Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Salah satu ciri organisme adalah tumbuh dan berkembang. Kedua aktivitas kehidupan ini tidak dapat dipisahkan karena prosesnya berjalan bersamaan. Pertumbuhan diartikan sebagai suatu proses bertambahnya volume makhluk hidup yang disebabkan bertambahnya substansi dasar penyusun makhluk hidup yang bersifat irreversibel. Irreversibel maksudnya tidak dapat kembali pada keadaan awal. Sedangkan perkembangan adalah proses menuju kedewasaan yaitu mulai berfungsinya suatu alat tubuh. Pertumbuhan bersifat kualitatif. Pertumbuhan pada tanaman terbagi dalam beberapa tahapan, yaitu perkecambahan yang diikuti dengan pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Perkecambahan merupakan proses munculnya tanaman kecil dari dalam biji. Dalam perkecambahan memerlukan media dan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah suhu. Karena suhu berpengaruh terhadap fisiologi tumbuhan, antara lain memengaruhi kerja enzim. Untuk itu perlu diketahui apa pengaruh suhu terhadap perkecambahan. Jika kita amati para petani, sebelum menanam kacang hijau mereka pasti merendam bijinya terlebih dahulu. Namun, antar petani yang satu dengan yang lain tentunya pasti ada perbedaannya. Ada yang perkecambahan cepat, dan ada pula yang perkecambahannya lambat. B. Rumusan masalah Bagaimanakah pengaruh suhu perendaman terhadap perkecambahan C. Tujuan Untuk mengetahui pengaruh suhu perendaman biji kacang hijau terhadap perkecambahan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kacang hijau adalah tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak

manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. Dalam dunia tumbuhan tanaman ini diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Kingdom 2. Divisi 3. Sub-divisi 4. Kelas 5. Ordo 6. Family 7. Genus 8. Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Angiospermae : Magnoliopsida : Fabales : Fabaceae : Vigna : V. radiata / Phaeolus aureus

Nama binomial dari tanaman ini yaitu Vigna radiate atau juga dikenal dengan nama Phaeolus aureus. Tanaman ini memiliki kulit yang hijau, berbiji putih, dan sering dibuat kecambah atau toge. Selain itu, kacang hijau juga memiliki bunga kacang hijau yang berbentuk kupu-kupu dan berwarna kuning kehijauan atau kuning pucat. Bunga tersebut akan membentuk polongan yang berisi 10-15 biji kacang hijau. Polong kacang hijau berbentuk silindris dengan panjang
2

antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam/cokelat. Kacang hijau juga merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek. Tanaman kacang hijau berbentuk tegak dengan ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung variatasnya. Cabangnya menyamping pada bagian utara, berbentuk bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau dan ada yang ungu. Daunnya terdiri dari 3 helai dan letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hijau tua. Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau direbus hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau dimakan langsung. Biji matang yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau, atau gandas turi. Kecambah kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal sebagai tauge. Kacang hijau bila direbus cukup lama akan pecah dan pati yang terkandung dalam bijinya akan keluar dan mengental, menjadi semacam bubur. Tepung biji kacang hijau, disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan dalam pembuatan kue-kue dan cenderung membentuk gel. Tepung ini juga dapat diolah menjadi mie yang dikenal sebagai soun.

BAB III RANCANGAN DATA

A. Data Tabel hasil pengamatan perkecambahan biji kacang hijau

Media I II III

Hari Pertama Jumlah Biji yang berkecambah 2 biji 26 biji 14 biji

Hari Kedua Jumlah Biji yang berkecambah 24 biji 45 biji 41 biji

B. Analisis Data Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa jumlah biji yang paling banyak berkecambah adalah pada media II yaitu biji yang direndam dengan menggunakan air bersuhu ruangan. Namun, secara teoritis seharusnya yang lebih cepat perkecambahannya adalah biji yang direndam dengan air bersuhu diatas suhu ruangan (air yang mendidih). Karena dengan suhu yang lebih tinggi (suhu diatas suhu ruangan) akan mengakibatkan semakin cepat dan banyaknya kulit dari biji kacang hijau tersebut yang terkelupas atau pecah. Sehingga membuat perkecambahan pada media III akan semakin banyak jumlahnya. Jadi, dari hasil penelitian membuktikan bahwa hipotesis yang pertama yaitu biji kacang hijau yang direndam menggunakan air yang suhunya dibawah suhu ruangan perkecambahannya akan lebih lambat adalah benar. Yakni pada hari pertama jumlah biji kacang hijau yang mengalami perkecambahan ada 2 biji dan pada pengamatan hari kedua yang berkcambah adalah sebanyak 24 biji dan ada 16 biji yang tidak mengalami perkecambahan. Sedangkan hipotesis yang kedua yaitu biji kacang hijau yang direndam dengan air yang bersuhu diatas suhu
4

ruangan adalah yang lebih cepat perkecambahannya adalah salah. Yaitu dari 50 biji yang ditanam hanya ada 5 biji yang tidak mengalami perkecambahan.

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Setelah melakukan percobaan, dapat disimpulkan bahwa suhu perendaman berpengaruh terhadap perkecambahan biji kacang hijau. Dan presentasi perkecambahan biji kacang hijau yang paling lambat yaitu perendaman yang dilakukan pada air yang bersuhu dibawah suhu ruangan. Dan yang paling cepat perkecambahannya yaitu dengan menggunakan suhu diatas suhu ruangan. Karena dengan air yang lebih panas, akan menyebabkan pecahnya kulit biji dengan cepat dan membuat proses perkecambahan menjadi cepat pula.

DAFTAR PUSTAKA

Pratiwi, D. A. dkk. 2006. Biologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta : Erlangga. Fatmah, S.Pd. 2010. Biologi Dunia Luas yang Mengasyikkan. Subardi, dkk. 2009. Biologi untuk Kelas XII SMA dan MA. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. www.rahmasangpemimpi.blogspot.com diakses pada 20 mei 2012