Anda di halaman 1dari 3

Untuk memahami etika dalam konteks organisasi pemerintah, diuraikan dan dibahas kata-kata yang hampir mirip dengan

etika dalam komunikasi sehari-hari yaitu etiket, etos, moral, moralitas. Etika dalam kehidupan diartikan sebagai nilainilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan normanorma yang ada, yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. Di sisi lain, etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya terhadap kegiatan tertentu, dan apabila ada istilah etos kerja diartikan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja, seperti disiplin, tanggung jawab, dedikasi, integritas, transparansi, dan sebagainya. Selanjutnya etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. Pertama, etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu, sedangkan etika berkaitan dengan norma moral, apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak dan berlaku umum. Kedua, etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan, sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. Ketiga, etiket lebih bersifat relatif, tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket, sebaliknya, etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. Secara teori etika diartikan sebagai sistem nilai dan sebagai filsafat moral. Selanjutnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), etika diartikan sebagai sistem nilai, filsafat moral, dan sebagai kode etik. Etika sebagai sistem nilai adalah sebagai pedoman hidup atau petunjuk, arah bagaimana manusia hidup baik sebagai manusia. Selain pengertian etika, juga diuraikan tentang teori-teori etika, yaitu etika deontologi, etika teologi, dan etika keutamaan, serta prinsip-prinsip etika dari Adler, yaitu: (1) prinsip keindahan, (2) prinsip persamaan, (3) prinsip kebaikan, (4) prinsip keadilan, (5) prinsip kebebasan, dan (6) prinsip kebenaran. Pada hakekatnya etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 merupakan acuan dasar dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku bangsa Indonesia. Rumusan etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa. Etika kehidupan berbangsa dirumuskan dengan tujuan menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan, sportivitas, disiplin, etos kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, dan menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. Etika kehidupan berbangsa memiliki ruang lingkup yang mencakup: (1) etika sosial budaya, (2) etika politik dan pemerintahan, (3) etika ekonomi dan bisnis, (4) etika penegakan hukum yang berkeadilan, (5) etika keilmuan, dan (6) etika lingkungan. Etika kehidupan berbangsa berisi nilai-nilai, norma-norma moral yang mewujudkan PNS sebagai warga bangsa memiliki pola pikir, sikap, dan perilaku yang etis dalam pelaksanaan tugas dalam organisasi pemerintah.

Menurut Drs. Tony Roeswiyanto, M.Sc. ada 3 (tiga) alasan tentang pentingnya etika dalam organisasi yaitu (1) etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota organisasi, (2) etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang dapat menjembatani konflik moral antar anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda dalam kehidupan organisasi, (3) Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. Dimensi etika organisasi pemerintah mencakup etika dan organisasi, etika dalam pemerintahan, etika dalam jabatan, serta nilai-nilai kepemerintahan yang baik sebagai trend global etika pemerintahan. Menurut Franz Magnis Suseno SJ, ada 4 (empat) unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi, yaitu (1) adanya etos kerja yang kuat, (2) moralitas pegawai bersangkutan diarahkan, (3) kepemimpinan yang bermutu, dan (4) syarat-syarat sistemik. Etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masingmasing individu dalam menghadapi pekerjaan. Beberapa moralitas pribadi yang penting antara lain (1) dedikasi, (2) jujur tidak korupsi, (3) taat pada tuntutan khas etika birokrasi, (4) bertanggung jawab, (5) minat dan hasrat untuk terus-menerus untuk meningkatkan kompetensi dan kecakapannya, (6) menghormati hak dan semua pihak yang bersangkutan. Selanjutnya Gunnar Myrdal menyebut 11 (sebelas) kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: (1) efisiensi, (2) kerajinan, (3) kerapihan, (4) tepat waktu, (5) kesederhanaan, (6) kejujuran tidak korup, (7) keputusan diambil secara rasional bukan emosional, bukan nepotisme/kolusi, (8) kesediaan untuk berubah, (9) kegesitan, (10) bekerja sama, (11) bersedia memandang jauh ke depan. Kepemimpinan bermutu menuntut 5 (lima) hal: (1) kompetensi, (2) tertib kerja, (3) konsistensi, (4) menjadi panutan, (5) transparansi. Adapun kondisi-kondisi sistemik meliputi (1) lingkungan kerja yang mendukung, (2) kontrol. Dalam kepemerintahan yang baik, pelaku pengawasan dan evaluasi penerapan etika organisasi pemerintah selain dilakukan oleh lembaga pemerintahan juga memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat dan sektor swasta. Berdasarkan UUD 1945 lembaga DPR berwenang mengawasi jalannya pemerintahan termasuk di dalamnya mengawasi pelaksanaan standar etika aparatur pemerintah. Kode etik PNS tertuang dalam PP No. 42 Tahun 2004 bertujuan untuk meningkatkan kualitas PNS, yang meliputi etika PNS dalam bernegara, berorganisasi, bermasyarakat, terhadap diri sendiri dan terhadap sesama PNS. Setiap PNS wajib melaksanakan kode etik PNS dan apabila terbukti melakukan pelanggaran, selain dikenakan sanksi moral, juga dapat dikenakan tindakan administrasi berupa hukuman disiplin PNS yang diatur dalam PP No. 53 Tahun 2010 dalam hal terjadi pelanggaran Peraturan disiplin PNS atas rekomendasi Majelis Kode etik PNS. Tujuan ditetapkannya kode etik PNS adalah untuk meningkatkan kualitas PNS yaitu bersikap, bertingkah laku, dan perbuatan yang etis agar dapat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terbaik, adil, dan merata, serta tidak diskriminatif dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi pemerintah, karena pada hakekatnya tugas pemerintah adalah memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut dinyatakan bahwa setiap unit eselon I di unit Kementerian Keuangan diwajibkan menyusun kode etik sesuai ketentuan yang

diatur di dalam peraturan menteri Keuangan tersebut. Apabila ada unit eselon I yang telah menetapkan kode etiknya sebelum dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan tersebut, maka kode etik tersebut harus disesuaikan dengan ketentuan yang diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut. Pimpinan unit eselon I atas nama Menteri Keuangan menetapkan kode etik dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya. Adapun prinsip-prinsip dasar menyusun kode etik adalah : 1) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kode etik pns, 2) disusun di dalam bahasa yang mudah dipahami dan diingat, dan 3) dijabarkan sesuai dengan kondisi dan karakteristik masing-masing unit eselon I. Selanjutnya materi dasar yang tertuang dalam kode etik sekurangkurangnya memuat: 1) tujuan, 2) kewajiban dan larangan, dan 3) sanksi. Apabila PNS terbukti melakukan pelanggaran kode etik, selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif yaitu hukuman disiplin PNS yang diatur dalam PP No.53 Tahun 2010 dalam hal terjadinya pelanggaran disiplin PNS