Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Salah satu faktor yang menentukan tingkat kesejahteraan dan kesehatan manusia adalah gizi. Gizi merupakan faktor penting yang memegang peranan dalam siklus kehidupan manusia terutama bayi dan anak yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa (Depkes, 2002). Salah satu permasalahan gizi yang tergolong klasik di Indonesia, yang sampai saat ini belum dapat ditanggulangi dengan tuntas adalah masalah gizi kurang atau yang dikenal dengan Kurang Energi Protein (KEP). Menurut data dari Menteri Kesehatan tahun 2003, kasus balita gizi kurang di Indonesia mencapai angka 27,5%, angka ini dinilai cukup tinggi oleh WHO. Studistudi di banyak negara berkembang mengungkapkan bahwa penyebab utama terjadinya gizi kurang dan hambatan pertumbuhan pada anak-anak usia 3-15 bulan berkaitan dengan rendahnya pemberian ASI dan buruknya praktek pemberian makanan pendamping ASI (Shrimpton, 2001). Pada bayi usia di atas usia 6 bulan harus sudah diperkenalkan dan diberikan makanan pendamping ASI karena produksi ASI mulai menurun dan tidak lagi memenuhi kebutuhan fisiologis untuk tumbuh kembang anak. MP-ASI yang diberikan harus memperhatikan kebutuhan gizi bagi bayi, waktu pemberian, frekuensi , porsi, pemilihan bahan makanan, cara pembuatan dan cara pemberiannya (Depkes, 2003). Pemberian makanan padat atau tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu pemberian ASI ekslusif meningkatkan angka kesakitan, serta mempengaruhi status gizi bayi. Selain itu, tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian makan padat atau tambahan pada usia 4 bulan atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (Pudjiaji, 2001). Secara umum prevalensi balita gizi kurang di propinsi Bali sebesar 8,2%. Kabupaten Klungkung termasuk salah satu dari 3 kabupaten di Bali yang memiliki prevalensi gizi kurang tertinggi yaitu sebesar 9,8%. Data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2009 menunjukkan konsumsi MP-ASI secara dini
1

cukup besar yaitu sebanyak 35% pada bayi usia kurang dari 2 bulan dan 37% pada usia 2-3 bulan. Data ini menunjukkan masih banyaknya masyarakat yang memberikan MPASI terlalu dini kepada bayi mereka yang tentunya dapat mempengaruhi keadaan gizi dan tumbuh kembang serta kesehatan bayi mereka. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya pengetahuan orang tua terutama ibu menyusui mengenai pemberian MP-ASI. Dari data Riskesdas tahun 2007 dan SKDI tahun 2009 tersebut, peneliti tergerak untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat di wilayah kerja puskesmas Dawan I mengenai pemberian MP-ASI kepada bayi mereka, untuk itu peneliti melakukan wawancara singkat terhadap 10 ibu menyusui yang berkunjung ke puskesmas Dawan I Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, di dapatkan bahwa 8 dari 10 ibu yang memiliki bayi berusia 0-12 bulan masih berpegang pada prinsip bahwa makanan pendamping ASI sebaiknya diberikan sedini mungkin. Selain itu, dari wawancara singkat tersebut juga didapatkan kenyataan bahwa hampir sebagian besar ibu menyusui, yaitu 8 dari 10 ibu bekerja. Di sisi lain hasil wawancara singkat tersebut juga menunjukkan bahwa 7 dari 10 ibu menyusui tidak mengetahui jenis makanan apa yang sebaiknya diberikan sebagai pendamping ASI dan kapan sebaiknya makanan pendamping tersebut diberikan. Dan seluruh ibu yang menjalani wawancara singkat mengatakan bahwa mereka memberikan makanan sebagai pendamping ASI hanya berdasarkan pengalaman saja. Dari wawancara dalam wawancara singkat tersebut juga didapatkan fakta bahwa 7 dari 10 ibu menyetujui pemberian makanan pendamping ASI diberikan sedini mungkin. Dari hasil wawancara singkat, ini secara kasar dapat disimpulkan bahwa hampir sebagian besar masyarakat khususnya ibu menyusui yang berkunjung ke puskesmas Dawan I belum mengetahui mengenai MP-ASI baik dari segi waktu pemberian, frekuensi, bentuk makanan yang sesuai usia anak, maupun cara pemberiannya sehingga memberikan makanan pendamping ASI lebih dini. Selain hasil dari wawancara singkat tersebut, dari keterangan pihak puskesmas yang diperkuat dengan data laporan kinerja tahunan puskesmas Dawan I tahun 2010 didapatkan bahwa puskesmas Dawan I belum memiliki program yang spesifik untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan ibu menyusui mengenai MP-ASI dalam upaya perbaikan gizi masyarakat. Pihak puskesmas Dawan I mengakui hanya memiliki program penyuluhan ASI eksklusif dalam upaya perbaikan gizi masyarakat, namun

demikian upaya tersebut pun hanya mencapai 55,06% target dari 100% target yang ingin dicapai. Dari hasil wawancara singkat dan data laporan kinerja tahunan puskesmas Dawan I tahun 2010 tersebut menunjukkan bahwa puskesmas Dawan I belum memiliki sasaran dan intervensi yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu-ibu menyusui mengenai MP-ASI. Sehubungan dengan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran perilaku ibu pada bayi usia 0-12 bulan dalam memberikan makanan pendamping ASI berdasarkan karakteristik, sikap, dan pengetahuan ibu di wilayah kerja puskesmas Dawan I Kecamatan Dawan,

Kabupaten Klungkung, sehingga nantinya dapat dipergunakan untuk perencanaan program yang lebih lanjut di puskesmas Dawan I dalam upaya perbaikan gizi masyarakat di wilayah kerja puskesmas tersebut.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian sebelumnya, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana gambaran perilaku ibu pada bayi usia 0-12 bulan dalam memberikan makanan pendamping ASI berdasarkan karakteristik, sikap dan pengetahuan ibu di wilayah kerja puskesmas Dawan I Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.

1.3

Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu pada bayi usia 0-12 bulan dalam memberikan MP-ASI di wilayah kerja puskesmas Dawan 1 Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. 1.3.1 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Dawan I Klungkung 2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu mengenai pemberian makanan pendamping ASI di wilayah kerja Puskesmas Dawan I Klungkung 3. Untuk mengetahui sikap ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI di wilayah kerja Puskesmas Dawan I Klungkung
3

4.

Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI di wilayah kerja Puskesmas Dawan I Klungkung

5.

Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI berdasarkan karakteristik ibu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Dawan I Klungkung

6.

Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu berdasarkan pengetahuan ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI di wilayah kerja Puskesmas Dawan I Klungkung

7.

Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu berdasarkan sikap ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI di wilayah kerja Puskesmas Dawan I Klungkung

1.4

Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan sebagai pengalaman dalam merealisasikan teori yang telah didapat dibangku kuliah, khususnya mengenai mengenai hubungan pengetahuan ibu tentang MP-ASI dengan perilaku dalam Pemberian MP-ASI dalam rangka peningkatan gizi anak. 2. Bagi Institusi Puskesmas Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak puskesmas dalam melakukan intervensi dan pemantauan ke posyandu-posyandu berkaitan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) bagi ibu-ibu yang baru menyusui.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Dasar Pengetahuan Tentang Makanan Pendamping ASI

2.1.1 Pengertian Pengetahuan Tentang Makanan Pendamping ASI Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo,2003). Pengetahuan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah pengetahuan tentang makanan tambahan yang diberikan pada bayi berusia 6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. (Yenrina, 2008 ). Peranan MP-ASI sama sekali bukan untuk menggantikam ASI, melainkan hanya untuk melengkapi ASI (Krisnatuti, 2006). 2.1.2 Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoatmojo (2003), ada enam tingkatan pengetahuan yang terdiri dari : 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. 2) Memahami (Comprehension) Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. 4) Analisis Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain. 5) Sintesa Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 6) Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi / objek. 2.1.3 Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut Notoatmojo (2003), ada 2 macam cara untuk memperoleh pengetahuan: a. Cara Tradisional 1) Cara coba salah (trial and error) Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. 2) Cara kekuasaan atau otoritas Para pemegang otoritas, baik pemimpin pemerintahan, tokoh agama, maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama di dalam penemuan pengetahuan. Prinsip ini adalah, orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa apa yang dikemukakannya sudah benar. 3) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi dapat digunakaan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. 4) Melalui Jalan Pikiran Dalam memperoleh pengetahuan menusia telah menggunakan jalan pikirannya, cara ini melahirkan pemikiran secara tak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan kemudian dicari hubungannya dapat dibuat suatu kesimpulan. b. Cara Modern atau Cara Ilmiah Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut juga metode penelitian ilmiah atau metodologi penelitian. Pendekatan ilmiah merupakan pendekatan yang paling tepat atau mencari kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang berstruktur dan sistematis serta dalam pengumpulan dan menganalisa datanya didasarkan pada prinsip validitas dan reabilitas. Metode ini dikombinasi dengan pemikiran yang logis baik dengan pendekatan induktif maupun deduktif, sehingga akan mampu menciptakan problem solving yang kuat, akurat dan tepat daripada tradisi, autoritas, pengalaman serta trial dan error (Notoatmodjo, 2003).

2.1.4. Pengaruh Pengetahuan Terhadap Perilaku Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sebelum orang menghadapi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan, yakni: a. Awareness/kesadaran, yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (obyek) terlebih dahulu. b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus. c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial, orang telah mencoba perilaku baru. e. Adaptation, subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan.

2.2

Konsep Dasar Perilaku Tentang MP-ASI

2.2.1. Definisi Perilaku Tentang MP-ASI Menurut Notoadmodjo (2003), perilaku merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek. Perilaku ibu tentang Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah perilaku ibu terhadap makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, yang diberikan kepada balita atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain ASI (Depkes RI, 2006). 2.2.2. Ciri Perilaku Menurut Walgito (2003), sikap merupakan faktor yang ada pada diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku yang tertentu. Walaupun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong lain yang ada dalam diri manusia. Oleh karena itu untuk membedakan perilaku dengan pendorong-pendorong yang lain, ada beberapa ciri dari perilaku tersebut adalah: a. Perilaku itu tidak dibawa sejak lahir Perilaku tidak dibawa sejak lahir dan berarti sikap itu terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu perilaku itu dibentuk atau terbentuk, maka sikap itu dapat dipelajari dan karenanya perilaku itu dapat berubah, walaupun demikian perilaku itu mempunyai kecenderungan adanya sifat yang agak tetap (mempunyai kecenderungan stabil) sekalipun sikap itu dapat mengalami perubahan. b. Perilaku itu selalu berhubungan dengan obyek perilaku Perilaku itu selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan obyekobyek peneliti, yaitu melalui proses persepsi terhadap obyek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan obyek tertentu, akan menimbulkan Perilaku tertentu pula dari individu terhadap obyek tersebut. c. Perilaku dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi juga dapat tertuju pada obyek lain. Bila seseorang mempunyai perilaku yang negatif pada seseorang, orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan perilaku yang negatif pula kepada kelompok dimana seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Perilaku itu berlangsung lama atau sebentar, perilaku itu telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang, secara relatif Perilaku itu akan lama bertahan pada diri orang yang bersangkutan. Perilaku tersebut akan sulit berubah
8

dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang relatif lama. Tapi sebaliknya bila sikap itu belum begitu mendalam ada dalam diri seseorang, maka sikap tersebut akan mudah berubah. e. Perilaku itu mengandung faktor dan motivasi Perilaku terhadap sesuatu faktor tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif tetapi juga dapat bersifat negatif terhadap obyek tersebut. Di samping itu perilaku juga mengandung motivasi dan berarti bahwa perilaku itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap obyek yang dihadapinya. 2.2.3 Teori Perilaku Lawrence Green (1980) Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Menurut Green, kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh : 1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya. 2) Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan sebagainya. 3) Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat 2.4.2 Tujuan Pemberian Makanan Pendamping ASI Tujuan pemberian MP-ASI adalah (RSCM dan Persagi, 1994) : 1) Melengkapi zat gizi yang kurang terdapat dalam ASI 2) Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam makanan dengan berbagai tekstur dan rasa 3) Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan
9

4) Melakukan adaptasi terhadap makanan yang mengandung kalori energi yang tinggi 2.4.3 Waktu Pemberian Makanan Pendamping ASI Makanan pendamping ASI harus mulai diberikan ketika bayi tidak lagi mendapat cukup energi dan nutrien dari ASI. Untuk kebanyakan bayi, makanan tambahan mulai diberikan pada usia 6 bulan. Pada usia ini otot dan saraf di dalam mulut bayi cukup berkembang untuk mengunyah. Sebelum usia 4 bulan, bayi akan mendorong makanan keluar dari mulutnya karena mereka belum bisa mengendalikan gerakan lidahnya dengan baik (WHO, 2003). Tabel 1. Jadwal Pemberian Makanan pada Bayi
Umur 0-6 bulan 6-9 bulan Jenis makanan ASI/PASI ASI/ASI Makanan Lumat ASI/PASI Makanan lembek Waktu Tanpa dijadwal Tanpa dijadwal Pagi, siang, sore/malam Tanpa dijadwal Pagi, siang, sore/malam

9-12 bulan

Sumber: nadesul 2005 2.1.6 Jenis Makanan Pendamping ASI Jenis makanan pendamping ASI yang dapat diberikan menurut WHO, adalah sebagai berikut : 1. Bubur / sup dari makanan pokok (serealia, umbi-umbian dan buah-buahan yang bertepung ) 2. Kacang-kacangan (Misalnya merah, kacang polong dan kacang hijau) 3. Sumber makanan hewani (makanan dari hewan) 4. Sayuran berdaun hijau dan buah-buahan 5. Minyak, lemak dan gula.

10

Depkes RI tahun 2002 telah membuat bagan pemberian MP-ASI menurut golongan umur, seperti yang tertera dibawah ini:

Tabel 2. Pola Pemberian MP-ASI menurut Golongan Umur


Golongan umur ASI Pola pemberian ASI/MP-ASI MP-ASI Makanan lumat + 0-6 6-9 9-12 + + + + + Makanan lembek

Sumber : Departemen Kesehatan RI Tahun 2002

A. Pola Pemberian ASI/ MP-ASI pada Bayi 0-6 bulan Pemberian ASI mulai diberikan sesegera mungkin setelah melahirkan. Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. ASI diberikan pada bayi secara bergantian payudara kiri dan kanan tiap kali sampai payudara kosong. ASI diberikan setiap kali bayi menangis tanpa jadwal. Pemberian ASI 8-10 kali setiap hari termasuk pemberian pada malam hari sudah memenuhi gizi bayi (Depkes, 2002). B. Pola Pemberian ASI/MP-ASI pada Bayi 6-9 bulan Pemberian ASI tetap diteruskan setelah bayi berusia 6 bulan. Bayi mulai diperkenalkan makanan pendamping ASI mulai usia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan, makanan pertama yang diberikan untuk anak adalah makanan lumat, yakni bubur susu dan buah. Selama 2 minggu pertama, anak cukup diberi dua jenis makanan ini. Pemberian MP-ASI berbentuk lumat halus dapat berupa bubur susu, biskuit yang ditambahkan dengan air atau susu, pisang dan pepaya yang dilumatkan. Pemberian makanan lumat ini dimulai dalam bentuk encer dan jumlahnya sedikit. Secara bertahap, makanan dikentalkan serta jumlahnya ditambah. Pemberian secara bertahap ini perlu dilakukan karena sampai usia ini, jenis makanan yang paling bayi kenal adalah ASI (bayi masih tetap membutuhkannya sampai usia 2 tahun). Untuk buah, sebaiknya disajikan dengan cara
11

disaring dan mulailah dengan buah berserat rendah. Misalnya, jeruk, pisang, pepaya, dan avokad. C. Pola Pemberian ASI/MP-ASI pada bayi 9-12 bulan Pemberian ASI tetap diteruskan. Bayi mulai diperkenalkan dengan makanan padat dalam bentuk makanan lembek (nasi tim bayi). Pada usia ini, bayi sering memegang makanan sendiri, sehingga dapat diberikan biskuit atau pisang. Bayi dapat diberikan makanan selingan paling sedikit 1 kali sehari dan makanan lembek sedikitnya 3 kali sehari (Depkes, 2003). Tabel 3. Pola Pemberian Makanan Bayi
Umur 0-6 bulan 6-9 bulan Jenis dan frekuensi ASI/PASI sekehendak ASI/PASI sekehendak Sari buah 1-2x sehari Makanan Lumat 2x ASI/PASI 2x Sari Buah 1-2x Makanan Lumat 1x Makanan Lembek 2x

9-12 bulan

Sumber: Nadesul 2000 Bentuk Makanan a) Makanan Lumat Adalah semua makanan yang dimasak atau disajikan secara halus yang diberikan pertama kali kepada bayi disamping ASI. Beberapa contoh makanan lumat adalah bubur tepung, bubur beras encer, nasi pisang dilumatkan dn sebagainya. Apabila makanan tersebut hanya terdiri dari 1-2 macam bahan makanan sebaiknya dianjurkan untuk menambah bahan makanan ketiga kedalam makanan tersebut sehingga lengkap. Misalnya bubur tepung ditambah tempe dilumatkan dan sayuran hijau, nasi pisang sebelum ditambah ikan atau tahu b) Makanan Lembek Merupakan peralihan dari makanan lumat menjadi makanan orang dewasa. Dapat berupa: bubur beras, nasi lembek, ketupat, dan lain-lain yang biasanya disertai dengan lauk pauk tertentu. Untuk makanan ini sebaiknya dianjurkan dilengkapi dengan sayuran warna hijau.
12

2.1.7

Pengaturan MP-ASI secara Tepat dan Benar ASI betapapun baik mutunya sebagai makanan bayi belumlah merupakan jaminan bahwa gizi bayi selalu baik, kecuali ASI tersebut diberikan secara benar dan tepat. Baik makanan pendamping ASI haruslah mendekati mutu ASI dalam arti dapat memberikan semua unsur gizi esensial yang diperlukan oleh bayi. Mutu protein makanan harus baik dapat memenuhi kebutuhan akan berbagai asam amino esensial. Disamping itu diberikan harus sebanding dengan kebutuhan kalori dan protein dan zat gizi lainnya untuk bayi dan anak sampai usia 6 tahun. Dengan memperhatikan MP-ASI yang tepat dan benar maka kemungkinan bayi tidak akan mendapatkan penyakit. MP-ASI mutu gizinya harus baik seperti susu sapi atau bahan makanan sumber protein hewani dalam jumlah yang cukup. Makanan yang disiapkan sebagai MP-ASI adalah makanan yang sangat terbuka akan berbagai kontaminasi, baik waktu membuatnya maupun waktu

menyimpannya. Ini berarti penyapihan ASI akan diikuti oleh meningkatnya kemungkinan terjadi infeksi terutama infeksi pencernaan (Moehji, 2000).

2.1.8

Resiko Pemberian MP-ASI yang terlalu Dini Menurut Pudjiadi (2000), bayi belum siap untuk menerima makanan semi padat kira-kira berumur 6 bulan dan makanan itu belum dirasakan perlu sepanjang bayi tersebut mendapatkan ASI yang cukup. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya berbagai penyakit seperti gangguan menyusui, beban ginjal yang terlalu berat dan mungkin gangguan terhadap selera makan.

2.3.1

Resiko Jangka Pendek a. Gangguan Menyusu

Pengenalan makanan selain ASI secara dini akan menurunkan frekuensi dan intensitas pengisapan bayi, sehingga resiko untuk terjadinya penurunan ASI semakin besar. b. Penurunan Absorbsi besi dari ASI

Pengenalan serealia dan sayur-sayuran tertentu mempengaruhi penyerapan zat besi dari ASI, walaupun konsentrasi zat besi dalam ASI rendah tetapi lebih mudah. c. Penyakit diare

Resiko Jangka Panjang


13

Menurut Syarief (1993), beberapa resiko jangka panjang pemberian MP-ASI sejak dini adalah: a. Obesitas Pemberian makanan pada bayi sejak usia dini dapat mengakibatkan kegemukan pada bayi. Bayi yang mendapat ASI tampaknya dapat mengatur masukan konsumsi sehingga konsumsi mereka dapat disesuaikan dengan kebutuhannya. b. Beban Ginjal yang berlebihan dan hiperosmolaris Makanan padat yang mengandung kadar Natrium Khlorida(NaCl) tinggi yang akan menambah beban bagi ginjal. Beban tersebut masih ditambah oleh makanan pendamping lainnya yang mengandung daging. c. Arteriosklerosis Peranan faktor diet dalam patogenesis dan penyakit jantung iskemik tidak dipungkiri lagi. Faktor nutrisi yang terlibat disini antara lain: diet yang mengandung tinggi energi atau kalori dan kaya akan kolesterol serta lemak-lemak jenuh, sebaliknya kandungan lemak tak jenuh yang rendah. d. Alergi terhadap makanan Alergi makanan adalah suatu reaksi yang timbul pada tubuh setelah seseorang mengkonsumsi suatu jenis makanan. Reaksi ini dipicu oleh kondisi kekebalan tubuh pada orang tersebut. Bila salah satu dari orang tua memiliki riwayat alergi makanan, resikonya pada anak meningkat sampai 20-30%. Jika kedua orang tua alergi, resikonya pada anak naik lagi hingga 40-70%. Belum matangnya sistem kekebalan usus pada bayi umur muda dapat menyebabkan banyak terjadinya alergi terhadap makanan pada masa kanak-kanak. Pemberian susu sapi atau makanan pendamping yang dini menambah terjadinya alergi terhadap makanan. Tandatanda anak mengalami alergi makanan, adalah jika setelah orang tua memberinya satu jenis makanan, bayi menunjukkan gejala-gejala, antara lain: ruam di kulit, diare, muntah.

14

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN

VARIABEL INDEPENDEN

VARIABEL DEPENDEN

KARAKTERISTIK IBU Umur Pendidikan Pekerjaan Penghasilan

PENGETAHUAN IBU DALAM MEMBERIKAN MP-ASI

SIKAP IBU DALAM MEMBERIKAN MP-ASI

PERILAKU IBU DALAM MEMBERIKAN MP-ASI

Mengadopsi teori perilaku Lawrence Green, peneliti menyusun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI untuk anak mereka. Berdasarkan teori Green, perilaku ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu faktor pendukung ( fasilitas dan sarana kesehatan, sumber
15

daya manusia yang berkualitas ), faktor predisposisi (pengetahuan, kepercayaan, dan sikap ibu), faktor pendorong ( artikel WHO mengenai pemberian ASI dan MP-ASI, Depkes RI). Pengetahuan ibu sebagai variabel yang akan diteliti dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal ( usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, keadaan ekonomi, pengalaman mengurus anak) dan faktor eksternal (dukungan keluarga, lingkungan rumah). Pengetahuan ibu akan mempengaruhi perilaku ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI), yang akan berpengaruh terhadap status gizi, tumbuh kembang anak, dan kejadian sakit anak.

16

BAB V JADWAL PENELITIAN

5.1 Kegiatan Penelitian dan Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian Kegiatan penelitian meliputi : a. Persiapan : Pembuatan proposal, pemilihan dan pembuatan alat pengumpul data,

pemilihan sampel dari buku register kunjungan Puskesmas Dawan I, yaitu ibu yang memiliki bayi umur 0-12 bulan yang berkunjung ke Puskesmas Dawan I selama periode Januari hingga April 2011. b. c. d. e. f. Pengumpulan data Pengolahan data : editing, coding, perekaman data, dan analisis data Seminar hasil analisis Penulisan laporan Penggandaan laporan akhir Alokasi waktu kegiatan dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 4. Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian
Minggu Kegiatan Persiapan : Pembuatan proposal Pembuatan instrumen Listing/sampling Pengumpulan data Pengolahan data : Editing Coding Data entry Data cleaning 17 I II III IV V VI

Analisis Seminar hasil analisis Penulisan laporan Penggandaan hasil

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Penganar. Jakarta : Rineka Cipta, hal. 2-8. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), (2009), Pangan dan Kesehatan Bab V Makanan Pendamping ASI, available: http//:www.medicastore.com, [Diakses pada tanggal 27 Mei 2011]. Suyatno, (2008, May- Last Update), Pengaruh Pemberian Makanan Pendamping ASI tradisional terhadap kejadian Diare Pada Bayi, available: http: //digilib.litbang.depkes.go.id [Diakses pada tanggal 28 Mei 2011]. Soetjiningsih, (1995), Tumbuh Kembang Anak, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, Hal. 127-140. Puskesmas Dawan I Klungkung, (2010), Laporan Kinerja Puskesmas Dawan I Tahun 2010. Klungkung, hal 25-26. Anonymous, (2011, May- Last Update), How to Wean Your Baby, available: http: //www.breastfeeding-mom.com [Diakses pada tanggal 27 Mei 2011]. WHO, IDAI, (2005). Pemberian Makanan Bayi Pada Situasi Darurat. Jakarta, hal 1-3 WHO, (2008). Infant and young child feeding. available: http: // www.who.int [Diakses pada tanggal 28 Mei 2011]. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2003), Kebijakan dan Strategi Nasional Dalam Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat, Jakarta, hal. 2-8. Anonymous, (2008, May-Last Update), Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI. available: http: //www.gizi.net [Diakses pada tanggal 27 Mei 2011].

18