Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Tegangan adalah gaya tolak menolak anatara dua permukaan, hal ini dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari terlihat pada permukaan zat cair, s e p e r t i terdapat suatu lapisan yang dapat mempertahankan keadaan benda yang terdapat pada lapisan tersebut pada suatu kondisi tertentu. Misalnya jarum yang diletakkan mendatar pada permukaan zat cair. Yang dimaksud dengan tegangan permukaan adalah batas antara zat cair atau zat padat dengan udara. Sedangkan tegangan antarmuka adalah batas antara zat cair dengan zat cair yang tidak saling bercampur contohnya pada minyak dan air. Peristiwa ini merupakan bentuk dari adanya tegangan permukaan zat cair yang berbeda jenisnya akan mempengaruhi tegangan permukaan yang ada pada zat cair. Pada dasarnya tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya suhu dan zat terlarut. Dimana keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi besarnya tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada pada permukaan terutama molekul zat yang berada pada permukaan cairan berbentuk lapisan mononuclear yang disebut Surfaktan. Fasa cair yang berupa sistem dua atau multi komponen, yakni larutan juga sangat penting.Larutan terdiri atas cairan yang melarutkan zat (pelarut) dan zat yang larut di dalamnya (zat terlarut). Pelarut tidak harus cairan, tetapi dapat berupa padatan atau gas asal dapat melarutkan zat lain. Sistem semacam ini disebut sistem dispersi. Untuk sistem dispersi, zat yang berfungsi seperti pelarut disebut medium pendispersi, sementara zat yang berperan seperti zat terlarut disebut dengan zat terdispersi(dispersoid). Baik pada larutan ataupun sistem dispersi, zat terlarut dapat berupa padatan, cairan atau gas.Bahkan bila zat terlarut adalah cairan, tidak ada kesulitan dalam membedakan peran pelarut dan zat terlarut bila kuantitas zat

terlarut lebih kecul dari pelarut.Namun, bila kuantitas zat terlarut dan pelarut, sukar untuk memutuskan manakah pelarut mana zat terlarut. Manfaat fenomena antar muka dalam farmasi, yaitu; Dalam

mempengaruhi penyerapan obat pada bahan pembatu padat dan sediaan obat; penetrasi molekul melalui membran biologis; dan pembentuk kestabilan emulsi dan disperse partikel tidak larut dalam media cari untuk membentuk sediaan suspensi. 1.2 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu : 1. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan suatu permukaan suatu zat cair. 2. Menentukan tegangan permukaan zat cair 3. Menentukan konsentrasi misel kritik suatu surfaktan dengan metode tegangan permukaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori Bila fase-fase berada bersama-sama, batas antara keduanya disebut suatu antarmuka. Sifat dari molekul-molekul yang membentuk antarmuka tersebut sering cukup berbeda dari sifat fase antarmuka.Beberapa jenis antarmuka dapat terjadi, bergantung pada apakah kedua fase yang berdekatan adalah dalam keadaan padat, cair atau gas. Istilah permukaan biasanya atau suatu

dipakai bila membicarakan suatu antarmuka gas atau padat

antarmuka gas/cair. Karena setiap partikel dari zat, apakah itu sel, bakteri, koloid, granul, atau manusia mempunyai suatu antarmuka. Jadi, suatu permukaan meja membentuk suatu antarmuka gas atau padat dengan udara diatasnya, dan permukaan dari suatu tetes hujan membentuk suatu antarmuka gas atau cair (Martin, 1993). Dalam keadaan cair, gaya kohesif antara molekul-molekul yang berdekatan dikembangkan dengan baik. Dalam suatu tetes cairan yang tersuspensi dalam udara, molekul-molekul dalam bulk cairan dikelilingi oleh molekul lain dari segala arah yang mempunyai gaya tarik menarik yang sama. Sebaiknya, molekul padat permukaan (yakni padat antarmuka cair/udara) hanya dapat mengembangkan gaya tarik menarik kohesif dengan molekul cair lain yang terletak dibawah atau disamping mereka. Molekul itu dapat mengembangkan gaya tarik menarik adhesif dengan molekul yang menyusun fase lain yang terlibat dalam antarmuka tersebut, walaupun dalam hal antarmuka cair/gas gaya adhesif tarik menarik adhesive ini kecil (Martin, 1993). Didalam zat cair, suatu molekul dikelilingi oleh molekul-molekul yang lainnya yang sejenis dari segala arah sehingga gaya tarik menarik sesame molekulnya (gaya kohesi),sama besar. Pada permukaan zat cair terjadi

gaya tarik menarik antara molekul cairan dengan molekul udara (adhesi). Gaya adhesi lebih kecil dibandingkan dengan gaya kohesi sehingga molekul dipermukaan zat cair cenderung tertarik kea rah dalam. Namun hal ini tidak terjadi karena adanya gaya yang bekerja sejajar dengan permukaan zat cair yang mengimbangi besarnya gaya kohesi antar molekul didalam zat cair terhadap molekul sejenisnya dipermukaan. Akibatnya, molekul tersebut tetap berada dipermukaan (Anonim:2011). Gaya ini disebut tegangan permukaan, sedangkan tegangan antar permukaan adalah tegangan antar permukaan dua cairan yang tidak bercampur atau antara permukaan zat padat dengan cairan. Tegangan antar permukaan selalu lebih kecil dari pada tergangan permukaan karena gayaadhesi antar dua zat cair yang tidak bercampur selalu lebih besar daripada gaya adhesi antar zat cair dengan udara. Bila dua zat cair dapat bercampur dengan sempurna, maka tegangan antar permukaan tidak ada (Anonim:2011). Tegangan permukaan dinyatakan sebagai gaya per satuan panjang yang diperlukan untuk memperluas permukaan suatu zat. Pengukuran tegangan dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode cincin Du Nuoy dan metode kapiler (Anonim:2011). 1. Metode Cincin Du Nuoy Cara ini dilakukan untuk mengukur tegangan permukaan dan tegangan antar permukaan zat cair. Prinsip kerjanya berdasarkan atas kenyataan bahwa gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin yang tercelup kedalam zat cair sebanding dengan tegangan permukaan atau antar permukaan. Gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin dalam hal ini diberikan oleh kawat torsi dan dinyatakan dalam dyne. (Anonim:4) =skala yang terbaca dalam dyne 2 x keliling cincin = faktor koreksi x

Faktor koreksi diperlukan karena ada variable-variabel tertentu yang tidak dapat diabaikan, yaitu: Jari-jari cincin Jari-jari kawat pembentuk cincin Volume zat cair yang terangkat dari permukaan pada saat cincin ditarik ke atas. Kesalahan + 25-30 % dapat terjadi jika faktor koreksi tidak

diperhitungkan. Untuk menghitung besarnya factor koreksi dapat terjadi jika faktor koreksi dapat digunakan metode yang diberikan oleh HarkinsJordan atau metode Zuldema-Water (Anonim:2011). 2. Metode Kenaikan Kapiler Metode ini hanya dapat digunakan untuk menentukan tegangan permukaan suatu zat cair dan tidak dapat digunakan untuk menentukan tegangan antar permukaan dua zat cair yang tidak bercampur. (Anonim:2011) Komponen gaya keatas akibat tegangan permukaan cairan adalah Fa = cos Keliling penampang dalam pipa kapiler adalah 2r Jika sudut kontak antara permukaan zat dengan dinding kapiler= maka total gaya keatas dibagian dalam adalah Fa=2r cos. Untuk air dan zat cair lain yang dapat membasahi dinding kapiler, sudut kontak kecil maka cos = Gaya kebawah yaitu gaya berat adalah Fb = r2 (p1 p0) h g + w h = tinggi kenaikan zat cair didalam pipa kapiler p1 = bobot jenis cairan p0 = bobot jenis uap g = gaya gravitasi w = berat bagian sebelah atas dari miniskus

Bila zat cair mencapai tinggi maksimum, maka gaya ke atas sama dengan gaya ke bawah (Fa=Fb). (Anonim:6)

Adsorpsi Pada Antarmuka Cairan Energi bebas permukaan didefenisikan sebagai kerja yang harus dilakukan untuk memperbesar permukaan dengan satu satuan luas..Sebagai akibat pengembangan seperti itu, lebih banyak molekul-molekul harus dibawa dari bulk ke antarmuka.Semakin besar kerja yang harus diberikan untuk mencapai ini, semakin besar energy bebas permukaan (Martin : 1993). Molekul-molekul dan ion-ion tertentu apabila terdispersi dalam cairan akan bergerak sesuai dengan keinginannya sendiri ke

antarmuka..Adsorpsi semata-mata hanyalah suatu efek permukaan, sedangkan dalam absorpsi, zat cair dan gas yang diabsorpsi menembus kedalam ruangruang kapiler dari zat pengabsorpsi. Peresapan air oleh busa (sponge) adalah absorbs; memekatkan molekul-molekul alkaloid pada permukaan tanah liat (clay) adalah adsorpsi (Martin:1993).

Zat Aktif Permukaan Molekul dan ion yang diadsorpsi pada antarmuka dinamakan zataktif permukaan , atau surfaktan. Pernyataan lain adalah amfifl, yang mengingatkan bahwa molekul atau ion mempunyai afinitas tertentu baik terhadap pelarut polar maupun nonpolar, amfifil secara dominan (kuat) bias hidrofilik (suka-air), lipofilik (suka-minyak), atau berada tepat diantara kedua ekstrem. (Martin:1993)

Amfifilik merupakan sifat dari zat aktif permukaan

yang

menyebabkan zat ini diadsorbsi pada antarmuka, apakah ini cair/ gasa atau cair/cair. (Martin:1993)

Penggolongan Sistem Hidrofil-Lipofil Griffin merancang suatu skala sebarang dari berbagai angka untuk dipakai sebagai suatu ukuran keseimbangan hidrofilik-lipofilik (HLB) dari zat-zat aktif permukaan.Makin tinggi HLB suatu zat, makin hidrofilik zat tersebut (Martin:1993). Walaupun pengurangan tegangan permukaan menurunkan energy bebas antarmuka yang dihasilkan oleh dispersi, peranan zat pengemulsi sebagai pembatas antarmuka adalah yang paling penting. Ini dapat dilihat dengan jelas bila seorang memperhatikan bahwa banyak polimer dan padatan yang terbagi halus, tidak efisien dalam menurunkan tegangan antarmuka, membentuk pembatas antarmuka yang baik sekali, bertindak untuk

mencegah penggabungan, dan berguna sebagai zat pengemulsi (Lachman, 1994). Pembentukan lapisan-lapisan oleh suatu pengemulsi pada permukaan tetesan air atau minyak telah dipelajari secara terperinci. Pengertian dari suatu lapisan tipis mononuclear yang terarah dari zat pengemulsi tersebut pada pada permukaan fase dalam dari suatu emolsi, adalah dasar yang penting untuk mengerti sebagian besar taori emulsifikasi (Lachman, 1994).

Cukup beralasan untuk mengharapkan molekul amfifilik untuk mengatur dirinya pada suatu antarmuka air-minyak dalam sebagian besar posisi yang paling disukai secara energetic- bagian oleofolik dalam fase minyak dan bagian hidrofilik dalam fase air. Juga sudah ditetapkan dengan baik bahwa zat aktif permukaan cenderung berkumpul pada antarmuka, dan pengemulsi diabsorbsi pada antarmuka minyak-air sebagai lapisan-lapisan mononuclear. Jika konsentrasi zat pengemulsi cukup tinggi, pengemulsi membentuk suatu lapisan yang kaku antara fase-fase yang tidak bercampur tersebut, yang bertindak sebagai suatu penghalang mekanik, baik terhadap adhesi maupun menggabungnya tetesan-tetesan emulsi. Pengukuranpengukuran terhadap luas daerah yang ditempati oleh molekul-molekul tunggal zat aktif permukaan pada antarmuka tetesan-tetesan emulsi yang stabil, molekul-molekul zat aktif permukaan dalam kenyataannya terkemas rapat (berdekatan) dan membentuk suatu lapisan antarmuka yang kuat (Lachman, 1994). Semua cairan mempunyai kecenderungan menerima suatu bentuk yang mempunyai luas permukaan terbuka dalam jumlah yang paling kecil.Untuk suatu tetes cairan, bentuk itu bulat. Dalam tetesan cairan yang bulat ada tenaga (kekuatan) dalam yang cenderung meningkatkan hubungan dari

molekul-molekul zat untuk menahan distorsi dari tetesan menjadi suatu bentuk yang kurang bulat. Jika dua atau lebih dari tetesan cairan yang sama saling bertemu kecenderungan untuk bergabung atau bersatu, membuat satu tetesan yang lebih besar dan mepunyai luas permukaan yang lebih kecil dibandingkan dengan luas permukaan total dari larutan itu sendiri sebelum bergabung (Ansel, 1989). Dalam suatu system yang mengandung dua cairan yang tidak saling bercampur, zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase dan terikat dengan kuat dalam di fase tersebut dibandingkan pada fase lainny (Ansel, 1989).

2.1 Uraian Bahan 1. Air suling (Ditjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : Aqua Destillata : Air suling : H2O/18,02 : cairan jernih, tidak berwarna, tidak tidak berasa. Penyimpanan Kegunaan : dalam wadah tertutup rapat. : sebagai Sampel berbau

2. Minyak jarak (Ditjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain Pemerian : Oleum Ricini : Minyak Jarak : Cairan kental, jernih kubing pucat atau hampir tidak berwarna, aromatik agak pedas. Kelarutan : Larut dalam 3,5 bagian etanol 95% P dan dalam asetat glikosida P Penyimpanan Kegunaan 3. Tween 80 Nama resmi Nama lain Pemerian : Tween 80 : Tween 80 : Larut dalam etanol dan air, tidak larut dalam minyak mineral dan minyak nabati Penyimpanan Kegunaan : dalam wadah tertutup baik : sebagai Surfaktan : dalam wadah tertutup baik : sebagai Sampel

BAB III PROSEDUR KERJA 3.1 Alat dan Bahan a. Alat 1. Botol semprot 2. Cawan persolin 3. Cawan Petri 4. Corong 5. Gelas kimia 500 ml 6. Gelas ukur 50 ml 7. Pipa kapiler 8. Pipet tetes 9. Piknometer 50 ml 10.Mistar 11.Timbangan Analitik b. Bahan 1. Aquadest 2. Minyak jarak 3. Tween 80 dengan konsentrasi 0,2 mg/ 50 ml ; 0,4 mg/50 m, ; 0,6 mg/50 ml ; 0,8 mg/50 ml ; 1,0 mg/50 ml ; 2,0 mg/50 ml ; dan 4,0 mg/50 ml. 4. Tissue 3.2 Langkah Percobaan a. Aquadest 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Diambil aquadest 50 ml dan dimasukkan ke dalam Cawan Petri 3. Diukur tinggi air didalam Cawan Petri 4. Dimasukkan pipa kapiler kedalam larutan tersebut dan diukur tinggi larutan dalam Pipa Kapiler 5. Ditentukan tegangan permukaan Air 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 3 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

b. Minyak Jarak 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Diambil minyak jarak sebanyak 50 ml dan dimasukkan ke dalam Cawan Petri 3. Diukur tinggi air didalam Cawan Petri 4. Dimasukkan pipa kapiler kedalam larutan tersebut dan diukur tinggi larutan dalam Pipa Kapiler 5. Ditentukan tegangan permukaan Minyak jarak c. Tween 80 0,2 mg, 0,4 mg, 0,6 mg, 0,8 mg, 1,0 mg 2,0 mg, dan 4,0 mg 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Ditimbang Tween 80 sebanyak 0,2 mg 3. Ditimbang berat piknometer kosong dicatat beratnya 4. Dimasukkan Tween 80 yang tadi ditambang kedalam piknometer dan dicukupkan volumenya hingga 50 ml kemudian ditimbang beratnya kemudian dihitung Berat jenisnya 5. Larutan yang ada dalam piknometer dimasukkan kedalam Cawan petri dan diukur tinggi larutan 6. Dimasukan pipa kapiler dan diukur ketinggiannya 7. Ditentukan Tegangan permukaan dari Tween 80 0,2 mg 8. Dilakukan hal yang sama untuk Tween 80 0,4 mg, 0,6 mg, 0,8 mg, 1,0 mg, 2,0 mg dan 4,0 mg.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil dan Perhitungan a. Tabel hasil percobaan Nama zat Tinggi cairan (cm) Air Minyak jarak Lar.Tween 0,2mg/50ml Lar.Tween 0,4mg/50ml Lar.Tween 0,6mg/50ml Lar.Tween 0,8mg/50ml Lar.Tween 1,0mg/50ml Lar.Tween 2,0mg/50ml Lar.Tween 4,0mg/50ml 0,5 0,1 0,7 0,9 1,1 0,8 0,8 0,8 1,0 Bobot jenis (g/ml) 1 0,953 0,98127 0,988 0,966 0,969 0,971 0,93 0,97 25,38 26,87 29,97 27,35 23,60 24,33 21,9 21,88 19,3728 (dyne/cm)

b. Perhitungan 1. Diameter PipaKapiler - 1,1mm 1,2 mm = 2,3 mm - 2,3mm 2 Jadi, r = 1,15mm = 0,575 mm 2 Gravitas (g) = 9,81 m/s2 2. TeganganPermukaan () a. air =xrxhxxg = x 0,0575 cm x 0,5 cm x 1 g/ml x 981 cm/s2 = 14,10 dyne/cm b. M.J = x r x h x x g = x 0,0575 cm x 0,1 cm x 0,953 g/ml x 981 cm/s2 = 2,68 dyne/cm c. Tween 0,2 mg = x r x h x x g = x 0,0575 cm x 1,1 cm x 0,981274 g/ml x 981 cm/s2 =29,97dyne/cm d. Tween 0,4 mg = x r x h x x g = x 0,0575 cm x 1 cm x 0,958408 g/ml x 981 cm/s2 = 27,35 dyne/cm e. Tween 0,6 mg = x r x h x x g = x 0,0575 cm x 0,9 cm x 0,966 g/ml x 981 cm/s2 = 23,60 dyne/cm 981 cm/s2 0,0575 cm = 1,15 mm

f. Tween 0,8 mg = x r x h x x g = x 0,0575 cm x 0,9 cm x 0,969 g/ml x 981 cm/s2 = 24,33 dyne/cm g. Tween 1,0 mg = x r x h x x g = x 0,0575 cm x 0,8 cm x 0,971 g/ml x 981 cm/s2 = 21,9 dyne/cm h. Tween 2,0 mg = x r x h x x g = x 0,0575 cm x 0,8 cm x 0,93 g/ml x 981 cm/s2 = 21,88 dyne/cm i. Tween 4,0 mg = x r x h x x g = x 0,0575 cm x 0,7 cm x 0,97 g/ml x 981 cm/s2 = 19,3728 dyne/cm c. Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Surfaktan Dan

TeganganPermukaan 30 tegangan permukaan 25 20 15 10 5 0 0.2 0.4 0.6 0.8 konsentrasi 1 2 4

Keterangan :

= CMC

4.2 Pembahasan Tegangan adalah gaya tarik menarik antar dua permukaan. Yang dimaksud dengan tegangan permukaan adalah batas antara zat cair atau padat dengan udara sedangkan tegangan antarmuka adalah batas antara zat cair dengan zat cair lainnya yang tidak saling bercampur atau zat cair dengan zat padat. Dimana dalam praktikum ini kita akan menentukan tegangan permukaan dari beberapa zat cair yaitu Aquadest, Minyak jarak, Tween 80 0,2 mg, 0,4 mg, 0,6 mg, 0,8 mg, 1,0 mg, 2,0 mg, dan 4,0 mg dengan menggunakan metode Pipa Kapiler. Praktikum ini bertujuan untuk menerangkan factor-faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan suatu zat cair, menentukan tegangan permukaan zat cair, dan menentukan konsentrasi misel kritik suatu surfaktan dengan metode tegangan permukaan. Adapun prinsip percobaan ini pengukuran tegangan permukaan dengan menggunakan metode Kapiler dengan cara tegangan permukaan diukur dengan melihat ketinggian Air, Minyak Jarak dan Tween 80 yang naik melalui suatu kapiler. Metode kenaikan pipa kapiler hanya digunakan untuk mengukur tegangan permukaan tidak bisa digunakan untuk mengukur tegangan antar muka. Untuk mengukur tegangan antar muka dapat digunakan metode Du-Nuoy dimana prinsip dari alat ini adalah gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin platina iridium yang dicelupkan pada permukaan sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan antar muka dari cairan tersebut. Metode Cincin Du-Nuoy selain digunakan untuk mengukur tegangan antar muka metode ini juga dapat digunakan untuk mengukur tegangan permukaan. Tetapi pada percobaan ini metode yang digunakan adalah Metode kenaikan pipa kapiler. Untuk Penentuan Tegangan permukaan pada Aquadest dilakukan langkah-langkah yaitu disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu, diambil Aquadest sebanyak 50 ml kemudian dimasukkan kedalam Cawan Petri dan diukur tinggi air didalam Cawan Petri, setelah itu

dimasukkan pipa Kapiler kedalam Cawan Petri dan diukur tinggi larutan pada Pipa Kapiler tersebut setelah itu dihitung tegangan permukaannya dengan menggunakan rumus perhitungan tegangan permukaan. Yang kedua yaitu Minyak jarak, pada minyak jarak juga perlakuannya sama seperti pada Aquadest. Pada Tween 80 0,2 mg. Mula-mula ditimbang Tween sebanyak 0,2 mg dengan menggunakan Cawan Porselin, kemudian ditimbang piknometer kosong dicatat hasilnya, setelah itu dimasukkan Tween 80 yang telah ditimbang kedalam Piknometer dan dicukupkan volumenya hingga 50 ml setelah itu dihitung Bobot jenis dan Tegangan permukaannya. Pada percobaan ini digunakan Tween 80 karena Tween 80 merupakn Surfaktan yang diseringkan dalam pembuatan sediaan Emulsi. Tween 80 merupakan surfaktan yang mudah larut dalam air (hidrofilik). Tween 80 menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan Hidrogen permukaan. Hal ini dilakukan dengan menaruh kepala-kepala hidrofiliknya pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobiknya terentang menjauhi permukaan air. Adapun hasil yang didapat yaitu tegangan permukaan pada air sebesar 14,1 dyne/cm, minyak jarak yaitu 2,687 dyne/cm, sedangkan pada Tween 80 dengan konsentrasi 0,2 mg, 0,4 mg, 0,6 mg, 0,8 mg, 1,0 mg, 2,0 mg, 4,0 mg dan hasilnya yaitu 29,97 dyne/cm , 27,35 dyne/cm, 23,60 dyne/cm, 24,33 dyne/cm, 21,9 dyne/cm 21,88 dyne/cm dan 19,37 dyne/cm. Molekul zat aktif permukaan (surfaktan) mempunyai gugus polar dan non polar. Bila suatu zat surfaktan di dispersikan pada air dalam konsentrasi rendah, maka molekul-molekul surfaktan akan terabsorbsi pada permukaan membentuk suatu lapisan monomolecular. Bagian gugus polar akan mengarah ke udara, hal ini mengakibatkan menurunnya tegangan permukaan air. Pada konsentrasi yang lebih tinggi molekul-molekul surfaktan ke dalam air membentuk agregat yang dikenal sebagai misel.

Surfaktan

(surface

active

agents)

adalah

zat

yang

dapat

mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Contoh penggunaan Surfaktan pada praktikum ini yaitu Tween 80 0,2 mg, 0,4 mg, 0,6 mg, 0,8 mg, 1,0 mg, 2,0 mg, dan 4,0 mg. Molekul surfaktan yang bersifat amfifil yaitu suatu molekul yang mempunyai dua ujung yang terpisah, yaitu ujung polar (hidrofilik) dan ujung non polar (hidrofobik) . Sifat surfaktan yang amfifil menyebabkan surfaktan diadsorpsi pada antar muka baik itu cair/gas. Adanya surfaktan pada permukaan menyebabkan gaya adhesi antara zat cair dan udara meningkat, sehingga tegangan permukaannya menurun. Tetapi surfaktan menurunkan tegangan permukaan sampai Konsentrasi Misel kritik (KMK). Dengan adanya surfaktan tegangan antar muka dua zat cair yang tidak bercampur akan menurun, akibatnya gaya adhesi antara dua zat cair meningkat dan kelarutannya pun meningkat.KMK adalah konsentrasi dimana terbentuknya Misel. Misel adalah hasil dari pembuatan struktur sendiri dari bahan-bahan aktif pemukaan agar mencapai suatu keadaan

energy minimum. Pada praktikum ini terbentuknya Misel pada konsentrasi Tween 1,0 mg dan 2,0 mg. Terbentuknya CMC karena struktur dengan ujung nonpolar dari beberapa molekul saling berhubungan satu sama lain (ikatan lipofil) dan dengan ujung polar dipaparkan ke air disekitarnya. pada percobaan ini digunakan surfaktan yaitu tween 80 sebagai sampel, karena tween 80 merupakan surfaktan yang amphifil maka gaya adhesi antara molekul air dan udara semakin meningkat sehingga tegangan permukaan menurun. Pada percobaan ini digunakan tween 80 dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 0,2 mg, 0,4 mg, 0,6 mg, 0,8 mg, 1,0 mg, 2,0 mg dan 4,0 mg .Hal ini bertujuan agar kita dapat melihat penurunan atau peningkatan tegangan permukaan tersebut dan membandingkan tegangan permukaan pada konsentrasi yang berbeda. Pada percobaan ini seiring dengan peningkatan konsentrasi tween 80 maka tegangan permukaan menurun, yaitu

29,97 dyne/cm , 27,35 dyne/cm, 23,60 dyne/cm, 24,33 dyne/cm, 21,9 dyne/cm 21,88 dyne/cm dan 19,37 dyne/cm. Dilihat dari hasil diatas terjadinya penurunan tegangan permukaan dimana semakin besar konsentrasi Tween 80 maka semakin kecil tegangan permukaannya. Hal ini karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tegangan permukaan menurun dengan meningkatnya suhu karena meningkatnya energy molekul. Zat terlarut, keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi tegangan permukaan. Penambahan zat terlarut akan meningkatkan viskositas larutan, sehingga tegangan permukaan bertambah besar. Tetapi bila zat yang berada di permukaan cairan membentuk lapisan mononuclear, maka akan menurunkan tegangan permukaan. Zat ini yang dinamakan dengan surfaktan. Dilihat dari perbandingan konsentrasi dan tegangan permukaan menunjukkan adanya hubungan berbanding terbalik anatara konsentrasi tween 80 dan tegangan permukaan. Fenomena tersebut sesuai dengan literature, yaitu semakin tinggi konsentrasi surfaktan, maka semakin kecil tegangan permukaan Adapun faktor-faktor kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil

dari percobaan yang dilakukan yaitu : Pengukuran zat cair pada pipa kapiler yang kurang akurat dan Pengukuran tinggi zatcair pada Cawan Petri yang kurang akurat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.I Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Tegangan permukaan air yang didapat adalah 25,38 dyne/cm dan tegangan permukaan pada minyak jarak yaitu 26,87 dyne/cm. sedangkan pada Tween 80 dengan konsentrasi 0,2 mg, 0,4 mg, 0,6 mg, 0,8 mg, 1 mg, 2mg, 4 mg dan hasilnya yaitu 29,97 dyne/cm , 27,35 dyne/cm, 23,60 dyne/cm, 24,33 dyne/cm, 21,9 dyne/cm 21,88 dyne/cm dan 19,37 dyne/cm. 2. Semakin tinggi konsentrasi Surfaktan maka semakin kecil tegangan permukaan sampai titik konsentrasi Misel kritik (KMK). 3. Terbentuknya CMC pada konsentrasi 1,0 mg dan 2,0 mg V.2 Saran Adapun saran kami adalah sebaiknya pada praktikum Tegangan permukaan ini digunakan juga metode Cincin Du Nuoy agar kita dapat mengetahui semua metode untuk menentukan Tegangan permukaan selain dengan menggunakan metode Pipa Kapiler.

DAFTAR PUSTAKA Anonim,, 2011., Penuntun Praktikum Farmasi Fisika II Universitas Muslim Indonesia, Makassar. Dirjen POM., 1979., Farmakope Indinesia Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Martin, A., 1993., Farmasi Fisik, Universitas Indonesia, Universitas Indonesia, Jakarta. Lachman., L., 1994. Teori dan Praktek Farmasi dan Industri II. UI Press, Jakarta Ansel, H., 1989., Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi UI Press, Jakarta.

LABORATORIUM FARMASEUTIKA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN PERCOBAAN TEGANGAN PERMUKAAN

KELOMPOK 1
NURHIJRAH KASMAWATI SAIDA I. SURADJI ALIFAH NAFTRATILLAH FEBY FEBRIANI B. NIA OCTAVIANA

SYUMRIANI ANTI CAKARIAH RASDIANTY KALIKI RIZKI NURUL YAQIN

PUTRI UTAMI MUIS RESTI APRIANI ZAINI

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2011