Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR Respon Ikan Terhadap Kondisi Gelap dan Terang

Oleh : Kelompok V Menik Sri Rejeki Adrian Muhamad reza Herna Nur Octaviana M.Arrasydin Lubis Yolanda Yusiana 05101005002 05101005011 05101005018 05111005002 05111005031

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2012

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ikan sebagai salah satu jenis organisme yang hidup pada suatu perairan, jika manusia melakukan kegiatan budidaya yaitu memproduksi organisme tersebut dalam suatu lingkungan perairan yang terbatas dan terkontrol dengan baik maka manusia harus memahami tentang lingkungan perairan dimana ikan tersebut dapat tumbuh dan berkembang biak seperti di habitat aslinya. Lingkungan perairan tempat ikan yang dibudidayakan tumbuh dan berkembang biasa disebut dengan media. Media yang dapat dipergunakan untuk melakukan kegiatan budidaya ikan ada beberapa persyaratan-persyaratan agar ikan dapat tumbuh dan berkembang biak pada wadah yang terbatas tersebut (Gusrina, 2008). Media budidaya ikan merupakan suatu tempat hidup bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang yaitu air. Air yang dapat digunakan sebagaibudidaya ikan harus mempunyaistandar kuantitas dan kualitas yangsesuai dengan persyaratan hidupikan. Oleh karena itukondisi perairan atu air harus mampumenyiapkan kondisi yang baik, terutama untuk tumbuhan tingkat rendah (fitoplankton) dalam proses asimilasi sebagai sumber makanan hewan terutama ikan (Gusrina, 2008). Ikan mas merupakan ikan yang memunyai nilai ekonomis yang tinggi, dagingnya banyak disukai orang, mudah berkembang biak, dan mudah beradaptasi (Djatmika, 1986) Lovell, Smitherman dan Shel (1974) menyatakan ikan mas merupakan ikan yang mudah dipijahkan, dapat memanfaatkan makanan buatan, relatif tahan terhadap penyakit, pertumbuhannya cepat dan mempunyai toleransi yang besar terhadap kisaran suhu dan terhadap oksigen terlarut. Habitat ikan mas hidup pada kolam-kolam air tawar dam didanau-danau serta perairan umum lainnya. Dalam perkembangannya ikan ini sangat peka terhadap perubahan kualitas lingkungan dimana ikan mas merupakan salah satu ikan yang hidup di perairan tawar dan tidak terlalu dalam dan aliran air yang tidak terlalu deras (Huet,1997).

Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk proses informasi indera. Di dalam sistem indera terdapat reseptor indera, jalur saraf, dan bagian dari otak yang ikut serta dalam tanggapan indera. Umumnya sistem indera yang dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba (Anonim, 2012).

B. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui atau mengamati respon ikan terhadap kondisi gelap dan terang.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistematika dan Morfologi Ikan Mas (Ciprinus carpio) Sistematika ikan mas menurut (Saanin, 1968) adalah sebagai berikut : filum kelas sub kelas ordo sub ordo famili genus spesies : Chordata : Pisces : Teleostei : Ostariphysi : Cyprinoidea : Cyprinidae : Cyprinus : Cyprinus carpio Ikan Mas adalah salah satu jenis ikan peliharaan yang penting sejak dahulu hingga sekarang. Ikan mas merupakan spesies ikan air tawar yang sudah lama dibudidayakandan terdomestikasi dengan baik di dunia. Di Cina, para petani telah membudidayakan sekitar 4000 tahun yang lalu sedangkan di Eropa beberapa ratus tahun yang lalu. Sejumlah varietas dan subvarietas ikan mas telah banyak dibudidayakan di Asia Tenggara sebagai ikan konsumsi dan ikan hias

(Sumantadinata, 2003). Morfologi dari ikan mas yaitu mempunyai ciri-ciri badan memanjang, agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (babels), ukuran dan warna badan sangat beragam mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan karper ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan karper berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya (Sumantadinata, 2003).

B. Habitat Ikan Mas (Ciprinus carpio) Ikan mas untuk hidupnya memerlukan tempat hidup yang luas baik dalam akuarium maupun kolam dengan sistem aerasi yang kuat dan air yang bersih. Untuk menjaga kualitas airnya dianjurkan untuk mengganti minimal 25% air akuarium atau kolam tiap minggunya. Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150-600 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30 C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30% (Partical Fish Keeping, 2006). Daerah yang sesuai untuk mengusahakan pemeliharaan ikan ini yaitu daerah yang berada antara 150-600 meter di atas permukaan laut, pH perairan berkisar antara 7-8 dan suhu optimum 20-25 oC. Ikan Mas hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak deras, baik di sungai danau maupun di genangan air lainnya (Asmawi, 2000).

C. Kebiasaan Makan Ikan Mas (Ciprinus carpio) Biasanya petani ikan lebih menyukai memberikan pakan tambahan terhadap ikan mas berupa dedak atau pelet. Padahal ikan ini tergolong ikan pemakan segala (omnivora). Hal ini bisa dibuktikan dengan pemberian pakan dari sisa-sisa dapur atau tanaman lain yang lunak. Biasanya benih ikan mas hanya memakan protozoa dan crustacea. Benih yang berukuran 10 cm memakan jasad dasar seperti chironomidae, olighocaeta, epeminidae, thricoptera, tubificidae, mollusca, dan lain sebagainya. Jasad-jasad tersebut dimakan bersama-sama dengan tanaman air yang membusuk dan bahan organik lainnya

(Water Biodiversity, 2009). Di alam tempat hidupnya, ikan ini hidup menepi sambil mengincar makanan berupa binatang kecil yang hidup diatas lapisan lumpur tepi danau atau sungai. Berdasarkan kebiasaan makan ini, tentunya akan lebih mudah mendalami

kemauan sang ikan dan kemampuan pengusaha ikan dikolam pekarangan untuk dapat berproduksi semaksimal mungkin. Kebiasaan hidup di alam Ikan mas yang kita pelihara di kolam atau akuarium dapat kita pijahkan sepanjang tahun tetapi jika ikan di alam biasanya memijah setelah musim hujan karena pada saat musim hujan banyak dataran yang terendam air yang telah kering beberapa bulan sehingga merangsang ikan memijah pada tempat yang baru tergenang air di sebabkan tempat yang baru digenagi air mengeluarkan bau ampo atau bau khas dari dalam tanah sehingga merangsang induk ikan memijah di tempat itu. Menurut beberapa referensi yang saya dapatkan induk ikan mas dapat memijah pada kisaran suhu 25o-28o C pH 7-8 dan ketinggian lokasi budidaya 150-1000 meter di atas permukaan air laut (Water Biodiversity, 2009).

D. Kualitas Air Ikan Mas (Ciprinus carpio) Dalam pembudidayaan ikan mas, parameter lingkungan yang harus terkontrol dengan baik antara lain sebagai berikut: 1. Suhu Menjaga suhu optimal untuk pertumbuhan merupakan suatu hal yang penting. Ikan akan mengalami kerentanan terhadap penyakit pada suhu yang kurang optimal. Fluktuasi suhu yang terlalu besar akan menyebabkan ikan stress yang dapat mengakibatkan kematian pada ikan. Secara umum, suhu yang optimal untuk pembudidayaan ikan mas adalah 25 o-30oC, perubahan suhu yang mendadak mengalami kenaikan sekitara 5 oC saja akan dapat menyebabkan ikan stres (Alkampau, 2007). 2. Oksigen Terlarut Menurut Gusrina (2008), semua makhluk hidup untuk hidup sangat membutuhkan oksigen sebagai faktor penting bagi pernafasan. Ikan sebagai salah satu jenis organisme air juga membutuhkan oksigen agar proses metabolisme dalam tubuhnya dapat berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan oleh ikan disebut dengan oksigen terlarut.

Adapun kadar oksigen terlarut yang baik untuk pertumbuhan ikan mas adalah 5 ppm (Alkampau, 2007). 3. Keasaman (pH) Sub-optimal pH berakibat buruk pada spesies kultur dan menyebabkan ikan stress, mudah terserang penyakit, produktivitas dan pertumbuhan rendah. Tingkat keasaaman yang baik untuk budidaya ikan komet adalah 5,59,0 (Alkampau, 2007).

E. Sistem Penginderaan Ikan mas (Ciprinus carpio) Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk proses informasi indera. Di dalam sistem indera, terdapat reseptor indera, jalur saraf, dan bagian dari otak yang ikut serta dalam tanggapan indera. Umumnya, sistem indera yang dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba (Anonim, 2012). Hewan air memiliki sistem indera yang sangat peka terhadap lingkungan di sekitarnya, diantaranya sebagai berikut: 1. Indera Pengelihatan Sistem pengelihatan pada ikan sangat berpengaruh terhadap jumlah cahaya yang ada di sekitarnya. Dan setiap jenis ikan memiliki pengaruh yang berbedabeda terhadap cahaya. Pengaruh cahaya terhadap jumlah cahaya yang ada disekitarnya adalah sebagai berikut : a. Pada waktu menerima cahaya, ikan akan mendekat kemudian menjauh kembali. b. Pada waktu menerima cahaya,ikan akan menyebar atau menghindar. c. Pada waktu menerima cahaya,ikan akan mendekati sumber cahaya kemudian turun sedikit. d. Pada waktu menerima cahaya,ikan akan mendatangi sumber cahaya. e. Inilah yang menjadi alasan mengapa cahaya ditambahkan pada alat tangkap agar menjadi lebih efisien (Anonim, 2012).

2. Indera Pembau dan Indera Pengecap Kedua indera ini merupakan reseptor kimia, sinyal kimia (allomon dan feromon) digunakan sebagai alat komunikasi yang selanjutnya akan

mempengaruhi pola tingkah laku dan reproduksi ikan. Bahan-bahan kimia penting yang mempengaruhi nafsu makan pada ikan antara lain: asam amino dan nukleotida. Bahan-bahan ini telah diaplikasikan dalam formulasi pakan ikan,dan hasilnya antara lain meningkatkan aktivitas memakan dan pertumbuhan ikan budidaya (Anonim, 2012). Selain itu, ikan memiliki sistem oktavolateralis yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi arus, gelombangsuara, dan gravitasi. Tubuh ikan dilengkapi linealateral dan telingadalam. Sistem atau organ ini memiliki selrambut sebagai penerima rangsang, pada telinga bagian dalam, selrambut digerakkan oleh gerakan cairan dari dalam kanalsemisirkular dan otolith, sedangkan pada linealateraldigerakkan oleh gerakan ikan (Anonim, 2012)

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum Fisiologi Hewan Air ini dilaksanakan pada hari senin dan selasa, 12 Maret 2012 dan 13 Maret 2012 pukul 14.30 WIB sampai dengan selesai di Laboratorium Bersama Perikanan, Program Studi Budidaya Perairan Universitas Sriwijaya Indralaya.

B. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada table 1 dan table 2 yaitu sebagai berikut : Tabel 1. Alat yang digunakan untuk percobaan adalah sebagai berikut : No. 1. 2. 3. 4. Alat Akuarium Senter Aerator Plastik hitam Spesifikasi 2 buah 2 buah 1 buah Secukupnya untuk menutupi seluruh akuarium sehingga tidak ada celah untuk masuknya cahaya Fungsi Tempat/wadah ikan Cahaya untuk ikan/menyenter ikan Untuk menambah oksigen Untuk menutup akuarum dan untuk melihat respon ikan dalam kondisi gelap

Tabel 2. Bahan yang digunakan untuk percobaan No. 1. 2. Bahan Pakan Ikan mas Spesifikasi Cahaya Secukupnya 2 ekor Secukupnya Fungsi Sebagai makanan ikan Objek percobaan

C. Cara Kerja Adapun cara kerja dalam Praktikum Fisiologi Hewan Air terdiri dari beberapa tahap antara lain sebagai berikut : 1. Bersihkan akuarium dan isi air secukupnya lalu diberi aerasi dan masukkan ikan kedalam masing-masing akuarium. 2. Salah satu akuarium ditutup terpal seluruh sisinya dengan terpal (hingga kebagian atasnya). 3. Masing-masing ikan dalam akuarium dipuasakan selama 24 jam. 4. Setelah 24 jam, plastik terpal yang menutupi akuarium dibuka dan catat tingkah laku ikan dalam akaurium saat pertama kali terpapar cahaya. 5. Nyalakan lampu senter selama 5 menit dan cahaya senter diarahkan pada masing-masing ikan dalam kedua akurium tersebut, amati dan catat tingkah laku ikan. 6. Selanjutnya berikan pakan pada masing-masing ikan. Lihat bagaimana respon kedua ikan dalam kedua akurium yangberbeda perlakuan tersebut. 7. Buat laporan tertulis dan ulasan mengenai respon ikan terhadap cahaya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Adapun hasil yang diperoleh dari praktikum ini disajikan dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3. Pengamatan ikan pada kondisi terang dan kondisi gelap Respon Cahaya Akuarium I (gelap) Ikan menjauhi cahaya senter yang masuk ke dalam air karena ikan sudah terbiasa ditempat yang gelap Ikan bergerak lebih agresif Ikan tidak menjauhi cahaya senter yang masuk Gerakan ikan tidak gesit dan hanya diam Pakan Ikan lebih gesit untuk memakan pakan yang diberikan

Akuarium II (terang)

Ikan tidak gesit atau tidak langsung memakan pakan yang diberi

B. Pembahasan Pada kondisi gelap pergerakan ikan cenderung aktif dan saat diberi cahaya dari lampu senter ikan menjauhi ke arah cahaya,selain itu saat diberikan pakan, ikan langsung mendekat dan langsung memakan pakan yang diberikan. Gerakan operkulumnya pun normal (baik). Pada kondisi terang pergerakan ikan kurang aktif dan saat diberi cahaya dari lampu senter ikan mendekat ke arah cahaya, tetapi pada saat ikan diberi makan, ikan tidak mau memakan pakan yang diberikan, sedangakan operkulum dari ikan tersebut dalam kondisi baik (normal). Cahaya sangat mempengaruhi tingkah laku ikan, fisiologinya maupun sampai pada migrasi harian. Respon ikan pada cahaya melalui mata dan organ pineal yang berada pada bagian atas otak. Kebanyakan ikan, mata merupakan reseptor penglihatan yang sempurna. Sistem optik mata ikan bekerja mengumpulkan cahaya dan nantinya cahaya tersebut akan membentuk suatu fokus bayangan untuk di analisis oleh retina. Sedangkan sensitivitas dan ketajaman mata bergantung pada terangnya bayangan yang akan mencapai retina mata (Anonim, 2012). Fotoreseptor pada retina mata menyerap energi cahaya dan

menyalurkannya ke sistem saraf dalam bentuk energi elektrikal. Terdapat dua jenis fotoreseptor yaitu cone (sel kerucut) dan rod (sel batang) (Anonim, 2012). Dengan demikian cahaya dan segala aspeknya seperti intensitas, sudut penyebaran, polarisasi, panjang gelombang, arah, musim, lama penyinaran dan komposisi spektrum akan mempengaruhi secara langsung dan tidak langsung tingkah laku ikan serta proses fisiologinya (Anonim, 2012) Syaraf adalah organ yang paling dulu dibentuk dari lapisan terluar (exoderm) yang berfungsi sebagai penghubung. System syaraf bersama-sama dengan system hormonal mengatur peranan penting dalam proses koordinasi dan pengaturan semua aktivitas yang berlangsung dalam tubuh (Anonim, 2012). Perubahan lingkungan akan diinformasikan ke sistem saraf (saraf pusat dsb), saraf akan merangsang kelenjar endokrin untuk mengeluarkan hormon-

hormon yang akan dikirim ke organ target dan aktivitas metabolisme dibutuhkan dengan merangsang jaringan-jaringan untuk bergerak (Anonim, 2012).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Pada kondisi gelap ikan bergerak lebih agresif dibandingkan dengan ikan dalam kondisi terang. 2. Ikan memiliki kemampuan yang berbeda dalam merespon cahaya. 3. Ikan mas termasuk kedalam jenis ikan yang aktif bergerak sehingga membutuhkan tempat yang luas. 4. Ikan mas termasuk ikan yang omnivora karena ikan ini memakan apa saja. 5. Ikan memiliki alat indera yaitu indera pengelihatan, indera pembau dan pengecap.

B. Saran Cahaya sangat mempengaruhi tingkah laku ikan, fisiologinya maupun sampai pada migrasi harian. Kebanyakan ikan, mata merupakan reseptor penglihatan yang sempurna. Lama penyinaran dan akan mempengaruhi secara langsung dan tidak langsung tingkah laku ikan serta proses fisiologinya.

DAFTAR PUSTAKA

Alkampau, 2007. Parameter Kualitas Air Pada Budidaya Ikan Mas (http://chimonk.blogspot.com/2007/05/parameter-kualitas-air-pada budidaya htmldiakses tanggal 16 Maret 2012). Anonim, 2012. Sistem Pengindraan (http://toturial-blogspot.com/2010/12/sistempengindraan-hewan-air.html diakses tanggal 16 maret 2012). Anonim, 2012. Respon Ikan Terhadap Cahaya (http://www.scribd.com/ArtikelTertariknya-Ikan-Pada-Cahaya diakses tanggal 14 maret 2012). Asmawi. 2000. Perbandingan Hasil Tangkapan Bagan (Light Fishing) yang Menggunakan Beberapa Warna Cahaya di Perairan Lero Pinrang, SulawesiSelatan. Karya Ilmiah. Fakultas Perikanan IPB. Bogor. Gusrina, 2008. Proposal Kerja Prakte (http://punyachui.blogspot.com/2009k.html diakses tanggal 16 maret 2012). Partical Fishkeeping, 2006. (http://www.particalfishkeeping.co.uk/pfk/pages/news diakses tanggal 18 maret 2012). Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Jilid 1 dan 2. Binacipta, Jakarta. Sumantadinata, 2003. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Jakarta : Direktorat Jendral Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Water Biodiversity, 2009. (http://www.fpik.undip.ac.id/perikanan/ diakses tanggal 16 April 2012).