Anda di halaman 1dari 104

2010

Ca Paru

Hanya untuk berbagi. Diambil dari beberapa sumber, bukan untuk dijadikan bahan referensi mutlak. Semoga bermanfaat.

Modul Respirasi
LBM 6 STEP 1 1. Opaque : gambaran yg berwarna putih yg ada di foto rontgen 2. Panas subfibril : STEP 2 panas ngelemeng

2010

1. Mengapa terjadi batuk dahak campur darah disertai sesak nafas dan nyeri dada di kanan bawah? 2. Mengapa nafsu makan turun dan BB turun 3. Mengapa saat obat habis batuk dan sesak timbul lagi 4. Mengapa dlm px foto thorak gambarannya opaque dan batasnya tegas? 5. Mengapa dada terasa berat saat bernafas 6. Kenapa ada kepekaan di paru2 kanan 7. Mengapa terjadi demam subfibril 8. Apa saja px. Penunjang lainnya 9. DD STEP 3 1. Mengapa terjadi batuk dahak campu darah disertai sesak nafas dan nyeri dada di kanan bawah? Karena kapiler alveolus pecah sehingga eritrosit masuk ke alveolus, pecahnya kapiler karena batuk yg berulang2 Sesak nafas : hipersekresi mucus pda system pars konduksi Nyeri dada d kanan bawah : ada nervus yg trhimpit n.intercostalis

2. Mengapa nafsu makan turun dan BB turun? Karena pada infeksi ada bakteri,bakteri itu d metabolism itu memakan mkanan yg ada d dlm tubuh,adanya tumor, desakan massa d esophagus Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 2

Modul Respirasi

2010

Desakan tumor membuat repon tubuh mengirimkan k hypothalamus untuk menghentikan nafsu makan 3. Mengapa saat obat habis batuk dan sesak timbul lagi? Obat yg di beri hanya menghilangkan gejalanya

4. Mengapa dlm px foto thorak gambarannya opaque dan batasnya tegas? Karena d lama paru ada massa selain udara yaitu cairan yg d sebut opaque,karena adanya gaya gravitasi dan lebih vertical. 5. Mengapa dada terasa berat saat bernafas? Karena d px thorak ada massa yg mengganggu jlnnya ventilasi yg jika da masa maka inpirasi dan ekspirasi terhambat 6. Kenapa ada kepekaan di paru2 kanan? Karena adanya massa padat 7. Mengapa terjadi demam subfibril? Karena jumlah pirogen( sel PMN yg memiliki protein yg d picu oleh eksogen) yg dikirim ke hypothalamus sedikit

8. Apa saja px. Penunjang lainnya? Analisis sputum karena curiga tumor Tomografi computer : lokasi dan ukuran tomur tsb Radionuklid : menentukan luasnya metastasis Darah rutin Uji paru2 9. DD?? Tumor paru Definisi Pertumbuhan abnormal pda ja.paru yg d sebabkan factor genetic dan karsinogen, bronkus, bronkiolus dan alveolus , jaringan lainnya Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 3

Modul Respirasi
Etiologi a. b. c. d. e. Perokok pasif/aktif Polusi udara Inhalasi zat kimia Kelainan genetic Penyakit paru sebelumnya ( TB)

2010

Klasifikasi Menurut letak anatomi tumor Karsinoma paru letaksentral,perifer

Histology : squamos sel/ epidemoid karsinoma,adenokarsinoma,anaplastik karsinoma, alveolar sel karsinoma Patologi kanker paru sel kecil dan besar Kecil : sitoplasma sedikit,nukleusnya hiperkromatik Besar : sitoplasma banyak,pleomorfik

Manifestasi klinis Malaise Batuk krinis Anoreksia Hemophysis Mual muntah BB turun Nyeri dada Gejala neurologic Radang yg kambuh Suara nafas pendek akibat dari sesak Adanya lelahan kronis Trgantung letak tumor bias ke dalam saraf2 tertentu Jika di leher bsa d mata Di tangan : bisa mati rasa Di dada : nyeri dada Pita suara :suara jd serak Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Di kerongkongan : gangguan menelan

2010

Pathogenesis Asap rokok inhalasi pernapasan dl wktu yg lama trjadi iritasi di mukosa bronkusnya terjadi 3 tahap: Tahap pra kanker : selnya bertambah besar,silia menghilang,epitel bronkus yg awalnya selindris jd gepeng Karsinoma in situ : belum mengalami metastasis Invasive karsinoma : sudah mengalami metastasis, d sebabkan karena polusi Patofisiologi Kerusakan pada gen P53/TP53 menghasikan proliferasi yg tidak bias d cegah Adanya kerusakan gen yg mnegatur kmatian sel scara trprogram /apoptosis sehingga sel tumornya tdk pernah mati

Factor resiko Perokok pasif/aktif Polusi udara Inhalasi zat kimia Kelainan genetic Penyakit paru sebelumnya ( TB)

Penegakan diagnosis : Anamnesis Keluhan Keluhan lain Kebiasaan Pekerjaan Penyakit lainnya 5 Px fisik ringan belum ada perubahan Wajahnya simetris /tidak karena suka ada pembengkakan Ada pembesaran vena jugularis atau tdk Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

10.

Peata laksanaan

Pengobatan suportif Vit. Penambah nafsu makan Pengobatan simtomatik u/ mengatasi nyerinya ,sesak nafas, nyeri pada tumor di berikan obat pengurang rasa sakit Obat keganasan paru Pembedahan Radio terapi Kemoterapi STEP 7 1. Mengapa terjadi batuk dahak campur darah disertai sesak nafas dan nyeri dada di kanan bawah? Mekanisme Batuk Darah Batuk diperlukan dimulai peradangan pecah. terjadi untuk batuk karena kering adanya iritasi pada bronkus. keluar. Batuk ini membuang produk-produk radang Sifat Keadaan terjadi batuk timbul yang pada

dari

(non-produktif) (menghasilkan pada

kemudian sputum).

setelah

menjadi

produktif batuk

lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang Kebanyakan darah tuberkulosis kavitas,tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus. Pada proses lanjut infeksi post-primer, pada sebagian pasien akan mengalami pneumonia lobuler yang dalam perjalanannya mengalami perkejuan (perlunakan) dan berakhir dengan pembentukan rongga atau

kavitas. Kavitas yang berdinding tebal dinamakan kaverne. Keradangan arteri yang terdapat di dinding kaverne akan menimbulkan aneurisma yang disebut aneurisma dari Rasmussen, pada arteri yang berasal dari cabang arteria pulmonalis darah. (4%). Lebih Bila aneurisma 7,8% ini pecah akan dan 6 menimbulkan batuk kurang proses perkejuan

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

perlunakan dapat menyebabkan fistula bronkopleura baik terbuka atau tertutup. Batuk telah darah jarang merupakan suatu tanda permulaan dari dari penyakit pada cukup

tuberculosis atau initial symptom karena batuk darah merupakan tanda terjadinya kavitas. ekskavasi Oleh dan ulserasi proses pembuluh darah harus dinding karena itu, tuberculosis

lanjut untuk dapat menimbulkan batuk dengan ekspektorasi. Batuk bertambah berat karena setelah tiga minggu mulai keluar berbagai mediator dengan efek penting yaitu TNF berperan dalam merekrut monosit yang menandai respon granulomatosa. Hal ini terjadi karena granuloma yang terbentuk pada infeksi m. tuberculosa bertambah luas paru Klasifikasi Bercak (streaking) Keterangan Volume darah < 15-20 ml/24 jam Biasanya terjadi karena bronkitis Volume darah 20-60ml/24 jam Biasanya disebabkan oleh: Kanker yang menyebabkan kerusakan jaringan paru yang hebat dengan pembentukan kavitas abses yang besar sehingga meningkatkan ruang rugi

Hemoptisis

paru,Pneumonia (necrotizing pneumonia),TB Hemoptisis massif Kriteria Hemoptisis Masif sebagai berikut: Batuk darah sedikitnya 600 mL/24 jam Batuk darah < 600 mL/24 jam, tapi lebih dari 250 mL/24 jam, Hb < 10 g% dan masih terus berlangsung Batuk darah < 600 mL/24 jam, tapi 7 lebih dari 250 mL/24 jam, Hb > 10 g% (Busroh, 1978)

dalam 48 jam tidak berhenti, Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Angka

kematian

75

karena

kekurangan

oksigen karena terlalu banyak darah dalam saluran pernafasan. Biasanya disebabkan oleh: Kanker

paru,Kavitas pada TB, Bronkiektasis Pseudohemoptisis Batuk darah dari saluran napas atas (di atas laring),atau Dari saluran cerna atas, AtauPerdarahan hidung buatan seperti luka yang sengaja dibuat di mulut, faring, dan ronga

Patofisiologi Mekanisme terjadinya batuk darah adalah sbb. (Wolf,1977) : 1.Radang mukosa Pada trakeobronkitis akut atau kronis, mukosa yang kaya pembuluh darah menjadi rapuh, sehingga trauma yang ringan sekalipun sudah cukup untuk menimbulkan batuk darah. 2.Infark paru Biasanya disebabkan oleh emboli paru atau inflasi mikroorganisme pada pembuluh darah seperti infeksi coccus, virus dan infeksi oleh jamur. 3.Pecahnya pembuluh darah vena atau kapiler Distensi mitral pembuluh darah Pada akibat kenaikan tekanan darah dapat 8 intraluminal seperti pada dekompensasi kordis kiri akut dan stenosis. mitral stenosis, perdarahan terjadi akibat pelebaran vena bronkialis. 4.Kelainan membran alveolokapiler

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Akibat adanya reaksi antibodi terhadap membran,

2010
seperti pada Goodpastures syndrome 5. Perdarahan kavitas tuberkulosis Pecahnya pembuluh darah dinding kavitas tuberculosis yang dikenal darah dengan aneurisma dari Rasmussen; pemekaran darah pembuluh bronkial. ini berasal cabang pembuluh

Perdarahan pada bronkiektasis disebabkan pemekaran pembuluh darah cabang bronkial. Diduga hal ini terjadi disebabkan adanya anastomosis pembuluh darah bronkial dan pulmonal. Pecahnya pembuluh darah pulmonal dapat menimbulkan hemoptisis masif. 6. 7. Invasi tumor ganas Cedera dada Akibat benturan dinding dada, maka jaringan paru akan mengalami transudasi ke dalam alveoli dan keadaan ini akan memacu terjadinya batuk darah. http://www.scribd.com/doc/56796893/forSOCA1

Penyakit (kondisi paru) yang menyebabkan hemoptisis dapat terjadi pada keadaan sebegai berikut dibawah ini: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Perdarahan intra alveol dan diapesis sel eritrosit dari kapiler kedalam alvoli [oedem paru akut] Nekrose kedalam Pecahnya stenosis] Ulserasi dan erosi epitel bronkus [bronkitis,bronkolitiasis] Tertumpahnya isi dari lesi kaseosa kedalam percabangan 9 trakeobronkial [TB paru] Invasi tumor paru kedalam pembuluh darah Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com jaringan pb.darah paru yg diserta akibat dengan perdarahan [mitral alveoli [infark paru] endobronkial adanya regangan

Modul Respirasi
7. Pecahnya disease],pecahnya fistula hubungan arterio-veous kollateral pb.darah

2010
[Osler-Weber-Rendu arteri-vena bronkus

[bronkiektase] atau pecahnya kollateral sistem pb.darah arteri-vena paru [sequesteration] 8. Nekrose pb.darah parasit] 9. 10. Pecahnya aneurisma aorta kedalam percabangan trakeobronkialis Pemakaian antikoagulan dan obat obat immunosupressif yg menyebabkan terjadinya perdarahan intra parenkimal. jaringan paru akibat paru adanya karena peradangan pneumonia dan dan pecahnya infeksi [nekrotisasi parenkim

Sumber perdarahan hemoptisis dapat berasal dari sirkulasi pulmoner atau sirkulasi bronkial. Hempotisis masif sumber perdarahan umumnya berasal dari sirkulasi bronkial ( 95 % alveol dan duktus ). Sirkulasi pulmoner memperdarahi

alveol, sistem sirkulasi ini bertekanan rendah dengan dinding pembuluh darah yang tipis. Sirkulasi bronkial memperdarahi trakea, bronkus utama sampai bronkiolus dan jaringan penunjang paru, esofagus, mediastinum posterior dan vasa vasorum arteri pulmoner. Sirkulasi bronkial ini terdiri dari arteri bronkialis dan vena bronkialis. Asal anatomis perdarahan berbeda tiap proses patologik tertentu: a. bronkitis mukosa, b. TB paru akibat robekan atau ruptur aneurisma arteri pulmoner (dinding kaviti aneurisma Rassmussen). atau akibat pecahnya anastomosis bronkopulmoner atau proses erosif pada arteri bronkialis, c. infeksi kronik akibat inflamasi sehingga terjadi pembesaran & proliferasi arteri bronchial misal : bronkiektasis, aspergilosis atau fibrosis kistik, d. kanker paru akibat pembuluh darah yg terbentuk rapuh sehingga mudah berdarah. Penyebab batuk darah sangat beragam antara lain : Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 10 akibat pecahnya pembuluh darah superfisial di

Modul Respirasi
Infeksi : tuberkulosis, staphylococcus, klebsiella, legionella), jamur, virus

2010

Kelainan paru seperti bronchitis, bronkiektasis, emboli paru, kistik fibrosis, emfisema bulosa Neoplasma : kanker paru, adenoma bronchial, tumor metastasis Kelainan hematologi : disfungsi trombosit, trombositopenia, disseminated intravascular coagulation (DIC) Kelainan jantung : mitral stenosis, endokarditis tricuspid Kelainan pembuluh darah : hipertensi pulmoner, malformasi arterivena, aneurisma aorta Trauma : jejas toraks, rupture bronkus, emboli lemak Iatrogenik (penyakit akibat tindakan dokter) : akibat tindakan bronkoskopi, biopsi paru, kateterisasi swan-ganz, limfangiografi Kelainan sistemik : sindrom goodpasture, idiopathic pulmonary hemosiderosis, systemic lupus erytematosus, vaskulitis (granulomatosis wagener, purpura henoch schoenlein, sindrom chrug-strauss) Obat / toksin : aspirin, antikoagulan, penisilamin, kokain Lain-lain : endometriosis, bronkiolitiasis, fistula bronkopleura, benda asing, hemoptisis kriptogenik, amiloidosis http://jurnalrespirologi.org/jurnal/April09/HEMOPTISIS%20ed itorial.pdf

11

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

2. Mengapa nafsu makan turun dan BB turun

12

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

13

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Sesak napas kekurangan oksigen, tubuh melakukan adaptasi dengan menginduksi faktor molekuler penting, yakni Hypoxia Inducible Factor-1a (HIF-a). Molekul ini ikut berpengaruh pada gen lapar, yakni leptin. Sehingga nafsu makan berkurang. Cytogenetic Location: 7q31.3 Molecular Location on chromosome 7: base pairs 127,881,330 to 127,897,681

14

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
The LEP gene is located on the long (q) arm of chromosome 7 at position 31.3.

2010

DR. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/RSCM Jakarta. Gangguan proses makan tidak mau makan atau menolak makan merupakan gangguan konsumsi makan atau minum dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis, mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap di pencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin gangguan dan obat tertentu. Jadi dalam proses makan itu sendiri adalah gejala atau tanda

adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh seseorang. Sedangkan pengaruh psikologis berhubungan dengan perilaku makan yang kadang makan ditentukan karena oleh kondisi makanan lingkungan, yang social dan mental yang dapat dikendalikan secara sadar misalnya kebiasaan makan dalam sehari, kelezatan disajikan dengan meningkatkan selera, kondisi stress, cemas dan depresi yang dengan mudah mengubah pola makan. Sebenarnya Makan Proses juga nafsu dapat makan itu berhubungan pada tingkat pada dengan sensor dan sinyal selera usus adanya syaraf pada dimana usus yang lidah otak dan mempengaruhi Hormon dan enzim ketika lambung kosong atau terisi. Nafsu terjadi termasuk lambung dan adanya sinyal lapar dari otak. dimulai ketika syaraf lambung dari menerima informasi zat-zat dan isi pencernaan dari ke lambung dan

metabolisme sekitar Ada dua

makanan usus

hati,

termasuk jaringan

peningkatan informasi 15

kosentrasi glukosa setelah makan menyebabkan adanya rangsangan dari lambung beberapa syaraf, rangsang ini kemudian diteruskan ke hipothalamus yang berada di otak daerah sinyal syaraf di hipothamus (otak) yang berperan dalam daerah yang disebut dengan pusat Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com nafsu makan (respon makan) yaitu

Modul Respirasi
kenyang (satiety sistem) dan daerah atau pusat makan (feeding sistem). Beberapa ahli kedokteran dan kesehatan tentang nafsu

2010
yang disebut dengan pusat lapar makan

menjelaskan, ada beberapa input sinyal yang berperan dalam pengaturan dua daerah nafsu makan (respon makan) tersebut dan akan menghasilkan perilaku Sekresi makan yang sesuai dan kebutuhan tingkat tubuh Input-input glukosa dan sinyal sekresin tersebut diantaranta Kader Leptin, Ghrelin, Distensi Gastrointesyinal, Colecistokinin pemakain insulin. Masing-masing dapat dijelas sebagai berikut : Kadar Leptin Leptin adalah hormone yang dihasilkan oleh sel di jaringan adiposa (jaringan lemak). Kadar leptin meningkat sebanding dengan banyaknya simpanan lemak trigeliserida di jaringan lemak. Semakin banyak cadangan lemak semakin banyak leptin yang disekresi, keberadaan leptin ini akan menyebabkan penekanan keinginan untuk makan. Semakin banyak kadar semakin Fungsi leptin utama maka hormon keinginan leptin ini makan maka semakin keinginan berkurang, makan terutama sebaliknya besar. menyangkut sedikit kadar semakin

adalah

kontrol

makan

gangguan makan terutama kegemukan. Kadar Ghrelin Ghrelin lambung, stimulan kondisi nervosa kondisi merupakan ghrelin sekresi stimulant mampu hormon nafsu makan, terbanyak di produksi makanan di dan

menyebabkan

peningkatan (Growth

asupan

mengurangi pemakaian cadangan lemak. Grelin berfungsi pertumbuhan

juga sebagai pemasukan

Hormone),

makanan dan penambahan berat badan. Sekresi ghrelin meningkat pada keseimbangan energy negative misalnya kelaparan, anoreksia dan lain-lain. Dan sebaliknya positif kadar Ghrelin menurun pada keseimbangan energy seperti setelah makan,

hiperglikemia dan obesitas. Distensi Gastrointestinal 16 Ketika lambung dan usus terisi oleh makanan maka syaraf-syaraf yang berada di lambung dan usus akan terangsang, sinyal rangsangan syaraf Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

tersebut di bawah ke inti syaraf pencernaan, nantinya akan disampaikan ke pusat pengaturan nafsu makan di otak (Hipothalamus). Ada dua sinyal balik yang akan di keluarkan oleh otal yaitu sinyal kenyang dan sinyal lapar. Dalam keadaan Distensi Gastrointestinal atau ketika lambung dan usus terisi, maka otak akan mengeluarkan sinyal kenyang, sebaliknya jika lambung dan usus dalam keadaan kosong, maka otak akan mengeluarkan sinyal lapar atau sinyal makan. Sekresi Colecistokinin (CCK) Sekresi Colecistokinin (CCK) adalah sekresi hormon dari mukosa dinding usus (duodenum) Adanya dapat sekresi pada saat pencernaan makanan yang mengandung lemak. Colecistokinin peningkatan hormon hal makan yang menunjukkan hormon berhubungan mendukung sinyal kenyang. di CCK juga serotonin dengan perasaan hypothalamus. tenang setelah nyaman

menyebabkan adalah dalam

Serotonin (nyaman), makan.

perasaan

akan

Sherwood, Lauralee. Human Physiology. 6thed. USA: The Thomson Corporation. 2007. Guyton A.C. Physiology of The Human Body. 5th ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company. 1979.

17

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
3. Mengapa saat obat habis batuk dan sesak timbul lagi

2010

Ada beberapa hal yang menyebabkan terapi obat mengalami kegagalan. Dosis yang kurang adekuat, kurangnya masa terapi, kesalahan menetapkan etiologi, faktor pasien, gangguan farmakokinetik, pemilihan obat yang tidak tepat dan lain-lain adalah faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab timbulnya kegagalan terapi. Dosis yang kurang adekuat menyebabkan tidak tercapainya kadar minimum obat dalam darah untuk menimbulkan efek. Kadar minimum obat dalam darah adalah syarat yang harus dipenuhi agar obat dapat menimbulkan efek yang diharapkan. Penggunaan obat-obatan dengan dosis yang tidak adekuat tidak akan memberikan manfaat apapun terhadap tubuh. Oleh karena itu diperlukan penetapan dosis yang ideal untuk tiap individu. Penetapan dosis berdasarkan luas permukaan tubuh adalah cara penetapan dosis yang terbaik, berat namun dan berat bila umur badan tidak sudah lebih memungkinkan, cukup utama memadai, daripada penetapan yang mana berdasarkan berdasarkan penetapan umur. Kurangnya masa terapi juga menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan pengobatan. Terutama untuk obat-obat yang membutuhkan kadar yang konstan dalam darah dan jaringan tubuh selama beberapa waktu sebelum adalah lengkap penyebab akhirnya salah untuk memberikan contoh Paparan hasil obat yang paparan terapi yang positif. masa Antibiotika terapi yang jahat satu yang membutuhkan akan badan

berdasarkan

menghasilkan

konstan

terhadap

bakteri

penyakit.

konstan

menekan

pertumbuhan

sekaligus membunuh bakteri penyebab penyakit hingga tuntas. Kesalahan dalam menetapkan etiologi penyakit akan menelurkan

pengobatan yang tidak tepat dan tidak rasional. Pengobatan tidak tepat hanya akan merugikan pihak pengguna obat dalam hal ini adalah pihak pasien. Selain itu, pengobatan yang tidak tepat juga tidak akan 18 memberikan kesembuhan kepada penderita, karena target pengobatannya tidak tepat. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Kegagalan terapi juga dapat disebabkan oleh gangguan farmakokinetik obat. Gangguan farmakokinetik dapat berupa gangguan penyerapan obat pada tubuh. tempat absorpsinya, gangguan distribusi memicu obat dalam tubuh, gangguan gangguan metabolisme obat dan gangguan pengeluaran obat dari dalam Gangguan farmakokinetik akan timbulnya bioavailabilitas, yakni gangguan kadar obat dalam dalam darah yang aktif dan siap memberikan efek pengobatan. Penurunan bioavailabilitas dapat menyebabkan berkurangnya efek terapi, sebaliknya bila bioavailabilitas meningkat drastis, akan memicu munculnya efek toksik (berbahaya) kepada tubuh. Pemilihan kegagalan penyakit ginjal, obat dan juga menjadi salah satu penentu keberhasilan atau

pengobatan. tersebut lain

Pemilihan lain antara yang

obat yang

harus harus

berdasarkan turut fungsi

etiologi hati dan yang

faktor-faktor

dipertimbangkan. penyakit

Faktor-faktor

lain: diderita

umur

pasien,

penyakit

pasien

selain

dijadikan target pengobatan, obat-obatan yang sedang dikonsumsi serta keadaan biologis pasien seperti masa kehamilan atau menyusui. Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar

4. Mengapa dlm px foto thorak gambarannya opaque dan batasnya tegas? Hasil foto: 1. Radiolusen (Hitam). Oleh karena mudah ditembus sinar X => bayangan hitam (gas dan udara). 2. Radioopak (Putih). 19 Bayangan putih akibat sinar x sukar menembus benda (logam berat). Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
3. Intermediate (bayangan keputih-putihan). Jaringan ikat, otot, darah, kartilago, epitel, batu kolesterol, batu asam urat. 4. Radiolusen sedang. Jaringan lemak. 5. Radioopak sedang. Tulang, garam calsium. 5. Mengapa dada terasa berat saat bernafas

2010

Ada 2 macam jenis nyeri dada yaitu: A. Nyeri dada pleuritik Nyeri dada pleuritik biasa lokasinya posterior atau lateral. Sifatnya tajam dan seperti ditusuk. Bertambah nyeri bila batuk atau bernafas dalam dan berkurang bila menahan nafas atau sisi dada yang sakit digerakan. Nyeri berasal dari dinding dada, otot, iga, pleura perietalis, saluran nafas besar, diafragma, mediastinum dan saraf interkostalis. Nyeri dada pleuritik dapat disebakan oleh : - Difusi pelura akibat infeksi paru, emboli paru, keganasan atau radang subdiafragmatik ; pneumotoraks dan penumomediastinum. B. Nyeri dada non pleuritik Nyeri dada non-pleuritik biasanya lokasinya sentral, menetap atau dapat menyebar ke 1. Kardial a. Iskemik miokard akan menimbulkan rasa tertekan atau nyeri substernal yang menjalarke aksila dan turun ke bawah ke bagian dalam lengan terutama lebih sering ke lengan kiri. 20 tempat lain. Plaing sering disebabkan oleh kelainan di luar paru.

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010
Rasa nyeri juga dapat menjalar ke epigasterium, leher, rahang, lidah, gigi, mastoid dengan atau tanpa nyeri dada substernal. Nyeri disebabkan karena saraf eferan viseral akan terangsang selama iekemik miokard, akan tetapi korteks serebral tidak dapat menentukan apakah nyeri berasal sari miokard. Karena rangsangan saraf melalui medula spinalis T1-T4 yang juga merupakan jalannya rangsangan saraf sensoris dari sistem somatis yang lain. Iskemik miokard terjadi bila kebutuhan 02 miokard tidak dapat dipenuhi oleh aliran darah koroner. Pda penyakit jantung koroner aliran darah ke jantung akan berkurang karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner.

Ada 3 sindrom iskemik yaitu : - Angina stabil ( Angina klasik, Angina of Effort) : Serangan nyeri dada khas yang timbul waktu bekerja. Berlangsung hanya beberapa menit dan menghilang dengan nitrogliserin atau istirahat. Nyeri dada dapat timbul setelah makan, pada udara yang dingin, reaksi simfatis yang berlebihan atau gangguan emosi. - Angina tak stabil (Angina preinfark, Insufisiensi koroner akut) : Jenis Angina ini dicurigai bila penderita telah sering berulang kali mengeluh rasa nyeri di dada yang timbul waktu istirahat atau saat kerja ringan dan berlangsung lebih lama. - Infark miokard : Iskemik miokard yang berlangsung lebih dari 20-30 menit dapat menyebabkan infark miokard. Nyeri dada berlangsung lebih lama, menjalar ke bahu kiri, lengan dan rahang. Berbeda dengan angina pektoris, timbulnya nyeri dada tidak ada hubungannya dengan aktivitas fisik dan bila tidak diobati berlangsung dalam beberapa jam. Disamping itu juga penderita pemeriksa enzym jantung. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com mengeluh dispea, palpitasi dan serioal EKG dan 21 berkeringat. Diagnosa ditegakan berdasarkan

Modul Respirasi
b. Prolaps katup mitral dapat menyebabkan nyeri dada

2010
prekordinal atau substernal yang dapat berlangsung sebentar maupun lama. Adanya murmur akhir sisttolik dan mid sistolik-click dengan gambaran echokardiogram dapat membantu menegakan diagnosa. c. Stenosis aorta berat atau substenosis yang aorta hipertrofi idiopatik juga dapat menimbulkan nyeri dada iskemik.

2. Perikardikal Saraf sensoris untuk nyeri terdapat pada perikardium parietalis diatas diafragma. Nyeri perikardial lokasinya di daerah sternal dan area preokordinal, tetapi dapat menyebar ke epigastrium, leher, bahu dan punggung. Nyeri ditusuk dan timbul pada waktu menarik nafas dalam, menelan, miring atau bergerak. Nyeri hilang bila penderita duduk dan bersandar ke depan. Gerakan tertentu dapat menambah rasa nyeri yang membedakannya dengan rasa nyeri angina. Radang perikardial diafragma lateral dapat menyebabkan nyeri epigastrum dan punggung seperti pada pankreatitis atau kolesistesis. 3. Aortal Penderita hipertensi, koartasio aorta, trauma dinding dada merupakan resiko tinggi untuk pendesakan aorta. Diagnosa dicurigai bila rasa nyeri dada depan yang hebat timbul tiba-tiba atau nyeri interskapuler. Nyeri dada dapat menyerupai infark miokard akan tetapi lebih tajam dan lebih sering menjalar ke daerah interskapuler serta turun ke bawah tergantung lokasi dan luasnya pendesakan. 4. Gastrointestinal Refluks geofagitis, kegansan atau infeksi esofagus dapat menyebabkan nyeri esofageal. Neri esofageal lokasinya ditengah, dapat menjalar ke punggung, bahu dan kadang Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 22 bisanya seperti

Modul Respirasi
kadang ke bawah ke bagian dalam lengan menyerupai nyeri angina. sehingga seangat

2010

Perforasi ulkus peptikum, pankreatitis akut distensi gaster kadang kadang dapat menyebabkan nyeri substernal sehingga mengacaukan nyeri iskemik kardinal. Nyeri seperti terbakar yang sering regurgitasi bila bertambah pada posisi berbaring dan berurang dengan antasid adalah khas untuk kelainan esofagus, foto gastrointestinal secara serial, esofagogram, test perfusi asam, esofagoskapi dan pemeriksaan gerakan esofageal dapat membantu menegakan diagnosa. 5. Mulkuloskletal Trauma lokal atau radang dari rongga dada otot, tulang kartilago sering menyebabkan nyeri dada setempat. Nyeri biasanya timbul setelah aktivitas fisik, berbeda halnya nyeri angina yang terjadi waktu exercis. Seperti halnya nyeri pleuritik. Neri dada dapat bertambah waktu bernafas dalam. Nyeri otot juga timbul pada gerakan yang berputar sedangkan nyeri pleuritik biasanya tidak demikian. 6. Fungsional Kecemasan dapat menyebabkan nyeri substernal atau prekordinal, rasa tidak enak di dada, palpilasi, dispnea, using dan rasa takut mati. Gangguan emosi tanpa adanya klealinan objektif dari organ jantung dapat membedakan nyeri fungsional dengan nyeri iskemik miokard. 7. pulmonal Obstruksi saluran nafas atas seperti pada penderita infeksi laring kronis dapat menyebakan nyeri dada, terutama terjadi pada waktu menelan. Pada emboli paru akut 23 bersama sama dengan disfagia dan

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

nyeri dada menyerupai infark miokard akut dan substernal. Bila disertai dengan infark paru sering timbul nyeri pleuritik. Pada hipertensi pulmoral primer lebih dari 50% penderita mengeluh nyeri prekordial yang terjadi pada waktu exercise. Nyeri dada merupakan keluhan utama pada kanker paru pleura, organ medianal atau dinding dada. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3548/1/gizibahri7.pdf Selain nyeri dada serangan jantung, seperti dikutip WebMD, nyeri dada juga pertanda dari masalah atau penyakit lain seperti gangguan pencernaan (maag) atau salah otot. Nyeri dada yang bukan serangan jantung adalah: 1. Nyeri pada otot atau tulang dada. Kondisi ini sering terjadi ketika aktivitas seseorang meningkat atau orang menambah jadwal olahraganya. 2. Nyeri dada ketika batuk Kondisi ini terjadi karena ada infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh virus. 3. Nyeri di rusuk Jika terjadi sebelum muncul ruam-ruam merah bisa jadi itu pertandapenyakit herpes zoster. 4. Tulang rusuk patah Adanya tulang rusuk yang patah membuat orang merasakan nyeri dada terutama ketika batuk atau mengambil napas dalam-dalam. 5. Gangguan pencernaan Gastroesophageal reflux disease (GERD) ataupenyakit asam lambung yang naik ke kerongkongan. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa sakit di bawah tulang dada, rasa mulas. 6. Masalah paru-paru pneumothorax Kondisi ini menyebabkan nyeri dada yang amat dalam dan sesak napas yang ekstrem. 7. Bekuan darah di paru-paru (emboli) Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 24 yang menyebar ke

Modul Respirasi

2010

Kondisi ini menyebabkan nyeri dada yang amat dalam dan sesak napas yang ekstrem. 8. Kanker paru-paru Kanker paru-paru juga menyebabkan nyeri dada terutama jika sel-sel kanker telah menyebar ke tulang rusuk. 9. Penyakit tulang belakang Penyakit ini juga menimbulkan rasa nyeri di dada jika saraf di tulang belakang terjepit.

6. Kenapa ada kepekaan di paru2 kanan Bunyi perkusi tympani ialah bunyi yang amat nyaring seperti

mengetuk abdomen yang kosong.misalnya perkusi yang dilakukan pada pneumothorax. Bunyi perkusi hipersonor adalah bunyi perkusi yang kurang nyaring dibandingkan dengan bunyi tympani karena masih ada jaringan di dalam rongga yang penuh berisi dengan udara,misalnya pada paru yang mengalami emphysema. Bunyi perkusi sonor adalah bunyi yang kurang nyaring dibandingkan dengan normal. Bunyi perkusi redup adalah bunyi yang kurang nyaring dibandingkan dengan bunyi bunyi sonor karena volume udara dalam jaringan paru berkurang misalnya karena terdapat infiltrat atau jaringan kosolidasi atau jaringan paru normal tapi cavum pleura berisi cairan(efusi) Bunyi perkusi paru pekak adalah bunyi tidak perkusi lagi pada thoraks udara bila sama 25 bunyi hipersonor.merupakan bunyi perkusi pada dinding toraks dengan cavum pleura dan jaringan paru di dalamnya yang

jaringan

didalamnya

berisi

sekali,misalnya paru telah terisi tumor yang padat atau mengalami atelektasis.(1) Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

PERKUSI DADA DEPAN I memeriksa keadaan paru dan cavum pleura Dilakukan pada kedua hemitoraks perkusi secara sistematis dan

simetris untuk membandingkan bunyinya. 1) Posisi pasien duduk dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan berhadapan dengan pemeriksa 2) Lakukan perkusi secara dalam pada fossa supraklavikula kanan, kemudian lanjutkan kebagian dada kiri . 3) selanjutnya lokasi perkusi bergeser kebawah sekitar 2- 3 cm, Begitulah seterusnya kebawah sampai batas atas abdomen 4) Mintalah pasien untuk mengangkat kedua lengan untuk melakukan perkusi aksila dari atas kebawah di kanan dan kiri 5) Bandingkan getaran suara yang dihasilkan oleh perkusi. Bunyi perkusi sonor pada kedua hemithorax bearti kedua paru dan cavum pleura normal Bunyi perkusi redup,mungkin terdapat infiltrat tumor atau efusi pleura Bunyi perkusi pekak,mungkin karena adanya suatu tumor yang besar Bunyi perkusi hipersonor mungkin ada emphysema,pneumothorax kecil,atau adanya kavitas di paru Bunyi perkusi tymphani mungkin pneumothorax yang besar atau hebat.

II.menetapkan batas paru dan hepar Perkusi dilakukan dari atas ke bawah garis midclavikularis kanan.Normal,batas antara bunyi sonor (paru) dan redup(hati yang diliputi paru) adalah pada sela iga IV dan batas bunyi redup ke bunyi Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 26

Modul Respirasi

2010

pekak (hati yang tidak diliputi oleh paru) adalah pada sela iga VI dalam keadaan ekspirasi.

III.menetapkan batas paru dan lambung perkusi dari atas ke bawah pada garis axilaris anterior kiri dengan posisi pasien tegak,dan oerut kososng.Batas bawah paru (sonor) dan batas atas lambung(tympani) normalnya adalah sela iga VIII.

IV.menetapkan batas jantung sebelah kanan Titik paling kanan jantung ditetapkan dengan perkusi dari arah lateral kanan ke medial sepanjang garis horizontal melalui titik yang terletak 2 jari di atas paru dan hepar.batas jantung kanan normal adalah pada garis sternalis kanan(titik perbatasan antar bunyi sonor ke redup pada sela-sela iga III,IV,dan V kanan tidak lebih lateral dari garis sternalis kanan)

V.menetapkan batas kiri jantung Perkusi dari lateral (garis axilaris anterior) ke medial sepanjang garis horizontal yang melalui titik 2 jari diatas batas paru lambung atau sepanjang sela iga V dan sepanjang sela iga VI.Pada keadaan normal batas antara bunyi sonor (paru) dan redup(jantung) adalah pada sela iga V 1-2 cm di sebelah medial garis midkalvikularis kiri.

VI menetapkan batas atas jantung

27

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
perkusi dari atas ke bawah mulai dari sela iga II pada

2010
garis

sternalis kiri.Normal,peralihan dari sonor ke redup pada sela iga III.

PERKUSI DADA BELAKANG VII menetapkan batas bawah paru di belakang Perkusi pada garis scapularis kiri dan kanan.Perubahan bunyi sonor ke redup/pekak merupakan batas paru bagian bawah.Pada keadaan normal bagian bawah paru kiri setinggi vertebra thorakalis XI,sedangakan bagian bawah paru kanan setinggi vertebra thorakalis X. (1)

28

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Keperawatan Medikal Bedah, Oleh Niluh Gede Yasmin Asih, Christantie Effendy 7. Mengapa terjadi demam subfibril Pirogen atau endoksin bakteri adalah produk metabolit dari pertumbuhan mikroba, larut air, tahan panas, LPS-nya tidak dapat dihancurkan dengan sterilasasi uap air/penyaringan (Encyclopedia II: 203).Pirogen adalah produk metabolisme mikroorganisme umumnya bakteri dankapang serta virus telah dilaporan sebagai penghasil pirogen. Bakteri gram negatif memberikan zat pirogenik paten seperti crudotoksin, secara kimiawi, pirogen adalah zat lemak yang berhubungan dengan suatu molekul pembawa yang biasanya merupakan polisakarida, tapi juga merupakan suatu peptida (Lachman : 641). Pirogen dibagi menjadi 2 kelas (Pyrogen :11): 29

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
a)

2010
Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh dan menginduksi kenaikan suhu ketika diinjeksikan kepada manusia dan hewan, walaupun lipopolisakarida (endoksin) jelas berada dimana-mana. Pirogen eksogen penting, terdapat perbedaan kimia yang besar yang belum disatukan dalam penyebab kenaikan suhu, ketika diinjeksi dibawah kesadaran yang cocok. Umumnya kelas dari pirogen dan eksogen termasuk mikroba, komponen-komponen mikroba dari bakteri gram negatif, gram positif, fungi, dan virus. Juga pirogenik non mikroba seperti beberapa obat : steroid-steroid, fraksi plasma dan bahan tambahan sintetik muarmil dipeptida. Pirogen endogen dihasilkan secara internal oleh inang dalam respon untuk stimulasi berbagai pirogen eksogen. b) Pirogen endogen adalah bahan sintetik yang homogen dengan berbagai sel tubuh setelah dikeluarkan sebagai endotoksin oleh pirogen endogen.

Pirogen dapat masuk dalam sediaan dalam arti berupa mikroorganisme hidup/mati. Mungkin sumber terbesar dari berbagai kontaminasi adalah air yang digunakan pada proses pembuatn. Walaupun destilasi yang tepat akan menyediakan air bebas pirogen, kondisi penyimpanannya harus tidak dapat dimasuki oleh mikroorganisme dan pertumbuhannya dicegah. Sumber potensial yang lain dari kontaminasi adalah perlengkapan. Bahan-bahan pirogenik melekat kuat pada gelas atau permukaan lain. Residu dari larutan dalam peralatan yang digunakan sering terjadi menjadi kultur bakteriyang terkontaminasi pirogenik. Walaupun peralatan yang sudah dicuci dibiarkan di udara dapat mengandung nutrisi yang nyata untuk pertumbuhan mikroorganisme karena pengeringan tidak menghancurkan pirogen, pirogen dapat tinggal dalam peralatan selama jangka panjang. Pencucian yang baik akan menurunkan dan pemanasan kering akan mencegah kontaminasi peralatan yang cocok untuk digunakan bahan terlarut dapat menjadi sumber nitrogen. Bahan terlarut dapat Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 30

Modul Respirasi
mengkristal/mengendap dari larutan berair yang mengandung

2010

kontaminasi pirogenik. Pada proses ini, pirogen dapat didihalangi melalui lapisan partikel. Dalam beberapa kasus, bahan terlarut dapat dimurnikan dengan rekristalisasi dan pencucian pengendapan atau cara lai untuk penghilangan pirogen. Proses pembuatan harus diperhatikan sekali dansecepat mungkin untuk meminimalkan kontaminasi. Tidak ada produk yang seharusnya disiapkan dengan proses yang lengkap dalam satu hari kerja termasuk sterilisasi (RPS 18th : 1550). Dipirogenasi dapat dicapai dengan 2 cara (pyrogen : 203) : dengan menginaktivasi atau menghilangkan endotoksin. Inaktivasi dapat dilakukan dengan pemurnian molekul lipopolisakarida denganmenggunakan sejumlah besar perlakuan kimia yang memecah / merusak bahan kimia lain/gugus yang dibutuhkan untuk aktivasi pirogenik. Sebagai alternatif lain molekul dapat dirusak secara total dengan menggunakan beberapa metode yang berbeda baik berdasarkan karakteristik fisik dan endotoksin seperti berat molekul dan muatan elektrostatik/afinitas endotoksin pada permukaan yang berbeda. a) Depirogenasi Endotoksin dengan Inaktivasi 1. Hidrolisis Asam Basa Despirogenasi menggunakan hidrolisis asam basa/alkali menurunkan atau menghilangkan aktivasi biologi dari lippolisakarida bakteri dengan aktivasi lemak A. Lemak A adalah rantaiinti polisakarida atau 2 keto 3 asam dioksiketon. Rantai asam 8 karbon asam gula khusus dari LPS bakteri Hidrolisis asam aktif pada asam labil ketosidik ini pada inti yang terpisah dari lemak A dari sisa molekul LPS. 2. Oksidasi Pengetahuan tentang inaktivasi oksidasi dari endotoksin dapat ditemukan ketika Hanrd melaporkan bahwa sel Salmonella Typosa menghilangkan kapasitas produksi demam ketika dicuci dengan H2O2. Dari asam lemak yang dihasilkan dalam lemak A dari LPS dapat dianjurkan. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 31

Modul Respirasi
3. Alkilasi Endotoksin dilaporkan dengan bahan pengalkil menurunkan

2010

pirogenitas endotoksin dihilangkan dengan asam anhidrat. Grup yang sama dilaporkan lapisan diturunkan ketika endotoksin digunakan dengan subsinat anhidrat. Disamping mekanisme reaksi ini secara perlahan dengan asetilasi. Perlakuan dengan panas kering. Perlakuan dengan panas lembab. Radiasi ionisasi. Poliniksin B LAL (Limolas Amobacyte Lisate) b) Despirogenasi dengan Menghilangkan Endotoksin Pembilasan. Destilasi Ultrafiltrasi Osmosa bolak balik Karbon aktif Daya tarik elektrosatik dengan jalan modifikasi media Daya tarik hidrofobik pada media hidrofobik Istilah pirogen berarti menghasilkan demam. Jadi pirogen yang mana merupakan substansi yang dibentuk oleh mikroorganisme kadang-kadang terdapat dalam cairan parenteral dan membentuk reaksi fibril ketika larutan diinjeksi ke pasien. Pirogenik yang khas/reaksi fibril tidur dari perasaan kaku dan panas yang mana dapat terjadi ketika 15 menit hingga 8 jam setelah injeksi larutan yang mengandung bahan pirogenik. Pengalaman pasien mengalami kenaikan temperatur dan denyut jantung. Reaksi ini diikuti oleh keringat yang berkelebihan dan turunnya temperatur. Mual, muntah, sakitkepala dan albuminuria dapat menyertai (Scovilles : 195). 32 Pustaka :

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Gennaro,A.R, et all, (1990), Rhemingtons Pharmaceutical

2010

Science, 18th Edition, Marck Publishing Company, Pensylvania. Howard, Ansel, (1989), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press,Jakarta. Jenkins, Glen, dkk, (1957), Scovilles The Art of Compounding, MC Growhill, Book Company,New York. Parrot, Eugene C, (1980), Pharmaceutical Technology, Collage of PharmacyUniversity of Iowa,Iowa City. Torce, Salvatore dan Robert S King, (1974), Sterile Dosage Form, Lea Febinger, Philadelphia.

Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme (virus, bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non infeksi seperti kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lainnya. Ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih atau leukositmelepaskan zat penyebab demam (pirogen endogen) yang selanjutnya memicu produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior, yang kemudian meningkatkan nilai ambang temperatur dan terjadilah demam. Selama demam, hipotalamus cermat mengendalikan kenaikan suhu sehingga suhu tubuh jarang sekali melebihi41o C (Anonim, 2007). Subtansi yang menyebabkan demam disebut pirogen yaitu zat yang menyebabkan pireksia (kenaikan suhu tubuh). Berikut ini adalah beberapa halyang berkaitan dengan zat pirogen yaitu : a. Sifat-sifat kimia pirogen antara lain sebagai berikut: 1. Pirogen merupakan suatu lemak (lipid), atau suatu protein atau kedua-duanya. 2. Pirogen merupakan protein dengan BM 10.000 20.000 yang dilepaskan oleh beberapa jenis sel tertentu dari tubuh. 3. Pirogen merupakan senyawa nitrogen yang biasanya terdiri dari kuman-kuman Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 33

Modul Respirasi
yang mati, endotoksin, eksotosin.

2010

b. Sifat-sifat fisika pirogen antara lain sebagai berikut : 1. Larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik. 2. Termostabil terutama dalam larutan. 3. Non-volatil, dengan destilasi biasa tidak menghilangkan sifat pirogeniknya. 4. Dapat difiltrasi. Potensi jenis-jenis pirogen dalam hal menimbulkan demam, bervariasi tergantung pada sumber asal pirogen yang ditetapkan oleh struktur kimia pirogen. Sumber pirogen adalah : a. Sumber pirogen endogen (dari tubuh hewan dan atau manusia sendiri) : 1. Leukosit polimorfonuklear. 2. Monosit, leukosit. 3. Sel-sel Kupffer. b. Sumber pirogen eksogen, yang berasal dari mikroba yang hidup atau yang mati, seperti virus, bakteri, endotoxin, eksotoxin (Suharto, 1974). Pirogen eksogen biasanya merangsang demam dalam 2 jam setelah terpapar. Umumnya, pirogen berinteraksi dengan sel fagosit, makrofag atau monosit, untuk merangsang sintetis IL-1 (Interleukin-1). Mekanisme lain yang mungkin berperan sebagai pirogen eksogen (endotoksin), bekerja langsung pada hipotalamus untuk mengubah pengatur suhu (Abdoerrachman, 2002). Toksin dari bakteri misalnya endotoksin bekerja pada monosit, makrofag dan sel-sel Kupffer untuk menghasilkan berbagai macam sitokin yang bekerja sebagai pirogen endogen (EPs). Sitokinsitokin ini merupakan polipeptida, dan kecil kemungkinannya bahwa sitokin dalam darah dapat menembus otak. Yang jika memasuki otak akan mengaktifkan daerah preoptik hipotalamus. Sitokin juga dihasilkan oleh sel-sel di SSP apabila terjadi rangsangan oleh infeksi, dan sitokin tersebut mungkin bekerja secara langsung pada pusat-pusat pengatur suhu. Demam yang ditimbulkan oleh Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 34

Modul Respirasi

2010

sitokin mungkin disebabkan oleh pelepasan prostaglandin lokal di hipotalamus http://etd.eprints.ums.ac.id/15372/3/bab_1.pdf

8. Apa saja px. Penunjang lainnya

35

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

9. DD

36

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
KANKER PARU

2010

Pengertian Keganasan di rongga torak mencakup kanker paru, tumor mediastinum, metastasis tumor di paru dan mesotelioma ganas (kegasanan di pleura). Kasus keganasan rongga toraks terbanyak adalah kanker paru. Di dunia, kanker paru merupakan penyebab kematian yang paling utama di antara kematian akibat penyakit keganasan. Laki-laki adalah kelompok kasus terbanyak meskipun angka kejadian pada perempuan cendrung meningkat, hal itu berkaitan dengan gaya hidup (merokok) Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) dan metastasis tumor di paru. Metastasis tumor di paru adalah tumor yang tumbuh sebagai akibat penyebaran (metastasis) dari tumor primer organ Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 37

Modul Respirasi
lain. Definisi khusus untuk

2010
kanker paru primer yakni tumor ganas

yang berasal dari epitel bronkus. Meskipun jarang dapat ditemukan kanker paru primer yang bukan berasal dari epitel bronkus misalnya bronchial gland tumor. Tumor paru jinak yang sering adalah hamartoma Faktor Risiko Faktor Risiko :

Laki-laki, Usia lebih dari 40 tahun Perokok Tinggal/bekerja di lingkungan yang mengandung zat karsinogen atau polusi Paparan industri / lingkungan kerja tertentu Perempuan perokok pasif Riwayat pernah mendapat kanker organ lain atau anggota keluarga dekat yang menderita kanker paru (masih dalam penelitian). Tuberkulosis paru (scar cancer), angka kejadiannya saanat kecil.

Orang-orang yang termasuk dalam kelompok atau terpapar pada faktor risiko di atas dan mempunyai tanda dan gejala respirasi yaitu batuk, sesak napas, nyeri dada disebut golongan risiko tinggi (GRT) maka sebaiknya segera dirujuk ke dokter spesialis paru. PENTING.!!!!!! Perhatian khusus harus diberikan kepada pasien yang masuk dalam kelompok risiko dengan diagnosis TB-paru (tuberkulosis paru) dan mendapat pengobatan obat anti-tuberkulosis (OAT). Mereka harus dievaluasi ketat. Jika dalam evaluasi 1 bulan pertama menunjukkan perburukan sebaiknya dipikirkan ke arah kemungkinan kanker paru dan dirujuk ke dokter spesialis paru. Khusus yang disertai keluhan nyeri yang persisten di bahu /lengan /dada dengan infiltrat di puncak paru Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 38

Modul Respirasi

2010

, bila nyeri tidak hilang dalam 1 2 minggu pengobatan kanker paru segera dievaluasi secara amat terarah. Tanda dan Gejala Keluhan utama:

Batuk-batuk dengan/tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen) lebih dari 3 minggu Batuk darah Sesak napas Suara serak Nyeri dada yang persisten Sulit/sakit menelan Benjolan di pangkal leher Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat. Tidak jarang yang pertama terlihat adalah gejala atau keluhan akibat metastasis di luar paru, seperti kelainan yang timbul karena kompresi hebat di otak, pembesaran hepar atau patah tulang. Ada pula gejala dan keluhan tidak khas seperti :

Berat badan berkurang Nafsu makan hilang Demam hilang timbul Sindrom paraneoplastik, seperti hypertrophic pulmonary osteoartheopathy, trombosis vena perifer dan neuropatia. Penemuan Pengenalan awal penyakit ini sulit dilakukan bila hanya berdasarkan keluhan saja. Biasanya keluhan ringan terjadi pada mereka yang masih dalam stage dini yaitu stage I dan II. Data di Indonesia maupun terdiagnosis ketika Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com laporan negara maju kebanyakan kasus kanker paru 39

Modul Respirasi
penyakit telah berada pada stage lanjut (stage III dan IV).

2010

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk pengenalan awal ini, selain pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan foto toraks dan/atau pemeriksaan sitologi sputum. Pada foto toraks dapat ditemukan gambaran tumor dengan tepi yang tidak rata dan penarikan pleura dan bahkan destruksi tulang dinding dada. Tidak jarang ditemukan gambaran efusi pleura masif sehingga tumor tidak terlihat. Sitologi sputum akan memberikan hasil positif jika tumor ada dibagian sentral atau intrabronkus. Kemajuan di bidang teknologi endoskopi autoflouresensi telah terbukti dapat mendeteksi lesi prakanker maupun lesi kanker yang berlokasi sentral. Perubahan yang ditemukan pada mukosa bronkus pada lesi keganasan stadium dini sulit dilihat dengan bronkoskop konvensional. Hal itu dapat diatasi dengan bronkoskop autoflouresensi karena dapat mendeteksi lesi karsinoma in situ yang mungkin terlihat normal dengan bronkoskop biasa.

40

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Diagnosis Kanker Paru Prosedur diagnosis untuk kanker paru dilakukan hingga didapat diagnosis pasti (jenis histologis) dan dapat ditentukan stage penyakit hingga dapat dipikirkan modaliti keuangan. Prosedur diagnostik untuk mendapatkan sel kanker dapat dilakukan dari cara paling sederhana hingga tindakan invasif tergantung kondisi pasien. Pilihan itu antara lain biopsi jarum halus jika ada massa superfisial, pungsi dan biopsi pleura jika ada efusi pleura, bronkoskopi disertai dengan bilasan, sikatan, kuretase, biopsi massa intrabronkus, dll sebagai usaha untuk mendapatkan jenis histologis. 41 terapi yang tepat. Selain itu harus dipertimbangkan keadan umum pasien (performance status) dan kemampuan

Prosedur diagnostik untuk menentukan stage penyakit antara lain, foto toraks, CT-scan toraks sampai kelenjar suprarenal dan bronkoskopi. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Pemeriksaan CT-scan (MRI) kepala dan bone scan dilakukan jika ada keluhan (atas indikasi) atau pasien yang akan dibedah. Tumor marker tidak dilakukan untuk diagnosis kanker paru tetapi hanya bermanfaat untuk evalausi hasil terapi. Pada kondisi tertentu diagnosis tidak dapat ditegakkan meskipun telah dilakukan berbagai prosedur diagnosis, maka torakotomi eksplorasi dapat dilakukan.

Jenis Histologis Kanker Paru Jenis Sel Kanker Paru secara umum dibagi atas dua kelompok yaitu : Kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK) atau small cell lung cancer (SCLC) Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) atau non-small cell lung cancer (NSCLC), mencakup adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, karsinoma sel besar (large cell ca) dan karsinoma adenoskuamosa. Meskipun kadang ditemukan jenis lain dengan frekuensi yang sangat jarang misal karsinoid dll.

42

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Staging Kanker Paru

2010

Staging (penderajatan) untuk kanker paru berdasarkan tumor (T) dan penyebarannya ke getah bening (N) dan organ lain (M). Stage kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK) terdiri dari :

Stage terbatas (limited) jika hanya melibatkan satu sisi paru (hemitoraks) Stage luas (extensived) jika sudah meluas dari satu hemitoraks atau menyebar ke organ lain. Stage kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) dibagi atas : Stage 0, IA, IB, IIA, IIB, IIIA, IIIB dan IV yang ditentukan menurut International Staging System for Lung Cancer 1997, berdasarkan sistem TNM. STAGE Stadium Occult carcinoma 0 IA IB IIA IIB IIIA IIIB IV TNM Tx Tis T1 T2 T1 T2 T1 M0 Sebarang T Sebarang T N3 M0, T4 sebarang N M1 43 M0 sebarang N N0 N0 N0 N0 N1 N1 N2 M0 M0 M0 M0 M0 M0, T3 N0 M0, T2 N2 M0 M0, T3 N1 M0, T3 N2

Kategori TNM untuk Kanker Paru : Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010
Tumor Primer

T To Tx

: : :

Tidak ada bukti ada tumor primer Tumor primer sulit dinilai, atau tumor primer terbukti

dari penemuan sel tumor ganas pada sekret bronkopulmoner tetapi tidak tampak secara radiologis atau bronkoskopis. Tis T1 : : Karsinoma in situ Tumor dengan garis tengah terbesar tidak melebihi 3 cm,

dikelilingi oleh jaringan paru atau pleura viseral dan secara bronkoskopik invasi tidak lebih proksimal dari bronkus lobus (belum sampai ke bronkus utama). Tumor sembarang ukuran dengan komponen invasif terbatas pada dinding bronkus yang meluas ke proksimal bronkus utama. T2 T3 : Setiap tumor dengan ukuran atau perluasan sebagai berikut : Garis tengah terbesar lebih dari 3 cm Mengenai bronkus utama sejauh 2 cm atau lebih distal dari karina, Berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis obstruktif : Tumor sembarang ukuran, dengan perluasan langsung pada yang

dapat mengenai pleura viseral meluas ke daerah hilus, tetapi belum mengenai seluruh paru. dinding dada (termasuk tumor sulkus superior), diafragma, pleura mediastinum atau tumor dalam bronkus utama yang jaraknya kurang dari 2 cm sebelah distal karina atau tumor yang berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis obstruktif seluruh paru. T4 : Tumor sembarang ukuran yang mengenai mediastinum atau jantung, pembuluh besar, trakea, esofagus, korpus vertebra, karina, tumor yang disertai dengan efusi pleura ganas atau tumor satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama dengan tumor primer. N Nx No N1 : : : : Kelenjar getah bening regional (KGB) Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai Tak terbukti keterlibatan kelenjar getah bening Metastasis pada kelenjar getah bening peribronkial dan/atau 44

hilus ipsilateral, termasuk perluasan tumor secara langsung Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
N2 N3 : : Metastasis pada kelenjar getah bening mediatinum

2010

ipsilateral dan/atau KGB subkarina Metastasis pada hilus atau mediastinum kontralateral atau KGB skalenus/supraklavikula ipsilateral/kontralateral M Mx Mo M1 : : : : Metastasis (anak sebar) jauh Metastasis tak dapat dinilai Tak ditemukan metastasis jauh Ditemukan metastasis jauh. Nodul ipsilateral di luar lobus

tumor primer dianggap sebagai M1

45

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

46

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
PENATALAKSANAAN

2010

Penatalaksanaan kanker paru dilakukan berdasarkan jenis histologis kanker, stage penyakit, tampilan umum (performance status) dan keuangan. Secara umum pilihan terapi untuk KPKBSK adalah combined modality therapy (multi-modality therapy), berupa bedah, radioterapi dan kemoterapi dan terapi lain. (lihat bagan Penatalaksaan Kanker Paru pada lampiran) Pengobatan Bedah Hanya diindikasikan untuk KPKBSK stage I atau II atau untuk pengobatan paliatif yaitu pada kondisi mengancam nyawa misal batuk darah masif, distres pernapasan karena sindrom vena kava superior, nyeri hebat pada Pancoast tumor, nyeri hebat pada sindrom pleksus brakialis. kasus pasca bedah dengan metastasis KGB mediastinal (N2) dipertimbangkan pemberian radioterapi dan/atau kemoterapi. Bedah paliatif lain dilakukan oleh dokter bedah syaraf yaitu membuang tumor metastasis yang berupa soliter nodule di otak dan menimbulkan gangguan kualitas hidup penderita. Pilihan lain untuk tumor meta dikepala adalah menggunakan cyber knife yang sudah dapat dilakukan beberapa senter di Indonesia. Bedah adalah terapi lokal dan dapat terjadi stage pre-bedah (cTNM) berbeda dengan diagnosis pasca-bedah. Jika terjadi perbedaan maka stage yang digunakan adalah stage pasca-bedah (pTNM) dan pilihan terapi tergantung pada hasil akhir. Di RS Persahabatan untuk KPKBSK stage IIIA jika memungkinkan diberikan neoadjuvan therapy yaitu memberikan kemoterapi 2-3 siklus dilakukan pemeriksaan ulang untuk re-staging jika terjadi down staging atau tetap maka bedah dilakukan. Radioterapi Radioterapi atau iradiasi diberikan pada kasus stage III dan IV KPKBSK, dapat diberikan tunggal untuk mengatasi masalah di paru Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 47 Jika pada saat bedah didapat pembesaran KGB maka semua harus diangkat dan pada

Modul Respirasi

2010

(terapi lokal) atau gabungan dengan kemoterapi. Radioterapi dapat diberikan jika sistem homeostatik (darah) baik yaitu HB > 10 gr% Leukosit > 4.000/dl Trombosit > 100.000/dl Dosis untuk kanker primer adalah 5.000 6.000 cGy dengan menggunakan COBALT atau LINAC dengan cara pemberian 200 cGy/x/hari, 5 hari dalam seminggu. Pemberian radiosensitiser dapat lebih meningkatkan respons irradiasi itu, misalnya dengan memberikan obat anti-kanker karboplatin, golongan taxan, gemsitabine, capecitabine dengan dosis sangat kecil sehingga tidak mempunyai efek sistemik. Radioterapi dapat diberikan sendiri (radiotherapy only) atau kombinasi dengan kemoterapi (konkuren, sekuensial atau alternating) meskipun sebagai konsekuensinya toksisiti menjadi lebih banyak dan sangat mengganggu. Evaluasi toksisiti harus dilakukan setiap setelah pemberian 5x, jika ditemukan gangguan sistem hemostatik salah satu atau lebih : HB <10 gr% < 3.000/dl

Leukosit

Trombosit < 100.000/dl Maka pemberian irradiasi harus dihentikan dulu dan dilakukan koreksi toksisiti itu dan dapat segera dimulai jika sudah memenuhi syarat. Toksisiti non-hematologik juga sering timbul dan yang sangat menganggu pasien adalah esopagitis, batuk akibat pneumonitis radiasi atau fibrosis. Jika melebihi grade 3 WHO naka irradiasi harus dipertimbangkan untuk dihentikan. Evaluasi renspons irradiasi dilakukan setiap setelah pemberian 10x (1.000 cGy) dengan foto toraks. 48

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Respons komplit : tumor menghilang 100%, iradiasi dapat dilanjutkan sampai selesai Respons sebagian/parsial : tumor mengecil < 90% tapi > 50%, irradiasi dapat dilanjutkan dan nilai kembali setelah 10x pemberian berikutnya. Tumor menetap/stabil : tumor mengecil < 50% atau membesar <25%, irradiasi dapat diteruskan dengan evalauasi lebih ketat. Jika respons subyektif memburuk atau bertambah irradiasi harus di hentikan. Progresif : tumor bertambah besar > 25% atau tumbuh tumor baru maka irradiasi harus dihentikan.

Pemberian irradiasi untuk KPKSK harus diberikan setelah pasien mendapat kemoterapi 6 siklus.

Kemoterapi Kemoterapi dapat diberikan pada semua jenis histologis kanker paru. Kemoterapi untuk KPKSK Kemoterapi adalah terapi pilihan untuk KPKSK stage terbatas atau stage luas. siklus. Kemoterapi untuk KPKBSK berdasarkan stage. Kemoterapi dapat diberikan pada semua stage tetapi pada stage I dan II pascabedah kemoterapi ditentukan berdasarkan stage pascabedah. Kemoterapi untuk KPKBS stage III dan IV merupakan terapi paliatif. Stage I dan II yang dapat dianjurkan kemoterapi dan inoperable cases ( PS buruk atau tidak bersedia di operasi atau ada kontraindikasi untuk operasi) sebaiknya dipertimbangkan pula radioterapi. Kemoterapi dapat diberikan jika memenuhi syarat antara lain: umum baik skala karnofsky >70), fungsi hati, ginjal dan sistem homeostatik (darah) baik dan masalah finasial dapat diatasi. Syarat untuk hemostatik yang memenuhi syarat adalah ; 49 keadaan Tambahan radiasi kepala dilakukan setelah kemoterapi 6

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
HB > 10 gr% Leukosit > 4.000/dl Trombosit > 100.000/dl

2010

Tampilan umum berdasarkan Skala karnofsky Skala 90 100 70 80 50 70 30 50 10 30 Pengertian

dan WHO

dapat beraktifiti normal, tanpa keluhan yang menetap dapat beraktifiti normal tetapi ada keluhan berhubungan dengan sakitnya membutuhkan bantuan orang lain untuk

melakukan aktifiti yang spesifik sangat bergantung pada bantuan orang lain untuk aktifiti rutin

Tidak dapat bangkit dari tempat tidur

Toksisiti kemoterapi Evaluasi toksisiti non-hematologik segera setelah pemberian kemoterapi dimulai, toksisiti itu dinilai tingat keparahannya berdasarkan skala toksisiti WHO sedangkan toksisiti hematologik sebaiknya dilakukan setiap 1 minggu. Berat ringannya toksisiti akan mempengaruhi jadwal pemberian kemoterapi berikutnya. Toksisiti non-hematologik yang paling sering timbul Mual dan muntah Diare Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 50

Modul Respirasi
Neuropati Alopesia Toksisiti hematologi grade III/IV harus segera dikoreksi untuk

2010

menghindarkan terjadinya neutropenia fever yaitu demam pada pasien dengan neutrofil < 1.000/dl. Jadwal kemoterapi akan tertunda jika ditemukan gangguan sistem hematopoitik HB < 10 gr% Leukosit < 3.000/dl Trombosit < 100.000/dl Jika setelah dilakukan koreksi nilai batas dapat dicapai maka kemoterapi dapat segera diberikan. Jadwal kemoterapi sebaiknya jangan tertunda > 2 minggu. Rejimen kemoterapi

Kemoterapi untuk kanker paru minimal berupa rejimen yang terdiri dari lebih dari 1 obat anti-kanker dan diberikan dengan siklus 21 atau 28 hari setiap siklusnya. Kemoterapi untuk KPKSK diberikan sampai 6 siklus dengan cisplatin based rejimen yang diberikan : Sisplatin + etoposid Sisplatin + irinotekan (CPT-11) Pada keadaan tertentu sisplatin dapat digantikan dengan karboplatin dan irinotekan digantikan dengan dosetaksel.

Kemoterapi untuk KPKBSK dapat 6 siklus (pada kasus tertentu diberikan sampai lebih dari 6 siklus) dengan platinum based rejimen yang diberikan sebagai terapi lini pertama (first line) adalah : Karboplatin/sisplatin + etoposid Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 51

Modul Respirasi
Karboplatin/sisplatin + gemsitabin Karboplatin/sisplatin + paklitaksel Karboplatin/sisplatin + dosetaksel

2010

Respons kemoterapi Respons kemoterapi dapat dinilai dari 2 sisi, dari pasien disebut dengan respons subyektif dan dari penyakitnya atau tumornya disebut dengan respons obyektif. Respons subyektif yaitu menilai respons pada subyektif Penilaian respons subyektif dilakukan setiap akan memberikan siklus kemoterapi berikutnya. Respons yang dinilai adalah apakah terjadi pertambahan berat badan dan/atau penurunan keluhan akibat tumornya. Respons obyektif yaitu menilai respons pada tumor primernya Respons obyektif kemoterapi dilakukan minimal setelah pemberian 2 siklus ( H -1 siklus ke 3) dengan foto toraks. CT-scan dilakukan untuk menilai respons objektif setelah 3 siklus ( H -1 siklus ke 4). Respons obyektif menggunakan kriteria Respons komplit (CR = complete response) jika tumor hilang 100% dan menetap dalam 3 minggu Respons sebagian (PR = partial response) jika tumor mengecil < 90% tetapi > 50% dan menetap dalam 3 minggu Menetap (SD = stable diseases) jika tumor mengecil < 50% atau membesar < 25% dan menetap dalam 3 minggu Progresif (PD = progressive diseases) jika tumor membesar > 25% atau tumbul tumor atau metastasis baru.

Sikap Untuk Evaluasi Kemoterapi Penilaian dari evalausi respons kemoterapi harus mewakili respons subyektif dan obyektif. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

52

Modul Respirasi

2010

Pada KPKSK jika pada evaluasi pertama (setelah pemberian 3 siklus menjelang pemberian siklus ke-4) terdapat CR/PR kemoterapi dilanjutkan sampai 6 siklus, jika terdapat SD/PD evaluasi ulang hasil pemeriksan patologi anatomi, apakah benar KPKSK ?? Pada KPKBSK jika pada evaluasi pertama (setelah pemberian 3 siklus menjelang pemberian siklus ke-4) terdapat CR/PR atau SD tetapi respons subyektif baik maka kemoterapi dapat dilanjutkan sampai 6 siklus. Jika respons kemoterapi PR meskipun respons subyektif baik maka kemoterapi tetap dapat diberikan dengan memberikan rejimen yang berbeda atau lini kedua (second line). Targeted Therapy. Targeted therapy adalah obat kanker yang menggunakan reseptor untuk membunuh sel kanker, yang telah digunakan luas saat ini adalah obat yang bekerja sebagai TKI (tirosin kinase inhibitor). Seperti erlotinib dan gefitinib, obat golongan ini lebih sederhana cara pemberiannya dan ringan efek sampingnya, tetapi pemanfaatannya sebagai terapi lini pertama (first line) masih perlu pembuktian lebih lanjut. Penggunaan obat obat lain misal imunoterapi, herbal medicine, chinese traditional medicine, dll masih dalam penelitian dan belum menjadi standar pengobatan kanker paru.

Daftar Pustaka Jusuf A, Harryanto A, Syahruddin E, Endardjo S, Mudjiantoro S, Sutandio N. Kanker paru jenis dan POI, Jakarta, 2005. Syahruddin E. Characteristic patients in Indonesian association for the study of lung cancer data. In Proceeding book. The 4th Scientific Respiratory Medicine Meeting. PIPKRA 2006. Departement of Pulmonology 53 karsinoma bukan sel kecil . Pedoman nasional untuk diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia 2005. PDPI

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
and respiratory Medicine, faculty of Medicine, University of Indonesia, Jakarta, 2006. p.80-7. Jemal A, Siegel R, Ward E, Murray M,

2010

Xu J, Smigal C, et al. Cancer

Statistics, 2006. CA Cancer J Clin 2006; 56:106-130. Practice Guidelines in Oncology Non-small Cell Lung Cancer. Version 1.2002. National Comprehensive Cancer Network (NCCN). 2002. Practice Guidelines in Oncology Small Cell Lung Cancer. Version 1.2002. National Comprehensive Cancer Network (NCCN). 2002. Scottish Intercollegiate Guidelines network. Management of patients with lung cancer. A national clinical guidelines. SIGN, Eidenburg, 2005. National Collaborating Center for Acute Care. Lung cancer: The diagnosis and treatment of lung cancer. Clinical Effectiveness Unit, London, 2005. http://kankerparu.org/main/index.php?option=com_content&task=view&id=1 7&Itemid=31 Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru.[1] Patogenesis kanker paru belum benar-benar dipahami. Sepertinya sel mukosal bronkial mengalami perubahan metaplastik sebagai respon terhadap paparan kronis dari partikel yang terhirup dan melukai paru. Sebagai respon dari luka selular, proses reaksi dan radang akan berevolusi. Sel basal mukosal akan mengalami proliferasi dan terdiferensiasi menjadi sel goblet yang mensekresi mukus. Sepertinya aktivitas metaplastik terjadi akibat pergantian lapisan epitelium kolumnar dengan epitelium skuamus, yang disertai dengan atipia selular dan peningkatan aktivitas mitotik yang berkembang menjadi displasia mukosal. Rentang waktu proses ini belum dapat dipastikan, hanya diperkirakan kurang lebih antara 10 hingga 20 tahun. Asal-usul sel penyebab kanker paru masih belum dapat dijelaskan. Selama ini berkembang dua buah teori, 54

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Teori pleuripotential cell oleh Auerbach, yang menjelaskan penyimpangan yang terjadi pada proses diferensiasi sel punca menjadi sel-sel lain.

Teori sel kecil oleh Yesner, yang menjelaskan neoplasma sel kecil yang mengalami transformasi dan berevolusi menjadi sel kanker

Namun diketahui bahwa terjadi mutasi genetik pada p73,[2] p53 dan pRb, selain peran onkogen c-myb, c-myca, c-mycc, c-raf, L-myc, N-myc, Krasa, c-fura, N-ras, H-ra, c-erbB1, c-fms, c-fes, c-rlf, c-erbB1, cerbB2, c-sis, BCL1.[3] Menurut WHO, kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun wanita [4]. Jenis kanker paru-paru

Klasifikasi kanker paru ditetapkan berdasarkan standar WHO,[5]

Tipe

Sub-tipe

Varian

Frekuensi (%)[6]

I. Tumor epitelial

1. Papilloma A. Sarkoma 2. Adenoma

B. Displasia 55 C. Karsinoma 1. sel a. varian sel

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
skuamus pintal

2010

a. sel gandum

b. sel 2. sel kecil intermediate 16,8

c. sel gandum kombinasi

a. acinar

b. papillary

3. Adeno

c. bronkioalveolar

d. solid carcinoma with mucin formation

a. giant-cell 4. sel besar b. clear-cell 80,4

5. adenoskuamus 56

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010
6. tumor karsinoid

0,8

7. kelenjar bronkial

8. Lain-lain

II. Tumor jaringan lunak

III. Tumor mesotelial

A. Sarkoma

B. Karsinoma

IV. Tumor lain

A. Sarkoma

B.Karsinoma

V. Tumor sekunder

VI. Tumor yang belum diklasifikasi

1,9

57

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010
VII. Lesi mirip tumor 0,1

Lebih dari 90% kanker paru berawal dari bronkus, hingga kanker ini disebut karsinoma bronkogenik, yang terdiri dari: 1. Karsinoma sel skuamus 2. Karsinoma sel kecil 3. Karsinoma sel besar 4. Adenokarsinoma paru Karsinoma sel alveolar berasal dari alveoli di dalam paru-paru. Kanker ini bisa merupakan pertumbuhan tunggal, tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru. Tumor paru-paru yang lebih jarang terjadi adalah: 1. Adenoma (bisa ganas atau jinak) 2. Hamartoma kondromatous (jinak) 3. Sarkoma (ganas) Limfoma merupakan kanker dari sistem getah bening, yang bisa berasal dari paru-paru atau merupakan penyebaran dari organ lain. Banyak kanker yang berasal dari tempat lain menyebar ke paru-paru. Biasanya kanker ini berasal dari payudara, usus besar, prostat, ginjal, tiroid, lambung, leher rahim,rektum, buah zakar, tulang dan kulit. Karsinoma sel skuamus Disebut squamous cell carcinoma dalam bahasa Inggris atau SCC, jenis kanker ini biasa terjadi di dalam saluran bronkus utama. Umumnya terjadi perkembangan keratin dan mutiara keratin. Adenokarsinoma paru Adenokarsinoma paru tercatat terjadi sekitar 30%- 45% dan nampaknya akan terus mengalami peningkatan. Kasus adenokarsinoma paru biasanya terjadi pada organ paru dan lebih sering terjadi padawanita daripada pada pria, dengan kecenderungan metastasis pada area awal di Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 58

Modul Respirasi

2010

sekitar nodus limfa danotak. Penderita adenokarsinoma paru biasanya memiliki riwayat penyakit paru interstitial kronis, sepertiskleroderma, penyakit reumatoid, sarkoidosis, pneumonitis interstitial, tuberkolosi s, infeksi paru berulang atau penyakit paru yang disertai nekrosis. Hal ini menyebabkan adenokarsinoma sering disebut scar carcinoma. Adenokarsinoma bronkioalveolar Sebuah subtipe adenokarsinoma paru dengan tingkat kejadian sekitar 2% - 4% dari total kejadian kanker paru, sering dikaitkan dengan beberapa penyakit paru yang berakibat pada fibrosis paru, sepertipneumonia, fibrosis paru idiopatik, granulomata, asbestosis, alveolitis dengan fibrosis, s kleroderma, danpenyakit Hodgkin. Tempat terjadinya kanker ini masih menjadi perdebatan, namun kemungkinan telah diperkecil antara populasi sel Clara atau pneumosit tipe II yang merambat sepanjang alveolar septa. Karsinoma sel besar Kanker ini memiliki tingkat kejadian sekitar 9%. Tumor memiliki ciri sel berukuran besar dengan inti selyang besar. Belum ditemukan diferensiasi grandular atau skuamus. Penyebab utama

Sub-types of non-small cell lung cancer in smokers and never-smokers[7]

Frequency of nonsmall cell lung cancers (%) 59 Histological sub-type Smokers Never-

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
smokers

2010

Squamous cell lung carcinoma

42

33

Adenocarcinoma (not otherwise specified) Adenocarcinoma Bronchioloalveolar carcinoma

39

35

10

Carcinoid

16

Other

Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paruparu pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak rokok yang dihisap, semakin besar risiko untuk menderita kanker paru-paru. Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. Bekerja dengan asbes, radiasi, arsen,kromat, nikel, klorometil eter, gas mustard dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru, meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. Peranan polusi udara sebagai penyebab kanker paru-paru masih belum jelas. Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga. Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya, seperti tuberkulosis dan fibrosis. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 60

Modul Respirasi
Gejala kanker paru

2010

Gejala paling umum yang ditemui pada penderita kanker paru adalah: 1. Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat. 2. Dahak berdarah, berubah warna dan makin banyak. 3. Napas sesak dan pendek-pendek. 4. Sakit kepala, nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas. 5. Kelelahan kronis 6. Kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas. 7. Suara serak/parau. 8. Pembengkakan di wajah atau leher. Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara, sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut. Kasusk-kasus stadium dini/ awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Diagnosis dan pengobatan Beberapa prosedur yang dapat memudahkan diagnosa kanker paru antara lain adalah foto X-Ray, CT Scan Toraks, Biopsi Jarum Halus, Bronkoskopi, dan USG Abdomen. Pengobatan kanker paru dapat dilakukan dengan cara-cara seperti 1. Pembedahan dengan membuang satu bagain dari paru - kadang melebihi dari tempat ditemukannya tumor dan membuang semua kelenjar getah bening yang terkena kanker.

Radioterapi atau radiasi dengan sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker. 61 Kemoterapi

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Meminum obat oral dengan efek samping tertentu yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup penderita.

(Indonesia) CancerHelps.co.id Portal Informasi/Pengobatan Kanker dan Tumor Indonesia. (Indonesia)Kanker paru-paru Kanker Paru-paru. (Inggris)Inhibition of Inflammation and Carcinogenesis in the Lung and Colon by Tocopherols (Inggris)Role of retinoic receptors in lung carcinogenesis (Inggris)Fish oil supplementation inhibits NNK-induced lung carcinogenesis in the A/J mouse (Inggris)Beta-carotene promotes the development of NNK-induced small airway-derived lung adenocarcinoma (Inggris)Update in Lung Cancer 2008 (Inggris)Lung Cancer Symptoms (Inggris)Causes of lung cancer (Inggris)Types of lung cancer (Inggris)Epigallocatechin 3-Gallate and Green Tea Catechins: United They Work, Divided They Fail (Inggris)NonSmall Cell Lung Cancer: Epidemiology, Risk Factors, Treatment, and Survivorship (Inggris)Gamma-aminobutyric acid, a potential tumor suppressor for small airway-derived lung adenocarcinoma.

Refensi 1. ^ (Inggris)Donald W Kufe, MD, Raphael E Pollock, MD, PhD, Ralph R Weichselbaum, MD, Robert C Bast, Jr, MD, Ted S Gansler, MD, MBA, James F Holland, MD, ScD (hc), and Emil Frei, III, MD. (2003).Holland-Frei Cancer Medicine (edisi ke-6). BC Decker Inc.. hlm. Molecular pathogenesis. ISBN 1-55009-213-8. Diakses pada 12 Desember 2010. 62

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

2. ^ (Inggris)"Mutational analysis of p73 and p53 in human cancer cell lines.". Laboratory of Human Carcinogenesis, National Cancer Institute, National Institutes of Health; Yoshikawa H, Nagashima M, Khan MA, McMenamin MG, Hagiwara K, Harris CC.. Diakses pada 12 Desember 2010. 3. ^ (Inggris)Donald W Kufe, MD, Raphael E Pollock, MD, PhD, Ralph R Weichselbaum, MD, Robert C Bast, Jr, MD, Ted S Gansler, MD, MBA, James F Holland, MD, ScD (hc), and Emil Frei, III, MD. (2003).Holland-Frei Cancer Medicine (edisi ke-6). BC Decker Inc.. hlm. Table 92-2. Oncogenes and Tumor-Suppressor Genes Altered in Lung Cancer. ISBN 1-55009-213-8. Diakses pada 12 Desember 2010. 4. ^ (Inggris) Ferlay J, Bray F, Pisani P and Parkin DM. GLOBOCAN 2002: Cancer Incidence, Mortality and Prevalence Worldwide. IARC CancerBase No. 5, Version 2.0, Lyon: IARC Press, 2004 5. ^ (Inggris)Donald W Kufe, MD, Raphael E Pollock, MD, PhD, Ralph R Weichselbaum, MD, Robert C Bast, Jr, MD, Ted S Gansler, MD, MBA, James F Holland, MD, ScD (hc), and Emil Frei, III, MD. (2003).Holland-Frei Cancer Medicine (edisi ke-6). BC Decker Inc.. hlm. Table 92-3. World Health Organization Lung Cancer Classification. ISBN 1-55009-213-8. Diakses pada 12 Desember 2010. 6. ^ Travis, WD (January 1995). "Lung cancer". Cancer 75 (Suppl. 1): 191202. doi:10.1002/1097-0142(19950101)75:1+<191::AIDCNCR2820751307>3.0.CO;2-Y. PMID 8000996. 7. ^ Bryant, A (July 2007). "Differences in epidemiology, histology, and survival between cigarette smokers and never-smokers who develop non-small cell lung cancer". Chest 132 (1): 198 192.doi:10.1378/chest.07-0442. PMID 17573517

Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel bronkus. jaringan yang normal. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com Terjadinya kanker ditandai dengan 63 pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel

Modul Respirasi

2010
metaplasia

Proses keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia.

2.1.2.

Etiologi dan Faktor Risiko Kanker Paru

Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan penyebab terjadinya kanker paru : a. Merokok tubuh, genetik, dan lain-lain (Amin, 2006). Dibawah ini akan diuraikan mengenai faktor risiko

Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan paling penting, yaitu 85% dari seluruh kasus ( Wilson, 2005). Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok (Stoppler,2010). b. Perokok pasif

Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok pasif, atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam ruang tertutup, dengan risiko terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang-orang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru meningkat dua kali (Wilson, 2005). Diduga ada 3.000 kematian akibat kanker paru tiap tahun di Amerika Serikat terjadi pada perokok pasif (Stoppler,2010). 64

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
c. Polusi udara

2010

Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian akibat kanker paru jumlahnya dua kali lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bukti statistik juga menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada masyarakat dengan kelas tingkat sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang pada mereka dengan kelas yang lebih tinggi. Hal ini, sebagian dapat dijelaskan dari kenyataan bahwa kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung hidup lebih dekat dengan tempat pekerjaan mereka, tempat udara kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi. Suatu adalah 3,4 benzpiren (Wilson, 2005) . d. Paparan zat karsinogen karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, karsinogen yang ditemukan dalam udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok)

Beberapa zat

kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru (Amin, 2006). Risiko kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok. e. Diet

Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru (Amin, 2006). f. Genetik

Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih besar terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul dan berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 65

Modul Respirasi
juga gen-gen K-ras

2010
dan myc) dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor

(termasuk gen rb, p53, dan CDKN2) (Wilson, 2005). g. Penyakit paru

Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok dihilangkan (Stoppler, 2010).

2.1.3.

Klasifikasi Kanker Paru

Kanker paru dibagi menjadi kanker paru sel kecil cancer, SCLC) dan kanker paru sel tidak

(small cell lung

kecil (non-small lung cancer,

NSCLC). Klasifikasi ini digunakan untuk menentukan terapi. Termasuk didalam golongan kanker paru sel tidak kecil adalah epidermoid, adenokarsinoma, tipe-tipe sel besar, atau campuran dari ketiganya. 66

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Karsinoma sel skuamosa (epidermoid) merupakan tipe histologik kanker paru yang paling sering ditemukan, berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya terletak sentral di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada, dan mediastinum. Karsinoma ini lebih sering pada laki-laki daripada perempuan (Wilson, 2005). Adenokarsinoma, memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan jenis tumor ini timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi sering kali meluas ke pembuluh darah dan limfe pada stadium dini dan sering bermetastasis jauh sebelum lesi primer menyebabkan gejala-gejala. Karsinoma bronkoalveolus dimasukkan sebagai subtipe adenokarsinoma

dalam klasifikasi terbaru tumor paru dari WHO. Karsinoma ini adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh. Karsinoma sel kecil umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang terletak di sentral dengan perluasan ke dalam parenkim paru dan keterlibatan dini kelenjar getah bening hilus dan mediastinum. Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan bentuk bulat hingga lonjong, sedikit sitoplasma, dan kromatin granular. Gambaran mitotik sering ditemukan. Biasanya ditemukan nekrosis dan mungkin luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan fragmentasi dan crush artifact pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas pada pemeriksaan Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 67

Modul Respirasi

2010

sitologik, adalah berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor dengan sedikit sitoplasma yang saling berdekatan (Kumar, 2007). Karsinoma sel besar inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh (Wilson, 2005). Bentuk lain dari kanker paru primer adalah adenoma, sarkoma, dan mesotelioma bronkus. Walaupun jarang, tumor-tumor ini penting karena dapat menyerupai karsinoma bronkogenik dan mengancam jiwa. 2.1.4. Stadium Klinis adalah sel-sel ganas yang besar dan

berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran

Pembagian stadium klinis kanker paru berdasarkan sistem TNM menurut International Union Against (IUAC)/The American Joint Comittee on Cancer (AJCC) 1997 adalah sebagai berikut :

68

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Keterangan : Status Tumor Primer (T) T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer. Tx : Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus, tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi. Tis : Karsinoma in situ. T1 : Tumor berdiameter yang normal. T2 : Tumor berdiameter > 3 cm atau ukuran berapa pun yang sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan ateletaksis yang meluas ke hilus; harus berjarak > 2 cm distal dari karina. T3 : Tumor ukuran berapa saja yang langsung meluas ke dinding dada, diafragma, pleura mediastinalis, dan perikardium parietal atau tumor di bronkus utama yang terletak 2 cm dari distal karina, tetapi tidak melibatkan karina, tanpa mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, atau korpus vertebra. T4 : Tumor ukuran berapa saja dan meluas ke mediastinum, jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, korpus vertebra, rongga pleura/perikardium yang disertai efusi pleura/perikardium, satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama pada tumor primer. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 69 3 cm dikelilingi paru atau pleura viseralis

Modul Respirasi

2010

Keterlibatan Kelenjar Getah Bening Regional (N) N0 : Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar getah bening regional. N1 : Metastasis pada peribronkial dan/atau kelenjar hilus ipsilateral. N2 : Metastasis pada mediastinal ipsilateral atau kelenjar getah bening subkarina. N3 : Metastasis pada mediastinal atau kelenjar getah bening hilus kontralateral; kelenjar getah bening skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral.

Metastasis Jauh (M) M0 : Tidak diketahui adanya metastasis jauh. M1 : Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu misalnya otak (Huq, 2010).

70

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

2.1.5.

Gejala Klinis

Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat : Lokal (tumor tumbuh setempat) : Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis Hemopt isis Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran nafas 71 Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam stadium

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Kadang terdapat kavitas seperti abses paru Ateletaksis Invasi lokal : Nyeri dada Dispnea karena efusi pleura

2010

Sindrom vena cava superior Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis) Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakhialis dan saraf

simpatis servikalis Gejala Penyakit Metastasis : Pada otak, tulang, hati, adrenal Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai

metastasis) Sindrom Paraneoplastik : terdapat 10% kanker paru dengan gejala : Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam

Hematologi : leuko sitosis, anemia, hiperkoagulasi Hipertrofi osteoartropati Neurologik : dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer Neuromiopati Endokrin : sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia) 72

Dermatologik : eritema mult iform, hiperkeratosis, jari tabuh Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Renal : syndrome of inappropriate antidiuretic hormone Asimtomat ik dengan kelainan radiologis Sering terdapat pada perokok dengan COPD

2010

yang terdeteksi secara

radiologis. Kelainan berupa nodul soliter (Amin, 2006).

2.1.6. 2.1.6.1.

Diagnosis Anamnesis

Anamnesis yang lengkap serta pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk diagnosis tepat. Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal penyakit kanker paru. Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-kadang bercampur darah, sesak nafas dengan suara pernafasan nyaring (wheezing), nyeri dada, lemah, berat badan menurun, dan anoreksia merupakan keadaan yang mendukung. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pasien tersangka kanker paru adalah faktor usia, jenis kelamin, keniasaan merokok, dan terpapar zat karsinogen yang dapat menyebabkan nodul soliter paru. 2.1.6.2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa perubahan bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah bening dan tanda-tanda obstruksi parsial, infiltrat dan pleuritis dengan cairan pleura. 2.1.6.3. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laborator ium ditujukan untuk : a. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru. Kerusakan pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau pemeriksaan analisis gas. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 73

Modul Respirasi
b. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada organ-organ lainnya. c. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh

2010

kanker paru pada jaringan tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena metastasis. 2.1.6.4. Radiologi

Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama dipergunakan untuk mendiagnosa kanker paru. Kanker paru memiliki gambaran radiologi yang bervariasi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran tumor, kelenjar getah bening, dan metastasis ke organ lain. Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan metode tomografi komputer. Pada pemeriksaan tomografi komputer dapat dilihat hubungan kanker paru dengan dinding toraks, bronkus, dan pembuluh darah secara jelas. Keuntungan tomografi komputer tidak hanya memperlihatkan bronkus, tetapi juga struktur di sekitar lesi serta invasi tumor ke dinding toraks. Tomografi komputer juga mempunyai resolusi yang lebih tinggi, dapat mendeteksi lesi kecil dan tumor yang tersembunyi oleh struktur normal yang berdekatan. 74

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

75 Fig. 9-2. Carcinoma of the lung. A. The PA radiograph demonstrates a subtle increase in density at the inferior portion of the right hilum that would probably be unobserved without the lateral film. B. The Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

lateral view demonstrates an obvious retrosternal abnormality ( arrow ). The mass was in the right upper lobe and was a primary lung cancer. It is critical to remember that a fluid level, and particularly an air fluid level, is not visible unless the beam is in a horizontal projection, regardless of the patient's position; P.117 http://flylib.com/books/en/3.98.1.14/1/

2.1.6.5.

Sitologi paru yang mempunyai

Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker

nilai diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Pemeriksaan dilakukan dengan mempelajari sel pada jaringan. Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan gambaran perubahan sel, baik pada stadium prakanker maupun kanker. Selain itu dapat juga menunjukkan proses dan sebab peradangan. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 76

Modul Respirasi

2010

Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang dipakai untuk mendapatkan bahan sitologik. Pemeriksaan sputum adalah pemeriksaan yang paling sederhana dan murah untuk mendeteksi kanker paru stadium preinvasif maupun invasif. Pemeriksaan ini akan memberi hasil yang baik terutama untuk kanker paru yang letaknya sentral. Pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk skrining terhadap kanker paru pada golongan risiko tinggi.

http://www.pitt.edu/~super1/lecture/lec18121/003.htm 2.1.6.6. Bronkoskopi 77

Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan indikasi untuk bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber optik, perubahan mikroskopik mukosa bronkus dapat dilihat berupa nodul atau Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

gumpalan daging. Bronkoskopi akan lebih mudah dilakukan pada tumor yang letaknya di sentral. Tumor yang letaknya di perifer sulit dicapai oleh ujung bronkoskop. 2.1.6.7. Biopsi Transtorakal

Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk mendiagnosis tumor pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam hal ini diperlukan peranan radiologi untuk menentukan ukuran dan letak, juga menuntun jarum mencapai massa tumor. Penentuan letak tumor bertujuan untuk memilih titik insersi jarum di dinding kulit toraks yang berdekatan dengan tumor. 2.1.6.8. Torakoskopi

Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna pemeriksaan histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah pemeriksaan dengan alat torakoskop yang ditusukkan dari kulit dada ke dalam rongga dada untuk melihat dan mengambil sebahagian jaringan paru yang tampak. Pengambilan jaringan dapat juga dilakukan secara langsung ke dalam paru dengan menusukkan jarum yang lebih panjang dari jarum suntik biasa kemudian dilakukan pengisapan jaringan tumor yang ada (Soeroso, 1992).

2.1.7. 2.1.7.1.

Penatalaksanaan Pembedahan

Pembedahan pada kanker paru bertujuan untuk mengangkat tumor secara total berikut kelenjar getah bening disekitarnya. Hal ini biasanya dilakukan pada kanker paru yang tumbuh terbatas pada paru yaitu stadium I (T1 N0 M0 atau T2 N0 M0), kecuali pada kanker paru jenis SCLC. Luas reseksi atau pembedahan tergantung pada luasnya 78 pertumbuhan tumor di paru. Pembedahan dapat juga dilakukan pada stadium lanjut, akan tetapi lebih bersifat paliatif. Pembedahan Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
paliatif mereduksi tumor agar radioterapi dan kemoterapi lebih

2010

efektif, dengan demikian kualitas hidup penderita kanker paru dapat menjadi lebih baik. Pembedahan untuk mengobati kanker paru dapat dilakukan dengan cara : a. Wedge Resection, yaitu melakukan pengangkatan bagian paru yang berisi tumor, bersamaan dengan margin jaringan normal. b. Lobectomy, yaitu pengangkatan keseluruhan lobus dari satu paru. c. Pneumonectomy, yaitu pengangkatan paru secara keseluruhan. Hal ini dilakukan jika diperlukan dan jika pasien memang sanggup bernafas dengan satu paru. 2.1.7.2. Radioterapi

Radioterapi dapat digunakan untuk tujuan pengobatan pada kanker paru dengan tumor yang tumbuh terbatas pada paru. Radioterapi dapat dilakukan pada NCLC stadium awal atau karena kondisi tertentu tidak dapat dilakukan pembedahan, misalnya tumor terletak pada pasien tidak mendukung untuk dilakukan pembedahan. Terapi radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar X untuk membunuh sel kanker. Pada beberapa kasus, radiasi diberikan dari luar tubuh (eksternal). Tetapi ada juga radiasi yang diberikan secara internal dengan cara meletakkan senyawa radioaktif di dalam jarum, dengan menggunakan kateter dimasukkan ke dalam atau dekat paru-paru. Terapi radiasi banyak dipergunakan sebagai kombinasi dengan pembedahan atau kemoterapi. 2.1.7.3. Kemoterapi 79 bronkus utama sehingga teknik pembedahan sulit dilakukan dan keadaan umum

Kemoterapi pada kanker paru merupakan terapi yang paling umum diberikan pada SCLC atau pada kanker paru stadium lanjut yang telah bermetastasis ke luar paru seperti otak, ginjal, dan hati. Kemoterapi Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
dapat digunakan untuk memperkecil sel kanker, memperlambat

2010

pertumbuhan, dan mencegah penyebaran sel kanker ke organ lain. Kadangkadang kemoterapi diberikan sebagai kombinasi pada terapi pembedahan atau radioterapi. Penatalaksanaan ini menggunakan obat-obatan (sitostatika) untuk membunuh sel kanker. Kombinasi pengobatan ini biasanya diberikan dalam satu seri pengobatan, dalam periode yang memakan waktu bermingguminggu atau berbulan-bulan agar kondisi tubuh penderita dapat pulih (ASCO, 2010).

2.1.8.

Prognosis

Yang terpenting pada prognosis kanker paru adalah menentukan stadium penyakit. Pada kasus kanker paru jenis NSCLC yang dilakukan tindakan pembedahan, kemungkinan hidup 5 tahun adalah 30%. Pada karsinoma in situ, kemampuan hidup setelah dilakukan pembedahan adalah 70%, pada stadium I, sebesar 35-40% pada stadium II, sebesar 10-15% pada stadium III, dan kurang dari 10% pada stadium IV. Kemungkinan hidup rata-rata tumor metastasis bervariasi dari 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Hal ini tergantung pada status penderita dan luasnya tumor. Sedangkan untuk kasus SCLC, kemungkinan hidup rata-rata adalah 1-2 tahun pasca pengobatan. Sedangkan ketahanan hidup SCLC tanpa terapi hanya 3-5 bulan (Wilson, 2005). Angka harapan hidup 1 tahun untuk kanker paru sedikit meningkat dari 35 % pada tahun 1975-1979 menjadi 41% di tahun 2000-2003. Walaupun begitu, angka harapan hidup 5 tahun untuk semua stadium hanya 15%. Angka ketahanan sebesar 49% untuk kasus yang dideteksi ketika penyakit masih bersifat lokal, tetapi hanya 16% kanker paru yang didiagnosis pada stadium dini (American Cancer Society, 2008) Dalam kaitannya dengan pengaruh karsinogenik, terdapat bukti kuat bahwa merokok merupakan tersangka utama penyebab perubahan genetik 80

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

yang menyebabkan kanker paru. Sangat banyak bukti statistik, klinis, dan eksperimen yang memberatkan rokok. Secara statistik, sekitar 90% kanker paru terjadi pada perokok aktif atau mereka yang baru berhenti. Terdapat korelasi linier antara frekuensi kanker paru dan jumlah bungkus-tahun merokok. Peningkatan risiko menjadi 60 kali lebih besar pada perokok berat (dua bungkus sehari selama 20 tahun) dibandingkan dengan bukan perokok. Atas sebab yang belum sepenuhnya jelas, perempuan memperlihatkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap karsinogen tembakau dibandingkan dengan lakilaki. Meskipun berhenti merokok menurunkan risiko terjadinya kanker paru seiring dengan waktu, risiko tersebut tidak pernah kembali ke level dasar. Pada kenyataannya, perubahan genetik yang mendahului kanker paru dapat menetap selama bertahun-tahun di epitel bronkus bekas perokok. Merokok pasif (berada dekat dengan perokok) meningkatkan risiko menderita kanker paru hingga mendekati dua kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok. Merokok melalui pipa dan cerutu juga meningkatkan risiko, tetapi dengan derajat yang lebih ringan. Bukti klinis terutama berupa pembuktian adanya perubahan progresif di epitel yang melapisi saluran napas pada perokok kronis. Perubahan sekuensial ini paling jelas pada karsinoma sel skuamosa, meskipun juga dapat ditemukan pada subtipe histologik yang lain. Pada hakikatnya, terdapat korelasi linier antara intensitas pajanan ke asap rokok dan munculnya perubahan epitel yang semakin mengkhawatirkan yang dimulai dengan hiperplasia sel basal yang relatif tidak membahayakan dan metaplasia skuamosa dan berkembang menjadi displasia skuamosa dan karsinoma in situ, sebelum memuncak menjadi karsinoma invasif. Di antara berbagai subtipe histologik kanker paru, karsinoma sel skuamosa dan karsinoma sel kecil memperlihatkan keterkaitan paling kuat dengan pajanan tembakau. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 81

Modul Respirasi
Bukti eksperimen, meskipun semakin banyak setiap tahunnya, tidak memiliki satu hal penting : sejauh ini para peneliti belum mampu

2010

memicu timbulnya kanker paru pada hewan percobaan dengan memajankan hewan tersebut ke asap rokok. Namun, kondensat asap rokok adalah ramuan penyihir yang mengandung hidrokarbon polisiklik serta berbagai mutagen dan karsinogen kuat lainnya. Meskipun tidak terdapat eksperimental, rangkaian bukti yang mengaitkan merokok dengan kanker paru semakin lama semakin besar (Robbin & Kumar, 2007). Berikut merupakan gambaran skema bahan-bahan kimia rokok menyebabkan terjadinya kanker paru (Hecht,1999) :

Menurut Hecht (2003) dalam Ibrahim (2007), skema ini menggambarkan peran utama perubahan DNA dalam proses karsinogenesis. Dalam skema ini, nikotin menyebabkan sifat adiksi ingin terus merokok dan menyebabkan pajanan kronis terhadap bahan karsinogen. Karsinogen secara metabolik dapat diaktifkan untuk bereaksi dengan DNA, membentuk produk kovalen gabungan yang disebut DNA yang berubah (DNA adducts). Bersaing dengan proses metabolik ini, proses detoksifikasi produk karsinogen gagal untuk diekskresikan. Jika DNA yang sudah berubah tersebut dapat diperbaiki (repair) oleh enzim perbaikan seluler, DNA akan kembali menjadi bentuk normalnya. Akan tetapi jika perubahan terus berlangsung selama replikasi DNA, kegagalan pengkodean DNA dapat terjadi, yang cenderung menjadi mutasi permanen dalam urutan DNA. Selsel dengan DNA rusak atau bermutasi dapat dilisiskan dengan proses apoptosis. Jika mutasi terjadi pada bagian utama dalam gen-gen yang Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 82

Modul Respirasi
krusial, seperti RAS atau MYC onkogen atau TP53 atau CDKN2A

2010

tumor supresor gen, hanya dapat terjadi kehilangan kontrol regulasi pertumbuhan sel-sel normal dan terjadi pertumbuhan tumor. Nikotin dan karsinogen dapat juga berikatan secara langsung dengan reseptor beberapa sel, selanjutnya mengaktivasi protein kinase B (AKT), protein kinase A (PKA) dan faktor-faktor lain. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan proses apoptosis, peningkatan angiogenesis, dan peningkatan transformasi sel. Bahan isi tembakau juga berisi promotor tumor dan kokarsinogen, yang dapat mengaktifkan proses karsinogenesis. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21470/4/Chapter%20II.p df p53 p53 adalah protein yang dikode oleh gen p53 (tumor protein 53, TP53) terletak pada kromosom 17p13.1. p53 merupakan faktor transkripsi yang melekat pada sekuen DNA yang spesifik dan menyebabkan trans-aktivasi sejumlah gen dengan fungsi yang bermacam-macam termasuk penghentian siklus sel, apoptosis, dan menyebabkan perubahan metabolisme. 6,17,21 p53 juga dikenal
11

sebagai cellular peran p53 siklus terhadap akan

gatekeeper12 atau the dalam mengatur sinyal

guardian

of

the di

genome

karena selular

sentralnya

respon-respon penting

tingkat

berbagai mengatur

stres. 11 Apabila

terjadi seperti penuaan

kerusakan DNA, penghentian

proses-proses

sel,

perbaikan DNA, apoptosis,

(senescense), sel metabolisme dan autofagi.10,11 Secara lebih lengkap, fungsi dari p53 diuraikan di bawah. 2.1. Penghentian siklus sel (cell cycle arrest) Apabila terjadi kerusakan DNA yang tidak parah, p53 akan merangsang penghentian inhibitor siklus sel untuk sementara. 15 p53
2

dapat

menginduksi kinase 83

penghentian siklus sel pada fase G1, G2 dan S. p21waf1/Cip1, sebuah kinase yang tergantung cyclin (a cyclin-dependent (CDK) inhibitor) merupakan mediator primer bagi penghentian siklus sel fase G1 yang tergantung pada p53 (p53-dependent G1 cell cycle arrest) setelah terjadi kerusakan DNA.15 Over-ekspresi p21waf1/Cip1 akan Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

menginduksi penghentian siklus sel pada fase G1 dengan cara memblokir fosforilasi gen Rb yang dimediasi oleh cyclin E/CDK2 dan pelepasanE2F. E2F ini mempunyai fungsi menginduksi ekspresi gen-gen yang diperlukan untuk memasuki fase S siklus sel.2 Sedangkan pada siklus sel fase G2, peningkatan ekspresi Gadd45 dan 14-3-3 yang berperanan.2 2.2. Perbaikan DNA Perbaikan terhadap kerusakan DNA terjadi sebelum sel memasuki tahap penting kerusakan dengan waktu bagi dari DNA,
11

sintesis DNA dan p53 akan

mitosis dan

sel.27 Pada menghentikan siklus

saat sel

terjadi sel pada Sel yang tahap

meningkat

replikasi

merangsang sel untuk

penghentian memperbaiki dapat fungsi-fungsi

fase G1 dan G2. dihentikan proliferasi

Penghentian siklus sel ini akan memberikan tambahan kerusakan dilepaskan biokimia genetiknya. kembali yang ke

pertumbuhannya melalui
27

memfasilitasi

perbaikan DNA. 2.3. Apoptosis

Apoptosis atau disebut juga kematian sel yang terprogram adalah jalur multi proses tahap yang diatur sel. secara Selain ketat yang bertanggung tahap jawab tumor pada yang kematian berperan mekanisme
3

pada

perkembangan

embrional, apoptosis merupakan

penghambat

potensial pada saat bayi dan dewasa. kelebihan jumlah sel pada saat

Peran pokok apoptosis antara lain embrionik dan proses

adalah mengatur jumlah sel dalam tahap perkembangan dengan mengurangi pertumbuhan
14

regenerasi homeostasis sel pada saat dewasa.

Apabila terjadi stres

yang menyebabkan kerusakan yang parah dan tidak bisa diperbaiki, p53 dapat memulai proses apoptosis untuk menghilangkan sel yang rusak. p53 meningkatkan protein-protein 2 dan SURVIVIN.22 2.4. Senescence 84 transkripsi dari efektor-efektor dariapoptosis misalnya NOXA, dan NAX) dan group BH3-only yaitu (PUMA,

menurunkan transkripsi gen-gen penghambat dari apoptosis seperti BCL-

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Penuaan yang sel (cellular senescence) sel merupakan adalah mekanisme

2010
penjagaan siklus
20

(safeguard-mechanism) yang mencegah ekspansi sel yang tua atau sel mengalami mutasi.20 Penuaan terhadap penghentian stres sel secara permanen sinyal-sinyal misalnya: Aktivasi

disfungsi telomerase, gen-gen yang penting

aktivasi onkogen dan bagi penuaan sel

kerusakan DNA. p21

p53 akan menyebabkan peningkatan pengaturan (upregulasi) transkripsi misalnya dan PML.1 Pada kebanyakan sel, aktivasi p53 sangat krusial untuk mengawali proses penuaan setelah terjadinya kerusakan DNA, pada sebagian yang lain p53 juga diperlukan untuk menjaga kelangsungan penghentian pertumbuhan, sedangkan pada yang lain p53 hanya diperlukan untuk menjamin terjadinya proses penuaan, setelah itu proses penghentian pertumbuhan akibat penuaan menjadi permanen dan tidak tergantung lagi pada p53.22 2.5. Autofagi Autofagi untuk (self-eating) merupakan sel-sel respon mamalia yang dan penting pada sel-sel

organism eukariotik dalam menghadapi stres. 25 Autofagi sangat penting kelangsungan dapat hidup bisa pengurangan yang kapasitas bersifat autofagi dianggap sebagai kejadian

onkogenik.25 Autofagi

dianggap

sebagai

proses homeostasis untuk

membersihkan sel-sel dari parasit intraseluler, organela-organela sel yang rusak dan kemungkinan beracun, dan gumpalan protein-protein yang rusak.25 Pada saat autofagi, sitosol lisosom melalui dan sitoplasma untuk didegradasi.
25

bagian dari organela-organela di dalam dalam dapat autofagosom dan dibawa ke p53 menginduksi itu itu, autofagi level melalui

diisolasi

aktivasi transkripsi protein yang menginduksi autofagi yaitu DRAM4 dan inaktivasi jalur mTOR.5 Disamping fisiologis dari p53 dapat menekan autofagi melalui efek sitoplasmik, sehingga setiap perubahan dari sistem p53 baik aktivasi maupun inhibisi dapat menginduksi terjadinya autofagi.25

85

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

86

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

87

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
http://203.190.115.66/prosidingsttn/2010/71.pdf

2010

Telomerase adalah enzim yang termasuk kedalam reverse transcriptase yang berperan didalam pemendekan kromosom selama proliferasi sel. Pada kebanyakan sel eukariota aktivitas telomerase terdapat di jaringan somatik dan diekspresikan pada sel yang mengalami proliferasi cepat seperti pada kebanyakan sel kanker (1). Aktivitas telomerase dapat dideteksi 85-90% pada jaringan tumor dan pada jaringan yang kecepatan replikasinya tinggi Telomer ratusan tidak bahkan mengandung ribuan oleh gen dan terdiri (5). dari ribuan telomer segmen sel DNA berulang. Pada manusia bagian DNA tersebut TTAGGG dan terdiri dari unit TTAGGG enzim Panjang tumor dipertahankan telomerase. suatu ribonukleoprotein yang disebut

Enzim telomerase Pada sel yang sedang mengalami pertumbuhan aktivitas telomerase dapat dideteksi pada semua sel, namun pada sel somatik aktivitas telomerase ditekan, dengan semakin pendeknya telomer mengakibatkan sel berhenti berproliferasi (replicative senescence). mutasi pada sel somatik maka berlangsung (6). ditemukan Bila terdapat sel tumor atau replikasi akan terus 88 proses

Pada sel tumor terdapat kurang lebih 90% pemendekan Beberapa jenis tumor pada karsinoma oral telomerase tinggi seperti

telomer dan aktivitas telomerase yang tinggi. aktivitas

sebesar 75%, karsinoma paru sebesar 80%, karsinoma prostat sebesar Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010
sebesar pada tertentu 94%(7). sel tumor dapat Dengan sehingga digunakan dapat sebagai dideteksinya aktivitas diagnosis,

84%, karsinoma hati sebesar 85%, karsinoma payudara sebesar 93% dan pada neuroblastoma telomerase pada sel aktivitas telomerase deteksi

prognosis maupun pemantauan terapi keganasan (8). Daftar Pustaka 1. 2006. 2. Rubiano, C and Wasserman, M. Detection a of telomerase radioactive Autexier, C and Lue, N.F. The structure and function of telomerase reverse transcriptase. Ann. Rev. Biochem 75:493-517.

activity method. 3.

in Plasmodium

falciparum using

non

Mem. Inst. Oswaldo. Cruz. 98(5):693-695. N., Petmir, S., P. and

2003. A., by

Sriwilaijareon, M.,

Mutirangura, Stage its inhibition

Ponglikitmongkol, of Plasmodium

Wilariat,

specificity

falciparum telomerase

berberine. Parasit. Intern. 51:99-103. 2002. 4. Waters, A.P., Thomas, A.W., Van Dyk, M.R., Jansen, C.J. Methods. 13:134-147. 2006.

Transfection of malaria parasites. 5.

Bachand F, Ibtissem T, Autexier C. Human telomerase RNA-

protein interactions.Nucleic Acids Res. 2001;29:3385-3393. 6. 956. 7. Greider CW. Telomerase activity, cell proliferation, and Haber DA. Clinical implications of basic research:

telomeres, cancer and immortality. N Engl J Med. 1995;332:955-

cancer. Proc Natl Acad Sci U S A. 1998;95:90-92. 8. Belair a CD, Yeager of TR, cell Lopez PM, et al. Telomerase not malignant

activity:

biomarker

proliferation,

transformation. Proc Natl Acad Sci U S A. 1997;94:13677-13682. Kebanyakan sel normal tidak membelah terlalu sering, oleh karena itu kromosom tidak punya risiko memendek dan tidak membutuhkan aktivitas telomerase yang tinggi. Sebaliknya sel kanker memiliki kemampuan untuk membelah tidak terbatas dan juga memelihara Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 89

Modul Respirasi

2010

telomernya. Bagaimana sel kanker menghindar dari penurunan fungsi seluler karena penuaan? Satu penjelasan menjadi dengan penemuan bahwa sel kanker sering memiliki aktivitas telomerase yang meningkat. Beberapa penelitian belum dilakukan pada wilayah ini, termasuk percobaan klinis untuk mengevaluasi vaksin yang melawan langsung sel dengan aktivitas telomerase meningkat. Beberapa penyakit menurun saat ini diketahui menjadi penyebab defek pada telomer, contohnya anemia aplastik kongenital. Penyakit turunan tertentu dari kulit dan paru-paru juga disebabkan oleh defek telomerase. Nobelforsamlingen. Press Release. Available from: http://nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/2009/press.html Cytogenetic Location telomerase reverse transcriptase.: 5p15.33 Molecular Location on chromosome 5: base pairs 1,253,281 to 1,295,161

The TERT gene is located on the short (p) arm of chromosome 5 at position 15.33. More precisely, the TERT gene is located from base pair 1,253,281 to base pair 1,295,161 on chromosome 5.

90

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

91

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

Eylin, MD Definisi Pleura merupakan membran tipis pembungkus paru yang terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis. Kedua lapisan ini bersatu di daerah hilus arteri dan mengadakan penetrasi dengan cabang utama bronkus, arteri dan vena bronkialis, serabut saraf dan pembuluh limfe. Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesotelial, jaringan ikat, pembuluh darah kapiler dan pembuluh getah bening. Pleura seringkali mengalami kelainan seperti terjadinya efusi pleura, yaitu adanya cairan yang patologis dalam rongga pleura.2,3 Perlu diingat bahwa pada normalnya rongga pleura selalu ada cairan serosa yang berfungsi untuk mencegah melekatnya pleura viseralis dan pleura parietalis, sehingga gerakan paru dapat mengembang dan mengecil dengan Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 92

Modul Respirasi

2010

mulus tanpa terjadinya friksi. Cairan fisiologis ini disekresi oleh pleura parietalis dan diabsorbsi kembali oleh pleura viseralis. Dalam keadaan normal cairan pleura berkisar antara kurang dari 1 ml 20 ml dan setiap peningkatan jumlah cairan di atas nilai ini harus dianggap sebagai efusi pleura.3 Patofisiologi
3

Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal, cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe di sekitar pleura. Proses penumpukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh peradangan. Bila proses radang disebabkan oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah, sehingga terjadilah empiema/piotoraks. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemotoraks. Proses terjadinya pneumotoraks karena pecahnya alveoli dekat pleura parietalis sehingga udara akan masuk ke dalam rongga pleura. Proses ini sering disebabkan oleh trauma dada atau alveoli yang kurang elastis lagi seperti pada pasien emfisema paru. Efusi cairan dapat berbentuk transudat dan eksudat. Efusi transudat terjadi karena penyakit lain bukan primer paru seperti pada gagal jantung kongestif, sirosis hati, sindroma nefrotik, dialisis peritoneum, hipoalbuminemia oleh berbagai keadaan, perikarditis konstriktiva, mikaedema, glomerulonefitis, obstruksi vena kava superior, emboli pulmonal, atelektasis paru, hidrotoraks, dan pneumotoraks. 93

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Transudat terjadi apabila hubungan normal antara tekanan kapiler

2010

hidrostatik dan ostmotik koloid terganggu sehingga terbentuknya cairan akan melebihi reabsorbsinya. Biasanya hal ini terdapat pada: 1) Meningkatnya tekanan kapiler sistemik, 2) Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner, 3) Menurunnya tekanan osmotic koloid dalam pleura, 4) Menurunnya tekanan intra pleura. Sedangkan pada efusi eksudat, terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling sering adalah akibat M. tuberculosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudativa tuberkulosa. Sebab lain seperti parapneumonia, parasit (amuba, paragonimiosis, ekinokokus), jamur, pneumonia atipik (virus, mikoplasma, legionella), keganasan paru, proses imunologik seperti pleuritis lupus (karena Systemic Lupus Eritematous), pleuritis rematoid, sarkoidosis, radang sebab lain seperti pancreatitis, asbestosis, pleuritis uremia, dan akibat radiasi. Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membrane kapiler yang permeablenya abnormal karena peradangan (infeksi, infark paru, atau neoplasma) dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan protein transudat. Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran limfe. Kegagalan aliran protein limfe ini (misal: pada pleuritis tuberkulosa) akan menyebabkan peningkatan konsentrasi protein cairan pleura, sehingga menimbulkan eksudat. Efusi transudat atau eksudat dapat dibedakan menurut perbandingan jumlah laktat dehidrogenase (LDH) dan protein yang terdapat di dalam cairan pleura dan serum. Efusi pleura eksudatif memenuhi setidaknya salah satu dari ketiga kriteria berikut, sementara transudatif tidak sama sekali memenuhi kriteria ini:
1

94

Perbandingan kadar protein cairan pleura/protein serum > 0,5 Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Perbandingan kadar LDH cairan pleura/LDH serum > 0.6 Kadar LDH cairan pleura > 2/3 kadar normal tertinggi serum (>200) Etiologi

2010

Gambar 1. Beberapa etiologi efusi pleura 1


Pleuritis eksudatif

Umumnya didasari suatu proses peradangan yang dapat akut seperti pneumonia akut akibat infeksi virus, maupun kronik seperti pleuritis eksudatif tuberkulosa. Kadar proteinnya tinggi sehingga apabila diperiksa dengan reagens Rivalta akan menghasilkan kekeruhan (uji Rivalta +). Dengan demikian eksudat ini cukup kental, warnanya kekuning-kuningan, dan jernih serta cukup banyak mengandung sel-sel limfosit dan mononuclear. Hidrotoraks Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 95

Modul Respirasi
Pada keadaan hipoproteinemi/hipoalbuminemia berat bisa timbul

2010

transudat. Cairannya encer dengan warna dan konsistensi seperti serum, dan tidak mengandung protein sehingga uji Rivalta pun akan negative. Hidrotoraks biasa ditemukan bilateral. Sebab lain yang mungkin adalah gagal jantung kanan, sirosis hati dengan asites, serta sebagai salah satu trias dari sindroma Meig (fibroma ovarii, asites, dan hidrotoraks). Hematotoraks/hemotoraks Timbul perdarahan dalam rongga pleura akibat trauma dada/toraks. Piotoraks/empiema Akibat infeksi primer maupun sekunder bakteri piogenik yang menyebabkan cairan pleura berubah menjadi pus/nanah. Chylothorax Dapat terjadi karena suatu proses keganasan dalam mediastinum sehingga terjadi erosi dari duktus toraksikus serta fistulasi ke dalam rongga pleura, dimana cairannya adalah cairan limfe (putih kekuningan seperti susu). Kelainan ini dapat pula ditemukan pada kasus sirosis hati dengan chylous ascites, dimana cairan asites ini akan menembus diafragma dan masuk ke rongga pleura. Hidropneumotoraks dan piopneumotoraks Bila pada suatu piotoraks didapatkan juga udara di atas pus, maka disebut piopneumotoraks. Namun bila cairan masih belum berupa pus maka disebut hidropnemotoraks (air-fluid level). Cairan pleura hemato-sanguinus 96 Bila cairan patologis dihasilkan oleh proses maligna pada pleura, baik primer maupun sekunder, maka cairan akan berwarna kemerah-merahan Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

sampai coklat (hemato-sanguinus). Suatu abses hati (karena amuba) yang menembus diafragma akan pula menimbulkan efusi pleura kanan dengan cairan hemato-sanguinus bercampur pus. Pleuritis tuberkulosa
3

Penyakit ini terjadi sebagai komplikasi tuberculosis paru melalui fokus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening. Penyebab lain dapat pula berasal dari robeknya perkejuan ke arah saluran getah bening yang menuju rongga pleura, iga, atau kolumna vertebralis. Penyebaran dapat pula secara hematogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. Cairan efusi yang keluar biasanya serosa, namun kadangkadang bisa juga hemoragik. Jumlah leukosit antara 500-2.000 per cc dengan dominasi awal sel polimorfonuklear, tapi kemudian sel limfosit. Cairan efusi sangat sedikit mengandung kuman tuberkulosis, tapi adalah karena reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein. Diagnosis
3

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis yang baik dan pemeriksaan fisik yang teliti. Sedangkan diadnosis pasti ditegakkan melalui pungsi percobaan, biopsi, dan analisis cairan pleura. Temuan klinis Timbunan cairan dalam rongga pleura akan memberikan kompresi patologis pada paru, sehingga ekspansinya akan terganggu dengan akibat akhir timbul sesak napas (tanpa bunyi tambahan, karena bronkus tetap normal). Makin banyak timbunan cairan, sesak akan makin terasa. Pada bebrapa penderita akan timbul batuk-batuk kering, yang disebabkan oleh rangsangan pada pleura. Pada pemeriksaan fisik, makin banyak cairan, maka akan makin tampak paru sisi yang sakit tertinggal saat pernapasan/ekspansi dada. Fremitus akan melemah (semakin banyak cairan, semakin lemah fremitus), bahkan pada efusi pleura yang berat fremitus dapat sama sekali tidak Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

97

Modul Respirasi
terasa. Bila banyak sekali cairan dalam rongga pleura, maka akan

2010

tampak sela-sela iga menonjol atau konveks. Pada perkusi di daerah yang ada cairan akan dapat terdengar suara redup sampai pekak, makin banyak cairan bunyi perkusi makin pekak. Suara napas akan melemah sampai menghilang sama sekali (cairan banyak), yaitu karena paru sama sekali tidak dapat ekspansi lagi. Pada efusi murni suara tambahan (ronki) tidak akan ada, sebab parenkim parunya tetap normal. Adanya ronki hanya menunjukkan bahwa di samping adanya cairan, paru itu sendiri juga mengalami perubahan patologis. Beberapa jenis efusi pleura dalam waktu cepat akan berubah menjadi fibrin (Schwarte/fibrotoraks). Tepat sebelum Schwarte mencapai puncaknya, yaitu sewaktu pleura viseralis dan parietalis masih dapat bergerak bebas walaupun sudah mulai ada perlekatan di berbagai tempat, dapat terdengar plural friction rub pada setiap inspirasi maupun ekspirasi, terutama yang dalam. Diagnosis pleuritis tuberkulosis ditegakkan terutama berdasarkan adanya kuman tuberkulosis dalam cairan efusi atau jaringan biopsi pleura. Pada daerah-daerah dengan prevalensi tuberkulosis paru tinggi dan terutama pada pasien usia muda, sebagian besar efusi pleura disebabkan pleuritis tuberkulosis meskipun tidak ditemukan adanya granuloma pada biopsi jaringan pleura. Pemeriksaan radiologis Untuk konfirmasi dugaan akan adanya efusi pleura maka mutlak diperlukan pemeriksaan foto paru (PA). Bila masih meragukan (karena temuan klinis yang kuat) dapat dimintakan pula pada posisi lateral dengan sisi yang sakit di depan. Suatu kesuraman yang menutupi gambaran paru normal yang dimulai dari diafragma (bila posisi pasien duduk atau berdiri) adalah suatu tanda jelas dari efusi pleura. Batas kesuraman ini selalu konkaf dan di 98

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

bagian lateral paru menanjak dengan jelas. Kelainan dapat unilateral atau bilateral tergantung dari etiologi penyakitnya. Tatalaksana Efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi melalui sela iga. Bila cairan pus kental hingga sulit keluar atau bila empiemanya multilokular, perlu tindakan operatif atau sebelumnya dapat dibantu dengan irigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik (betadine). Pengobatan sistemik hendaknya segera diberikan dengan diiringi pengeluaran cairan yang adekuat. Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi pleura maligna), dapat dilakukanpleurodesis, yaitu melengketnya pleura viseralis dan pleura parietalis. Zat-zat yang dipakai adalah tertrasiklin (terbanyak dipakai), bleomisin, korinebakterium parvum, Tio-tepa, dan 5 Fluorourasil. Pengobatan pada penyakit tuberkulosis (pleuritis tuberkulosis) dengan menggunakan OAT dapat menyebabkan cairan efusi diserap kembali, tapi untuk menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosintesis. Umumnya cairan diresolusi dengan sempurna, tapi kadang-kadang dapat diberikan kortikosteroid secara sistemik (Prednison 1 mg/kg BB selama 2 minggu kemudian dosis diturunkan secara perlahan). Pungsi pleura
3

Aspirasi cairan pleura berguna sebagai saran diagnostik dan terapeutik. Pelaksanaan sebaiknya dilakukan pada pasien dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksila posterior dengan memakai jarum abocath nomor 14 atau 16. Torakosentesis memiliki beberapa komplikasi, antara lain pleura shock (hipotensi), edema paru akut, pnemuotoraks, hemotoraks, dan emboli udara. Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 99

Modul Respirasi
Penegakkan diagnosis melalui cairan pleura antara lain dilakukan pemeriksaan warna cairan, biokima cairan, sitologi, bakteriologi Pungsi percobaan/diagnostik

2010

Yaitu dengan menusuk dari luar dengan suatu spuit kecil steril 10 atau 20 ml serta mengambil sedikit cairan pleura (jika ada) untuk dilihat secara fisik (warna cairan) dan untuk pemeriksaan biokimia (uji Rivalta, kadar kolesterol, LDH, pH, glukosa, dan amilase), pemeriksaan mikrobiologi umum dan terhadap M. tuberculosis serta pemeriksaan sitologi. Analisis cairan pleura yang dilakukan satu kali kadang-kadang tidak dapat menegakkan diagnosis. Dianjurkan aspirasi dan analisisnya diulang kembali sampai diagnosisnya menjadi jelas. Jika fasilitas memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan tambahan seperti: 1) Bronkoskopi, pada kasus-kasus neoplasma, korpus alienum dalam paru, abses paru dan dilakukan beberapa biopsy. 2) Scanning isotop, pada kasus-kasus dengan emboli paru. 3) Torakoskopi (fiber-optic pleuroscpy), pada kasus-kasus dengan neoplasma atau pleuritis tuberkulosa. Pungsi terapeutik Yaitu mengeluarkan sebanyak mungkin cairan patologis yang tertimbun dalam rongga pleura, sehingga diharapkan paru pada sisi yang sakit dapat mengembang lagi dengan baik, serta jantung dan mediastinum tidak lagi terdesak ke sisi yang sehat, dan penderita dapat bernapas dengan lega kembali. Hal ini sangat penting pada keganasan pleura dimana timbunan cairan akan dapat mencapai puncak paru serta mendorong jantung dan mediastinum sedemikian rupa sehingga menimbulkan gangguan hemodinamik. Juga pada pleuritis eksudatif serta pada hematotoraks untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder (piotoraks) serta Schwarte di kemudian hari, disamping mengurangi kompresi paru. 100

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi
Referensi: Hanley, Michael E., Carolyn H. Welsh. Current Diagnosis & Treatment in Pulmonary Medicine. 1st edition. McGraw-Hill Companies.USA:2003. E-book Mason, Robert J. , John F. Murray,

2010

V. Courtney Broaddus, Jay

A. Nadel. Mason: Murray & Nadels Textbook of Respiratory Medicine, 4th ed. Saunders, An Imprint of Elsevier: 2005. Ebook Halim, Hadi. Penyakit-penyakit Pleura. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Sudoyo AW, et al. Edisi 4, Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD FKUI; 2007. h. 1056-60 McMahon MM, Bistrian Bruce R. Infections in Diabetes Mellitus (. Host defenses and susceptibility to infection in patients with diabetes mellitus. Infect Dis Clin North Am 1995, 9, 1; Koziel H, Koziel MJ. Pulmonary complications of diabetes mellitus. Infect Dis Clin North Am 1995, 9, 67) Guptan Amrit & Shah Ashok. Tuberculosis and Diabetes : An Appraisal.Ind. J. Tub., 2000. 47,3. http://www.exomedindonesia.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiahkedokteran/pulmonologi-ilmu-penyakit-dalam/2010/10/29/efusi-pleura/ http://jurnalrespirologi.org/jurnal/Okto09JRI/EFUSI%20PLEURA%20GANAS_7 _.pdf Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari Taiwan menemukan bahwa penderita tubercolosis (TBC) memiliki kecenderungan 11 kali lebih besar menderita kanker paru-paru. Hal ini diketahui setelah dilakukan penelitian kepada lebih dari 700.000 orang yang terpilih secara acak selama enam tahun, termasuk 4.480 orang terdiagnosis dengan penyakit TBC. Dari penelitian ini diketemukan bahwa terbentuknya kanker paru-paru pada pasien TBC terhitung 11 kali lebih tinggi dibanding orang tanpa TBC. Dengan adanya penemuan ini dapat membuktikan adanya keterkaitan antara TBC dan kanker paru-paru yang sebelumnya masih belum terbuktikan. Oleh sebab itu lakukan pencegahan Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 101

Modul Respirasi
sedini mungkin terhadap TBC, dengan selalu menjaga kesehatan dan

2010

selalu melakukan pola hidup sehat. Karena nyawa kita lebih berharga dibandingkan apa pun juga di dunia ini.

Hasilnya menunjukkan infeksi TBC meningkatkan risiko kanker paru hingga 10,9 kali lipat dibandingkan pada partisipan yang sehat. Risikonya pada penderita TBC terukur 0,263 persen, sementara pada orang sehat hanya 0,0241 persen. "Risiko kanker paru-paru bahkan bisa lebih tinggi lagi, menjadi 16 kali lipat jika TBC disertai penyakit pulmonari obstuktif kronis (PPOK)," ( Dr Chih-Yi Chen seperti dikutip dari AFP) Risiko kematian akibat kanker paru-paru juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan adanya infeksi TBC. Pada penderita TBC, risikonya sebesar 0,511 persen, sementara pada orang sehat risikonya jauh lebih kecil yakni 0,082 persen. Penelitian ini belum berhasil memastikan faktor apa yang menyebabkan keduanya saling berhubungan. Namun setidaknya, temuan ini menguatkan dugaan para ahli selama ini bahwa memang ada hubungan antara TBC dengan kanker paru-paru. ( Journal of Thoracic Oncology edisi bulan Januari 20) Timbulnya penyakit tuberkulosis (TB) dikaitkan dengan peningkatan risiko pengembangan kanker paru di daerah pedesaan Cina. Hal itu berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer edisi Maret 2009. Menurut pemimpin penulis Eric Engels dari National Cancer Institute, rokok dan asap rokok di dalam ruangan adalah penyebab utama kanker paru di wilayah Xuanwei, Cina. Dia mengatakan bahwa para peneliti sudah mengusulkan bahwa TB dapat meningkatkan risiko kanker paru karena peradangan paru dan fibrosis Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com 102

Modul Respirasi
yang dapat memicu kerusakan genetik. Untuk penelitian itu, Engels dan rekan memakai data yang pernah

2010

diambil dari kohort penelitian retrospektif yang melibatkan 42.422 petani di Xuanwei. Mereka melacak hubungan antara TB dan risiko kanker paru di antara peserta dari 1976 hingga 1996. Pada 1992, para peserta mengisi angket yang mencakup pertanyaan tentang demografi, ciri-ciri keluarga dan riwayat kesehatan seumur hidup. Selama masa penelitian, 246 peserta atau 0,6% melaporkan penyakit TB. Selain itu, 2.459 peserta atau 5,8%, meninggal akibat kanker paru, termasuk 31 dari 246 orang dengan TB. Para peneliti menentukan bahwa hazard ratio kematian akibat kanker paru adalah 6,1 pada orang dengan penyakit TB. Selain itu, mereka menyimpulkan bahwa hubungan antara TB dan risiko kanker paru sangat tinggi terutama dalam lima tahun pertama setelah diagnosis TB, waktu hazard ratio berkisar dari 6,7 hingga 13. Hazard ratio tetap bermakna yaitu 3,0 untuk sepuluh tahun setelah TB diagnosis, penelitian mengatakan. Para peneliti juga menemukan hubungan antara TB dan kanker paru adalah serupa pada laki-laki dan perempuan. Para peneliti menulis bahwa temuan mereka mendukung kemungkinan bahwa TB mungkin berperan melalui proses peradangan yang terpusat di paru dan fibrosis untuk memicu atau mendorong pengembangan kanker paru, khususnya dalam hubungannya dengan pajanan karsinogenik lain. Selain itu, mereka menulis bahwa kemungkinan hubungan antara TB dan pengembangan kanker paru menunjuk pada kebutuhan terus-menerus untuk mengembangkan dan menerapkan program pencegahan dan pengobatan TB yang lebih baik, khususnya di negara berkembang. http://www.kalbe.co.id/?mn=news&tipe=detail&detail=20017 103

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Modul Respirasi

2010

104

Annisa Rahim | ch4i3m@rocketmail.com

Anda mungkin juga menyukai