Anda di halaman 1dari 4

BSC PRAKTIKUM BIOKIMIA PROTEIN Nunik Fatmawati Prosedur kerjanya lihat dibuku praktikum aja ya...^^ 1.

Tes Biuret digunakan untuk mendeteksi ikatan peptida. Reaksi ini positif untuk semua protein, hidrolisat protein serta substansi lain yang mengandung gugus =C-NH2, S=C-NH2, HN=CNH2, H2-C-NH2 Hidrolisat protein : Protein metaprotein proteosa pepton peptida asam amino. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya warna ungu, yang warnanya akan semakin intense bila semakin panjang polypeptida. Karena untuk mendeteksi ikatan peptida, jadi tes biuret ini negatif untuk asam amino kecuali histidin. Reaksi biuret ini akan terganggu dengan adanya garam Ammonium berlebih karena NH3 akan bereaksi dengan Cu(OH)2 membentuk warna biru tua. Larutan protein + NaOH (memberi suasana alkali, katalisator, mencegah pengendapan Cu(OH)2, meminimalkan senyawa pengganggu) + CuSO4 (donor Cu2+) hasil positif warnanya ungu Dasar reaksi : Dalam suasana basa, protein akan menjadi bermuatan negatif, lalu akan berkondensasi dengan Cu2+ dan O2 dari air yang menghasilkan warna ungu. 2. Tes Millon-Nasse Digunakan untuk deteksi gugus hidroksifenil yang ada diAsam amino Tyrosin. Positif ditunjukkan warna merah Protein + reagen merkuri sulphat (1%HgSO4 dalam 10% H2SO4) dipanaskan ada endapan didinginkan + NaNO2 dipanaskan positif warnanya merah Fungsi Reagen : HgSO4(sebagai donor Hg); H2SO4 memberi suasana asam agar Hg tidak mengendap Hg+ agar bisa NaNO2 mereduksi Hg2+ berikatan dengan gugus hidroksifenil menimbulkan warna merah. 3. Reaksi Hopkins Cole digunakan untuk deteksi cincin indol pada asam amino triptofan Reaksi positif ditunjukkan dengan adanya cincin ungu

Protein + formaldehid (memberikan warna ungu dengan kondensasi 2 inti indol) + HgSO4 (donor hg2+ yang akan mengikat cincin indol) + H2SO4 (suasana asam yang mereduksi Hg2+ Hg+) cincin ungu Prinsip: warna ungu dihasilkan dari kondensasi 2 inti indol dari triptofan dengan aldehid. 4. Reaksi Xanthoprotein Untuk menunjukkan adanya inti benzena dalam asam amino. Positif untuk asam amino yang mengandung inti benzene (triptofan & tirosin, histidin) Hasil positif dengan adanya warna kuning karena Kondensasi 2 inti benzene. Penambahan alkali akan mempertegas warna kuning orange Protein + HNO3 dipanaskan kuning karena terbentuknya senyawa nitro benzena salah satu tabung ditambah NaOH orange Tes ini tidak efektif untuk pemeriksaan urin karena hasil akhirnya = warna urin 5. Uji Sulfur Digunakan untuk mengetahui adanya sulfur didalam asam amino/protein Reaksi positif bila terbentuk warna hitam (dari PbS) pada asam amino Cystein, methionin, serta protein Cystein Protein + NaOH dipanaskan + Pb-asetat warna hitam Prinsip: protein ditambah NaOH dan dibantu panas untuk mengubah S-organic menjadi Sanorganic. S-anorganik akan berikatan dengan Pb PbS yang warnanya hitam 6. Reaksi Ninhidrin (Triketohidrindene Hidrat) Digunakan untuk deteksi gugus karboksil dan amin dari asam amino, sehingga akan positif untuk semua protein dan hasil hidrolisisnya Hasil positif warnanya biru-ungu Protein + ninhidrin/ triketonhidrindin dipanaskan biru Ninhidrin adalah Oksidator yang menyebabkan oksidasi dari asam amino alfa menghasilkan CO2, NH3 dan Hydrantin serta aldehid, hydrantin yang terbentuk akan bereaksi dengan nynhidrin yang masih ada dan NH3 sehingga membentuk kompleks warna biruungu 7. Pengendapan Oleh Garam Logam Prinsip: Penetralan muatan.

Protein + 1 tetes garam logam (CuSO4/ZnSO4) ada endapan CuSO4 dan ZnSO4 sebagai sumber ion logam bermuatan positif Protein dalam tubuh kebanyakan bermuatan negatif, kemudian akan dinetralkan dengan ion + dari logam berat sehingga menjadi tidak bermuatan dan kelarutannya akan berkurang mengendap. Namun pengendapan ini bersifat sementara karena penambahan garam berlebih menyebabkan protein bermuatan kembali sehingga akan larut lagi. 8. Pengendapan Dengan Reagen Alkaloid Prinsip: penetralan muatan Larutan protein + asam sulfosalisilat/reagen Escbach (As.pikrat dan H2SO4) atau ditambah K3Fe(CN)6 + CH3COOH ada endapan Reaksi : pada suasana asam protein menjadi bermuatan positif kemuadian akan terjadi Penetralan dengan ion negatif dari reagen alkaloid kelarutan protein berkuran mengendap Pengendapan ini juga bersifat temporer sehingga penambahan asam lebih lanjut akan melarutkan protein kembali. Alkaloid adalah senyawa amino alami yang biasa ditemui ditumbuhan contohnya : asam sulfosalisilat, xanthin, purinn, pirimidin, quinon, efedrin Ion negatif bisa didapat dari asam pikrat, asam sulfosalisilat, asam ferosianat, asam tungstat, asam tannat. 9. Pengendapan Oleh Garam Dan Alkohol Pekat Prinsip: penarikan air oleh garam ammonium sulfat dan alcohol pekat. Pengendapan protein berubah jadi fase padat reversible a. Protein + (NH4)2SO4 diaduk ada endapan + aquades endapan larut b. Alkohol + Serum darah ada endapan + aquades endapan larut Fungsi reagen : Ammonium sulfat dan alkohol Mengendapkan protein dengan cara menarik air dari gugus OH, -NH, -CO, NH2 Aquades Mengencerkan larutan Reaksi : Sifat alkohol dan garam sulfat yang menarik air sehingga protein tidak mengikat air lagi dan kemudian terbentuk endapan. Penambahan air akan menggantikan air yang terserap sehingga protein akan larut kembali

10. Endapan Albumin Globulin Prinsip: koagulasi protein terjadi Denaturasi protein irreversible a. Serum + asam sulfosalisilat (sebagai sumber ion negatif) ada endapan b. Serum + chlor fenol (indikator warna) pink +CH3COOH (memberi suasana asam dan koagulasi protein dengan bantuan panas) kuning dipanaskan koagulasi + NaOH (menetralkan asam asetat) pink, koagulasi tetap ada 11. Efek Asam Kuat Prinsip: Pengendapan protein karena denaturasi. Protein + HNO3 (asam kuat untuk mendenaturasi protein) endapan Protein + CH3COOH (denaturasi protein dengan bantuan panas) + inkubasi dalam air mendidih ada endapan lakukan tes Milllon Nasse (deteksi protein dengan gugus hidroksifnil) Merah Denaturasi menyebabkan kelarutan protein mengecil, sehingga mengendap. 12. Efek Formaldehide Pada Asam Amino a. Formaldehid (berikatan dengan asam amino, menghilangkan sifat basa pada asam amino) + PP(indikator warna, basa=pink, asam=bening) + NaOH (suasana basa) pink b. Asam amino + Pp + NaOH Pink a dan b Keduanya dicampur bening Bila kedua tabung dicampur maka warna menjadi bening, ini karena asam amino kehilangan sifat basanya, karena formaldehide terikat pada gugus amin membentuk derivat asam amino dimetilol (dimetil glisena), karena sekarang asam amino bersifat asam maka akan terjadi pentralan NaOH sehingga warna jadi bening. 13. Timbulnya Gas N2 Untuk deteksi adanya gugus amina, positif ditunjukkan dengan adanya gelembung gas Nitrogen Asam amino + Natrium HipoBromin (substitusi gugus amin pada asam amino dengan natrium) muncul gelembung gas N2 Natrium hipobromid mengakibatkan pelepasan gugus amin dari asam amino menjadi N2. Reaksi ini juga positif untuk ureum dan garam amonium

BSC TEORI PROTEIN Oleh Dita


Merupakan polimer dari asam amino. Fungsi protein secara umum: 1. Komponen struktural kolagen, keratin, elastin, proteoglikan 2. Biokatalis (enzim) 3. Hormon 4. Penyimpanan ferritin 5. Protektif -globulin, fibrinogen 6. Kontraktil aktin, myosin 7. Transport Hb, albumin serum Struktur Protein: 1. Struktur primer dibentuk oleh asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida antara gugus karboksil pada satu asam amino dengan gugus amino pada asam amino kedua. 2. Struktur sekunder terbentuk karena ikatan hidrogen yang terjadi antara asam amino yang berbeda pada polipeptida. Ada susunan -helix dan -sheet. terjadi dari lipatan 3. Struktur tersier

komponen struktur sekunder yang membentuk konfigurasi tiga dimensi, melalui interaksi gugus-gugus R asam amino.
4. Struktur kuartener protein atau polipeptida yang sudah memiliki struktur tersier dapat saling berinteraksi dan bergabung menjadi suatu multimer. Protein pembentuk multimer dinamakan subunit. Suatu multimer dinamakan dimer jika terdiri atas 2 subunit, trimer jika 3 subunit dan tetramer untuk 4 subunit. Multimer yang terbentuk dari subunit-subunit identik disebut dengan awalan homo, sedangkan jika subunitnya berbeda-beda dinamakan hetero. Misalnya hemoglobin yang terdiri atas 2 subunit alfa dan 2 subunit beta dinamakan heterotetramer. berubahnya / rusaknya Denaturasi protein struktur kuartener, tersier dan sekunder protein, tapi struktur primer tetap terjaga. sehingga kehilangan aktivitas biologisnya.

ASAM AMINO

Struktur: satu atom C yang mengikat empat gugus, yaitu gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hydrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Contoh asam amino berdasarkan perbedaan gugus R: Rantai alifatik glisin, alanin, valin, leusin, isoleusin Gugus hidroksil (OH) serin, treonin Atom sulfur cystein, metionin Gugus basa arginin, lisin, histidin Cincin aromatis fenilalanin, tirosin, triptofan

1. 2. 3. 4. 5.

6. Gugus amida (-CONH2)

asparagin, glutamine

Klasifikasi asam amino: 1. Asam amino essensial (asam amino yang harus ada dalam makanan, karena tubuh tidak dapat mensintesis sendiri) valin, leusin, isoleusin, lisin, triptofan, treonin, metionin, fenilalanin 2. Asam amino semi essensial (bisa disintesis oleh tubuh, namun jumlahnya tidak mencukupi) histidin dan arginin 3. Asam amino non essensial ( bisa disintesis oleh tubuh dalam jumlah banyak / cukup) glisin, alanin, asparagin, glutamine, prolin, serin, tirosin, asam glutamate, sistein, asam aspartat, sistin, hidroksiprolin, hidroksilisin Sifat asam amino: 1. Amfoter dapat bereaksi dengan asam maupun basa, sehingga dapat berperan sebagai buffer. Gugus amino (NH2) berfungsi sebagai basa (akseptor proton / H+), sedangkan gugus karboksil (COOH) berfungsi sebagai asam (donor proton / H+). Pada suasana asam : -NH2 + H+ (dari lingkungan asam) NH3+ Pada suasana basa : -COOH -COO- + H+ 2. Ion Zwitter memiliki ion positif (NH3+) sekaligus ion negative (COO-), sifatnya netral dan titik di sini disebut titik isoelektris.

3. Optis aktif dapat memutar bidang polarisasi cahaya (kecuali glisin) 4. Larut dalam cairan polar (air, alcohol) Tidak larut dalam cairan non polar (benzene, etana, eter) KORELASI KLINIS : KWASHIORKOR Malnutrisi karena defisiensi protein. Sign and symptoms : pedal edema (swelling of the feet), distended abdomen, hepatomegali dengan fatty infiltrates, thinning hair, loss of teeth, skin depigmentation dan dermatitis, irritabil, anorexia