Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI Percobaan 3 AM TRANSMITTER

Disusun Oleh :
1.

Bayu Murti Ari W. Firdyan F. M. Syakhroni Rima Ajeng Sofhie Solawati


KELAS 2C KELOMPOK 1

(1031130034) (1031130005) (1031130065) (1031130087) (1031130041)

2.
3. 4.

5.

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI MALANG 2012

1. TUJUAN
1.1

Mempraktekkan AM transmitter

2. ALAT DAN BAHAN


2.1 GOTT-CE03 AM Transmitter Board

2.2 2.3 2.4

Power Supply Oscilloscope Kabel penghubung

2.5 Kabel power DC

3. TEORI DASAR a. Penguatan Tegangan Transistor merupakan komponen dasar untuk sistem penguat. Untuk bekerja sebagai penguat, transistor harus berada dalam kondisi aktif. Kondisi aktif dihasilkan dengan memberikan bias pada transistor. Bias dapat dilakukan dengan memberikan arus yang konstan pada basis atau pada kolektor.Secara umum penguat (amplifier) dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu penguat tegangan, penguat arus dan penguat transresistansi. Pada dasarnya kerja sebuah penguat adalah mengambil masukan (input), mengolahnya dan menghasilkan keluaran (output)yang besarnya sebanding dengan masukan. Apabila transistor diberi tegangan panjar (bias) agar transistor tersebut dapat bekerja sebagai penguat. Pada gambar diperlihatkan penguat BJT emitor-ditanahkan dengan tegangan panjar dari VCC dan VBE.

Antara parameter masukan dan keluaran terdapat hubungan dalam bentuk eksponensial sebagai berikut :

Arus kolektor (iC) besarnya hampir mendekati arus emitor (iE), dengan demikian kita dapat menuliskan :

Ada 3 macam konfigurasi dari rangkaian penguat transistor yaitu : Common-Emitter (CE), Common-Base (CB), dan Common-Collector (CC). Konfigurasi umum transistor bipolar penguat ditunjukkan oleh gambar berikut ini.

Gambar 1 Untuk membuat penguat CE, CB, dan CC, maka terminal X, Y, dan Z dihubungkan ke sumber sinyal atau ground tergantung pada konfigurasi yang digunakan.

Penguat Tunggal Emitor adalah penguat yang kaki emitor transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat Tunggal Emitor juga mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.

Gambar 2. Rangkaian Penguat Tunggal Emitor Beberapa rumus praktis pada rangkaian Tunggal Emitor: Penguatan tegangan tanpa C3 : Av = RC / RE Penguatan tegangan dengan C3 Penguatan arus Impedansi keluaran Impedansi masukan dengan C3 mempunyai karakteristik sebagai berikut :

: Av = RC / rE : Ai = R2 / RE : Zo = RC :Zi = R1//R2//Zib dengan Zib = hfe . re

Impedansi masukan tanpa C3 :Zi = R1//R2//Zib dengan Zib = hfe(rE + re)

Sinyal outputnya berbalik fasa 180 derajat terhadap sinyal input. Sangat mungkin terjadi osilasi karena adanya umpan balik positif, sehingga sering dipasang umpan balik negatif untuk mencegahnya. Sering dipakai pada penguat frekuensi rendah (terutama pada sinyal audio). Mempunyai stabilitas penguatan yang rendah karena bergantung pada kestabilan suhu dan bias transistor Penguat Tunggal Kolektor adalah penguat yang kaki kolektor transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke basis

dan output diambil pada kaki emitor. Penguat Tunggal Collector juga mempunyai karakter sebagai penguat arus .

Gambar 3. Rangkaian Penguat Tunggal Kolektor

Beberapa rumus praktis pada rangkaian Tunggal Kolektor : Penguatan tegangan Av Penguatan arus Impedansi keluaran Impedansi masukan : : : = rE / (rE + re) 1 (sebab rE >> re) Ai = hfe Zo = re Zi = R1 // R2 // Zib dengan Zib = hfe (rE + re)

mempunyai karakteristik sebagai berikut :

Sinyal outputnya sefasa dengan sinyal input (jadi tidak membalik fasa seperti Common Emitor) Mempunyai penguatan tegangan sama dengan 1. Mempunyai penguatan arus samadengan HFE transistor. Cocok dipakai untuk penguat penyangga (buffer) karena mempunyai impedansi input tinggi dan mempunyai impedansi output yang rendah.

Penguat Tunggal Basis adalah penguat yang kaki basis transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke emitor dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat Common Base mempunyai karakter sebagai penguat tegangan

Gambar 4. Rangkaian Penguat Tungggal Basis

Beberapa rumus praktis pada rangkaian Tunggal Basis : Penguatan tegangan Penguatan arus Impedansi keluaran Impedansi masukan : : : : Av Ai Zo = rC/re = hfe = rE

Zi = RE // re re (karena RE >> re)

mempunyai karakter sebagai berikut :


Adanya isolasi yang tinggi dari output ke input sehingga meminimalkan efek umpan balik. Mempunyai impedansi input yang relatif tinggi sehingga cocok untuk penguat sinyal kecil (pre amplifier). Sering dipakai pada penguat frekuensi tinggi pada jalur VHF dan UHF. Bisa juga dipakai sebagai buffer atau penyangga.

b. AM Salah satu skema yang paling sederhana untuk komunikasi nirkabel adalah Amplitude Modulation (AM). AM modulasi adalah modulasi yang mana amplitudo dari signal pembawa (carrier) berubah karakteristiknya sesuai dengan amplitudo signal informasi. Modulasi ini disebut juga linear modulation, artinya bahwa pergeseran frekuensinya bersifat linier mengikuti signal informasi yang akan ditransmisikan

Proses modulasi Modulasi adalah proses nonlinear dimana dua gelombang sinus dikalikan. (f1xf2) Hasil dari perkalian dalam domain waktu aldah gelombang dengan amplitudo : a(x)=a(f1) x a(f2)

F1 x F2

Multiplication of F2 by F1 (Nonlinear) Modulasi diperlukan untuk sejumlah alasan :


Para redaman saluran, yaitu udara, tinggi untuk sinyal suara frekuensi rendah, tetapi

pelemahan secara signifikan lebih rendah untuk frekuensi yang lebih tinggi.
Jika sinyal suara ditransmisikan seperti, transmisi baseband yaitu, hanya satu saluran

dapat disiarkan pada suatu waktu. Seringkali diperlukan untuk memiliki banyak saluran transmisi pada sama waktu, misalnya berbeda radio dan TV stasiun perlu disiarkan pada saat yang sama.
Ide dibalik AM adalah sangat sederhana: karena frekuensi tinggi dapat menyebarkan

lebih jauh melalui udara, kita membuat sinusoid frekuensi tinggi (operator) membawa sinyal frekuensi rendah yang kita ingin mengirimkan. Dalam AM, sinyal yang akan dikirim, naik pada amplitudo dari carrier, sehingga membentuk amplop dari sinyal termodulasi (Gambar P1). Secara matematis ini dapat direpresentasikan sebagai:

Di mana s (t) adalah sinyal yang ditransmisikan, sbaseband (t) adalah sinyal baseband asli yang ingin kita mengirimkan., lih adalah frekuensi pembawa dan m disebut sebagai indeks modulasi. Indeks modulasi mendefinisikan seberapa besar sinyal modulasi akan dibandingkan dengan carrier.

Gambar 3.1 Amplitude Modulation (AM). Indeks Modulasi AM Derajat modulasi merupakan parameter penting dan juga sering disebut indeks

modulasi AM, dinotasikan dengan m. Parameter ini merupakan perbandingan antara amplitudo puncak sinyal pemodulasi (Vm) dengan amplitudo puncak sinyal pembawa (Vc). Besarnya

indeks modulasi mempunyai rentang antara 0 dan 1. Indeks modulasi sebesar nol, berarti tidak ada pemodulasian, sedangkan indeks modulasi sebesar satu merupakan pemodulasian maksimal yang dimungkinkan. besarnya indeks modulasi AM dinyatakan dengan persamaan:

Indeks modulasi juga dapat dinyatakan dalam persen dan dinotasikan dengan M,

0<m<1

m=1 mod 100 %

m>1 (over-modulation)

Amplitudo maksimum dari sinyal termodulasi AM adalah A [1 + m ]; dan amplitudo minimum A [1 - m ]. Indeks modulasi m bisa dinyatakan dalam persen (%) dan bisa dicari dengan membandingkan antara amplitudo maksimum dengan minimum.

Menghitung nilai m

4. DIAGRAM RANGKAIAN

Gambar 3.2 Pemancar AM PROSEDUR PERCOBAAN Percobaan 1 : Pemancar AM


1. Susun rangkaian seperti gambar 3.2 atau GOTT-CE03 AM Transmitter

2. Berikan tegangan untuk modul sebesar 12V 3. Lihat LED 12V apakah sudah menyala
4. Dengan bantuan osiloskop, amati signal output pada TP3 untuk mengetahui

frekuensi carrier
5. Dengan bantuan osiloskop, amati signal output pada TP1untuk mengetahui

frekuensi message
6. Dengan bantuan osiloskop, amati signal output pada TP2 untuk mengetahui

penguatan signal message


7. Catat hasil pengukuran pada table 3.1

5. HASIL PERCOBAAN Tabel 3.1 hasil pengukuran AM Transmitter Test Poin Signal output Keterangan Frekuensi = 1 KHz (input dari generator fungsi) V/D = 20 mV/D Amplitudo = 20 x 0.01 = 0.2 mVpp

TP1

TP2

V/D = 0.1 V/D Amplitudo = 0.1 x 2 x 0.01 = 2 mVpp

TP3 )

V/D = 5 mV Amplitudo = 5mV x 4 = 20 mVpp T/D = 0.2 s : 10 = 0.02 s Periode (T) = 0.02 x 2 = 0.04s

TP3

Hasil Amplitude modulasi

6. ANALISA DATA

Sebelum dimodulasi, frekuensi message melewati rangkaian amplifier untuk dikuatkan amplitudonya. Frekuensi message berasal dari generator fungsi sebesar 1KHz, generator fungsi digunakan agar diperoleh frekuensi yang stabil selama proses modulasi. Dalam percobaan diperoleh nilai amplitude frekuensi message sebesar 0.2 mVpp (TP1). Setelah dikuatkan (TP2) nilai amplitude menjadi 2Vpp. Jadi dapat diperoleh Gain sebesar :

Jadi sebelum ditumpang ke frekuensi carrier, amplitude frekuensi message dikuatkan 10 kali. Setelah dikuatkan maka frekuensi message akan ditumpangkan ke frekuensi carrier. Fc mempunyai nilai sebesar 25 Mhz. Nilai ini diperoleh dari hasil pengukuran di TP3. Fc berfungsi sebagai envelope frekuensi message. Indeks modulasi(m) diperoleh dari sinyal akan dapat ditransmisikan dengan

baik dan sedikit noise saat m 1. Seperti yang diperlihatkan pada gambar 4. Jika nilai frekuensi message terlalu besar atau terlalu kecil, maka hasil modulasi akan mengalami noise dan interferensi. 7. MPULAN Frekuensi message (fm) adalah sinyal informasi yang akan dimodulasikan. Sebelum dimodulasi fm dikuatkan oleh rangkaian penguat.
Dalam Amplitude Modulation, sinyal yang akan dikirim, naik pada amplitudo dari

KESI

carrier, sehingga membentuk amplop dari sinyal termodulasi. Secara matematis ini dapat direpresentasikan sebagai:

Di mana s (t) adalah sinyal yang ditransmisikan, sbaseband (t) adalah sinyal baseband

asli yang ingin kita mengirimkan., lih adalah frekuensi pembawa dan m disebut sebagai indeks modulasi.

Sinyal akan dapat ditransmisikan dengan baik saat indeks modulasi 1