Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN Sepuluh tahun terakhir wajah bisnis di dunia telah mengalami perubahan yang buruk, banyaknya bisnis yang

hancur membawa akibat penderitaan kepada masyarakat luas. Salah satu penyebab kehancuran bisnis tersebut yaitu adanya pengabaian etika didalam lini bisnis mereka. Pengabaian etika adalah dilakukannya suatu kegiatan yang dianggap benar oleh manajemen dan para pengambil keputusan, namun membawa dampak merugikan atau dianggap salah oleh pihak lain. Contoh pengabaian etika itu sendiri antara lain adalah, praktek kecurangan dalam pembuatan laporan keuangan, penyuapan, window dressing, dan lain sebagainya. Salah satu faktor timbulnya sikap pengabaian etika ini karena adanya usaha perusahaan dalam mencapai tujuan utamanya, dimana tujuan utamanya adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya sekecil-kecilnya. Untuk memperoleh keuntungan tersebut, maka manajemen bisa mencapai nya dengan melakukan tindakan yang mempertimbangkan etika atau dengan melakukan tindakan yang tidak mempertimbangkan etika. Itu semua tergantung kepada keputusan yang diambil oleh manajemen eksekutif didalam suatu lingkup perusahaa. Setiap keputusan yang diambil oleh manajemen tentu menimbulkan resiko. Jika keputusan yang diambil oleh manajemen tersebut menimbulkan suatu kerugian, berdampak negatif oleh pihak lain atau pihak eksternal perusahaan, maka itu berarti manajemen telah mengabaikan prinsipprinsip etika bisnis dan etika profesi yang ada dan menanggung resiko etika. Resiko merupakan sesuatu yang melekat dalam setiap gerak langkah tindakan. Resiko tidak bisa dihilangkan, tetapi resiko bisa dikurangi dengan cara mengelola resiko tersebut. Dinamika pengabaian etika yang seperti inilah yang akhirnya memunculkan skandal seperti korporasi Enron dan Arthur Andersen, WorldCom, Tragedi Lumpur Lapindo, Kasus PT Adam Sky Connection Airlines dan beberapa skandal bisnis yang membawa keruntuhan bagai kerajaan bisnis mereka. Untuk mengurangi resiko etika yang membawa dampak buruk bagi lingkungan bisnis dan entitas yang terkait, maka pengelolaan resiko etika dan manajemen krisis sangat dibutuhkan.

PEMBAHASAN
I. Pengelolaan Resiko Etika 1

Etika merupakan suatu nilai atau norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah laku (Bertens, 2001). Pengertian resiko etika adalah suatu kemungkinan dilanggarnya etika yang disebabkan oleh ketidak mampuan perusahaan atau institusi dalam memenuhi harapan stakeholder. Beberapa contoh resiko etika dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1
para stakeholder yang tidak dapat dipenuhi Pemegang saham ( Shareholder ) Resiko Etika

- Adanya perilaku penggelapan dana dan asset - Adanya konflik kepentingan dengan para eksekutif
perusahaan

- Kejujuran dan Integritas - Pertanggung jawaban yang


dapat diprediksi

- Tingkatan performa perusahaan yang tidak sesuai


dengan keinginan para pemegang saham

- Kejujuran dan pertanggung


jawaban

- Keakuratan dan transparasi laporan keuangan


Karyawan

- Kejujuran dan integritas - Kewajaran - Keadilan

- Keamanan kerja - Pembedaan - Memperkerjakan


anak dibawah umur pemerasaan tenaga buruh Pelanggan

dan - Keadilan

- Keamanan produk - Performa perusahaan


Lingkungan

- Keterbukaan - Kewajaraan - Integritas dan Pertanggung


jawaban

- Terciptanya Polusi

Suatu organisasi perusahaan harus fokus untuk tetap bertahan berkelanjutan sesuai dengan asumsi going concern, maka untuk itu diperlukan pengelolaan resiko etika yang ada, agar perusahaan dapat mencapai tujuannya secara efisien dan efektif. Pengelolaan resiko etika pada praktik bisnis kini mulai menyadari bahwa meskipun manajemen risiko cenderung berfokus kepada masalah-masalah non-etis, bukti yang ada menunjukkan bahwa penghindaran bencana dan kegagalan juga memerlukan perhatian kepada masalah risiko etika. Manajemen resiko etika berarti suatu tindakan untuk meminimalisir suatu hal yang tidak diinginkan atau bencana yang dihasilkan dari prinsip-prinsip etika yang diabaikan oleh suatu kelompok/entitas.

Berikut akan dijelaskan mengenai identifikasikan penilaian resiko etika yang dibagi menjadi beberapa tahap, adalah sebagai berikut:
1. Melakukan penilaian dan identifikasi para stakeholder perusahaan

Dalam tahap ini manajemen membuat daftar mengenai apa saja dan siapa saja para stakeholder yang berkepentingan, dan apa harapan mereka. Setelah melengkapi tahapan ini semua, investigator hendaknya memiliki pemahaman mengenai bentuk kepentingan stakeholder mana saja yang sensitif dan penting, dan kenapa hal itu penting bagi stakeholder. Kemudian, investigator harus mengkonfirmasikan penilaian mereka ini dengan berinteraksi dengan sebuah panel stakeholder representatif dan dengan sekelompok penting stakeholder. Dengan demikian, maka akan menunjukkan adanya perhatian perusahaan terhadap kepentingan stakeholder dan dapat membuka sebuah dialog yang dapat membangun rasa saling percaya, yang nantinya juga dapat membantu jika pada suatu hari nanti muncul masalah yang tidak menguntungkan.
2. Menilai risiko ketidaksanggupan perusahaan dan peluang perusahaan

Penilaian ketidaksanggupan perusahaan ini melalui memperbandingkan kemampuan aktivitas perusahaan dengan harapan yang diinginkan oleh Stakeholders. Dari hasi penilaian itu didapatkan penilaian resiko terhadap ketidak sanggupan dalam memenuhi harapan stakeholder. Tetapi, perusahaan juga bisa mendapatkan peluang yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memenuhi harapan stakeholder itu secara lebih, sehingga dapat memberikan respon positif dari stakeholder tersebut. Didalam melaksanakan penilaian tersebut harus menggunakan enam nilai hypernrm, yaitu: kejujuran, keadilan, simpati, integritas, prediktabilitas dan tanggungjawab. 3. Meninjau Ulang Perbandingan Akitivitas dan Ekspektasi Perusahaan dari Perspektif Dampak Reputasi Perusahaan Menurut Charles Fombrun reputasi sendiri bergantung pada empat faktor, yaitu kejujuran, kredibilitas, reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi kerangka kerja dalam melakukan perbandingan.

4. Melakukan Pelaporan Setelah tahap ketiga selesai, maka manajemen dapat menyiapkan laporan kepada masing-masing stakeholder. Laporan tersebut harus dibuat dengan mempertimbangkan

kelompok stakeholder, produk atau jasa, tujuan perusahaan, nilai-nilai hypernorm, dan elemen-elemen penentu reputasi. Empat tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan direktur dan eksekutif dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara untuk menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut. Beberapa direktur perusahaan cenderung menganggap penilaian resiko etika ini merupakan bagian dari tanggung jawab auditor eksternal. Berdasarkan SOX, menyatakan bahwa auditor eksternal tidak diharapkan melacak hal-hal immaterial, peluang dan resiko nonfinansial. Auditor eksternal bertanggungjawab untuk melakukan pengujian terhadap sistem pengendalian internal perusahaan, tetapi tidak diwajibkan untuk menemukan setiap masalah yang ada didalam perusahaan klien. Berdasarkan Sarbanes-Oxley Act (SOX), manajemen perusahaanlah yang diharapkan untuk melaporkan sistem pengendalian internal dan auditor eksternal harus melaporkan sistem tersebut berdasarkan laporan manajemen itu. Manajemen yang bertanggungjawab untuk merancang dan mereview prosedur manajemen, mengindentifikasi peluang dan resiko etika perusahaan. Belakangan ini profesi akuntan banyak mendapatkan sorotan tajam terkait beberapa skandal bisnis yang melibatkan akuntan. Profesi akuntan dinilai telah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan hanya demi kepentingan stockholder. Hal ini merupakan salah satu resiko etika yang ada diluar area internal manajemen. Sebagai contoh kasus KAP Arthur Andersen di Amerika yang melakukan pengabaikan etika, pengabaian harapan stake holder dan melakukan kecurangan profesi demi kepentingan diri sendiri dan perusahaan Enron telah secara telak menjerumuskan mereka kepada kehancuran. Kejadian tersebut telah merugikan banyak pihak dan mencoreng kehormatan profesi akuntan dan menjadi salah satu puncak stigma masyarakat yang sangat mengganggu dan merisaukan para praktisi akuntansi.

II.

Manajemen Krisis Krisis merupakan suatu kejadian besar dan tidak terduga yang memiliki potensi untuk

berdampak negative atau positif. Krisis merupakan keadaan yang tidak stabil dimana perubahan yang cukup menentukan mengancam, baik perubahan yang tidak diharapkan atau perubahan yang diharapkan akan memberikan hasil yang lebih baik (Steven Fink, 1986:5). Kejadian ini
4

bisa saja menghancurkan organisasi dan karyawan, produk, jasa, kondisi keuangan dan reputasi (Laurance Borton, 1993:2). Organisasi yang memikirkan dampak negative yang mungkin ditimbulkan dari suatu krisi akan berusaha untuk mempersiapkan diri sebelum krisis tersebut terjadi. Bahkan ada peluang dimana organisasi dapat mengubah krisis menjadi suatu kesempatan untuk memperoleh dukungan publik. Esensi manajemen krisis adalah upaya untuk menekan faktor ketidakpastian dan faktor resiko hingga tingkat serendah mungkin, dengan demikian akan lebih mampu menampilkan sebanyak mungkin faktor kepastiannya. Menurut Murphy (2009) dalam artikelnya yang berjudul The Relevance Of Responsibility To Ethical Business Decision ada beberapa bentuk tanggungjawab pelaku bisnis yaitu legal, corporate, managerial, sosial, konsumen dan masyarakat. Akhirnya, model stakeholder menekankan pentingnya mengembangkan hubungan saling percaya dan kerjasama dengan pemangku kepentingan (Jones, 1995), dan menyediakan kerangka kerja untuk menggambarkan bagaimana perusahaan mengelola, keseimbangan, dan menanggapi kebutuhan simultan berbagai pemangku kepentingan (Freeman & Phillips, 2002, p 334;. Rowley, 1997, hal 907). Dimana pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya harus mempertimbangkan hal-hal tersebut. Kepatuhan pada Kode Etik ini merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan dan memajukan reputasi perusahaan sebagai karyawan & pimpinan perusahaan yang bertanggung jawab, dimana pada akhirnya akan memaksimalkan nilai pemegang saham (shareholder value). Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan krisis terjadi, yaitu: a. Penyebab Umum Penyebab ini diantaranya disebabkan oleh gangguan kesejahteraan dan rasa aman dan tanggungjawab sosial diabaikan. b. Penyebab Khusus Penyebab khusus ini diantaranya disebabkan oleh: -

Kesalahan pengelola yang mengganggu lapisan bawah organisasi Penurunan profit yang tajam Penyelewengan Perubahan permintaan pasar Kegagalan atau penarikan produk, dll

Dampak dari krisis tersebut adalah: 1. Intensitas permasalahan akan bertambah 2. Masalah akan dibawah sorotan public baik melalui media massa atau informasi dari mulut kemulut 3. Masalah akan mengganggu nama baik perusahaan 4. Masalah akan menganggu kelancaran bisnis sehari-hari 5. Masalah dapat merusak system kerja dan mengoncang perusahaan secara keselurahan Untuk meminimalisir dampak yang disebabkan oleh krisis tersebut, maka dibutuhkan suatu manajemen didalam mengurangi dampak tersebut, yang dinamai dengan manajemen krisis. Manejemen krisis yaitu suatu pengelolaan, penanggulangan, pengendalian krisis hingga pemulihan citra perusahaan (Corporate Image Recovery). Berikut ini merupakan strategi didalam manajemen krisis, yaitu: 1. Menganalisi dan merinci masalah krisis 2. Mengambil keputusan apa yang akan dilaksanakan 3. Melaksanakan keputusan untuk mengurangi krisis utama 4. Menganalisis tiga kegiatan tersebut, untuk menentukan berhasil atau tidak 5. Menghubungi pejabat yang kompeten atau berwenang Manajemen krisis dapat dilakukan dengan 2 tahapan, yaitu: a. Program tahunan manajemen krisis Program program ini dapat dilakukan dalam bentuk, :
- P. Preventive : program pencegahan - P. Damage Limitation: program membatasi dampak krisis, yaitu dengan cara

mengoreksi dan mengisolasi - P. Maintanance of Image Erison: program memelihara kemerosotan citra perusahaan - P. Recovery : program pemulihan keadaan - P. Simulation : Program perencanaan simulasi - P. Security and Safety : Program perencanaan pengamanan dan system keselamatan b. Tahapan menangani krisis Pada tahap ini dilakukan suatu tindakan yang tepat yang sesuai dengan tingkat serta jenis krisis yang dihadapi.

Dari sisi risk management, sejumlah langkah di bawah ini perlu dilakukan untuk melindungi perusahaan dari risiko politik, yaitu :
1. Seorang manajer risiko harus melakukan perencanaan dan due diligence, karena banyak

sekali pengusaha yang memulai bisnis mereka di negara atau daerah yang tidak mereka pahami/kenal tanpa meluangkan waktu untuk memastikan apakah ada kesempatan untuk meraih kesuksesan yang lebih baik daripada kesuksesan yang diperoleh saat ini.
2. Kembangkan dan bina hubungan baik dengan aparat-aparat pemerintah dan tokoh

masyarakat lokal yang terkait / ada hubungannya dengan bisnis anda, karena hal ini merupakan pendekatan yang disarankan, walaupun hal ini tidak selalu perlu untuk dilakukan
3. Ciptakan hubungan baik dengan pekerja lokal untuk mendapatkan suatu lingkungan

investasi yang risiko politiknya sangat kecil. Seringkali, pengusaha-pengusaha asing dirasakan tidak menghargai orang-orang yang bekerja bagi mereka. Hal ini dapat menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan. Contoh peristiwa kerusuhan yang terjadi di Batam, kepulauan Riau pada bulan April 2010 antara para pekerja dan manajemen PT Drydock World Graha, perusahaan galangan kapal milik pengusaha asal Timur Tengah. Para pekerja melakukan aksi anarkis dengan menggelar sweeping terhadap para pekerja warga negara asing, membakar & merusak mobil2 dan ruangan kantor. Hal ini disebabkan karena timbulnya kemarahan para pekerja yang mayoritas warga negara Indonesia akibat perkataan seorang manajer berkewarganegaraan India yang sering mengatakan, Orang Indonesia bodoh !
4. Perkuat peranan CSR (Corporate Social Responsibility) terutama di lingkungan

komunitas terdekat dengan lokasi usaha, sehingga masyarakat lokal tidak merasa terpinggirkan.
5. Pertimbangkan manfaat / keuntungan menggunakan asuransi terhadap risiko politik

(Political Risk Insurance/ PRI) untuk risiko politik yang akan dihadapi pengusaha dalam menjalankan perusahaannya di suatu negara / daerah. Politik bisa begitu bergejolak di berbagai tingkat. Pengusaha harus cerdas dalam mengatasi dampak buruknya dengan risk manajemen yang tepat. KASUS Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT Kimia Farma Tbk

PT Kimia Farma Tbk adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di Indonesia. Manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 Milyar, dan laporan keuangan tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM). Hasil audit pada tanggal 31 Desember 2001 menunjukan bahwa laporan keuangan wajar tanpa pengecualian. Akan tetapi, Kementrian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada tanggal 3 Oktober 2002, manajemen Kimia Farma mensajikan kembali laporan keuangannya, dan menyajikan laba bersihnya hanya Rp. 99,56 Milyar, lebih rendah Rp. 32,6 Milyar dari laba awal yang dilaporkan. Perbedaan itu merupakan suatu kesalahan penyajian daftar harga persediaan yang digelembungkan oleh pihak manajemen. Direktur produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan pada tanggal 1 dan 3 Febuari 2002. Daftar harga persediaan pada tanggal 3 Febuari 2002 telah digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar penilaian persedian pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001. Selain itu kesalahan timbul pada unit Industri Bahan Baku yang mencatat terlalu tinggi (overstated) penjualan sebesar Rp 2,7 Miliyar. Kesalahan penyajian didalam penjualan ini dikarenakan adanya pencatatan ganda. Pencatatan ganda ini dilakukan pada unit-init yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi. Berdasarakan hasil penyelidikan Bapepam, KAP HTM telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan tersebut. Selain itu KAP HMT juga terbukti membantu manajemen melakukan kecurangan. Keterikatan Manajemen terhadap Skandal Kimia Farma, Tbk yaitu pada mantan direksi PT Kimia Faram Tbk terbukti melakukan pelanggaran dalam kasus mark-up laba bersih pada laporan keuangan tahun buku 2001. Pihak manajemen menciptakan rekayasa keuangan sehingga dengan sengaja membuat kesalahan didalam pencatatan laporan keuangan Kimia Farma tahun buku 2001. Hal ini tentu menimbulkan pernyataan yang menyesatkan kepada pihak yang berkepentingan. Aktivitas manipulasi pencatatan laporan keuangan yang dilakukan oleh manajemen tentunya tidak terlepas dari bantuan akuntan. KAP seharusnya bertindak secara independen karena mereka adalah pihak yang bertugas memeriksa dan melaporkan adanya ketidakwajaran dalam pencatatan laporan keuangan. Pada kenyataannya KAP HTM tidak menemukan ketidakwajaran didalam laporan auditnya pada tahun 2001, tetapi pada saat Kementrian BUMN meminta KAP HTM menyajikan kembali (restated) laporan keuangan Kimia Farma tahun 2001, hasilnya HTM mengoreksi laba bersih Kimi Faram menjadi 99 Milyar untuk tahun 2001.

Hal tersebut telah menyebabkan akuntan publik HTM ikut bersalah dalam manipulasi laporan keuangan. Karena sebagai seorang auditor independen akuntan HTM seharusnya mengetahui laporan-laporan yang diauditnya itu apakah berasal dari laporan fiktif atau tidak. Keterkaitan Manajemen Resiko Etika disini adalah pada pelaksanaan audit oleh KAP HTM selaku badan independen, kesepakatan dan kerjasama dengan klien/ Stake Holder (PT. Kimia Farma), dan pemberian opini atas laporan keuangan Klien. Dalam Kasus ini, jika dipandang dari sisi KAP HTM, maka urutan stake holder utama ditinjau dari segi kepentingan stake holder adalah: 1. Klien atau PT Kimia Farma Tbk 2. Pemegang saham 3. Masyarakat luas Dalam kasus ini, KAP HTM menghadapi sanksi yang cukup berat dengan dihentikannya jasa audit mereka. Hal ini terjadi bukan karena kesalahan KAP HTM semata yang tidak mampu melakukan review menyeluruh atas semua elemen laporan keuangan, tetapi lebih karena kesalahan manajemen Kimia Farma yang melakukan aksi manipulasi dengan penggelembungan nilai persediaan. Kasus yang menimpa KAP HTM ini adalah resiko inheren dari dijalankannya suatu tugas audit. KAP HTM seharusnya menyadari bahwa kemungkinan besar akan ada resiko manipulasi seperti yang dilakukan PT. Kimia Farma, mengingat KAP HTM adalah KAP yang telah berdiri cukup lama. Resiko ini berdampak pada reputasi HTM dimata pemerintah ataupun publik, dan pada akhirnya HTM harus menghadapi konsekwensi resiko seperti hilangnya kepercayaan public dan pemerintah akan kemampuan HTM, penurunan pendapatan jasa audit, hingga yang terburuk adalah kemungkinan di tutupnya kantor Akuntan tersebut. Diluar resiko bisnis, resiko etika yang dihadapi KAP HTM ini cenderung pada kemungkinan dilakukannya kolaborasi dengan manajemen Kimia Farma dalam manipulasi laporan keuangan. Manajemen resiko yang dapat diterapkan oleh KAP HTM antara lain, yaitu: 1. Mengidentifikasi dan menilai resiko etika Pengidentifikasian dan penilaian resiko etika dapat diaplikasikan pada tindakan sebagai berikut: a. Melakukan penilaian dan identifikasi para stake holder HTM, HTM selayaknya membuat daftar mengenai siapa stake holder yang berkepentingan dan apa harapan stakeholder. Tujuannya yaitu KAP HTM dapat melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan stakeholder melalui pembekalan kepada para auditor senior dan junior sebelum melakukan audit pada Kimia Farma.

b. Mempertimbangkan kemampuan SDM HTM dengan ekspektasi para stakeholder,

dan menilai risiko ketidak sanggupan SDM HTM dalam menjalankan tugas audit c. Mengutamakan reputasi KAP HTM Yaitu dengan berpegang pada nilai-nilai hypernorm, seperti kejujuran,kredibilitas, reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi kerangkakerja dalam melakukan perbandingan. Empat tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan Pimpinan KAP HTM dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara untuk menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut. 2. Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stake holder KAP HTM dapat melakukan pengelompokan stake holder dan me ratingnya dari segi kepentingan, dan kemudian menyusun rencana untuk berkolaborasi dengan stake holder yang dapat memberikan dukungan dalam penciptaan strategi, yang dapat memenuhi harapan para stake holder HTM.

KESIMPULAN 1. Resiko etika adalah suatu kemungkinan dilanggarknya etika yang disebabkan oleh ketidak mampuan perusahaan/institusi dalam memenuhi harapan. 2. Manajemen resiko etika adalah tata kelola yang menjunjung kode etik sehingga dapat meminimalkan ketidakmampuan perusahaab dalam memenuhi harapan stakeholder.
3. Kehancuran praktek bisnis yang terjadi beberapa tahun belakangan ini disebabkan oleh

pengabaikan etika oleh pihak bisnis dan pihak terkait sehingga hasilnya membawa

10

dampak kerugian bagi praktik bisnisnya. Oleh sebab itu perusahaan memerlukan manajemen resio etika 4. Manajemen krisis adalah suatu pengelolaan, penanggulangan, pengendalian krisisi hingga pemulihan citra perusahaan, sangat dibutuhkan untuk menghindari masalah yang timbul dari pengabaian resiko etika yang ada.

DAFTAR PUSTAKA Bertens, K. (2000). Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Cara Efektif Mengelola Resiko, dikutip pada Wednesday, Mei 30, 2012, 10:22:14 AM, http://Cara Efektif Mengelola Risiko DJAJENDRA MENJAWAB.htm Duska, R., & Duska, B. (2005). Accounting Ethics. Blackwell Publishing Freeman, R.E. and Phillips, R.A. (2002), Stakeholder Theory: A Libertarian Defense, Business Ethics Quarterly, Volume 12, Number 3, pp. 331350.

11

Leonard J. Brooks (2004). Business & Professional Ethics for Accountants. South- Western College Publishing

12