Anda di halaman 1dari 20

Wisata Budaya dan Spiritual

Rabu, 7 Maret 2012

IDENTIFIKASI ASPEK DAN ELEMEN SPIRITUAL PADA MASYARAKAT NON PERKOTAAN


(Studi Kasus : Padang)

Kelompok 7

Henny Karnasih Leni Agustian Adam Rakhadifa

J3B110002 J3B110019 J3B210059

Dosen Rini Untari, S.Hut, M.Si

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA PROGRAM DIPLOMA IINSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

I.

LATAR BELAKANG

A. Latar Belakang Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Indonesia kaya akan aspek elemen spiritual pada masyarakatnya disebabkan oleh beragamnya agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia Masyarakat perkotaan yang kini dikenal lebih maju dan memiliki fashion yang uptodate dan terkenal lebih modern dibandingkan masyarakat pedesaan semakin membuat citra masyarakat perkotaan sedikit buruk. Hal ini karena penilaian terhadap beragam aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan mulai pagi hari sampai dengan malam hari. Rutinitas tersebut seolah-olah menjadi budaya bagi masyarakat perkotaan.

B. Tujuan Tujuan dari kegiatan praktikum identifikasi aspek dan elemen budaya pada masyarakat perkotaan adalah untuk mengetahui aspek-aspek serta elemen spiritual yang terjadi pada masyarakat perkotaan khususnya di daerah Padang.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Identifikasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012) identifikasi adalah tanda kenal diri; bukti diri; penentu atau penetapan identitas seseorang, benda, dsb. Sedangkan mengidentifikasi adalah menentukan atau menetapkan identitas (orang, benda, dsb). Identifikasi adalah sebuah proses dimana seseorang menyamakan dirinya dengan sifat obyek luar. Beberapa macam identifikasi yang pertama adalah identifikasi narsisitik, identifikasi tujuan, identifikasi pada obyek yang hilang (Budiman A, 2006).

B. Aspek Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012) aspek adalah tanda: linguis dapat mencatat dengan baik ucapan-ucapan yangg mempunyai -- fonemis; sudut pandangan: mempertimbangkan sesuatu hendaknya dr berbagai pemunculan atau penginterpretasian gagasan, masalah, situasi, dsb sebagai pertimbangan yangg dilihat dari sudut pandang tertentu.

C. Elemen Elemen adalah bagian-bagian dasar yang mendasari sesuatu. Elemen budaya berarti bagian-bagian yang menjadi dasar bagi suatu budaya di suatu daerah.

D. Spiritual
Spiritualitas menurut Schreurs (2002) merupakan hubungan personal seseorang terhadap sosok transenden. Spiritualitas mencakup inner life individu, idealisme, sikap, pemikiran, perasaan dan pengharapannya terhadap Yang Mutlak. Spiritualitas juga mencakup bagaimana individu mengekspresikan hubungannya dengan sosok transenden tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.

E. Masyarakat Non Perkotaan Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah diantara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.

Masyarakat non perkotaan adalah suatu kesatuan masyarakat yang ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan dan batin yang kuat sesama warga desa yaitu perasaan setiap warga yang kuat yang hakikatnya adalah seseorang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dan rela berkorban satu sama lain (elearning Gunadarma, 159).

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Lokasi dan Waktu Kegiatan praktikum Identifikasi Aspek dan Elemen Budaya pada Masyarakat non Perkotaan berlokasi di kampus IPB Cilibende, CB K04. Waktu dilaksanakannya praktikum adalah pada hari Rabu, 29 Februari 2012, dengan waktu praktikum 2x100 menit, yaitu pada pukul 07:00-10:20 WIB.

B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum sampai dengan pembuatan laporan disajikan pada Tabel 1. Sedangkan bahan yang digunakan adalah artikel-artikel yang diambil dari buku maupun internet dan obyek yang diamati adalah berbagai kehidupan budaya yang berada di kawasan perkotaan khususnya daerah Banten dan spesifik mengenai aspek dan elemen budaya yang terdapat di dalamnya.

Tabel 1 Alat dan Kegunaan

No.
1 2 3 4 Alat tulis Modem Flash

Alat

Kegunaan
Mencatat hasil identifikasi Menyambung koneksi internet Menyusun laporan Mencetak laporan

Laptop Toshiba Satellite L630 Printer Epson TX111

C. Tahapan kerja Praktikum identifikasi aspek dan elemen budaya masyarakat non perkotaan di Padang dilaksanakan melalui beberapa tahapan kerja. Adapun langkah-langkah dalam tahapan kerja adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Mencari literatur mengenai Padang Mengidentifikasi aspek serta elemen spirtual yang terdapat di Padang. Menginventarisasi aspek serta elemen spiritual. Mengolah data menjadi sebuah laporan lengkap.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Spiritual merupakan salah satu unsur secara turun-menurun yang melekat pada diri manusia. Hasil identifikasi aspek dan elemen spiritual masyarakat perkotaan dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 dibawah ini :
Tabel 2 Tallysheet Inventarisasi Aspek dan Elemen Spiritual Masyarakat Perkotaan Padang

No
1

Aspek dan Elemen Spiritual


Aspek Spirtual a.Merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna

Jenis Spiritual Ada Tidak ada


V

Deskripsi
Kepercayaan bahwa kehidupan sebagai anugerah yang telah diberikan oleh sang maha kuasa tapi disampaikan melalui kebudayaan yang mayrakat anut. Mempunyai kepercayaan dalam satu kesatuan untuk mencapai suau tujuan,kehidupan yang harmonis, bermakna dan seimbang dalam interaksi sesama masyarakat.
Berupa nilai kebudayaan , etika dalam mengambil keputusan, suatu nilai estetika dalam mengambil unsur-unsur agama dan teori pengetahuan

b. Memiliki sebuah komitmen terhadap aktualiasasi diri

c. Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan

d.

meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transendensi adalah menguntungkan

Memberikan semangat atas perbuatan yang pernah dilakukan, memacu untuk terus berusaha

Elemen Spiritual a. Kapasitas transendensi b. Kemampuan untuk memasuki kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi Kemampuan untuk menyadari kemampuan merasakan hal-hal yang suci

V V

Adanya tempat-tempat yang dijadikan sebagai transendensi Ketika seseorang mengingat sejarah sebelumnya

c.

d.

Kemampuan untuk memanfaatkan sumber sumber spiritual untuk memecahkan permasalahan

Dalam agama dan kepercayaan terdapat hal-hal yang bersifat sakral yang dilakukan untuk dapat merasakan hal-hal yang suci namun tidak melanggar ketetapan dalam agama dan kepercayaan tersebut. Dengan menerapkan apa yang sudah diteteapkan dalam agama dan kepercayaan diharapkan dapat memecahkan permasalahan

e.

dalam kehidupan Kemampuan untuk bertingkah laku yang baik

dalam kehidupan Agama dan kepercayaan mengajarkan tentang kesopanan dan pedoman kehidupan seharihari manusia

1. Aspek Spiritual a. Merasa Yakin Bahwa Hidup Sangat Bermakna (Henny Karnasih / J3B110002) Masyarakat non-perkotaan Padang mempunyai etika gaya hidup yang diilhami oleh pemikiran masyarakat minang, Contohnya dalam mistisme, ilmu mistik dalam masyarakat nonperkotaan Padang masih terasa hingga jaman sekarang. Ilmu mistik yang di miliki masyarakat nonperkotaan disebut dengan Bunian atau Palasik. Dengan ilmu mistik tersebut, masyarakat non-perkotaan biasanya mempunyai penjaga diri mereka yang biasanya adalah pengikut mereka atau Makhluk Lain yang tidak bisa dilihat orang yang tidak memiliki indera penglihatan alam gaib. Meskipun ilmu mistik masih terasa dimasyarakat namun, masyarakat non perkotaan masih membicarakan kehidupan dalam menafsirkan shalat lima waktu sebagai pertemuan pribadi dengan Tuhan. Sebagian besar gaya hidup masyarakat non-perkotaan masih menghormati mekanisme integrasi sosial yang penting biasanya ini dilakukan dari rumah kerumah di pedesaan kota Padang. Merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna, masyarakat non perkotaan atau pedesaan masih bekerja dengan bergotong-royong antar tetangga. Selain itu, masyarakat non perkotaan masih menempatkan kepetingan bersama di atas kepentingan diri sendiri. Masyarakat non-perkotaan padang sudah mulai mengikuti gaya perkotaan dengan memakai baju tren dan terkadang terjadi tindakan asusila yang mereka perbuatan di tempat-tempat tertentu. Gaya hidup masyarakat non-perkotaan Padang dapat dilihat dalam mengekpresikan budayanya yang masih diapresiasikan. Budaya masyarakat non-perkotaan masih sangat kental, hal ini terlihat pada anak perempuan dan laiki-laki yang dianggap sebagia keturunan ibunya, Ayah hanya sebagai pelengkap saja. Budaya pada masyarakat non-perkotaan yang meminang atau melamar pria adalah wanita karena wanitalah yang memegang peranan dalam budaya tersebut. Masing-masing pola perilaku yang ditunjukkan oleh masyarakat nonperkotaan Padang adalah pola perilaku yang mengutamakan keseimbangan, sehingga apabila terjadi ketergangguan dalam kelangsungan kehidupan masyarakat non perkotaan Padang, Bahasa yang digunakan dalam keseharian ialah bahasa daerah yaitu Bahasa
Minangkabau yang memiliki beberapa dialek, seperti dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek

Pesisir Selatan, dan dialek Payakumbuh. Di daerah Pasaman dan Pasaman Barat yang berbatasan

dengan Sumatera Utara, dituturkan juga Bahasa Batak dan Bahasa Melayu dialek Mandailing. Sementara itu di daerah kepulauan Mentawai digunakan Bahasa Mentawai. Contoh bahasa Minangkabau Apo Kaba yang artinya apa kabar ?, dan jika di jawab baik-baik saja maka dialeknya Alhamdulillah lai elok-elok se nyo. Merasa hidup sangat bermakna maka pendidikan masyarakat non-perkotaan sudah berjalan dengan baik. Hal ini dapat di lihat pada kutipan artikel Pendidikan Islam pada paragraph pertama sebagai berikut : Pendidikan menurut adat Minangkabau di Sumatera Barat sudah berjalan jauh sebelum kedatangan agama Budha masuk ke Minangkabau. Pendidikan itu disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi dan keberhasilan pendidikan itu dinilai dari penguasaan adat dan keahlian menyelesaikan masalah kehidupan. Untuk dapat menguasai pengetahuan dan pelaksanaan adat yang luas dan rumit itu dipelajari melalui contoh dan laku perbuatan dalam kehidupan sehari-hari yang disampaikan dalam bentuk prosa lirik. Masyarakat non-perkotaan Padang khususnya Minangkabau menganut falsafah hidup alam takambang jadi guru. Dari falsafah ini mereka menjadikan alam sebagai guru untuk membangun kebudayaan mereka. Masyarakat Minangkabau menaganut paham dialektis yang mereke sebut Bakarano Bakajadian yang artinya bersebab dan berakibat, sebagaimana alam yang selaras dan dinamis. Keterkaitan dalam hidup, aktivitas yang dilakukan masyarakat nonperkotaan berbagai macam ada yang sebagai petani, pegawai negeri, wirausaha, nelayan dan pedagang. Petani kira-kira 75% sedangkan pegawai negeri berkisar 15 % dan 10% nya adalah wirausah. untu sektor pertanian sendiri masyarakat mengahndalkan mata pencariaan dengan berkebun kopi,kelapa sawit,sawah,ternak,perikanan,nelayan dan lain-lain. Di desa guci ada sebuah sungai yang digunakan sebagai PLTA akarena sungai ini tidak pernah kering.

B. Memiliki Sebuah Komitmen Terhadap Aktualisasi Diri (Henny Karnasih / J3B110002) Manusia butuh dihargai, manusia butuh aktualisasi diri dengan menciptakan sejumlah prestasi dan kesuksesan. Untuk meningkatkan aktualisasi diri maka pemerintah daerah Padang memberikan teknologi kepada masyarakt non-perkotaan yang ada di padang seperti pada kutipan artikel Profil Pemerintah kabupaten Padang seperti pada paragraph ketiga : Untuk tahun 2011 ini target utama penerapan perangkat lunak legal di Kabupaten Tanah

Datar adalah pada aplikasi office yaitu aplikasi untuk membuat dan mengedit dokumen. Sementara pada tahun 2012 baru direncanakan akan diterapkan secara menyeluruh untuk setiap program/aplikasinya. Ditambahkan Fajri, S.Si, Bagi unit kerja yang masih mengalami kesulitan terhadap penggunaan program open office agar menugaskan staf untuk pelatihan open office di Media Center Tanah Datar dibantu instruktur dari Dinas Perhubungan dan Kominfo Tanah Datar dengan membawa surat tugas setiap hari kerja pukul 09.00 wib s/d 15.00 wib. Untuk meningkatkan prestise atau aktualisasi maka sebagai acuan pada masyarakat nonperkotaan mengenai rumah adat dan pakaian adat yang mereka gunakan dapat meningkatkan aktualisasi diri masyarakat tentaang kebudayaan yang mereka miliki. Rumah adat padang diberikan nama Rumah gadang yang artinya Rumah Besar, bukan karena bentuknya yang besar namun fungsinya. Seperti filosopi rumah gadang yakni : Rumah gadang besar bertuah. Rumah gadang selain tempat tinggal juga sebagai temapt musyawarah keluarga, tempat mengadakan upacara-upacara, pewarisan rumah adat dan adat matrilinear. Dalam rumah gadang, perempuan yang masih muda atau remaja biasanya memiliki kamar di bagian ujung. Jika sudah bersuami maka kamr berada dibagian tengah. Rumah Gadang dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku/kaum Minang secara turun temurun. Rumah Gadan hanya dimiliki dan diwarisi kepada kaum perempuan. Halaman depan Rumah

Gadang terdapat dua buah bangunan Rangkiang. Bangunan rangkiang digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjuang (anjung) sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjung pada kelarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya. Sedangkan pada kelarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan yang hirarki menggunakan anjung yang memakai tongkat penyangga, pada golongan lainnya anjuang seolah-olah mengapung di udara. Disekitar komplek Rumah Gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan dan juga sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut yang belum menikah.

Gambar 1. Rumah Gadang

Lambang kebesaran wanita Minangkabau disebut Limpapeh Rumah nan gadang. Limpapeh artinya tiang tengah pada sebuah bangunan dan tempat memusatkan segala kekuatan tiang-tiang lainnya. Jika tiang tengah ini ambruk maka tiang-tiang lainnya ikut jatuh berantakan. Dengan kata lain aktualisasi positif perempuan di Minangkabau merupakan tiang kokoh dalam rumah tangga. Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang tidak sama ditiap-tiap nagari, seperti dikatakan Lain lubuk lain ikannyo, lain padang lain bilalangnyo. Baju bertabur maksudnya naju yang ditaburi dengan benang emas. Tabur emas ini maksudnya kekayaan alam Minangkabau. Pakaian bertabur dengan benang emas bermacam-macam ragam mempunyai makna bercorak ragamannya masyarakat Minangkabau namun masih tetap dalam wadah adat Minangkabau. Tengkuluk merupakan hiasan kepala perempuan yang berbentuk runcing dan bercabang. Pengertiannya adalah Limpapeh Rumah Nan Gadang di Minangkabau tidak boleh menjunjung beban atau beban yang berat.

C. Menyadari Akan Keterkaitan Dalam Kehidupan (Henny Karnasih / J3B110002) Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 98% penduduk Sumatera Barat, yang kebanyakan pemeluknya adalah orang Minangkabau. Selain itu ada juga yang beragama Kristen terutama di kepulauan Mentawai sekitar 1,6%, Buddha sekitar 0,26%, dan Hindu sekitar 0,01%, yang dianut oleh penduduk bukan orang Minangkabau. Berbagai tempat ibadah yang dapat dijumpai di setiap kabupaten dan kota di Sumatera Barat didominasi oleh masjid dan musala. Masjid terbesar adalah Masjid Raya Sumatera Barat di kota Padang yang saat ini pembangunannya masih dalam tahap penyelesaian. Sedangkan masjid tertua di antaranya adalah Masjid Raya Ganting di kota Padang dan Masjid Tuo Kayu Jao di kabupaten Solok. Arsitektur khas Minangkabau mendominasi baik bentuk masjid

maupun musala. Seperti masjid Raya Sumatera Barat yang memiliki bangunan berbentuk gonjong, dihiasi ukiran Minang sekaligus kaligrafi, dan tidak memiliki kubah. Ada juga masjid dengan atap yang terdiri dari 3 sampai 5 lapis yang makin ke atas makin kecil dan sedikit cekung seperti Masjid Tuo Kayu Jao. Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani untuk Kota Padang, berpedoman kepada Syarak dan Kitabullah. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur-unsur perasaan, hati yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan yang tumbuh dengan kecerdasan budaya memperhalus kecerdasan emosional serta dipertajam oleh kemampuan periksa evaluasi positif dan negatif atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan spiritual yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi yang bersih (ikhlas). Menyadari keterkaitan dalam hidup sebagaimana dalam nilainilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan Asmaul Husna akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya. Masyarakat nonperkotaan padang memiliki keyakinan dan keterkaitan dalam kehidupan teguh terhadap keagamaan mereka seperti dalam artikel yang dikutip sebagai berikut : Prinsip dasar perilaku ini lahir karena berbuah nyata dari pengenalan dan pengamalan terhadap Asmaul Husna. Apabila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terealisir (terwujud) dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas manusia atau masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang satu, yang selalu komitmen dalam memegang dan melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang senantiasa saling tolong-menolong, bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa dan tidak tolong menolong dalam kejahatan dan dosa serta permusuhan. Dengan demikian amar maruf dan nahi munkar akan terwujud, sehingga terciptalah sebuah masyarakat yang rukun, damai, aman, dan sentosa lagi penuh dengan keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Inilah yang akan membri kontribusi penguatan keyakinan di dalam menata kehidupan masyarakat yang yang dicita-citakan, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Gambar 2. Kegiatan beribadah di Masjid

D. Meyakini

Bahwa

Berhubungan

Dengan

Dimensi

Transedensi

Adalah

Menguntungkan (Leni Agustian/J3B110019) Meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transendensi adalah menguntungkan bagi masyarakat non perkotaan di Padang, yaitu dengan adanya kegiatan Isra Miraj yang dilakukan oleh masyarakat, merupakan bentuk keyakinan terhadap transendensi yang menguntungkan. Isra Miraj yang telah ada di kalangan masyarakat non perkotaan Padang, dinilai dan selalu diperingati sebagai bentuk rasa terima kasih atas segala yang telah didapatkan oleh masyarakat / individu-individu di Padang. Sebagai contoh, didapatkannya ketentraman, dan ketenangan hati ketika umat muslim di Padang melakukan ibadahnya kepada Allah SWT.

Elemen Spiritual a. Kapasitas transendensi (Leni Agustian/J3B110019) Kapasitas transendensi masyarakat non perkotaan Padang yaitu Masjid Nurul Iman. Nuansa warna hijau mendominasi Qubah Masjid dan Menara, serta dihiasi dengan motif bintang segilima pada ornamen dinding bangunan Masjid, memiliki makna dan simbol keseimbangan dari nilai-nilai kebesaran serta keagungan agama Islam, seperti masjid masjid di Timur Tengah. Sedangkan kubah masjid ini bermotifkan ketupat yang memiliki makna keindahan nilai-nilai kemoderatan bangunan masjid yang terdapat di Istanbul, Turki, dipadu dengan identitas nilai-nilai seni dan budaya Islam Nusantara. Nilai spesifik lain yang terdapat pada bangunan Masjid Nurul Iman dan tidak dimiliki bangunan Masjid lain adalah adanya beberapa jenjang menuju lantai dua yang berada ditiap sudut bangunan. Lokasi jenjang ini cukup strategis, karena menghubungkan antara tempat

berwudhu dengan bangunan lantai II masjid, tempat jemaah melakukan ibadah sholat. Masjid Nurul Iman menjadi kapasitas transendensi karena berdasarkan sejarahnya hingga saat ini, yaitu yang sudah beberapa kali mengalami kerusakan parah dan hampir hancur. Selain itu Masjid ini juga pernah di bom pada 11 November 1976pada pukul 22:20. Sejak awal berdirinya Masjid Nurul Iman pada 1958, kejadian tersebut merupakan yang paling parah. Kegiatan renovasi akhirnya dilakukan namun terbengkalai. Setelah lama tidak digunakan, Masjid Nurul Iman kembali dirombak dan memiliki arsitektur seperti yang sekarang dengan dana yang digunakan mencapai 18,4 milyar. Berdasarkan sejarah berdirinya, Masjid Nurul Iman dapat menjadi kapasitas transendensi bagi seluruh masyarakat di Padang khususnya non perkotaan.

Gambar 3. Masjid Nurul Iman

b. Kemampuan untuk memasuki kesadaran spiritual yang lebih tinggi (Leni Agustian/J3B110019) Kemampuan untuk memasuki kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi yang terjadi pada Gus Miek yang merupakan almarhum KH Hamiem Jazuli: ulama kharismatik asal Kediri. Kemampuannya yang banyak disebutkan yaitu kemampuan supernatural, Super karena beliau mampu mengatasi segala macam jurang pemisah dan tembok penyekat di antara sesama manusia. Natural karena yang beliau harapkan hanyalah kebaikan bagi diri manusia. Sekitar tahun 1990an, Gus Miek datang ke sebuah beranda. Beliau menunjuk sebidang tanah yang baru saja disambungkan ke pekarangan surau dan berkata, Di situ nanti Kiai Achmad akan dimakamkan. Demikian juga saya. Dan Nantinya sampeyan. Dikatakan,

tanah itu sengaja dibelinya untuk tempat penguburan para penghafal al-Quran. Gus Miek memiliki pendirian yang sangat kuat. Ketika mengatakan sesuatu, maka tidak akan diingkari. Ketika setahun setelah mengatakan hal tersebut, kemudian KH Achmad Shiddiq wafat, beliau pun dikuburkan di tempat itu atas permintaan Gus Miek. Hal-hal tersebut seringkali dijadikan bukti oleh banyak orang bahwa KH Hamiem Jazuli alias Gus Miek adalah seorang dengan kemampuan supernatural. Kemampuan supernatural KH Hamiem alias Gus Miek itu, dalam eskatologi orang pesantren, dinamakan khariqul adah, alias keaneh-anehan. Dengan bermacam-macam keanehan yang dimilikinya, Gus Miek lalu memperoleh status orang keramat dengan berbagai keahlian. Sebagai contoh seseorang yang ingin banyak rezeki, harus memperoleh berkahnya, ingin naik pangkat, harus didukung olehnya, ingin beribadah haji, harus dimakelarinya, ingin gampang jodoh, minta pasangan kepadanya, dan demikian seterusnya.

Gambar 4. Gus Miek

Reputasinya sebagai orang keramat dinilai sebagai pendorong mengapa banyak orang berbondong-bondong memadati acara keagamaan yang dilangsungkan oleh Gus Miek. Semaan (bersama-sama mendengarkan bacaan al-Quran oleh para penghafalnya) yang diselenggarakannya di mana-mana, selalu penuh sesak oleh rakyat banyak. Dari pagi orang bersabar mendengarkan bacaan al-Quran, untuk mengamini doa yang dibacakan Gus Miek seusai menamatkan bacaan al-Quran secara utuh, biasanya sekitar pukul 8 malam. Kemudian jamaah menanti sepanjang hari untuk memperoleh siraman jiwa berupa mauizah hasanah (petuah yang baik) dari Gus Miek.

Gus Miek inilah yang melalui transendensi keimanannya tidak lagi melihat kesalahan keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain. Ayu Wedayanti yang Hindu diperlakukan sama dengan Neno Warisman yang Muslimah, karena ia yakin kebaikan sama berada pada dua orang penyanyi tersebut. Banyak orang Katolik menjadi pendengar setia wejangan Gus Miek seusai Semaan.

c. Kemampuan Untuk Menyadari Akan Kemampuan Merasakan Hal-Hal Yang Suci (Adam Rakhadifa/J3B210059) Masyarakat Minangkabau memiliki kesenian tradisional bernuansa magis bernama lukah gilo. Masyarakat menganggap kesenian ini unik dan sakral, karena memadukan keindahan seni tari dan kekuatan magis. Istilah lukah gilo berasal dari dua kata, lukah dan gilo. Lukah merupakan perangkap ikan atau belut yang terbuat dari anyaman lidi atau rotan yang diletakan di aliran sungai, sementara gilo dalam bahasa Minang berarti gila. Dengan demikian, lukah gilo merujuk pada lukah yang bergerak liar seperti orang gila karena diberi mantra oleh seorang kulipah atau pawang. Kata lukah dalam kesenian ini juga digunakan untuk menyebut penarinya.

Gambar 5. Lukah Gilo

Sisi keunikan dan kesakralan tari lukah gilo terletak pada gerakan lukah yang liar akibat dari masuknya jin dalam lukah tersebut, setelah diberi mantra oleh kulipah. Selain itu, tarian ini akan semakin menrik untuk ditonoton jika ada penonton yang kesurupan jin yang masuk dalam lukah gilo. Lukah yang dibentuk seperti boneka akan bergerak liar mengikuti irama musik tradisional Sumatera Barat. Beberapa orang mencoba memegang dan menahan gerakan dari lukah tersebut, namun mereka tidak mampu untuk menahannya dan ikut menari mengikuti lukah tersebut. Gerakan lukah baru berhenti apabila kulipah menarik kembali mantranya.

Lukah gilo biasa dipentaskan pada malam hari. Menurut kulipah, waktu malam hari dianggap tepat agar mudah memanggil jin yang akan dimasukkan ke dalam lukah gilo. Waktu malam hari pula yang menambah nilai magis dan sakral pertunjukkan lukah gilo. Adanya upaya pemanggilan jin dalam pertunjukkan lukah gilo membuat banyak orang menilai pertunjukkan tersebut bertentangan dengan agama. Akan tetapi sebagian masyarakat Minang menganggap tarian tersebut justru menambah nilai spiritual mereka, karena sejatinya jin tersebut tetap berada di bawah kendali dan kuasa Tuhan melalui peran kulipah. Selain itu, biasanya setelah tarian lukah gilo usai, para orangtua Nagari akan memberi nasihat kepada masyarakat untuk tetap beriman kepdada Tuhan, bukan kepada jin.

d.

Kemampuan untuk memanfaatkan sumber sumber spiritual yang lebih tinggi aluntuk memecahkan masalah dalam kehidupan (Adam Rakhadifa/J3B210059) Dalam masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar yang membangun dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat. Mereka adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak atau penghulu, yang dikenal dengan istilah Tali nan Tigo Sapilin. Ketiganya saling melengkapi dan bahu membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat Minangkabau yang demokratis dan egaliter, semua urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu secara mufakat. Penghulu adalah seorang laki-laki yang dituakan pada sebuah suku di Minagkabau, yang membidangi tentang seluk beluk urusan adat. Penghulu dalam kehidupan sehari-hari dipanggil datuk fungsi seorang penghulu di Minangkabau adalah sebagai pemimpin suku dalam urusan adat.

Gambar 6. Penghulu

Salah satu sifat dari seorang penghulu di Minagkabau adalah Fathabah (cerdas dan cendekia) artinya penghulu haruslah cerdas dan cendekia yaitu kecerdasan yang didukunbg oleh pengetahuan luas dan mendalam. Seorang penghulu harus mendalami seluk beluk adat, ajaran Islam (syarak) serta ilmu pengetahuan lainnya. Fungsi penghulu adalah pemimpin dalam urusan adat secara umum untukmemimpin anak kemenakannya dalam segala bidang dan menyelesaikan tiap sengketa atau perselisihan dan memlihara harta pusaka. Untuk menjalankan fungsinya maka seoranmg penghulu pekerjaan sehari-hari adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Mengendalikan pemerintahan menurut undang-undang adat. Membimbing anak kemenakan baik secara langsung ma upun tiadak langsung Mengadakan rapat dibalai adat untuk membicarakan strategi kehidupan dan kemakmuran serta keadilan masyarakat Minangkabau. 4. Menerima tukup bubuang, misalnya menerima hasil bumi, pajak sawah, pajak tanah, dan lain-lain. Alim ulama adalah pemimpin masyarakat Minangkabau dalam urusan agama, yaitu orang yang dianggap alim. Seorang yang alim adalah orang yang memiliki ilmu yang luas dan memiliki keimanan.keberadaannya di masyarakat sangat dibutuhkan. Hal ini diuangkapkan dalam adat Minangkabau adapt basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Adanya alim ulama di dalam masyarakat Minangkabau membidangi agama islam/syarak. Penghulu atau ninik mamak membidangi adat. Kedudukan alim ulama adalah sebagai pemimpin, juga membuat keputusan, keputusan yang ia buat berdasarkan al-quran dan hadits. Ulama juga memberikan pertimbanganpertimbangan kepada penghulu untuk mengamb il keputusan dalam bidang agama islam, pertimbangan itu biasanya diberikan, baik diminta maupun tidak diminta oleh penghulu. Justru disinilah ulama berfungsi sebagai pemimpin yang memiliki kedudukan sejajar dengan penghulu dan ninik mamak di dalam nagari.

Kedudukan alim ulama di minangkabau sebagai berikut : 1. Sebagai pemimpin dalam urusan ibadah dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. 2. Sebagai suluah dendang dalam nagari.

3. Sebagai pemberi petunjuak kepada masyarakat dan alim ulama, diharapkan dapat membawa umat Islam ke jalan yang benar yaitu diridhoi jalan diridhoi Tuhan. Cadiek pandai adalah pemimpin masyarakat yang memiliki pengetahuan dan wawasan ynag luas serta pemikiranyang dapat mencari jalan keluar dari setiap masalah yang sedang dihadapimasyarakat Minangkabau. Jadi adalah merupakan kumpulan orang-orang pandai, tahu, cerdik, cendekiawan, dan orang yang cepat mengerti, pandai mencari pemecahan masalah dan berfikir yang luas. Kedudukan cadiak pandai di minangkabau adalah sebagai berikut : 1. Cadiak pandai sebagai pemimpin di bidang undang-undang dan komunikasi serta pengaturan yang bersifat umum. 2. Cadiak pandai sebagai pemimpin adalah karena mempunyai keindividuannya. yaitu kaya dengan ilmu pengetahuan dan wajib memberi petunjuk kepada masyarakat nagari di minangkabau. 3. Cadiak pandai sebagai pemimpin banyak pengetahuan dan banyak tahu, paham perkembangan dalam nagari atau luar nagari, karena itu dianggap sebagai pagaran tokoh.

e.

Kemampuan untuk bertingkah laku yang baik (Adam Rakhadifa/J3B210059) Agama Islam yang sangat mengakar dalam adat dan budaya masyarakat Minangkabau memberi dampak terhadap norma dan tingkah laku dari masyarakat Minangkabau. Islam menuntut dan mengarahkan kaum muslimin untuk melakukan tindakan sesuai dengan apa yang dibolehkan dan dilarang oleh Tuhan, sehingga masayarakat Minangkabau selalu taat dan bertingkah laku yang baik sesuai dengan yang telah disyariatkan dalam agama Islam. Hal tersebut dibuktikan dengan pandangan umum bahwa masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang sangat reigius, teguh memegang adat istiadat dan syariat Islam serta menjaga dengan baik tali silahturahmi, baik kepada sesama orang Minangkabau ataupun dengan suku lain.

V.

KESIMPULAN

Masyarakat Padang yang dulu merupakan masyarakat yang taaat terhadap ada istiadat dan religius kini perlahan mulai melupakan adat istiadat mereka. Hal ini disebabkan arus modernisasi yang membuat generasi masa kini mulai melupakan adat istiadat leluhur mereka masing-masing. Namun sebagian besar masyarakat Padang, khususnya para pemuka adat dan generasi terdahulu, masih tetap teguh memengang adat istiadat, budaya, dan spiritual sehingga masih tetap bertahan hingga saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.padang.go.id/v2/content/view/5/6/ http://keuskupan.blogspot.com/2011/06/dari-meja-uskup-agung-mencoba-memahami.html http://travel.detik.com/read/2012/02/03/125114/1833361/1025/menengok-makam-sitinurbaya-di-padang. http://www.bpsntpadang.info/index.php?option=com_content&task=view&id=92&Itemid=50 http://asmakulo.blogspot.com/2012/01/transendensi.html http://regafelix.wordpress.com/2011/12/15/transendensi-hukum-dalam-masyarakat-tarekatsufi-tinjauan-antropologis-filosofis/ http://bujangmasjid.blogspot.com/2011/04/masjid-nurul-iman-kota-padang-sumatera.html http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2635/lukah-gilo-tari-magis-orang-minangkabausumatera-barat