Anda di halaman 1dari 5

TUGAS TERSTRUKTUR BIOLOGI KONSERVASI Pengelolaan Manis javanica Secara In-Situ dan Ex-Situ dari Ancaman Kepunahan

Oleh : Betta Ady Gunawan B1J009023

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN Adanya peningkatan jumlah populasi manusia dari tahun ketahun,

mengakibatkan pemanfaatan sumber kekayaan alam baik melalui eksploitasi maupun pembukaan hutan untuk dijadikan wilayah perumahan, perindustrian, pertanian, dan sebagainya semakin meluas. Sehingga pertumbuhan populasi manusia ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap persediaan sumber daya alam termasuk satwa liar. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan kehidupan satwa liar dari ancaman kepunahan, yaitu melakukan kegiatan konservasi satwa liar dengan cara menyediakan suaka-suaka alam (tempat berlindung dan berkembangbiaknya satwa liar), seperti Taman Nasional, Suaka Margasatwa, dan Cagar Alam. Kegiatan konservasi ini dibedakan menjadi dua, yaitu konservasi in situ (di habitat asli) dan konservasi ex situ (di luar habitat asli) (Alikodra 1990, dalam Krisna, R. 2006). Menurut badan konservasi dunia International Union for the Concervation Nature Resources (IUCN 1986), tentang daftar spesies yang terancam punah di dunia, jumlah jenis satwa Indonesia yang terancam punah adalah 128 jenis mamalia, 104 jenis burung, 19 jenis reptil, 60 jenis ikan, dan 29 jenis hewan invertebrata. Saat ini trenggiling tercatat sebagai satwa yang terancam punah dan merupakan salah satu dari 128 jenis mamalia yang terdaftar dalam IUCN. Kegiatan perburuan dan penangkapan liar di alam, serta perdagangan yang tidak terkontrol menyebabkan terancamnya keberadaan satwa ini di habitat aslinya. Trenggiling merupakan salah satu satwa dilindungi yang dipercaya dapat menjadi penawar bagi penyakit tertentu oleh masyarakat China, terutama sisik dan dagingnya (Hertanto 2010). Sebagian kalangan meyakini trenggiling dapat dijadikan sebagai obat kuat dan makanan bagi masyarakat di pedesaan atau pedalaman di Kalimantan Timur (Zainuddin 2008). Namun dalam pelaksanaan pemanfaatannya cukup sulit dilakukan. Sebagai satwa yang dilindungi (Appendix II CITES), trenggiling dilarang diperdagangkan kecuali dengan peraturan dan kuota tertentu yang ditetapkan oleh management authority (PHKA) dan scientific authority (LIPI).

II. PEMBAHASAN

Trenggiling peusing (Manis javanica) telah dikenal oleh masyarakat di sekitar kawasan TNBK sebagai penghasil sisik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat. Berdasarkan status perlindungannya, trenggiling peusing telah dilindungi menurut PP No. 7 Tahun 1999, dimasukkan dalam Appendix II CITES, (2001) dan Lower risk near threatened dalam Red data book IUCN. Masyarakat suku Dayak di sekitar TNBK meyakini bahwa khasiat obat hanya dapat diperoleh dari trenggiling yang telah mati secara alami (bukan mati karena perburuan). Keyakinan ini diharapkan dapat menekan tingkat ancaman terhadap kelestarian jenis trenggiling peusing di TNBK akibat perdagangan sisiknya (Putra, et al. 2008). Untuk menghindari hal seperti itu perlu di lakukan adanya tindakan pengelolaan konservasi terhadap populasi trenggiling itu sendiri agar populasinya tidak terancam punah. Tindakan pengelolaan yang dilakukan meliputi konservasi secara Insitu dan konservasi secara Ex-situ. Konservasi secara In-situ dilakukan dengan cara pengelolaan yang dapat diarahkan dalam bentuk pengelolaan populasi trenggiling dan habitatnya di alam, baik dalam kawasan Cagar Alam, Suaka Margasatwa, maupun di kawasan-kawasan pelestarian alam seperti Taman Nasional. Namun upaya itu belum terlihat karena belum ada kawasan tertentu baik di Taman Nasional, Cagar Alam maupun Suaka Margasatwa yang benar-benar fokus pada trenggiling dan permasalahannya (Novriyanti, 2010). Sedangkan konservasi secara Ex-situ menurut Fakultas Kehutanan IPB (1991) dalam Novriyanti (2010), adalah suatu usaha atau kegiatan mengembangbiakkan jenis-jenis satwaliar yang bertujuan untuk memperbanyak populasinya dengan tetap mempertahankan kemurnian genetiknya di luar habitat alaminya. Dengan menangkarkan Trenggiling di luar habitat tertentu agar hewan tersebut berkembangbiak dan dapat memperbanyak keturunannya dan mengalami fase adaptasi yang lama. Trenggiling diketahui merupakan satwa yang sulit beradaptasi dengan lingkungan diluar habitat aslinya sehingga sulit pula melakukan perkembangbiakan (breeding) di penangkaran (Lim and Ng 2007; Wu et. al 2004). Di Singapura, trenggiling banyak diobservasi dengan melihat Home range, siklus aktivitas dan Den Usage terhadap Trenggiling betina. Trenggiling masih bersifat natural dalam reproduksi dalam masa kehamilan hingga menjadi dewasa, dan banyak mengalami perubahan secara morfologi maupun secara fisiologis (Lim and Ng, 2007). III. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:


1. Hewan Trenggiling Manis javanica merupakan salah satu hewan mamalia yang

terancam punah yang telah terdaftar dalam IUCN karena perburuan dan penangkapan liar yang dilakukan oleh manusia.
2. Pengelolaan Hewan Trenggiling Manis javanica agar terhindar dari ancaman

kepunahan dan perburuan secara liar untuk keperluan manusia, yaitu dengan cara:
a. Konservasi secara In-situ yaitu tindakan pengelolaan yang diarahkan kepada

populasi makhluk hidup tertentu untuk kelangsungan hidup makhluk tersebut dan habitatnya secara alami (Konservasi di habitat asli).
b. Konservasi secara Ex-situ yaitu usaha atau kegiatan mengembangbiakkan

jenis-jenis satwaliar yang bertujuan untuk memperbanyak populasinya dengan tetap mempertahankan kemurnian genetiknya di luar habitat alaminya.

DAFTAR PUSTAKA Alikodra, 1990 dalam Krisna, R. 2006. Kandungan Nutrisi Pakan Trenggiling (Manis javanica) dan Kaitan Terhadap Pertumbuhannya. FMIPA. Institut Pertanian Bogor. SKRIPSI. (Tidak dipublikasikan).

CITES [Convention on International Trade in Endangered Species]. 2001. Relationship between Ex-situ Breeding Operations and In-situ Conservation Programs. Proceedings Sixteenth Meeting of the Animal Committee, USA 1115 Desember 2000. Hertanto, editor. 2010. Sejuta kilo daging trenggiling dijual. Dalam: http://megapolitan.kompas.com/read/2010/04/17/21594696/Sejuta.Kilo.Daging .Trenggiling.Dijual. (diakses tanggal 11 April 2012) IUCN. 1986. IUCN Red List of Threatened Animals. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK. Lim NTL and Ng PKL. 2007. Home Range, Activity Cycle and Natal Den Usage of a Female Sunda Pangolin Manis javanica (Mammalia: Pholidota) in Singapore. Endangered Species Research. (4):233-240. Novriyanti, 2010. Pengelolaan Trenggiling (Manis javanica Desmarest 1822) di Habitat In-Situ dan Ex-Situ. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB. Putra, Y., Masyud, B., Ulfah, M. 2008. Keanekaragaman Satwa Berkhasiat Obat Di Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat Indonesia. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB, Kampus Darmaga, Bogor. Wu S, Liu N, Zhang Y, Ma G. 2004. Assessment of threatened status of Chinese Pangolin (Manis Pentadactyla). Chinese Journal of Applied Environmental Biology 10(4): 456-461. Zainuddin H. 2008. Dalam Novriyanti, 2010. Pengelolaan Trenggiling (Manis javanica Desmarest 1822) di Habitat In-Situ dan Ex-Situ. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB.