Anda di halaman 1dari 21

1

KERACUNAN BAYGON . Pendahuluan Menurut Taylor racun adalah setiap bahan atau zat yang dalam jumlah relatif kecil bila masuk kedalam tubuh akan menimbulkan reaksi kimiawi yang akan menyebabkan penyakit atau kematian ( 1 ) . Baygon termasuk kedalam racun serangga ( insektisida ). Berdasarkan struktur kimianya insektisida dapat digolongkan menjadi : (1,3) 1. Insektisida golongan fospat organik ; seperti : Malathoin, Parathion, Paraoxan , diazinon, dan TEP. 2. Insektisida golongan karbamat ; seperti : carboryl dan baygon 3. Insektisida golongan hidrokarbon yang diklorkan ; seperti ,DDT endrin , chlordane, dieldrin dan lindane. Keracunan akibat insektisida biasanya terjadi karena kecelakaan dan pecobaan bunuh diri , jarang sekali akibat pembunuhan ( 3 ) . II. Cara Kerja Racun Bila dilihat dari cara kerjanya , maka insektisida golongan fospat organik dan golongan karbamat dapat dikategorikan dalam antikolinesterase ( Cholynesterase inhibator insectisides ) , sehingga keduanya mempunya persamaan dalam hal cara kerjanya , yaitu merupakan inhibator yang langsung dan tidak langsung terhadap enzim kholinesterase ( 2,3,4 ). Racun jenis ini dapat diabsorbsi melalui oral , inhalasi , dan kulit. Masuk ke dalam tubuh dan akan mengikat enzim asetil kholinesterase ( AChE ) sehingga AChE menjadi inaktif maka akan terjadi akumulasi dari asetilkholin. ( 2,3 ) Kita dapat menduga terjadinya keracunan dengan golongan ini jika : ( 3 ) 1. Gejala gejala timbul cepat , bila > 6 jam jelas bukan keracunan dengan insektisida golongan ini. 2. Gejala gejala progresif , makin lama makin hebat , sehingga jika tidak segera mendapatkan pertolongan dapat berakibat fatal , terjadi depresi pernafasan dan blok jantung. 3. Gejala gejala tidak dapat dimasukkan kedalam suatu sindroma penyakit apapun , gejala dapat seperti gastro enteritis , ensephalitis , pneumonia, dll. 4. Dengan terapi yang lazim tidak menolong. 5. Anamnesa ada kontak dengan keracunan golongan ini. III. Gejala gejala Keracunan ( 3 ) Manifestasi utama keracunan adalah gangguan penglihatan , gangguan pernafasan dan hiper aktif gastro intestinal. Keracunan Akut Gejala gejala timbul 30 60 menit dan mencapi maksimum dalam 2 8 jam. 1. Keracunan ringan : - Anoreksia , sakit kepala , pusing , lemah , ansietas , tremor lidah dan kelopak mata , miosis, penglihatan kabur. 2. Keracunan Sedang : - Nausia, Salivasi, lakrimasi , kram perut , muntah muntah , keringatan , nadi lambat dan fasikulasi otot. 3. Keracunan Berat : - Diare , pin point , pupil tidak bereaksi , sukar bernafas, edema paru , sianons , kontrol spirgter hilang , kejang kejang , koma , dan blok jantung.

Keracunan Kronis - Penghambatan kolinesterase akan menetap selama 2 6 minggu ( organofospat ) . Untuk karbamat ikatan dengan AChE hanya bersifat sementara dan akan lepas kembali setelah beberapa jam ( reversibel ) . Keracunan cronis untuk karbomat tidak ada. - Gejala gejala bila ada menyerupai keracunan akut yang ringan , tetapi bila eksposure lagi dalam jumlah yang kecil dapat menimbulkan gejala gejala yang berat. Kematian biasanya terjadi karena kegagalan pernafasan , dan pada penelitian menunjukkan bahwa segala keracunan mempunyai korelasi dengan perubahan dalam aktivitas enzim kholinesterase yang terdapat pada pons dan medulla ( Bajgor , 1971 ). Kegagalan pernafasan dapat pula terjadi karena adanya kelemahan otot pernafasan , spasme bronchus dan edema pulmonum. IV. Diagnosis Kriteria diagnosis pada keracunan adalah : ( 1 ) 1. Anamnesa kontak antara korban dengan racun. 2. Adanya tanda tanda serta gejala yang sesuai dengan tanda dan gejala dari keracunan racun yang diduga. 3. Dari sisa benda bukti harus dapat dibuktikan bahwa benda bukti tersebut memang racun yang dimaksud. 4. Dari bedah mayat dapat ditemukan adanya perubahan atau kelainan yang sesuai dengan keracunan dari racun yang diduga ; serta dari bedah mayat tidak ditemukan adanya penyebab kematian lain. 5. Analisa kimia atau pemeriksaan toksikologik , harus dapat dibuktikan adanya racun serta metabolitnya dalam tubuh atau cairan tubuh korban , secara sistemik. Analisa kimia ata u pemeriksaan toksikologik dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium dengan menentukan kadar AChE dalam darah dan plasma ( penentuan aktivitas enzim kholinesterase ) yaitu dengan cara EDSON can ACHOLEST ( 3 ) 1. Cara Edson Prinsipnya berdasarkan perubahan pada pH darah AChE AChE cholin + asam asetat Ambil darah korban , ditambahkan indikator brom thymolblue, didiamkan beberapa saat , maka akan terjadi perubahan warna. Warna tersebut dibandingkan dengan warna standard pada comparator disc, maka dapat ditentukan kadar AChE dalam darah. % aktifitas AChE darah Interpretasi 75 % 100 % dari normal 50 % 75 % dari normal 25 % 50 % dari normal 0 % 25 % dari normal Tidak ada keracunan - Keracunan ringan - Keracunan sedang

- Keracunan berat 2. Cara Acholest Diambil serum darah korban diteteskan pada kertas Acholest , bersamaan dengan kontrol serum darah normal. Kertas Acholest sudah terdapat ACh dan indikator dan perubahan warna kertas tersebut dicatat waktunya. Perubahan warna harus sama dengan perubahan warna pembanding ( serum normal ) yaitu warna kuning telur ( yolk ). Interpretasi : - Kurang 8 menit , tidak ada keracunan - 20 35 menit , keracunan ringan - 35 150 menit , keracunan berat V. Pengobatan Pada pasien yang sadar : - Kumbah lambung - Injeksi sulfas atropin 2 mg ( 8 ampul ) Intra muscular - 30 menit kemudian berikan 0,5 mg SA ( 2 ampul ) i.m , diulang tiap 30 menit sampai artropinisasi - Setelah atropinisasi tercapai , diberikan 0 , 25 mg SA ( 1 ampul ) i.m tiap 4 jam selama 24 jam . Pada pasien yang tidak sadar - Injeksi sulfus Atropin 4 mg intra vena ( 16 ampul ) - 30 menit kemudian berikan SA 2 mg ( 8 ampul ) i.m , diulangi setiap 30 menit sampai os sadar. - Setelah os sadar , berikan SA 0,5 mg ( 2 ampul ) i.m sampai tercapai atropinisasi, ditandai dengan midriasis , fotofobia, mulut kering , takikardi, palpitasi , tensi terukur. - Setelah atropinisasi tercapai , berikan SA 0,25 mg ( 1 ampul ) i.m tiap 4 jam selama 24 jam. Pada Pasien Anak ( 5,6 ) - Lakukan tindakan cuci lambung atau membuat penderita muntah. - Lakukan pernafasan buatan bila terjadi depresi pernafasn dan bebaskan jalan nafas dari sumbatan sumbatan. - Bila racun mengenai kulit atau mukosa mata, bersihkan dengan air. - Atropin dapat diberikan dengan dosis 0,015 0,05 mg / Kg BB secara intra vena dan dapat diulangi setiap 5 10 menit sampai timbul gejala atropinisasi. Kemudian berikan dosis rumat untuk mempertahankan atropinisasi ringan selama 24 jam. - Protopan dapat diberikan pada anak dengan dosis 0,25 gram secara intra vena sangat perlahan lahan atau melalui ivfd - Pengobatan simtomatik dan suportif. VI. Pemeriksaan Post Mortem Pada Keracunan Baygon A. Pemeriksaan Luar 2,3

1. Pakaian. Perhatikan apakah ada bercak bercak racun, distribusi dari bercak dan bau bercak tersebut. Dari distribusi bercak racun kita dapat memperkirakan cara kematian, apakah bunuh diri atau pembunuhan. Pada kasus bunuh diri, distribusi bercak biasanya teratur pada bagian depan, tengah dari pakaian. Sedangkan pada kasus pembunuhan, distribusi bercak biasanya tidak teratur. 2. Lebam mayat ( livor mortis ).Lebam mayat pada kasus Keracunan Baygon menunjukkan warna yang sama dengan keadaan kematian normal, yaitu warna lebam mayat adalah livide. Hal ini berbeda dengan keracunan CO dimana lebam akan berwarna cherry red ( = warna COHb ). Pada keracunan sianida, lebam akan berwarna merah terang ( = warna HbO2 ), karena kadar HbO2 dalam darah vena tinggi. 3. Bau yang keluar dari mulut dan hidung. Dilakukan dengan jalan menekan dada dan kemudian mencium bau yang keluar dari mulut dan hidung, kita dapat mengenali bau khas dari bahan pelarut yang dipakai untuk melarutkan insektisida ( transflutrin ). B. Pemeriksaan Dalam Pada pemeriksaan dalam kasus keracunan ( secara umum ), umumnya tidak akan dijumpai kelainan kelainan yang khas atau yang spesifik yang dapat dijadikan pegangan untuk menegakan diagnosis/menentukan sebab kematian karena keracunan sesuatu zat. Hanya sedikit dari racun racun yang dapat dikendalikan berdasarkan kelainan kelainan yang ditemukan pada saat pemeriksaan mayat. Pada kasus Keracunan Baygon ini juga tidak dijumpai adanya kelainan yang khas. Beberapa kelainan yang didapat menunjukkan tanda tanda yang berhubungan dengan edema serebri, edema pulmonum dan konvulsi. Bau dari zat pelarut mungkin dapat dideteksi. Diagnosis dapat ditegakan dari riwayat penyakit, gejala keracunan yang kompleks dan tidak khas serta dari pemeriksaan laboratorium, yaitu dengan kromatografi lapisan tipis (thin layer chromotography ). Spektrofotometrik dan gas kromatografi. Jadi jelaslah bahwa pemeriksaan analisa kimia ( pemeriksaan toksikologi ) untuk menentukan adanya racun dan menentukan sebab kematian korban mutlak dilakukan pada setiap kasus keracunan atau yang diduga mati akibat racun. Pembedahan mayat berguna untuk menyingkirkan kemungkinan kemungkinan lain sebagai penyebab kematian dan bermamfaat untuk memberikan pengarahan pemeriksaan toksikologi.

KERACUNAN PENGERTIAN Adalah masuknya racun ke dalam tubuh melalui saluran pencernakan, pernapasan atau kon-tak langsung dan menimbulkan tanda tanda atau gejala klinik. ETIOLOGI Pada umumnya semua zat kimia bersifat racun, tergantung kepada jumlah dan cara masuknya ke dalam tubuh. PATOFISIOLOGI - Biji jengkol mengandung asam jengkol yaitu asam amino yang mengandung belerang. Di saluran kemih, asam jengkol mengkristal dan menyumbat saluran maka timbul nyeri perut, oligo uria sampai anuria dan kadang hematuria. Begitu hebatnya sumbatan dapat terjadi infiltrasi urin pada penis dan skrotum.

- Singkong mengandung asam syanida (HCN). Asam ini akan mengikat enzym cytochrom oxydase sehingga pengangkutan oksigen terganggu. Jaringan kekurangan oksigen dan terjadilah asfiksia. Organ yang cepat terpengaruh oleh asfiksia adalah otak, sehingga timbul dahulu de presi otak, kejang kemudian kematian. - Hidrokarbon (minyak tanah) yang teraspirasi ke dalam paru akan menimbulkan perdarahan dan bronkopneumonia. Selanjutnya timbul edem paru dan konsolidasi paru sehingga terjadi asfiksia dan kematian. Hidrokarbon yang terminum a kan terserap dan ikut aliran darah sam pai ke paru, organ lain dan otak. Di organ akan timbul kelainan degeneratif dan perdarahan kecil kecil yang reversibel. Sedangkan di otak akan terjadi depresi otak. - Bongkrek mengandung racun taxoflavin yang bekerja seperti curare yaitu melumpuhkan otot. - Zat racun chlorinated hidrokarbon akan menyerang susunan saraf pusat terutama batang otak, serebelum dan kortek serebri. Gejala yang timbul adalah rangsangan saraf dan peneka nan pusat pernapasan. - Zat racun organofosfat akan menghambat enzym kolinesterase menyebabkan rangsang saraf makin kuat dan lama. MANIFESTASI KLINIS Gejala klinis yang khas: - Bau hidrokarbon dijumpai pada keracunan minyak tanah, bensin, terpentin. - Bau bawang putih pada keracunan arsen atau fosfat. - Bau aseton karena alkohol atau aspirin. Gejala mata: - Miosis dijumpai pada keracunan narkotika atau fosfat organik. - Midriasis pada atropin, kokain atau amfetamin. Gejala kulit: -Bekas tusukaan jarum mengindikasikan keracunan narkotik. - Bula pada kaki dijumpai pada keracunan karbon monoksida. - Kulit kering: Keracunan belladona, botulism. - Berkeringat: Nitrat, nikotin, arsen, aspirin atau jamur. Gejala mulut:

- Salivasi: Fosfat organik, arsen, aspirin, jamur - Kering: Belladona, efedrin, narkotika. Gejala kardiovaskuler: - Takikardi: Alkohol, arsen, atropin, aspirin. - Bradikardi: Digitalis, minyak tanah, jamur, narkotika. - Hipertensi: Amfetamin, nikotik. - Hipotensi: Fenotiazin - Aritmia: Sianida, freon. Gejala respiratorik: - Depresi pernapasan: Narkotika , alkohol. - Hiperventilasi: Aspirin, karbon monoksida, minyak tanah. Gejala gastrointestinal: - Kolik: arsen, jamur - Diare, arsen, zat besi. - Konstipasi: Timah hitam, narkotika. Gejala susunan saraf pusat: - Kejang: Amfetamin, kamfer, sianida, strichnin, jamur, nikotin. - Koma: Barbiturat, alkohol, khlorhidrat, jamur. - Sakit kepala: Karbon monoksida, alkohol, timah hitam. Hiperpireksia: Atropin, aspirin Sianosis: Sianida, karbon monoksida, morfin, nitrat. PENATALAKSANAAN Dasar diagnosis: - Anamnesa yang seksama - Gejala klinik yang tidak sesuai dengan keadaan patologik penyakit tertentu harus dicurigai kearah kemungkinan keracunan. - Begitu pula anak yang sehat tiba tiba menjadi sakit. - Diagnosis dapat diperjelas dengan pemeriksaan laboratorium - Tetapi campuran beberapa zat beracun dapat menyebabkan hilangnya gejala klinik yg khas.

Langkah penatalaksanaan: 1. Identifikasi racun. Sedapat mungkin orang tua ditanya apakah anaknya pernah bermain dengan tempat tempat penyimpanan barang barang beracun/ berbahaya. Tanyakan pula semua obat obat yang diper gunakan keluarga. 2. Mengeluarkan racun: - Muntah: Muntah adalah cara yang efektif untuk mengeluarkan racun dari lambung. Beberapa obat dapat menyebabkan muntah. Misalnya Apomosihin 0,1 mg/KgBB/dosis, sk, sekali pemberian. Sirup ipekak 15-20 ml, oral, diikuti 1-2 gelas air, diulangi setelah 15-30 menit kemudian, bila belum muntah. - Lavase lambung: Walaupun efektif tetapi tidak sebaik muntah. Sebab memasukkan NGT akan menimbulkan trauma pada anak, diameter dari selang sangat terbatas sehingga tidak dapat mengeluarkan tablet yang besar atau zat lain berukuran besar sehingga diperlukan pengenceran. Hal ini menyebabkan absorbsi lebih cepat. - Netralisasi racun: Tertelan alkali dapat diberikan asam yaang ringan semacam juice lemon. Tertelan asam dapat diberikan alkali yang ringan semacam susu magnesia. Tertelan zat besi dapat diberikan Na Bikarbonat. Charcoal dapat diberikan kecuali pada keracunan asam atau alkali. - Mempercepat pengeluaran racun. * Diuretika dapat diberikan dan dapat memperpendek waktu pengikatan racun oleh jaringan, efektif pada keracunan salisilat dan fenobarbital. * Dialisis akan memberikan hasil yang sangat memuaskan dalam mengeluarkan racun. * Hemodiaalisis lebih efisien daripada dialisis peritoneal, tapi cara ini perlu tenaga ahli, sedangkan dialisis peritoneal lebih mudah dilakukan. * Transfusi ganti berguna pada beberapa kasus keracunan toksin yang tidak terikat dengan jaringan atau diendapkan. Juga cara ini berguna pada anak kecarunan salisilat, barbituraat dll.

KERACUNAN KHUSUS 1. KERACUNAN OBAT a. SALISILAT Dasar diagnosis : Ada riwayat makan salisilat. Gejala klinis: Hiperventilasi, asidosis metabolik, muntah, dehidrasi, poliu ri kemudian oliguri. Kadang didapatkan perdarahan, edem paru, depresi pernapasan dan nekrosis tubular akut. Penatalaksanaan : Resusitasi jantung paru otak, emesis dengan sirup ipekak, rehidrasi, vitamin K 1 mg, im, alkalinisasi urin 2 mEq/Kg Na bikarbonat iv, dan jika keadaan berat dilakukan transfusi tukar atau dialisis. b. OBAT HIPNOTIK Dasar diagnosis : Anamnesa dan gejala klinik Penatalaksanaan : Resusitasi jantung paru otak, eliminasi, pemberian antidotum. c. ASETAMINOFEN Dasar diagnosis : Anamnesa dan gejala klinik Penatalaksanaan : Resusitasi jantung, paru otak, diberikan metionin, glutation atau N-asetil sistein dengan dosis awal 140 mg/Kg BB dilanjutkan 70 mg/Kg BB tiap 4 jam. Bila muntah diberikan melalui selang duodenum. Pada kasus berat dilakukan hemodialisis. 2. KERACUNAN GAS a. KARBON MONOKSIDA Dasar diagnosis : Sakit kepala, gangguan kesadaran, koma. Depresi pernapasan dan syok. SGOT, SGPT meningkat, edem paru dan aritmia. Penatalaksanaan : Berikan oksigen yang adekuat, bila mungkin gunakan hyperbaric O2 b. GAS TOKSIK IRITAN Dasar diagnosis : Iritasi lokal di mata, hidung, faring seperti pilek dan batuk Dapat timbul edem paru dan kematian Pemeriksaan fisik dan foto paru periodik. Penatalaksanaan : Pindahkan penderita dari daerah bahaya ke lingkungan udara segar.

Resusitasi jantung paru otak Kortikosteroid dan antibiotika. 3. KERACUNAN ZAT KIMIA INDUSTRI a. METIL ALKOHOL Dasar diagnosis : Gangguan penglihatan, sakit kepala, muntah, sakit perut, hiperpne, tremor, kejang, koma dan syok. Penatalaksanaan : Resusitasi homeostasis, bilas lambung dengan larutan Na bikarbonat, berikan etil alkohol sebagai kompetitif dalam proses alkohol dehidrogenase, diuterikum dam hemodialisis. b. ASAM SIANIDA Dasar diagnosis : Dispnea, sianosis, sakit kepala, kejang dan koma. Penatalaksanaan : Berikan anti dotum Na nitrit dan Na tiosulfat. c. KAUSTIK Dasar diagnosis : Korosi mukosa mulut, esofagus, faring. Sakit di saluran pencernaan dan sangat haus. Sakit menelan, mual dan muntah, diare dan kolaps. Inflamasi, pembengkaan, perionitis dan striktura saluran cerna. Penatalaksanaan : Resusitasi homeostasis. Jangan dibuat muntah dan dibilas lambung. Diberikan venegarial lemon dan orange pieve untuk menetralkan. Asam oleh susu atau milk of magnesium Opiat untuk mengurangi sakit, antibiotika dan prednison. Bila dapat menelan diberikan makanan cair. d. HIDROKARBON Dasar diagnosis : Hidrokarbon menyebabkan perubahan paru paru dan Susunan saraf pu sat. Menekan zat ini akan menyebabkan iritasi mukosa, muntah dan dia re. Kadang timbul distres pernapasan, sianosis, takikardi, demam dan kematian. Bensin, gasolin, karosen dan minyak polish sangat bahaya. Diagnosis dibantu dengan foto thorak adanya pneumonia hidrokarbon. Penatalaksanaan : Resusitasi JPO / homeostasis. Observasi selama 24 jam. Kontraindika si emesis dan bilas lambung. Berikan oksigen, antibiotika dan kortikoste

10

roid. Hindari penggunaan adrenalin. Jangan diberikan alkohol dan minyak mineral karena akan mempermudah absorbsi. Boleh diberikan caf fein pada depresi saraf pusat. 4. KERACUNAN AGROCHEMICAL / INSEKTISIDA a. KLORINATED HIDROKARBON Dasar diagnosis : Salivasi, nyeri perut, mual, muntah, diare, depresi SSP, kejang. Inhalasi menyebabkan iritasi di mata, hidung, faring, batuk dan edem. Absorbsi dapat melalui kulit, sal napas dan sal cerna. Susu dan minyak castor di lambung menambah absorbsi. Contoh: Aldrin, DDT, dieldrin, endrin, heptaklor, klordan dll Penatalaksanaan : Resusitasi, bilas lambung dan diberikan diazepam bila kejang. b. ORGANOFOSFAT Dasar diagnosis : Salivasi, sakit kepala, keluar air mata, mual, muntah. Sianosis, hipoglikemi, gejala akibat kolinesterase inhibitor. Contoh: Diazinon, malabtion, panaokson, potosan, sistoks dll Penatalaksanaan : Resusitasi, emesis dan bilas lambung. Atropinisasi dengan sulfas atro pin 0,015 0,050 mg/KgBB, iv tiap 5-10 menit, sampai timbul tanda tanda atropinisasi: Kulit kering dan kemerahan, takikardia, berhentinya sekresi dari mulut dan trakhea. 5. KERACUNAN MAKANAN a. SINGKONG Dasar diagnosis : Zat beracun dalam singkong adalah asam sianida. Zat ini mengganggu oksidasi jaringan karena mengikat enzim sitokrom oksidase. Beberapa jam setelah makan singkong timbul muntah, pusing, lemah, kesadaran menurun sampai koma, dispneu, sianosis dan kejang. Penatalaksanaan : Resusitasi, berikan Na tiosulfat 10-30 ml, iv, pelan pelan. Sebelumnya dapat diberikan amil nitrit secara inhalasi. b. JENGKOL Dasar diagnosis : Penyumbatan saluran kencing karena hablur asam jengkol. Keluhan tim

11

bul 5-12 jam sesudah makan jengkol, berupa nyeri perut, muntah, kolik, sakit kencing, anuria dan kadang hematuria. Napas bau jengkol. Penatalaksanaan : Resusitasi. Pada yang ringan diberikan Na bikarbonat, bila berat infus dengan larutan bikarbonat. c. BONGKREK Dasar diagnosis : Zat beracun dalam bongkrek adalah toksoplavin. Gejala klinik timbul sesudah 12-48 jam makan bongkrek, berupa pusing, diplopia, anorek sia, lemah, ptosis, strabismus, sukar bernapas / menelan / berbicara. Kematian timbul dalam 1-8 hari. Penatalaksanaan : Resusitasi, bilas lambung. Dapat pula diberikan antitoksin yang disertai dengan pemberian glukose i.v, larutan garam fisiologik dan plasma. KOMPLIKASI - Perdarahan: Salisilat - Edem paru: Salisilat, CO, Gas toksik iritan - Depresi pernapasan: Salisilat, CO, hidrokarbon - Nekrosis tubular akuta: Salisilat - Syok: CO, Metil alkohol - Koma: CO, Metil alkohol - Aritmia: CO - Kejang: Metil alkohol PROGNOSIS - Keracunan jengkol pada umumnya sembuh kecuali ada gagal ginjal akut. - Keracunan singkong pada umumnya sembuh bila pengobatan cepat diberikan.

PROTAP KUMBAH LABUNG Pengertian Kumbah lambung merupakan salah satu tindakan dalam memberikan pertolongan kepada pasien dengan cara memasukkan air atau cairan tertentu dan kemudian mengeluarkannya dengan menggunakan alat yaitu NGT (Naso Gastric Tube) / Stomach Tube yang dimasukkan melalui hidung sampai ke lambung. Tujuan Sebagai acuan dan langkah-langkah dalam melakukan tindakan kumbah lambung pada pasien

12

Kebijakan Tindakan kumbah lambung dilakukan untuk mengeluarkan racun / darah dari lambung. Kebijakan 1. Adanya permintaan tertulis dari dokter. 2. pastikan NGT masuk kedalam lambung, kemudian difiksasi. 3. Tinggi corong dari pasien + 30 cm. 4. Tersedia peralatan seperti : - NGT - Corong - Cairan yang diperlukan sesuai kebutuhan - Plester dan gunting - Ember penampung cairan - Stetoskop - Spuit 20 cc - Tissue / kain kasa - Bengkok - Sarung tangan - Klem - Gliserin Prosedur 1. Persiapan Alat dan Obat : 1.1. NET / Stomach Tube berbagai ukuran. 1.2. Corong NET. 1.3. Cairan yang diperlukan sesuai keperluan (susu, air putih, air es) 1.4. Plester yang digunting. 1.5. Sarung tangan (Hand scoen) 1.6. Ember penampung cairan. 1.7. Stetoskop. 1.8. Spuit 10 cc. 1.9. Tissue / kain kasa

13

1.10. Gliserin / jelly pelicin. 1.11. Bengkok / nierbeken. 1.12. Klem. 1.13. Obat-obatan yang diperlukan (sulfas Atropin, Norit) 1.14. Gelas Ukuran 2. Persiapan Pasien : 2.1. Memberitahukan dan memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarganya tentang tindakan yang akan dilakukan. 2.2. Mengatur posisi pasien, telentang dengan kepala ekstensi. 3. Penatalaksanaan 3.1. Perawat mencuci tangan. 3.2. Ember diletakkan dibawah tempat tidur pasien. 3.3. Memakai sarung tangan. 3.4. Mengukur NGT, NGT di klem kemudian oleskan gliserin / pelican pada bagian ujung NGT. 3.5. Memasukan selang NGT melalui hidung secara perlahan-lahan, jika pasien sadar anjurkan untuk menelan. 3.6. Jika terjadi clynosis atau tahanan, NGT segera dicabut. 3.7. Pastikan NGT masuk ke dalam lambung dengan cara : 3.7.1. Masukkan ujung NGT kedalam air, jika tidak terdapat gelembung maka NGT masuk ke lambung. 3.7.2. Masukkan udara dengan spuit 10 cc dan didengarkan pada daerah lambung dengan menggunakan stetoskop. Setelah yakin pasang plester pada hidung untuk memfiksasi NGT. 3.8. Pasang corong pada pangkal NGT, kemudian dimasukkan + 500 cc, kemudian dikeluarkan lagi / ditampung pada ember. 3.9. Lakukan berulang kali sampai cairan yang keluar bersih, jernih dan tidak berbau. 3.10. Perhatikan jenis cairan, bau cairan yang keluar. 3.11. Mengobservasi keadaan umum pasien dan vital sign pada saat dilakukan tindakan. 3.12. Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan pada status pasien. 3.13. Setelah selesai, pasien dirapikan dan peralatan dibersihkan. 3.14. Perawat mencuci tangan. Unit Terkait 1. Instalasi Gawat Darurat

14

2. Rekam Medik 3. I.P.S.R.

KUMBAH LAMBUNG 1. Pengertian Bilas lambung, atau disebut juga pompa perut dan irigasi lambung merupakan suatu prosedur yang dilakukan untuk membersihkan isi perut dengan cara mengurasnya.

Prosedur Bilas Lambung (Gastric Lavage) 2. Indikasi Prosedur ini sudah dilakukan selama 200 tahun dengan indikasi : Keracunan obat oral kurang dari 1 jam Overdosis obat/narkotik Terjadi perdarahan lama (hematemesis Melena) pada saluran pencernaan atas. Mengambil contoh asam lambung untuk dianalisis lebih lanjut. Dekompresi lambung Sebelum operasi perut atau biasanya sebelum dilakukan endoskopi Tindakan ini dapat dilakukan dengan tujuan hanya untuk mengambil contoh racun dari dalam tubuh, sampai dengan menguras isi lambung sampai bersih. Untuk mengetes benar tidaknya tube dimasukkan ke lambung, harus didengarkan dengan menginjeksekan udara dan kemudian mendengarkannya. Hal ini untuk memastikan bahwa tube tidak masuk ke paru-paru. 3. Cairan yang digunakan

1. 2. 3. 4. 5. 6.

15

Pada anak-anak, jika menggunakan air biasa untuk membilas lambung akan berpotensi hiponatremi karena merangsang muntah. Pada umumnya digunakan air hangat (tap water) atau cairan isotonis seperti Nacl 0,9 %. Pada orang dewasa menggunakan 100-300 cc sekali memasukkan, sedangkan pada anak-anak 10 cc/kg dalam sekali memasukkan ke lambung pasien. 4. Persiapan pelaksanaan Pada keadaan darurat, misalnya pada pasien yang keracunan, tidak ada persiapan khusus yang dilakukan oleh perawat dalam melaksanakan bilas lambung, akan tetapi pada waktu tindakan dilakukan untuk mengambil specimen lambung sebagai persiapan operasi, biasanya dokter akan menyarankan akan pasien puasa terlebih dahulu atau berhenti dalam meminum obat sementara. 5. Prosedur Tindakan Sebuah pipa dimasukkan kedalam lambung melalui mulut atau hidung lalu ke esophagus. Dan berakhir di lambung. Kadang-kadang obat anti nyeri/anastesi harus diberikan untuk mengurangi rasa sakit dan iritasi pada pasien. Dan mencegah pasien untuk memuntahkan kembali tube/pipa yang sedang di masukkan. Peralatan suction di siapkan apabila terjadi aspirasi isi perut. Bilas lambung terus diulangi pada pasien yang keracunan sampai perutnya bersih. Pada pasien yang tidak sadar dan tidak dapat menjaga jalan nafas mereka, sebelum dilakukan bilas lambung/ menginseresikan tube untuk bilas lambung, terlebih dahulu pada pasien dipasang intubasi.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

6. Kontra Indikasi Pada pasien yang mengalami cedera/injuri pada system pencernaan bagian atas, menelan racun yang bersifat keras/korosif pada kulit, daln mengalami cedera pada jalan nafasnya, serta mengalami perforasi pada saluran cerna bagian atas. komplikasi Aspirasi Bradikardi Hiponatremia Epistaksis Spasme laring Hipoksia dan hiperkapnia Injuri mekanik pada leher, eksofagus dan saluran percernaan atas Ketidakseimbangan antara cairan dan elektrolit Pasien yang berontak memperbesar resiko komplikasi

16

SERUM ANTI BISA ULAR Deskripsi - Nama & Struktur Kimia : Serum anti bisa ular polivalen (kuda) - Sifat Fisikokimia : - Keterangan : Serum polivalen yang berasal dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap bisa ular yang memiliki efek neurotoksik (ular jenis Naja sputatrix - ular kobra, Bungarus fasciatus - ular belang) dan hemotoksik (ular Ankystrodon rhodostoma - ular tanah). Golongan/Kelas Terapi Obat Yang mempengaruhi Sistem Imun Nama Dagang Indikasi Untuk pengobatan terhadap gigitan ular berbisa Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Pemilihan anti bisa ular tergantung dari spesies ular yang menggigit. Dosis yang tepat sulit untuk ditentukan karena tergantung dari jumlah bisa ular yang masuk peredaran darah korban dan keadaan korban sewaktu menerima anti serum. Dosis pertama sebanyak 2 vial @ 5 ml sebagai larutan 2% dalam garam faali dapat diberikan sebagai infus dengan kecepatan 40 - 80 tetes per menit, kemudian diulang setiap 6 jam. Apabila diperlukan (misalnya gejala-gejala tidak berkurang atau bertambah) anti serum dapat terus diberikan setiap 24 jam sampai maksimum (80 - 100 ml). Anti serum yang tidak diencerkan dapat diberikan langsung sebagai suntikan intravena dengan sangat perlahan-lahan. Dosis anti serum untuk anak-anak sama atau lebih besar daripada dosis untuk dewasa. Farmakologi Stabilitas Penyimpanan Disimpan pada suhu 2 - 8C dalam lemari es, jangan dalam freezer. Daluarsa = 2 tahun. Kontraindikasi Tidak ada kontraindikasi absolut pada terapi anti bisa ular untuk envenoming sistemik yang nyata; terapi diperlukan dan biasanya digunakan untuk menyelamatkan jiwa. Efek Samping 1. Reaksi anafilaktik; jarang terjadi, tetapi bila ada timbulnya dapat segera atau dalam waktu beberapa jam sesudah suntikan.

17

2. Serum sickness; dapat timbul 7-10 hari setelah suntikan berupa demam, gatal-gatal, eksantema, sesak napas dan gejala alergi lainnya. 3. Demam disertai menggigil yang biasanya timbul setelah pemberian serum secara intravena. 4. Rasa nyeri pada tempat suntikan; yang biasanya timbul pada penyuntikan serum dalam jumlah besar. Reaksi ini biasanya terjadi dalam 24 jam. Interaksi - Dengan Obat Lain : Belum ada interaksi signifikan yang dilaporkan. - Dengan Makanan : Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Tidak ada data mengenai penggunaan anti bisa ular pada kehamilan. Keuntungan penggunaan terhadap ibu dan bayi melebihi kemungkian risiko penggunaan serum anti bisa ular. - Terhadap Ibu Menyusui : Tidak ada data. Keuntungan pengunaan terhadap ibu melebihi kemungkinan risiko pada bayi. - Terhadap Anak-anak : Anak-anak mempunyai risiko yang lebih besar terhadap envenoming yang parah karena massa tubuh yang lebih kecil dan kemungkinan aktivitas fisik yang lebih besar. Anak-anak membutuhkan dosis yang sama dengan dewasa, dan tidak boleh diberikan dosis anak berdasarkan berat badan (pediatric weight-adjusted dose);disebabkan hal ini dapat menimbulkan perkiraan dosis yang lebih rendah. Jumlah serum anti bisa ular yang diperlukan tergantung dari jumlah bisa ular yang perlu dinetralisasi bukan berat badan pasien - Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring Monitor efek dari serum anti bisa ular baik secara klinis maupun laboratorium. Monitor efek samping setelah administrasi serum anti bisa ular. Monitoring yang diperlukan dapat berbeda tergantung dari jenis ular yang menggigit. Bila ragu-ragu mengenai jenis ular yang menggigit, monitor coagulopathy, flaccid paralysis, myolysis dan fungsi ginjal. Bentuk Sediaan Vial 5 ml, Tiap ml Sediaan Dapat Menetralisasi : 10-15 LD50 Bisa Ular Tanah (Ankystrodon Rhodostoma) 25-50 LD50 Bisa Ular Belang (Bungarus Fasciatus) 25-50 LD50 Bisa ular kobra (Naja Sputatrix), dan mengandung fenol 0.25% v/v

18

Peringatan Karena tidak ada netralisasi-silang (cross-neutralization) serum antibisa ular ini tidak berkhasiat terhadap gigitan ular yang terdapat di Indonesia bagian Timur (misalnya jenisjenis Acanthopis antarticus, Xyuranus scuttelatus, Pseudechis papuanus dll) dan terhadap gigitan ular laut (Enhydrina cysta). Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Informasikan pada pasien mengenai kemungkinan efek samping yang tertunda, terutama serum sickness (demam, rash, arthralgias).Tindakan pertama pada gigitan ular: 1. Luka dicuci dengan air bersih atau dengan larutan kalium permanganat untuk menghilangkan atau menetralisir bisa ular yang belum terabsorpsi. 2. Insisi atau eksisi luka tidak dianjurkan, kecuali apabila gigitan ular baru terjadi beberapa menit sebelumnya. Insisi luka yang dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa atau dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman justru seing merusak jaringan dibawah kulit dan akan meninggalkan luka parut yang cukup besar. 3. Anggota badan yang digigit secepatnya diikat untuk menghambat penyebaran racun. 4. Lakukan kemudian imobilisasi anggota badan yang digigit dengan cara memasang bidai karena gerakan otot dapat mempercepat penyebaran racun. 5. Bila mungkin anggota badan yang digigit didinginkan dengan es batu. 6. Penderita dilarang untuk bergerak dan apabila perlu dapat diberikan analgetika atau sedativa. 7. Penderita secepatnya harus dibawa ke dokter atau rumah sakit yang terdekat untuk menerima perawatan selanjutnya. Mekanisme Aksi Monitoring Penggunaan Obat

TATALAKSANA GIGITAN ULAR DI YANKES DASAR Gigitan ular berbahaya bila ularnya tergolong jenis berbisa. Sebenarnya dari kira-kira ratusan jenis ular yang diketahui, hanya sedikit sekali yang berbisa, dan dari golongan ini hanya beberapa yang berbahaya bagi manusia. PENYEBAB: Ular berbisa yang terkenal adalah: ular tanah, bandotan puspa, ular hijau,ular laut, ular kobra, ular welang. Tanda umum ular berbisa adalah kepalanya berbentuk segitiga. Tanda lain adalah dari penampakan langsung misalnya cora kulitnya. Dari bekas gigitan dapat dilihat dua lubang yang jelas akibat dua gigi taring rahang atas bila ularnya berbisa, dan deretan bekas gigi kecil-kecil berbentuk U bila ularnya tidak berbisa. Bila ragu-ragu mengenai jenis ularnya, sebaiknya penderita diamati selama 48 jam karena kadang efek keracunan bisa timbul lambat.

19

GAMBARAN KLINIS PENDERITA GIGITAN ULAR BERBISA: 1. TANDA UMUM: Penderita tampak kebiruan, pingsan, lumpuh, sesak nafas. 2. EFEK YANG DITIMBULKAN: A. Efek Lokal: Nyeri hebat yang tidak sebanding dengan besar luka, bengkak, eritema, petekie, ekimosis, bula, memar sampai tanda nekrosis jaringan. B. Efek Sistemik: Rasa kesemutan, lemas, salvias, nyeri kepala, mual dan muntah, nyeri perut, diare sampai pasien mengalami syok hipovolemik sekunder yang diakibatkan oleh berpindahnya cairan vaskuler ke jaringan akibat efek sistemik bisa ular tersebut. Gejala yang ditemukan seperti ini sebagai tanda bahaya bagi petugas kesehatan untuk member pertolongan segera. C. Efek sistemk spesifik: Koagulopati: keluarnya darah terus menerus dari tempat gigitan, venipuncture dari gusi dan bila berkembang akan menimbulkan hematuria, hematemesis, melena dan batuk darah. Dapat terjadi perdarahan di peritoneum atau pericardium, udem paru dan syok berat karena efek racun langsung pada otot jantung. Neurotoksik: ptosis, oftalmoplegia progresif, lumpuh layuh anggota tubuh, paralisis pada pernafasan dan parasisis seluruh tubuh (+ 12 jam paska gigitan). Miotoksisitas hanya ditemukan bila digigit ular laut. Tindakan menolong penderita yang digigit ular berbisa: 1. Luka dicuci dengan air bersih atau dengan larutan kalium permanganat untuk menghilangkan atau menetralisir bisa ular yang belum terabsorpsi. 2. Jika gigitan terjadi dalam waktu kurang dari setengah jam, buat sayatan silang di tempat masuknya gigi taring ular sepanjang dan sedalam 0,5 cm, kemudian lakukan pengisapan mekanis. Bila tidak tersedia breast pump semprit, darah dapat diisap dengan mulut asal mukosa mulut utuh tak ada luka. Bisa yang tertelan akan dinetralkan oleh cairan pencernaan. 3. Usaha menghambat penyerapan dapat dilakukan dengan memasang turniket beberapa sentimeter di atas gigitan/pembengkakan yang telah terlihat, dengan tekanan yang cukup untuk menghambat aliran vena dan aliran limfe tetapi lebih rendah dari pada tekanan arteri (denyut nadi distal tetap teraba). Ikatan dikendorkan tiap 15 menit selama 1 menit. Tekanan dipertahankan dua jam. Penderita diistirahatkan supaya aliran darah terpacu. 4. Dalam 12 jam pertama anggota badan yang digigit didinginkan dengan es batu. 5. Letakkan daerah gigitan lebih rendah dari tubuh. Berdasarkan penelitian bias ular menjalar lewat aliran getah bening, penderita dilarang bergerak sehingga perlu imobilisasi anggota badan yang digigit dengan cara memasang bidai karena gerakan otot dapat mempercepat penyebaran racun. 6. Uji pembekuan darah cara Markwalder (lihat bawah). 7. Tes sensitivitas cara Besredka: 0,2 ml serum enceran dalam NaCl 0,9% (1:10) secara subkutan. Tunggu 30 menit. Bila timbul reaksi serum jangan diberikan. Bila tidak ada reaksi, suntikan 0,2 ml serum enceran dalam NaCl 0,9% (1:10) dan tunggu 30 menit. Kemudian sisa serum disuntikkan secara intramuskulersecara perlahan-lahan dan amati lagi paling sedikit 30 menit. Cara Besredka merupakan desensitisasi yang bertahan 2-3 minggu. 8. Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian ABU: Pemilihan anti bisa ular tergantung dari spesies ular yang menggigit. Dosis yang tepat sulit untuk ditentukan karena tergantung dari jumlah bisa ular yang masuk peredaran darah korban dan keadaan korban sewaktu menerima anti serum. Dosis pertama sebanyak 2 vial @ 5 ml sebagai larutan

20

2% dalam garam faali dapat diberikan sebagai infus dengan kecepatan 40 - 80 tetes per menit, kemudian diulang setiap 6 jam. Apabila diperlukan (misalnya gejala-gejala tidak berkurang atau bertambah) anti serum dapat terus diberikan setiap 24 jam sampai maksimum (80 - 100 ml). Anti serum yang tidak diencerkan dapat diberikan langsung sebagai suntikan intravena dengan sangat perlahan-lahan. Dosis anti serum untuk anak-anak sama atau lebih besar daripada dosis untuk dewasa. Cara lain: penyuntikan serum Anti Bisa Ular (ABU) polivalen sebanyak 2,5 ml intramuskuler atau intravena dan 2,5 ml suntikan infiltrasi sekitar luka. ABU disimpan pada suhu 2 - 8C dalam lemari es, jangan dalam freezer. Masa daluarsa = 2 tahun. 9. Efek Samping ABU: a) Reaksi anafilaktik; jarang terjadi, tetapi bila ada timbulnya dapat segera atau dalam waktu beberapa jam sesudah suntikan. b) Serum sickness; dapat timbul 7-10 hari setelah suntikan berupa demam, gatal-gatal, eksantema, sesak napas dan gejala alergi lainnya. c) Demam disertai menggigil yang biasanya timbul setelah pemberian serum secara intravena. d) Rasa nyeri pada tempat suntikan; yang biasanya timbul pada penyuntikan serum dalam jumlah besar. Reaksi ini biasanya terjadi dalam 24 jam. 10. Pengaruh Anti Bisa Ular: o Terhadap Kehamilan : Tidak ada data mengenai penggunaan anti bisa ular pada kehamilan. Keuntungan penggunaan terhadap ibu dan bayi melebihi kemungkian risiko penggunaan serum anti bisa ular. o Terhadap Ibu Menyusui : Tidak ada data. Keuntungan pengunaan terhadap ibu melebihi kemungkinan risiko pada bayi. o Terhadap Anak-anak : Anak-anak mempunyai risiko yang lebih besar terhadap envenoming yang parah karena massa tubuh yang lebih kecil dan kemungkinan aktivitas fisik yang lebih besar. Anak-anak membutuhkan dosis yang sama dengan dewasa, dan tidak boleh diberikan dosis anak berdasarkan berat badan (pediatric weight-adjusted dose);disebabkan hal ini dapat menimbulkan perkiraan dosis yang lebih rendah. Jumlah serum anti bisa ular yang diperlukan tergantung dari jumlah bisa ular yang perlu dinetralisasi bukan berat badan pasien 11. Pengobatan penunjang berupa: infus NaCl 0,9% 12. Antibiotik profilkasis Ciprofloxacin 2 x 500 mg 13. Pemberian Anti Tetanus Serum (ATS) 1500 U atau immunoglobulin 250 U intramuskuler dan Tetanus Toksoid 1 ml. 14. Bila timbul gejala umum seperti syok, lumpuh dan sesak nafas, penderita harus dirujuk ke rumah sakit. 15. Gigitan ular tak berbisa tidak memerlukan pertolongan khusus, kecuali pencegahan infeksi.

HASIL PENELITIAN PENGOBATAN GIGITAN ULAR TAK DIKENAL Oleh Markwalder dicoba suatu cara untuk menyaring penderita yang memerlukan anti-bisa-ular. Setiap penderita gigitan ular diambil 2 ml darah venanya, dimasukkan dalam tabung gelas yang kering. Tes ini dianggap negatif bila darah menggumpal dalam 10 menit. Bila penderita menunjukkan gejala lokal yang hebat atau gejala keracunan sistemik, maka tes diulang 4, 6 dan 12 jam kemudian. Pasien-pasien lain hanya diberi pengobatan simtomatik dan diobservasi. Yang menunjukkan gejala kelainan neurologik atau kelainan pembekuan darah diberi anti-bisa-ular secara IV - 20 ml serum dalam 1 liter cairan garam faali selama 1 - 2 jam. Kalau pembekuan darah belum normal, anti-bisa ini diberikan lagi.

21

Dari 18 penderita yang dipelajari, semua menunjukkan pembengkakan yang nyeri pada tempat gigitan. Enam belas penderita dirawat; tak ada yang menunjukkan gejala neurologik dan hanya pada 4 penderita pembekuan darah abnormal. Dengan pemberian anti-bisa-ular dengan cara di atas, ke empat penderita ini sembuh. Penderita-penderita lain dipulangkan tanpa suatu komplikasi apapun.