Anda di halaman 1dari 17

SETTING TIME GIPSUM TIPE II BERDASARKAN W : P RATIO

1. TUJUAN Setelah praktikum mahasiswa mampu : 1. Melakukan manipulasi gipsum plaster dengan tepat 2. Mengukur initial setting time dengan tepat berdasarkan variasi perubahan rasio w : p 3. Mengukur final setting time dengan tepat berdasarkan variasi perubahan rasio w : p

2. CARA KERJA 2.1 Bahan 1. Gipsum plaster 2. Air PAM

2.2 Alat 1. Mangkuk karet (bowl) 2. Spatula 3. Gelas ukur 4. Timbangan digital 5. Cetakan bentuk cincin 6. Vibrator 7. Jarum Gillmore 8. Termometer

2.3 Cara Kerja 2.3.1 Pencampuran gipsum 1. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan

Gambar 2.1 Alat yang digunakan untuk mengukur setting time gipsum 2. Air PAM diukur sebanyak 30 ml dan bubuk gipsum plaster ditimbang sebanyak 50 gram

Gambar 2.2 Bubuk gipsum dan air PAM telah diukur 3. Air yang telah diukur dimasukkan ke dalam bowl, kemudian bubuk gipsum plaster dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam bowl dan dibiarkan mengendap selama 30 detik agar semua bubuk gipsum terbasahi oleh air.

Gambar 2.3 Mencampur bubuk gipsum dan air PAM 4. Stopwatch dihidupkan untuk menghitung setting time pada saat mulai pencampuran antara gipsum dan air

5. Gipsum dan air diaduk hingga homogen menggunakan spatula dengan gerakan memutar selama 1 menit / 120 putaran, bersamaan dengan itu, bowl diputar secara perlahan-lahan. Kemudian adonan di dalam bowl

diletakkan di atas vibrator selama 30 detik untuk menghilangkan gelembung udara dalam adonan

Gambar 2.4 Pengadukan adonan gipsum dengan spatula (kiri) dan meletakkan adonan di atas vibrator (kanan) 6. Adonan gipsum dituangkan ke dalam cetakan cincin diatas vibrator untuk menghilangkan gelembung udara yang terjebak, kemudian meratakan permukaan cetakan

Gambar 2.5 Meletakkan adonan gipsum ke dalam cetakan di atas vibrator

2.3.2

Pengukuran pengerasan awal (initial setting) 1. Stopwatch masih dalam keadaan menyala, kemudian cetakan yang berisi adonan gipsum diletakkan di bawah jarum Gillmore dengan berat beban pound dengan penampang jarum 1/12 inch

Gambar 2.6 Meletakkan adonan gipsum di bawah jarum Gillmore 2. Permukaan adonan gipsum ditusuk pada bagian tepi dan tengah dengan gerakan cepat dan jarum diangkat kembali, ujung jarum dibersihkan dengan tissue

Gambar 2.7 Penusukan adonan gipsum dengan jarum Gillmore 3. Penusukan adonan diulang setiap renggang waktu 30 detik sambil cetakan digerakkan memutar untuk mendapatkan daerah tusukan yang berbeda hingga jarum tidak dapat menusuk perukaan adonan gipsum atau tidak didapatkan lagi bekas tusukan jarum pada adonan

2.3.3

Pengukuran pengerasan akhir (final setting) 1. Setelah jarum Gillmore ukuran 1/12 inch tidak dapat menusuk permukaan adonan gipsum lagi, maka cetakan gipsum dipindahkan ke bawah jarum berukuran 1/24 inch dengan beban 1 pound

2. Permukaan adonan gipsum ditusuk dengan ujung jarum seperti pada pengukuran initial setting hingga jarum tidak dapat lagi menusuk permukaan adonan gipsum. Pada saat itu stopwatch dimatikan dan waktu dicatat.

Gambar 2.8 Hasil cetakan gipsum plaster

3. HASIL PRAKTIKUM Kondisi : a. Pada saat praktikum , suhu ruangan 26,6 C b. Pada saat praktikum , suhu air yang digunakan 29,1 C

Tabel 3.1 Hasil Praktikum kelompok A3b Percobaan Perbandingan ke W/P Jumlah
putaran

Initial setting Tepi 14 Tengah

Final setting Tepi 28 menit 30 detik Tengah

Waktu Setting

/menit Mixing Time

30ml/50gr = 1 0,6

130
putaran

/menit

2 menit

menit 30 detik

14 menit

28 menit

28 menit 30 detik

130 2 30ml/40gr = 0,75


putaran

25 2 menit menit 15 detik

24 menit 45 detik 30 menit

36 menit 45 detik 36 menit

37 menit 45 detik 36 menit

37 menit 45 detik 36 menit

/menit

35ml/50gr = 0,7

128
putaran

2 menit

29 menit

/menit

30 detik

30 detik

30 detik

Dalam percobaan ini, kami melakukan percobaan sebanyak tiga kali dengan perlakuan yang berbeda. Pada percobaan pertama kami mencampur gipsum dan air dengan rasio 50 : 30 dan mengaduknya sebanyak 130 putaran dalam satu menit. Waktu yang digunakan untuk mengendapkan gipsum dalam air, mencampur, dan meletakkannya di atas vibrator (mixing time) adalah 2 menit dan diperoleh initial setting 14 menit 30 detik pada tepi, 14 menit pada tengah adonan gipsum, final settingnya selama 28 menit 30 detik di tepi dan di tengah adonan selama 28 menit. Pada percobaan kedua, rasio bubuk dan air 40 : 30 dengan putaran yang sama menghasilkan initial setting 25 menit 15 detik pada tepi, 24 menit 45 detik pada tengah adonan gipsum, final setting nya selama 36 menit 45 detik di tepi dan di tengah adonan selama 37 menit 45 detik. Begitu pula pada percobaan ketiga yang rasio antara bubuk dan air 50 : 35 dengan 128 putaran per menit memperoleh hasil initial setting 29 menit 30 detik pada tepi, 30 menit pada tengah adonan gipsum, final settingnya selama 36 menit di tepid an di tengah adonan selama 36 menit 30 detik.

Tabel 3.2 Hasil Praktikum kelompok A3a Percobaan Perbandingan ke W/P Jumlah
putaran

Initial setting Tepi 18 Tengah 18 menit 10 detik 18 menit 30

Final setting Tepi 26 menit 40 detik 25 menit Tengah 28 menit 10 detik 24 menit

Waktu Setting

/menit Mixing Time

28 menit10 detik

30ml/50gr

120

2 menit

menit 10 detik

30ml/40gr

140

2 menit

19 menit 30

25 menit

detik 19 3 35ml/50gr 128 2 menit menit 30 detik

detik 24 19 menit 26 menit menit 30 detik 26 menit

Dalam percobaan ini, kami melakukan percobaan sebanyak tiga kali dengan perlakuan yang berbeda. Pada percobaan pertama kami mencampur gipsum dan air dengan rasio 50 : 30 dan mengaduknya sebanyak 120 putaran dalam satu menit. Waktu yang digunakan untuk mengendapkan gipsum dalam air, mencampur, dan meletakkannya di atas vibrator (mixing time) adalah 2 menit dan diperoleh initial setting 18 menit 10 detik pada tepi dan tengah adonan gipsum, final settingnya selama 26 menit 40 detik di tepi dan di tengah adonan selama 28 menit 10 detik. Pada percobaan kedua, rasio bubuk dan air 40 : 30 dengan pengadukan 140 putaran permenit dan menghasilkan initial setting 19 menit 30 detik pada tepi, 18 menit 30 detik pada tengah adonan gipsum, final setting nya selama 25 menit di tepi dan di tengah adonan selama 24 menit. Begitu pula pada percobaan ketiga yang rasio antara bubuk dan air 50 : 35 dengan 128 putaran per menit memperoleh hasil initial setting 19 menit 30 detik pada tepi, 19 menit pada tengah adonan gipsum, final settingnya selama 26 menit di tepi dan di tengah adonan selama 24 menit 30 detik. Sehingga waktu setting gipsum percobaan selama 28 menit 10 detik untuk percobaan pertama, 25 menit untuk percobaan kedua, dan 26 menit untuk percobaan ketiga.

*) mixing time

= pengendapan + pengadukan + vibrator = 30 + 60 + 30 = 120 detik = 2 menit


7

4. PEMBAHASAN Gipsum dihasilkan oleh alam dengan bentuk bubuk mineral berwarna putih kekuningan dengan nama kimia kalsium sulfat dihidrat (CaSo4.2H2O). Selain dihasilkan oleh alam, gipsum bisa dibuat dengan proses kimiawi (Anusavice, 2003). Mineral gipsum mempunyai kepentingan komersial sebagai sumber dari plaster of paris. Kata plaster of paris diberikan karena didapat dengan cara membakar gipsum dari tambang dekat Paris, Perancis (Powers, 2006). Gipsum mungkin saja merupakan produk yang lebih baik dari material lainnya dalam bidang kedokteran gigi. Dental plaster, stone, highstrength/high-expansion stone, dan casting investment merupakan kelompok gipsum. Dengan sedikit modifikasi, gipsum diapat digunakan untuk beberapa tujuan yang berbeda. Contohnya, impression plaster digunakan untuk membuat cetakan dari rongga mulut, sedangkan dental stone digunakan untuk membuat die yang menduplikasi anatomi oral ketika dituangkan ke berbagai tipe cetakan. Gipsum juga dapat digunakan sebagai pengikat untuk silikat dalam gold alloy casting investment, soldering investment, dan investment untuk alloy nikel-kromium dengan titik lebur rendah. Produk ini juga digunakan dalam proses pembuatan complete denture. Alasan utama untuk penggunaan gipsum pada berbagai macam keperluan itu adalah sifat material gipsum yang mudah dimodifikasi secara fisis dan kimiawi (Powers, 2006). Banyak restorasi dan keperluan dental yang dibuat di luar mulut pasien menggunakan model dan die yang harus merupakan replika yang akurat dari jaringan keras dan lunak pasien. Kata model biasanya digunakan untuk replika dari beberapa gigi dan berhubungan dengan jaringan lunak atau lengkungan. Kata die biasanya digunakan untuk replika dari satu gigi (McCabe, 2008). Morfologi dari jaringan keras dan lunak diduplikasi oleh cetakan dan model dan die yang disipakan menggunakan material yang fluid secara

inisial, bisa dituangkan ke cetakan, dan mengeras untuk membentuk replika rigid. Banyak material yang telah digunakan untuk menghasilkan model dan die. Namun, gipsum merupakan material yang paling sering digunakan. Standar ISO untuk produk gipsum kedokteran gigi yang terbaru mengidentifikasikan adanya lima tipe material sebagai berikut (McCabe, 2008) : 1. Tipe 1 : Dental plaster, impression 2. Tipe 2 : Dental plaster, model 3. Tipe 3 : Dental stone, die, model 4. Tipe 4 : Dental stone, die, high strength, low expansion 5. Tipe 5 : Dental stone, die, high strength, high expansion Tabel 4.1 Karakteristik Gipsum Lima Tipe
2-Hr Setting Expansion Tipe I (Plaster Impression) II( Plaster model) III( dental stone) IV (Dental stone , high strengths V (Dental Stone , high strength, high expansion) W/P Ratio o.40-0.75 0.45-0.50 0.28-0.30 0.22-0.24 Setting time (min) 4 +- 1 12 +- 4 12 +- 4 12 +- 4 min 0 0 0 0 Max 0.15 0.30 0.20 0.10 1-Hr Compressive Strength (Mpa) (psi) 4 3 20.7 34.5 580 1300 3000 5000

0.18-0.22

12 +- 4

0.10

0.30

48.3

7000

Beberapa tipe dari dental plaster dihasilkan dan dimodifikasi untuk memenuhi beberapa syarat sifat yang penting dan digunakan untuk membentuk mold dan cast dimana prostesa gigi dan restorasi dibuat. Ketika plaster dicampur dengan filler, seperti bentuk lain dari silika, disebut sebagai gypsum dental investment. Campuran dari plaster of paris dan air ditempatkan di sendok cetak dan ditekan ke jaringan. Plaster kemudian akan mengeras atau set dan kemudian dihasilkan cetakan. Dokter gigi kemudian akan mempunyai bentuk negatif dari jaringan yang didapat dari penekanan sendok cetak berisi adonan yang ditekankan ke rongga mulut.

4.1 Komposisi Gipsum Plaster Gipsum yang digunakan di kedokteran gigi dibentuk dengan cara menghilang air kristalisasi gipsum untuk membentuk kalsium sulfat hemihidrat. Gipsum Produk gipsum + air 2CaSO4.2H2O (CaSO4)2.H2O +3H2O Kalsium sulfat Dihidrat Kalsium sulfat hemihidrat

Aplikasi dari produk gipsum dalam kedokteran gigi terjadi kebalikan dari reaksi di atas. Hemihidrat dicampur dengan air dan bereaksi membentuk dihidrat. (CsSO4) H2O + 3H2O 2CaSO4 + 2H2O2 Gipsum plaster dibentuk dari calcining calcium sulfate dihydrate dengan memanaskan ketel terbuka pada suhu 110o-120o C. Reaksi yang terbentuk adalah sebagai berikut:
110o-120oC 130o-200oC 200o-1000oC

CaSO4.2H2O---------- CaSO4.1/2H2O--------CaSO2---------- CaSO4


Gipsum Plaster atau Stone Hexagonalanhydrite Orthombicanhydrite

Semakin tinggi suhu temperatur maka sisa air yang berasal dari kristalisasi akan berkurang, dan produk terbentuk sesuai dengan indikasi.Produk hemihidrat yang terbentuk berbeda-beda tergantung dari metode kalsinasi, yaitu -hemihidrat, -modified hemihidrat, dan -hemihidrat. Perbedaan antara - dan -hemihidrat ada pada luas permukaan, ukuran kristal, dan derajat lattice perfection. Bentuk -hemihidrat yang dikenal dengan sebutan dental plaster terdiri dari partikel kristal ortorthorombic yang besar dan tak teratur dengan pori kapiler. Perbedaan utama terletak pada jumlah air yang dibutuhkan untuk mixing. -hemihidrat membutuhkan air lebih banyak karena bentuk kristalnya yang besar dan porus (Anusavice, 2003).

10

4.2 Reaksi Kimia Reaksi kimia yang terkadi selama setting gipsum menentukan kuantitas air H2O yang dibutuhkan untuk reaksi. Reaksi dari 1 g mol plaster dengan 1,5 g mol airmenghasilkan 1 g mol material gipsum. Dengan kata lain, 145 g plaster membutuhkan 27 g air untuk bereaksi dan membentuk 172 g gipsum atau 100 g plaster membutuhkan 18,6 g air untuk membentuk 118 g kalsum sulfat dihidrat. Bagaimanapun juga, model plaster tidak dapat dicampur dengan jumlah air yang sedikit dan masih mengembangkan massa yang sesuai untuk manipulasi. Ketika model plaster dicampur dengan air yang lebih sedikit, massa adonan akan lebih tebal, lebih susah untuk diatur, dan mudah menjebak gelembung udara ketika dituangkan ke mold, tetapi set gipsum lebih kuat. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan pengukuran takaran air untuk membuat adonan agar mendapatkan manipulasi dan kualitas yang lebih baik. 4.2.1 Rasio W : P

Jumlah air dan hemihidrat harus diukur dengan akurat. Perbandingan air dengan bubuk hemihidrat biasanya disebut sebagai w : p ratio, atau hasil bagi didapat ketika berat (atau volume) air dibagi dengan berat bubuk. Rasio biasanya disingkat menjadi W/P. Sebagai contoh, apabila 100 gr bubuk plaster diampur dengan 60 ml air, rasio W/P adalah 0,6 (Anusavice, 2003).

4.2.2

Mekanisme setting

Teori yang paling penting dan banyak dikenal untuk mekanisme seting adalah teori crystalline. Teori ini dibuat pada tahun 1887 oleh Henry Louis Le Chatelier, seorang ahli kimia Prancis. Teori ini didukung oleh Jacobus Hendricus vant Hoff. Menurut penjelasan vant Hoff, setting reaksi dari air dan kalsium sulfat hemihidrat untuk membentuk kalsium sulfat dihidrat disebabkan karena perbedaan kelarutan antara dua komponen ini. Kalsium sulfat dihidrat lebih tidak mudah larut daripada bentuk hemihidrat. Ketika

11

hemihidrat larut dalam air, dihidrat yang memiliki kelarutan lebih rendah, kemudian menjadi jenuh dan mengendap. Bonding antara kristal yang saling kontak menghasilkan struktur final yang kohesif (Powers, 2006). 4.2.3 Kontraksi volumetris

Secara teori, kalsium sulfat hemihidrat harus kontraksi secara volumetris selama proses setting. Bagaimanapun juga, beberapa eksperimen menemukan bahwa semua produk gipsum ekspansi secara linear selama setting. Menurut teori Le Chatelier dan vant Hoff, ekspansi dihasilkan dari aksi dorongan kristal gipsum, selama pertumbuhannya dari solusi jenuh. Kenyataan dimana kontraksi gipsum tidak dapat dilihat tidak menyangkal keberadaannya dan ketika kontraksi volumetris diukur dengan dilatometer, ditentukan sekitar 7% besar kontraksinya. Karena ekspansi linear dari dimensi luar, yang disebabkan oleh pertumbuhan kalsium sulfat dihidrat, dengan kontraksi volumetris dari kalsium sulfat dihidrat, material ini porus ketika set (Powers, 2006).

4.2.4

Efek Spatulasi

Proses pengadukan yang disebut spatulasi memiliki efek pasti pada setting time dan setting expansion material. Peningkatan jumlah spatulasi (baik kecepatan waktu spatulasi atau keduanya) memperpendek waktu setting. Ketika bubuk ditempatkan di air, reaksi kimia dimulai, dan beberapa kalsium sulfat dihidrat terbentuk. Selama spatulasi, kalsium sulfat dihidrat yang baru terbentuk pecah menjadi kristal yang lebih kecil dan memulai nukleasi yang baru, karena kalsium sulfat dihidrat dapat diendapkan. Karena peningkatan jumlah spatulasi menyebabkan nuklei tengah terbentuk, konversi kalsium sulfat hemihidrat menjadi dihidrat semakin cepat.

4.2.5

Efek temperatur

Temperatur air yang digunakan untuk pengadukan, seperti temperatur pada lingkungan, mempunyai dampak pada setting reaction gipsum. Setting time mungking lebih terpengaruhi oleh perubahan temperatur daripada oleh

12

sifat fisis lainnya. Temperatur memiliki dua dampak utama pada setting reaction gipsum. Efek pertama dari peningkatan temperatur ada perubahan pada kelarutan relatif kalsium sulfat hemihidrat dan kalsium sulfat dihidrat yang mengubah tingkat laju reaksi. Semakin rendah kelarutan, setting time semakin meningkat. Efek kedua adalah perubahan pergerakan ion dengan temperatur. Secara umum, temperatur meningkat, mobilitas ion kalsium dan sulfat meningkat, yang cenderung meningkatkan tingkat reaksi dan memperpendek setting time.

4.2.6

Efek Humiditas

Ketika humiditas relatif meningkat menjadi 70% ke atas, kelembaban pada udara dapat menyebabkan konversi dari hemihidrat menjadi dihidrat. Karena kristal dihidrat dapat mempercepat reaksi dengan menyediakan lebih banyak nuklei untuk kristalisasi, hasil inisialnya adalah percepatan setting. Bagaimanapun juga, kontaminasi yang lebih jauh oleh kelembaban dapat mengurangi jumlah hemihidrat yang ada untuk membentuk gipsum dan pelambatan setting akan muncul. Oleh sebab itu, gipsum harus disimpan di container tertutup dan terlindung dari kelembaban udara.

4.2.7

Efek sistem koloidal dan pH

Sistem koloidal seperti agar dan alginat memperlambat setting gipsum. Apabila material ini kontak dengan CaSO4.1/2H2O selama setting maka akan dihasilkan permukaan yang lunak dan mudah mengalami abrasi. Aselerator seperti potassium sulfat ditambahkan untuk memperbaiki kualitas permukaan dari CaSO4.1/2H2O ketika set terhadap agar atau alginat. Koloid ini tidak memperlambat setting dengan mengubah rasio kelarutan bentuk hemihidrat dan dihidrat, melainkan dengan diadsorbsi pada tempat nukleasi hemihidrat dan dihidrat, yang kemudian mengganggu reaksi hidrasi. Adsorpsi reaksi ini lebih efektif dari adsorpsi pada kalsium sulfat hemihidrat. Liquid dengan pH rendah, seperti salivam, memperlambat setting reaction. Liquid dengan pH tinggi mempercepat setting.

13

4.3 Manipulasi Ketika gisum dicampur dengan air, harus diaduk dengan benar menggunakan spatula untuk mendapatkan adonan yang halus. Air dituangkan ke dalam bowl dengan ukuran dan desain yang sesuai dan benar. Bubuk ditambahkan dan dapat bercampur dengan air untuk 30 detik lamanya. Teknik ini memperkecil jumlah udara yang masuk ke dalam adonan selama pengadukan dengan tangan. Spatulasi dapat dilanjutkan dengan menggunakan spatula metal dengan mata spatula yang keras, hand-mechanical spatulator, atau power0driven mechanical spatulator. Spatulasi dengan tangan melibatkan pengadukan adonan dengan cepat bersamaan dengan menyeka permukaan dalam bowl dengan spatula. Spatulasi untuk membasahi dan mencampur bubuk sampai homogen dengan air membutuhkan waktu 2 gerakan per detik selama 1 menit. Spatulasi dengan power-driven mechanical spatulator membutuhkan pembasahan bubuk dengan air seperti dengan pengadukan manual. Adonan kemudian dispatulasikan selama 20 detik dengan kecepatan rendah. Vacuuming selama pengadukan mengurangi udara yang terjebak dalam

adonan. Vibrasi secepatnya setelah pengadukan dan selama penuangan gipsum meminimalisir gelembung udara ketika massa set. Menuangkan cetakan dengan gipsum memerlukan perhatian untuk menghindari penjebakan udara pada area kritikal. Adonan gipsum harus dituangkan perlahan atau ditambahkan ke cetakan dengan alat kecil seperti spatula wax. Setelah dituang, material gipsum dibiarkan mengeras sebelum cetakan dan cast dipisahkan dan didisinfeksi.

4.4 Mengatur setting time Setting time harus dikontrol untuk aplikasi yang berbeda. Secara teori, paling tidak tiga metode dapat mendapatkan kontrol seperti ini :

14

1. Kelarutan dari hemihidrat dapat ditingkatkan atau diturunkan. Sebagai contoh, apabila kelarutan hemihidray dinaikkan, kejenuhan kalsium sulfat meningkat, tingkat deposisi kristalin juga meningkat 2. Jumlah nuklei kristalisasi dapat dinaikkan atau diturunkan. Semakin besar jumlah nuklei kristalisasi, semakin cepat kristal gipsum terbentuk dan semakin cepat pengerasan massa. 3. Setting time dapat dipercepat atau diperlambat dengan meningkatkan atau menurunkan tingkat pertumbuhan kristal. Operator dapat mengvariasikan setting time dengan alasan tertentu dengan mengubah rasio W/P dan waktu pengadukan (Anusavice, 2003). Operator dapat mengubah setting time dengan mengubah temperatur air yang digunakan untuk mengaduk dan mengubah tingkat spatulasi. Rasio W/P juga dapat mempengaruhi setting time. Menggunakan air lebih banyak pada adonan dapat memperlama setting time. Cara paling mudah untuk mengubah setting time adalah dengan menambahkan senyawa kimia yang berbeda. Potassium sulfat dikenal sebagai akselerator yang efektif dan penggunaan 2% aqueous solution dari garam ini daripada air mengurangi setting time model plaster dari 10 menit menjadi 4 menit. Selain itu, sodium sitrat adalah retarder yang baik. Dengan menggunakan borax pada adonan dapat memperlama seting time. Jika jumlah yang kecil dari kalsium sulfat dihidrat dicampur dengan model plaster, tersedialah nuklei kristalisasi dan berperan sebagai akselerator. Gipsum yang digunakan sebagai akselerator adalah terra alba, dan dinyatakan mempunyai efek yang berpengaruh pada konsentrasi yang lebih rendah. Rasio W/P berpengaruh pada setting time. Semakin banyak air pada adonan model plaster, semakin lama setting time. Semakin tinggi spatulasi, setting time diperpendek.

5. SIMPULAN Gipsum plaster yang menggunakan w:p ratio 50 gram : 30 ml, lebih cepat terjadi initial dan final setting time daripada gipsum plaster yang menggunakan w:p ratio 50 gram : 35 ml. Sedangkan gipsum plaster yang menggunakan w:p

15

ratio 50gram : 35 ml, lebih cepat terjadi initial dan final setting time daripada gipsum plaster yang menggunakan w:p ratio 40 gram : 30 ml. Jadi, semakin tinggi w/p rasio gipsum tipe II, semakin lama setting timenya.

16

DAFTAR PUSTAKA

Anusavice KJ. 2003. Science of Dental Materials. 11th ed. St. Louis. WB Saunders Co. Craig RG, Powers J.M. and Sakaguchi R.L.2006.Restorative Dental Materials. 12th ed. St. Louis. Mosby Inc. Mc Cabe J.F. Walls A.W.G. 2008. Applied Dental Materials. 9th Edition. Australia: Blackwell Publishing. Van Noort R. 2007. Introduction Dental Materials.3rd ed.Mosby.Elsevier Science Limited.Edinburgh,London,New York.

17