Anda di halaman 1dari 20

SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI TPA PIYUNGAN,SITIMULYO, PIYUNGAN, BANTUL- DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Tugas Besar Mata Kuliah Prasarana Wilayah Dan Kota ( TPS 217 ) Program Studi Teknik Planologi

Diajukan Oleh :
WILHELMUS SARKOL YOHANES KURNIA IRAWAN : (610005011) : (610005018)

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA


2007

Halaman Pengesahan
Tugas Besar Mata Kuliah Prasarana Wilayah dan Kota (TPS 217 )

SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI TPA PIYUNGAN,SITIMULYO, PIYUNGAN, BANTUL- DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Yang dipersiapkan dan disusun oleh: Wilhelmus Sarkol Yohanes Kurnia Irawan Dosen pembimbing, Iwan Aminto Ardi, ST. NIK. 19730214 Dosen Pengampu, Drs. Achmad Wismoro, ST. MT :.................. NIP. 131 121 465 Tugas ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan untuk menempuh Ujian Pendadaran (Tugas Akhir) Strata 1 Program Studi Teknik Planologi Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta : ................. : (610005011) : (610005018)

Tanggal,

Desember 2007

Drs. Achmad Wismoro, ST. MT. NIP. 131 121 465

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Sampah menyebutkan adalah limbah istilah padat, umum yaitu yang bahan digunakan sisa baik untuk berupa

bahan-bahan yang sudah tidak digunakan lagi secara teoretik berjalan seiring dengan

atau bahankebudayaan

bahan yang sudah diambil unsur utamanya. Permasalahan sampah masyarakat. Semakin maju penguasaan teknologi dan industri dan semakin modern budaya, maka semakin banyak sampah yang diproduksi. Dengan demikian rasional bila volume produksi sampah di kota besar jauh lebih banyak dibanding kota kecil atau pedesaan. besar akan Namun bukan berarti bahwa masalah sampah imbasnya dari dalam kota wujud sebagai Hal tempat yang hanya akan dihadapi kota besar, karena daerah penyangga kota kena sampah penampungan besar. inilah

membuat permasalahan menjadi kian kompleks. Sampah ledakan orang. Barat. di Simak sudah tempat pula menjadi ancaman yang sangat (TPA) di potensial sampah di

bagi masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari beberapa bencana pembuangan konflik akhir Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, yang menelan korban ratusan masyarakat bukan sekitar lokasi masalah lagi, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bojong, Bogor, Jawa Masalah sampah sudah lagi sekadar kebersihan dan lingkungan saja, tetapi sudah menjadi masalah sosial yang mampu menimbulkan konflik. Lebih parah tidak memiliki sistem penanganan sampah yang baik. Hampir sampah klasik terbuka yang yang di semua sama, lokasi kota di Indonesia praktik memiliki Sebuah (open manajemen pengaturan secara dumping). kumpul-angkut-buang. menjadi sudah yang semua kota di Indonesia, baik kota besar atau kota kecil,

akhirnya

pembuangan

ditentukan

Praktik itu memiliki kelemahan dan berakibat fatal terhadap lingkungan atau manusia di sekitar lokasi pembuangan, seperti yang terjadi di Kota Yogyakarta. Belum lagi praktik

itu membutuhkan lahan yang luas, padahal penyediaan lahan menjadi kendala utama dalam penanganan sampah, seperti yang terjadi di TPA Piyungan,Bantul. Lambat laun masalah sampah tidak hanya harus dihadapi warga yang tinggal di sekitar lokasi langsung pembuangan kepada sampah, tetapi juga akan itu, berdampak pengelolaan warga perkotaan. Selain

sampah tidak lagi menjadi masalah satu kota saja, tetapi juga berkaitan dengan kota-kota lainnya.

I.2. Rumusan Masalah Jumlah sampah yang dihasilkan dan dibuang di negaranegara berkembang akhir-akhir ini mencapai jumlah kritis. Peningkatan permasalahan sampah di Indonesia khususnya di kota-kota penduduk, besar antara dari lain disebabkan ke oleh peningkatan perkotaan, migrasi perdesaan kawasan

meningkatnya globalisasi pola konsumsi yang kebarat-baratan dan menyebarnya produk-produk serta kemasan-kemasan sekali pakai-buang. Selain itu, kurangnya lahan/lokasi yang tepat sebagai TPA [Tempat Pembuangan Akhir], sistem pengelolaan TPA yang kurang tepat dan tidak ramah lingkungan juga menjadi penyebab rendahnya sistem penanganan sampah di kotakota besar. Selama ini, penanganan sampah di TPA (Tempat Pembuangan dumps). mengatasi negara Akhir) biasanya untuk pihak berupa timbunan terbuka baru (open serta banyak Dalam beralih upaya kepada menemukan swasta, solusi menerima

meningkatnya

masalah-masalah

pembuangan,

pendekatan-

pendekatan yang didorong oleh teknologi (technology-driven approaches).

I.3. Tujuan Dan Sasaran I.3.1. Tujuan Tujuan dari penulisan laporan ini adalah menjelaskan sistem rencana, pengelolaan program, persampahan dan pelaksanaan di TPA Piyungan yang untuk mendukung pencapaian sasaran pembangunan persampahan melalui kegiatan terpadu, efektif dan efisien. I.3.2. Sasaran Yang menjadi sasaran dalam penulisan rangka laporan ini adalah sebagai berikut : Mengurangi timbunan sampah dalam pengelolaan persampahan yang berkelanjutan; Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan sistem pengelolaan persampahan; Memberdayakan masyarakat dan meningkatkan peran aktif dunia usaha/swasta. I.4. Ruang Lingkup Pembahasan Dalam bagaimana laporan manajemen studi sistem ini akan dibahas di mengenai perkotaan persampahan

khususnya di TPA Piyungan,Bantul-D.I.Yogyakarta.

I.5. Kerangka Pikir

Latar Belakang Semakin maju penguasaan teknologi dan industri dan semakin modern budaya, maka semakin banyak sampah yang diproduksi.

Peningkatan volume sampah perkotaan akibat meningkatnya jumlah penduduk serta aktivitasnya.

Identifikasi sistem pengelolaan persampahan di TPA Piyungan

Identifikasi sistem pengelolaan persampahan di Perkotaan secara umum

Analisis sistem pengelolaan persampahan di TPA piyungan

Feedback

Alternatif Sistem Pengelolaan Sampah Di TPA Piyungan

1.6. Sistematika Penyusunan Laporan BAB I Pada rumusan PENDAHULUAN bab ini akan dibahas mengenai latar belakang, ruang permasalahan, tujuan dan sasaran studi,

lingkup materi maupun wilayah studi, kerangka pikir studi dan sistematika penyusunan laporan. BAB II Pada KAJIAN PUSTAKA bab ini akan dibahas teori-teori yang terkait

dengan masalah serta sistem-sistem pegelolaan sampah. BAB III Pada permasalahan di Tempat PEMBAHASAN bab ini akan di jabarkan Indonesia (TPA) secara pada deskriptif umumnya dan persampahan Pembuangan

secara khusus permasalahan penanganan dan pengelolaan sampah Akhir Piyungan-Bantul, D.I.Yogayakarta. BAB IV Pada bab-bab PENUTUP bab ini akan dan dijabarkan saran yang hasil bisa kesimpulan diberikan dari untuk sebelumnya

mengatasi permasahalan yang dibahas sebelumnya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II.1. Pengertian Persampahan


Berdasarkan Konsep Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Perkotaan yang dikeluarkan oleh Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Perdesaan, Direktort Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum tahun 1996, terdapat beberapa pengertian yang terkait dengan persampahan yaitu:

Sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat non organik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan Sampah lingkungan dan melindungi investasi pembangunan.

adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. (www.jala-sampah.or.id); Sampah perkotaan adalah sampah yang timbul di kota [tidak termasuk sampah yang berbahaya dan beracun]; Timbunan sampah adalah banyaknya sampah yang dihasilkan per orang per hari dalam satuan volume maupun berat; Pewadahan sampah adalah cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal; Pewadahan Pewadahan individual komunal adalah adalah cara cara penampungan penampungan sampah sampah sementara di masing-masing sumbernya; sementara secara bersama-sama pada suatu tempat; Pengumpulan sampah adalah proses penanganan sampah dengan cara pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke TPS atau langsung ke TPA tanpa melalui proses pemindahan; Pola pengumpulan individual langsung adalah cara

pengumpulan sampah dari rumah-rumah atau sumber sampah dan diangkut langsung ke TPA tanpa melalui proses pemindahan; Pola pengumpulan individual tidak langsung adalah cara mengumpulkan sampah dari masing-masing sumber sampah dibawah ke lokasi pemindahan [menggunakan gerobak] untuk kemudian diangkut ke TPA; Pola pengumpulan komunal langsung adalah cara pengumpulan sampah Pola dari masing-masing komunal dari titik tidak wadah langsung komunal adalah dan cara diangkut langsung ke TPA; pengumpulan sampah pengumpulan masing-masing titik pewadahan

komunal dibawa ke lokasi pemindahan [menggunakan gerobak] untuk kemudian diangkut ke TPA; Pemindahan sampah adalah tahap memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke TPA; Pengangkutan ke TPA; Pengolahan volume bermanfaat pengomposan, sampah antara adalah atau lain suatu merubah upaya untuk cara mengurangi yang dan pembakaran, sampah bentuk menjadi sampah adalah tahap membawa sampah dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber sampah menuju

dengan

pemadatan,

penghancuran,

pengeringan

pendaurulangan;

Pengomposan [composting] adalah sistem pengolahan sampah organik dengan bantuan mikroorganisme sehingga terbentuk pupuk organis [pupuk kompos];

Pembakaran terjadi

sampah

adalah

salah

satu

teknik

pengolahan padat

sampah dengan membakar sampah secara terkendali sehingga perubahan bentuk/reduksi dari sampah menjadi abu, gas dan cairan; Pemadatan adalah upaya mengurangi volume sampah dengan cara dipadatkan baik secara manual maupun mekanis

sehingga pengangkutan ke TPA lebih efisien; Daur ulang adalah Pembuangan akhir proses pengolahan sampah adalah sampah yang dapat tempat untuk menghasilkan produk yang bermanfaat lagi; mengkarangtinakan [menyingkirkan] sampah sehingga aman.

II.2. Jenis Sampah Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2, yaitu sampah organik berasal dapur, kering, (biasa dari dll. seperti disebut makhluk Sampah secara kertas, sebagai hidup, jenis alami. sampah basah) dan sampah sampah sampah anorganik (sampah kering). Sampah basah adalah sampah yang seperti ini daun-daunan, dapat dengan dan terdegradasi lain-lain.

(membusuk/hancur)

Sebaliknya kaleng,

plastik,

Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami. Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Selain alat-alat berbahaya, sampah itu, terdapat jenis sampah atau limbah dari

pemeliharaan seperti

kesehatan.

Beberapa yang

diantaranya oleh

sangat mahal biaya penanganannya karena berupa bahan kimia obat-obatan, menular dihasilkan fasilitas-fasilitas kesehatan. Namun demikian tidak semua medis berpotensi dan berbahaya. Sejumlah sampah yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas medis hampir serupa dengan sampah domestik atau sampah kota pada umumnya. Sementara terlalu medis, sampah banyak tetapi hasil proses industri sampah sampah biasanya domestik yang tidak atau variasinya kebanyakan seperti merupakan

berbahaya

secara kimia.

BAB III SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN di TPA PIYUNGAN

Di Indonesia, sistem pengelolaan yang paling sering digunakan adalah sistem open dumping, namun dengan sistem ini sebenarnya dibiarkan sampah tidak dimusnahkan bahan sederhana, secara langsung, Metode namun membusuk murah, menjadi organik.

penumpukan

bersifat

tetapi

menimbulkan

resiko karena berjangkitnya penyakit menular, menyebabkan pencemaran, terutama bau, kotoran dan sumber penyakit. Oleh karena itu, sistem yang disarankan dan yang lebih ramah lingkungan adalah sistem sanitary landfill. Sistem ini dapat dilengkapi dengan sarana pengomposan dan pemanfaatan sampah menjadi bahan baku daur ulang. Sisa sampah yang tidak dapat didaur ulang ataupun dibuat menjadi kompos kemudian dibakar dan disimpan dalam kolam sanitary landfill. Proses ini dapat dinamakan Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST). Proses daur ulang, produksi kompos pada dan pembakaran sanitary tersebut landfill bertujuan untuk memperkecil volume sampah yang dihasilkan, sehingga dapat pembuangan dan sampah kolam diperkecil akhirnya dapat menghemat penggunaan

lahan TPA [Arianto Wibowo & Darwin T. Djajawinata, disadur dari www.google.com]. Menurut Prof. Dr. Jana T. Anggadiredja, MS [www.bipnewsroom.info] untuk memecahkan permasalahan sampah di daerah perkotaan sistem pengelolaan yang paling tepat untuk diterapkan adalah Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu. Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu tersebut setidaknya mengkombinasikan pendekatan pengurangan sumber sampah, daur ulang & guna ulang, pengkomposan, insinerasi dan pembuangan akhir serta (landfilling). packing produk pengurangan yang sumber minim sampah serta untuk ramah industri berarti perlunya teknologi proses yang nirlimbah ringkas/

lingkungan. Sedangkan bagi rumah tangga berarti menanamkan kebiasaan untuk tidak boros dalam penggunaan keseharian. Untuk pendekatan daur ulang barang-barang guna ulang dan

diterapkan khususnya pada sampah non organik seperti kertas, plastik, alumunium, gelas, logam dan lain-lain. Sementara untuk sampah organik Secara diolah, salah satunya daur dengan ulang pengkomposan. teoritis apabila program

sampah dengan sistem terpadu dapat dilakukan, maka sampah yang tersisa hanya tinggal 15 20% saja, sehingga akan mengurangi rotasi transportasi sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan umur TPA akan semakin panjang. Hal sampah lain yang perlu diperhatikan dalam penanganan beberapa perkotaan adalah aspek kelembagaan. Pada

kota umumnya pengelolaan persampahan dilakukan oleh dinas kebersihan kota. Umumnya dinas kebersihan selain berfungsi sebagai pengelola persampahan kota, juga berfungsi sebagai pengatur [membuat peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan oleh operator pengelola persampahan], pengawas [mengawasi pelaksanaan peraturan-peraturan yang telah dibuat dan memberikan sanksi kepada operator bila dalam pelaksanaan tugasnya tidak mencapai kinerja yang telah ditetapkan] dan pembina pengelola [melakukan pihak peningkatan umumnya kemampuan berperan dari dalam operator]. Sedangkan swasta

mengelola sampah yang telah dibuang ke TPA. Sedangkan dari unsur masyarakat, pada umumnya kontribusi masyarakat hanya pada sektor pengumpulan sampah di sumber sampah, padahal penanganan sampah ini juga memerlukan kepedulian dari masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan swadaya pengelolaan sampah berbasis peran serta masyarakat. Untuk menerapkan Reduce paradigma tersebut, sebisa perlu disosialisasikan minimalisasi Prinsip-Prinsip Produksi Bersih yaitu Prinsip 4 R: (Mengurangi); mungkin lakukan barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak

kita Reuse

menggunakan (Memakai

material,

semakin

banyak

sampah

yang

dihasilkan. kembali); sebisa mungkin pilihlah barangbarang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barangbarang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang sampah. Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, dan namun saat ini sudah tangga banyak yang industri non-formal industri rumah waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi

memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai seharihari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai Misalnya, barang-barang ganti kantong yang keresek lebih kita ramah dnegan lingkungan,

keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami. [Bapedalda Prop.D I Yogyakarta,Mengelola sampah,mengelola gaya hidup, 2006]. III.1. Lokasi TPA Piyungan, Bantul Lokasi TPA piyungan terdapat di dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Istimewa Kecamatan Piyungan, Lokasi seluas Kabupaten Bantul, di ini Daerah sebelah mulai Yogyakarta. TPA tersebut + 12 terletak hektar

tenggara dari pusat kota Yogyakarta + 13 km dari akses Jalan Yogya-Wonosari. dioperasionalkan sejak tahun 1996 dan akan digunakan untuk 15 tahun dan dikelola oleh Dinas Kebersihan, Keindahan dan Pemakaman (DKP) Yogyakarta. Lahan untuk TPA tersebut dibeli dari perorangan terletak di dengan sistem ganti yang rugi. Lahan dan TPA ini lapisan lereng pegunungan gersang

tanahnya mengandung gamping.

Gambar 3.1. Lokasi TPA Piyungan

Sumber: Survei Primer,2007

III.2. Manajemen pengolahan persampahan di TPA Piyungan


TPA Piyungan adalah TPA pertama Kotamadya yang menggunakan Yogyakarta. dan sistem Daerah controlled perkotaan landfill tersebut untuk meliputi daerah perkotaan

Yogyakarta

Kabupaten

Sleman bagian srlatan dan Kabupaten Bantul bagian utara yang masuk wilayah perkotaan.

Penimbunan sampah dilakukan dengan metode sanitary landfill, yaitu : Setelah timbunan sampah mencapai 2 - 3 meter, sampah diratakan dengan alat berat. Sampah ditimbun dengan tanah setebal kurang lebih 5 meter dan disiapkan untuk ditimbun dengan timbunan sampah berikutnya.

organik

Kemiringan timbunan sampah maksimal 20 300 cm. Sampah dipadatkan dengan alat berat 3 - 4 kali. di TPA, disediakan sistem ventilasi gas. Di dalam

Untuk pembuangan gas yang terbentuk dari degradasi bahan ventilasi tersebut dipasang pipa PVC berlubang ( diameter 100 mm ) untuk menampung gas yang diproduksi di dalam TPA. Gas tersebut keluar melalui ventilasi gas dan dibuang ke udara. ( Sumber:"

Manual

Operasional

TPA

Piyungan

Yogyakarta",

Dinas

Pekerjaan UmumPropinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,2003)


Gambar 3.2. Mekanisme Penanganan Sampah

Sumber: Bapedalda.DIY

III.3. Sistem - sistem Pemusnahan dan Pengolahan Sampah Beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat dilakukan secara sederhana sebagai berikut:

Penumpukan
Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara bahan langsung, organik. namun Metode dibiarkan penumpukan menimbulkan membusuk bersifat resiko menjadi murah, karena

sederhana,

tetapi

berjangkitnya

penyakit

menular,

menyebabkan

pencemaran, terutama bau, kotoran dan sumber penyakit.

Pengkomposan.
Cara pengkomposan merupakan cara sederhana dan dapat menghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi.

Pembakaran
Metode dapat ini dapat dilakukan hanya untuk sampah jauh yang dari dibakar habis. Harus diusahakan

permukiman untuk menghindari pencemaran asap, bau dan kebakaran.

Sanitary Landfill
Metode cekungan tanah, ini namun hampir telah cara ini sama dengan pemupukan, sampah areal tetapi ditutupi yang yang penuh terisi

memerlukan

khusus

sangat luas.

Reusable Sanitary Landfill (RSL)


RSL adalah sebuah sistem pengolahan sampah yang berkesinambungan Ruang Penampungan emisi mengontrol dengan Sampah liquid menggunakan Padat. atau RSL air metode rembesan Supply bisa sampai diyakini

sehingga tidak mencemari air tanah. Sistem ini mampu mengontrol emisi gas metan, karbondioksida atau gas berbahaya lainnya akibat proses pemadatan sampah. RSL juga bisa mengontrol populasi lalat di sekitar TPA, sehingga mencegah penyebaran bibit penyakit. Cara kerjanya RSL adalah sampah ditumpuk dalam satu lahan. Lahan tempat sampah tersebut sebelumnya digali dan tanah liatnya dipadatkan. Lahan ini disebut ground liner. Setelah tanah liat dipadatkan, tanah kemudian dilapisi dengan geo membran, lapisan mirip

plastik terbuat

berwarna dari

yang

dengan

ketebalan Polyitilin,

2,5

mm yang satu

High

Density

salah

senyawa minyak bumi. Lapisan inilah yang nantinya akan menahan air lindi (air kotor yang berbau yang berasal dari tanah sampah), dan sehingga tidak akan meresap ke dalam air mencemari air tanah. Secara berkala

lindi ini dikeringkan. Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang pengelolaan ke tempat pembuangan akhir. Pada prinsipnya sampah haruslah dilakukan sedekat

mungkin dengan sumbernya. Menurut data dari Dian Desa, Saat ini ada sekitar 450 TPA di seluruh Indonesia dengan tiga model pengelolaan, 387 dengan model (CL) Open dan CL Dumping enam (OD), 57 bermodel Controlled (SL). yaitu Landfill lahan dengan bermodel Sanitary Landfill OD,

Dalam OD, sampah diratakan dan dibiarkan begitu saja pada kosong. merupakan fasilitas peningkatan pendukung metode dan memberikan usaha-usaha menutup dengan dasar

perlindungan cara

lingkungan. yang

Dibutuhkan yaitu

tanah

untuk TPA pada

sampah yang dilakukan seminggu dua kali. Sedangkan SL adalah pembuangan dengan sehat, yang melengkapi Pencemaran kedap air fasilitas dengan pendukung memadai. lapisan dikurangi

memberikan

landfill, sistem pengumpul dan pengolah leachate, ventilasi gas dan tanah ditutup secara harian. Untuk kota-kota besar yang menerapkan TPA dengan SL, memakai cara insenerasi atau pembakaran, sehingga dibutuhkan bahan bakar tambahan.

BAB IV PENUTUP

IV.1. KESIMPULAN Untuk Jogjakarta, kota harus menangani maka permasalahan menyeluruh dan sampah perlu di Kota

secara

dilakukan program

alternatif-alternatif pengelolaan. Secara serius pemerintah membangun komitmen konsistensi pengelolaan sampah. Selama ini pengelolaan persampahan, terutama di kota Jogjakarta, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sampah bersifat terpusat. Misalnya saja, seluruh sampah bentuk dari perda kota yang Jogjakarta sekarang ada harus pun dibuang masih di Tempat pada Pembuangan Akhir di daerah Piyungan Bantul. Regulasi dalam mengarah retribusi dan pembuangan . Dapat dibayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini. Belum lagi, sampah yang dibuang kering. Regulasi pengelolaan sampah secara terpusat mengarah pada sistem buang angkut dan berakhir di tempat pembuangan akhir sampah. (TPA) Pada harus dirubah kearah meminimalisir sampah buangan haruslah prinsipnya pengelolaan masih tercampur antara sampah basah dan sampah

dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya dengan membangun alternatif-alternatif yang bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat atau ke alam.

IV.2. REKOMENDASI Untuk mencapai hal tersebut, asumsi membuang dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip prinsip baru sbb : Sampah bagian yang dapat dibuang harus dipilah, atau sehingga tiap

dikomposkan

didaur-ulang

secara

optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan yang tercampur seperti yang ada saat ini. Pemerintah Kota harus mau mendesak industri-industri yang memasarkan produknya ke wilayah Kota Jogjakarta agar mendesain ulang produk-produk berdasarkan prinsip reduce, reuse, recyle replace serta mensosialisasikan kepada ini konsumennya untuk sampah prinsip semua yang memilah dan sampah alur untuk sampah. dan memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip berlaku jenis Pembuangan tercampur merusak

mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Program pengelolaan sampah di Kota Jogjakarta harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Program pengelolaan di sampah seharusnya mengingat tidak begitu saja mengikuti pola program yang telah berhasil dilakukan negara-negara informal maju, di perbedaan tukang kondisiatau kondisi fisik, ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor Jogjakarta sampah pemulung merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sampah yang ada saat ini, dan peningkatan kinerja mereka harus menjadi komponen utama dalam sistem penanganan sampah.