Anda di halaman 1dari 16

SKENARIO 3 LBM 3 SENIN, 28 MEI 2012 SGD 7

STEP 1 STEP 2 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Apa kasus yang terjadi pada skenario tersebut? Mengapa bisa gemuk meskipun sudah mengurangi makan? Mengapa pada orang gemuk lebih mudah terkena komplikasi penyakit? Bagaimana metabolisme karbohidrat dan asam lemak yang berhubungan dengan kegemukan? Apa hubungan kegemukan dengan serangan jantung dan kencing manis? apa peran genetik dalam obesitas? Apa yang dimaksud dengan obesitas? Apa saja tipe-tipe obesitas? Bagaimana terapi dari obesitas? Apa etiologi dari obesitas? Apa komplikasi pada obesitas? Apa saja faktor yang mempengaruhi obesitas? Apa saja klasifikasi obesitas? Apa saja gejala obesitas?

STEP 3 1. Apa kasus yang terjadi pada skenario tersebut? Kelebihan berat badan/kegemukan Obesitas 2. Mengapa bisa gemuk meskipun sudah mengurangi makan? Mungkin dikarenakan masukan makanan tidak diseimbangi dengan kegiatan jadi intake dan outake tidak sama/seimbang Karena cadangan lemak/glikogennya sudah banyak jadi meskipun makanannya sudah dikurangi namun dia masih punya cadangan yang banyak Faktor genetik yang memang keturunan gemuk Pola hidup yang tidak sehat merokok, makanan cepat saji, kurang tidur, sering makan malam 3. Apa yang dimaksud dengan obesitas? Kelebihan lemak BMI > 30 kg/m, pada wanita 35%, laki-laki 25% BB 20-100% dari BB ideal Suatu penyakit multifaktoral yang terjadi dari akumulasi lemak di jar adiposa yang berlebihan dan dapat mengganggu penderita

4. Apa etiologi dari obesitas? Keturunan keluarganya suka makan yang tidak teratur, makan makanan yang banyak mengandung lemak, gangguan MCR 4 reseptornya tergangggu, jika kedua ortu gemuk 80% anak beresiko obesitas, jika hanya salah satu maka 40% anak resiko obes, jika keduanya tidak gemuak mk anak 14% resiko obes Bangsa/suku karena dengan latar belakang adat yang sering ada prosesi makanmakan Gangguan emosi marah dan sedih bisa membuat lapar Adanya gangguan hormon hormon leptin (memberi sinyal hipotalamus rasa kenyang), hormon glukokortikoid, adrenal, GH, glukagin, insulin, T4 Sosial Faktor lingkungan kurang OR, kurang tidur, makan makanan cepat saji Obat golongan steroid menyebabkan gangguan metabolisme lemak 5. Apa saja klasifikasi obesitas? Obesitas ringan BB meningkat 20-40% dari BBI Obesitas sedang BB meningkat 41-100% dari BBI Obesitas berat BB meningkat >100% dari BBI Menurut WHO Pra obes IMT 25-29,9 Obes 1 IMT 30-34,9 Obes 2 35-39,9 Obes 3 >40 6. Apa saja cara menegakkan diagnosis obesitas? Pemeriksaan fisik dilihat dari IMT (anak, laki-laki, wanita) 7. Apa saja tipe-tipe obesitas? Berdasarkan keadaan sel lemak Hiperplastik selama masa kanak-kanak Hipertopik ukuran sel lemak jd besar, pd masa dewasa Kombinasi hiperplastik dan hipertopik Bentuk tubuh Pear pd wanita Ovoid (kotak buah) dari genetik Apel pd pria (lemak disimpan di bawah kulit) 8. Apa komplikasi pada obesitas? Risiko medis, timbul penyakit Diabetus Hipertensi Gagal jantung

PJK Risiko psikososial karena gemuk maka jarang melakukan aktivitas jd bisa merasa dikucilkan oleh masyarakat dan timbul rasa rendah diri Risiko kematian WHO, org obes risiko kematiannya lebih tinggi Batu empedu Stroke Hipoventilasi alveolar Kanker prostat dan kanker usu besar Osteoartritis Sleeping apnea Sindrom pickwickian wajah kemerahan Patogenesis komplikasi PJK pemb darah tertutup oleh lemak maka kerja jantung tidak maksimal, jantung kurang memompa darah karena di penyempitan pemb. Darah tersumbat oleh bekuan darah Diabetes reseptor sel terhalang oleh lemak sehingga insulin yang harusnya terikat di sel dihambat Osteoartritis orang gemuk mengalami kelebihan BB sehingga tulang persendian tidak mampu menopang beban sehingga terjadi peradangan pd sendi-sendi Sleep apnea karena ada difosit lemak pd jalan nafas sehingga jalan nafas terganggu, biasanya terjadi malam hari saat tidur, adanya peningkatan kadar CO2 karena diapragma sulit bergerak sehingga paru-parunya tidak bebas bergerak sehingga ada hambatan mengambil O2 dan mengeluarkan CO2 1. Hipertensi meningkatnya tekanan darah karena terjadi penyempitan pemb darah Stroke karena aliran darah yang menuju otak Batu empedu org dg obes menghasilkan banyak kolesterol sehingga memberatkan kerja empedu 9. Bagaimana terapi dari obesitas? Terapi diet menjaga pola makan disesuaikan kalorinya Menambah aktifitas fisik olah raga Obat sibutramine dan orlistat (mengurangi kerja dari lipase pankreas penyerapan lemak di gastrointestinal berkurang) Terapi bedah sedot lemak, mengurangi ukuran lambung (hanya dilakukan ketika terapi lain gagal) Terapi akupuntur 10. Bagaimana metabolisme karbohidrat dan asam lemak yang berhubungan dengan kegemukan? Metabolisme karbohidrat Makanan

STEP 7 1. Apa saja klasifikasi obesitas? Klasifikasi Obesitas dapat dibagi menjadi beberapa derajat berdasarkan persen kelebihan lemak (Misnadiarly, 2007). Antara lain : a. Mild obesity dikatakan mild obesity bila berat badan individu antara 20-30% di atas berat badan ideal. b. Moderate obesity Apabila berat badan individu antara 30-60% di atas berat badan ideal. c. Morbid Penderita-penderita obesitas yang berat badannya 60% atau lebih di atas berat badan ideal. Pada derajat ini risiko mengalami gangguan respirasi, gagal jantung, dan kematian mendadak meningkat dengan tajam. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31021/4/Chapter%20II.pdf 2. Apa etiologi dari obesitas? Faktor penyebab obesitas sangat kompleks. Kita tidak bisa hanya memandang dari satu sisi. Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama obesitas. Hal ini didasari oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan massa otot dan mengurangi massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak adekuat dapat menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan adipositas. Oleh karena itu pada orang obese, peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan pengeluaran energi melebihi asupan makanan, yang berimbas penurunan berat badan (Guyton, 2007). Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang tidak baik. Perilaku makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa sebab, diantaranya adalah karena lingkungan dan sosial. Hal ini terbukti dengan meningkatnya prevalensi obesitas di negara maju. Sebab lain yang menyebabkan perilaku makan tidak baik adalah psikologis, dimana perilaku makan agaknya dijadikan sebagai sarana penyaluran stress. Perilaku makan yang tidak baik pada masa kanakkanak sehingga terjadi kelebihan nutrisi juga memiliki kontribusi dalam obesitas, hal ini didasarkan karena kecepatan pembentukansel-sel lemak yang baru terutama meningkat pada tahun-tahun pertama kehidupan, dan makin besar kecepatan penyimpanan lemak, makin besar pula jumlah sel lemak. Oleh karena itu, obesitas pada kanak-kanak cenderung mengakibatkan obesitas pada dewasanya nanti (Guyton, 2007).

Dari segi neurogenik, dibuktikan bahwa lesi pada hipotalamus bagian ventromedial dapat menyebabkan seekor binatang makan secara berlebihan dan obese, serta terjadi perubahan yang nyata pada neurotransmiter di hipotalamus berupa peningkatan oreksigenik seperti NPY dan penurunan pembentukan zat anoreksigenik seperti leptin dan -MSH pada hewan obese yang dibatasi makannya (Guyton, 2007) . Input dari vagal juga terhitung penting, membawa informasi dari viseral, seperti peregangan dari usus (Flier et al, 2005). Faktor genetik obesitas dipercaya berperan menyebabkan kelainan satu atau
lebih jaras yang mengatur pusat makan dan pengeluaran energi dan penyimpanan lemak serta defek monogenik seperti mutasi MCR-4, defisiensi leptin kogenital, dan mutasi reseptor leptin (Guyton, 2007).

Dari segi hormonal terdapat leptin, insulin, kortisol, dan peptida usus. Leptin adalah sitokin yang menyerupai polipeptida yang dihasilkan oleh adiposit yang bekerja melalui aktifasi reseptor hipotalamus. Injeksi leptin akan mengakibatkan penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Insulin adalah anabolik hormon, insulin diketahui berhubungan langsung dalam penyimpanan dan penggunaan energi pada sel adiposa. Kortisol adalah glukokortikoid bekerja dalam mobilisasi asam lemak yang tersimpan pada trigiserida, hepatic glukoneogenesis, dan proteolisis (Wilborn et al, 2005). Peptida usus seperti ghrelin, peptida YY, dan kolesistokinin yang dibuat di usus halus dan memberi sinyal ke otak secara langsung ke pusat pengatura hipotalamus dan/atau melalui nervus vagus (Flier et al, 2005). Faktor metabolit juga berperan dalam obesitas. Metabolit, termasuk glukosa, dapat mempengaruhi nafsu makan, yang mengakibatkan hipoglikemi yang akan menyebabkan rasa lapar. Akan tetapi, glukosa bukanlah pengatur utama nafsu makan (Flier et al, 2005). Semua faktor hormonal, metabolit, dan neurogenik yang tadi disebutkan diatas bekerja melalui ekspresi an pelepasan berbagai peptida hipotalamus seperti NPY, AgRP, alpha-MSH, an MCH yang terintegrasi dengan serotonergik, kotekolaminergik, endokannabinoid, dan jalur singnal opioid (Flier et al, 2005). Faktor terakhir penyebab obesitas adalah karena dampak/sindroma dari penyakit lain. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan obesitas adalah hypogonadism, Cushing syndrome, hypothyroidism, insulinoma, craniophryngioma, gangguan lain pada hipotalamus (Flier et al, 2005). Beberapa anggapan menyatakan bahwa berat badan seseorang diregulasi baik oleh endokrin dan komponenen neural. Berdasarkan anggapan itu maka disedikit saja kekacauan pada regulasi ini akan mempunyai efek pada berat badan (Flier et al, 2005). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31021/4/Chapter%20II.pdf 3. Apa yang dimaksud dengan obesitas? Obesitas dapat didefinisikan sebagai kelebihan lemak tubuh. Penentu yang digunakan adalah indeks massa tubuh (IMT). Sedangkan Overweight adalah tahap sebelum dikatakan obesitas secara klinis (Guyton, 2007). Obesitas dikatakan terjadi kalau terdapat kelebihan berat badan 20% karena lemak para pria dan 25% pada wanita (Ganong,2002). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31021/4/Chapter%20II.pdf 4. Mengapa bisa gemuk meskipun sudah mengurangi makan? Menurut Riani Susanto D. CT, ahli naturopati, sulitnya menaikkan atau menurunkan berat badan bisa saja terjadi. Meski cara berdietnya bisa saja salah, jangan buru-buru menuding faktor ini sebagai penyebabnya. Sebab, ada hal-hal lain yang harus diperhatikan ketika akan menguruskan atau menggemukkan badan. Antara lain, metabolisme tubuh. Metabolisme tubuh tak selalu sama pada setiap orang, karena dipengaruhi faktor genetik yang menyumbang 15 persen, serta pola makan. Sebagian orang memiliki sistem metabolisme tubuh yang cepat, sebagian lagi lambat. Mengapa metabolisme tubuh seseorang berjalan lambat? Menurut Riani, hal ini bisa terjadi karena proses penuaan, karena metabolisme tak bisa melawan hal yang satu ini. Riani yang juga pemilik restoran dan toko Healthy Choice ini mencontohkan, ketika seorang anak kecil jatuh dan terluka bersama ibu dan neneknya, ketiganya akan menjalani proses penyembuhan

yang berbeda waktunya. Si Kecil akan lebih cepat sembuh daripada ibunya, dan ibunya akan lebih cepat sembuh daripada neneknya. Bisa juga karena faktor keturunan, di mana orangtua atau generasi sebelumnya punya pola makan yang tidak sehat. "Misalnya, dulu orangtuanya jika pagi menyantap gorengan, siang dan malam juga makanannya tidak sehat," ujar Riani. Sehingga, ketika anak tadi menjadi orangtua, dia juga akan mengikuti pola orangtuanya. Sebab, anak ini merasa selama ini orangtuanya berhasil ketika menerapkan pola itu kepadanya. Pola makan salah yang diulang inilah yang bisa menyebabkan metabolisme lambat. PILIH MAKANAN Pola makan yang tidak sehat bisa mengakibatkan seseorang menjadi gemuk, dan orang yang gemuk otomatis memiliki metabolisme tubuh yang lambat. Membicarakan metabolisme tubuh, menurut Riani, berarti membicarakan apa yang kita hadapi saat makan. Sebetulnya, metabolisme tubuh bisa diatur, tergantung dari makanan yang kita pilih untuk dikonsumsi. Orang yang menjaga pola makan dengan benar sejak muda, imbuh Riani, akan memiliki tubuh yang tetap proporsional ketika dia tua. Meski ada orang yang "rewel" karena makanan yang dikonsumsinya harus mengandung sayur dan berbagai macam nutrisi, namun tak sedikit orang yang banyak makan tapi tak tahu manfaat makanan itu bagi tubuhnya. "Mereka makan asal kenyang, tak peduli gizi. Jika tak ada nutrisinya, makanan yang dikonsumsi hanya akan menjadi racun dalam tubuh," tutur Riani. Padahal, nutrisi yang masuk sangat berguna bagi triliunan sel tubuh untuk melakukan regenerasi. Riani mencontohkan, ketika seseorang mengonsumsi 1300 kalori, lalu berolahraga hingga menghabiskan 500 kalori, itu artinya metabloisme tubuhnya membakar 500 kalori. Metabolisme tubuh yang tinggi saat berolahraga ini juga membakar minyak yang dikonsumsi. Namun, orang yang mengonsumsi makanan rendah kalori bahkan nol kalori, ketika berolahraga tubuhnya tidak dapat membakar sesuatu. "Meskipun berolahraga setengah mati, apa yang akan dibakar oleh metabolisme tubuh, jika kalori yang masuk tidak ada? Jika begini, mengurangi berat badan juga susah tercapai," jelas Riani. Perempuan yang berprofesi sebagai spesialis detoksifikasi ini menambahkan, makanan nol kalori justru tidak bergizi. Walaupun sebetulnya, bisa saja metabolisme tubuh membakar nutrisi dalam tubuh. Namun, hal itu justru akan membuat tubuh mengalami malnutrisi. Jadi, meski sudah memilih makanan, pilih yang menyehatkan tubuh. Riani menambahkan, ketika seseorang ingin mengurangi berat badannya, diet yang benar harus dilakukan. Untuk orang seperti ini, dia menyarankan untuk memilih nasi daripada roti. Sebab, kadar gula roti lebih tinggi dibanding nasi. Nasi juga lebih baik daripada bakmi, karena terigu yang jadi bahan dasar mi mengandung kalori dan gula tinggi, lebih tinggi dari nasi. MIRIP MATAHARI Selain itu, orang yang berdiet juga harus tahu kinerja metabolisme tubuhnya, termasuk cepat atau lambat. Jarak antara waktu makan terakhir dan tidur juga harus diperhatikan agar metabolisme tubuh bisa mengolah makanan secara baik. "Yang dijadikan patokan sebetulnya jarak itu tadi, bukan aturan makan sebelum jam tujuh malam. Minimal, makanlah 2-3 jam sebelum tidur malam. Ini pun tergantung apa yang dimakan." Jika yang dimakan sayuran, boleh tidur 2 jam setelahnya. Tetapi, bila daging yang dikonsumsi, minimal tiga jam setelahnya baru tidur. Sebab, terang Riani, ketika tidur metabolisme tubuh langsung melambat 50 persen dibanding saat terjaga. Apalagi, semakin malam metabolisme tubuh semakin melambat. Uniknya, tuturnya, metabolisme tubuh memiliki jam kerja yang mirip dengan

perputaran matahari. Di pagi hari, metabolisme tubuh akan meningkat seiring dengan naiknya matahari. "Saat matahari ada di atas kepala, metabolisme tubuh akan bekerja cepat. Jadi, jika mau makan banyak pada jam 11.00, misalnya, silakan saja. Tapi saat matahari mulai turun, sekitar pukul 14.00, metabolisme juga melambat. Jadi, jangan terus digenjot makanan saat itu," paparnya. Di sisi lain, bentuk tubuh juga perlu diperhatikan saat ingin berdiet. Orang yang bentuk tubuhnya seperti buah pir (tubuh bagian bawah lebih besar daripada bagian atas) tentu tak bisa menggunakan cara diet orang yang tubuhnya berbentuk apel (tubuh bagian atas lebih besar daripada bagian bawah). Hasilnya tentu tidak akan tercapai. Di dalam tubuh sendiri, metabolisme diatur oleh hormon tiroid. Bila hormon tiroid seimbang, metabolisme tubuh akan berjalan lancar dan berat tubuh juga akan menjadi proporsional. "Tapi, jika seseorang memiliki tubuh yang makin lama makin gemuk, berarti tiroidnya tidak berfungsi sempurna. Seharusnya, tubuh tidak hipertiroid (kelebihan tiroid) dan tidak hipotiroid (kekurangan tiroid)," jelas Riani. PINDAH "UKURAN" Seseorang yang hipertiroid memiliki sistem metabolisme tubuh yang berjalan sangat cepat. Bila orang umumnya membutuhkan waktu dua jam untuk bermetabolisme, misalnya, orang dengan hipertiroid hanya membutuhkan satu jam. Sebaliknya, orang yang hipotiroid metabolismenya sangat lambat, sehingga tubuh jadi sangat gemuk. Pada orang hipotiroid, yang perlu dilakukan lebih dulu bukanlah diet, melainkan menyeimbangkan hormon tiroid. Sehingga, berat badan otomatis akan turun. "Bila berat badan orang yang bertubuh gemuk tetap tidak turun padahal dia benar-benar menaati perintah diet dokter, sebaiknya hormon tiroidnya diperiksa," saran Riani. Agar program diet sukses, yang dibutuhkan pertama adalah tujuan yang jelas. Misalnya, karena ingin mengubah hidup menjadi lebih baik. "Jika alasannya karena punya pacar, bukan tidak mungkin saat putus pacaran tubuhnya dibiarkan gemuk lagi." Pada dasarnya, jumlah asupan yang dikonsumsi dengan yang dikeluarkan harus seimbang. Bila seseorang yang gemuk ingin menguruskan badan, dia harus mengurangi makannya. "Secara logika, gemuk berarti apa yang dimakan sudah berlebihan dibanding yang dibakar tubuh. Berarti, asupannya harus dikurangi. Orang yang ingin mengurangi beratnya sampai 40 persen, misalnya, berarti harus mengurangi porsi makan sejumlah itu. Yang jelas harus dikurangi adalah gorengan, camilan, dan makanan manis," paparnya. Di sisi lain, orang kurus yang ingin gemuk juga tidak berarti boleh makan apa saja tanpa memperhatikan gizi. Junk food, lemak jahat, dan makanan tidak sehat tetap harus dihindari, karena tubuh kurus belum tentu tidak mengandung penyakit. Orang yang berat badannya di bawah normal, perlu gizi lebih banyak daripada orang normal. Yang juga perlu diingat adalah orang dengan ukuran tubuh tertentu, tidak bisa dengan mudah, bahkan mustahil "ganti" ukuran. Riani mencontohkan, orangtua yang berbadan tinggi-besar, pada umumnya akan menurunkan bentuk tubuh yang sama pada anaknya. Ketika si anak ingin sekurus orang yang berperawakan kecil, hal ini sulit terjadi. "Sebab, tulangnya saja sudah besar, jadi ukuran kurusnya kedua orang ini tentu tidak sama, walaupun yang berbadan besar ini diet mati-matian. Keduanya hanya berbeda ukuran," jelas Riani. Sayangnya, masyarakat masih punya cara pandang yang salah dengan menganggap, kurus berarti bertubuh kecil. Sehingga, banyak orang terkadang memaksakan diri untuk "pindah" ukuran.

TUA = SELALU GEMUK? Benarkah tua selalu berarti tubuhnya menjadi gemuk? Menurut Riani, sebetulnya tidak ada teori yang mengatakan, ketika beranjak tua orang selalu akan menjadi gemuk. Lalu, mengapa setelah mengalami menopause dan andropause, perempuan dan laki-laki seringkali menjadi gemuk? Menurut Riani, hal ini terjadi karena semasa muda, mereka tidak menjaga pola makannya. Walaupun penuaannya baru akan terjadi di usia 50-60 tahunan, menurut Riani, seharusnya mulai diantisipasi sejak beberapa tahun sebelumnya. Jika tidak, maka penuaan akan terjadi sejak usia 40an. Sebab, makanan yang masuk ke dalam tubuhnya tidak cukup untuk meregenerasi sel-sel tubuh. Akibatnya, tubuhnya mulai menggemuk pada umur 40-an, yang seharusnya baru terjadi pada usia 60 tahun. Meski tidak bisa dicegah datangnya, penuaan bisa diperlambat. Saat usia bertambah tua, konsumsilah makanan yang sehat dan tetaplah berolahraga. Sayangnya, masih banyak orang yang justru semakin berani menyantap apa saja ketika usianya semakin tua. "Mungkin karena sudah tidak terlalu butuh menjaga penampilan ya. Baju ketat sudah tidak dipakai, hidup lebih santai, dan tidak lagi mencari pasangan," papar Riani. http://www.dietsehat.net/?artikel=12 5. Apa kasus yang terjadi pada skenario tersebut? OBBESITAS 6. Apa saja cara menegakkan diagnosis obesitas? Ada beberapa cara untuk menegakkan diagnosis obesitas, yaitu seperti yang dijelaskan di bawah ini (Wiramihardja, 2004). 2.2.4.1.Mengukur lemak tubuh Tidak mudah untuk mengukur lemak tubuh seseorang. Cara-cara berikut memerlukan peralatan khusus dan dilakukan oleh tenaga terlatih : a. Underwater weight, yaitu pengukuran berat badan dilakukan di dalam air dan kemudian lemak tubuh dihitung berdasarkan jumlah air yang tersisa. b. BOD POD, merupakan ruang berbentuk telur yang telah dikomputeritasi. Setelah seseorang memasuki BOD POD, jumlah udara yang tersisa digunakan untuk mengukur lemak tubuh.

c.

( dual energy X-ray absorptiometry ) DEXA, menyerupai scaning tulang. Sinar x digunakan untuk menentukan jumlah dan lokasi lemak tubuh.

d. Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh diukur dengan jangka ( suatu alat terbuat dari logam yang menyerupai forceps). e. Bioelectric impedance analysis ( analisis tahanan bioelektrik ), dimana penderita berdiri di atas skala khusus dan sejumlah arus listrik yang tidak berbahaya dialirkan ke seluruh tubuh dan kemudian dianalisa. Pemeriksaan tersebut di atas bisa memberikan hasil yang tepat jika dilakukan oleh seorang ahli dan dengan cara yang tepat sesuai aturan. 2.2.4.2. Tabel berat badan-tinggi badan Tabel ini telah digunakan sejak lama untuk menentukan apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan. Tabel biasanya memiliki suatu kisaran berat badan untuk tinggi badan tertentu. Permasalahan yang timbul adalah bahwa kita tidak tahu mana tabel yang terbaik yang harus digunakan. Banyak tabel yang bisa digunakan, dengan berbagai kisaran berat badan yang berbeda. Beberapa tabel ada yang menyertakan ukuran kerangka, umur dan jenis kelamin. Kekurangan dari tabel ini adalah tabel tidak membedakan antara kelebihan lemak dengan kelebihan otot. Dilihat dari tabel, seseorang yang sangat berotot bisa tampak gemuk, padahal sesungguhnya tidak. 2.2.4.3.Body Mass Index ( BMI )

Body Mass Index ( BMI ) merupakan suatu pengukuran yang menunjukkan hubungan antara berat badan dengan tinggi badan. BMI merupakan suatu rumus matematika dimana berat badan seseorang ( dalam kg ) dibagi dengan tinggi badan ( dalam m ). BMI lebih

dihubungkan dengan lemak tubuh dibandingkan dengan indikator lainnya untuk tinggi badan dan berat badan. BMI dapat memeperkirakan lemak tubuh, tetapi tidak dapat diartikan sebagai persentase yang pasti dari lemak tubuh. Hubungan antara lemak dan BMI dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. Wanita lebih mungkin memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan pria dengan nilai BMI yang sama. Pada BMI yang sama, orang yang lebih tua memiliki lebih banyak lemak tubuh dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Keterbatasan penggunaan BMI adalah tidak dapat digunakan pada : a. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. b. Wanita hamil. c. Orang yang sangat berotot, contohnya atlet. Rumus perhitungan BMI : BMI = Berat badan ( kg ) / tinggi badan (m ), atau BMI= Berat badan ( kg ) / tinggi badan ( cm ) / tinggi badan ( cm ) x 10.000 Contoh : seseorang dengan BB 95,3 kg dan TB 182,9 cm memiliki BMI = 95,3/182,9/182,9x10.000=28,8 Interpretasi nilai untuk dewasa, tanpa memerhatikan umur maupun jenis kelamin : a. Underweight ( berat badan kurang ) : BMI < 18,5 b. Overweight ( kelebihan berat badan ) : BMI 25-29,9 c. Obesitas : BMI 30 atau lebih

BMI dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena resiko penyakit tertentu disebabkan karena kelebihan berat badannya. Seseorang dikatakan obesitas dan memerlukan pengobatan bila mempunyai BMI di atas 30.

http://www.scribd.com/doc/62340371/17/Obat-obatan 7. Apa saja tipe-tipe obesitas?


Macam Obesitas
Secara umum obesitas dapat dibagi atas dua kelompok besar: 1. Obesitas Tipe Android atau Tipe Sentral Badan berbentuk gendut seperti gentong, perut membuncit ke depan, banyak didapatkan pada kaum pria. Tipe ini cenderung akan timbul penyakit jantung koroner, diabetes, dan stroke. banyak didapatkan pada kaum pria. Tipe ini cenderung akan timbul penyakit jantung koroner, diabetes, dan stroke. 2. Obesitas Tipe Ginoid Banyak pada kaum wanita terutama yang telah masuk masa menopause, panggul dan pantatnya besar, dari jauh tampak seperti buah pir.

http://www.domeclinic.com/artikel/mengenal-obesitas.html

8. Apa komplikasi pada obesitas?


9. Obesitas dan Hipertensi

Penelitian tahun 1959 menunjukkan adanya hubungan langsung antara hipertensi dengan berat badan yang berlebihan; penelitian Framingham juga menemukan adanya kenaikan tekanan darah pada dewasa muda yang mempunyai berat badan lebih, namun masih banyak diperlukan informasi untuk menjelaskannya. Selain itu beberapa penelitian epidemiologi telah membuktikan pula adanya hubungan yang linier antara obesitas dan hipertensi; hubungan kausalnya belum dapat diketahui dengan pasti, namun dalam pengamatan selanjutnya apabila penderita obesitas diturunkan berat badannya maka tekanan darahnya akan turun pula; oleh karena itu timbul beberapa teori yang dikemukakan mengenai adanya hubungan tersebut, diantaranya yaitu : Mekanisme hemodinamik. Alexander dalam penelitiannya mendapatkan peningkatan volume darah sekuncup dan volume darah pada penderita obesitas bila dibandingkan dengan yang bukan obesitas. Juga terdapat peningkatan tahanan perifer pembuluh darah penderita obesitas normotensi bila dibandingkan dengan penderita yang bukan obesitas. Sehingga timbul pendapat bahwa peningkatan volume sekuncup, volume darah dan peningkatan tahanan perifer memegang peranan penting dalam terjadinya hipertensi pada obesitas. Aktivitas saraf simpatis James dkk. menemukan pada penderita wanita obesitas yang diturunkan berat badannya ternyata terjadi juga penurunan tekanan darah dan denyut jantung serta pada pemeriksaan

urinenya terdapat peningkatan sisa-sisa metabolisme katekolamin yaitu : 4-hidroksi 3-metoksi mandelikasid, sehingga timbul pendapat bahwa peningkatan katekolamin merupakan akibat dari aktivitas saraf simpatis yang meningkat. Endokrin Miller dkk. dalam penelitiannya mendapatkan adanya peningkatan kadar insulin dan aldosteron dalam plasma penderita obesitas. Aldosteron akan mengurangi ekskresi Na dalam glomeruli, begitu juga insulin pada percobaan binatang dengan jelas mengurangi pula sekresi Na dalam glomeruli; dalam beberapa hal keadaan ini diperkirakan juga terjadi pada manusia, sehingga adanya peningkatan insulin dan aldosteron akan menyebabkan retensi Na dalam darah yang mengakibatkan terjadinya peningkatan volume darah, yang menyebabkan hipertensi. Para peneliti tersebut di atas semua sepakat bahwa menurunkan berat badan akan menurunkan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung (dikutip dari 4). Obesitas dan Penyakit Jantung Iskemik Penelitian Framingham menunjukkan meningkatnya resiko kematian mendadak yang sangat menyolok baik pada pria ataupun wanita dengan obesitas. Wanita obesitas mempunyai resiko 13 kali lebih banyak mengalami kematian mendadak dan kesakitan dibandingkan dengan wanita yang tidak obesitas. Da hasil penelitian tersebut timbul dugaan apakah obesitas berpengaruh langsung terhadap terjadinyaarteriosklerosiskoroner. Pada penelitian terhadap binatang yang dibuat obesitas ternyata peningkatan terjadinya arteriosklerosis tidak dapat dibuktikan. Sehubungan dengan keadaan tersebut maka diadakan pengamatan pada penderita obesitas yang dengan pemeriksaan angiografi memperlihatkan sklerosis arteria koronaria, ternyata tidak terbukti pada pemeriksaan bedah mayat; oleh karena itu arteriosklerosis tidak berhubungan dengan kenaikan berat badan. Ada pendapat bahwa obesitas tidak langsung menyebabkan terjadi arteriosklerosis koroner, tetapi hanya merupakan tambahan risiko terjadinya serangan penyakit jantung koroner. Skema hubungan antara obesitas dan penyakit jantung koroner : Obesitas dan Diabetes Melittus Obesitas ternyata juga mempengaruhi metabolisme tubuh manusia; yang sangat menyolok dan sering terjadi adalah hubungan langsung antara obesitas dengan diabetes melitus. Pada obesitas kemungkinan terkena diabetes melitus. 2,9 kali lebih sering bila dibandingkan yang tidak obesitas. Di Amerika telah dilaporkan pula bahwa penderita obesitas yang umumya 20 45 tahun mempunyai kecenderungan terkena diabetes melitus 3,8 kali lebih sering bila dibandingkan dengan penderita yang berat badannya normal. Sedangkan yang

umurnya 45 75 tahun kecenderungan terjadinya diabetes melitus 2 kali lebih sering dari yang berat badannya normal. Dikemukakan pula bahwa penderita obesitas sering mengalami hiperglikemi tetapi dalam keadaan hiperinsulinisme; keadaan ini mungkin karena adanya resistensi insulin yang meningkat atau kurang pekanya reseptor insulin terhadap adanya hiperglikemi. Ada pula yang mengatakan bahwa pada penderita obes diabetik, kelainan dasarnya adalah gangguan keseimbangan kinetik sekresi insulin. Sekresi insulin terlambat sehingga kadar glukosa darah tidak dapat dikontrol secara teratur dan terdapat peningkatan sekresi insulin sehingga cenderung terjadi hiperinsulinisme yang disertai dengan peningkatan resistensi insulin. Kecuali itu, hiperglikemi dan hiperinsulinemi dapat pula disebabkan oleh karena kualitas insulin yang abnormal, adanya produk/ hormon yang bersi fat antagonis terhadap insulin atau berkurangnya jumlah reseptor yang sensitif pada membran sel. Obesitas dan Gangguan Pernafasan Pada penderita obesitas terdapat timbunan lemak pada rongga dada dan rongga perutnya sehingga akan menyebabkan ganggu an proses pernafasan; oleh karena itu pada obesitas cenderung terjadi penurunan kapasitas pant yang akan mengakibatkan penurunan fungsi paru. Kelainan ini bila dalam keadaan berat dengan tanda-tanda somnolen dan hipoventilasi disebut dengan Pickwickian syndrome. Keadaan ini akan menghilang bila penderita menurunkan berat badannya. Obesitas dan Kelainan Sendi Setiap peningkatan berat badan lebih dari normal akan menimbulkan beban yang berlebihan pada sendi penyangga berat badan, dan ini cenderung menyebabkan trauma ringan tetapi terus-menerus dan akan berakhir menjadi osteoartrosis (OA) baik primer ataupun sekunder. Engel dalam penelitiannya atas populasi penduduk yang dibagi menjadi 4 grup, ternyata grup yang mempunyai berat badan berlebihan dengan umur makin tua cenderung lebih cepat menderita OA. Sendi yang terkena adalah sendi penyangga berat badan yaitu punggung, pangkal paha, lutut dan pergelangan kaki. http://si.uns.ac.id/profil/uploadpublikasi/kedokteran/Komplikasi%20Obesitas%20dan%20Usaha%20 Penanggulangannya.pdf

10. Bagaimana terapi dari obesitas? Pengobatan Dasar 1) Diet. Dianjurkan diet dengan rendah kalori tetapi cukup gizi, ialah 15 20 kalori/kg.bb.,dengan komposisi 20% protein, 65% karbohidrat dan 15% lemak, komposisi tersebut mirip dengan komposisi diet B1 dari Askandar. Diet yang tak lazim misalnya diet hanya dengan protein saja (tiger diet), diet tidak makan nasi sama sekali, pada saat sekarang ini tidak sesuai lagi 2) Olah Raga. Di samping mempercepat metabolisme, juga dapat membuat kondisi tubuh lebih segar dan dapat menambah estetika. Olah raga dimaksudkan agar jumlah kalori yang dikeluarkan tubuh lebih banyak daripada jumlah kalori yang masuk. Dengan olah raga yang baik akan terjadi peningkatan metabolisme. 3) Obat-obatan. Obat-obatan yang banyak digunakan untuk obesitas terdiri dari obat penahan nafsu makan di antaranya alah golongan amfetamin, obat yang meningkatkan/mempercepat metabolisme tubuh misalnya preparat tiroid, obat pemacu keluarnya cairan tubuh misalnya diuretika; pencahar. Namun obat-obat tersebut bila digunakan dalam jangka panjang akan menyebabkan efek samping sangat merugikan tubuh. Oleh karena itu penggunaannya sebaiknya disertai kontrol ketat. 4) Pembedahan. Operasi jejuno-ileal by-pass dilakukan memotong sebagian usus halus yang menyerap makanan, tetapi resikonya cukup besar sehingga hal tersebut harus dilakukan dengan indikasi yang cukup kuat, yaitu apabila obesitas tak dapat diobati dengan tindakan konservatif Operasi pengambilan jaringan lemak (adipektomi), lebih cenderung bersifat estetika. Pengobatan terhadap komplikasi 1) Hipertensi Pada prinsipnya hampir semua peneliti dan para ahli berpendapat bila berat badan ditumnkan maka tekanan darah akan turun dengan sendirinya. Tetapi kadang-kadang diperlukan juga pengobatan antihipertensi; juga perlu diperhatikan apakah penderita obesitas menggunakan obat-obat yang dapat

meningkatkan tekanan darahnya. 2) Penyakit Jantung Iskemik Seperti apa yang telah dibicarakan di atas, obesitas bukan merupakan penyebab langsung terjadinya penyakit jantung iskemik, tetapi hanya merupakan faktor resiko saja; (lihat skema) Apabila aktivitas fisik dijalankan dengan baik dan teratur maka kemungkinan terjadinya penyakit jantung iskemik akan berkurang. 3) Diabetes Melittus Penderita obes dengan diabetes melitus diberi diit rendah kalori yaitu 15 20 kalori/kg bb/hari. Selain itu sering didapatkan kurangnya sensitivitas terhadap pemberian insulin tetapi responsif terhadap sulfonil urea. Pemberian insulin harus dengan dosis yang lebih tinggi, kemudian ditumnkan secara perlahan-lahan. Askandar (1980) menetapkan penumnan dosis tersebut sebesar 2 unit per kali, disertai peningkatan penggunaan OAD sampai adekuat. 4) Osteoartrosis Pada obesitas dengan kelainan sendi (OA), tindakan utama adalah memberikan diet untuk menurunkan berat badan dengan tujuan mengurangi beban pada sendi penyangga berat badan; bila nyeri sekali sebaiknya sendi diistirahatkan dan dilakukan fisioterapi, bila tak teratasi dapat diberikan obat-obatan anti radang nonsteroid (NSAID), kadang-kadang dapat pula diberikan steroid intra artikuler http://si.uns.ac.id/profil/uploadpublikasi/kedokteran/Komplikasi%20Obesitas%20dan%20Usaha%20 Penanggulangannya.pdf 11. Bagaimana metabolisme karbohidrat dan asam lemak yang berhubungan dengan kegemukan?

Tambahan

Adapun peranan hormon dalam regulasi kenaikan berat badan adalah sebagai berikut : 1. Ghrelin Ghrelin adalah suatu hormone Gastrointestinal yang meningkatkan perilaku makan. Ghrelin merupakan suatu hormone yang dilepaskan terutama oleh sel oksintik lambung tetapi juga dilepaskan dari usus dalam jumlah yang lebih sedikit. Kadar

ghrelin dalam darah meningkat selama puasa, meningkat sesaat sebelum makan, dan menurun drastic setelah makan, yang mengisyaratkan bahwa hormone ini mungkin berperan untuk merangsang perilaku makan. 2. Leptin Leptin yaitu suatu hormone peptide yang dilepaskan dari sel sel lemak (adiposit). Leptin mungkin berperan penting dengan cara mengirimkan sinyal dari jaringan lemak ke otak bahwa energy telah disimpan dalam jumlah yang cukup dan asupan makanan tidak lagi diperlukan saat itu. Dengan mutasi yang membuat sel lemaknya tidak mampu untuk memproduksi leptin atau mutasi yang menimbulkan defek reseptor leptin di hipotalamus, akan muncul hiperfagia yang berat dan obesitas yang parah. Akan tetapi pada sebagian besar orang dengan obesitas, defisiensi produksi leptin sepertinya tidak ditemukan karena kadar leptin dalam plasma meningkat sebanding dengan penambahan jaringan adipose. Ahli fisiologi meyakini bahwa obesitas mungkin disebabkan oleh resistensi leptin : yaitu reseptor leptin atau jaras sinyal pasca reseptor yang normalnya diaktivasi oleh leptin, mengalami gangguan pada orang dengan obesitas yang terus menerus makan meski kadar leptin sangat tinggi.