Anda di halaman 1dari 4

Nama : Diwan Ramadhan Jauhari NIM : 1102639 Prodi : Bimbingan dan Konseling Kelas/Semester : B/II

SKENARIO KONSELING Agus termasuk salah satu siswa SMA yang rajin dan berprestasi, sejak kelas X, XI Agus selalau mendapatkan rangking di tiga besar di kelasnya. Tetapi beberapa bulan ini semenjak naik ke kelas XII, Agus sering bolos, terlambat datang ke sekolah, dan terlambat mengumpulkan tugas, sehingga prestasinya menurun drastis. Agus yang sehari-harinya selalu berpakaian rapi, sekarang terlihat kusut dan acak-acakan. Agus merasa frustasi, putus asa karena orang tuanya lebih menginginkannya untuk melanjutkan ke pesantren, sedangkan dia ingin melanjutkan ke jurusan Informatika di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Rasa putus asa dan frustasi ini yang menyebabkan perubahan perilaku Agus di sekolah. Berikut ini satu sesi dalam proses konseling yang dilakukan guru bimbingan dan konseling dalam menangani masalah yang di alami Agus. Agus Konselor : Assalamualaikum (mengetuk pintu) : Waalaikumsalam (konselor menghampiri Attending konseli, menjabat tangan, dan membawa konseli memasuki ruangan). Silakan duduk Gus. (Konselor duduk disebelah klien dan posisi badan konselor condong menghadap pada konseli). Senang sekali hari ini bias bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu? : Ya, pak, Alhamdulillah saya baik-baik saja. Ada apa pak saya dipanggil kesini? : Ada sesuatu yang ingin bapak bicarakan dengan kamu, bapak memperoleh informasi dari guru wali kelasmu kalau kamu mempunyai masalah dengan absensi. : (Agus tertunduk malu, menggaruk-garuk kepalanya, karena merasa bersalah; penampilan Agus tidak seperti biasanya, hari ini bajunya dikeluarkan, memakai gelang, tata rambut yang acak-acakan) : (Konselor memperhatikan dengan seksama Observing perilaku dan penampilan Agus tersebut; konselor memprediksi bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan siswanya ini). Gus, kalau boleh bapak tahu, apa yang menyebabkan kamu sering tidak masuk sekolah? : mmmhhhh (Agus menunjukkan ekspresi kebingungan untuk menjawab) : Tidak apa-apa, Gus. Ceritakan saja pada bapak Attending apa yang terjadi sebenarnya? Keberadaan bapak
1

Agus Konselor

Agus

Konselor

Agus Konselor

Agus Konselor Agus Konselor Agus Konselor Agus Konselor Agus Konselor Agus Konselor Agus Konselor

: : : : : : : : : : : : : :

Agus

Konselor

Agus Konselor

: :

disini untuk membantumu, apabila ada masalah nanti kita cari jalan keluarnya bersama. (Konselor tersenyum dan memegang pundak Agus; untuk meyakinkan Agus untuk mulai bercerita) Baik pak, pak saya merasa bosan berada di sekolah (Konselor diam sejenak) lalu? Saya tidak semangat lagi untuk belajar pak. Mmmh, Kamu merasa bosan dan kurang semangat. kenapa Gus? Kalau lulus SMA nanti orang tua saya menginginkan saya masuk pesantren pak. Jadi, kamu kurang semangat belajar dan merasa bosan di sekolah karena orang tua kamu menyuruhmu masuk pesantren. Benar pak. Gus, kalau boleh bapak tahu, setelah lulus nanti kamu ingin melanjutkan kemana? Saya ingin melanjutkan sekolah ke jurusan informatika pak, saya tertarik dengan komputer. Baik gus, kamu merasa sedih dan kecewa karena keinginan orang tuamu tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Ya pak. Saya merasa kecewa, frustasi, dan tidak tahu harus berbuat apa untuk meyakinkan orangtua Orangtua mu sudah mengetahui keinginanmu ini? Belum pak, saya ragu-ragu dan takut untuk membicarakannya, lagi pula bapak dan ibu saya terlalu sibuk untuk hal seperti ini. Begini Gus, kamu tahukan orangtua mu pasti ingin yang terbaik untuk kamu. Bapak yakin mereka pasti mau mendengarkan keinginanmu juga. Tapi pak, saya takut mengecewakan mereka, kalau mereka tahu saya tidak mau masuk pesantren nanti, mereka pasti akan sangat kecewa. Saya tidak tahan melihat mereka kecewa. Jadi kamu akan sangat sedih, jika kamu mengecewakan orang yang kamu sayangi. Apakah benar seperti itu? Tapi di sisilain kamu ingin keinginanmu terpenuhi? Betul pak. Ok kalau begitu, sekarang coba kamu pikirkan sekali lagi. Apakah orang tuamu akan kecewa jika mengetahui kalau anak kesayangannya sering bolos sekolah? Apakah dengan bolos sekolah akan menyelesaikan persoalan?

Responding to feeling Responding to content

Responding to meaning

Personalizing meaning

Agus Konselor Agus Konselor Agus

Konselor

Agus Konselor

Agus Konselor Agus Konselor Agus Konselor Agus Konselor

Agus Konselor

: (Agus tertunduk, menyesali perbuatan yang telah dilakukannnya) : Kamu merasa frustasi dengan kondisimu saat ini, karena kamu tidak mampu untuk menyampaikan keinginanmu pada orangtua. : Betul pak. Jadi apa yang harus saya lakukan pak? : Gus. Jika melanjutkan ke jurusan informatika ini benar-benar keinginanmu, kamu harus berusaha agar kamu berani berbicara dengan orang tuamu. : Baik pak saya akan coba. Tapi bagaimana pak jika orang tua saya tetap dengan keinginannya? Saya akan sangat kecewa, pasti hal ini akan mengganggu konsentrasi dan semangat saya untuk belajar pak. : Begini Gus. Bapak mengerti dengan kondisimu saat ini. Kamu merasa putus asa, karena apa yang telah kamu lakukan selama ini, tidak akan menghasilkan apa-apa karena kamu tidak mencapai tujuan yang kamu inginkan. : Jadi bagaimana pak? : Gus, yang menjadi masalah bukanlah keinginan orangtuamu yang berbeda, atau karena ketidak mampuanmu untuk berbicara pada orangtuamu, tapi permasalahannya adalah tujuanmu dalam belajar. : Maksud bapak? : Coba pikirkan kembali Gus, apa tujuanmu sekolah? Mengejar cita-cita ataukah mencari ilmu? : Lebih tepatnya kita belajar di sekolah untuk mencari ilmu pak. : Betul Gus, mencari ilmu adalah tujuannya. Nah sekarang bapak Tanya lagi. Mencari ilmu itu untuk apa? : Untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita pak. : Jika setelah menuntut ilmu, tetapi pegetahuan dan wawasanmu masih tetap, tidak menghasilkan apa-apa bagaimana? : Tapi kita sudah mendapat pahala menuntut ilmu pak. : Nah itu Gus tujuan sebenarnya kamu menuntut ilmu. Mendapat pahala, bernilai ibadah. Coba pertimbangkan ucapan bapak ini, menuntut ilmu itu ibadah dan ibadah itu pada hakikatnya untuk mendapatkan Ridho Alloh. Setuju tidak dengan pendapat bapak? : Iya pak. Terus pak apa hubungannya dengan masalah saya ini. Saya belum mengerti? : Yang harus kamu perbaiki adalah niat awalmu

Personalizing problems Personalizing goal

Responding to meaning

Personalizing problem

Personalizing goal Defining goal

Agus Konselor Agus Konselor

: : : :

Agus Konselor Agus Konselor

: : : :

Agus Konselor Agus Konselor Agus Konselor

: : : : : :

untuk mencari ilmu. Pada hakikatnya sama dengan tujuan manusia ini hidup yaitu untuk menggapai ridho Alloh. Dan Ridho Alloh itu ada pada ridho kedua orangtua. Betul pak, tapi saya belum mencapai kesana. Betul Gus, bapak sendiri belum mampu. Bapak hanya ingin kamu mempertimbangkan perkataan bapak ini. Baik pak. Jadi jika orangtua tidak ridho, ridho Alloh pun tidak akan kita dapatkan? Ya betul Gus. Developing Nah sekarang setelah pembicaraan kita ini, kamu schedule mulai membicarakan keinginan ini pada orangtuamu. Silahkan tentukan kira-kira kapan? Dimana waktu yang tepat untuk membicarakannya? Jangan takut untuk memulai. Baik pak, saya akan berbicara dengan orangtua saya ketika orangtua saya sedang santai, biasanya hari libur. Bagus, dalam kondisi santai mudah-mudahan orangtuamu lebih terbuka menerima pendapatpendapatmu. Amin, mudahan-mudahan pak. Pak setelah saya berbicara kepada orangtua, bolehkah saya datang kembali ke Bapak. Tentu saja boleh Gus, kamu tidak akan sendirian, bapak juga akan mencoba untuk menghubungi orangtuamu. Supaya mereka pun lebih memahami kondisimu ini. Baik pak, terima kasih. Iya sama-sama, bapak akan lebih senang jika kamu juga menghentikan kebiasaan bolosmu dan kembali ke sekolah sebaai siswa yang rajin. Baik pak. Baik Gus, ada yang masih ingin dibicarakan lagi? Closing Kalau tidak ada silahkan kamu boleh kembali ke kelasmu Tidak ada pak, terima kasih, saya permisi masuk ke kelas pak. Assalamualaikum. (bersalaman dengan konselor) Waalaikumsalam (Konselor bersalaman dengan Agus, tersenyum dan mengantar Agus sampai pintu.