Anda di halaman 1dari 65

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Kristal merupakan bahan padat homogen, biasanya anisotop dan tembus air serta menuruti hukum hukum ilmu pasti, sehingga susunan bidang bidangnya mengikuti hukum geometri, jumlah kedudukan dari bidang tertentu dan teratur. Mineral merupakan benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara anorganik, memiliki komposisi pada batas batas tertentu dan memiliki atom taom yang tersusun secara teratur. I.2 Tujuan Penulisan Menentukan sistem kristal dari bermacam macam bentuk atas dasar panjang, posisi dan jumlah kristal yang ada pada setiap bentuk kristal. Menentukan klas Simetri atas dasar jumlah unsur Simetri Kristal. Mengetahui pengertian mineral, batasan mineral, dan pembagian dari mineral. Mengetahui mineral mineral pembentuk batuan. I.3 Ruang Lingkup Laporan ini dibuat berdasarkan bahan bahan yang kita pelajari, yaitu : a. Kristalografi b. Mineralogi Fisik c. Mineralogi Kimiawi d. Rock Forming Mineral

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM ; 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

BAB II KRISTALOGRAFI

I.1. Dasar Teori Kristalografi adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat geometri suatu kristal terutama perkembangan, pertumbuhan, kenampakan. Bentuk luar, struktur dalam dan sifat fisis lainnya. Sifat geometri memberikan pengertian letak, panjang, dan jumlah sumbu kristal yang menyusun suatu bentuk kristal tertentu dan jumlah serta bentuk bidang luar yang membatasinya. Perkembangan dan pertumbuhan kenampakan bentuk luar, bahwa disamping mempelajari kombinasi serta antara satu bentuk kristal yang terbentuk kemudian. Struktur dalam membicarakan susunan dan jumlah sumbu kristal juga menghitung parameter dan parameter rasio. Sifat fisis kristal, sangat tergantung pada struktur ( susunan atom-atomnya ). Besar kecilnya kristal tidak dipengaruhi yang pengting bentuk yang dibatasi bidangbidang kristal, sehingga akan dikenal 2 zat yaitu Kristalin dan Non Kristalin. Maksud dan tujuan mempelajari kristalografi terutama dalam pengenalan bentuk kristal yang ada pada setiap bentuk kristal, menentukan klas simetri atas dasar jumlah unsur simetri, menggambarakan semua bentuk kristal atas dsar parameter dan parameter rasio, jumlah dan posisi sumbu kristal dan bidang kristal yang dimiliki oleh setiap kristal baik proyeksi orthogonal maupun stereografis. II.2. Geometri Kristal a. Sumbu dan sudut Kristalografi Sumbu kristalografi adalah suatu garis lurus yang dibuat melalui pusat kristal. Kristal mempunyai 3 bentuk dimensi, yaitu panjang, lebar, dan tebal. Tetapi dalam penggambarannya dibuat 2 dimensi sehingga dinamakan proyeksi orthogonal.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Sudut kristalografi adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan sumbu-sumbu kristalografi pada titik potong ( pusat kristal ). a) Sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu b dan sumbu c. b) Sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu a dan sumbu c. c) Sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu a dan sumbu b. b. Simbol Kristalografi Parameter Bidang Dan Parameter Rasio Parameter bidang hkl: Oh = 1 bagian Ok = 3 bagian Ol = 6 bagian Parameter rasio bidang hkl: Oh : Ok : Ol = 1 : 3 : 6

simbol weiss adalah bagian yang terpotong dibagi dengan satuan ukur. simbol miller adalah satuan ukur dibagi dengan bagian tang terpotong. Simbol weiss dipakai dalam penggambaran kristal ke dalam proyeksi orthogonal dan proyeksi stereografis. Simbol miller dipakai dalam penggambaran kristal kedalam suatu kristal.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Contoh : bidang hal yang tersebut kita gambarkan dalam susunan salip sumbu sistem reguler, maka bidang hal tersebut memotong : Sumbu a pada 1 bagian a+ Sumbu d pada 1 bagian b+ Sumbu c pada 2 bagian c+ Simbol Weiss a:b:c 1/1 : 1/1 : 2/1 ( 1 1 2 )........................1/1 1/1 .....................( 2 2 1 ) c. Klas Simetri Pengelompokaan dalam klas simetri didasarkan pada : Sumbu simetri Bidang simetri Titik simetri atau pusat simetri. Sumbu simetri Simbol Miller

maka :

Sumbu simetri adalah garis lurus yang dibuat melalui pusat kristal, dimana bila kristal tersebut diputar 3600 dengan garis tersebut sebagai poros utamanya, maka pada kedudukan tertentu, kristal tersebut akan menunjukan kenampakankenampakan seperti semula. Ada 4 jenis sumbu simetri : Sumbu simetri gyre Berlaku bila kenampakan satu sama lain pada, kedua belah pihak/ kedua ujung sumbu sama dinotasikan dengan huruf L ( linier ) atau ( gyre ). Penulisan nilai pada kan atas atau kanan bawah notasi. Contoh : L4 = L4 = g4 = g4 Bigyre g

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Apabila kristal diputar 3600 dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya, akan muncul 2 kali kenampakan. Contoh : L2 = L2 = g2 = g2 Trigyre Apabila kristal diputar 3600 dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya, akan muncul 3 kali kenampakan. Contoh : L3 = L3 = g3 = g3 Tetragyre Apabila kristal diputar 3600 dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya, akan muncul 4 kali kenampakan. Contoh : L4 = L4 = g4 = g4 Hexagyre Apabila kristal diputar 3600 dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya, akan muncul 6 kali kenampakan. Contoh : L6 = L6 = g6 = g6 Sumbu Simetri Gyre Polair berlaku bila kenampakan ( konfigurasi ) satu sama lain pada ke dua belah pihak berbeda / tidak sama. Jika salah satu sisinya berupa sudut atau corner maka pada sisi lainya berupa bidang atau plane. Dinotasikan dengan huruf L atau g. Contoh : L2 = g2 Sumbu Cermin Putar ( Gyroide ) Dinoasikan dengan huruf S ( Spiegel Axepy ) = Sumbu Spigel. Sumbu cermin putar didapatkan dari kombinasisuatu perputarn dimana, sumbu tersebut sebagai poronya, dengan pencerminan ke arah suatu bidang cermin putar yang tegak lurus dengan sumbu tersebut bidang cermin ioni disebut dengan cermin putaran atau bidang normal. Macam macam Gyroide :

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Digyroide ( S2 ) Sumbu cermin putar bernilai 2, besar perputaran 1800 yang artinya satu putaran bernilai 1800 menuju 18 dilanjutkan dengan pencermiana tegak lurus bidang cermin putaran menempati 1 kembali. Trigyroide ( S3 ) Sumbu cermin putar bernilai 3, besar perputaran 1200. dalam penentuan dan cara mandapatkan sumbu bernilai 3 caranya sama dengan Digyroide. Tetragyroide ( S4 ) Sumbu cermin putar bernilai 4. besar perputara 900, maka akan terjadi kenampakan beru element simetri dari 1 lewat 1 menempati 2. Pada kenampakan pertama, Tetragyroide merupakan Digyroide, asal susunan keseluruhan diputar sebesar 1800 Hexagyroide ( S6 ) Sumbu cermin putar bernialai 6, besar perputaran 600. Sumbu Inversi Putar Sumbu ini merupakan hasil perputaran dengansumbu tersebut sebagai poros perputarannya, dilanjutkan dengan menginverskan auat membalik melalui titik atau pusat simetri pada sumbu tersebut yang disebut Sentrum Inversi. Cara penulisan nya : 3 , 4 dan sebagainya. Dan sering pula ditulis dengan huruf L . Kemudian disebelah kanan atas ditulis nilai dan kanan bawah ditulis i Contoh :L4i , L6i dan sebagainya. Bidang Simetri

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Bidang simetri adalah bidang datar yang dibuat melalui pusat kristal dan membelah kristal menjadi 2 bagian yang sama besar, dimana bagian yang satu dengan yang merupakan pencerminan dari bagian belahan yang lainnya. Bidang simetri di notasikan dengan P ( Plane ) atau m ( mirror). Bidang simetri dikelompokan menjadi 2 yaitu : a) Bidang Simetri Utama Merupakan bagian yang dibuat melalui 2 buah sumbu simetri utama kristal dan menjadi 2 bagian yang sama besar : Bidang simetri ini ada 2 yaitu : Bidang Simetri Utama Horisontal dinotasikan dengan h Bidang Simetri Utama Vertikal dinotasikan dengan v b) Bidang Simetri Tambahan / Intermediet / Diagonal Bidang simetri diagonal merupakan bidang simetri yang dibuat hanya melalui satu sumbu simetri utama kristal. Bidang ini sering disebut dengan bidang diagonal saja dan dinotasikan dengan d Catatan : Dalam menghitung jumlah bidang simetri, dihitung dahulu bidang simetri utama, baru dihitung simetri tambahannya Titik Simetri atau Pusat Simetri Pusat simetri adalah titik dalam kristal, dimana melaluinya dapat ibuat garis lurus, sedemikian rupa sehingga pada sisi yang satu dengan yang lain mempunyai jarak yang sama, di jumpai kenampakan yang sama pula berupa tepi, sudut, dan bidang. Pada pusat simetri selalu berhimpit dengan pusat kristal, tetapi pusat kristal belum tentu merupakan pusat simetri

II.3. Bentuk Bentuk Kristal


Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Ada 3 macam bentuk kristal yaitu : a) Bentuk Tunggal Kristal yang di batasi oleh bidang bidang datar / bidang bidang kristal dengan bentuk dan ukuran yang sama, sering dijumpai sebagai bentuk dasar. Contoh : b) 4 bidang kristal 6 bidang kristal 8 bidng kristal 12 bidang kristal Tetrahrdron Hexahedron Oktahedron Rhomben Dodecahedron 111 100 111 110

Bentuk Kombinasi Bentuk bentuk kristal yang terjadi dari penggabungan dua atau

lebih bentuk tunggal yang tidak sama, sehingga pada bentuk tersebut didapatkan dua atau lebih symbol, bidang yang dipakai sebagai symbol bentuk. Bentuk ini hanya terjadi pada system kristal yang sama. Contoh : Kombinasi Hexahedron ( 100 ) + Octahedron ( 111 ) Kombinasi Rhomben Dodecahedron ( 110 ) + Tetrakishexahedron ( 210 ) c) Bentuk Pertumbuhan Pertumbuhan secara teratur antara dua atau lebih bentuk kristal tunggal atau kombinasi dari bentuk yang sama, sehingga akan di dapatkan unsur unsur simetri persekutuan yang sama. Tetapi, apabila kumpulan dari bentuk bentuk tersebut disebut kelompok atau kumpulan kristal ( Crystal Agregate ). Contoh Tetrakishexahedron ( 210 )

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Triakisoktahedron ( 211 )

Tujuh Prinsip letak Bidang Kristal Terhadap Susunan Sumbu Kristalografi

II.4. Sistem Kristal

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Sistem kristal adalah bentuk dari suatu kristal dari yang paling sederhana sampai ke bentuk paling rumit. Sistem kristal terbagi menjadi 6 atau 7 sistem. Yang menjadi dasar-dasarnya adalah perbandingan panjang sumbu, letak sumbu, jumlah sumbu, nilai sumbu C. a. Perbandingan panjang sumbu kristalografi Dilihat perbandingan sumbunya dibagi menjadi 4 yaitu

a=b=c a=bc a=b=dc abc

sistem Reguler sistem Tetragonal sistem Hexagonal sistem Orthorombic, Monoklin, Triklin

b. Letak atau posisi sumbu kristalografi Dalam peletakannya dibagi menjadi 4 yaitu

= = = 90 Reguler, Tetragonal, Orthorombic = = 90 Monoklin 90 Triklin


dan 1 = 2 = 3 = 120 Hexagonal

1 = 2 = 3 = 90

c. Jumlah sumbu kristalografi Berdasarkan jumlah sumbunya dibagi menjadi 2 3 sumbu 4 sumbu Reguler, Tetragonal, Orthorombic, Monoklin, Triklin Hexagonal

d. Nilai sumbu C atau sumbu vertikal. Yang menjadi dasar pembagian sistem kristal ada 7 adalah nilai sumbu c pada sistem hexagonal. Pada hexagonal bernilai 6 pada trigonal bernilai 3.

II.5. Macam-Macam Sistem Kristalografi


Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

10

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

a. REGULER ( CUBIC =ISOMETRIC = TESSERAL = TESSULER )

Dalam sistem reguler terdapat beberapa ketentuan seperti sebagai berikut: 1. Dalam keadaan sebenarnya : Jumlah sumbu ada 3 yaitu sumbu a = b = c disebut juga sumbu a

= = = 90
2. Penggambarannya : Sudut a+ dengan b- = 30 Perbandingan panjang sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3 3. Klas simetri I. Herman Mauguin (Hm) : Menerangkan nilai sumbu a (sumbu a, b, c) yang bernilai 4 atau 2 dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu tersebut. Notasi : 2, 4,
2 4 , , m m 4

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

11

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Angka yang menunjukan nilai sumbu dan huruf m menunjukan adanya bidang yang tegak lurus sumbu a tersebut II. Menerangkan sumbu simetri bernilai 3. Apakan sumbu simetri yang bernilai 3 itu juga bernilai 6 atau hanya bernilai 3 saja. Maka bagian ini ditulis 3 atau 3 . III. Menerangkan ada atau tidaknya sumbu intermediate bernilai 2 dan ada tidaknya bidang simetri diagonal yang tegak lurus dengan sumbu diagonal tersebut tersebut. Notasi : 2, m, Contoh : Klas Hexoctahedral..
2 4 2 4 , 3, .. , 3 , m m m m 2 , atau tidak ada m

Klas Pentagonal4, 3, 2..4, 3, 2 Klas Hexetahedral. 4 , 3, 2.. 4 , 3, 2 Scoenflish (Sc)


I. Menerangkan nilai sumbu C.untuk itu ada dua kemungkinan yaitu sumbu c bernilai 4 atau bernilai 2. Notasi : O bila bernilai 4 dan T bila bernilai 2 II. Menerangkan kandungan bidang simetrinya, apabila kristal tersebut mempunyai : Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah h
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

12

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Bila mempunyai : Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah v Bila mempunyai : Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah d Contoh : Tetrahedron... O Dodecahesdral b. TETRAGONAL ( QUADRATIC ) Klas Klas Tetrahedral Pentagonal Hextetrahedral. Td Dyakisdodecahedral Th Klas Klas Pentagonal Icosi Hexagonal Oh

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

13

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Dalam sistem tetragonal terdapat beberapa ketentuan seperti sebagai berikut : 1. Dalam keadaan sebenarnya : Jumlah sumbu ada 3 yaitu sumbu a = b c Sudut = = = 90 Sumbu c bila lebih panjang dari sumbu a atau b maka disebut Columnar ( panjang )bila lebih pendek disebut Stout ( gemuk ). 2. Penggambarannya : Sudut a+ dengan b- = 30 Perbandingan panjang sumbu a : b : c = 1 : 3 :6 3. I. Klas simetri Herman Mauguin (Hm) : Menerangkan nilai sumbu c yang bernilai 4 atau tidak bernilai sama sekali dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu c. Notasi : 4, II.
4 , m 4

Menerangkan nilai sumbu lateral ( selain sb c ), dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu lateral tersebut.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

14

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Notasi : 2, m, III.

2 atau tidak ada m

Menerangkan nilai sumbu intermediate dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu tersebut. Notasi : 2, m,
2 , atau tidak ada m 4 2 2 m m m

Contoh :
4 2 2 m m m

Klas Ditetragonal bipyramidal.

...

Kals Tetragonal Trapezohedral.4 2 2.4 Klas Ditetragonal Pyramidal4 m m.4

42 mm Scoenflish (Sc) I. Menerangkan nilai sumbu yang tegak lurus dengan sumbu c Notasi : D ( Diedrish ) jika sumbu bernilai 2 C ( Cyklish ) jika tidak bernilai II. Menerangkan nilai sumbu c ditulis di sebelah kanan agak ke bawah dari notasi D atau C. Misalnya : D2, C2, D3, C3. III. Menerangkan kandungan bidang simetrinya Bila mempunyai :
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

15

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah v Bila mempunyai : Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah d Contoh : c. HEXAGONAL Klas Ditetragonal pyramidalC4v Klas Ditetragonal bipyramidal.D4h Klas Tetragonal scalenohedral.D2d Klas Tetragonal trapezohedral.D4 Klas Tetragonal bipyramidal..C4h Klas Tetragonal pyramidal.C4 Klas Tetragonal bispenoidalS4 Bidang simetri diagonal ( d )

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

16

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Dalam system hexagonal terdapat beberapa ketentuan seperti sebagai berikut : 1. Dalam keadaan sebenarnya : Jumlah sumbu ada 4 yaitu sumbu a = b = d c Sudut 1 = 2 = 3 = 90 dan 1 = 2 = 3 = 120

Sumbu c bisa lebih panjang atau pendek dari sumbu a. Sumbu a, b dan d terletak dalam bidang horisontal membentuk sudut 60 2. Penggambarannya : Sudut a+ dengan b- = 17 dan sudut b+ dengan d- = 39 Perbandingan panjang sumbu b: d : c = 3 : 1 :6 3.
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Klas simetri

17

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Herman Mauguin (Hm) : I.

Menerangkan nilai sumbu c yang bernilai 6, 6 atau 3,

3 tidak bernilai sama sekali dan ada tidaknya bidang


simetri yang tegak lurus dengan sumbu c. Notasi : 3, 6, II.
6 , , m 6 3

Menerangkan nilai sumbu lateral ( sb a, b, d ), dan ada tidaknya bidang simetri vertical yang tegak lurus dengan sumbu lateral tersebut. Notasi : 2, m,
2 atau tidak ada m

III.

Menerangkan nilai sumbu intermediate dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu intermediet tersebut. Notasi : 2, m,
2 , atau tidak ada m 6 2 m m

Contoh :
2 6 2 2 m m m m

Klas Dihexagonal bipyramidal..

26 2 2 m.6 m m

Klas Hexagonal trapezohedral6 2 Kas Dihexagonal pyramidal6 m

Scoenflish (Sc) I. Menerangkan nilai sumbu yang tegak lurus dengan sumbu c
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

18

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Notasi : D ( Diedrish ) jika sumbu bernilai 2 C ( Cyklish ) jika tidak bernilai II. C3 Menerangkan nilai sumbu c ditulis di sebelah kanan agak ke bawah dari notasi D atau C. Misalnya : D2, C2, D3,

III.

Menerangkan kandungan bidang simetrinya Bila mempunyai : Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah v Bila mempunyai : Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah d

Contoh : Klas Dihexagonal bipyramidal..D6h Klas Dihexagonal pyramidal.C6v Klas Hexagonal pyramidalC6 Klas Hexagonal bipyramial.C6h
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

19

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Klas Hexagonal trapezohidralD6 d. TRIGONAL (RHOMBOHEDRAL)

Dalam sistem trigonal terdapat beberapa ketentuan seperti sebagai berikut : 1. Dalam keadaan sebenarnya : Jumlah sumbu ada 4 yaitu sumbu a = b = d c Sudut 1 = 2 = 3 = 90 dan 1 = 2 = 3 = 120

Sumbu a, b dan d terletak dalam bidang horisontal membentuk sudut 60 2. Sumbu c bernilai 3 Penggambarannya : Sudut a+ dengan b- = 17 dan sudut b+ dengan d- = 39 Perbandingan panjang sumbu b: d : c = 3 : 1 :6

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

20

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

3.

Klas simetri Herman Mauguin (Hm) : I.

Menerangkan nilai sumbu c yang bernilai 6, 6 atau 3,

3 tidak bernilai sama sekali dan ada tidaknya bidang simetri


yang tegak lurus dengan sumbu c. Notasi : 3, 6,
6 , , m 6 3

II.

Menerangkan nilai sumbu lateral (sb a, b, d), dan ada tidaknya bidang simetri vertkal yang tegak lurus dengan sumbu lateral tersebut. Notasi : 2, m,
2 atau tidak ada m

III.

Menerangkan nilai sumbu intermediate dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu intermediet tersebut. Notasi : 2, m,
2 , atau tidak ada m

Contoh : 2. 6 m 2 Klas Trigonal bipyramidal 6


Klas Ditrigonal bipyramidal.. 6 m

6 - .3 - Klas Trigonal rhombohedral.3 - -

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

21

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

2 m

Klas Ditrigonal scalenohedral3

2 m

Scoenflish (Sc) I. Menerangkan nilai sumbu yang tegak lurus dengan sumbu c Notasi : D ( Diedrish ) jika sumbu bernilai 2 C ( Cyklish ) jika tidak bernilai II. Menerangkan nilai sumbu c ditulis di sebelah kanan agak ke bawah dari notasi D atau C. Misalnya : D2, C2, D3, C3. III. Menerangkan kandungan bidang simetrinya Bila mempunyai : Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah v Bila mempunyai : Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah d
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

22

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Contoh : Klas Trigonal pyramidal..C3h Klas Trigonal trapezohedral.D3 Klas Trigonal rhombohedralC3i Klas Trigonal pyramidal..C3 Klas Ditrigonal sclenohedral...D3 Klas Ditrigonal bipyramidalD3h

e. ORTHOROMBIC (RHOMBIC = PRISMATIK = TRIMETIC)

Dalam sistem tetragonal terdapat beberapa ketentuan seperti sebagai berikut : 1. Dalam keadaan sebenarnya : Jumlah sumbu ada 3 yaitu sumbu a b c Sudut = = = 90 Sumbu c terpanjang dan sumbu a terpendek. Sumbu a = brachy ;

Sumbu b = macro Sumbu c = basal

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

23

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

2. 3.

Penggambarannya : Sudut a+ dengan b- = 30 Perbandingan panjang sumbu a: b : c = 1 : 4 :6 Klas simetri Herman Mauguin (Hm) : I. Menerangkan nilai sumbu a dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu a tersebut. Notasi : 2, m,
2 m

II. Menerangkan nilai sumbu b, dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu tersebut. Notasi : 2, m,
2 m

III. Menerangkan nilai sumbu c dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan sumbu tersebut. Notasi : 2,
2 m

Contoh :
2 2 2 2 .. m m m m

Klas Orthorombic bipyramidal..

2 2 m m

22 2 m 2m m 2

Klas Orthorombic bisphenoidal..2 2 Klas Orthorombic pyramidalm

Scoenflish (Sc)
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

24

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

I.

Menerangkan nilai sumbu yang tegak lurus dengan sumbu c Notasi : D ( Diedrish ) jika sumbu bernilai 2 C ( Cyklish ) jika tidak bernilai

II.

Menerangkan nilai sumbu c ditulis di sebelah kanan agak ke bawah dari notasi D atau C. Misalnya : D2, C2, D3, C3.

III. Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d )

Menerangkan kandungan bidang simetrinya

Bila mempunyai :

Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri horizontal ( h ) Bidang simetri vertical ( v ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah v Bila mempunyai : Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah d Contoh : Klas Orthorombic pyramidal..C2v Klas Orthorombic bipyramidal..D2h Klas Orthorombic bispenoidalD2

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

25

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

f. MONOKLIN ( OBLIQUE = MONOSYMETRIC = CINORHOMBIC= HEMIPRISMATIK = MONOCLINOHEDRAL )

Dalam sistem tetragonal terdapat beberapa ketentuan seperti sebagai berikut : 1. Dalam keadaan sebenarnya : Jumlah sumbu ada 3 yaitu sumbu a b c Sudut = = 90 , 90 Sumbu c terpanjang dan sumbu a terpendek. Sumbu a = clino

Sumbu b = ortho Sumbu c = basal 2.


Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Penggambarannya :

26

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Sudut a+ dengan b- = 45 Perbandingan panjang sumbu a: b : c = 1 : 4 :6 3. sumbu b. Notasi : 2, m,


2 m

Klas simetri Herman Mauguin (Hm) :

I. Menerangkan nilai sumbu b dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus dengan

Contoh : Klas Prismatic.


2 m

Klas Spenoidal. 2 Klas Domatic... m

Scoenflish (Sc)

I. Menerangkan nilai sumbu yang tegak lurus dengan sumbu c Notasi : D ( Diedrish ) jika sumbu bernilai 2 C ( Cyklish ) jika tidak bernilai II. Menerangkan nilai sumbu c ditulis di sebelah kanan agak ke bawah dari notasi D atau C. Misalnya : D2, C2, D3, C3. III. Menerangkan kandungan bidang simetrin Bila mempunyai : (h) Bidang simetri vertical ( v )
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Bidang

simetri

horizontal

27

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : (h) Bidang simetri vertical ( v ) Maka notasinya adalah h Bila mempunyai : Bidang simetri vertical ( v ) Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah v Bila mempunyai : Bidang simetri diagonal ( d ) Maka notasinya adalah d Contoh : Klas Prismatic. C2h Klas Spenoidal. C2 Klas Domatic... C1h Bidang simetri horizontal

g. TRIKLIN( ANORTHIC = ASYMETRIC=CLINOHOMBOHEDRAL )

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

28

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Dalam sistem tetragonal terdapat beberapa ketentuan seperti sebagai berikut : 1. Dalam keadaan sebenarnya : Jumlah sumbu ada 3 yaitu sumbu a b c Sudut

90

Semua sumbu saling berpotongan dan membetuk sudut Sumbu a = brachy

miring tidak sama besar. Sumbu b = macro Sumbu c = basal 2. Penggambarannya : Sudut a+ dengan c- = 45 dan b+ dengan c- = 80 Perbandingan panjang sumbu a: b : c = 1 : 4 :6 3. Klas simetri

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

29

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Herman Mauguin (Hm) : Sistem ini mempunyai 2 klas simetri : Mempunyai pusat simetri klas Pinacoidal, notasi 1 Tidak mempunyai pusat simetri klas Assymetric, notasi 1 Scoenflish (Sc) Mempunyai pusat simetri klas Pinacoidal,notasi C1 Tidak mempunyai pusat simetri klas Assymetric, notasi C

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

30

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

BAB III MINERALOGI


III. 1. Dasar teori Mineral adalah suatu cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang mineral, baik dalam bentuk individu ataupun dalam bentuk kesatuan antara lain mempelajari tentang sifat-sifat fisis, sifat-sifat kimia, cara terdapatnya, cara terjadinya dan kegunaannya. Mineralogi terdiri dari kata mineral dan logos, dimana arti mineral berlainan bahkan dikacaukan dukalangan awam.sering diartikan sebagai bahan buormanik (anorganik). Maka pengertian jelas dari kenyataannya batas mineral oleh bebrapa ahli geologi perlu diketahui walaupun dari kenyataannya tidak ada satupun penyesuaian umum untuk definisinya. Definisi mineral meburut beberapa ahli : L.G. Berry dan B. Masson, 1959 Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan mempunyai atom-atom tertentu dan tersusun secara teratur. D.G.A. Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972 Mineral adalah suatu bahan padat yang secara struktural homogen mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dibentuk oleh proses alam yang anorganik. A.W.R.Potter dan H. Robbinson, 1977 Mineral adalah suatu bahan padat yang homogen mempunyai komposisi kimia tertenu atau dalam batas-batas tertentu dan mempunyai sifatsifat tetapi dibentuk di alam dan bukan hasil suatu kehidupan. Dari ketiga definisi tersebut mereka masih memberikan suatu anomali ataupun pengecualian beberapa zat atau bahan yang disebut juga mineral, walaupun tidak termasuk di dalam definisi. Sehingga sebenarnya dapat dibuat suatu definisi baru atau definisi kompilasi. Dimana definisi kompilasi tidak
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

31

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

menghilangkan suatu ketentuan umum bahwa mineral mempunyai sifat sebagai berikut yaitu bahan alam mempunyai sifat-sifat fisis dan kimia tetap berupa unsur tunggal atau senyawa. Definisi mineral kompilasi adalah Suatu bahan alam yang mempunyai sifat-sifat fisik dan kimia yang tetap, pada umumnya anorganik, homogen, dapat berupa cair dan gas. III.2. Batasan Batasan Definisi Mineral Suatu bahan alam Harus terjadi secara alamiah. Maka bahan atau zat yang dibuat oleh tenaga manusia tidak dapat disebut sebagai mineral. Walaupun kadang-kadang pembuatannya akan sangat sulit dibedakan dengan kristal alam tetapi tetap tidak dapat disebut sebagai mineral. Contah : NaCl dibuat di alam disebut halite sedang yang dibuat di laboratorium disebut sebagai Natrium Klorida. Mempunyai sifat-sifat fisis Warna, kilap, kekerasan, perawakan kristal, gores, belahan, dan lai-lain.mempunyai sifat-sifat kimiawi yang tetap diantaranya reaksi terhdap api oksidasi, api reduksi, pelentingan, penggarangan, dll. Berupa unsur tunggal atau persenyawaan tetap Mineral merupakan unsure tunggal misalnya Diamond (C), Graphyte (C), Native Silver (Ag), dll. Mineral berupa unsur kimia sederhana seperti Barite

(BaSO4), Zircon (ZrSIO4), Cassiterite (SnO2), Magnetite (Fe3O4)

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

32

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Mineral yang berupa senyawa kimia kompleks Epistolite (NaCa)(CbTiMgMn)SiO2(OH),

misalnya

Polymignyti (CaFeYZrTh)(CbTiTa)O4. Pada umumnya anorganis : batasan ini mengandung arti mineral yang luas Mineral umumnya bukan hasil suatu kahidupan tetapi ada beberapa mineral yang merupakan hasil kehidupan yang disebut minera organik seperti Ambert, Asphalat, Mallite. Homogen Mengandung batasan bahwa suatu mineral tidak bisa diuraikan menjadi senyawa lain yang lebih sederhana oleh proses fisika. Dapat berupa pdat, cair dan gas Berupa padat Quartz (SiO2) ; Barite (BaSO4) Berupa vairan : air raksa ( HgS) Dalam buku Minerals and Mining in Indonesia compiled Soetardjo Sigit, M.M. Purbo Wadiwijoyo, Bambang Sulasmoro, Suharsono Wirjosudjono,, 1969,

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

33

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

BAB IV MINERALOGI FISIK


IV.1. Maksud dan Tujuan 1. Menyelidiki secara fisik dari mineral 2. Mengetahui sifat-sifat fisik dari mineral IV.2. Alat-alat yang Dipergunakan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Skala kekerasan Mohs Keping porselin Loupe Timbangan analitik Piknometer Magnit

IV.3. Sifat-sifat yang Diselidiki a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. Warna (Colour) Perawakan kristal (crystal habit) Kilap (luster) Kekerasan (hardness) Gores (streak) Belahan (cleavage) Pecahan (fracture) Daya tahan terhadap pukulan (tenacity) Berat jenis (specific gravity) Rasa dan bau (teste and odour) Kemagnetan Derajat ketransparanan Nama mineral dan rumus kimia

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

34

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

a. Warna (Colour) Bila suatu permukaan mineral dikenal suatu cahaya, maka cahaya yang mengenai permukaan minerl tersebut sebagian akan diserap (absorbsi) dan sebagian dipantulkan (refleksi). Warna penting untuk membedakan antara mineral akibat pengotoran dan warna asli (tetap) yang berasal dari elemen utama pada mineral tersebut. Warna mineral yang tetap dan tertentu karena elemen-elemen utama pada mineral disebut dengan nama Idiochromatic . Misal : - Sulfur berwarna kuning Pyrite berwarna kuning loyang - Magnetite berwarna hitam Warna akibat adanya campuran atau pengotor dengan unsure lain, sehngga memberikan warna yang berubah-ubah tergantung dari pengotornya, disebut dengan nama Allochromatic. Misal : Halite, warna dapat berubah-ubah : abu-abu biru bervariasi kuning coklat gelap merah muda

Kwarsa tak berwarna, tetapi karena ada campuran/pengotoran, warna berubah-ubah menjadi : violet merah muda coklat-hitam

Kehadiran kelompok ion asing yang dapat memberikan warna tertentu pada mineral disebut nama Chromophores.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

35

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Misal : Ion-ion dan biru.

Cu

yang

terkena

proses

hidrasi

merupakan

Chromophores dalam mieral Cu sekunder ,maka akan memberikan warna hijau Faktor yang dapat mempengaruhi warna : a. Komposisi kimia b. Struktur kristal dan ikatan atom c. Pengotoran dari mineral b. Perawakan Kristal (Crystal Habit) Perawakan kristal (crystal habit), bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termaksud bentuk dan ukuran relatif bidangbidang tersebut. Kita perlu mengenal beberapa perawakan kristal yang terdapat pada jenis mineral tertentu, sehingga perawakan kristal dapat dipakai untuk penentuan jenis mineral, walaupun perawakan kristal bukan merupakan cirri tetep mineral. Contoh : mendaun (foliated) Amphibol,selalu menunjukan perawakan kristal meniang (columnar) Perawakan kristal dibedakan menjadi 3 golongan (Richard Pearl,1975) yaitu ; A. Elongated habits (mniang / berserabut ) B. Flattened habits (lembaran tipis) C. Rounded habits (membutir) a. Elongated Habits 1. Meniang ( Columnar ) Contoh : - Tourmaline 2. Menyerat ( Fibrous ) Contoh : - Asbestos 3. Menjarum ( Acicular ) Contoh : - Natrolite
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Mika selalu menunjukkan perawakan kristal yang

36

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

4. Menjaring ( Reticulate ) Contoh : - Rulite 5. Merabut ( Capillery ) Contoh : Cuprite 6. Membintang ( Stellated ) Contoh : - Pirofilit 7. Membenang ( Filliform ) Contoh : - Silver 8. Mondok ( Stound,tubby,Equant ) Contoh : - Zircon 9. Menjari ( Radiated ) Contoh : - Markasit b. Flattened Habits 1. Membilah ( Bladed ) Contoh : - Kyanite - Kalaverit 2. Memapan ( Tabular ) Contoh : - Barite - Hypersthene 3. Membata ( Blocky ) - Calcite 4. Mendaun ( Foliated ) - Chlorite 5. 6. Memencar ( Divergen ) Membulu ( Plumose ) Contoh : - Aragonite Contoh : - Mika Contoh : - Mika Contoh : - Microcline

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

37

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

c. Rounded Habits 1. Mendada ( Mamillary ) Contoh : - Malachite - Opal 2. Membulat jari ( Co;;oform radial ) Contoh : - Pyrolorhyte 3. Mengginjal ( Rentiform ) Contoh : - Hematite 4. Membulat ( Colloform ) Contoh : Glsuconite 5. Membutir ( Granular ) Contoh : - Olivine 6. Stalaktit (Stalactic ) Contoh : - Goethite 7. Memisolit ( Pisolitic) Contoh : - Gibbsite - Pisolitic c. Kilap (Luster) Kilap ditimbulkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan sebuah mineral, yang erat hubungannya dengan sifat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi). Intensiitas kilap tergantung dari indeks bias dari mineral, yang apabila makin besar indeks bias mineral, makin besar pula jumlah cahaya yang dipantulkan. Nilai ekonomik mineral kakdang-kadang ditentukan oleh kilapnya. Macam-macam kilap : a. Kilap Logam ( Metallic Luster ) Mineral-mineral opaq yang mempunyai indeks bias sama dengan 3 atau lebih, contoh : Galena, Native metal, Sulphide , Pyrite.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

38

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

b. Kilap Sub-metalik ( Sub Metallic Luster ) Terdapat pada mineral yang mempunyai indeks bias antara 2,6 sampai 3, contoh : - Cuprite - Cinnabar - Hematite - Alabandite ( n = 2.85 ) ( n = 2.90 ) ( n = 3.00 ) ( n = 2.70 )

c. Kilap Bukan Logam ( Non Metallic Luster ) Mineral-mineral yang mempunyai warna terang dan dapat membiaskan,dengan indeks bias kuramg dari 2,5. Gores dari mineral-mineral ini biasanya tak berwarna atau berwarna muda. Macam-macam kilap bukan logam : a. Kilap kaca ( vitreous Luster ) Kilap yang ditimbulkan oleh permukaan kaca atau gelas. Contoh : - Quatrz - Spinel - Garnet - Carbonates - Silicates - Leucite - Sulphates - Fluoriote - Corondum

- Halite yang segar b. Kilap Intan ( adamantite Luster ) KIlap yang sangat cemerlang yang ditimbulkan oleh intan atau permata. Contoh : - Diamond - Cassiterite - Sulfur c. KIlap lemak ( greasy luster )
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

- Sphalerite - Zircon - Rutile

39

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Kilap dengan permukaan yang licin seperti berminyak atau kena lemak, akibat proses oksidasi. Contoh : - NEpheline yang sudah teralterasi . Halite yang sudah terkena udara. d. Kilap lilin ( waxy luster ) Merupakan kilap separti lilin yang khas. Contoh : e. Kilap sutera ( silky luster ) Kilap seperti yan gterdapat pada mineral-mineral yang parallel atau berserabut ( parallel fibrous structure ) Contoh : - Asbestos - Selenite (variasi Gypsum) f. Kilap mutiara ( pearly luster ) Kilap yang ditimbulkan oleh mineral transparan yang berbentuk lembaran dan menyerupai mutiara. Contoh : - Talc - Gypsum - Mika g. Kila tanah ( earthy luster ) Kilap yang ditunjukkan oleh mineral yang porous dan sinar yang masuk tidak dipantulkan kembali. Contoh : - Kaolin - Montmorilonite - Chalk d. Kekerasan ( Hardness )
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

- Serphentine

Ceragyrite

- Serpentine - Hematite

- Diatomea - Pyrolusite - Variasi Ochres

40

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Kekerasan mineral pada umumnya diartikan sebagai daya tahan mineral terhadap goresan ( scratching). Penentuan kekerasan relative mineral ialah dengan jalan menggoreskan permukaan mineral yang rata pada mineral standar dari skala Mohs yang sudah diketahui kekerasannya.

Skala kekerasan relative mineral dari Mohs : 1. Talc 2. Gypsum 3. Calcite 4. Fluorite 5. Apatite 6. Orthoclas 7. Quartz 8. Topaz 9. Corondum 10. Diamond Mg3Si4O10(OH)2 CaSO22H2O CaCO3 CaF2 Ca5(PO4)3F K(AlSi3O8) SiO2 Al2SiO4(FOH)2 Al2O3 C

Misal suatu mineral di gores dengan kalsit (H = 3) ternyata mineralmitu tidak tergores, tetapi dapat tergores oleh Fluorite (H = 4), maka mineral tersebut mempunyai kekerasan antara 3 dan 4. Dapat pula penentuan kekerasan relative mineral dengan mempergunakan alat-alat sederhana yang sering terdapat di sekitar kita. Misalnya : - Kuku jari manusia - Kawat tembaga - Pecahan kaca - Pisau baja - Kikir baja - Lempeng baja H = 2,5 H=3 H = 5,5 H = 5,5 H = 6,5 H=7

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

41

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Bila man suatu mineral tidak tergores oleh kuku jari manusia tetapi oleh kawat tembaga, maka mineral tersebut mempunyai kekerasan antara 2,5 dan 3. e. Gores ( Streak ) Gores adalh merupakan warna asli dari mineral apabila mineral tersebut ditumbuk sampai halus. Gores ini dapat lebih dipertanggungjawabkan karena stabil dan penting untuk membedakan 2 mineral yang warnanya sama tetapi goresnya berbeda. Gores ini diperoleh dengan cara menggorekan mineral pada permukaan keeping porselin, tetapi apabila mineral mempunyai kekerasan lebih dari 6, maka dapat dicari dengan cara menumbuk sampai halus menjadi berupa tepung. Mineral yang berwarna terang biasanya mempunyai gores berwarna putih. Contoh : - Quartz - Gypsum - Calcite = putih / tak berwarna = putih / tak berwarna = tak berwarna

Mineral bukan logam ( non metalic mineral ) dan berwarna gelap akan memberikan gores yang lebh terang daripada warna mineralnya sendiri. Contoh : - Leucite - Dolomite = warna abu-abu / gores hitam. = warna kuning sampai merah jambu / gores putih Mineral yang mempunyai kilap metallic kadang-kadang mempunyai warna gores yang lebih gelap dari warna mineralnya sendiri. Contoh : - Pyrite - Copper - Hematite yang sama. Contoh : - Cinnabar - Magnetite
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

= warna kuning loyang / gores hitam = warna merah tembaga / gores hitam = warna abu-abu kehitaman / gores merah

Pada beberapa mineral, warna dan gores sering menunjukkan warna

= warna dan gores merah = warna dan gores hitam

42

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

- Azurite f. Belahan ( Ceavage )

= warna dan gores biru

Apabila suatu mineral mendapat tekanan yang melampaui batas el;astisitas dan plastisitasnya, maka pada akhirnya mineral akan pecah. Belahan mineral akan selalu sejajar dengan bidang permukaan kristal yang rata karena belahan merupakan gambaran dari struktur dalam dari kristal. Belahan tersebut akan menghasilkankristal menjadi bagian-bagian yang kecil, yang setiap bagian kristal dibatasi oleh bidang yang rata. Berdasarkan dari bagus atau tidaknya permukaan bidang belahannya, belahan dapat dibagi menjadi : a. Sempurna ( Perfect ) Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah sealain melalui bidang belahannya. Contoh : - Calcite - Muscovite - Galena - Halite b. Baik ( Good ) Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata , tetapi dapat juga terbelah tidak melalui bidang belahannya .\ Contoh : - Feldspar - Hyperstene - Diopsite - Augite - Rhodonite c. Jelas ( Distinct )
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

43

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Yaitu apabila bidang belahan mineral dapat terlihat jelas, tetapi mineral tersebut sukar membelah melalui bidang belahannya dan tidak rata. Contoh : - Staurolite - Scapolite - Hornblende - Anglesite - Feldspar - Scheelite d. Tidak Jelas ( Indistinct ) Yaitu apabila arah belahan mineral masih terlihat, tetapi kemunkinan untuk membentuk belahan dan pecahan sama besar. Contoh : - Beryl - Corundum - Platina - Gold - Magnetite e. Tidak sempurna ( Imperfect ) Yaitu apabila mineral sudah tidak terlihat arah belahannya, dan mineral akan pecah dengan permukaan yang tidak rata. Contoh : - Apatite - Cassiterite - Native sulphur h. Pecahan ( Fracture ) Apabila suatu mineral mendapatkan tekanan yang melampaui batas plastisitas dan elastisitasnya, maka mineral tersebut akan pecah.. Pecahan dapat dibagi : a. Choncoidal : Pecahan mineral yang menyerupai pecahan botol atau kulit bawang.
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

44

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Contoh :

- Quatrz - Cerrusite - Anglesite - Obsidian - Rutile - Zincite

b. Hacly : Pecahan mineral seperti pecahan runcing-runcing tajam, serta kasar tak beraturan atau seperti tak bergerigi. Contoh : - Copper - Pltinum - Silver - Gold c. Even : Pecahan mineral dengan permukaan bidang pecah kecil-kecil dengan ujung pecahan mendekati bidang datar. Contoh : - Muscovite - Talc - Biotite d. Uneven : Pecahan mineral yang menunjukan permukaan bidang pecahnya kasar dan tidak teratur. kebanyakan mineral mempunyai pecahan uneven. Contoh : - Calcite - Marcasite - Choromite - Orthoclas - Rutile - Rhodonite e. Splintery : Pecahan mineral yang hancur menjadi kecil-kecil dan tajam menyerupai benang atau berserabut
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

45

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Contoh :

- Fluorite - Anhydrite - Antigoite

f. Earthy : Pecahan mineral yang hancur seperti tanah. Contoh : - Kaolin - Biotite - Muscovite - Talc

i.

Daya Tahan Terhadap Pukulan ( Tenacity )

Tenacity adalah suatu daya tahan mineral terhadap pemecahan, pembengkokan,penghancuran, dan pemotongan. Macam-macam tenacity a. Brittle Contoh : : Apabila mineral mudah hancur menjadi tepung halus - Calcite - Quartz - Marcasite - Hematite b. Sectile Contoh : : Apabila mineral mudah terpotong pisau dengan tidak berkurang menjadi tepung. - Gypsum - Ceragyrite c. Malleable : Apabila mineral ditempa dengan palu akan menjadi pipih. Contoh : - Gold - Copper

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

46

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

d. Ductile

: Dapat di tarik / diulur seperti kawat. Apabila mineral ditarik dapat bertambah panjang dan aopabila dilepaskan maka mineral akan kembali seperti semula.

Contoh :

- Silver - Copper - Olivine - Cerrargyrite

e.Flexible Contoh :

: Apabila mineral dapat dilengkungkan kemana-mana dengan mudah. - Talc - Gypsum - Mika

f. Elastic Contoh :

: Dapat merenggang bila ditarik dan kembali seperti semula bila dilepaskan. - Muscovite - Hematite tipis

j.

Berat Jenis ( Specific Gravity ) Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral di

bandingkan dengan berat air pada volume yang sama.


berat BJ = volume

Dalam penetuan berat jenis dipergunakan alat-alat : 1. Piknometer 2. Timbangan analitik 3. Gelas ukur Untuk penentuan berat jenis ada 2 cara, yaitu :
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

47

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

Cara I Dengan mempergunakan gelas ukur dan timbangan analitik. Mineral dimasukkan ke dalam gelas ukur yang telah diisi air, dan jumlah air telah diketahui dengan pasti. Besarnya air yang tumpah atau kenaikan air pada gelas ukur dapat dibaca.BErat jenis dapat diukur dengan berat mineral yang telah ditimbang dibagi dengan volume air yang tumpah. Cara II Dengan mempergunakan alat piknometer dan timbangan analitik .k Rasa & Bau ( Taste & Odour ) Disamping dari sifat-sifat yang sudah dibahas diatas, beberapa mineral mempunyai rasa dan bau. Rasa ( taste ) hanya dipunyai oleh mineral-mineral yang bersifat cair : 1. Astringet 2. Sweetist Astinget 3. Saline 4. Alkaline 5. Bitter 6. Cooling 7. Sour : rasa yang umum dimiliki oleh sejenis logam : rasa seperti pada tawas : rasa yang dimiliki seperti garam : rasa yang dimiliki seperti rasa soda : rasa seperti garam pahit : rasa seperti rasa sendawa : rasa seperti asam belerang

Melalui gesekan dan penghilangan dari beberapa zat yang bersifat volatile melalui pemanasan atau melalui penambahan suatu asam, maka kadankadang bau ( odour ) akan menjadi cirri-ciri yang khas dari suatu mineral. 1. Alliaceous : Bau seperti bawang, proses pereaksi dati aersenopirit akan menimbulkan bau yang khas 2. Horse Radish Odour : Bau dari lobak kuda yang menjadi busuk ( biji selenit yang dipanasi ) 3. Sulphurous 4. Bituminous
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

: BAu yang ditimbulkan oleh proses pereaksian : BAu seperti bau aspal

pirit atau pemanasan mineral yang mengandung unsure sulfide.

48

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

5. Fetid 6. Argiilaceous

: BAu yang ditimbulkan oleh asam sulfide atau : Bau seperti lempung basah, seperti serpentin

bau busuk seperti telur busuk yang mengalami pemanasan, bau kalau pyrargillite kadang raba ( feel) merupakan karakter yang penting. Ada beberapa macam raba, misalnya : smooth ( sepioloite), greasy (talc) l. Sifat kemagnetan Pada acara praktikum mineral fisik ini adalah sifat dari mineral yang diselidiki apakah paramagnetit ( magnetit) ataukah diamagnetit (non magnetit). Paramagnetit ( magnetit ) adalah mineral tersebut mempunyai gaya tarik terhadap magnet. Diamagnetit ( non magnetit ) adalah mineral tersebut mempunyai gaya tolak terhadap magnet. m. Derajat ketransparanan Sifat transparan dari suatu mineral tergantung kepada kemampuan mineral tersebut men-transmit sinar cahaya ( berkas sinar ). Sesuai dengan itu, variasi jenis mineral dapat dibedakan atas : Opaque mineral : Mineral yang tidak tembus cahaya meskipun dalam bentuk helaian yang amat tipis. Mineral-mineral ini permukaannya mempunyai kilauan metalik dan meninggalkan berkas hitam atau gelap (logam-logam mulia,belerang,ferric oksida ) Transparant mineral : Mineral-mineral yang tembus pandang seperti kaca biasa ( batu-batu kristal dan ieland spar ) Translusent mineral : mineral yang tembus cahaya tetapi tidak tembus pandang seperti kaca frosted ( Calsedon, Gypsum, dan kadang-kadang Opal ). Mineral-mineral yang tidak tembus pandang ( non transparent) dalam bentuk pecahan-pecahan (fragmen) tetapi tembus cahaya pada lapisan yang tipis ( feldspar)
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

49

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

n.

Nama Mineral dan Rumus Kimia Dalam menentukan nama mineral dan rumus kimia dilakukan setelah

deskripsi diatas selesai. Caranya dengan mencocokkan diskripsi diatas dengan table determinan yang telah disediakan di laboratorium.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

50

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

BAB V MINERALOGI KIMIAWI


V.1. Dasar Teori Mineralogi kimiawi adalah ilmu yang mempelajari tentang sifa-sifat kimia dari mineral. Meliputi perubahan yang terjadi bila dipanasi oleh api reduksi maupun api oksidasi mengenai perubahan warna, sublimasi, pengembunan, penggarangan, dan lain-lain, serta mempelajari sistematika mineral ke dalam golongan-golongan atas dasar senyawa kimianya. V. 2. A. Maksud dan Tujuan Mengetahui sifat-sifat kimia yang paling penting dari setiap mineral dengan menggunakan metode yang sesuai. Melengkapi data yang diperoleh dari penyelidikan secara fisis

V.3. B. Alat dan Bahan Alat yang digunakan sebagai berikut : Pipa tiup adalah suatu pipa yang terbuat dari tembaga atau nikel yang ujungnya bengkok. Bagian pangkal melebar dan terbuat dari karet atau kayu. Panjang sekitar 18 cm diameter sekitar 0,4 -0,6 mm. Lampu spiritus adalah sebuah lampu kaca dengan bahan bakar Kawat platina mempunyai panjang 10 -15 cm dengan bagian Jarum preparat bertangkai besi , anjang 10 cm dan panjang Gelas arloji berdiameter 5 -10 cm pipih seperti cawan. Keping gips disebut juga keping arang, berupa balok dengan spiritus dan sumbu kain. ujung melingkar dengan diameter 15 mm. tangkai sekitar 5 cm.

ukuran 10 x 2 x 4 cm

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

51

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

arang.

Bor tangan digunakan untuk membuat lubang pada gips atau Magnet tipe tapal kuda. Buluh tertutup dan terbuka berupa tabung gelas panjang 12 -14

cm dan diameter bagian dalam kurang lebih 5 cm. Bahan yang digunakan adalah V.4. Nyala Api Struktur Nyala Api. 1. Kerucut gelap terdiri dari gas belum terbakar, berwarna biru sampai gelap. 2. Daerah tidak bercahaya/berwarna. 3. Daerah yang bersinar kuat memiliki nyala api kuning cerah. 4. Kerucut luar, nyala api tak bercahaya kaya akan O2. Keterangan : A.Nyala api reduksi Dengan memasukkan pipa tiu ke dalam nyala api.
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

HCl encer Tepung Borax Na2Ba4O7 Bubuk mineral yang akan diselidiki.

1 dan 2 daerah reduksi 3 dan 4 daerah oksidasi 3 daerah oksidasi terkuat 2 daerah reduksi terkuat

52

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

A : daerah untuk meletakkan mineral yang akan dipanasi dengan nyala api reduksi. B. Nyala api oksidasi Dengan memasukkan pipa tiup ke dalam nyala api. B : daerah untuk meletakkan mineral yang akan dipanasi dengan nyala api oksidasi. V.5. Cara Penyelidikan 1. Bersihkan kawat platina dengan memasukkannya ke dalam lampu spiritus, supaya cepat bersih masukkan ke dalam HCl encer kemudian panaskan sampai berwarna putih. 2. Masukkan kawat platina ke tepung borax. 3. Panaskan ke dalam api oksidasi sampai terbentuk mutiara borax yang berwarna jernih tanpa noda sedikitpun. 4. Masukkan mutiara borax dalam keadaan panas ke dalam bubuk mineral yang akan diselidiki. 5. Panaskan dengan api oksidasi. 6. Amati dan catat warna pada waktu panas dan pada waktu dingin. 7. Lakukan percobaan di atas tetapi dipanasi dengan nyala api oksidasi. 8. Amati dan catat warna pada waktu panas dan pada waktu dingin. 9. Cocokkan ke dalam tabel Kranss.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

53

Laporan Resmi Praktikum kristalografi dan Mineralogi 2010

No. Oksidasi dari Nyala api oksidasi 1 Mn Violet kemerahan 2 Co Biru 3 Cu Biru hijau 4 Ni Coklat kemerahan 5 Fe Kuning 6 Cr Hijau kekuningan 7 U Kuning 8 V Hijau kekuningan 9 Ti Tak berwarna 10 Mo Tak berwarna 11 W Tak berwarna 12 Si Tak berwarna Tabel 1.Bead Coloration Kranss

Borax Bead Nyala api reduksi Tak berwarna Biru Merah Opaq Abu-abu Opaq Hijau pucat Hijau pucat Hijau pucat tak berwarna Hijau cerah Violet kemerahan Coklat Kuning-Coklat kemerahan Tak berwarna

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

54

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

BAB IV ROCK FORMING MINERALS


VI.1. Dasar Teori Pada dasarnya kulit bumi dibentuk oleh 99,98 % mineral yang terdapat didalamnya. Mineral mineral tersebut disebut Rock Forming Mineral, dengan mineral utama silika, terutama feldspar yang merupakan kelompok mineral penting. Disamping itu pula ada mineral orthoklas dan microcleane. Sedangkan mineral mineral yang penting dalam pembentukan kulit bumi adalah mineral pada seri reaksi Bowen.

VI.2. Reaksi Bowen

Discontinous Series Mineral yang terbentuk secara tidak terus menerus, pada suhu yang tinggi terbenuk mineral olivine. Kemudian suhu menurun terus menerus hingga terbentuk mineral
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

55

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

Pyroksin dimana mineral Olivin sudah tidak terbentuk lagi,begitu seterusnya sampai terbentuk mineral Biotite. Pada bagian ini di dominasi mineral-mineral Mafic (gelap) Continous Series Mineralnya terbentuk terus menerus pada suhu tinggi terbentuk mineral Anortit ( Plagioklas Ca ) kemudian suhu turun terus hingga terbentuk mineral Bitownit, tetapi mineral Anortit tetap terbentuk begitu seterusnya hingga terbentuk mineral Albit. Seri ini disebut juga dengan kelompok Plagioklas dan di dominasi oleh mineral Felsik ( Terang ). Sampai pada suhu yang rendah + 500o mineral Biotite dan mineral Albit saling bertemu sehingga terbentuk K-Feldspar, Muscovit dan Quartz.

VI.3. Mineral-Mineral Pembentuk Batuan Mineral-mineral pembentuk batuan dapat dibedakan atas : A. Felsic Mineral Tersusun dari mineral-mineral yang berwarna terang dan cerah serta mempunyai berat jenis yang kecil atau ringan. Contoh : Quatz, Feldspar, dan Feldspartoid.

B. Mafic Mineral Tersusun dari mineral-mineral yang berwarna gelap dan mempunyai berat jenis yang besar atau berat. Contoh : Olivin, Amphibol, dan Pyroksin.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

56

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

Contoh secara spesifik : A. 1. Sistem Berat Jenis Kekerasan Warna Felsic Mineral Quartz ( SiO2) : Hexagonal ( Prisma, Bipyramid, dan Kombinasinya) : 2,65 :7 : Jernih atau keruh bila terdapat bersama Feldspar. Sering terdapat inklusi dari gas cairan, atau mineral lain di dalamnya, yang merupakan unsur pengotoran dan sangat mempengaruhi warna pada Quartz, sehingga dari warna yang ditujukan dapat memperkirakan derajat kemurnian dari Quartz tersebut. Belahan Pecahan Penggunaan : Tidak ada : Concoidal atau kerang : Sebagai bahan baku uama atau pelengkap 2. Feldspar Alkali Feldspar terdiri dari : - Orthoklas - Mikrolin - Sanidine - Anorthoklas - Pertit
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

Industri Gelas Industri Refactory Industri Pengecoran Logam Industri Ferro Silika Industri Glass Woll Industri Ampelas Industri bangunan dan Semen

Dibedakan dalam dua golongan besar, yaitu :

57

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

- Antipertit Plagioklas terdiri dari: - Albit - Olioklas - Andesit - Labradorite - Bytownite - Anothit ( calcite ) Praktikum megaskopis hanya dapt membedakan Alkali Feldspar ( di dominasi Ortoklas ) dengan Plagioklas. Orthklas ( KALSi3O8 ) Merupakan Feldspar sumber utama dari unsure K yang ada dalam tanah. Berat Jenis Kekerasan Warna Sistem Kristal Kilap Penggunaan : 2,6 :6 : Abu-abu kemerahan atau tak berwarna : Monoklin, Prismatik, memanjang sejajar atau membutir dan masif. : Vitrous luster dengan kenampakan transparent atau translucent. : Karena sifatnya yang tidak stabil sering dijumpai orthoklas dalam konsentrasi keadaan segar, tetapi ditemukan dalam keadaan aalterasi menjadi Serisit ( Muskovit ) dan Kaolin yang merupakan bahan dasar industry keramik. Orthoklas sebagian besar terdapat pada batuan beku asam Plagioklas ( NaCaAl2Si3O8 ) Dalam penentuan antara albit-anortit, volume prosentase An+Ab = 100 % , jadi antara Albit dan Anortite menunjukkan anggota Isomorphorus Series.
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

58

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

Albite lebih dikenal dengan Sodic Plagioklas ( sebab banyak mengandung Na ), sedang Anortit ( calcic ) banyak mengandung Ca. Sistem Kristal Berat Jenis Kekerasan Warna merah. Belahan : Plagioklas punya Twining ( kembaran ) : Triklin : Albit = 2,26 ; Anortit = 2,76 :6 : biasanya berwarna kekuning-kuningan putih dan

Secara optic plagioklas dapat dibedakan menjadi : 3. Feldspartoid Mineral ini disebut juga mineral pengganti Feldspar atau Feldspartoid, oleh karena terbentuk bila dalam sebuah batuan tidak cukup SiO2. Dalam batuan yang mengandung SiO2 bebas, mineral Feldspartoid tidak dibentuk karena yang akan terbentuk adalah Feldspar. Mineral yang termasuk didalam kelompok Feldspartoid ( Foida ) adalah: -Nefein -Leusite -Sodalite -Scapolite -Cancrinite -Analcite KNaAl2Si2O4 KAlSi2O6 Na4Al3Si3O12Cl Ca4 ( Al2Si2O8 )3 ( Co3 ) Na3Ca ( Al3Si3O12 ) CO3 ( OH )2 Na ( AlSi2O6 ) H2O Albit ( NaAlSi O ) Alkali Plagioklas KNaAl Asam Oligoklas Andesite Labradorit Bytownit Anortit ( CaAl2Si3O8 )

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

59

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

B.

Mafic Mineral

1. Olivin ( MgFe )2SiO4 Merupakan Kristal-kristalcampuran antara Mg2SiO4 dengan Fe2SiO4 dalam hal ini Mg selalu lebih banyak daripada Fe. Olivin kadang-kadang disebut dengan Chysolite, adalah suatu bentuk mineral yang merupakan mineral pembentuk batuan terutama batuan beku berwarna gelap. Berat Jenis Kekerasan Kilap : 3,27 4,27 : 5,5 7 : Vitreous Luster

Umum terdapat pada batuan beku biasa ( Gabro,Basalt,Peridotite,Dunite )

2. Kelompok Pyroksin Merupakan kelompok mineral silikat yang komplek dan mempunyai hubungan erat dalam structural Kristal,sifat fisik dan komposisi kimianya walaupun mereka mengkristal dalm dua system yang berbeda yaitu Orthorombic dan Monoklin. Secara struktur Piroksen terdiri atas mata rantai yang tidak ada habisnya dan tetrahedral SiO2 yang diikat bersama-sama secara lateral olehion-ion logam Mg dan Ca yang berikatan dengan oksigen,tetapi secara langsung dengan silikon.Sejak setiap silikon berikatan dengan ion oksigen dan setiap oksigen dengan silikon lain / ion logam menghasilkan ratio Si = 1 : 3 dan member rumus kimia Piroksen MgSiO3 atau CaMg ( SiO3 )2. 3. Kelompok Amphibole Amphibole mungkin dapat dibagi menjadi lima : - Anthophyllite - Sodic Amphibole Mereka ada hubungannya dalam sifat-sifat Kristalografi, sifat kimia dan fisik struktur Amphibole adalah tipe Tetrahedral SiO4 dalam struktur rantai ganda, berupa dua mata rantai tunggal dengan sela-sela Tetragonal dihubungkan oleh bagian dari oksigen.Dalam struktur mata rantai ganda menempati sejajar sumbu C dan diikat bersama secara latral oleh ion logam. Umumnya Amphibole membentuk
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

60

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

seri isomorf dan replacement yang intensif dari satu ion oleh ion lain yang ukuran sehingga sangat kompleks variasi kimianya. Amphibole dan Piroksen mempunyai persamaan dalam batuan beku yang bersifat basa dengan perbedaan adalah : Amphibole : - Komposisi kimia mengandung OH - Kristalnya panjang / prismatic - Belahan membentuk sudut 124o

Piroksen

- Komposisi kimia tidak mengandung OH - Kristalnya lebih pendek - Belahan berdiri saling tegak lurus

4. Kelompok Mika Struktur mika adalah tipe Tetrahedron dalam lembar-lembar, tiap SiO4 mempunyai tiga oksigen dan satu oksigen bebas, sehingga komposisi dan valensinya ( Si4O10 )
4

. Kelompok hidroksil diikat oleh Al,Mg,atau Fe sendirian struktur ini

membutuhkan lembar-lembar ganda dengan K ion diantaranya. Rumus umum mika adalah : W (XY)2-3Z4OO10 (OHF )2 Dimana : W X&Y Z : K (Na dalam paragonite mineral yang sangat baik pada sekiot ) : Al,Li,Mg,Fe. : Si,Al.

Berdasarkan jumlah terdapatnya dalam batuan mineral dapat dibedakan atas: Mineral Utama : Yaitu mineral mendiminir dalam suatumkomposisi batuan dan jumlahnya lebih dari 10% dimana mineral ini mempengaruhi penamaan batuan.
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

61

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

Contoh : Quartz,Orthoklas,Plagioklas, foid, feldspar,biotit. Mineral Tambahan : Mineral yang presentasenya sedikit dalam batuan tetapi selalu di jumpai. Mineral ini 10% dari seluruh komposisi batuan. Contoh : Rutil,Zicron,Turmalin Mineral Sekunder : Mineral yang dibentuk dari mineral utama yang disebabkan oleh proses pelapukan pada batuan.

Pelapukan Batuan ( Rock Weathering ) Pelapukan terjadi pada batuan yang tersingkap dipermukaan bumi. Adapun pelapu kan disebabkan karena proses kimiawi, fisik & organic dimana disebut pelapukan kimiawi dan mekanik yang umumnya berjalan bersama-sama. Tiga factor yang mempengaruhi pelapukan : Sifat Mineral / batu itu sendiri tahan terhadap pelapukan / tidak. Macamnya proses yang berlangsung apakah mekanik atau kimiawi Kondisi mineral yang menyusun batuan tersebut berada. Ada hubungannya dengan iklim yaitu pada Tro1/2ika, Subtropika,Kutu,Gurun. Proses Mekanik : - Pembekuan dan pencairan - Insolasi - Expoliasi - Oraganisme - Rains Drop - Spheroidal Weathering Proses Kimiawi : Proses pelapukan yang menyolok terdapat di ikli tropis. Terdiri dari 2 proses : - Larutan - Aktifitas Organisme
Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

62

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

Larutan Gamping : Prosesnya dipengaruhi larutan yang mengandung H2O + CO2 yang bila hujan akan membentuk asam karbonat ( H2CO3 ). Dalam batu gamping akan terjadi Kartz Topography.

Larutan Feldspar : Mineral yang penting didalam batuan beku. Contoh : KAlSi3O8 + H2CO3 + H2O Al2Si2O5 + K2CO3 + SiO2

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

63

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

BAB VII PENUTUP


VII.1. Kesimpulan

Yang dapat saya simpulakan bahwa mineral memiliki bentuk bentuk khas dari kristal. Kita mempelajari kristal bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan suatu mineral. Mineal sebagai pembentuk batuan harus memiliki syarat agar dikatakan sebagai mineral yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Alamiah Anoranik Mempunyai sifat sifat fisis dan kimia yang tetap Homogen Berupa padat Memiliki atom atom yang teratur Dalam mineralogi dibedakan menjadi 2 bagian yaitu : a. Mineralogi fisik b. Mineralogi kimiawi Dalam mempelajari Rock Forming Mineral kita harus mengacu pada sistem Bowens Reaction Series yang bertujuan untuk menentukan banyaknya mineral penyusunnya terutama mineral yang mengandung silika serta menantukan lokasi pembentuk batuan ( pada batuan beku ), apakah batuan tersebut termasuk pada golongan batuan beku ultra basa, basa, intermediet, atau batuan beku asam.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

64

Laporan Resmi Praktikum Kristalografi dan Mineralogi 2010

VII.2. Kritik dan Saran a. Ketika sedang memeberikan materi, sebaiknya tidak terlalu cepat. b. Volume suara asisten ketika menjelaskan agar di perbesar agar yang dibelakang dapat mendengarkan dengan baik. c. Untuk blog krismin, lebih baik selalu d update, sehingga mempermudah praktikan mendapat informasi tanpa harus susah payah menuju ke laboratorium krismin.

Nama : Anselmus Arya Wicaksana NIM : 111.100.042 Plug : 6

65