasi dan melepskan diri dari ektodem pemukaan pada minggu 5 membentuk vesikel atau gelembung lensa dan selanjutnya terletak didalam mulut optik vesikel. Segera setelah vesikel lensa terlepas dari ektodem pemukaan mata. Vesikel bahagian posterior memanjang dan menutupi bagian yang kosong. Pada stadium ini,kapsul hialin dikeluarkan oleh sel-sel lensa.serat-serat sekunder memanjangkan diri dari daerah ekuator

dan tumbuh ke depa di bawah epitel subkapsuler yang hanya selpis dan kebelakang di bawah kapsul lentis. Serat-serat ini saling bertemu dan membentuk saluran lentus yang membentuk huruf y yang tegak di anterior dan terbalik di posterior. Inilah yang membentuk susbstansia yang erdiri daripada korteks dan nukleus. Pembentukan lensa selesai pada umur 7 bulan kehidupan fetus tetapi pertumbhan dan proliferasi dan seratserat sekunder berlangsung terus selama hidup tetapi lebih lambat kerana lensa menjadi bertambah besar lambat-lambat. Kemudian terjadi kompresi dari serat-serat tersebut disusul oleh proses sklorosis. 2,6 2.3 KATARAK KONGENITAL 2.3.1 Pengertian Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. 1 Katarak kongenital adalah katarak yang ditemukan pada bayi yang berusia kurang dari 1 tahun, pada umumnya ditemukan pada umur 3 bulan atau lebih, dapat timbul pada satu atau kedua mata. Katarak kongenital bisa merupakan penyakit keturunan yang

diwariskan secara autosomal dominan atau bisa disebabkan oleh infeksi kongenital yang didapat dari ibu saat kehamilan atau berhubungan dengan penyakit metabolik.2

Gambar 2.1 Katarak Kongenital 2.3.2 Epidemiologi

Katarak kongenital merupakan penyebab hampir 10 % kebutaan pada anak-anak diseluruh dunia. Frekuensi atau jumlah kejadian total katarak kongenital di seluruh dunia belum diketahui pasti. Di Amerika Serikat disebutkan sekitar 500-1500 bayi lahir dengan katarak kongenital tiap tahunnya dengan insiden 1,2-6 kasus per 10.000 kelahiran. Sedangkan di Inggris, kurang lebih 200 bayi tiap tahunnya lahir dengan katarak kongenital dengan insiden 2,46 kasus per 10.000 kelahiran. Di Indonesia sendiri belum terdapat data mengenai jumlah kejadian katarak kongenital, tetapi angka kejadian katarak kongenital pada negara berkembang adalah lebih tinggi yaitu sekitar 0,4 % dari angka kelahiran.3,4

2.3.3

Etiologi Katarak pada dewasa sering dihubungkan dengan proses penuaan (degeneratif). Tetapi berbeda dengan katarak kongenital, kekeruhan lensa yang terjadi dapat akibat kelainan local intraocular atau kelainan umum yang menampakan proses penyakit pada janin atau bersamaan dengan proses penyakit ibu yang sedang mengandung.1,2

Pada umumnya katarak kongenital bersifat sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Dua puluh tiga persen dari katarak kongenital merupakan penyakit keturunan yang diwariskan secara autosomal dominan. Penyakit yang menyertai katarak kongenital yang merupakan penyakit herediter adalah mikroftalmus, aniridia, kolobama iris,

keratokonus, lensa ektopik, displasia retina dan megalo kornea. Selain itu katarak kongenital dapat ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita infeksi seperti rubella, rubeola, chiken pox, cytomegalo virus, herpes simplek, herpes zoster, poliomyelitis, influenza, Epstein-Barr syphilis dan toxoplasmosis saat kehamilan terutama pada trimester I. Sementara yang behubungan dengan penyakit metabolic adalah galaktosemia, homosisteinuria, diabetes mellitus dan hipoparatiroidisme.2,3,4 Katarak congenital juga ditemukan pada bayi premature dan gangguan sistem saraf seperti retardasi mental. Katarak congenital juga mungkin bisa disebabkan oleh Chondrodysplasia syndrome, Down syndrome (trisomy 21), Pierre-Robin syndrome, Hallerman-Streiff syndrome, Lowe syndrome, Trisomy 13, Conradi syndrome, Ectodermal dysplasia syndrome dan Marinesco-Sjogren syndrome.2,7

2.3.4

Klasifikasi Dikenal bentuk-bentuk katarak congenital sebagai berikut : a. Katarak Piramidalis Polaris Anterior Ada beberapa pendapat mengenai penyebab kekeruhan lensa pada polaris anterior. Mungkin terjadi akibat uveitis anterior intra uterine, ada juga yang berpendapat kekeruhan lensa terjadi akibat ketidaksempurnaan pelepasan kornea terhadap lensa dalam perkembangan embrional dan lainnya berpendapat terjadi akibat sisa dari

veskulosa lentis yang persisten. Letaknya terbatas pada polaris anterior. Biasanya ukurannya 1 mm, namun dapat lebih kecil tapi jarang lebih besar. Berbentuk piramid yang mempunyai dasar dan puncak karena ini disebut katarak piramidalis anterior.puncaknya dapat kedalam atau keluar. Kekeruhan lensa dapat unilateral atau bilateral. Keluhan tidak berat, stasioner dan penglihatan kabur waktu terkena sinar. Karena pada waktu ini pupil mengecil, sehingga sinar terhalang oleh kekeruhan di polus anterior. Sinar yang redup tidak terlalu mengganggu, karena pada saat cahaya redup, pupil melebar, sehingga lebih banyak cahaya yang dapat masuk. Pada umumnya tidak menimbulkan gangguan stasioner, sehingga tidak memerlukan tindakan operatif. Dengan pemberian midriatika seperti sulfas atropin 1 % atau homatropin 2% dapat memperbaiki visus, karena pupil menjadi lebih lebar. Bila timbul gangguan visus yang hebat dan tidak terlihat fundus pada pemeriksaan ophtalmoskop maka dilakukan pembedahan. Dapat dipertimbangkan iridektomi optis yang dapat dilakukan pada daerah lensa yang masih jernih. Sering terjadi anisometropi, sehingga perlu diperhatikan refraksi pada penderita.5,6

Gambar 2.2 Katarak Polaris Anterior b. Katarak Piramidalis Polaris Posterior

Terjadi karena resorbsi selubung vaskuler yang tidak sempurna sehingga menimbulkan kekeruhan dibelakang lensa. Kadang-kadang terdapat ateri hialoiea menetap. Arteri hialoiea merupakan cabang dari arteri centralis yang memberi makan pada lensa. Pada umur 6 bulan dalam kandungan arteri ini mulai diserap, sehingga pada keadaan normal pada waktu lahir arteri ini sudah tak tampak lagi. Kadang-kadang penyerapan tidak berlangsung sempurna sehingga masih tertinggal bintik putih dibelakng lensa, berbentuk ekor di posterior lensa. Gangguan terhadap visus tak banyak, kekeruahannya stasioner sehingga tak memerlukan tindakan. Kelainan ini bersifat unilateral dan biasanya diikuti ukauran mata yang lebih kecil (mikroftalmia).8

Gambar. 2.3 Katarak Polaris Posterior c. Katarak Zonularis atau Lamelaris Mengenai daerah tertentu dan biasanya disertai kekeruhan yang lebih padat,

tersususn sebagai garis-garis yang mengelilingi bagian yang keruh dan disebut riders, merupakan tanda khas untuk katarak zonularis. Katarak ini paling sering didapatkan pada anak-anak. Kadang-kadang bersifat herediter. Kekeruhannya berupa cakram dengan diameter lebih dari nucleus lensa, biasanya 5 mm, mengelilingi bagian tengah yang jernih, korteks diluarnya juga jernih. Biasanya

progresif tapi lambat. Kelainan ini selalu bilateral, tetapi dapat dengan kepadatan yag berbeda dan dapat menyebabkan ambliopia. Ukuran mata dan diameter kornea normal. Kadang-kadang keluhan sangat ringan tapi dapat juga kekeruhannya bertambah, sehingga visus sangat terganggu. Bila kekeruhan sangat tebal sehingga fundus tidak terlihat pada pemeriksaan ophtalmoskop maka perlu dilakukan aspirasi dan irigasi lensa.9,10

Gambar 2.4 Katarak Lamelaris d. Katarak Nukleus Katarak ini jarang ditmukan. Terjadi akibat adanya gangguan kehamilan pada 3 bulan pertama. Kekeruhan biasanya pada nucleus lensa, biasanya berdiameter 3 mm, dengan densitas yang bervariasi. Kepadatan biasanya bersifat stabil tetapi dapat juga bersifat progresif dan menjadi lebih besar dalam ukurannya. Dapat unilateral atau bilateral. Kelainan ini biasanya disertai oleh mikrokornea, terutama pada kasus yang unilateral.9

10

Gambar 2.5 Katarak Nukleus

2.3.5

Gambaran Klinis Tanda yang sangat mudah untuk mengenali katarak congenital adalah bila pupil atau bulatan hitam pada mata terlihat berwana putih atau abu-abu. Hal ini disebut dengan leukoria, pada setiap leukoria diperlukan pemeriksaan yang teliti untuk menyingkirkan diagnosis banding lainnya. Walaupun 60 % pasien dengan leukoria adalah katarak congenital. Leukoria juga terdapat pada retiboblastoma, ablasio retina, fibroplasti retrolensa dan lain-lain.2,3 Pada katarak kongenital total penyulit yang dapat terjadi hdala makula lutea yang tidak cukup mendapatkan rangsangan. Proses masuknya sinar pada saraf mata sangat penting bagi penglihatan bayi pada masa mendatang, karena bila terdapat gangguan masuknya sinar setelah 2 bulan pertama kehidupan, maka saraf mata akan menjadi malas dan berkurang fungsinya. Makula tidak akan berkembang sempurna hingg walaupun dilakukan ekstraksi katarak maka biasanya visus tidak akan mencapai 5/5. Hal ini disebut ambliopia sensoris.4,5

11

Selain itu katarak kongenital dapat menimbulkan gejala nistagmus, strabismus dan fotofobia. Apabila katarak dibiarkan maka bayi akan mencari-cari sinar melalui lubang pupil yang gelap dan akhirnya bola mata akan bergerak-gerak terus karena sinar tetap tidak ditemukan. 6

2.3.6

Penatalaksanaan Penanganan pada katarak kongenital sangat tergantung pada jenis katarak, bilateral atau unilateral, adanya kelainan mata lain, dan saat terjadinya katarak. Kekeruhan lensa kongenital sering ditemui dan sering secara visual tidak bermakna. Kekeruhan parsial atau kekeruhan diluar sumbu penglihatan atau kekeruhan yang tidak cukup padat untuk mengganggu transmisi cahaya tidak memerlukan terapi selan pengamatan untuk menilai perkembangan.2 Katararak kongenital yang menyebabkan penurunan penglihatan yang bermakna harus dideteksi secara dini. Karena prognosisnya dapat kurang memuaskan dan mungkin sekali pada mata telah terjadi ambliopia. Bila terdapat nistagmus, maka keadaan ini menunjukan hal yang buruk pada katarak kongenital.2,3 Pengobatan katarak kongenital bergantung pada : 1. Katarak total bilateral, dimana sebaiknya dilakukan pembedahan secepatnya segera katarak terlihat. 2. Katarak total atau kongenital unilateral, mempunyai prognosis yang buruk, karena mudah sekali terjadi ambliopia, karena itu sebaiknya dilakukan pembedahan secepat mungkin.

12

3. Katarak bilateral parsial, biasanya pengobatan lebih konservatif shingga sementara dapat dicoba kaca mata atau midriatika, bila terjadi kekeruhan yang progresif ditandai dengan tanda-tanda strabismus dan ambliopia maka dilakukan pembedahan, biasanya mempunyai prognosis yang lebih baik.2 Tindakan bedah diindikasikan apabila reflek fundus tidak tampak. Tindakan bedah yang dikenal adalah iridektomi optis, disisio lensa, ekstraksi linier dan ekstraksi dengan aspirasi. Pada katarak kongenital jenis katarak zonularis, apabila visus sudah sangat terganggu, dapat dilakukan iridektomi optis, bila setelah pemberian midriatika visus dapat menjadi lebih baik. Bila tidak dapat dilakukan iridektomi optik, karena lensa sangat keruh maka pada anak-anak dibawah 1 tahun dikakukan disisi lensa, sedang pada anak yang lebih besar dilakukan ekstraksi linier. Koreksi visus pada anak dapat berarti, bila anak itu sudah dapat diperiksa tes visualnya. Iridektomi optis mempunyai keuntungan bahwa lensa dan akomodasi dapat dipertahankan dan penderita tidak usah menggunakan kacamata tebal sferis + 10 dioptri. 8 Pada disisi lensa kapsul anterior dirobek dengan jarum, masa lensa diaduk, masa lensa yang masih cair akan mengalir ke bilik mata depan. Selanjutnya dibiarkan terjadi resorbsi atau dilakukan evakuasi massa. Lebih jelasnya dengan suatu pisau atau jarum disisi daerah limbus dibawah conjungtiva ditembus ke camera oculi anterior dan merobek kapsula lensa anterior dengan ujungnya sebesar 3-4 mm, jangan lebih besar atau lebih kecil. Maksudnya agar melalui robekan tadi isi lensa yang masih cair dapat keluar sedikit demi sedikit masuk ke COA yang kemudian akan diresorbsi. Oleh karena masa lensa pada bayi masih cair maka resorbsinya seringkali sempurna. Kalau sayatan terlalu kecil, sekitar 0,5-1 mm, robekan dapat menutup kembali dengan sendirinya dan harus dioperasi lagi,

13

sedang bila luka terlalu besar, isi lensa keluar mendadak seluruhnya kedalam COA, kemudian dapat terjadi reaksi jaringan mata yang terlalu hebat untuk bayi, sehingga mudah terjadi penyulit. 8 Indikasi dilakukan disisi lensa ialah umur kurang dari 1 tahun dan pada pemeriksaan opthalmoskop, fundus tidak terlihat. Penyuli disis lensa yang ditakutkan adalah : Uveitis fakoanalitik, terjadi karena masa lensa merupakan benda asing untuk jaringan sehingga menimbulkan reaksi radang terhadap massa lensa tubuh sendiri. Glaukoma sekunder, timbul karena massa lensa menyumbat sudut bilik mata, sehingga aliran cairan bilik mata depan. Katarak sekunderia, dapat terjadi bila massa lensa tidak dapat diserap secara sempurna dan menimbulkan jaringan fibrosis yang dapat menutupi pupil sehingga mengganggu penglihatan dikemudian hari sehingga harus dilakukan disisi katarak sekunderia untuk memperbaiki visusnya. Disisi lensa sebaiknya dilakukansedini mungkin, karena fovea sentralis harus berkembang waktu bayi lahir sampai umur 7 bulan. Kemungkinan perkembangan terbaik adalah pada umur 3-7 bulan. Syarat untuk perkembangan ini fovea sentralis harus mendapat rangsangan cahaya yang cukup. Jika katarak dibiarkan sampai anak berumur lebih dari 7 bulan, biasanya fovea sentralis tak dapat berkembang 100%, visusnya tidak akan mencapai 5/5 walaupun dioperasi. Hal ini disebut ambliopia sensoris. Jika katarak ini dibiarkan sampai umur 2-3 tahun, fovea sentralis tidak akan berkembang lagi, sehingga kemampuan fiksasi dari fovea sentralis tidak akan tercapai dan mata menjadi goyang

14

(nistagmus), bahkan dapat pula terjadi strabismus sebagai penyulit. Jadi sebaiknya operasi dilakukan sedini mungkin, bila tidak didapat kontraindikasi untuk pembiusan umum. Operasi dilakukan pada satu mata dulu, bila mata ini sudah tenang, mata sebelahnya dioperasi pula, jika kedua mata sudah tenang , penderita dapat dipulangkan.8,9 Terapi bedah untuk katarak infantil dan katarak pada masa anak-anak adalah dengan ekstraksi lensa melalui insisi limbus dengan menggunakan keratom, dengan ujung keratom dibuat luka pada kapsul lensa anterior selebar-lebarnya, kemudian ujung keratom digerakan ke kanan dan ke kiri sejauh mungkin, sehingga terdapat luka selebar-lebarnya pada kapsul lensa. Kemudian keratom ditarik keluar. Perlu dijaga kapsul posterior jangan sampai terluka sehingga tak ada bahaya keluarnya badan kaca. Melalui luka kapsul lensa anterior, isi lensa mengalir keluar, terutama bila tekanan rendah sekali. Kemudian isi lensa dikeluarkan dari COA dengan sendok Daviel sebanyak-banyaknya. Bila yakin kapsul posterior utuh, tindakan ini dapat disusul dengan pembilasan memakai garam fisiologis, sehingga COA menjadi bersih.8

2.3.7. Prognosis Prognosis penglihatan untuk pasien katarak congenital yang memperlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian penglihatan pada kelompok ini. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah operasi paling buruk pada katarak congenital unilateral dan paling baik pada katarak congenital bilateral inkomplit yang progresif lambat.5

15

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN 1. Katarak kongenital adalah katarak yang ditemukan pada bayi yang berusia kurang dari 1 tahun, pada umumnya ditemukan pada umur 3 bulan atau lebih, dapat timbul pada satu atau kedua mata. 2. Katarak kongenital merupakan penyebab hampir 10 % kebutaan pada anakanak diseluruh dunia. Di Indonesia sendiri belum terdapat data mengenai jumlah kejadian katarak kongenital, tetapi angka kejadian katarak kongenital pada negara berkembang adalah lebih tinggi yaitu sekitar 0,4 % dari angka kelahiran. 3. Dua puluh tiga persen dari katarak kongenital merupakan penyakit keturunan yang diwariskan secara autosomal dominan. Selain itu katarak kongenital dapat ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita infeksi seperti rubella.

16

4. Kekeruhan pada katarak congenital dapat dijumpai dalam berbagai bentuk yaitu katarak polaris anterior, polaris posterior, katarak lamelaris dan katarak nucleus. 5. Gambaran klinis dari katarak congenital sebagian besar adalah leukoria. 6. Tindakan bedah diindikasikan apabila reflek fundus tidak tampak. Tindakan bedah yang dikenal adalah iridektomi optis, disisio lensa, ekstraksi linier dan ekstraksi dengan aspirasi. 7. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada bilateral inkomplit yang progresif lambat

3.2 SARAN 1. Perlunya penatalaksanaan katarak congenital yang baik untuk mencegah kebutaan pada anak-anak 2. Diperlukan penelitian mengenai prevelensi katarak congenital di Indonesia

17

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.stpeter-eye.com/dis_entropion.htm 2. http://www.erfins.multiply.com.journalitem43 - 19k. last updated : Desember 28, 2008. Sumber : American Academy of Ophthalmology. 3. Ilyas,Sidharta. 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. 3rd edisi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, hlm : 128-136. 4. Bashour M, 2008. Congenital Cataract. Diakses dari www.emedicine.com 5. Congenital Catarct. Diakses dari www.wikipedia.com 6. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Oftamologi umum. Edisi 14. Jakarta : Widya Medika 7. James B, dkk, 2006. Lecture notes oftamologi. Jakarta : Erlangga 8. Akman SM. Katarak dan Perkembangan Operasinya, dalam Cermin Dunia Kedokteran No.21,1998. Diakses dari www.kalbe.co.id 9. Wijana N, 1993. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan 6. Jakarta : Abadi Tegal 10. Simon JW, dkk,2008. Pediatric Ophtalmology and Strabismus. Singapore : American Academy of Ophtalmology 11. Bobrow JC, dkk, 2008. Lens and Cataract. Singapore : American Academy of Ophtalmology

18

19