Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Sistem Tenaga Listrik
Berdasarkan bentuk dayanya sistem tenaga listrik dapat terdiri atas sistem
daya arus searah dan sistem daya arus bolak balik. Pada awal sejarah kelistrikan,
sistem pertama yang digunakan secara komersial adalah menggunakan sistem daya
arus searah, namun sistem ini menemui banyak kendala terutama masalah rugi-rugi
daya yang besar, sehingga sistem penyaluran daya ini memiliki luas area yang
terbatas. Sejak diketemukannya transformator daya, sistem daya listrik arus searah
diganti dengan sistem daya arus bolak balik yang memiliki keunggulan seperti
rugi-rugi daya yang kecil sehingga memungkinkan pengiriman daya dapat
menempuh jarak yang jauh. Didalam sistem daya arus bolak balik itu sendiri
terbagi atas sistem satu fasa dan sistem 3 fasa. Pengiriman daya dengan sistem 3
fasa lebih menguntungkan karena kapasitas daya yang disalurkan lebih besar, nilai
sesaatnya konstan, dan memiliki medan magnet putar.
Secara garis besar sistem tenaga listrik dapat diklasifikasikan menjadi 3
bagian yaitu sistem pembangkit tenaga listrik , sistem transmisi daya listrik dan
sistem distribusi daya listrik
Gambar 1.1 Sistem tenaga listrik
Pada sistem pembangkit, energi listrik diproduksi melalui proses konversi
energi, dimana energi primer di ubah menjadi energi listrik. Beberapa sumber
energi primer konvensional adalah energi minyak bumi, batu bara, gas alam, panas
bumi, potensial air, dan nuklir. Beberapa istilah penyebutan sistem pembangkit
dikaitkan dengan jenis sumber energi yang digunakan untuk memutar generator
listrik seperti : PLTU ( tenaga uap ), PLTG ( tenaga gas), PLTP ( panas bumi),
PLTA (tenaga air), PLTGU ( tenaga gas uap), PLTN ( tenaga nuklir), PLTD
(tenaga diesel), , dan sebagainya. Dewasa ini dikembangkan pula beberapa pusat
tenaga listrik alternatif seperti pusat-pusat listrik tenaga surya, tenaga angin, panas
laut, gelombang laut, biogas, sampah, mikrohidro, magneto hydro dynamic, dan
sebagainya. Tegangan keluaran dari generator listrik pada pusat pembangkit
biasanya berkisar antara 6 kV s/d 24 kV, oleh karena itu untuk mengirimkan daya
listrik dari pusat pusat pembangkit yang umumnya jauh dari pusat-pusat beban,
maka tegangan generator tersebut dinaikkan ke tingkat tegangan yang lebih tinggi
melalui transformator daya dan dikirimkan melalui saluran-saluran transmisi daya .
Penaikan tegangan berguna untuk menekan rugi-rugi daya yang terjadi sepanjang
kawat penghantar saluran transmisi.
Sistem penyaluran daya melalui sistem transmisi dapat dilakukan melalui
saluran udara dimana kawat penghantar merupakan konduktor telanjang (bare
conductor) yang digantung pada tiang-tiang menara transmisi. Sedangkan yang
kedua adalah saluran bawah tanah (underground) dimana kabel-kabel daya ditanam
didalam tanah. Pada umumnya saluran transmisi memakai jenis saluran udara
karena biayanya jauh lebih murah dibandingkan sistem bawah tanah, namum
kerugiannya sistem transmisi peka terhadap gangguan eksternal. Sistem transmisi
bawah tanah meskipun mahal terutama harga kabel dayanya, namum memiliki
beberapa keuntungan yaitu diantaranya sistem tidak mudah terpengaruh oleh
gangguan eksternal, memiliki nilai estetika, dan memberikan faktor keamanan
yang lebih baik, itulah sebabnya sistem ini biasanya hanya dipakai didaerah
perkotaan atau kawasan industri.
Ketika saluran transmisi mendekati pusat pusat beban, tingkat tegangan
diturunkan ketingkat tegangan menengah dan rendah melalui transformator
distribusi, untuk selanjutnya dikirimkan atau didistribusikan secara langsung ke
beban beban listrik. Sistem pengiriman daya ini dikenal sebagai sistem distribusi.
Berdasarkan tingkat tegangan yang dikenakan, maka dikenal sistem distribusi
primer ( tegangan menengah ) dan sistem distribusi sekunder (tegangan rendah).
Pada beban beban industri besar yang membutuhkan daya tinggi, maka biasanya
suplai daya listrik diperoleh langsung dari tingkat tegangan transmisi, sedangkan
untuk industri menengah biasanya suplai daya diambil dari saluran distribusi
primer. Pada sistem distribusi, beban beban listrik biasanya diklasifikasi atas
beban industri, komersial dan rumah tangga.
Berdasarkan nilai tingkat tegangannya, maka dikenal pula istilah istilah
yang umum digunakan
UHV ( Ultra High Voltage ) V > 1000 KV
EHV (Extra High Voltage)..275 kV < V < 800 kV
HV (High Voltage) . 110 kV <V< 230 kV
MHV (Medium High Voltage) ..1kV < V < 70 kV
LV (Low Voltage) V < 1 kV
1.2 Tegangan Transmisi
Untuk daya yang sama, maka daya guna penyaluran karena rugi-rugi daya
menjadi turun. Semakin tinggi tingkat tegangan, maka semakin turun harga rugi-
rugi dayanya, namun akan berdampak semakin tingginya biaya isolasi, peralatan-
peralatan listrik dan gardu induk. Oleh karena itu perencanaan pemilihan tingkat
tegangan yang akan diterapkan perlu meperhitungkan faktor-faktor besarnya daya
yang disalurkan, jumlah rangkaian, jarak penyaluran, keandalan, biaya peralatan
untuk tegangan tertentu, dan sebagainya.
Tingkat tegangan transmisi standar yang dikenakan disuatu negara biasanya
berbeda dengan dinegara lain. Beberapa standar tegangan transmisi yang dikenakan
dibeberapa negara adalah 132kV , 330 kV, 380 kV, 440 kV, 700 kV, dan dinegara
maju seperti Amerika telah diatas 1000 kV. Untuk di Indonesia tingkat tegangan
transmisi yang saat ini dipakai adalah 150 kV ( HV) dan 500 kV (EHV).
1.3 Tegangan Jatuh
Jatuh tegangan pada saluran transmisi adalah selisih antara tegangan pada
pangkal pengiriman (sending end) dan tegangan pada ujung penerimaan (receiving
end) tenaga listrik. Pada sistem arus bolak balik besarnya jatuh tegangan
bergantung pada impedans, dan admitans saluran, serta beban dan faktor daya.
Sebuah saluran transmisi pendek dapat direpresentasikan seperti pada gambar
dibawah ini.
Vs
VR
Is IR Z = R + jX
VD

R S
I I

R R S
V Z I V +
Z I V
R D


R S D
V V V
Dengan :
I
S
= arus disisi pengirim
I
R
= arus disisi penerima
V
S
= tegangan disisi pengirim
V
R
= tegangan disisi penerima
Z = impedans saluran
V
D
= tegangan jatuh
tegangan jatuh relatif dinamakan regulasi tegangan dinyatakan melalui
persamaan :

% 100 % x
V
V V
V
R
R s
D

Untuk jarak dekat regulasi tegangan tidak berarti (hanya beberapa % saja), tetapi
untuk jarak sedang dan jauh dapat mencapai 5 - 15%.
1.4. Rugi Daya Transmisi
Rugi daya pada saluran transmisi ditimbulkan oleh resistans penghantar
konduktor. Untuk sistem tiga fasa tiga kawat pada saluran transmisi pendekm rugi
daya dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :
l R I P
loss
2
3
Dengan : R = resistans konduktor per-fasa ( ohm/km)
I = arus beban (A)
l = panjang saluran (km)
Pada saluran panjang, arus pengisi perlu diperhitungkan , jika jatuh tegangan
diabaikan sehingga distribusi arus pemuat linier maka rugi daya dutentukan melalui
persamaan :
)
3
1
sin . ( 3
2 2
c c loss
I I I I Rl P +
Dengan I
c
= Arus pengisi pada titik pengiriman (A)
cos = faktor daya
Rugi-rugi daya yang terjadi selama waktu tertentu merupakan energi listrik yang
hilang. Pada operasi ekonomis, kehilangan energi pertahun perlu dipertimbangkan.
Faktor rugi - rugi tahunan (annual loss factor) merupakan perbandingan
kehilangan energi tahunan rata-rata dan rugi daya pada beban maksimum yang
dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :

) ( 8760 ) ( max
) (
jam x kW imum beban daya Rugi
kWH tahunan hilang yang Energi
F
RT

Dalam hubungan dengan faktor beban (load factor), dapat dipakai persamaan
pendekatan sebagai berikut :

2
) ( 7 , 0 3 , 0
BT BT RT
F F F +

8760
max
x P
W
F
t
BYT

Dengan : F
RT
= faktor rugi tahunan
F
BT
= faktor beban tahunan
W
t
= energi diterima beban selama setahun (kWH)
P
max
= daya maximum beban (kW)
1.5 Efisiensi Transmisi
Efisiensi (daya guna) dari saluran transmisi adalah perbandingan antara
daya yang diterima dengan daya yang dikirimkan ke beban.

Loss R
R
S
R
P P
P
x
P
P
+
% 100

Dengan : P
R
= daya yang diterima oleh beban (kW)
P
S
= daya yang dikirim ke beban (kW)
P
Loss
= rugi-rugi daya pada saluran transmisi (kW)
Efisiensi transmisi rata-rata tehunan adalah :

Loss R
R
S
R
W W
W
x
W
W
+
% 100
Dengan : W
R
= energi yang diterima oleh beban (kWh)
W
S
= energi yang dikirim ke beban (kWh)
W
Loss
= hilang energi pada saluran transmisi (kWh)

1.6 Komponen-komponen Utama Saluran Transmisi Udara
Secara umum komponen komponen utama dari saluran transmisi daya
listrik arus bolak balik terdiri atas :
a. Menara transmisi (tower)
b. Isolator isolator
c. Kawat Penghantar (conductor)
d. Kawat tanah (ground wire)
1.6.1 Menara transmisi
Menara atau tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran
transisi. Menara ini dapat terbuat dar bahan baja, tiang-tiang baja, beton bertulang
dan kayu. Tiang-tiang baja, beton atau kayu umumnya digunakan pada tegangan
kerja rendah (< 70kV), sedangkan untuk transmisi tegangan tinggi dan ekstra tinggi
digunakan menara baja.
Gambar Bermacam-macam kontruksi menara transmisi
1.6.2 Isolator
Isolator-isolaator selain digunakan sebagai penyekat antara bagian-bagian
kawat fasa dengan bagian kontruksi menara/tiang atau tanah, juga berguna sebagi
pengait atau penopang kawat kawat saluran transmisi udara. Isolator ini terbuat
dari bahan porselen yang memiliki beberapa jenis seperti isolator gantung
(suspension type ), pasak ( pin type ) dan pos saluran (line post type). Isolator
gantung terdiri dari dua macam yaitu clevis type dan ball and socket type, yang
masing-masing terbuat dari bahan porselen dengan tutup dari besi tempa disatu
pihak dan pasak baja dipihak lain yang keduanya diikatkan pada porselennya
dengan semen berkwalitas baik. Pada jenis isolator gantung ini, masing-masing
isolator memiliki kekuatan dielektrik, sehingga untuk menyesuaikan dengan
tingkat kebutuhan tegangan transisi, isolator gantung dapat dirangkai secara seri
untuk meningkatkan kekuatan dielektrik isolator agar mampu menahan tegangan
kerja transmisi. Isolator gantung yang saling dirangkaikan satu sama lainnya ini
biasanya dikenal sebagai isolator rantai. Untuk jenis pasak dan pos saluran, bagian
bawahnya diberi tutup (cap) besi cor yang disemenkan dengan porselin dan pasak
besi yang disekrupkan padanya. Karena itu untuk kedua jenis isolator ini tidak dapat
dirangkai satu sama lainnya, namun berdiri sendiri, sehingga kekuatan mekanisnya
rendah, sehingga untuk jenis ini tidak dibuat untuk ukuran besar.
Gambar Macam-macam isolator saluran transmisi daya
Isolator jenis pin dan pos saluran biasanya digunakan untuk jaringan
distribusi hantaran udara tegangan menengah dan dipasang pada tiang tanpa beban
tekuk
Gambar isolator pin dipasang pada tiang tanpa beban tekuk
Isolator pos saluran biasanya digunakan untuk distribusi hantaran udara tegangan
menengah, dipasang pada tiang yang mengalami gaya tekuk.
Hal yang terpenting dari isolator adalah memahami karakteristik isolator
guna mencegah kegagalan isolasinya. Ada dua karakteristik isolator yaitu
karakteristik listrik dan karakteristik mekanis. Pada karakteristik listrik isolator
berkaitan dengan distribusi tegangan yang dikenakan pada isolator. Pada dasarnya
isolator merupakan suatu kapasitans. Pada isotor gantung yang dirangkai menjadi
isolator rantai, distribusi tegangan pada masing-masing kapasitor tidak merata
karena pengaruh kapasitans.
c1
c1
c1
c1
c2
c2
c2
c3
c2
c2
Konduktor
Konduktor
Menara
Gambar isolator yang identik dengan kapasitans

Aplikasi isolator pada saluran transmisi akan menemui permasalahan yang
disebabkan oleh kehadiran bahan bahan polutan seperti debu, garam, kelembaban,
dan sebagainya. Sebagai contoh misalnya pada saluran-saluran transmisi yang
melintasi daerap pantai, kontaminasi garam pada permukaan isolator merupakan hal
yang sering terjadi. Kehadiran bahan-bahan polutan ini berdampak pada degradai
kekuatan bahan dielektrik pada isolator yang terkontaminasi tersebut. Bahan-bahan
kontaminaasi dapat menyebabkan nilai kapasitans membesar, disamping itu
penurunan kekuatan bahan isolasi dapat menimbulkan busur api yang dapat
berkembang menjadi loncatan api (flash over). saat konduktor dikenakan tegangan
tinggi. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kontaminasi
garam dan debu adalah :
1. Penambahan isolator gantung pada rangkaian isolator rantai untuk
meningkatkan kekuatan dielektriknya.
2. Pencucian isolator dengan menyemprotkan air pada permukaan isolator
(umumnya dilakukan pada keadaan bertegangan)
3. Melapisi permukaan isolator dengan campuran silikon untuk menangkal air.
Pemburukan isolator (deteorisation) dapat terjadi akibat penuaan isolator akibat
usia pakai, atau kecacatan atau keretakan pada bagian isolasinya akibat faktor-
faktor kimia, flash over, dsb. Pemburukan isolator dapat mengakibatkan kegagalan
isolasi atau breakdown.
Karakteristik mekanis isolator merupakan sifat isolator terhadap kekuatan
mekanis isolator dalam memikul beban kerja kawat penghantar saluran transmisi.
Porselen sebagai bahan isolasi isolator tersebut memiliki sifat sebagai besi cor
dengan kuat tekan yang besar dan kuat tarik lebih kecil. Kuat tariknya biasanya 400
900 kg/cm
2
, sedangkan kuat tekannya mencapai 10 kali lebih besar.
1.6.3 Kawat Penghantar
1.6.3.1 Macam-macam penghantar
Kawat penghantar pada saluran transmisi udara berupa kawat-kawat tanpa
isolasi atau kawat telanjang (bare conductor) yang dapat berbentuk padat (solid),
berlilit(stranded) dan berongga (hollow) dan berkas (bundled)
solid stranded holow bundled
Gambar macam-macam penampang konduktor
Kawat konduktor tersebut dapat terbuat dari logam biasa seperti
alumunium, tembaga, besi), logam campuran (alloy) yaitu logam alumuniun atau
tembaga yang diberi campuran dalam jumlah tertentu untuk menaikkan kekuatan
mekanisnya, dan logam paduan (composite) yang terdiri dari dua buah jenis logam
atau lebih yang dipadukan dengan cara kompresi, peleburan atau pengelasan,
dengan cara paduan ini dikenal kawat baja berlapis tembaga atau alumunium.
Jenis-jenis kawat penghantar yang biasa digunakan pada saluran transmisi adalah
tembaga dengan konduktivitas 100%(Cu 100%), tembaga dengan konduktivitas
97,5% (Cu 97,5%) atau alumunium dengan konduktivitas 61% (Al 61%).
Beberapa jenis kawat penghantar terbuat dari alumuniun adalah :
1. AAC ( All Alumunium Conductor ), kawat konduktor terbuat seluruhnya
dari bahan alumunium
2. AAC (All Alumunium Alloy Conductor) , kawat konduktor yang
seluruhnya terbuat dari campuran alumunium.
3. ACSR (Alumunium, Conductor Steel Reinforced), kawak konduktoor
alumunium berinti kawat baja
4. ACAR (Alumunium Conductor Alloy Reinforced) yaitu kawat konduktor
alumunium yang diperkuat dengan logam campuran
Masing-masing jenis penghantar memiliki karakteristik berbeda, misalnya pada
kawat tembaga tarikan (hard-drawn) memiliki konduktivitas tinggi namun kuat
tariknya (tensile strength) tidak cukup tinggi untuk instalasi tertentu. ACSR
memiliki konduktivitas lebih rendah, namum memiliki kekuatan mekanis lebih
tinggi dan berat lebih ringan dibandingkan jenis tembaga tarikan. Disamping itu
ACSR memiliki diameter lebih besar untuk nilai resistans yang sama dibandingkan
kawat tembaga tarikan, sehingga ACSR sangat cocok untuk penggunaan tegangan
tinggi dilihat dari segi korona. Pada kawat tembaga campuran (alloy) memiliki
konduktivitas lebih rendah tetapi memiliki kekuatan tarik lebih tinggi dibandingkan
kawat tembaga tarikan, sehingga cocok untuk penggunaan pada gawang (span)
yang lebih besar. Untuk kawat alumunium campuran memiliki kekuatan mekanis
yang lebih tinggi dibandingkan alumunium murni, sehingga jika digunakan
diperkuat baja (alumunium alloy conductor steel) dapat dipakai untuk gawang yang
lebih besar.
Kawat konduntor baja memiliki kuat tarik mekanis yang tinggi, namun
memiliki konduktivitas yang rendah, namum demikian kawat ini digunakan untuk
gawang yang besar atau kawat tanah. Untuk meningkatkan konduktivitas, kawat
baja dapat dilapisi oleh alumuniun maupun tembaga. Beberapa hal penting yang
perlu diketahui dalam kawat penghantar adalah karekteristik listrik, karakteristik
mekanis kapasitas penghantar (Ampacity), dan andongan penghantar.
Gambar Contoh kawat penghantar jenis ACSR
1.6.3.2 Karakteristik Penghantar
Karakteristik listrik meliputi resistans, induktans dan kapasitans yang akan
dibahan secara terperinci pada bab berikutnya. Pada dasarnya besarnya resistans
penghantar bergantung pada resistivitas jenis penghantar, panjang penghantar dan
luas permukaan penghantar seperti ditunjukkan dalam pesamaan berikut ini :
A
L
R
dc

Dengan :
R
dc
= resistans kawat saluran (ohm)
L = panjang kawat (m)
A = luas penampang penghantar (m
2
)
= resistivitas penghantar (ohm-m)
. Sedangkan nilai resistans itu sendiri dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan
temperatur konduktor

[ ] ) ( 1
1 2 1 1 2
t t R R
t t t
+
Dengan : R
t2
= tahanan pada temperatur t
2

R
t1
= tahanan pada temperatur t
1
t1
= Koefisien temperatur dari tahanan pada temperatur t
1
o
C yang
nilainya adalah :
Temperatur konduktor dipengaruhi baik secara internal (rugi-rugi daya) maupun
secara eksternal ( temperatur ambient, dan radiasi matahari ).
Karakteristik mekanis merupakan kekuatan tarik dari penghantar. Besarnya
kuat tarik ini bergantung pada jenis konduktor yang digunakan. Kekuatan tarik akan
meningkat dengan bertambahnya jumlah atau banyaknya campuran yang
digunakan. Disamping itu kawat penghantar konduktor ini dapat terjadi
pemanjangan (elongation) yang diakibatkan oleh pemuaian konduktor saat
temperatur konduktor mengalami kenaikan. Pemanjangan ini menunjukkan
elastisitas bahan konduktor.
1.6.3.4 Kapasitas Penghantar
Kapasitas Penghantar menyatakan arus maksimun yang diizinkan mengalir
pada penghantar itu sendiri. Kapasitas ini dibatasi oleh temperatur konduktor.
Sedangkan temperatur maksimum yang diizinkan pada konduktor adalah 90
o
C
untuk pembebanan kontinyu. Menurut Ts Hutauruk (1985) menjelaskan bahwa
kemampuan hantar arus kawat telanjang dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
R
D
W
H H
I
e
r w

'

,
_

+ +

)
( ) ( )
D
v
T
H
w
123 , 0
2 / 273 2
00572 , 0
+ +

4 4
100
273
100
273
000576 , 0

,
_

,
_

+ +

T T
H
r
Tahanan konduktor adalah :
R = R
20
[ 1 + (t 20
o
) ] (2.7)
Kenaikan temperatur konduktor :
= t T (
o
C) ..(2.8)
dengan
I = Rating termis konduktor (A)
H
w
= Koefisien didipasi panas konveksi
H
r
= Koefifien disipasi panas radiasi (W
o
/C-cm
2
)
R = tahanan konduktor pada temperatur t (ohm/cm)
R
20
= tahanan konduktor pada temperatur 20
o

= Kenaikan temperatur konduktor (
o
C)
T = temperatur sekeliling (
o
C)
W
s
= energi radiasi matahari (W/cm
2
), diasumsikan 0,1
= koefifien permukaan, diasumsikan 0,1
D = diamater total konduktor
V = kecepatan angin (m/detik)
= koefisien temperatur tahanan (1/
o
C)
t = temperatur konduktor (
o
C)
Dengan mengamati persamaan diatas maka terlihat bahwa tahanan konduktor
dipengaruhi oleh perubahan temperatur konduktor, sementara besarnya temperatur
konduktor sangat dipengaruhi oleh arus listrik yang mengalir pada konduktor dan
perubahan temperatur sekeliling konduktor. Berdasarkan hal itu maka dapat
dinyatakan bahwa besarnya kapasitas penghantar dipengaruhi oleh perubahan
temperatur pada konduktor itu sendiri.
1.6.3.5 Gejala Korona
Pada saat konduktor bertegangan, maka disekitar konduktor timbul medan
listrik dan medan listrik tertinggi terjadi pada permukaan konduktor. Besarnya
medan listrik ini bergantung kepada jari-jari atau diameter kondukor dan kehalusan
permukaan konduktor. Semakin kecil diameter konduktor maka kuat medan listrik
dipermukaan konduktor semakin besar. Jika kuat medan listrik dipermukaan
konduktor melebihi kekuatan dielektrik udara atau kuat medan disekitarnya, maka
pada udara atau media disekitar konduktor tersebut akan terjadi pelepasan muatan
sebagian (partial discharge) yang akan menimbulkan panas. Corona dapat dilihat
secara jelas pada kondisi gelap berupa munculnya cahaya-cahaya putih disekitar
konduktor dan menimbulkan suara. Kerugian corona antara lain dapat menimbulkan
degradasi kekuatan dielektrik isolator jika corona terjadi pada konduktor dekat
isolator, menimbulkan gangguan suara berupa audible noise, rugi-rugi daya dan
interferensi komunikasi. Untuk mengurangi corona dapat dilakukan dengan
memperbesar diameter konduktor atau dengan konduktor berkas. Penambahan
diameter konduktor jarang dilakukan karena selain tidak ekonomis, juga membuat
konduktor menjadi kaku, oleh karena itu konduktor berkas lebih banyak digunakan
untuk mengurangi korona. Konduktor berkas memiliki banyak konfigurasi, seperti
penggunaan 2 buah kondukor, 3 buah konduktor, 4 buah konduktor, dan seterusnya.
Banyaknya jumlah konduktor berkas ini bergantung pada kapasitas saluran daya
listriknya, dan diameter penghantar yang digunakannya. Beberapa contoh
konfigurasi konduktor berkas diperlihatkan dalam gambar dibawah ini.
d
d
d d
d
d
d
d
2 konduktor berkas
3 konduktor berkas
4 konduktor berkas
Contoh konfigurasi konduktor berkas
1.7 Kawat tanah
Saluran transmisi merupakan tempat yang paling rawan terjadinya sambaran
petir, karena luas dan panjangnya saluran tersebut, untuk melindungi dari sambaran
langsung pada fasa digunakan kawat tanah yang dipasang diatas kawat fasa,
sehingga jika terjadi sambaran maka kawat tanah yang akan terkena, gelombang
petir akan merambat melalui kawat tanah menuju ke grounding system. Kawat
tanah (ground wire) sering disebut sebagai kawat pelindung (shield wire), dimana
kawat ini biasanya memakai kawat baja yang lebih murah, tetapi ada juga yang
menggunakan kawat ACSR.
Gambar kawat tanah pada saluran transmisi
1.8 Gangguan Pada Saluran Transmisi
Saluran transmisi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang memliki
daerah layanan paling jauh dan luas dapat mencapai ratusan bahkan ribuan
kilometer yang melintasi berbagai daerah yang memiliki karakteristik alam berbeda,
oleh karena itu gangguan yang sering terjadi pada saluran transmisi adalah
gangguan yang disebabkan oleh faktor alam seperti sambaran petir, angin, banjir,
gempa, dan sebagainya. Gangguan-gangguan diatas dapat menimbulkan tegangan
lebih (over voltage) dan hubung singkat (short circuit).
Dari semua gangguan alam yang terjadi pada saluran transmisi, gangguan
sambaran petir (lightning stroke) adalah jenis gangguan yang paling banyak terjadi.
Gambar sambaran petir pada saluran transmisi
Jika saluran transmisi terkena sambaran petir, maka akan menimbulkan tegangan
lebih transien (tegangan surja) , tegangan ini berupa tegangan impuls dengan waktu
muka tegangan yang curam (1,2 s / 50s standar IEC) seperti ditunjukkan dalam
gambar dibawah ini.
Gambar bentuk tegangan lebih petir
Gambar sambaran petir pada saluran transmisi
Gelombang tegangan impuls petir ini akan berjalan menuju gardu induk dan jika
tidak diproteksi terhadap tegangan lebih ini, maka akan menimbulkan kerusakan
pada peralatan gardu induk, khususnya pada bagian isolasi pealatan.
Perlindungan terhadap tegangan lebih akibat sambaran petir dilakukan dengan
memasang peralatan proteksi yang berupa sela batang (rod gap) dan arrester.
Peralatan proteksi ini akan bersifat sebagai isolator pada saat sistem bertegangan
normal, dan sebaliknya akan bersifat sebagai penghantar pada saat sistem dikenai
tegangan surja petir. Pada prinsipnya kedua peralatan proteksi ini bertugas
memotong gelombang tegangan lebih petir dan mengalirkan arus petir ke tanag,
sehingga gelombang yang menuju gardu induk atau peralatan listrik cukup kecil
sehingga tidak merusak peralatan listrik.
Gambar Bentuk gelombang tegangan lebih yang terpotong oleh arrester
Gambar gelombang surja petir yang terpotong arrester menuju gardu induk
Gambar pemasangan arrester pada kawat penghantar