Anda di halaman 1dari 4

SHUTDOWN TURBIN

Secara umum mematikan turbin berarti memutuskan turbin dari sistem pembangkit dan menghentikan aliran uap. Meskipun banyak langkah untuk mematikan turbin itu sama tanpa memperhatikan kondisi saat shut down. Prosedur mematikan turbin sangat berfariasi tergantung alasan untuk mematikan. Sebagai contoh jika turbin dimatikan untuk perawatan dan turbin hanya dimatikan untuk sementara, prosedur mematikannya akan berbeda dari prosedur untuk mematikan turbin saat kondisi emergency.

1. Mematikan turbin untuk perawatan


Langkah pertama untuk mematikan turbin adalah dengan mengurangi beban, mengurangi beban dapat dilakukan dengan cara memutar governor pada posisi terendah. Saat beban turun operator juga akan menurunkan temperatur uap, yang akan menyebabkan temperatur komponen turbin juga menurun. Temperatur uap diturunkan dengan mengurangi jumlah bahan bakar di boiler. Menurunkan temperatur komponen turbin harus dengan kecepatan yang sama pada saat start up. Jika komponen turbin yang terbuat dari logam diturunkan terlalu cepat maka ketidak cocokan temperatur antara uap dan logam menjadi berlebihan, Kepadatan tidak rata pada logam, dan dapat merusak turbin. Untuk memastikan bahwa turbin didinginkan dengan kondisi yang sesuai selama shut down, operator sebaiknya mengecek temperatur uap, temperatur logam, nilai pemuaian secara periodik. Jika turbin didinginkan terlalu cepat, operator harus melambatkan proses pendinginan sampai temperatur logam menurun kembali pada kondisi normal. Banyak manufaktur turbin merekomendasikan bahwa beberapa saluran pengosongan turbin harus segera dibuka setelah beban mulai turun. Ini mungkin diperlukan karena pada beban terendah temperatur uap dapat turun yang dapat menyebabkan uap terkondensasi, dan kondensasi dapat merusak turbin. Jika saluran pengosongan turbin terbuka saat uap

terkondensasi maka titik air akan terbuang dari turbin sebelum dapat menyebabkan kerusakan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana saluran pengosongan tersebut dibuka dengan waktu yang berbeda dengan turbin yang berbeda pula. Beberapa manufaktur turbin juga merekomendasikan bahwa motor pompa oli dioperasikan secara manual sebelum turbin mengalami trip. Motor pompa oli biasanya di desain untuk menyala secara otomatis saat tekanan oli turun pada level tertentu. Namun bagaimanapun juga menyalakan pompa secara manual untuk memastikan bahwa turbin akan terlumasi saat tekanan discharge pada pompa oli utama menurun seiring dengan melambatnya rotor. Ketika beban turbin diturunkan mencapai level maksimum, maka turbin akan mengalami trip. Untuk turbin yang digunakan sebagai conto disini beban tidak boleh lebih besar dari 10 mw ketika turbin mengalami trip. Turbin yang trip menutup semua katup uap. Kebanyakan turbin dapat mengalami trip lebih dari satu cara, contohnya dengan menekan tombol trip, dengan menarik handle trip manual, atau dengan menarik handle trip oli. Ketika aliran uap berhenti karena turbin trip maka rotor akan mulai melambat dan membutuhkan vacum breaker terbuka pada kecepatan tertentu. Terbukanya vacum breaker membuat udara masuk ke kondensor kemudian mengurangi ke- vacuman. Daya tahan udara terhadap putaran sudu turbin membantu rotor untuk melambat secara cepat. Jika sudu turbin berputar dalam udara vacum atau tanpa daya tahan udara apapun akan membuat waktu pelambatan semakin lama. Vacum breaker secara umum tidak terbuka sampai rotor melambat di bawah kecepatan operasi normal, karena saat kecepatan operasi normal udara membentur sudu turbin yang akan menyebabkan gesekan yang besar yang mana dapat menyebabkan turbin tingkat akhir akan mengalami overhead. Untuk turbin yang digunakan sebagai contoh vacum breaker tidak dibuka sampai rotor melambat mencapai setengah kecepatan penuh yaitu sekitar 1800 rpm.

Ketika level vacum kondensor menurun sampai nol, gland sealing sistem bisa dihentikan dengan menutup katup penyuplai uap dan kemudian mematikan kipas pengeluaran. Jika sealing sistem dimatikan ketika masih ada kavakuman dalam kondensor vakum bisa menarik udara dingin sepanjang rotor yang panas sehingga memungkinkan terjadinya distorsi turning gear ketika turbin mengalami pendinginan akan membuat rotor juga mendingin dan juga akan meminimalkan pelengkungan rotor karena beratnya.

2. Kondisi dan prosedur shutdown yang lain


Dalam prosedur shutdown, turbin didinginkan terlebih dahulu sehingga perawatan dapat dilakukan. Bagaimanapun, jika turbin di shutdown untuk alasan selain perawatan, dan diketahui turbin akan dihidupkan dalam waktu dekat, akan menguntungkan jika menjaga temperatur tetap hangat selama shutdown. Menjaga temperatur turbin tetap hangan selama shutdown dapat membuat proses restart lebih cepat dan mudah, karena temperatur logam tidak perlu naik terlalu banyak. Tambahan, untuk menjaga turbin tetap hangat akan menguntungkan juga dalam beberapa kasus untuk menjaga turbin tetap dalam turning gear selama periode shutdown. Faktanya, kebanyakan oembangkit menjaga turbin tetap di turning gear selama turbin tidak shutdown untuk proses perawatan. Selama berputar dalam turning gear akan menjaga rotor tetap lurus dan kemungkinan temperatur sama merata. Walaupun temperatur turbin dapat dijaga tetap hangat selama periode shutdown yang singkat, menjaga tetap hangat masih dibutuhkan, kecuali dalam situasi emergency, maka beban diturunkan dalam nilai yang sesuai sebelum mematikan turbin. Bagaimanapun, dalam situasi emergency yang mana kondisinya dapat menyebabkan kerusakan permanen pada turbin

SHUTDOWN TURBIN TUGAS

Oleh Aldino Zewri firmansyah (1031210067) Delly Raka Imawan (1031210150) Deo Anugrah Utomo (1031210069) Dyda Arga Musthafa (1031210073) Fajri Onny Rahmawan (1031210066)

JURUSAN TEKNIK MESIN POLITEKNIK NEGERI MALANG MALANG

2012