Anda di halaman 1dari 14

Kekuatan Tenaga Kerja

(Makalah Bisnis Internasional)

Disusun Oleh kelompok 6:


Elisabeth Mariana Fathony Aziz H. Rr Dyah K C2C607055 C2C008187 C2C607133

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

KEKUATAN TENAGA KERJA


PENDAHULUAN Kualitas, kuantitas, dan komposisi dari angkatan kerja yang tersedia merupakan suatu hal yang amat penting bagi pemberi kerja, terutama bila pemberi kerja tersbut dituntut agar efisien, bersaing dan menguntungkan. Kualitas tenaga kerja (labor quality) ditentukan oleh sikap,

pendidikan, dan ketrampilan yang dimiliki oleh karyawan yang tersedia. Kuantitas tenaga kerja (labor quantity) mengacu pada jumlah karyawan yang tersedia dengan ketrampilan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bisnis dari si pemberi kerja. Kondisi tenaga kerja di suatu wilayah ditentukan oleh kekuatan social, budaya, agama, perilaku dan kekuatan lainnya. Dalam hal ini dibahas mengenai tenaga kerja, alasan tersedianya atau kurangnya tenaga kerja, jenis tenaga kerja yang mungkin tersedia atau langka dalam kondisi yang berbeda, produktivitas, dan hubungan antara pemberi kerja dan tenaga kerja.

Mobilitas Tenaga Kerja


Ekonom klasik berasumsi bahwa mobilitas tenaga kerja melibatkan komplikasi yang lebih besar dalam memindahkan manusia bibandingkan dengan memindahkan barangmodal atau kebanyakan barang lainnya. Mobilitas tenaga kerja adalah perpindahan orang dari satu Negara ke Negara lain atau dari suatu wilayah ke wilayah lain guna mendapatkan pekerjaan. Contohnya, 60 juta meninggalkan Eropa untuk bekerja dan tinggal di luar negri pada tahun 1850 hingga tahun 1970. Pada pertengahan tahun 1970-an, 30 juta buruh dari Eropa bagian selatan dan Afrika Utara membanjiri delapan Negara Eropa bagian utara dimana mereka dibutuhkan karena adanya ledakan ekonomi (economic boom) disana. Migrasi para pekerja secara besar-besaran lainnya, dimulai pada tahun 1970-an, ketika Negara-negara timur tengah produsen minyak mentah yang baru menjadi kaya dengan populasi sedikit memerlikan tenaga kerja untuk lading-ladang minyaknya, untuk proyekproyek konstruksi, dan untuk jasa yang dibutuhkan.

Faktor Pendorong Mobilitas Tenaga Kerja Faktor ekonomi dan tekanan penduduk. Faktor ekonomi senantiasa merupakan motivasi penting, di samping faktor-faktor lainnya, bagi terjadinya gejala mobilitas tenaga kerja. Rasio jumlah penduduk dengan luas wilayah, khususnya luas daerah persawahan, sangat berkaitan dengan tersedianya peluang bekerja dan berusaha. Kepadatan agraris di lokasi penelitian cukup tinggi, luas sawah tidak cukup dan cenderung semakin menyempit karena banyak digunakan untuk areal permukiman dan lokasi pendirian pabrik sehingga mata pencaharian di luar sektor pertanian baik di daerahnya maupun keluar, cukup tinggi juga. Apalagi apabila dihubungkan dengan perkembangan tingkat upah buruh tani yang tidak menunjukkan kenaikan bahkan cenderung turun selama 5 tahun terakhir karena meningkatnya jumlah tenaga kerja buruh di sektor pertanian.

Faktor lokasi. Faktor lokasi yang dimaksudkan di sini terutama yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik. Oleh karena itu, sangat berkaitan pula dengan jaringan jalan-jalan yang ada. Beberapa desa yang dijadikan lokasi pengamatan memiliki arti cukup penting dalam posisi ekonomi karena merupakan kawasan industri, terletak pada jalur perdagangan beberapa kecamatan menuju pusat kota kabupaten, atau bahkan dekat ke ibukota negara. Faktor keresahan politik. Pola hubungan antara petani luas dengan petani gurem atau buruh tani merupakan salah satu sumber keresahan yang dapat meningkatkan arus mobilitas tenaga kerja. Pemilik sawah luas mempunyai kekuasaan yang besar atas buruh tani dan petani penggarap tersebut sangat bergantung kepada pemilik sawah. Walaupun tata hubungan itu lebih berbentuk ikatan patron-client yang didukung oleh prinsip moral resiprositas untuk saling membalas budi, namun dalam prakteknya, lapisan atas senantiasa memperoleh keuntungan yuang lebih besar. Sebaliknya, ketergantungan lapisan bawah pada lapisan atas, elite desa dan pemilik faktor-faktor produksi, makin besar. Hal ini semakin memperbesar pula kesenjangan antara kedua golongan tersebut. Di beberapa daerah, ketergantungan lapisan bawah (buruh tani) terhadap lapisan atas (petani pemilik tanah) terlihat nyata dari rendahnya upah. Pada masa menunggu panen atau masa antara penanaman dengan panen, upah buruh tani sangat rendah. Pada saat penanaman atau panen pun, upah buruh tani menjadi sangat rendah karena jumlah buruh tani yang mengharap mendapat kesempatan ikut bekerja, berlimpah.

Faktor pendidikan dan budaya. Berbagai studi mengenai migrasi/gerak penduduk dan mobilitas tenaga kerja menunjukkan betapa besar pengaruh tingkat pendidikan dalam mendorong seseorang untuk melakukan mobilitas, bermigrasi atau pergi merantau. Sebagian besar tenaga kerja di daerah-daerah yang diamati memiliki tingkat pendidikan relatif rendah. Oleh karena latar belakang pendidikan yang rendah dan terbatasnya modal, mereka lari ke pekerjaan yang sesuai dengan potensinya itu. Kebanyakan terserap dalam sektor informal, baik yang ada di daerahnya maupun di luar, terutama di kota besar seperti Jakarta. Budaya tolong menolong antar warga yang masih kuat, membuat seseorang yang sudah bekerja di kota besar adakalanya mengajak teman atau kerabatnya, ke kota untuk sama-sama menekuni pekerjaan yang selama ini digelutinya atau mencarikan pekerjaaan lain. Imigrasi Imigrasi mengacu pada proses meninggalkan Negara asal seseoramg untuk tinggal di Negara lain. Dalam bagian ini akan difokuskan pada imigran sah ke AS. Semua orang yang ingin AS baik untuk bisnis maupun wisata wajib mematuhi hukum imigrasi AS. Kebijakan imigarsi AS adalah titik acuan yang baik untuk memeriksa mobilitas tenaga kerja tidak hanya di AS tetapi juga di seluruh dunia. INS (Immigration and Naturalization Service) di Departemen Kehakiman AS adalah badan pemerintah federal yang bertanggung jawab atas semua permasalahan imigrasi,termasuk naturalisasi. Naturalisasi (naturalization) berkaitan dengan proses untuk menjadi seorang warga AS, yang biasanya terjadisetelah seseorang diizinkan masuk sebagai imigran, yang juga disebut dengan penduduk tetap (permanen) atau pemilik kartu hijau , ke AS. Dari dua misinya yang saling berlawanan, INS banyak dikritik yaitu : 1. Untuk mengizinkan imigran legal masuk ke AS 2. Untuk menjaga agar imigran yang ilegal tidak masuk ke AS. Selain itu, INS semakin dikritik karena operasinya secara umum yang telah menimbulkan banyak keprihatinan diantara perusahaan-perusahaandan pihak-pihak lain di AS yang bekerjasama di INS. Sebagai akibat dari misinya yang berlawanan dan keprihatinan mengenai operasi INS, diambil suatu keputusan untuk membagi INS menjadi dua badan yang terpisah untuk menangani fungsi yang terpisah itu.

Latar Belakang AS adalah suatu bangsa. Bangsa ini merasa bahwa perbatasan akan selalu menyediakan peluang untuk pertumbuhan ekonomi. Pada taun 1870-an, Negara ini menderita depresi yang bersama-sama dengan meningkatnya rasial terhadap orang Asia, mengarah pada pembatasan yang pertama kali atas imigrasi yang disebut dengan Chinese Exclusion Acts (Undang-undang Pengeluaran Cina). Sebelum diberlakukannya Undang-undang

Pengeluaran Cina, telah terjadi masuknya orang Cina secara besar-besaran ke AS.

Hukum Federal Imigrasi adalah masalah pemerintah federal di AS, oleh karena itu kongres memiliki wewenang paripurna atas imigrasi. Hukum komprehensif pertama di AS yang membatasi jumlah migrant yang diizinkan untuk masuk tiap tahunnya dan menentukan criteria penerimaan mereka. Dalam upaya menghentikan imigrasi illegal, kongres meloloskan Undang-undang Reformasi dan Pengendalian Imigrasi untuk menetapkan bahwa pemberian kerja bagi orang-orang yang tidak sah untuk bekerja di AS adalah tindakan pidana bagi si pemberi kerja. Undang-undang tersebut mewajibkan setiap pemberi kerja untuk melakukan verifikasi atas terpenuhinya persyaratan kerja dari calon karyawan sebelum memperkerjakan mereka. Visa Nonimigrasi Visa nonimigrasi dikeluarakan bagi mereka yang datang ke AS sementara (umumnya tidak lebih dari 6 bulan). Visa dibagi ke dalam kategori-kategori spesifik : 1. Visa B untuk kunjungan

Untuk kunjungan singkat, seperti untuk tujuan bisnis (B-1) atau wisata (B-2). Biasanya enam bulan atau kurang. 2. Visa E Untuk nonwarga Negara yang memasuki AS untuk mengarahkan operasi dari suatu perusahaan dimana seseorang yang bukan warga Negara AS

menginvestasikan sejumlah uang yang substansial hanya dengan tujuan untuk menjalankan perdagangan antara Negara AS dengan Negara asal orang tersebut. 3. Visa F Untuk para pelajar. 4. Visa H Untuk para pekerja, biasanya adalah karyawan dari suatu perusahaan yang berbasis di AS yang bukan warga Negara AS. 5. Visa I Untuk anggota pers. 6. Visa J Untuk pertukaran sarjana. 7. Visa L Untuk karyawan transfer dalam suatu perusahaan yang sama. Biasnay orangorang yang dikirim ke AS untuk bekerja di kantor afiliasi dari perusahaan yang sama. Visa Imigran Visa imigran ditujukan untuk orang-orang yang ingin tinggal secara permanen di AS. Ada 2 kategori utama dalam visa imigran: 1. Reunifikasi keluarga Memungkinkan anggota keluarga dekat tertentu dari warga Negara AS dan sebagian penduduk permanen untuk mengajukan visa imigran. 2. Imigran berdasarkan pekerjaan Memungkinkan orang-orang dengan ketrampilan kerja yang diperlukan di AS untuk mengajukan visa imigran.

Pengungsi/ Pencari Suaka (Refugees/ Asylum Seekers) Pengungsi sudah ada di sepanjang tahun. Peningkatan teknologi baik dalam bidang transportasi maupun komunikasi selama paruh terakhir abad ke 20 telah mempermudah orang untuk berpindah dengan cepat di seluruh dunia, sehingga mengakibatkan peningkatan jumlah orang yang meninggalkan tanah kelahiran mereka. Orang-orang yang berpindah memiliki beberapa alasan, yaitu globalisasi ekonomi, pertumbuhan populasi di Negara berkembang, dan teknologi baru yang memungkinkan imigran untuk tetap berhubungan dengan anggota-anggota keluarga dan teman-teman di Negara asal.

Standar Penerimaan Pengungsi/ Pencari Suaka untuk Masuk ke AS 1. Tekanan penduduk Salah satu tekanan paling penting yang memaksa orang-orang untuk melarikan diri adalah ledakan pertumbuhan penduduk yang terjadi terutama di Negara berkembang yang lebih miskin. Dalam kaitan dengan efisiensi dan produktifitas angkatan kerja, wanita dan anak-anak merupakan korban dari tekanan penduduk ini akan menjadi kekuatan negative. 2. United Nations High Commission for Refugees (UNHCR) UNHCR adalah organisasi yang berusaha untuk membantu para pengungsi atau pencari suaka. 3. Para pengungsi disambut baik? Sedikit Negara yang bersedia menerima pengungsi hanya mau menerima pengungsi dalam jumlah yang terbatas. Banyak pengungsi yang tidak berpendidikan dan miskin yang menyebabkan berbagai kesulitan, antara lain adalah mencarikan pekerjaan bagi rakyat barunya dan masalah lainnya adalah mendidik anak-anak mereka supaya memiliki pendidikan yang layak. Tetapi Para Imigran, Termasuk Pengungsi, Dapat Membantu Para pekerja imigran di AS bekerja baik pada posisi dengan ketrampilan rendah maupun dengan ketrampilan tinggi. Para pekerja tertarik ke AS dan Negara maju lainnya karena

peluang, alasan keuangan dan lain-lain yang terdapat di Negara itu. Selain itu, banyak bisnis yang sangat mengandalkan para pekerja nonwarga Negara AS. Tenaga Kerja Asing Tenaga kerja asing adalah orang-orang yang pergi ke suatu Negara asing secara legal untuk melekukan jenis pekerjaan tertentu, biasanya dalam bidang jasa, pabrik, atau konstruksi. Tenaga kerja asing menyediakan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh Negara tuan rumah, yang merupakan hal yang diinginkan selama ekonomi bertumbuh. Tetapi ketika pertumbuhan ekonomi melambat, hanya diperlukan lebih sedikit tenaga kerja dan mulai timbul masalah.

Pengangguran Dengan adanya ledakan ekonomi, menciptakan tingkat pengangguran yang rendah di banyak Negara industry, termasuk AS. Namun pada awal abad ke-21, AS dan Negaranegara lainnya menghadapi persoalan ekonomi yang mengakibatkan tingkat

pengangguran yang lebih tinggi. Aliran pengangguran Lebih tingginya pengangguran pada dasarnya berhubungan dengan dua hal: Menurunnya kesempatan pekerja yang menganggur untuk mendapatkan pekerjaan Besarnya resiko pekerja yang bekerja untuk kehilangan pekerjaannya

Komposisi Angkatan Kerja


Apabila pengungsi membanjiri suatu Negara, maka pertumbuhan angkatan kerja yang diakibatnya terdiri atas usia, gender, dan ketrampilan. Mereka tidak datang untuk suatu pekerjaan tertentu, melainkan melarikan diri dari tekanan atau kemiskinan dari Negara asal mereka. Produktivitas Angkatan Kerja

Produktivitas tenagan kerja mengukur berapa banyak unit yang dapat diterima dari suatu produk yang dihasilkan oleh seorang pekerja selama waktu tertentu dan biaya per unitnya. Biaya tenaga kerja per unit (unit labor cost) adalah biaya tenaga kerja untuk memproduksi satu unit output. Biaya tenaga kerja oer unit telah meningkat selama bertahun-tahun dan kemudian menurun. Penurunan ini tidaklah disebabkan oleh pengurangan gaji atau tenaga kerja tetapi oleh peningkatan produktivitas.

Status Social, Diskriminasi Berdasarkan Gender, Rasisme, Masyarakat Tradisional, dan Kelompok Minoritas: Pertimbangan dalam Kebijakan Tenaga Kerja
Status Sosial Ada masyarakat yang menentukan status seseorang berdasarkan kasta atau kelompok social dimana ia dilahirkan. India adalah salah satu contoh yang masih mempertahankan system kasta, walaupun masih sering terjadi pertikaian antar kelompok yang berakibat pembunuhan atau pembakaran rumah. Pertikaian ini biasanya antara kelompok atas dengan kelompok atau kasta bawah yang oleh Mahatma Gandhi sebagai anak-anak Tuhan. Oleh karena itu, calon majikan atau pemveri kerja harus berhati-hati apabila mempekerjakan orang-orang Hindu dari kasta atas dengan orang-orang harian kasta bawah dalam satu kelompok kerja. Di Jepang masih ada kasta yang berbentuk pada abad ke-17. Pada saat rezim feudal Togugawa yang berkuasa membakukan kelompok masyrakat. Kelompok tertinggi untuk tentara dan administrator disebut Samurai. Kelompok berikutnya yaitu petani, pengrajin, dan mekanik. Sedangkan kelompok terrendah yaitu mereka yang dianggap sebagai pekerja kasar seperti jagal dan kuli. DESKRIMINASI BERDASARKAN GENDER Penerimaan atas kaum wanita sebagai angkatan kerja sangat berkembang pada Amerika Serikat dan Eropa Barat ini terjadi karena di Amerika Serikat dan Eropa Barat diskriminasi terhadap gender dihapuskan. Amerika Serikat telah mengalami langkah besar dalam status dan penerimaan atas kaum wanita di dunia bisnis. Tetapi di Negara-negara lain hukum, adat istiadat,

sikap, dan kepercayaan agama terus bertindak sebagai penghalang yang sangat bermusuhan terhadap kaum wanita di dunia bisnis. Deskriminasi berdasarkan gender yang adalah penolakan terhadap partisipasi yang setara di dalam masyarakat bagi kaum wanita telah berkembang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari banyak budaya yang berkembang sebagai masyarakat patriarkat. Kesadaran yang lebih akan pentingnya penyediaan kesempatan yangsetara untuk kedua jenis gender dan perubahan sikap terhadap peran wanita da;am masyarakat secara umum dan dalam bisnis pada khususnya telah memudahkan kaum wanita untuk berhasil dalam bisnis di berbagai belahan dunia. Meskipun demikian, budaya dan tradisi masih terus menyulitkan para wanita di berbagai Negara. Jepang bukanlah satu-satunya Negara dimana kaum wanita menghadapi masalah utama dalam menciptakan atau mempertahankan kemajuan, ketika diskriminasi berdasarkan gender tersebar luas di seluruh dunia. Sering kali adalah sulit bagi para wanita untuk berbisnis di Arab Saudi dan Negara-negara Timur Tengah lainnya. Sebagai contoh di Arab Saudi melarang bercampurnya pria dan wanita di tempat kerja dan melarang wanita mengendari kendaraan. Di Korea kaum wanita tidak dapat berpartisipasi dalam upacara yang diadakan nenek moyang mereka sendiri atau untuk mengenang nenek moyang suami mereka. Namun, mereka diharapkan untuk mempersiapkan makanan dan minuman untuk upacara semacam itu. Banyak pemilik toko di Korea kesal ketika seorang wanita menjadi pelanggan pertama yang datang pada hari itu karena mereka percaya hal ini merupakan suatu pertanda buruk bagi bisnis hari itu. Pemilik toko biasanya melemparkan garam di pintu masuk setelah pelanggan tersebut meninggalkan tokonya. Deskriminasi pada kaum wanita juga terjadi di bidang pendidikan rata-rata wanita hanya mengenyam pendidikan sangat pendek. Bahkan di sebuah Negara di Afrika yaitu Chad para wanita hanya mengenyam pendidikan tidak lebih dari satu bulan. Dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah tidak jarang para wanita dan anak-anak wanita dipaksa terjun pada dunia prostitusi. Dan mereka yakin yang mereka lakukan itu adalah merupakan tindakan yang benar. Namun sudah banyak Negara yang menyadari bahwa semua gender berhak untuk memperoleh pendidikan yang sama. Contoh Negara yang telah melakukan persamaan hak tersebut adalah Mesir, China, dan Tanzania. Peluang Bagi Kaum Wanita Dalam Bisnis Internasional

Di Negara-negara lain yang telah menyadari persamaan hak dari setiap gender perana wanita dalam bisnis internasional telah mengalami perkembangan meskipunperkembangan tersebut berjalan lambat. Menurut suatu studi yang dilakukan oleh Catalyst lebih dari 65 % eksekutif sumber daya manusia meliaht peluang internasional untuk wanita kulit putih telah agak meningkat pesat dari tahun 1995 sampai tahun 2000. Tetapi kurang dari separuh yang melaporkan kemajuan yang sama pada wanita kulit berwarna. Rasisme Dalam rasisme terdapat perbedaan perlakuan antara orang-orang asli dan para pendatang yang memiliki kondisi berbeda. Mereka diperlakukan berbeda baik dalam pemberian hak-hak mereka sebagai warga Negara maupun hak-hak untuk bekerja di Negara mereka. Konflik yang berkaitan dengan rasisme yang terjadi antara lain konflik kulit hitam melawan kulit putih di Amerika Serikat, Afrika Selatan, Inggris, dan tempat-tempat lainnya. Bahkan terdapat konflik di Negara Arab, India , Pakistan, dan Sri Lanka. Bahkan di Jepang terdapat pembedaan hak warga Negara yaitu warga korea dan Vietnam yang tinggal di Jepang. Ini merupakan diskriminasi rasial. Minoritas Dalam Masyarakat Tradisional Masyarakat tradisional menimbulkan peluang maupun masalah bagi pemberi kerja. Ada masyarakat dimana pedagang, pengusaha, dan bankir dipandang rendah dan orang-orang disana lebih memilih karier di bidang politik, agama, militer, professional, atau pertanian. Dalam masyarakat semacam ini orang luar mungkin saja mendominasi kegiatan perdagangan dan perbankan. Negara tersebut adalah India, Pakistan, Cina, dan Yunani. Sedangkan kaum minoritas adalah orang-orang dalam jumlah yang relative lebih sedikit yang diidentifikasikan berdasarka ras, agama, atau asal kebangsaan yang tinggal diantara mayoritas yang lebih besar.

HUBUNGAN PEMBERI KERJA KARYAWAN Hubungan antara pemberi kerja dan karyawan bervariasi antara satu Negara dengan Negara lainnya di seluruh dunia. Di beberapa Negara para pemberi kerja harus berurusan dengan serikat-serikat pekerja yang kuat. Di Negara lain para pemberi kerja harus berurusan dengan pemerintah mewakili karyawannya. Bagaimanapun juga perusahaan yang berusaha untuk

mempekerjakan orang-orang harus menyadari situasi ketenagakerjaan dimana perusahaan itu berada. Pentingnya Persiapan Yang Memadai Ketika Memasuki Sebuah Pasar Ketika suatu perusahaan asing memasuki pasar tenaga kerja (Labor Market) maka perusahaan tersebut harus mengambil apa yang ditemukannya. Tentunya suatu perusahaan yang berhati-hati akan mempelajari pasar tenaga kerja tersebut ketika mempertimbangkan apakah akan melakukan suatu investasi di suatu Negara. Suatu perusahaan bahakan tidak perlu melakukan perjalanan ke Negara tuan rumah yang prospektif untuk memperoleh informasi mengenai tenaga kerjanya. Pasar tenaga kerja adalah kumpulan dari karyawan potensial yang tersedia dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam jarak pulang pergi dari seorang pemberi kerja. Pemberi kerja harus lebih peka terhadap hal-hal yang dapat terjadi pada kondisi tenega kerjanya. Hal tersebut antara lain pemogokan kerja. Perusahaan harus mengetahui secara detail tentang pemogokan yang dilakukan karyawannya. Perusahaan-perusahaan yang berencana untuk melakukan investasi di masyarakat tradisional di Negara-negara berkembang akan mengkaji budaya, agama, suku, dan factor-faktor lainnya. Tentu saja persoalan keagamaan, rasial, dan bahasa tidak terbatas pada Negara-negara berkembang saja. Serikat Pekerja : Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang Serikat pekerja bervariasi secara signifikan antara satu Negara dengan Negara lainnya. Serikat pekerja cenderung lebih efektif di Negara-negara maju tetapi bahkan dengan membandingkan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang tampak jelas bahwa serikat pekerja memiliki tujuan yang berbeda dan mempengaruhi persoalan ketenagakerjaan secara berbeda pula. Serikat pekerja (Labor Union) di Eropa biasanya diidentifikasikan dengan partai politik dan ideology sosialis. Suatu perasaan akan identitas buruh adalah hal yang umum di serikat-serikat ini mungkin tenaga kerja Eropa mendapatkan kebebasan daro feodalisme bersama-sama dengan berbagai hak dan kekuatan melalui tindakan kolektif. Sebaliknya serikat pekerja di Amerika Serikat, buruh sudaj memiliki banyak hak sipil termasuk hak memberikan suara , sebagai akibatnya serikat pekerja di Amerika Serikat sering kali

dipandang sebagai bersifat lebih pragmatis dibandingkan dengan politik dan lebih memperhatikan kepentingan segera dari buruh. Tawar menawar kolektif adalah proses dimana suatu serikat pekerja mewakili kepentingan dari suatu satuan tawar menawar yang kadang melibatkan baik anggota maupun non anggota serikat pekerja dalam negosiasi dengan manajemen. Di Jerman dan Perancis pengaruh tindakan hukum dan administrasi pemerintah lebih ekstensif dan nyata. Negosiasi perburuhan dilaksanakan pada tingkat nasional atau sekurang-kurangnya pada tingkat regional dan di Perancis wakil-wakil pemerintah turut serta. Serikat pekerja di Jepang lebih berbasis pada perusahaan daripada industry dan sebagai akibatnya cenderung untuk lebih mengidentifikasikan dengan kepentingan perusahaan. Selain itu para pekerja di Jepang melaporkan ketidakpuasan mereka terhadap hasil kerja di Negara maju. Tren Keanggotaan Serikat Pekerja Antara tahun 1980 dan tahun 1996 proporsi buruh yang menjadi pekerja menurun di dua pertiga Negara-negara OECD. Walaupun beberapa Negara khususnya di Skandinavia masih memiliki tingkat keanggotaan serikat pekerja yang tinggi tren secara keseluruhan cenderung menurun. Kegiatan Pekerja Multinasional International Labor Organization (ILO) Organisasi Buruh Internasional (ILO) adalah suatu badan PBB. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keadilan sosial dan pengakuan internasional akan hak-hak asasi manusia dan buruh di seluruh dunia. ILO didirikan pada tahun 1919 dan satu-satunya yang bertahan dari traktat versailes yang didirikan oleh Liga Bangsa Bangsa. Trade Union Advisory Committee (TUAC) untuk OECD Sebagaimana pada Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) adalah organisasi internasional yang dirancang untuk membantu masalah-masalah pembangunan ekonomi di Negara-negara anggotanya. Komite Penasihat Serikat Perdagangan (TUAC) adalah suatu organisasi serikat perdagangan internasional yang memiliki status konsultatif dengan

OECD dan berbagai komitenya. Peran TUAC adalah bahwa masalah-masalah buruh akan diperhatikan di pasar global. Partisipasi Pekerja dalam Manajemen Negara Jerman adalah pelopor dari perkembangan perburuhan lainnya yang pertama kali mengkhawatirkan banyak manajer dan pemilik bisnis. Hukum yang mengharuskan karyawan untuk diberikan kursi di dewan direksi dari pemberi kerja telah di sahkan. Partisipasi Pekerja Itu Dimulai Di Jerman Partisipasi oleh para pekerja dalam manajemen suatu perusahaan atau yang sering disebut kodeterminasi dimulai dari industry batu bara dan baja Jerman pada tahun 1951. Hukum memeberikan hak pada para pekerja untuk memegang sahamnya sebanya 50% dan 50% sisanya dipegang manajemen. Ini dikenal dengan sistem 50-50. Sistem 50-50 telah meluas ke industryindustri besar di Jerman. Sistem 50-50 Telah Meluas Negara-negara Eropa dan Jepang telah membahas tentang praktik dan peraturan mengenai kodeterminasi. Di Amerika Serikat kalangan bisnis maupun kalangan buruh tidak menampakan antusiasme menegenai kodeterminasi. Namun di Amerika Serikat terjadi Demokrasi Industrial dan Partisipasi Pekerja. Dewan Kerja di Unit Eropa Dewan kerja Eropa merupakan suatu instruksi uni Eropa tahun 1996 yang mewajibkan hamper seluruh perusahaan internasional yang beroperasi di Negara-negara anggotanya untuk membentuk kelompok kelompok karyawan yang dapat menguikutsertakan wakil-wakil manajemen atau tidak. Tujuannya adalah untuk memperbaiki akses pekerja terhadap informasi dan hak untuk berkonsultasi.