Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN ANALISIS FARMASI ANALISIS BAHAN BAKU DAN UJI BATAS LOGAM BERAT DARI ASETAMINOFEN

Kelompok 5

Iin febrianti Rydo Pratama P Silvia Rebecca Devy Novinda Dinar Azzahra

260110090074 260110090075 260110090076 260110090077 260110090078

Dosen Pembimbing : Sandra Megantara M,Si. Apt.

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Asetaminofen merupakan obat yang umum digunakan oleh masyarakat. Hampir seluruh industri memproduksi obat ini sebagai obat analgesikantipiretik. Oleh karena banyaknya permintaan obat tersebut dari masyarakat, kualitas obat ini harus benar-benar diuji untuk menjamin keselamatan pasien. Salah satu pemastian mutu atau kualitas obat ini yaitu dengan menganalisis bahan baku dan menguji batas logam berat dalam asetaminofen.

B. Tujuan 1. Menganalisis bahan baku asetaminofen sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Farmakope Indonesia 2. Menguji kadar logam berat dalam asetaminofen dengan metode III dalam Farmakope Indonesia

C. Rumusan Masalah 1. Bagaimana tahapan analisis persyaratan bahan baku asetaminofen berdasarkan Farmakope Indonesia? 2. Bagaimana cara pengujian logam berat dari asetaminofen?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Monografi

Nama kimia Rumus molekul Berat molekul Kandungan

: 4-Hidroksiasetanilida : C8H9NO2 : 151,16 : Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak

lebih dari 101% C8H9NO2, Pemerian Kelarutan : Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 : Titik lebur antara 168o dan 172o; : Tidak lebih dari 0,1%; : Tidak lebih dari 0,1% :6 : Kurang dari 0,001 % (FI IV, 1995).

N ; mudah larut dalam etanol) Sifat fisika Sisa pemijaran Kadar air PH Kadar timbal

Parasetamol merupakan obat pilihan pertama dalam penanganan nyeri dan demam karena relatif aman, tidak mengiritasi lambung dan dapat digunakan untuk anak-anak serta pasien asma. Efek samping yang ditimbulkan adalah methemoglobin dan hepatotoksik (Ditjen Binfar, 2006; Mycek.J.M., 2001). Sebagai antipiretik parasetamol dapat meningkatkan eliminasi panas pada penderita suhu tinggi dengan cara menimbulkan dilatasi pembuluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat.

Pengaruh obat pada suhu badan normal relatif kecil. Penurunan suhu tersebut adalah hasil kerja obat pada system saraf pusat yang melibatkan pusat kontrol suhu di hipotalamus (Siswandono dan Soekardjo, B., 2000). Analisis kualitatif yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat atau campuran yang tidak diketahui. Walaupun analisis kualitatif sudah banyak ditinggalkan, namun analisis kualitatif ini merupakan aplikasi prinsip-prinsip umum dan konsep-konsep dasar yang telah dipelajari dalam kimia dasar. Analisis kualitatif senyawa obat tentang identifikasi suatu zat fokus kajiannya adalah unsur apa yang terdapat dalam suatu sampel. Untuk memudahkan dalam suatu identifikasi, sebaiknya senyawa obat yang diidentifikasi ditentukan dahulu struktur kimia organiknya sehingga kita dapat mengetahui golongan unsur, analisis gugus, unsure-unsur penyusun senyawa (C, N, S, P atau halogen) dari senyawa obat, kemudian memudahkan kita untuk mengetahui sifat-sifat kimia seperti kelarutan (Auterhoff dan Kovark, 1978). Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0,75 1.000 m atau pada Bilangan Gelombang 13.000 10 cm-1. Radiasi elektromagnetik dikemukakan pertama kali oleh James Clark Maxwell, yang menyatakan bahwa cahaya secara fisis merupakan gelombang elektromagnetik, artinya mempunyai vektor listrik dan vektor magnetik yang keduanya saling tegak lurus dengan arah rambatan (Christian, 1994). Spektrokopi IR digunakan untuk penentuan struktur, yakni informasi penting tentang gugus fungsional suatu molekul. Penentuan struktur ini dilakukan dengan melihat plot apektrum IR yang terdeteksi oleh alat spektrofotometer IR. Spektrum ini menyatakan jumlah radiasi IR yang diteruskan melalui cuplikan sebagai fungsi frekuensi atau bilangan gelombang. Semakin rumit struktur suatu molekul, semakin banyak bentuk-bentuk vibrasi yang meungkin terjadi. Akibatnya kita akan melihat banyak pita-pita absorpsi yang diperoleh pada spektrum IR. Perlu diketahui bahwa atom-atom dengan massa rendah cenderung

lebih mudah bergerak dibanding atom dengan massa atom lebih tinggi, contohnya adalah vibrasi yang melibatkan atom hidrogen sangat berarti (Hendayana, 1994). Dalam spektrofotometer, mula-mula sinar infra merah dilewatkan melalui sampel dan larutan, kemudian dilewatkan pada monokromator untuk

menghilangkan sinar yang tidak diinginkan (stray radiation). Berkas sinar ini kemudian didespersikan melalui prisma atau grating. Dengan melewatkannya melalui slit, sinar tersebut dapat difokuskan pada detektor yang akan mengubah berkas sinar menjadi sinyal listrik yang selanjutnya direkam oleh rekorder (Tarigan, 1986). Analisis identifikasi gugus fungsi dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik spektrum ikatan tertentu, mialnya spektrum IR ikatan C=O terletak
-1

pada 1700 cm , bentuknya runcing (tajam) ata7u dikatakan spektrum kuat. Spektrum vibrasi OH terletak sekitar 3500 cm , pada umumnya berikatan hidrogen sehingga melebar. Spektrumnya tidak tajam. Bila ada ikatan C=O dan gugus OH maka dimungkinkan senyawa adalah asam (Hendayana, 1994). Instrument yang sangat sederhana untuk absorpsi UV-Vis Moleculer adalah filter fotometer yang menggunakana filter absorpsi atau interferens untuk mengisolasi pita radiasi. Filter ditempatkan diantara sumber dan sampel untuk mencegah sampel terdekomposisi ketika terpapar radiasi energi tinggi. Fotometer filter memiliki jalur optik tunggal antara sumber dan detektor sehingga disebut single beam instrument.Instrumen dikalibrasi menjadi 0% T sementara
-1

menggunakan shutter unutk memblok sumber radiaasi dari detektor. Setelah shutter dilepaskan, instrumen dikalibrasi menjadi 100 % T menggunakan blanko sesuai. Blanko kemudian diganti dengan sampel dan transmitansnya diukur. Karena kekuatan kejadian sumber dan sensitivitas detektor bervariasi dengan panjang gelombang, fotometer harus dikalibrasi kembali kapan pun filter diubah. Kelebihan dari fotometer ini adalah murah, mudah dirawat, dan keras, dan portable sehingg adapat dilakukan analisis di lapangan. Kekurangannya adalah instrumen ini tidak dapat digunakan untuk memperoleh spektrum absorpsi (Harvey, 2000).

Skema filter fotometer dengan shutter (Harvey, 2000). Instrumen menggunakan monokromator sebagai pemilih panjang

gelombang disebut spektrometer. Dalam sepektroskopi absorbansi, ketika transmitan adalah perbandingan rasio dari dua kekuatan radian maka disebut spektrofotometer. Spektrofotometer paling sederhana adalah single beam instrument yang dilengkapi dengan monokromator fixed wavelength . Single beam spectrophotometer dikalibrasikan dan digunakan dengan cara yang sama seperti fotometer. Karena lebar pita nya efektif cukup besar, instrument ini lebih cocok untuk kuantitatif analisis daripada kualitatif analisis. Akurasi single beam spectrophotometer terbatas oleh stabilitas sumber dan detektornya (Harvey, 2000).

Skema single beam spectrophotometer (Harvey, 2000). Limitasi dari fixed-wavelength single-beam spectrophotometers

diminimalisasi dengan menggunakan double-beam in-time spectrophotometer. Chopper mengontrol jalur radiasi dan mengubahnya atara sampel, blanko, dan shutter. Prosesor signal menggunakan chopper yang diketahui kecepatan rotasinya untuk memisahkan signal yang sampai ke detektor karena transmisi dari blanko dan sampel. Lebar pita efektif double-beam spectrophotometer dikontrol oleh celah yang dapat diatur pada monokromator masuk dan keluar. Lebar pita efektif

adalah antara

0.2 nm dan 3.0 nm. Monokoromator scanning menyediakan

pencatatan spektrum secara otomatis. Instrumen double beam lebih cakap dibandingkan single beam instrument karena dapat digunakan untuk quantitative maupun kualitatif namun lebih mahal. Desain instrumen didesain menggunakan detektor single dan dapat memonitor hanya satu panjang gelombang dalam satu waktu. Fotodiode linear tersusun atas detektor multiple atau channels, membuat seluruh spektrum dicatat sebagai 0.1 s. Fotodiode diletakkan pada focal plan (Harvey, 2000).

Skema double beam in time spectrophotometer (Harvey, 2000). Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksireaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Contoh reaksi titrasi kompleksometri : Ag+ + 2 CN- Ag(CN)2 Hg2+ + 2Cl- HgCl2 (Khopkar, 2002).

Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan : M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O (Khopkar, 2002). Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan indikator murexide (Basset, 1994).

BAB III METODE

1. Pemeriksaan awal a. Uji organoleptis Diamati bentuk, warna, bau, dan rasa menggunakan panca indera b. Uji Kelarutan Dilarutkan 100 mg asetaminofen dalam 2 mL air mendidih lalu diaduk sebentar kemudian dilihat kelarutannya. Selanjutnya dilarutkan 100 mg asetaminofen dalam 2mL NaOH 1 N lalu diaduk sebentar kemudian dilihat kelarutannya. Lalu dilarutkan 100 mg asetaminofen dalam 1 ml etanol lalu diaduk sebentar kemudian dilihat kelarutannya. 2. Uji Kualitatif a. Reaksi warna Untuk uji kualitatif asetaminofen (parasetamol), dilakukan reaksi warna. Disiapkan tabung reaksi bersih kemudian dimasukan 100 mg asetaminofen lalu dilarutkan dalam 10 ml air, setelah larut ditambahkan 0,05 ml larutan besi(III) klorida P; hingga terjadi perubahan warna. Reaksi warna yang selanjutnya dilakukan reaksi uji diazotasi yaitu sejumlah sampel asetaminofen disiapkan dalam plat tetes kemudian ditambahkan masingmasing 1 tetes larutan Diazo A dan Diazo B. lalu ditambahkan 1 tetes larutan asam klorida hingga terjadi perubahan warna, kemudian diamati perubahan warnanya. b. Spektrofotometri Inframerah Disiapkan 250 mg KBr kering yang telah dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 2 jam. Asetaminofen digerus sebanyak 5 mg sampai homogen selama 5 menit di tempat uang kelembabannya rendah. Lalu serbuk asetaminofen yang telah homogen dimasukkan ke dalam pencetak. Selanjutnya divakumkan pada 60 cmHg selama 5 menit dan cakram dikeluarkan dari pencetak. Kemudian cakram diletakkan ke dalam alat

spektrofotmetri dan dilihat spektrum yang didapat dan dibandingkan dengan spektrum asetaminofen BPFI 3. Uji Kuantitatif (Spektrofotometri UV) Pertama dibuat larutan baku asetaminofen BPFI dengan konsentrasi 40 ppm. Asetaminofen BPFI ditimbang sebanyak 10 mg lalu dilarutkan ke dalam labu ukur 250 mL dengan aquades sampai tanda batas. Lalu dibuat larutan baku asetaminofen dengan beberapa konsentrasi yaitu 10 ppm, 8 ppm, 6 ppm, 4 ppm, dan 2 ppm. Untuk larutan baku 10 ppm, diambil 5 mL larutan baku asetaminofen BPFI 40 ppm lalu dilarutkankan ke dalam labu ukur 20 mL dengan aquades sampai tanda batas. Untuk larutan baku 8 ppm, diambil 4 mL larutan baku asetaminofen BPFI 40 ppm lalu dilarutkankan ke dalam labu ukur 20 mL dengan aquades sampai tanda batas. Untuk larutan baku 6 ppm, diambil 3 mL larutan baku asetaminofen BPFI 40 ppm lalu dilarutkankan ke dalam labu ukur 20 mL dengan aquades sampai tanda batas. Untuk larutan baku 4 ppm, diambil 2 mL larutan baku asetaminofen BPFI 40 ppm lalu dilarutkankan ke dalam labu ukur 20 mL dengan aquades sampai tanda batas. Untuk larutan baku 2 ppm, diambil 1 mL larutan baku asetaminofen BPFI 40 ppm lalu dilarutkankan ke dalam labu ukur 20 mL dengan aquades sampai tanda batas. Kemudian masing-masing konsentrasi dimasukkan ke dalam kuvet yang berbeda sampai dari kuvetnya lalu diukur absorbansi dan panjang gelombang pada absorbansi maksimum ke dalam spektrofotometri UV. Selanjutnya dibuat kurva baku di mana sumbu x sebagai konsentrasi dan sumbu y sebagai absorbansi. Lalu didapat nilai r,b,dan a sehingga dapat dibuat persamaan y = bx + a. Kedua dibuat larutan sampel dengan konsentrasi 40 ppm dan 6 ppm. Untuk larutan sampel 40 ppm, asetaminofen ditimbang sebanyak 10 mg lalu dilarutkan ke dalam labu ukur 250 mL dengan aquades sampai tanda batas. Untuk larutan sampel 6 ppm, diambil 3 mL larutan sampel 40 ppm dan dilarutkan ke dalam labu ukur 20 mL dengan aquades sampai tanda batas. Kemudian masing-masing konsentrasi dimasukkan ke dalam kuvet

yang berbeda sampai dari kuvetnya lalu diukur absorbansi dan panjang gelombang pada absorbansi maksimum ke dalam spektrofotometri UV. 4. Uji batas logam berat (metode kompleksometri) Pertama pembuatan larutan EDTA 0,05 M dengan cara ditimbang sebanyak 4,668 gram Na-EDTA lalu dilarutkan ke dalam labu ukur 250 mL dengan aquades sampai tanda batas. Lalu pembuatan larutan baku primer MgSO4 0,05 M dengan cara ditimbang sebanyak 1,237 gram MgSO4 lalu dilarutkan ke dalam labu ukur 100 mL dengan aquades sampai tanda batas. Kemudian pembakuan Na-EDTA oleh MgSO4 dilakukan duplo dengan cara dipipet10 mL larutan EDTA ke dalam labu erlenmeyer lalu ditambahkan indikator EBT dan dititrasi dengan Mg SO4 hingga terjadi perubahan warna menjadi biru. Selanjutnya titrasi kompleksometri Pb dalam asetaminofen dilakukan duplo dengan cara ditimbang asetaminofen sebanyak 406 mg lalu dialrutkan ke dalam labu ukur 100 mL dengan aquades sampai tanda batas. Kemudian dipipet sebanyak 10 mL larutan asetaminofen ke dalam labu erlenmeyer dan dititrasi dengan NaEDTA yang telah dibakukan.

DAFTAR PUSTAKA Autherhoff, H. dan Kovark. 1987. Identifikasi Obat T e r b i t a n k e e m p a t . I T B . Bandung Basset, J. dkk. 1994. Buku Ajar Vogel:Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Terjemahan A. Hendayana Pudjaatmaka dan L. Setiono. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Christian, G.D. 1994. Analytical Chemistry 5th Edition. John Wiley and Sons, lnc. New York. Page 485-497. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi III. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta Harvey, David. 2000. Chemistry: Modern Analitycal Chemistry First Edition. Page 388-409. United States of America: The Mc-Graw Hill Company. Mycek, M.J. 2001. Famakologi Ulasan Bergambar. Edisi 2. Widyamedika. Jakarta Siswandono dan Soekardjo, B. 2000. Kimia Medisinal. Edisi 2. Airlangga University Press.Surabaya