Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Perdarahan merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang menjadi penyebab kematian ibu di dunia. Di Asia perdarahan merupakan penyebab utama kematian ibu. Perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri dari perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Salah satu penyebab perdarahan antepartum yaitu plasenta previa yang merupakan perdarahan yang terjadi di atas usia 28 minggu kehamilan. Berdasarkan laporan World Health Organization (2008) angka kematian ibu di dunia pada tahun 2005 sebanyak 536.000. Kematian ini dapat disebabkan oleh 25 % perdarahan, 20% penyebab tidak langsung, 15 % infeksi, 13 % aborsi yang tidak aman, 12 % eklampsi, 8 % penyulit persalinan, dan 7 % penyebab lainnya. Perdarahan yang terjadi pada kehamilan muda disebut abortus sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Yang termasuk perdarahan antepartum antara lain plasenta previa, solusio plasenta, ruptur uteri. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 228 per 100.000 kelahiran hidup pada priode tahun 2003 sampai 2007. Pada tahun 2009 Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup. Dari hasil survei tersebut terlihat adanya peningkatan angka kematian ibu di Indonesia (Depkes RI, 2009). Angka kematian ibu selama tahun 2006 sebanyak 237 per 100.000 kelahiran hidup. Dari total 4.726 kasus plasenta previa pada tahun 2005 didapati 40 orang ibu meninggal akibat plasenta previa (Depkes RI, 2005). Sedangkan pada tahun 2006 dari total 4.409 kasus plasenta previa didapati 36 orang ibu meninggal akibat plasenta previa (Depkes RI, 2006). Plasenta previa adalah plasenta yang implantasinya tidak normal, sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostiuminternum; kasus ini masih menarik dipelajari terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, karena faktor predisposisi yang masih sulit dihindari,

prevalensinya masih tinggi serta punya andil besar dalam angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan parameter pelayanan kesehatan. Di RS Parkland didapatkan prevalensiplasenta previa 0,5%. Clark dkk (1985) melaporkan prevalensi plasenta previa 0,3%. Nielson dkk

(1989)dengan penelitian prospektif menemukan 0,33% plasenta previadari 25.000 wanita yang bersalin, di Indonesia berkisar2-7%1. Plasenta previa pada kehamilan prematur lebih bermasalah karena persalinan terpaksa; sebagian kasus disebabkan oleh perdarahan penyebab hebat, utama sebagian kematian lainnya oleh proses

persalinan.Prematuritas

merupakan

perinatal

sekalipun

penatalaksanaan plasenta previa sudah dilakukan dengan benar. Di samping masalah prematuritas,perdarahan akibat plasenta previa akan fatal bagi ibu jika tidak ada persiapan darah atau komponen darah dengan segera

1.2 TUJUAN Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Sebagai salah satu tugas Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Obstetri dan Ginekologi di RSUPH. Adam Malik Medan 2. Sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis dan pembaca, terutama mengenai definisi, etiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan tatalaksana Plasenta previa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

DEFINISI

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir yang ditandai dengan perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina tanpa adanya rasa nyeri pada kehamilan trimester terakhir, khususnya pada bulan kedelapan.Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi di segmen bawah rahim yang dapat memberikan dampak yang sangat merugikan ibu maupun janin berupa perdarahan, prematuritas dan peningkatan angka kesakitan dan kematian perinatal

2.2

Epidemiologi Plasenta Previa Plasenta previa lebih banyak terjadi pada kehamilan dengan paritas tinggi, dan sering terjadi pada usia di atas 30 tahun. Uterus yang cacat juga dapat meningkatkan angka kejadian plasenta previa. Pada beberapa Rumah Sakit Umum Pemerintah dilaporkan angka kejadian plasenta previa berkisar 1,7 % sampai dengan 2,9 %. Sedangkan di negara maju angka kejadiannya lebih rendah yaitu kurang dari 1 % yang mungkin disebabkan oleh berkurangnya wanita yang hamil dengan paritas

tinggi.Kejadian plasenta previa terjadi kira-kira 1 dari 200 persalinan, insiden dapat meningkat diantaranya sekitar 1 dari 20 persalinan pada ibu yang paritas tinggi.

2.3. Faktor Resiko Plasenta Previa Penyebab plasenta previa belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa, antara lain3, 4: a. Umur, wanita pada umur kurang dari 20 tahun mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa karena endometrium masih belum matang, dan kejadian plasenta previa juga sering terjadi pada ibu yang berumur di atas 35 tahun karena tumbuh endometrium yang kurang subur3.

b. Banyaknya jumlah kehamilan dan persalinan (paritas). Plasenta previa lebih sering pada paritas tinggi dari paritas rendah. c. Hipoplasia endometrium d. Korpus luteum bereaksi lambat e. Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium f. Endometrium cacat, seksio cesarea, kuretase, dan manual plasenta. Penelitian yang dilakukan oleh Urganci dkk menunjukkan bahwa terdapat peningkatan risiko untuk terjadinya plasenta previa dengan adanya riwayat seksio cesarea sebelumnya6. g. Kehamilan kembar h. Riwayat plasenta previa sebelumnya

2.5.Klasifikasi Plasenta Previa Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, karena klasifikasi tidak didasarkan pada keadaan anatomi melainkan pada keadaan fisiologis yang dapat berubah-ubah, maka klasifikasi ini dapat berubah setiap waktu misalnya padapembukaan yang masih kecil, seluruh pembukaan yang lebih besar, keadaan ini akan menjadi plasenta previa lateralis. Ada juga penulis yang menganjurkan bahwa menegakkan diagnosa sewaktu moment opname yaitu saat penderita diperiksa3, 4.

Menurut De Snoo Klasifikasi plasenta previa menurut De Snoo, berdasarkan pembukaan 4-5 cm dibagi menjadi dua, yaitu3, 4: 1. Plasenta previa sentralis (totalis), bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium. 2. Plasenta previa lateralis, bila pada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta, dapat dibagi menjadi: a. Plasenta previa lateralis posterior, bila sebagian menutupi ostium bagian belakang. b. Plasenta previa lateralis anterior, bila sebagian menutupi ostium bagian depan

c. Plasenta previa lateralis marginalis, bila sebagian kecil atau hanya pinggir ostium yang ditutupi plasenta.

Menurut Browne Klasifikasi plasenta previa menurut Browne dalam Mochtar (2002) yaitu3, 4: 1. Tingkat 1 = Lateral plasenta previa Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim, namun tidak sampai ke pinggir pembukaan. 2. Tingkat 2 = Marginal plasenta previa. Plasenta mencapai pinggir pembukaan 3. Tingkat 3 = Complete plasenta previa Plasenta menutupi ostium waktu tertutup, dan tidak menutupi bila pembukaan hampir lengkap. 4. Tingkat 4 = Central plasenta previa Plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap. Secara umum plasenta previa dapat dibagi menjadi empat, yaitu3: 1. Plasenta previa totalis Apabila jaringan plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum.

Gambar 2. Plasenta Previa Totalis3

2. Plasenta previa parsialis Yaitu apabila jaringan plasenta menutupi sebagian ostium uteri internum.

Gambar 3. Plasenta Previa Parsialis3

3. Plasenta previa marginalis Yaitu plasenta yang tepinya terletak pada pinggir ostium uteri internum. 4. Plasenta previa letak rendah Apabila jaringan plasenta berada kira-kira 3-4 cm di atas ostium uteri internum, pada pemeriksaan dalam tidak teraba.Pada tipe ini, implantasi plasenta rendah, tetapi tidak sampai ke ostium uteri internum3, 7.

Gambar 4. Plasenta Previa Letak Rendah3

Dari semua klasifikasi plasenta previa, frekuensi plasenta previa totalis sebesar 20-45%, plasenta previa parsialis sekitar 30% dan plasenta previa marginalis sebesar 25-50%3.

2.6. Patofisiologi Plasenta Previa Perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga karena saat itu segmen bawah uterus lebih mengalami perubahan berkaitan dengan semakin tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan semakin melebar, dan serviks mulai membuka. Perdarahan ini terjadi apabila plasenta terletak diatas ostium uteri interna atau di bagian bawah segmen rahim. Pembentukan segmen bawah rahim dan pembukaan ostium interna akan menyebabkan robekan plasenta pada tempat perlekatannya. Darah yang berwarna merah segar, sumber perdarahan dari plasenta previa ini ialah sinus uterus yang robek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahannnya tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan tersebut, tidak sama dengan serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III pada plasenta yang letaknya normal. Semakin rendah letak plasenta, maka

semakin dini perdarahan yang terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai (Oxorn, 2003). 2.7. Manifestasi Klinis Plasenta Previa Gambaran klinik plasenta previa adalah sebagai berikut :

1. Perdarahan pervaginam Darah berwarna merah terang pada umur kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga merupakan tanda utama plasenta previa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat fatal, tetapi perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari perdarahan sebelumnya. 2. Tanpa alasan dan tanpa nyeri Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan tanpa nyeri yang biasanya baru terlihat setelah kehamilan mendekati akhir trimester kedua atau sesudahnya. 3. Pada ibu, tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang, perdarahan yang sedikit demi sedikit atau dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat, dapat menimbulkan anemia sampai syok. 4. Pada janin, turunnya bagian terbawah janin ke dalam Pintu Atas panggul (PAP) akan terhalang, tidak jarang terjadi kelainan letak janin dalam rahim, dan dapat menimbulkan aspiksia sampai kematian janin dalam rahim

2.8. Diagnosis Plasenta Previa Pada setiap perdarahan antepartum, pertama kali harus dicurigai bahwa penyebabnya ialah plasenta previa sampai kemudian ternyata dugaan itu salah2.

Anamnesis Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida.Banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari pemeriksaan hematokrit2.

Pemeriksaan Luar Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu-atas panggul.Apabila presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung di atas pintu-atas panggul atau mengolak ke samping, dan sukar didorong ke dalam pintu atas panggul.Tidak jarang terdapat kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang2.

Pemeriksaan Inspekulo Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina, seperti erosion porsionis uteri, karsinoma posrsionis uteri, polypus servisis uteri, varises vulva, dan trauma.Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai.

Penentuan Letak Plasenta Tidak Langsung Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan dengan radiografi, radioisotope, dan ultrasonografi. Nilai diagnostiknya cukup tinggi di tangan yang ahli, akan tetapi ibu dan janin pada pemeriksaan radiografi dan radioisotope masih dihadapkan pada bahaya radiasi yang cukup tinggi pula, sehingga cara ini mulai ditinggalkan. Penentuan letak plasenta dengan ultrasonografi ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinya, dan tidak menimbulkan rasa nyeri2. Penentuan Letak Plasenta Secara Langsung Untuk menegakkan diagnosis yang tepat tentang adanya dan jenis plasenta previa ialah secara langsung meraba plasenta melalui kanalis servikalis.Akan tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perdarahan yang banyak.Oleh karena itu pemeriksaan melalui kanalis servikalis hanya dilakukan apabila penanganan pasif ditinggalkan, dan ditempuh penanganan aktif.Pemeriksaannya harus dilakukan dalam keadaan siap operasi

2.9. Pemeriksaan Penunjang Plasenta Previa Pemeriksaan radio-isotop10: a. Plasentografi jaringan lunak b. Sitografi c. Plasentografi indirek d. Arteriografi e. Amniografi f. Radio isotop plasentografi Ultrasonografi, transabdominal ultrasonografi dalam keadaan kandung kemih yang dikosongkan akan memberikan kepastian diagnosa plasenta previa. Walaupun transvaginal ultrasonografi lebih superior untuk mendeteksi keadaan ostium uteri internum namun sangat jarang diperlukan, karena di tangan yang tidak ahli cara ini dapat menimbulkan perdarahan yang lebih banyak. Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografis sangat tepat dan tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin. USG telah memudahkan diagnosis dan manajemen dari plasentaprevia.Hampirsemua kasus plasenta previa dapatdidiagnosis dengan sonografi, dan diagnosispositif

palsu dannegative palsu dapat dihindari diagnosa dapat dihindari

2.10. Penatalaksanaan Plasenta Previa Penatalaksanaan pada plasenta previa dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu: 1. Ekspektatif, dilakukan apabila janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia masih kecil baginya. Sikap ekspektasi tertentu hanya dapat dibenarkan jika keadaan ibu baik dan perdarahannya sudah berhenti atau sedikit sekali. Dahulu ada anggapan bahwa kehamilan dengan plasenta previa harus segera diakhiri untuk menghindari perdarahan yang fatal. Syarat terapi ekspektatif yaitu: a. Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti. b. Belum ada tanda-tanda in partu.

c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal). d. Janin masih hidup.

2. Terminasi, dilakukan dengan segera mengakhiri kehamilan sebelum terjadi perdarahan yang dapat menimbulkan kematian, misalnya: kehamilan telah cukup bulan, perdarahan banyak, dan anak telah meninggal. Terminasi ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:

a. Cara vaginal yang bermaksud untuk mengadakan tekanan pada plasenta, dengan cara ini maka pembuluh-pembuluh darah yang terbuka dapat tertutup kembali (tamponade pada plasenta). Penekanan tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu:

- Amniotomi ( pemecahan selaput ketuban) Cara ini merupakan cara yang dipilih untuk melancarkan persalinan pervaginam. Cara ini dilakukan apabila plasenta previa lateralis, plasenta previa marginalis, atau plasenta letak rendah, namun bila ada pembukaan. Pada primigravida telah terjadi pembukaan 4 cm atau lebih. Juga dapat dilakukan pada plasenta previa lateralis/ marginalis dengan janin yang sudah meninggal.

- Memasang cunam Willet Gausz Pemasangan cunam Willet Gausz dapat dilakukan dengan mengklem kulit kepala janin dengan cunam Willet Gausz. Kemudian cunam diikat dengan menggunakan kain kasa atau tali yang diikatkan dengan beban kira-kira 50-100 gr atau sebuah batu bata seperti katrol. Tindakan ini biasanya hanya dilakukan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif karena seringkali menimbulkan perdarahan pada kulit kepala janin.

- Metreurynter Cara ini dapat dilakukan dengan memasukkan kantong karet yang diisi udara dan air sebagai tampon, namun cara ini sudah tidak dipakai lagi.

- Versi Braxton-Hicks Cara ini dapat dilakukan pada janin letak kepala, untuk mencari kakinya sehingga dapat ditarik keluar. Cara ini dilakukan dengan mengikatkan kaki dengan kain kasa, dikatrol, dan juga diberikan beban seberat 50-100 gr.

Dengan cara seksio sesarea, yang dimaksud untuk mengosongkan rahim sehingga rahim dapat berkontraksi dan menghentikan perdarahan. Selain itu seksio sesarea juga

dapat mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim yang sering terjadi pada persalinan pervaginam. Persalinan seksio sesarea diperlukan hampir pada seluruh kasus plasenta previa. Pada sebagian besar kasus dilakukan melalui insisi uterus transversal. Karena perdarahan janin dapat terjadi akibat insisi ke dalam plasenta anterior.

Indikasi dilakukannya persalinan seksio sesarea pada plasenta previa adalah: a. Dilakukan pada semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau meninggal, serta semua plasenta previa lateralis, posterior, karena perdarahan yang sulit dikontrol. b. Semua plasenta pevia dengan perdarahan yang banyak, berulang dan tidak berhenti dengan tindakan yang ada. c. Plasenta previa yang disertai dengan panggul sempit, letak lintang.

Gawat janin maupun kematian janin dan bukan merupakan halangan untuk dilakukannya persalinan seksio sesarea, demi keselamatan ibu. Tetapi apabila dijumpai gawat ibu kemungkinan persalinan seksio sesarea ditunda sampai keadaan ibunya dapat diperbaiki, apabila fasilitas memungkinkan untuk segera memperbaiki keadaan ibu, sebaiknya dilakukan seksio sesarea jika itu merupakan satu-satunya tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan yang banyak pada plasenta previa totalis. 2.11. Komplikasi Plasenta Previa Ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada ibu hamil yang menderita plasenta previa, yaitu3: 1. Komplikasi pada ibu a) Dapat terjadi anemia bahkan syok b) Dapat terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh c) Infeksi karena perdarahan yang banyak 2. Komplikasi pada janin Kelainan letak janin. Prematuritas dengan morbiditas dan mortalitas tinggi Asfiksia intra uterin sampai dengan kematian

2.12. Prognosis Plasenta Previa Prognosis ibu pada plasenta previa dewasa ini lebih baik jika dibandingkan dengan masa lalu.Hal ini dikarenakan diagnosa yang lebih dini, ketersediaan transfusi darah, dan infus cairan yang telah ada hampir semua rumah sakit kabupaten.Demikian juga dengan kesakitan dan kematian anak mengalami penurunan, namun masih belum terlepas dari komplikasi kelahiran prematur baik yang lahir spontan maupun karena intervensi seksio cesarea.Karenanya kelahiran prematur belum sepenuhnya bisa dihindari sekalipun tindakan konservatif diberlakukan

BAB 3 LAPORAN KASUS

3.1. Status Pasien

IDENTITAS Nama MR Umur Agama : Lestari Br Tarigan : 49.55.09 : 30 tahun 2 bulan : Islam

Pendidikan: Tamat SLTA Suku Alamat Masuk tanggal Pukul : Karo : Jl Bunga Sakura No 34 : 26 April 2012 : 00.30 WIB

ANAMNESIS (Alloanamnesis) Ny L, usia 30 tahun, G5P3A1, suku Karo, agama Islam, pekerjaan ibu rumah tangga istri dari Tn. B, 31 tahun, suku Jawa, agama Islam, tamat SLTP, pekerjaan wiraswasta.

Keluhan Telaah

: mulas-mulas yang hilang timbul. : Hal ini dialami os sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit (25-04-2012)

pukul 16.00 WIB disertai dengan keluar lendir darah dari kemaluan. Riwayat keluar air banyak dari kemaluan (-). Riwayatkeluardarahdarikemaluansebelumnya (-). RPT RPO HPHT TTP ANC : (-) : (-) : ?-08-2011 : ?-05-2012 : PIH HAM 3x, Bidan 4x.

Riwayat persalinan :

- Perempuan, aterm, 3000gr, PSP, bidan, klinik, 8tahun, sehat. - Laki-laki, aterm, 3100gr, PSP, bidan, klinik, 6tahun, sehat. - Perempuan, aterm, 2700gr, PSP, bidan, klinik, 3taun, sehat. - Abortus. - Hamil ini.

Status presens Sens TD HR RR : cm : 120/80 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit Anemia Ikterus Sianosis Dyspnoe Edema (-) (-) (-) (-) (-)

Temp : 36,8C

Status Obstetrikus Abdomen TFU Tegang : membesar asimetris : 3 jari bawah prosesus xyphoideus : kiri

Terbawah : kepala (floating) Gerak His DJJ : (+) : (+) 2x15/10 : 144x/menit

VT:Cervix axial, diameter 2cm, effacement 60%, selaput ketuban (+), kepala floating, UUK ? ST : lendir darah (+), air ketuban (-).

Hasil USG TAS (tgl 26 April 2012) Janin tunggal, letak kepala, anak hidup FM (+), FHR (+) 144x/i BPD 93 mm FL 74 mm

AC 370 mm Plasenta lateral kiri 1 cm dari ostium uteri internus. Air ketuban cukup. Kesan KDR 37-38 mgg + letak kepala + AH+ plasenta letak rendah.

Hasil laboratorium Hemoglobin Leukosit Hematokrit Trombosit 11,90 g/% 14,39 x 103/mm3 35,50 % 154 x 103/mm3

KGD ad random 105,10 mg/dL

Diagnosis Plasenta letak rendah + MG + KDR (37-38 mgg) + presentasi kepala + Anak hidup + Inpartu

Terapi 1. Awasi vital sign, His, denyut jantung janin. 2. Awasi kemajuan persalinan. 3. Persalinan pervaginam.

Follow up tanggal 26 April 2012 (pukul 12.00 WIB)

KU : Mulas-mulas mau melahirkan. SP : Sens TD HR RR : CM : 120/80 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit Anemia Ikterus Sianosis Dyspnoe Edema (-) (-) (-) (-) (-)

Temp : 36,8C SO: Gerak His BJJ : (+) : 2x25/ 10 : 136x/i

VT: Cervix axial, diameter 4cm, effacement 100%, selaput ketuban (+), kepala floating, UUK ? ST : lendir darah (+), air ketuban (-).

Diagnosis : Plasenta letak rendah+ Multigravida+ KDR(37-38)mgg+ presentasi kepala+ anak hidup+ inpartu Terapi : Awasi vital sign, His, denyut jantung janin. Awasi kemajuan persalinan sesuai partograf. Augmentasi dengan IVFD RL+oksitoksin 5IU prosedur biasa (ganti dengan IVFD RL+oksitoksin 10IU jika flash 1 habis). Persalinan pervaginam.

Follow up tanggal 26 April 2012 (pukul 14.30 WIB)

KU : Mulas-mulas mau melahirkan. SP : Sens TD HR RR : CM : 120/80 mmHg : 82 x/menit : 20 x/menit Anemia Ikterus Sianosis Dyspnoe Edema (-) (-) (-) (-) (-)

Temp : 36,7C SO: Gerak His BJJ : (+) : 4x40/ 10 : 136x/i

VT: Cervix axial, diameter 5cm, effacement 100%, selaput ketuban (+), kepala floating, UUK ? ST : lendir darah (+), air ketuban (-).

Diagnosis : Plasenta letak rendah+ Multigravida+ KDR(37-38)mgg+ presentasi kepala+ anak hidup+ inpartu

Terapi

Augmentasi dengan IVFD RL+oksitoksin 5IU prosedur biasa (ganti dengan IVFD RL+oksitoksin 10IU jika flash 1 habis). Awasi vital sign, His, denyut jantung janin. Awasi kemajuan persalinan sesuai partograf. Persalinan pervaginam.

Follow up tanggal 26 April 2012 (pukul 15.15 WIB)

KU : Mulas-mulas mau melahirkan. SP : Sens TD HR RR : CM : 120/80 mmHg : 82 x/menit : 20 x/menit Anemia Ikterus Sianosis Dyspnoe Edema (-) (-) (-) (-) (-)

Temp : 36,7C SO: Gerak His BJJ : (+) : 4x40/ 10 : 136x/i

VT: Cervix axial, diameter 5cm, effacement 100%, SRM 0 jam, kepala H II, UUK arah jam 2 ST : lendir darah (+), air ketuban (+).

Diagnosis : Plasenta letak rendah+ Multigravida+ KDR(37-38)mgg+ presentasi kepala+ anak hidup+ inpartu

Terapi

Augmentasi dengan IVFD RL+oksitoksin 5IU prosedur biasa (ganti dengan IVFD RL+oksitoksin 10IU jika flash 1 habis). Awasi vital sign, His, denyut jantung janin. Awasi kemajuan persalinan sesuai partograf. Persalinan pervaginam.

Follow up tanggal 26 April 2012 (pukul 19.15 WIB)

KU : Mulas-mulas mau melahirkan. SP : Sens TD HR RR : CM : 120/80 mmHg : 82 x/menit : 20 x/menit Anemia Ikterus Sianosis Dyspnoe Edema (-) (-) (-) (-) (-)

Temp : 36,7C SO: Gerak His BJJ : (+) : 4x40/ 10 : 136x/i

VT: Cervix axial, diameter 8cm, effacement 100%, SRM 4 jam, kepala H II-III, UUK arah jam 1 ST : lendir darah (+), air ketuban (+).

Diagnosis : Plasenta letak rendah+ Multigravida+ KDR(37-38)mgg+ presentasi kepala+ anak hidup+ inpartu

Terapi

Augmentasi dengan IVFD RL+oksitoksin 5IU prosedur biasa (ganti dengan IVFD RL+oksitoksin 10IU jika flash 1 habis). Awasi vital sign, His, denyut jantung janin. Awasi kemajuan persalinan sesuai partograf. Persalinan pervaginam.

Follow up tanggal 26 April 2012 (pukul 20.30 WIB)

KU : Ibu ingin mengedan SP : Sens TD HR RR : CM : 120/80 mmHg : 82 x/menit : 20 x/menit Anemia Ikterus Sianosis Dyspnoe Edema (-) (-) (-) (-) (-)

Temp : 36,7C SO: Gerak His BJJ : (+) : 4x40/ 10 : 136x/i

VT: Cervix axial, buka lengkap, SRM 5 jam, kepala H III, UUK arah jam 12 ST : lendir darah (+), air ketuban (+).

Diagnosis : Plasenta letak rendah+ Multigravida+ KDR(37-38)mgg+ presentasi kepala+ anak hidup+ Kala II

Terapi

Pimpin persalinan

LAPORAN PARTUS SPONTAN PERVAGINAM a/i PERSENTASI BELAKANG KEPALA (PUKUL 20.30) Ibu dibaringkan di meja ginekologi dengan infus terpasang dengan baik. Kandung kemih dikosongkan dengan foley catheter. Pada his yang adekuat tampak kepala maju mundur dan menetap di introitus vagina. Pada his yang adekuat berikutnya ibu dipimpin untuk mengedan. Dengan subocciput sebagai hipomoklion, berturut-turut lahir UUK, UUB, dahi , muka, dagu dan seluruh kepala kemudian terjadi putar paksi luar. Dengan pegangan biparietal kepala ditarik ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan ditarik ke atas untuk melahirkan bahu belakang. Dengan sanggah susur bayi seluruhnya. Lahir bayi laki-laki, BB 3100 gr, PB 48 cm, Apgar Score 8/9. Anus (+). Tali pusat diklem di dua tempat dan dipotong diantaranya. Plasenta dilahirkan dengan PTT, kesan lengkap. Evaluasi jalan lahir dilakukan repair episiotomi dengan chromic catgut 2.0. Evaluasi perdarahan, kesan tidak ada perdarahan. KU ibu post partum baik.

Rencana : awasi kontraksi uterus dan perdarahan post partum, cek darah rutin 2 jam post partus

HASIL LABORATORIUM POST PARTUM (26 April 2012 pukul 22.30 WIB) Hemoglobin Leukosit Hematokrit Trombosit 13,40 g/% 17,83 x 103/mm3 39,00% 165 x 103/mm3

Follow up tanggal 27 April 2012 (pukul 07.00 WIB)

KU : stabil SP : Sens TD HR RR : CM : 120/70 mmHg : 78 x/menit : 20 x/menit Anemia Ikterus Sianosis Dyspnoe Edema (-) (-) (-) (-) (-)

Temp : 36,9C

SL : Abdomen TFU Kontraksi : kuat P/v Lochia BAK BAB ASI : (-) : rubra : (+) : (-), flatus (+). : (-) : soepel, peristaltik (+) N : 3 jari di bawah umbilikus

Diagnosis : Post PSP a/i PBK + NH2 Terapi : Cefadroxil tab 2x500mg Metronidazole tab 3x500mg Metergin tab 3x1 Parasetamol tab 3x500mg B Comp tab 2x1 Rencana : PBJ (Konsul poli PIH tanggal 30 April 2012)

BAB 4 PEMBAHASAN

Teori Plasenta previa lebih banyak terjadi pada kehamilan dengan paritas tinggi Sifat perdarahan causeless, painless dan recurrent. Transabdominal ultrasonografi dalam keadaan kandung kemih yang dikosongkan akan memberikan kepastian diagnosa plasenta previa. Penanganan plasenta previa dilakukan dengan penanganan ekspektatif dan penanganan aktif

Kasus Faktor resiko pada kasus ini adalah multiparitas dengan (G5P3A1)

Pada kasus ini tidak ditemui perdarahan antepartum. Diagnosis Plasenta previa baru didapati setelah dilakukan pemeriksaan USG yaitu plasenta lateral kiri dari ostium uteri eksternus.

Penanganan yang dilakukan pada pasien ini adalah penanganan Ekspektatif

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.Kesimpulan Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya bagian terendah sering kali terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) atau menimbulkan kelainan janin dalam rahim. Plasenta previa lebih banyak terjadi pada kehamilan dengan paritas tinggi, dan sering terjadi pada usia di atas 30 tahun. Uterus yang cacat juga dapat meningkatkan angka kejadian plasenta previa.

Penatalaksanaan pada plasenta previa dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu

(1)

ekspektatif, dilakukan apabila janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia masih kecil baginya, dan (2) terminasi, dilakukan dengan segera mengakhiri kehamilan sebelum terjadi perdarahan yang dapat menimbulkan kematian.

5.2.Saran Adapun saran yang dapat diberikan sebagai berikut: 1. Bed rest atau istirahat total. Tujuannya agar membantu menghentikan proses pelepasan plasenta yang terjadi sedikit demi sedikit sebelum waktunya. Dengan istirahat total baring diatas tempat tidur maka keadaan otot rahim dalam kondisi istirahat (relaksasi). 2. Memperhatikan keaadaan gizi ibu hamil. Ibu hamil dengan plasenta previa mudah mengalami penurunan Hb oleh karena pendarahan. 3. Ibu hamil sebaiknya mengontrol kehamilannya secara teratur agar setiap kelainan pada kehamilannya dapat dideteksi dan ditangani secara cepat.