Anda di halaman 1dari 3

Khutbah Jumat

.










Hadirin Jamaa`ah Jum`at yang Allah muliakan:
Pernahkah kita membaca Al-Qur'an tetapi jiwa kita JUSTRU merasa gersang? / Atau kita
menghabiskan halaman-halamannya, sementara ruh kita tetap dilanda kekeringan? / Atau bahkan
kita merasa begitu berat / dan terpaksa membacanya karena mengejar target tilawah?
Jika itu terjadi, mari beristighfar kepada Allah SWT / Al-Qur'an diturunkan bukan untuk
menyusahkan kita, TERMASUK dalam membacanya / "Kami tidak menurunkan Al Quran ini
kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaahaa : 2) / Lalu mengapa hati kita demikian
MEMBATU untuk bisa tersentuh ayat-ayat-Nya? / Hati itu seharusnya melembut saat
membacanya, / lalu ia mengajak mata kita untuk meneteskan airnya.
Padahal, di dalam ayat lain Allah Swt menyebutkan /

(QS. Al-Baqarah: 74)







Hati memang bisa kesat / laksana batu, bahkan lebih keras / Padahal batu ada yang bisa
memancarkan air sungai / batu bisa pecah, sehingga meneteskan air / ada pula yang jatuh
lantaran TAKUT kepada Allah.
Hadirin, saatnya kita bertanya / bertanya tentang hati kita / apakah hati kita lebih keras dari batu?
/ atau sedikit lebih lembut? / kalau lebih lembut, mengapa ia TAK MENANGIS saat membaca
al-Quran?
HADIRIN
Mentadabburi Al-Quran merupakan kewajiban / berinteraksi dengannya merupakan suatu
keharusan / hidup di bawah naungannya merupakan kenikmatan / KENIKMATAN yang tak
dimiliki kecuali oleh yang merasakannya / kenikmatan yang memancing BERKAH /
mengangkat hidup dan memuliakannya.
Menurut SAYYID QUTUB / ulama Islam yang mati di tiang gantungan karena buku yang
ditulisnya / masalah dalam memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran dan sentuhan-sentuhannya

TIDAK terletak pada pemahaman lafazh dan kalimat-kalimat / bukan pada TAFSIR Al-Quran
sebagaimana yang kita sangka / BUKAN itu masalahnya / namun KESIAPAN jiwa / kesiapan
jiwa untuk menghadirkan perasaan, indra dan pengalaman / kesiapan perasaan, indra dan
pengalaman umat muslim saat diturunkannya Al-Quran / saat jiwa-jiwa bergelut dengan
tantangan hidup / dalam jihad, jihadun nafs jihad melawan hawa nafsu- jihadun nas jihad
melawan manusia / jihad melawan nafsu angkara dan jihad melawan musuh / usaha dan
pengorbanan / takut dan harap / kuat dan lemah / jatuh dan bangkit / di MEKAH
Kemudian lingkungan Madinah : lingkungan pergerakan pertama bagi masyarakat muslim antara
tipu daya, kemunafikan, disiplin dan kebebasansuasana perang Badar, Uhud, Khandak, dan
perjanjian HudaibiyahSuasana Al-Fatah kemenangan, perang Hunain, Tabuk, dan suasana
pertumbuhan umat Islam, perkembangan sistem kemasyarakatan, persatuan yang hidup antara
perasaan, kemaslahatan dan prinsip dalam memuliakan pergerakan dan dalam naungan sistem.
Dalam suasana seperti itu saat diturunkan di dalamnya ayat-ayat Al-Quran memberi kehidupan
yang baik dan faktualkalimat-kalimat, ungkapan-ungkapan, petunjuk-petunjuk dan sentuhansentuhannyadalam suasana seperti ini yang menyertai awal usaha pelaksanaan kehidupan
Islam yang baru, Al-Quran dengan kandungannya membukakan hati, memberikan rahasiarahasianya, menyebarkan keharuman, dan membimbing kepada petunjuk dan cahaya
(Khasais At-Tashawur Al-Islami : 7-8)
Dari paragraf di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pokok utama yang harus kita jadikan
petunjuk dalam menafsirkan Al-Quran adalah sebagai berikut :
1. BEKALI diri dengan PERASAAN, PENGETAHUAN, PENGALAMAN batin saat ingin
memahami nash-nash Al-Quran dan merasakan sentuhan-sentuhannya.
2. FOKUS pada suasana / rasa / dan lingkungan saat diturunkannya Al-Quran, baik di
Mekah dan di Madinah / agar dapat menemukan JEJAK dan PENGARUH Al-Quran
ketika itu.
3. CERMATI sikap para sahabat lingkungan Mekah dan Madinah- dan interaksi mereka
dengan Al-Quran serta kehidupan mereka bersama Al-Quran.
Beliau berkata : Kita tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Quran ini sampai kita
mendapatkan darinya arahan-arahan tentang kehidupan realita kita pada saat ini dan mendatang,
sebagaimana yang telah didapati oleh para generasi Islam pertama saat mereka mengambil dan
mengamalkan arahan-arahan dan petunjuk-petunjuk Al-Quran dalam kehidupan merekasaat
kita membaca Al-Quran dengan penuh penghayatan maka kita akan dapati apa yang kita
inginkan. Kita akan dapati keajaiban yang tidak terbetik dalam jiwa kita yang pelupa ! kita akan
dapati juga kalimat-kalimatnya, ungkapan-ungkapannya, dan petunjuk-petunjuknya yang hidup,
mengalir dan bergerak serta mengarahkan pada petunjuk jalan (Ad-Zhilal : 1 : 61)

Khutbah Kedua
.



Al-Qur'an itu indah. Keindahannya bisa dirasakan oleh fitrah manusia meskipun tidak tahu
artinya. Inilah penjelasan mengapa seseorang bisa menangis tersedu-sedu saat berada di belakang

imam yang membaca Al-Qur'an dengan tartil dan penuh kekshuyu'an. Ini pula alasan seseorang
yang masuk Islam dan ditanya; mengapa? Ia menjawab: "Kitab sucinya umat Islam, Al-Qur'an;
ayat-ayatnya bisa dirasakan oleh hati meskipun belum dimengerti terjemahnya."
Terlebih saat Al-Qur'an dipahami artinya. Ia begitu indah, memukau jiwa. Ia memang kitab yang
memiliki daya magnetis, di samping kebenaran mutlak yang dikandungnya. Inilah yang
membuat Abu Jahal dan beberapa kawannya diam-diam menguping Rasulullah membaca AlQur'an.
Kita bisa mentadabburi Al-Qur'an jika kita tahu artinya. Kalaupun belum bisa bahasa Arab,
banyak terjemah yang bisa membantu kita. Agar kita memahami isinya, para ulama' telah
menyusun banyak tafsir untuk kita baca. Saat kita memahami maksudnya, saat itulah kita bisa
menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi kita. Dan inilah yang dirindukan para sahabat Nabi.
Mereka membaca Al-Qur'an untuk mengaplikasikannya.
"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa" (QS.
Al-Baqarah : 2)
Saat kita merasakan nikmatnya membaca Al-Qur'an dan merindukannya untuk kita aplikasikan,
saat itulah iman kita meninggi.
"...dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya)" (QS. Al-Anfal
: 2)



.

.





.





.