Anda di halaman 1dari 2

Pradipta Atmokotomo 09/285075/KG/08534

Mendiagnosis etiologi deep overbite

1. Metode Thompson-Brodie
Pasien dengan kepala tegak diatas kursi, sehingga dataran Frankfurt pada pasien sejajar dengan lantai. Kemudian tentukan titik-titik :

Nasion (N) , yaitu titik pada tengah-tengah sutura frontonasalis yang terdapat pada pangkal hidung dan merupakan titik potong antara bidang sagital dengan sutura frontonasalis.

Spina nasalis anterior (SNA) , yaitu titik yang paling anterior dari spina nasalis anterior pada bidang sagital.

Gnation (Gn), yaitu titik yang paling bawah dari kontur dagu pada bidang sagital. Dengan sliding caliper, diukur jarak antara titik N titik SNA. Jarak ini besarnya (N-

SNA) = 43% dari jarak titik N- Gn. Waktu mengukur jarak-jarak ini, rahang dalam keadaan rest position. Jarak dari titik N titik Gn disebut total facial height atau tinggi muka total sebesar 100%. Sesudah mendapatkan jarak diatas, maka pada mulut pasien letakkan dua potong wax yang telah dilunakkan, diatas permukaan gigi belakang bawah kanan dan kiri. Pasien diminta menggigit wax dengan posisicentric relation sampai jarak N ke Gn mencapai 100%. Lalu amati secara langsung atau tidak langsung (pada model gigi) ketebalan wax dibagian posterior dan overbite. Terdapat 3 kemungkinan hasil gigitan wax, yaitu :

Wax bite bagian posterior hampir habis tergigit, dan overbite masih berlebihan, maka deep overbite disebabkan karena adanya supraoklusi dari gigi anterior.

Wax bite di bagian posterior masih tebal, sedang overbitenya sudah normal, maka deep overbite itu disebabkan infraoklusi dari gigi-gigi posterior.

Wax bite di bagian posterior masih tebal, sedang overbitenya masih juga berlebihan, maka deep overbite itu disebabkan oleh supraoklusi dari gigi-gigi anterior dan infraoklusi dari gigi-gigi posterior.