Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Bayu umur 14 tahun datang ke klinik Orthodonsia RSGM UNEJ dengan keluhan ingin mengontrolkan giginya yang dikawat sejak setahun yang lalu. Sebelumnya Bayu dirawat oleh drg dikota lain. Dari anamnesa drg jaga menyimpulkan Bayu adalah tipe penderita yang kurang kooperatif terhadap perawatan orthodonsi yang dilakukan sebelumnya. Disamping itu selama perawatan Bayu tidak pernah mengeluh tentang perawatan giginya, rasa sakit dan gigi goyang yang dirasakan tidak pernah dihiraukannya. Selanjutnya oleh drg jaga dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh keadaan giginya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien memakai alat orthodonsi dengan busur labial untuk koreksi protusi RA dan RB dan kantilever tunggal pada 13, 23, 33, dan 43 yang dalam keadaan aktif. Klamer retensi Adams pada 16, 26, 36, dan 46. Pencabutan atau missing pada 14, 24, 34, dan 44. Gigi anterior mengalami kegoyangan derajat 2. Sedangkan gigi 15, 16, 25, 26, 35, 36, 45 dan 46 mengalami pergerakan ke mesial. Drg mendiagnosa pasien mengalami kehilangan penjangkaran. Penjangkaran harus mempunyai kekuatan menahan yag besarnya paling tidak sama dengan atau lebih besar daripada kekuatan yang diberikan oleh komponen-komponen aktif dengan arah yang berlawanan. Biasannya akan terjadi sedikit pergerakan gigi penjangkar yang banyaknya tergantung pada jumlah gigi yang digerakkan. Ada penyebab kehilangan penjangkaran, dari sisi pasien yaitu pasien tidak kooperatif, jarang kontrol, sedangkan dari sisi operator yaitu kurang memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penjangkaran. Beberapa keadaan yang dapat mempengaruhi penjangkaran, yaitu luas permukaan akar gigi penjangkar, kekuatan yang digunakan dan tendens 1

pergeseran ke mesial gigi. Dari luas permukaan akar gigi penjangkar apabila luas permukaan akar gigi penjangkar sama dengan gigi-gigi yang digerakkan, kedua kelompok gigi tersebut akan sama-sama bergerak. Perlu diupayakan jumlah luas permukaan akar gigi penjangkar harus lebih besar daripada gigi-gigi yang digerakkan agar pergerakan gigi gigi penjangkaran seminimal mungkin. Dari kekuatan yang digunakan, setiap gigi mempunyai nilai ambang terhadap kekuatan untuk dapat bergerak. Apabila gigi diberi kekuatan dibawah nilai ini maka gigi akan bergerak sangat sedikit. Kekuatan ringan seperti yang direncanakan untuk menggerakkan gigi, kekuatan ini juga akan diteruskan ke gigi gigi penjangkar yang mempunyai luas permukaan akar yang lebih besar. Kekuatan yang masih ada dibawah ambang batas gigi penjangkar tidak akan dapat menggerakkan gigi penjangkar. Namun apabila kekuatan yang diberikan cukup besar dan melebihi ambang pergerakan gigi penjangkar, maka gigi-gigi penjangkar akan ikut bergerak. Pergerakan gigi ke mesial, perlu diingat bahwa kecenderungan gigi-gigi bergeser ke mesial. Oleh karena itu, harus dipertimbangkan hati-hati apabila ada kekuatan ke mesial yang bekerja pada gigi penjangkar. Misalnya pada retraksi kaninus terdapat aksi untuk menggerakkan kaninus ke distal dan terdapat kekuatan untuk reaksi ke mesial yang bekerja pada gigi penjangkar. 1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. apa definisi dari penjangkaran? apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi penjangkaran? apa saja yang menjadi syarat dari gigi penjangkaran? apa saja gejala dari kehilangan penjangkaran? apa saja faktor-faktor dari kehilangan penjangkaran? apa saja pencegahan dari kehilangan penjangkaran? apa yang menjadi rencana perawatan dari kehilangan penjangkaran?

1.3

Tujuan 1. 2. Mengetahui dan memahami definisi dari penjangkaran Mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penjangkaran 3. 4. 5. Mengetahui dan memahami syarat dari gigi penjangkaran Mengetahui dan memahami gejala dari kehilangan penjangkaran Mengetahui penjangkaran 6. Mengetahui penjangkaran
7.

dan

memahami

faktor-faktor

dari

kehilangan

dan

memahami

penceegahan

dari

kehilangan

Mengetahui dan memahami rencana perawatan dari kehilangan penjangkaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Alat Ortodonti lepasan didefinisikan sebagai alat yang bisa dipasang dan dilepas sendiri oleh pasien. Alat ini mulai rutin digunakan sejak abad ke19, namun akrilik dan stainless steel baru digunakan pada awal abad ke-20. Sekitar tahun 1950, Adam mengembangkan suatu cangkolan sehingga ruang lingkup penggunaan dan efisiensi alat lepasan meningkat. Sebelum alat cekat berkembang, alat lepasan digunakan untuk merawat hampir semua kasus maloklusi. Dengan berkembangnya ilmu dan teknologi dalam bidang

ortodonti, maka pemakaian alat lepasan tergeser oleh alat cekat, namun alat ini masih menjadi pilihan untuk menangani kasus-kasus tertentu. Kerr melaporkan bahwa 85% dari populasi yang dirawat menggunakan alat lepasan dengan kasus yang benar-benar terseleksi menunjukkan hasil yang memuaskan. Alat lepasan terdiri dari berbagai macam. Alat lepasan bisa digunakan sebagai alat pergerakan gigi aktif misalnya untuk kasus interseptif pada pasien gigi campuran, space maintainers, alat fungsional untuk perawatan modifikasi pertumbuhan, alat retensi pasca perawatan menggunakan alat cekat, dan clear aligner. Akhir-akhir ini pemakaian alat lepasan lebih luas karena bisa dikombinasikan dengan band, hook, dan alat ekstra oral. Walaupun

demikian, harus ditekankan bahwa alat lepasan bukan merupakan pilihan untuk menangani maloklusi yang kompleks. Dokter gigi umum akan mampu merawat kasus ortodonti

menggunakan alat lepasan jika memiliki keterampilan dan keahlian yang memadai, merencanakan dengan matang, memilih kasus yang sesuai, dan

melakukan pengawasan perawatan secara cermat. Salah satu masalah yang masih sulit diatasi pada pemakaian alat lepasan adalah bagaimana mengontrol

penjangkaran untuk menghindari anchorage loss. Kontrol penjangkar (anchorge) sangat penting untuk dipahami pada pemakaian alat ortodontik lepasan. Ada beberapa alasan kenapa kontrol 4

penjangkar sangat penting dalam perawatn ortodontik yaitu : adanya kebutuhan daya pertahanan untuk mencegah adanya gigi yang bergeser apabila tidak diinginkan, adanya indikasi kebutuhan akan tipe pertahanan yang berasal dari satu atau sekelompok gigi jika diinginkan supaya terjadi tipe gerakan gigi tertentu, sebagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam macam alat ortodontik yang harus dikenakan.

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Definisi Penjangkaran Pergerakan sebuah gigi maupun sekelompok gigi secara ortodonti terjadi akibat penerapan gaya yang disalurkan oleh komponen aktif,

seperti pegas, busur kawat, elastik, atau sekrup ekspansi. Ketika gigi-gigi digerakkan maka gaya reaksi akan disalurkan melalui alat sehingga cenderung menghasilkan pergerakan gigi-gigi lain ke arah yang

berlawanan. Keadaan ini sesuai dengan Hukum Newton ke-3 yang mengatakan bahwa setiap aksi menghasilkan reaksi yang besarnya sama dan berlawanan arah. Masalah yang ada bagaimana menghindari efek merugikan dari gaya-gaya yang berlawanan tersebut, karena tujuan yang diharapkan dari suatu perawatan adalah menggerakkan gigi yang

dikehendaki sementara struktur lain tidak bergerak. Kemampuan bertahan terhadap gaya yang dihasilkan oleh komponen aktif disebut penjangkaran. Pengontrolan penjangkaran

ditujukan untuk sebanyak mungkin menghasilkan pergerakan gigi yang diinginkan sementara gerakan gigi yang tidak diharapkan dapat ditahan atau diupayakan sekecil mungkin. Penjangkaran dapat diperoleh secara intra oral maupun ekstra oral, namun penjangkaran intra oral lebih umum digunakan pada alat lepasan. Perubahan relasi akibat bergeraknya gigi posterior ke arah mesial. Pergerakan dari gigi posterior ke arah mesial inilah yang disebut kehilangan penjangkaran. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kehilangan penjangkaran salah satunya adalah kurang optimalnya kekuatan komponen penjangkaran untuk menahan kekuatan dari komponen aktif. Akibat dari itu semua, pada saat tiba waktunya kontrol timbul suatu permasalahan yaitu terjadi kehilangan penjangkaran.

3.2

Faktor-faktor yang mempengaruhi penjangkaran Beberapa keadaan mempengaruhi penjangkaran yaitu luas

permukaan gigi penjangkar, kekuatan yang digunakan dan tendensi pergeseran ke mesial gigi penjangkar.

a.

Luas permukaan gigi penjangkar Apabila luas permukaan akar gigi penjangkar sama dengan gigi yang digerakan, kedua kelompok gigi tersebut sama sama bergerak. Perlu diupayakan jumlah luas permukaan akar gigi penjangkar harus lebih besar daripada gigi yang digerakkan agar pergerakan gigi penjangkar seminimal mungkin. Ini dapat dilakukan dengan cara setiap kali hanya menggerakkan satu gigi saja tiap kuadran dan melibatkan sebanyak mungkin gigi gigi penjangkar. Sebagai contoh apabila hendak mengkoreksi pada kasus kls II divisi 1, mula mula dilakukan retrksi kaninus sampai letak yang diinginkan, kemudian retraksi insisiv, ssedangkan molar dan premolar sebagai gigi penjangkar. Dengan demikian dapat

diharapkan bahwa pada setiap tahap banyaknya gigi penjangkar dan luas permukaan akar secara keseluruhan lebih besar dari gigi yang digerakkan.

b.

Kekuatan yang digunakan Setiap gigi memiliki nilai ambang terhadap kekuatan untuk dapat bergerak. Apabila gigi diberi kekuatan dibawah nilai ini maka gigi akan bergerak sangat sedikit. Dengan kekuatan ringan seperti yang direncanakan untuk menggerakkan gigi, kekuatan ini juga akan diteruskan ke gigi gigi penjangkar yang mempunyai luas permukaan akar yang lebih besar. Kekuatan ini masih dibawah nilai ambang pergerakan gigi penjangkar sehingga gigi penjangkar tidak bergerak. Tetapi bila kekuatan yang diberikan cukup besar dan

melebihi nilai ambang pergerakan gigi penjangkar maka gigi gigi penjangkar akan ikut bergerak.

c.

Pergeseran ke mesial Perlu diingat adanya kecenderungan gigi gigi bergerak ke mesial. Oleh karena itu harus dipertimbangkan dengan hati hati apabila ada kekuatan ke mesial yang bekerja pada gigi penjangkar misalnya pada retraksi kaninus terdapat aksi untuk menggerakkan kaninus ke distal dan terdapat kekuatan atau reaksi ke mesial yang bekerja pada gigi penjangkar.

3.3

Syarat dari gigi penjangkaran Gigi vital atau non vital yang telah dilakukan PSA dengan sempurna Bentuk anatomis dan besarnya normal Tidak ada kerusakan/kelainan.Misalnya: tumpatan yang besar, karies, hypoplasia, konus. Posisi dalam lengkung gigi normal Keadaan akar gigi: Bentuk ukurannya normal Tertanam dalam tulang alveolar dengan perbandingan mahkota akar 2:3 Jaringan periodontal sehat Tidak ada kelainan periapikal Sedapat mungkin tidak goyang Apeks menutup sempurna

3.4

Gejala dari kehilangan penjangkaran Gejala kehilangan penjangkaran dari gigi yang sedang dalam masa perawatan maloklusi dapat diketahui melalui : a. Relasi pada geligi posterior berubah, contohnya gigi molar mengalami tipping b. c. d. Alat penjangkar mengalami kegoyangan Adanya gangguan dari sendi rahang Pada RA gigi insisivi atas akan menjadi lebih sedikit protrusif karena peranti bagian depan kontak dengan insisivi yang mendorong insisivi ke labial. Jarak gigit juga bertambah sehingga dengan mengukur jarak gigit pada saat perawatan sedang berlangsung adanya kehilangan penjangkaran dapat diketahui. e. Gigi pada saat digunakan mengunyah tidak enak dipakai sehingga otot pengunyahan lelah f. Luka pada jaringan pendukung, terjadi resorbsi tulang alveolar, gangguan TMJ.

3.5

Faktor-faktor yang menyebabkan kehilangan penjangkaran Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kehilangan penjangkaran diantaranya : a. Motivasi pasien Hal ini penting karena dengan pasien mempunyai motivasi yang tinggi maka perawatan akan berhasil tetapi apabila pasien tidak mempunyai motivasi misalnya pasien malas untuk kontrol ke dokter gigi maka hal ini akan mempengaruhi dari tahapan perawatan, misalnya tahapan untuk aktivasi & pergerakkan gigi, sehingga perawatan akan terhambat maka terjadi kehilangan penjangkaran.

b.

Pasien yang tidak kooperatif Hal ini berhubungan dengan pernyataan di atas, pasien yang tidak kooperatif dapat menyebabkan terjadinya kehilangan penjangkaran, 9

dengan hilangnya penjangkaran maka dapat mengurangi tempat yang disediakan untuk koreksi gigi anterior.

c.

Desain alat penjangkaran Misalnya terlalu banyak desain alat berarti banyak juga yang akan digerakkan, hal ini perlu menjadi koreksi karena akan mempengaruhi kekuatan gigi yang digerakkan & pertimbangan tentang pergerakkan gigi.

d.

Jumlah gigi yang digerakkan Jangan terlalu banyak dalam menggerakkan gigi, jika memang banyak yang digerakkan maka pertimbangkan kekuatan, karena kekuatan ini mempengaruhi pergerakkan gigi. Menggerakkan gigi terlalu banyak dapat menyebabkan kegoyangan dan kehilangan penjangkaran.

e.

Luas permukaan akar gigi penjangkar Luas permukaan akar > daripada gigi penjangkar

f.

Gigi tidak masuk syarat penjangkar Gigi yang tidak masuk penjangkaran tetapi dipaksakan menjadi gigi penjangkar maka dapat menjadi penyebab kehilangan penjangkaran.

3.7

Pencegahan dari kehilangan penjangkaran Manajemen penjangkaran pada dasarnya adalah menambah

penjangkaran hingga nilainya cukup untuk menahan pergerakan gigi yang tidak diharapkan. Dalam kasus yang berbeda, dan pada tahap perawatan yang berbeda, penjangkaran yang dibutuhkan bisa bervariasi. Resistensi suatu kelompok gigi harus disesuaikan dengan kelompok lainnya sehingga pada akhir perawatan kedudukan gigi yang diharapkan dapat tercapai. Upaya untuk mengelola penjangkaran adalah : 10

1.

Menjaga agar gaya tetap ringan Gerakan yang dapat dihasilkan oleh alat lepasan adalah tipping. Gaya yang dibutuhkan untuk gerakan tipping relatif kecil, demikian pula gaya reaksi yang ditimbulkannya. Gaya reaksi dapat dikurangi dengan membatasi jumlah gigi yang digerakkan. Pada setiap kunjungan, gigi yang boleh digerakkan hanya satu buah per kuadran dengan arah yang sama, dan apabila sedang meretraksi segmen anterior untuk mengurangi overjet, maka tidak boleh ada gigi lain yang digerakkan ke arah palatal atau distal. Namun tidak bisa diasumsikan bahwa apabila sudah digunakan gaya yang ringan maka akan terbebas dari anchorage loss.

2.

Menambah resistensi penjangkar Resistensi yang dihasilkan oleh keakuratan kontak antara pelat landasan dengan permukaan gigi dan mukosa mempengaruhi penjangkaran yang dihasilkan oleh alat lepasan. Penjangkaran dapat dimaksimalkan dengan menjaga permukaan akrilik agar selalu berkontak sebanyak ungkin dengan permukaan gigi. Hubungan tonjol yang mengunci antara gigi rahang atas dengan rahang bawah bisa menambah resistensi terhadap anchorage loss. Masalahnya, pencabutan di kedua rahang yang berlawanan bisa mengakibatkan gigi tersebut bergeser sama-sama ke mesial dalam keadaan tetap mengunci. Kemungkinan ini dapat dihindari apabila menggunakan bite plane. Penambahan inclined bite plane pada plat rahang atas dapat menambah penjangkaran dengan cara menyalurkan gaya dorong yang ditimbulkan oleh insisif rahang bawah pada saat oklusi. Namun bukan tidak mungkin penambahan inclined bite plane dapat mengakibatkan proklinasi gigi insisif. Oleh karena itu, untuk mengurangi overbite lebih baik menggunakan bite plane yang datar.

11

Traksi Intermaksiler jarang sekali diterapkan pada pemakaian alat lepasan. Mungkin bisa digunakan pada rahang atas untuk mendukung alat cekat di rahang bawah, tetapi tetap lebih baik jika digunakan pada perawatan dengan alat cekat di kedua rahangnya. Traksi ekstra oral adalah metoda yang paling memungkinkan untuk menambah penjangkaran pada alat lepasan. Pemakaian alat traksi oral dapat diterima oleh pasien dan dapat memperluas ruang lingkup kasus alat lepasan. 3.6 Rencana perawatan dari kehilangan penjangkaran Adapun rencana perawatan yang dapat dilakukan apabila telah kehilangan penjangkaran dengan cara : a. Gigi anterior yang mengalami kegoyangan diistirahatkan, alat dipasifkan sampai jaringan periodontal sehat, setelah itu aktivasi kembali b. Pada beberapa gigi yang mengalami pergerakkan gigi ke mesial maka perlu dilakukan perawatan c. d. e. f. Pergantian desain alat ortodonti lepasan pada pasien Penambahan penjangkaran ekstra oral Penarikan gigi satu per satu/bertahap dengan kekuatan ringan Mencari penyebab kehilangan penjangkaran dari kasus yang ada agar dapat dikembalikan sesuai rencana perawatan g. Memotivasi pasien agar dapat menjadi pasien yang kooperatif

12

KESIMPULAN

Alat lepasan aktif bisa digunakan secara efektif untuk merawat kasus-kasus maloklusi tertentu. Salah satu yang harus diperhatikan pada saat merencanakan perawatan menggunakan alat lepasan adalah memperhitungkan nilai

penjangkarannya. Penjangkaran pada alat lepasan dapat diperoleh secara intra oral, yaitu intramaksiler dan intermaksiler, penjangkaran ekstra oral, atau kombinasi keduanya. Faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan penjangkaran adalah berapa besar gaya yang dihasilkan, berapa tekanan yang diterima oleh membran periodontal, bagaimana morfologi akar, berapa ruangan yang tersedia, dan bagaimana struktur jaringan di sekitar gigi yang akan digerakkan maupun di sekitar penjangkar. Pada sumber-sumber yang bias dijadikan

dasarnya manajemen penjangkaran bertujuan untuk menjaga

agar gaya yang digunaka tetap ringan dan menambah resistensi penjangkaran, n sehingga gigi yang diharapkan bisa bergerak sementara gigi diharapkan pergerakkannya bisa ditahan atau yang tidak Selama

diminimalisr. i

perawatan, anchorage loss harus bisa segera

dideteksi, kemudian dicari

penyebabnya, dan ditangani secepatnya agar tidak terjadi kesalahan yang lebih parah sehingga hasil perawatan bisa sebaik mungkin.

13

DAFTAR PUSTAKA

Nanda R. Biomechanics in clinical orthodontic. Philadelphia : W. B. Saunders Company. 1997: 156-187. Rahardjo, Pambudi. Drg, Sp.Orth. 2009. Peranti Ortodonsi Lepasan. Surabaya: Airlangga University Press www.scribd.com/doc/.../Biomekanik-Pergerakan-Gigi-Ortodontik di akses tanggal 5 Maret 2012 jam 19.00 WIB

Avi Laviana, drg, Sp.Orth. Manajemen Penjangkaran Dalam Perawatan Ortodontik, Makalah Bandung Dentistry 2008: 1-20 Higley, L.B., 1969: Anchorge in Ortodontics, Am.J. Orthod., 55(6) : 791-794 Kerr W J, Buchanan I B, McColl J H. Use of the PAR index in assesing the effectiveness of removable orthodontic appliances. Br J Orthodontics. 1983, 10: 73-7. Muir J D, Reed R T. Tooth movement with removable appliances. England: Pitman Publishing. 1979: 1-10, 71-81

14