Anda di halaman 1dari 4

LUMBAR MYOFASCIAL PAIN SYNDROME Sindrom klinis otot-otot punggung bekerja sama sebagai unit fungsional untuk menstabilkan

dan memungkinkan gerakan terkoordinasi punggung bawah dan memungkinkan seseorang untuk mempertahankan posisi tegak lurus. trauma otot pada individu dapat mengakibatkan disfungsi seluruh unit fungsional. rhomboids, otot latissimus dorsi, quadratus iliocostalis lumborum, multifidus dan m.psoas merupakan bagian yang sering mengalami sindrom nyeri myofasial. titik-titik asal dan yang berhubungan dari otot ini adalah sangat rentan terhadap trauma dan kemudiannya mengembangkan titik pemicu myofasial. injeksi pada titik pemicu ini berfungsi sebagai manuver diagnostik dan terapeutik manuver. Otot-otot punggung sangat rentan terhadap perkembangan myofascial pain syndrome. Cedera fleksi / ekstensi pada bagian belakang tubuh atau microtrauma yang berulang karena posisi mengangkat barang yang tidak benar dan membungkuk dapat mengakibatkan pengembangan myofasial pain syndrome di otot-otot belakang. myofascial pain sindrom adalah sindrom nyeri kronis yang mempengaruhi fokal atau bagian regional dari tubuh. sinus qua non dari myofasial pain syndrome adalah menemukan titik pemicu myofasial pada pemeriksaan fisik. meskipun titik pemicu umumnya terlokalisasi pada bagian tubuh yang terkena , rasa sakit pada myofascial pain sindrom sering menjalar ke bagian lain. Referred pain ini seringkali disalahdiagnosis atau dikaitkan dengan sistem organ sehingga mengarah ke evaluasi luas dan tidak efektifnya pengobatan. pasien dengan myofasial pain syndromemelibatkan otot-otot belakang bawah seringkali ada referred pain ke pinggul , sendi sacroiliac dan bokong. Tanda dan gejala titik pemicu adalah lesi pathognomonic pada nyeri myofascial dan dianggap sebagai hasil dari microtrauma pada otot yang terkena. lesi patologis ini dicirikan oleh adanya titik local yang sensitive terhadap sentuhan/tekanan pada otot yang terlibat. Stimulasi mekanis pada titik pemicu oleh palpasi atau peregangan menghasilkan tidak hanya rasa sakit lokal yang hebat, tapi juga disebut referred pain. di samping nyeri local dan referred pain ini, sering

ada penarikan involuntary pada otot yang dirangsang yang disebut jump sign. Jump sign ini juga adalah karakteristik myofascial pain syndrome. Taut band pada serat otot sering diidentifikasi ketika titik pemicu myofascial dipalpasi. Meskipun ini temuan fisik yang konsisten pada pasien yang menderita myofascial pain syndrome, patofisiologi titik pemicu myofascial masih sulit dipahami, meskipun banyak teori telah dikemukakan. umum untuk semua teori-teori ini adalah keyakinan bahwa poin memicu adalah hasil dari microtrauma pada otot yang terlibat. microtrauma ini dapat terjadi sebagai satu cedera pada otot atau mungkin terjadi sebagai akibat dari microtrauma berulang atau kronis deconditioning pada unit oto agonis adan antagonis. Selain untuk trauma otot, berbagai faktor-faktor lain tampaknya mempengaruhi pasien untuk terjadinya myofascial pain syndrome. atlet yang melakukan aktivitas fisikal diluar kebiasaan seringkali menyebabkan terjadinya myofacial pain syndrome. Postur tubuh yang tidak benar saat duduk atau saat menonton televise juga merupakan faktor predisposisi myofascial pain syndrome. cedera sebelumnya mungkin mengakibatkan fungsi otot abnormal dan mempengaruhi perkembangan myofascial pain syndrome. semua faktorfaktor predisposing ini dapat ditingkatkan jika pasien juga menderita status gizi yang kurang atau bersamaan kelainan psikologis atau perilaku, termasuk kronis stres dan depresi. otot-otot punggung bawah disebabkan myofascial sindrom nyeri kekakuan dan kelelahan sering muncul bersama dengan rasa myofasial pain syndrome, meningkatkan disabiliti fungsional yang terkait dengan penyakit dan merumitkan perawatannya. Myofascial pain syndrome dapat terjadi sebagai penyakit utama atau mungkin terjadi berhubungan dengan dengan kondisi lain yang menyakitkan, termasuk radiopathy dan sindrom nyeri regional yang kronis. kelainan psikologis atau perilaku, termasuk depresi, sering muncul bersamaan dengan kelainan otot yang berkait dengan myofasial pain yndrome. Terapi terhadap kelainan psikologis dan perilaku ini harus menjadi bagian integral dari setiap rencana perawatan yang berhasil untuk myofasial pain syndrome. tampaknya sangat rentan terhadap stres yang

Pemeriksaan Tidak ada uji tertentu untuk lumbal myofascial pain syndrome. pengujian adalah ditujukan terutama dalam mengidentifikasi patologis tersembunyi atau penyakit lain yang dapat meniru myofascial sakit syndrome. Radiografi polos membantu menggambarkan kelainan tulang belakang lumbalis , termasuk arthritis , fractur , kelainan bawaan ( trefoil sumsum tulang kanal ) dan tumor. semua pasien dengan onset myofasial pain syndrome yang awal ini harus menjalani pencitraan resonansi magnetik ( mri ) lumbal belakang untuk mengesampingkan pathologi yang tersembunyi. tes laboratorium yang terdiri dari hitung darah lengkap , LED , uji antibodi antinuclear , dan kimia darah dapat dilakukan untuk mengesampingkan inflamasi arthritis , infeksi dan tumor Diagnosis Banding lumbal myofascial pain syndrome adalah diagnosis klinis yang didukung oleh kombinasi riwayat klinis, pemeriksaan fisik, Radiografi dan MRI. Sindrom nyeri yang menyerupai lumbal myofascial pain syndrome termasuk lumbal strain, arthritis peradangan dan kelainan lumbal , akar, plexus dan saraf. kelainan bawaan seperti malformasi arteriovenosa dan trefoil spinal canal dan spondylolisthesis juga meniru presentasi klinis lumbal myofascial pain syndrome. Terapi lumbal myofascial pain syndrome terbaik diterapi dengan pendekatan multimodalitas. terapi fisik termasuk koreksi abnormalitas fungsional (postur yang salah, kursi yang tidak sesuai atau ketinggian komputer) dan penggunaan modalitas panas dan pijat , dikombinasikan dengan NSAID dan relaksasi otot skeletal mewakili sebuah titik awal yang masuk akal. Jika treaments ini gagal untuk meredakan gejala dengan cepat, injeksi anestesi dan steroid secara local pada titik pemicu myofascial adalah wajar. nyeri otot difus dan gangguan tidur dan depresi terbaik diterapi dengan tricyclic antidepresan nortriptyline, yang dapat dimulai pada dosis tunggal 25 mg ketika melakukan suntikan pada titik pemicu, persiapan yang berhati-hati pada pasien sebelum injeksi membantu mengoptimalkan hasil. Suntikan pada titik pemicu diarahkan pada titik pemicu utama, berbanding daerah referred pain. Harus dijelaskan seperti

kepada pasien bahwa tujuan dari

injeksi adalah untuk memblokir rasa sakit yang

berterusan dan diharapkan dapat mengurangkan nyeri yang lama. sangat penting bahwa pasien mengerti bahwa dengan sebagian besar pasien yang menderita myofascial pain syndrome, lebih dari satu modalitas pengobatan diperlukan untuk melegakan nyeri optimal. Pada posisi terlungkup atau lateral ketika mengidentifikasi dan menandai titik pemicu dan ketika melakukan injeksi titik memicu sebenarnya membantu mengurangi insiden reaksi vasovagal. Kulit sekitar titik pemicu yang ingin disuntikkan harus selalu siap dengan antiseptik sebelum injeksi untuk menghindari infeksi setelah tujuan dari injeksi titik pemicu dijelaskan kepada pasien dan persiapan yang benar dari pasien itu telah dilakukan , titik pemicu yang akan disuntikkan diidentifikasi oleh palpasi dengan memakai sarung tangan steril. sebuah jarum suntik mengandung 10ml dari 0,25 % bupivacaine preservatives-free dan 40mg dari methylprednisolone dihubungkan dengan jarum 25-gauge dari panjang memadai untuk mencapai titik pemicu. untuk otot-otot yang lebih dalam di tubuh bagian belakang bawah, jarum sepanjang 3 inch diperlukan. Solusi volume 0.5ml - 1 ml disuntikkan ke dalam setiap titik pemicu. pasien harus diberi tahu bahwa rangkaian pertemuan dua hingga lima perawatan mungkin diperlukan untuk menghilangkan titik pemicu secara sempurna. Efek samping dan komplikasi Kedekatan dengan sumsum tulang belakang dan keluar akar saraf membuatnya penting yang prosedur ini dilakukan hanya oleh clinicians yang berpengalaman dalam anatomi regional dan berpengalaman melakukan intervensi teknik majemen nyeri. pasien banyak mengeluh kenaikan rasa sakit setelah injeksi titik pemicu. jika jarum panjang yang digunakan , pneumothorax atau kerusakan di organ retroperitoneal termasuk ginjal juga dapat terjadi.

Beri Nilai