Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI PLASENTA PREVIA

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI PLASENTA PREVIA Disusun oleh: Nurul Muzammila P27824110089 Non reguler/Semester IV KEMENTERIAN KESEHATAN

Disusun oleh:

Nurul Muzammila

P27824110089

Non reguler/Semester IV

KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLTEKKES KEMENKES SURABAYA JURUSAN KEBIDANAN

PRODI KEBIDANAN KAMPUS SUTOMO SURABAYA

2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Plasenta Previa”. Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah ASKEB

IV. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :

  • 1. Susilorini SKM,MPd selaku dosen mata kuliah ASKEB IV

  • 2. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat

disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam pembuatan makalah ini.

Surabaya, 28 Maret 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Cover

Kata Pengantar ................................................................................................... Daftar Isi ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang ..........................................................................

1.2

Tujuan

......................................................................................

1.2.1

Tujuan Umum

..............................................................

1.2.2

Tujuan Khusus

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

..............................................................

2.1

2.2

Pengertian

Klasifikasi

.....................................................................................

.....................................................................................

2.3

Penyebab

.....................................................................................

  • 2.4 Tanda dan Gejala .........................................................................

  • 2.5 Patofisiologi .....................................................................................

i

ii

1

1

1

1

2

2

3

3

4

  • 2.6 Komplikasi .....................................................................................

  • 2.7 Pencegahan .....................................................................................

  • 2.8 Penanganan .....................................................................................

BAB 3 KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN

  • 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

Implantasi plasenta normalnya terletak di bagian fundus (bagian puncak atau atas rahim). Bisa agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi menutupi jalan lahir. Patahan jalan lahir ini adalah ostium uteri internum, sedangkan dari luar dari arah vagina disebut ostium uteri eksternum. Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Plasenta previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan antepartum pada trimester ketiga. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Secara sederhana, rahim berbentuk segitiga terbalik, atau bisa juga dibayangkan seperti daun waru (clover) terbalik dengan tangkai di bawah. Bagian "tangkai" ini berbentuk seperti tabung atau corong (dikenal sebagai leher rahim) dengan ujung terbuka (dikenal sebagai mulut rahim). Normalnya plasenta terletak di bagian fundus (bagian puncak/atas rahim), bisa agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi menutupi jalan lahir. Patokan jalan lahir ini adalah ostium uteri internum (disingkat OUI, yaitu mulut rahim bila dilihat dari bagian dalam rahim). Kalau dilihat dari luar - dari arah vagina - disebut ostium uteri eksterum. Plasenta atau ari-ari terdiri dari vili-vili dan kotiledon yang berfungsi untuk jalan makanan dan oksigen bagi janin. Makanan akan

diantar melalui peredaran darah yang sebelumnya disaring terlebih dahulu melalui plasenta. Plasenta juga menyaring racun maupun obat-obatan yang membahayakan janin. Pada usia kehamilan awal, lokasi plasenta berada pada bagian bawah rahim, dekat dengan jalan lahir, tetapi seiring dengan perkembangan janin dan pembesaran rahim maka plasenta bergeser ke atas sehingga menempati lokasi pada korpus atau

fundus (bagian atas) rahim pada triwulan ketiga. Pada plasenta previa, plasenta berada

pada lokasi yang tidak seharusnya yaitu di segmen rahim bagian bawah atau dekat dengan jalan lahir meskipun perkembangan janin sudah memasuki triwulan ketiga. Plasenta previa terjadi pada 1 dari 200 kehamilan dan merupakan penyebab kematian tertinggi janin akibat kelahiran preterm (sebelum waktunya). Selain itu kejadian anomali kongenital (kelainan bawaan di dalam rahim) meningkat sebanyak 2,5 kali lebih tinggi pada plasenta previa.

1.2

Tujuan

  • 1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa mengetahui lebih mendalam hal-hal yang mengenai plasenta previa

  • 1.2.2 Tujuan Khusus

    • 1.2.2.1 Mahasiswa mengerti dan memahami pengertian plasenta previa

    • 1.2.2.2 Mahasiswa mengerti dan memahami klasifikasi plasenta previa

    • 1.2.2.3 Mahasiswa mengerti dan memahami penyebab plasenta previa

    • 1.2.2.4 Mahasiswa mengerti dan memahami tanda dan gejala plasenta previa

    • 1.2.2.5 Mahasiswa mengerti dan memahami patofisiologi plasenta previa

    • 1.2.2.6 Mahasiswa mengerti dan memahami komplikasi pada plasenta previa

    • 1.2.2.7 Mahasiswa mengerti dan memahami pencegahan terjadinya plasenta previa

    • 1.2.2.8 Mahasiswa mengerti dan memahami penanganan pada plasenta previa

    • 1.2.2.9 Mahasiswa mengerti dan memahami konsep dasar asuhan pada pasien dengan plasenta previa

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian

Plasenta Previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum.

(Sarwono,2009)

Plasenta Previa adalah tertanamnya bagian plasenta dalam segmen bawah uterus. (Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi,1994) Plasenta previa ialah plasenta yang ada di depan jalan lahir (prae = di depan;vias = jalan). Jadi yang dimaksud ialah plasenta yang implantasinya tidak

normal ialah rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum. (Obstetri Patologi,1984) Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.(Catatan Kuliah OBSGIN,2010)

2.2

Klasifikasi

Plasenta Previa dapat diklasifikasikan menjadi 4,yaitu:

  • 1. Plasenta Previa Totalis atau komplit : plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum.

  • 2. Plasenta Previa lateralis : plasenta menutupi sebagian dari ostium uteri internum.

  • 3. Plasenta Previa Marginalis : tepi plasenta berada tepat pada tepi ostium uteri internum.

  • 4. Plasenta letak rendah : plasenta berada 3-4 cm pada tepi ostium uteri internum.

2.3 Penyebab Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan
  • 2.3 Penyebab Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin. Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai,mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Grande multipara,primigravida tua,kelainan janin,leioma uteri,cacat rahim misalnya bekas bedah sesar,kerokan,miomektomi,dsb berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor resiko terjadinya plasenta previa. Cacat bekas bedah sesar berperan menaikkan insiden 2-3 kali. Pada perempuan perokok dijumpai insidensi plasenta previa lebih tinggi 2 kali lipat. Hipoksemia akibat karbonmonoksida hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi. Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan ganda dan eritroblastosis fetalis bisa menyebaban pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. (Sarwono,2009)

  • 2.4 Tanda dan Gejala Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus keluar melalui vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan biasanya baru terjadi pada akhir trimester dua keatas. Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti sendiri. Perdarahan kembali terjadi tanpa suatu sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian,jadi berulang. Pada setiap pengulangan terjadi perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti mengalir. Pada plasenta letak rendah perdarahan baru terjadi pada waktu mulai persalinan;perdarahan bisa sedikit sampai banyak mirip pada

solusio plasenta. Perdarahan diperhebat berhubung segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi sekuat segmen atas rahim. Dengan demikian,perdarahan bisa berlangsung sampai pasca persalinan. Perdarahan bisa juga bertambah disebabkan serviks dan segmen bawah rahim pada plasenta previa lebih rapuh dan mudah mengalami robekan. Robekan lebih mudah terjadi pada upaya pengeluaran plasenta dengan tangan misalnya pada retensio plasenta sebagai komplikasi plasenta akreta. Berhubung plasenta terletak pada bagian bawah,maka pada palpasi abdomen sering ditemui bagian terbawah janin masih tinggi di atas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. Palpasi abdomen tidak membuat ibu hamil merasa nyeri dan perut tidak tegang. (Sarwono,2009) Gejala Utama :

Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri. Gejala Klinik :

2.5 Patofisiologi

Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu saat segmae bawah uteri telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis.

Umumnya terjadi pada trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks menyebabkan sinus robek karena lepasnya plasenta adari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti plasenta letak normal.

2.6 Komplikasi

Menurut Prof.Dr.Sarwono Prawirohardjo.SpOG,1997, komplikasi plasenta previa antara lain :

  • 2.8 Pencegahan

Tidak ada cara untuk mencegah plasenta previa karena penyebab pasti dari plasenta

previa belum ditemukan. Yang harus dilakukan adalah mencoba menghindari faktor risiko seperti merokok.

  • 2.9 Penanganan

Menurut Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo.SpOG. 1997. Jakarta.

Cara Persalinan

1.

Persalinan Pervaginam

  • - Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada placenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

  • - Amniotomi dan akselerasi Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis dengan pembukaan > 3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, placent akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah akselerasi dengan infus oksitosin.

  • - Versi Braxton Hicks Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade placenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup.

  • - Traksi dengan Cunam Willet Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian diberi beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan placentadan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.

walaupun janin meninggal atau tak punya harapan hidup tindakan ini tetap dilakukan.

  • - Tujuan SC antara lain :

    • a. Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan

    • b. Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada cervik uteri, jika janin dilahirkan pervaginam

      • - Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi sehingga cervik uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah robek. Selain itu, bekas tempat implantasi placenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi dan susunan serabut otot dengan korpus uteri.

      • - Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu

      • - Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan perdarahan, infeksi, dan keseimbangan cairan dan elektrolit.

BAB 3 KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN

3.1 Pengkajian Pada pengkajian data yang perlu di kaji adalah tanggal, jam, tempat pengkajian.

  • 1. Data Subyektif

    • a. Biodata Pada biodata yang perlu dikaji adalah nama ibu, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, nama suami, umur, agama, pendidikan, pekerjaan dan alamat

    • b. Keluhan Utama Ibu mengatakan masih mengeluarkan darah dari kemaluannya dengan jumlah banyak atau sedikit dan terasa nyeri atau tidak

    • c. Riwayat Haid HPHT penting dikaji untuk menentukan tanggal tafsiran persalinan.

    • d. Riwayat Kesehatan Untuk mengetahui ada atau tidak penyakit yang bisa mempengaruhikehamilan, seperti tekanan darah tinggi, kencing manis, jantung, TBC, dll.

    • e. Riwayat Kesehatan Keluarga Untuk mengetahui ada atau tidak yang mederita penyakit menurun, menahun dan menular serta adakah keturunan kembar.

    • f. Riwayat Kehamilan Sekarang Untuk mengetahui frekuensi kunjungan ANC, keluhan, dan obat yang didapat pada saat atau selama hamil.

    • g. Pola Kebiasaan Sehari-hari

1)

Pola Nutrisi Ibu hamil makan 2 kali lebih banyak dari biasanya dan diantara dua

2)

waktumakan ibu makan makanan ringan. Pola Eliminasi

3)

Semakin besar usia kehamilan maka frekuensi BAK makin meningkat Pola Istirahat Ibu hamil harus meluangkan waktu untuk istirahat lebih banyak daripadasebelum hamil.

4)

Pola Aktivitas

Aktifitas

ibu

hamil

harus

dikurangi

pada

saat trimester pertama

karena pada waktu itu rawan terhadap terjadinya abortus. Sedangkan

5)

padatrimester II dan III sudah boleh banyak aktivitas tetapi pada waktu tersebut biasanya ibu akan merasa sering lelah terutama pada trimester III Pola Kebersihan

Yang

paling

penting

bagi

ibu

hamil

adalah menjaga

kebersihangenetaliannya dengan cara : cebok dari arah depan ke belakang, gunakanhanduk kering setelah cebok ganti celana dalam setiap kali terasa basah.

  • 2. Data Obyektif

    • a. Pemeriksaan Umum Keadaan Umum Kesadaran Tanda-tanda vital

: baik : Composmentis

:

Tekanan darah : Normal (110/70 120/80 mmHg)

Nadi

: Normal (70 90 x/menit)

Pernafasan

: Normal (16-24 x/menit)

Suhu tubuh

: Normal (36 37 o C)

  • b. Pemeriksaan Fisik

1)

Inspeksi Muka : Tidak pucat atau tidak terdapat cloasma garvidarum atau tidak

Mata

: Simetris, sclera tidak / icterus, konjungtiva tidak / pucat

2)

Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid dan bendungan vena jugularis Payudara : Simetris, putting susu menonjol, bersih, terdapat hiperpigmentasi pada papilla dan areola mammae, terdapat hipervaskularisasi Perut : Pembesaran perut sesuai usia kehamilan, terdapat lineanigra, terdapat strie Ekstremitas: Simetris, tidak oedema, tidak terdapat varises Palpasi Payudara : Colostrum belum keluar, tidak terdapat benjolan abnormal

3)

Perut : Leopold I: TFU sesuai usia kehamilan dan bagianyang berada difundus Leopold II: Menentukan apa yang terdapatdisamping kanan dan kiri perut ibu Leopold III:Menentukan bagian terendah janin danapakah sudah masuk PAP atau belum Leopold IV: Seberapa jauh bagian terendah masuk PAP Ekstremitas: Tidak ada odema pada tangan dan kaki Auskultasi

Dada

: Tidak terdengar / terdengar bunyi wheezing dan ronkhi

Perut

: Djj (+) normalnya 120 160 x / menit

4)

Perkusi Reflek patella (+) / (-)

  • 3.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah

Dx

: G…. P …. UK … Minggu tunggal hidup intrauterin dengan plasenta previa

-

DS

:

DO : -

  • 3.3 Antisipasi Masalah Syok

  • 3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera

  • 3.5 Intervensi Dx:G…. P…. UK … Minggu tunggal hidup intrauterine dengan palsenta previa. Tujuan: Ibu dan bayi dalam keadaan sehat sampai akhir kehamilan dan tidak terjadi komplikasi Kriteria hasil :-Keadaan umum : baik -Nadi : 70 90 x / menit -Suhu: 36 37oC -Pernafasan : 16 24 x / menit

-Kontraksi: tidak ada -DJJ: 120 160 x / menit

 

Intervensi :

1)

Lakukan pendekatan pada ibu dan keluarga R/ Ibu dan keluarga kooperatif dalam tindakan

2)

Jelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan

3)

R/ ibu mengerti dan tahu tentang kondisinya Observasi TTV, perdarahan, DJJ, kontraksi

4)

R/ deteksi adanya kelainan,memantau keadaan janin, dan antisipasi perdarahan Lakukan vulva hygine

5)

R/ Menghilangkan media pertumbuhan bakteri dan meningkatkan hygine Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberianterapi

6)

R/ Menjalankan peran kolaborasi dalam pemberian terapi Bantu klien untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi

7)

R/ Mempercepat proses penyembuhan KIE istirahat dan bedrest total R/ Otot menjadi relax sehingga menggurangi kontraksi

  • 3.6 Implementasi Sesuai dengan intervensi

  • 3.7 Evaluasi Sesuai dengan kriteria hasil.

4.1

Kesimpulan

BAB 4

PENUTUP

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Angka kejadian plasenta previa adalah 0,4 0,6% dari keseluruhan persalinan. Dengan penatalaksanaan dan perawatan yang baik, mortalitas perinatal adalah 50 per 1000 kelahiran hidup. Untuk itu, pada kehamilan usia > 35 tahun, hamil usia dini dan pada wanita dengan kecacatan endomentrium akibat persalinan berulang atau currettage harus lebih waspada terhadap terjadinya plasenta previa.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran UNPAD.1984.Obstetri Patologi.Bandung:Elstar Offset

  • 3. M.D,Ben-zion Taber.1994.Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi.Jakarta:EGC

  • 4. Mochtar,R.1998.Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2.Jakarta:EGC

  • 5. Sarwono,P.1997.Ilmu Kebidanan Edisi 3.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

  • 6. Sarwono,P.2009.Ilmu Kebidanan Edisi 3.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

  • 7. Nugroho S., M,. 2010. Catatan Kuliah Ginekologi dan Obstetri (Obsgin).Yogyakarta : Nuha Medika