Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Pada era globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan industri di suatu negara sangat berpengaruh terhadap perkembangan perekonomiannya. Demikian pula di Indonesia, industrialisasi banyak dipilih sebagai jalur utama bagi pertumbuhan ekonomi sehingga banyak dibutuhkan bahan-bahan kimia yang beraneka ragam. Dalam usaha untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu adanya suatu pemanfaatan secara maksimal terhadap sumber daya yang ada sehingga diharapkan dapat meningkatkan devisa negara dan menyerap tenaga kerja. Mengedepankan industri berbasis sumber daya alam untuk mengatasi ketergantungan Indonesia pada negara lain sangatlah beralasan. Salah satu alasannya adalah ketersediaan sumber daya alam yang memadai di Indonesia. Selain itu melalui pengembangan industri, sumber daya alam yang dihasilkan dapat memiliki nilai tambah yang besar. Salah satu bentuk pengembangan industri berbasis sumber daya alam adalah pemanfaatan tepung cassava sebagai bahan baku industri asam oksalat. Produksi Cassava di Indonesia sangat tinggi. Tercatat menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi cassava di Indonesia pada tahun 2010 mencapai angka 22 juta ton per tahunnya. Sedangkan untuk produksi tepung cassava sendiri, pada tahun 2011 tercatat sebanyak 300 lebih pabrik yang memproduksi tepung cassava. Berdasarkan fakta ini, maka tidak ada kekhawatiran akan kekurangan bahan baku bagi pengembangan industri asam oksalat dari tepung cassava. Asam oksalat termasuk asam dikarboksilat yang paling sederhana. Bentuk anhidratnya tidak berbau, higroskopis, dan berwarna putih transparan. Secara komersial, asam oksalat tersedia dalam bentuk solid dihydrate. Produk komersial berbentuk monoclinic prisma berwarna putih sampai transparan atau granula dengan kandungan asam oksalat anhidrous 71,42% dan air 28,58%. Umumnya asam oksalat larut dalam air, sedikit larut dalam diethyl eter dan tidak larut dalam benzene, chloroform dan petroleum eter ( Kirk Othmer edisi 3 vol 16)

I-1

I-2 Bab I Pendahuluan

Kebutuhan asam oksalat di Indonesia setiap tahun terus meningkat. Hingga saat ini Indonesia masih mengimpor asam oksalat untuk memenuhi sebagian kebutuhan asam oksalat dalam negeri. Untuk mengurangi

ketergantungan tersebut, maka perlu didirikan pabrik asam oksalat dengan kapasitas yang memadai. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan data impor dan konsumsi asam oksalat dari tahun 2005-2010 berdasarkan Biro Pusat Statistik Surabaya. Tabel 1.1 Data Ekspor-Impor Konsumsi-Produksi Asam Oksalat Indonesia Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 Impor (ton) 2364,247 1770,963 1325,765 1177,604 1133,769 Ekspor (ton) 4555,62 Konsumsi (ton) 10265,51 9750,96 13211 13750,87 15243,49 Produksi (ton) 7687 7980 7732 7620,337 7223,183

Sumber : Biro Pusat Statistik Surabaya

I.2. Perkembangan Industri Asam oksalat pertama kali diproduksi pada tahun 1776 oleh Scheele dengan proses oksidasi gula (karbohidrat) menggunakan asam nitrat. Saat ini terdapat empat macam teknologi yang telah dikembangkan untuk sintesis asam oksalat secara komersial, yaitu : peleburan selulosa oleh alkali, oksidasi karbohidrat dengan asam nitrat, fermentasi gula, dan sintesis dari sodium format. Cara yang paling banyak digunakan saat ini adalah oksidasi dengan menggunakan asam nitrat karena paling ekonomis. (Kirk-Othmer volum 16 hal 621).

I.3 Karakteristik Bahan Baku dan Produk I.3.1 Karakteristik Bahan Baku I.3.1.1 Cassava Singkong berasal dari benua Amerika, tepatnya Brazil dan Paraguay. Penyebarannya hampir ke seluruh negara termasuk Indonesia. Singkong ditanam di wilayah Indonesia sekitar tahun 1810 yang diperkenalkan oleh orang Portugis dari Brazil. Singkong merupakan tanaman yang penting bagi negara beriklim

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-3 Bab I Pendahuluan

tropis seperti Nigeria, Brazil, Thailand, dan juga Indonesia. Keempat negara tersebut merupakan negara penghasil singkong terbesar di dunia. Di Indonesia, singkong menjadi salah satu tanaman yang banyak ditanam hampir di seluruh wilayah dan menjadi sumber karbohidrat utama setelah beras dan jagung. Daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia terletak di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Singkong atau yang sering disebut dengan ketela pohon atau ubi kayu berasal dari keluarga Euphorbiaceae dengan nama latin Manihot esculenta. Adapun klasifikasi tanaman singkong adalah sebagai berikut :

Tabel I.2 Klasifikasi Tanaman Singkong Kingdom Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies Plantae Spermatophyta Angiospermae Dicotyledoneae Euphorbiales Euphorbiaceae Manihot Manihot utilissima Pohl.; Manihot esculenta Crantz sin.

Singkong merupakan jenis tanaman perdu yang dapat hidup sepanjang tahun. Singkong mudah ditanam dan dibudidayakan, dapat ditanam di lahan yang kurang subur, resiko gagal panen 5% dan tidak memiliki banyak hama. Tanaman ini mempunyai umur rata rata 7 hingga 12 bulan. Singkong mempunyai umbi atau akar pohon berdiameter rata-rata 5-10 cm lebih dan panjang 50-80 cm. Daging umbinya ada yang berwarna putih atau kekuning-kuningan.

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-4 Bab I Pendahuluan

Tabel I.3 Kandungan nutrisi pada singkong Kandungan Air Pati Protein Lemak Kalsium Posfor Vitamin C Kadar (per 100 g) 63 g 34,7 g 1,2 g 0,3 g 33 mg 40 mg 30 mg

Sumber: Poedjiadi dan Titin Supriyanti, 2007

Singkong mengandung senyawa sianogenik yang dikenal dengan linamarin (93%) dan lotaustralin (7%) (Okigbo, 1980). Kadar senyawa sianogenik tersebut dapat berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman, umur tanaman, dan kondisi lingkungan seperti kondisi tanah, kelembaban, suhu, dan yang lainnya. Berdasarkan perbedaan kandungan sianogenik, singkong terbagi menjadi dua, yaitu singkong manis dan singkong pahit. Pada singkong manis mengandung senyawa sianogenik sekitar 20 mg HCN/kg singkong, sedangkan pada singkong pahit kadar sianogenik 50 kali lipat lebih banyak dibandingkan singkong manis, yaitu sekitar 1 g HCN/kg singkong. Singkong pahit mempunyai batang cukup besar, dengan kulit batang, daun, tangkai daun, dan pucuk tanaman berwarna hijau gelap (hijau tua). Singkong jenis ini dapat memperoleh hasil singkong yang tinggi dengan kandungan pati yang juga tinggi.

Potensi Singkong di Indonesia Tanaman singkong tersebar di seluruh propinsi di Indonesia, namun penyebarannya terbanyak di pulau Jawa dan Sumatra, masing-masing 50% dan 32% dari total luas panen singkong di Indonesia. Di Sumatra terbanyak di Lampung (26,6 %), di Jawa terbanyak di jawa Timur (18,7 %) dan Jawa Tengah (16,7 %). Penyebaran tanaman singkong yang lebih rinci disajikan pada Tabel I.4.

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-5 Bab I Pendahuluan

Tabel I.4 Sebaran Tanaman Singkong di Indonesia* Pulau Sumatra Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Papua Maluku Utara Papua Barat Luas Tanam (%) 0,2812 2,9217 0,5175 0,3960 0,2844 0,0968 0,5551 26,5893 0,1131 0,0565 50 0,0045 8,8552 16,6779 5,1396 18,7454 0,6982 32 1,3070 0,4862 0,6886 0,5533 3 0,4792 0,3868 2,6040 1,2533 0,0543 0,2777 5 1,0421 0,6303 6,3993 8 0,6981 0,2507 0,8209 0,1355 2

Jawa

Kalimantan

Sulawesi

Bali dan Nusa Tenggara

Maluku dan Papua

Keterangan : *Data diolah dari luas panen singkong tahun 2009 basis data Departemen pertanian (2009)

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-6 Bab I Pendahuluan

Indonesia merupakan Negara produsen singkong nomor empat terbesar di dunia setelah Nigeria, Brazilia dan Thailand. Luas lahan yang ditanami singkong di Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2001 seperti yang tertera dalam data statistik pada Tabel I.5, namun produksi umbi singkong tetap mengalami peningkatan. Dengan demikian, produktivitas tanaman singkong di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan ini mungkin disebabkan tersedianya bibit yang lebih baik serta teknik budidaya yang lebih baik juga. Tabel I.5 Luas panen, produksi dan produktivitas singkong di Indonesia Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Luas Panen (ha) 1.284.040 1.317.912 1.276.533 1.244.543 1.255.805 1.213.460 1.227.459 1.201.481 1.204.930 1.205.440 Produksi (ton) 16.089.020 17.054.648 16.912.901 18.523.810 19.424.707 19.321.183 19.986.640 19.988.058 21.593.053 21.786.691 Produktivitas (ku/ha) 125,00 129,41 132,00 149,00 155,00 159,00 163,00 166,36 180,95 182,44

Sumber: Departemen Petanian (2009) Propinsi dengan luas lahan tanaman singkong, produksi dan produktivitas singkong tertinggi di Indonesia adalah propinsi Lampung. Luas panen, produksi dan produktivitas singkong di propinsi ini pada tahun 2009 masing-masing mencapai 310.630 Ha, 7.526.205 ton, dan 242,29 kuintal/ha. Data statistik pada Tabel I.6 menunjukkan sepuluh propinsi dengan luas lahan tanaman singkong terbesar di Indonesia, sedangkan Tabel I.7 dan Tabel I.8 masing-masing menunjukkan sepuluh propinsi dengan tingkat produksi dan produktivitas tertinggi. Dari data tersebut tampak bahwa tingkat produktivitas tertinggi dicapai oleh propinsi di Sumatera, kemudian di Jawa dan di Sulawesi, sedangkan tingkat produktivitas di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan Barat rendah, sehingga walaupun luas panen dan produksinya masuk dalam 10 besar, produktivitasnya tidak masuk ke dalam 10 besar.

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-7 Bab I Pendahuluan

Tabel I.6 Luas Panen Tanaman Singkong (Ha) di 10 Propinsi di Indonesia Tahun 2005 2009 Propinsi Lampung Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat NTT DIY Sumatera Utara Sulawesi Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Tahun 2005 252.984 253.336 210.983 117.786 86.464 60.695 40.717 27.568 17.020 14.820 2006 283.430 232.538 211.917 113.663 89.591 60.926 35.996 32.852 17.775 14.825 2007 316.806 223.348 198.714 105.508 76.247 61.237 34.812 31.026 15.573 14.933 2008 316.019 220.394 191.053 109.354 78.957 62.543 37.941 29.780 13.675 13.142 2009 310.630 216.877 191.600 111.465 82.582 63.598 38.786 29.643 16.042 12.094

Sumber: Departemen Petanian (2009)

Tabel I.7 Produksi singkong (ton) 10 propinsi di Indonesia tahun 20052009 Propinsi Lampung Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat DIY NTT Sumatera Utara Sulawesi Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Sumber: Departemen Petanian (2009) Tahun 2005 4.806.254 4.023.614 3.478.970 2.068.981 920.909 891.783 509.796 464.435 243.251 256.467 2006 2007 2008 2009

5.499.403 6.394.906 7.649.536 7.526.205 3.680.567 3.423.630 3.533.772 3.522.700 3.553.820 3.410.469 3.325.099 3.356.300 2.044.674 1.922.840 2.035.446 2.075.037 1.016.270 938.010 452.450 567.749 250.173 238.039 976.610 794.121 438.573 514.277 221.630 239.271 892.885 832.674 736.771 503.966 193.804 234.821 973.791 877.507 855.238 504.569 234.891 194.987

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-8 Bab I Pendahuluan

Tabel I.8 Produktivitas singkong (kuintal/ha) di 10 propinsi di Indonesia tahun 2005 2009 Propinsi Lampung Sumatera Utara Jawa Barat Jawa Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Jawa Timur Sulawesi Tenggara DIY Kalimantan Timur Tahun 2005 190,00 125,00 176,00 165,00 134,00 168,00 159,00 173,00 152,00 154,00 2006 194,00 126,00 180,00 168,00 140,00 173,00 158,00 161,00 167,00 155,00 2007 201,86 125,98 182,25 171,63 153,74 165,76 153,29 160,23 159,48 159,86 2008 242,06 194,19 186,13 174,04 160,48 169,23 160,34 178,68 142,76 153,34 2009 242,29 220,50 186,16 175,17 172,24 170,22 162,43 161,23 153,12 150,23

Sumber: Departemen Petanian (2009)

1.3.1.2 Tepung cassava Dalam Industri makanan dan non makanan, tepung yang berasal dari singkong lebih dulu popular dibanding tepung tapioka. Walaupun bersumber sama dari singkong, tapi ada perbedaan dalam prosesnya. Tepung tapioka hanya diambil patinya saja, sedangkan tepung cassava masih ada dagingnya. Namun dalam industri makanan, tepung tapioka lebih digandrungi daripada tepung cassava. Sedangkan produksi tepung cassava di Indonesia melimpah. Hal inilah yang mendasari digunakannya tepung Cassava sebagai bahan baku asam oksalat. Tepung cassava adalah tepung yang dibuat secara langsung dari singkong yang dikeringkan dan dijadikan tepung sehingga warnanya masih keputihan. Komposisi (berdasarkan 100 gram tepung cassava) Pati / karbohidrat = 80 % Air Serat Protein Lemak = 10 % = 8,5 % = 0,9 % = 0,6 %
(Lies, hal 27)

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-9 Bab I Pendahuluan

Sifat fisika dan kimia : Berbentuk padatan (bubuk) Berwarna putih / kuning bersih Beraroma wangi Tidak berasa (netral) Bersifat higroskopis
(Lies, hal 27)

Dari data di atas, terlihat bahwa kandungan karbohidrat dari tepung cassava mencapai 80% atau sebesar 80 gram dari 100 gram tepung cassava. Salah satu jenis polisakarida yang terkandung di dalamnya adalah pati.

1.3.1.3 Pati Singkong Pati merupakan butiran atau granula yang berwarna putih mengkilat, tidak berbau, dan tidak mempunyai rasa. (Broutlecht, 1953) Pati adalah salah satu jenis polisakarida yang amat luas tersebar di alam. Pati disimpan oleh tanaman sebagai cadangan makanan di dalam biji buah maupun di dalam umbi batang dan umbi akar. Pati merupakan polimer dari glukosa atau maltosa. Unit terkecil dari rantai pati adalah glukosa yang merupakan hasil fotosintesis di dalam bagian tubuh tumbuh-tumbuhan yang mengandung klorofil. Granula pati mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka-ragam, tetapi pada umumnya berbentuk bola atau elips. Dalam pati terkandung dua fraksi, yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa memiliki stuktur lurus dengan ikatan 1,4 D glukosa, sedangkan amilopektin memiliki struktur bercabang dengan ikatan 1,6 D glukosa. Amilosa merupakan fraksi yang tidak larut (insoluble starch) dan memberikan warna biru dengan iodine. Amilopektin merupakan fraksi yang larut dalam air (soluble starch) serta memberikan warna violet pada tes dengan iodine. Berat molekul amilosa bervariasi antara 10.000 sampai 1.000.000 sedangkan amilopektin antara 50.000 sampai 10.000.000. (Lee, 1992 )

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-10 Bab I Pendahuluan

Gambar I.1. Granula Pati Singkong

Gambar I.2 Rumus bangun amilosa Perbandingan jumlah amilosa dan amilopektin berbeda-beda dalam setiap jenis pati. Apabila kadar amilosa tinggi maka akan bersifat kering, kurang lekat, dan cenderung menyerap air lebih banyak (Higroskopik). Sifat pati tidak larut dalam air, namun bila suspensi pati dipanaskan akan terjadi gelatinasi setelah mencapai suhu tertentu (suhu gelatinasi). Hal ini disebabkan oleh pemanasan energi kinetik molekul-molekul air yang menjadi lebih kuat daripada daya tarik menarik antara molekul pati dalam granula, sehingga air dapat masuk ke dalam pati dan akan mengembang, dan dapat pecah. Perubahan inilah yang disebut dengan gelatinasi. (Winarno,1994) Proses hidrolisis pati yaitu pengubahan molekul pati menjadi monomernya atau unit-unit penyususnya seperti glukosa. Hidrolisis pati dapat dilakukan dengan bantuan asam atau enzim pada suhu, pH, dan waktu reaksi tertentu. Pemotongan rantai pati oleh asam lebih tidak teratur dibandingkan dengan hasil pemotongan rantai pati oleh enzim. Hasil pemotongan oleh asam adalah campuran dekstrin,

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-11 Bab I Pendahuluan

maltosa dan glukosa, sementara enzim bekerja secara spesifik sehingga hasil hidrolisis dapat dikendalikan (Trifosa, 2007). Enzim yang dapat digunakan dalam proses hidrolisis pati adalah amilase. Enzim amilase merupakan endoenzim yang menghidrolisis ikatan a- 1,4glukosida secara spesifik. Berikut ini merupakan skema pemutusan pati menggunakan enzim amilase. (Trifosa, 2007).

Gambar I.3 Proses hidrolisis pati oleh enzim -amilase

I.3.2 Karakteristik Produk I.3.2.1 Asam Oksalat Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam dikarboksilat paling sederhana ini biasa digambarkan dengan rumus HOOC-COOH. Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali lebih kuat daripada asam asetat. Asam oksalat merupakan senyawa dikarboksilat yang atom-atom C nya mampu mengikat lebih dari satu gugus hidroksil. Asam ini mempunyai bentuk kristal rombis pyramid, tidak berwarna dan transparan, tidak berbau dan higroskopis. Asam oksalat mudah teroksidasi total dan oleh pengaruh panas yang tinggi akan terurai menjadi CO2 dan asam formiat. Secara alami asam oksalat bisa terjadi dalam tumbuh-tumbuhan dan dapat dibuat dengan ekstraksi alkali dari limbah penggergajian.

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-12 Bab I Pendahuluan

Asam oksalat dalam keadaan murni berupa senyawa kristal, larut dalam air (8% pada 10 C) dan larut dalam alkohol. Asam oksalat membentuk garam netral dengan logam alkali (NaK), yang larut dalam air (5-25 %), sementara itu dengan logam dari alkali tanah, termasuk Mg atau dengan logam berat, mempunyai kelarutan yang sangat kecil dalam air. Asam oksalat dapat ditemukan dalam bentuk bebas ataupun dalam bentuk garam. Bentuk yang lebih banyak ditemukan adalah bentuk garam. Kedua bentuk asam oksalat tersebut terdapat baik dalam bahan nabati maupun hewani. Jumlah asam oksalat dalam tanaman lebih besar daripada hewan. Diantara tanaman yang digunakan untuk nutrisi manusia dan hewan, atau tanaman yang ditemukan dalam makanan hewan. Daun teh, daun kelembak dan kakao juga mengandung oksalat cukup banyak. Distribusi asam oksalat pada bagian-bagian tanaman tidak merata.Bagian daun umumnya lebih banyak mengandung asam oksalat dibandingkan dengan tangkai, sedangkan dalam Poligonaceae, kandungan asam oksalat pada petiole hampir dua kali lebih besar daripada tangkai. Umumnya daun muda mengandung asam oksalat lebih sedikit dibandingkan dengan daun tua. Misalnya pada daun Chenopodiaceae, proporsi asam oksalat dapat bertambah dua kali lipat selama proses penuaan.

I.3.2.2 Kegunaan Asam Oksalat dalam bidang industri Berikut ini beberapa kegunaan asam oksalat dalam dunia industri : 1. Metal Treatment Asam oksalat digunakan pada industri logam untuk menghilangkan kotorankotoran yang menempel pada permukaan logam yang akan di cat. Hal ini dilakukan karena kotoran tersebut dapat menimbulkan korosi pada permukaan logam setelah proses pengecatan selesai dilakukan. 2. Oxalate Coatings Pelapisan oksalat telah digunakan secara umum, karena asam oksalat dapat digunakan untuk melapisi logam stainless stell, nickel alloy, kromium dan titanium. Sedangkan lapisan lain seperti phosphate tidak dapat bertahan lama apabila dibandingkan dengan menggunakan pelapisan oksalat. 3. Anodizing Proses pengembangan asam oksalat dikembangkan di Jepang dan dikenal lebih jauh di Jerman. Pelapisan asam oksalat menghasilkan tebal lebih dari 60 m

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-13 Bab I Pendahuluan

dapat diperoleh tanpa menggunakan teknik khusus. Pelapisannya bersifat keras, abrasi dan tahan terhadap korosi dan cukup atraktif warnanya sehingga tidak diperlukan pewarnaan. Tetapi bagaimanapun juga proses asam oksalat lebih mahal apabila dengan dibandingkan dengan proses asam sulfat. 4. Metal Cleaning Asam oksalat adalah senyawa pembersih yang digunakan untuk automotive radiator, boiler, railroad cars dan kontaminan radioaktif untuk plant reaktor pada proses pembakaran. Dalam membersihkan logam besi dan non besi asam oksalat menghasilkan kontrol pH sebagai indikator yang baik. Banyak industri yang mengaplikasikan cara ini berdasarkan sifatnya dan keasamannya. 5. Textiles Asam oksalat banyak digunakan untuk membersihan tenun dan zat warna. Dalam pencucian, asam oksalat digunakan sebagai zat asam, kunci penetralan alkali dan melarutkan besi pada pewarnaan tenun pada suhu pencucian, selain itu juga asam oksalat juga digunakan untuk membunuh bakteri yang ada didalam kain. 6. Dyeing Asam oksalat dan garamnya juga digunakan untuk pewarnaan wool. Asam oksalat sebagai agen pengatur mordan kromium florida. Mordan yang terdiri dari 4% kromium florida dan 2% berat asam oksalat. Wool di didihkan dalam waktu 1 jam. Kromic oksida pada wool diangkat dari pewarnaan. Ammonium oksalat juga digunakan sebagai pencetakan Vigoreus pada wool, dan juga terdiri dari mordan (zat kimia) pewarna. ( Kirk R.E, Othmer D.F., hal.630 631, 1945 )

1.4 Sifat Bahan Baku, Bahan Pembantu dan Produk Dalam proses pembuatan asam oksalat untuk membuat neraca massa, neraca panas, dan spesifikasi peralatan perlu diketahui sifat-sifat bahan yang digunakan meliputi: sifat fisika, sifat thermofisika dan sifat kimia. Sifat-sifat tersebut dapat dilihat pada tabel I.5, I.6, dan I.7 di bawah ini :

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-14 Bab I Pendahuluan

Tabel I.5 Sifat Fisika Bahan Baku, Produk dan Bahan Pembantu Sifat Fisika Bahan Baku Sifat-sifat Densitas (gr/cm3) Spesific Gravity Titik Lebur (oC) Titik Didih (oC) Titik beku (oC) Panas Peleburan (KJ/mol) Bentuk Panas Pembentukan Komposisi (%) Karbohidrat Air Serat Protein Lemak Starch Butiran 80 10 8,5 0,9 0,6 Asam Nitrat 3 1,41 -22 120,4 -42 10,47 Larutan 2,7474 J/gr Produk Asam Oksalat Dihidrat 1,653 101,5 10,71 Kristal Putih -1422 KJ/mol Larutan -814 KJ/mol Bahan Pembantu H2SO4 1,84 10 339 10,35 V2O5 3,358 1750 Serbuk

Tabel I.6 Sifat Thermofisika Bahan Baku, Produk dan Bahan Pembantu Sifat Thermofisika Sifat - sifat Kapasitas Panas Bahan Baku Asam Starch Nitrat 0.420 J/gr oK Produk Asam Oksalat Dihidrat 0.338 cal/gr oC Bahan Pembantu H2SO4 0.3404 cal/gr oC V2O5 5.583 cal/groC

Tabel I.7 Sifat Kimia Bahan Baku, Produk dan Bahan Pembantu Sifat Kimia Bahan Baku Sifat - sifat Tingkat racun Korosivitas Oksidator Starch tidak beracun tidak korosif Asam Nitrat beracun Korosif Oksidator kuat Produk Asam Oksalat Dihidrat beracun korosif Bahan Pembantu H2SO4 beracun korosif V2O5 beracun korosif -

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-15 Bab I Pendahuluan

Sifat Kimia asam oksalat dihidrat Asam oksalat bila dipanaskan dengan zat pendehidrasi H2SO4 akan terurai menjadi asam format, CO2, CO dan H2O. Asam oksalat bila direaksikan dengan KMnO4 dan H2SO4 encer pada suhu 60oC akan teroksidasi menjadi : 5H2C2O4 + 3H2SO4 + 2KMnO4 10CO2 + 8H2O + K2SO4 + 2MnSO4 Dekomposisi asam oksalat dalam larutan encer dapat berlangsung dengan bantuan sinar ultraviolet, sinar gamma, atau sinar X. Ester asam oksalat akan mengalami reaksi kondensasi. Dekomposisi asam oksalat juga dapat terjadi pada proses fusi dengan larutan alkali menghasilkan karbonat dan hidrogen. Asam oksalat juga mengalami reaksi penggaraman dengan basa dan esterifikasi dengan alkohol seperti asam organik yang lain.

1.5 Penentuan Kapasitas Produksi Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pendirian pabrik asam oksalat adalah kapasitas pabrik agar pabrik yang akan didirikan nanti dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan meningkatkan jumlah eksport. Tabel I.8 Data Konsumsi Asam Oksalat di Indonesia Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 perkembangan ratarata Konsumsi asam oksalat (ton/tahun) 10265,51 9750,96 13211 13750,87 15243,49 12444,366 Perkembangan (%) -5,01 35,48 4,09 10,85 11,35

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-16 Bab I Pendahuluan

Tabel I.9 Data Produksi Asam Oksalat di Indonesia Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 perkembangan ratarata Produksi asam oksalat (ton/tahun) 7687 7980 7732 7620,34 7223,18 7648,504 Perkembangan (%) 3,81 -3,11 -1,44 -5,21 -1,49

Tabel I.10 Data Impor Asam Oksalat di Indonesia Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 perkembangan ratarata Impor asam oksalat (ton/tahun) 2364,25 1770,96 1325,77 1177,6 1133,77 1554,47 Perkembangan (%) -25,09 -25,14 -11,18 -3,72 -16,28

Berdasarkan data dari tabel 1.1 pada tahun 2009 angka konsumsi asam oksalat di Indonesia mencapai 15243,49 ton, produksi mencapai 7223,183 ton, sedangkan impor sebesar 1133,769 ton dan tidak ada ekspor. Kenaikan rata- rata konsumsi sebesar 11,35%. Sedangkan produksi dan impor mengalami penurunan rata-rata masing-masing sebesar 1,49% dan 16,28%. Dari data-data tersebut, jumlah konsumsi, produksi, impor serta ekspor ketika pabrik direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2014 dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : F = dimana: F = konsumsi/produksi/ekpor/impor asam oksalat tahun 2014 (ton) P = konsumsi/produksi/ekspor/impor asam oksalat tahun 2009 (ton) i = perubahan rata-rata konsumsi/produksi/ekspor/impor asam oksalat tiap tahun n = jarak tahun (Timmerhaus, Peter) P ( 1 + i )n

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-17 Bab I Pendahuluan

Contoh data perhitungan konsumsi pada tahun 2014 : Diketahui : Pk = 15243,49 ton (tabel I.8) i = 11,35% (tabel I.8) n =5

Fk P 1 i

n 5

Fk 15243,49 1 0,1135 Fk 26093,69 ton

Untuk ekspor, produksi, dan impor dilakukan dengan perhitungan yang sama dengan perhitungan di atas dan didapatkan hasil bahwa pada tahun 2014 konsumsi akan mencapai 26093,69 ton, produksi 7095,42 ton, impor 639,33 ton, dan tidak ada ekspor. Dengan demikian, dapat diperkirakan kapasitas pabrik asam oksalat pada tahun 2011adalah sebagai berikut: Kapasitas pabrik = ( konsumsi + ekspor ) ( produksi + impor) = (26093,69 + 0) ton (7095,42 + 639,33) ton = 18358,94 ton / tahun Dari perhitungan diatas, maka peluang kapasitas pabrik baru untuk tahun 2014 adalah sebesar 18358,94 ton / tahun. Dari kebutuhan di atas, maka kami akan mendirikan pabrik dengan kapasitas 50% dari kebutuhan nasional. Dan diputuskan bahwa pabrik ini akan memproduksi asam oksalat sebanyak 10000 ton/tahun. 1.6 Lokasi Lokasi yang akan dipilih untuk pembangunan pabrik ini adalah di daerah Lampung, Sumatera Selatan. Alasan pemilihan lokasi ini : a. Lokasi dekat dengan sumber bahan baku. Lampung sebagai daerah penghasil singkong terbesar, hasil yang dicapai oleh petani tersebut rata-rata 11-17 ton/ha. Lahan datar yang luas dengan sumber air baku yang ada dan kesesuaian tanah yang memadai, telah menjadikan Provinsi Lampung yang terkemuka dalam produksi komoditi pertanian tanaman pangan dan hortikultura maupun perkebunan. b. Lokasi Provinsi Lampung yang strategis, yaitu di ujung selatan Pulau Sumatera memiliki akses yang baik ke Sentra Pasar Regional,

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava

I-18 Bab I Pendahuluan

Internasional dan Pasar Nasional. Dekat dengan pelabuhan Panjang untuk memperlancar aktivitas perdagangan ekspor impor. c. Tersedianya fasilitas yang lengkap meliputi aliaran listrik dari PLN, aliran gas dari PGN dan air bersih dari PDAM. d. Pelabuhan Bakauheni merupakan pelabuhan penyeberangan untuk penumpang dan barang dihubungkan dengan jaringan jalan Trans Sumatera, merupakan pintu masuk utama jalan darat ke semua Provinsi di Pulau Sumatera.

Pra Desain Pabrik Asam Oksalat dari Tepung Cassava