Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Upaya masyarakat untuk melakukan pengobatan terhadap dirinya sendiri dikenal dengan istilah swamedikasi, swamedikasi umumnya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat seperti demam, nyeri, batuk, influenza dan lain-lain. Swamedikasi menjadi salah satu alternatif yang diambil masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan. Obat bebas dan obat bebas terbatas menjadi pilihan masyarakat dalam melaksanakan swamedikasi, salah satu golongan obat bebas terbatas yang sering digunakan dewasa ini adalah obat analgetik-antipiretik dan antiinflamasi (Ditjen Binfar, 2006). Campuran ibuprofen dan parasetamol merupakan salah satu jenis kombinasi dalam formula sediaan tablet analgetik-antipiretik da n antiinflamasi, kombinasi ini dapat menghasilkan efek potensiasi dalam meringankan nyeri ,demam dan radang (Segedin,K., 2009). Pada pembuatan sediaan farmasi, pemeriksaan kadar zat aktif merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin kualitas sediaan tersebut dan salah satu persyaratan tersebut adalah kadar zat aktif yang dikandung sediaan harus memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia atau bukubuku resmi lainya (Depkes RI, 2009). Monografi campuran ibuprofen dan parasetamol dalam sediaanya tidak dijumpai dalam Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995 dan United Stated

Pharmacopoeia (USP) XXX tahun 2007. Penentuan kadar baku ibuprofen dan sediaan tabletnya dalam bentuk tunggal dapat ditentukan secara Kromatografi

Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

(FI.ed IV, USP 30) dan dalam

Japanese

Pharmacopoeia XV dan British Pharmacopoeia 2007, baku ibuprofen ditentukan secara alkalimetri sedangkan baku parasetamol dan sediaan tabletnya dalam bentuk tunggal dapat ditentukan secara KCKT (FI ed IV, USP 30) dan menurut Higuchi, T dan Hanssen, B.E, (1968) parasetamol dalam sediaan tablet dapat ditentukan secara nitrimetri setelah dihidrolisa terlebih dahulu. Ditinjau dari struktur ibuprofen dan parasetamol yang mempunyai gugus kromofor maka senyawa ini dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet.Menurut Moffat, A.C., dkk., (2005) ibuprofen memiliki serapan maksimum dalam larutan basa pada panjang gelombang 265 nm (A11=18.5a) sedangkan parasetamol dalam larutan asam pada panjang gelombang 245 nm (A11=668a) dan dalam larutan basa pada panjang gelombang 257 nm (A11=715a). Kombinasi kedua komponen ini bila dilakukan penentuan kadarnya secara multikomponen dalam larutan basa dapat memberikan hasil yang kurang baik karena harga A11 ibuprofen terlalu kecil bila dibandingkan dengan parasetamol. Metode KCKT memerlukan alat dan biaya operasional yang relatif mahal serta waktu analisis yang relatif lama. Ditinjau dari harga pKa ibuprofen 4.4 kemungkinan kadar ibuprofen dapat ditetapkan secara alkalimetri dimana parasetamol dengan pKa 9.5 tidak akan tertitrasi.

Parasetamol dapat ditetapkan kadarnya secara nitrimetri setelah dihidrolisa menjadi aminofenol, ibuprofen tidak akan tertitrasi karena tidak memiliki gugus amin primer aromatis. Salah satu metode alternatif yang dapat digunakan adalah secara volumetri dimana ibuprofen ditentukan secara alkalimetri dan parasetamol secara nitrimetri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ibuprofen Ibuprofen atau asam 2-(-4-Isobutilfenil) propionat denga n rumus molekul C13H18O2 dan bobot molekul 206.28, rumus bangun dari ibuprofen adalah sebagai berikut : Ibuprofen berupa serbuk hablur putih hingga hampir putih, berbau khas lemah dan tidak berasa dengan titik lebur 75.0 77.5C. Ibuprofen praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol, dalam metanol, dalam aseton dan dalam chloroform serta sukar larut dalam etil asetat (Ditjen POM, 1995). Larutan ibuprofen dalam NaOH 0.1N dengan (A11=18.5a), memperlihatkan serapan

maksimum pada panjang gelombang 265 dan 273 nm sedangkan pada inframerah memperlihatkan puncak pada 1721, 1232, 779, 1185, 1273 dan 870 cm-1 (Moffat. A. C., dkk., 2005). Ibuprofen merupakan obat anti radang non steroid, turunan asam arilasetat yang mempunyai aktivitas antiradang dan analgesik yang tinggi, terutama digunakan untuk mengurangi rasa nyeri akibat peradangan pada berbagai kondisi rematik dan arthritis. Ibuprofen dapat menimbulkan efek samping iritasi saluran cerna, diabsorpsi cepat dalam saluran cerna, kadar serum tertinggi terjadi dalam 1-2 jam setelah pemberian oral, dengan waktu paruh 1.8-2 jam, dosis: 400 mg 3-4 dd (Katzung, B.G., 2002; Siswandono dan Soekardjo, B., 2000). Ibuprofen menimbulkan efek analgesik dengan menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada system saraf pusat yang mengkatalis biosintesis prostaglandin seperti siklooksigenase sehingga mencegah sensitasi reseptor rasa

sakit oleh mediator-mediator rasa sakit seperti bradikinin, histamin, serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion hidrogen dan kalium yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi (Siswandono dan Soekardjo, B., 2000). 2.2. Parasetamol Parasetamol atau 4-hidroksiasetanilida dengan rumus molekul C8H9NO2 dan bobot molekul 152.16, rumus bangun dari parasetamol adalah sebagai berikut: Parasetamol berupa serbuk hablur putih, tidak berbau dan rasa sedikit pahit dengan titik lebur 169-170.5C. Parasetamol mudah larut dalam air mendidih, sangat mudah larut dalam chloroform, larut dalam etanol, metanol, dimetil formamida, aseton dan etil asetat, praktis tidak larut dalam benzen. (Ditjen POM, 1995). Parasetamol memiliki serapan maksimum dalam larutan asam pada panjang gelombang 245 nm (A11=668a) dan dalam larutan basa pada panjang gelombang 257 nm (A11=715a) sedangkan pada inframerah memperlihatkan puncak pada 1506, 1657, 1565, 1263, 1227, 1612 cm1. (Moffat A.C., dkk, 2005). Parasetamol dengan pKa 9.5 diabsorpsi cepat melalui usus dan konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh dalam plasma antara 1-3 jam, dimetabolisme oleh enzim mikrosom dan dieksresikan melalui ginjal. Turunan dari para-aminofenol ini bekerja sebagai analgetik-antipiretik serta memiliki aktivitas antiinflamasi yang rendah dan dapat diberikan secara oral, intravena serta rektal. Parasetamol merupakan obat pilihan pertama dalam penanganan nyeri dan demam karena relatif aman, tidak mengiritasi lambung dan dapat digunakan untuk anak-anak serta pasien asma. Efek samping yang

ditimbulkan adalah methemoglobin dan hepatotoksik (Ditjen Binfar, 2006; Mycek.J.M.,2001). Sebagai antipiretik parasetamol dapat meningkatkan eliminasi panas pada penderita suhu tinggi dengan cara menimbulkan dilatasi pembuluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat. Pengaruh obat pada suhu badan normal relatif kecil. Penurunan suhu tersebut adalah hasil kerja obat pada system saraf pusat yang melibatkan pusat kontrol suhu di hipotalamus (Siswandono dan Soekardjo, B., 2000). 2.3. Volumetri Volumetri adalah suatu metode analisis kimia kuantitatif yang digunakan untuk menentukan kadar analit dengan menggunakan larutan pereaksi yang

konsentrasinya diketahui. Pada umumnya metode volumetri disebut metode titrasi dan pereaksinya disebut pentitrasi. Pereaksi harus bereaksi stoikiometri dengan analit dan kadar zat dihitung dari volume pereaksi yang bereaksi ekivalen dengan analit (Satiadarma, K., 2004). Untuk dapat dilakukan analisis volumetri harus dipenuhi syarat-syarat berikut : 1. Harus ada suatu reaksi yang sederhana, yang dapat dinyatakan dengan suatu persamaan kimia, zat yang akan ditetapkan harus bereaksi lengkap dengan reagensia dalam proporsi yang stokiometri atau ekivalen 2. Reaksi harus praktis dan berjalan sangat cepat, dalam beberapa keadaan penambahan katalis akan menaikan kecepatan reaksi. 3. Harus tersedia indikator yang dapat digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. Berdasarkan reaksi kimianya, volumetri dapat dikelompokan atas :

1. Reaksi penentralan (asidimetri dan alkalimetri) Penetapan kadar suatu zat (asam atau basa) berdasarkan prinsip netralisasi, bila sebagai titran digunakan larutan baku asam, maka penetapan tersebut dinamakan asidimetri, sebaliknya bila larutan baku basa sebagai titran, maka penetapan itu disebut alkalimetri. 2. Reaksi pembentukan kompleks Merupakan reaksi yang menghasilkan suatu kompleks atau ion komplek yang dapat larut tetapi sedikit terdisosiasi, misalnya reaksi ion perak dengan ion sianida untuk membentuk kompleks Ag(CN)2- yang sangat stabil 3. Reaksi oksidasi reduksi (Redoks) Reaksi-reaksi kimia yang menyangkut oksidasi-reduksi secara luas digunakan dalam analisa volumetri 4. Pengendapan (Underwood, L.A., 1980) Proses yang kita gunakan untuk menentukan secara teliti konsentrasi suatu larutan dikenal dengan standarisasi dengan menggunakan standar primer, dengan syarat sebagai berikut: 1) Mudah didapat dalam bentuk murni atau dalam keadaaan kemurnian yang diketahui dengan harga yang wajar. Pada umumnya jumlah pengotoran harus tidak melebihi 0.01 sampai 0.02% dan harus mungkin diuji kemurnianya dengan uji-uji yang diketahui

kepekaanya. 2) Zat itu harus tetap, harus mudah dikeringkan dan harus tidak higroskopik, tidak berkurang beratnya sewaktu terkena udara.

3) Mempunyai berat ekivalen yang tinggi sehingga kesalahan penimbangan akan menjadi lebih kecil dan mudah larut serta reaksi cepat dan stokiometri (Basset,J., dkk. 1994)

BAB III MEKANISME KERJA 3.1 Metode Penetapan Kadar Ibuprofen 1. Alkalimetri Bila ditinjau dari harga pKa nya, ibuprofen dapat ditetapkan kadarnya secara alkalimetri, Btitish Pharmacopoeia tahun 2007 dan The International Pharmacopoeia third edition tahun 2003, kadar ibuprofen dapat ditetapkan secara titrasi menggunakan larutan NaOH 0.1 N dengan indikator fenolftalein. Metode ini didasarkan pada perpindahan proton dari zat yang bersifat asam, Fenolftalein adalah indikator dari golongan ftalein yang banyak digunakan dalam pelaksanaan pemeriksaan kimia, berupa hablur putih yang mempunyai kerangka lakton, indikator ini sukar larut dalam air, tapi dapat bereaksi dengan air sehingga cicncin laktonya terbuka dan membentuk asam yang berwarna (Basset,J., dkk. 1994) 2. Secara Spektrofototmetri UV-VIS Jika dilihat dari strukturnya Ibuprofen memiliki gugus kromofor yang dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet, Menurut Ebeshi, U. B., 2009, kadar ibuprofen dalam sediaan tablet dapat ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri ultraviolet karena Ibuprofen memiliki serapan maksimum dalam larutan basa pada panjang gelombang 265 nm (A11=18.5a).

3. Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 dan USP XXX tahun 2007, kadar ibuprofen dalam sediaan tablet dapat ditetapkan secara KCKT dengan menggunakan fase gerak; canpuran larutan asam kloroasetat 1 %b/v dengan asetonitril yang diatur pada PH 3.0. 3.2 Metode Penetapan Kadar Parasetamol 1. Nitrimetri (Titrasi Diazotasi) Titrasi diazotasi ini sangat sederhana dan berguna untuk menetapkan kadar senyawa-senyawa sulfonamid dan senyawa-senyawa anastetik lokal golongan asam amino benzoat. Nitrimetri adalah metode penetapan kadar secara kuantitatif dengan menggunakan larutan baku natrium nitrit, metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam membentuk garam diazonium (Gandjar, G.H., dan Rohman, A., 2007). Dalam nitrimetri, berat ekivalen suatu senyawa sama dengan berat molekulnya karena 1 mol senyawa bereaksi dengan 1 mol asam nitrit dan menghasilkan 1 mol garam diazonium. Pada titrasi diazotasi, penentuan titik akhir dapat menggunakan indikator luar, indikator dalam dan secara potensiometri (Kar, A., 2005). Indikator luar yang digunakan adalah pasta kanji-iodida atau kertas kanji-iodida, ketika larutan digoreskan pada

pasta, adanya kelebihan asam nitrit akan mengoksidasi iodida menjadi iodium dengan adanya kanji akan menghasilkan warna biru segera.

Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut (Ditjen POM, 1995).

10

NaNO2

+ HCl

HNO2 + NaCl

KI + HCl KCl + HI 2 HI + 2 HONO I2 + 2 NO + 2H2O I2 + kanji kanji iod ( biru) Titik akhir titrasi tercapai apabila pada penggoresan larutan yang dititrasi pada pasta kanji-iodida akan terbentuk warna biru segera sebab warna biru juga terbentuk beberapa saat setelah dibiarkan diudara, hal ini disebabkan karena oksidasi iodida oleh uda ra (O2) menurut reaksi (Kar, A., 2005). 4 KI + 4 HCl + O2 2H2O + 2I2 + 4 KCl I2 + kanji kanji iod (biru) Untuk menyakinkan apakah benar-benar suda h terjadi titik akhir titrasi, maka pengujian seperti di atas dilakukan lagi setelah dua menit. Indikator dalam terdiri atas campuran trepeolin OO dan metilen biru. Trepeolin OO merupakan indikator asam-basa yang berwarna merah

dalam suasana asam dan berwarna kuning bila dioksidasi oleh adanya kelebihan asam nitrit, sedangkan metilen biru sebagai pengkontras warna sehingga pada titik akhir titrasi akan terjadi perubahan dari ungu menjadi biru sampai hijau tergantung senyawa yang dititrasi. Pemakaian kedua indikator ini ternyata memiliki kekurangan. Pada indikator luar harus diketahui dulu perkiraan jumlah titran yang diperlukan, sebab kalau tidak diketahui dulu perkiraan jumlah titran yang dibutuhkan maka akan sering melakukan pengujian apakah sudah tercapai titik akhir titrasi atau belum.

11

Disamping itu kalau sering melakukan pengujian, dikhawatirkan akan banyak sampel yang hilang pada saat pengujian titik akhir. Sementara itu pada pemakaian indikator dalam walaupun perlakuanya mudah tetapi

seringkali untuk senyawa yang berbeda akan memberikan warna yang berbeda (Gandjar, G.H., dan Rohman, A., 2007). Metode potensiometri, merupakan metode yang baik untuk penetapan titik akhir denganmenggunakan elektrode kolomel-platina yang dicelupka n ke dalam titrat. Pada saat titik akhir titrasi adanya kelebihan asam nitrit akan tejadi depolarisasi elektroda sehingga akan terjadi perubahan arus yang sangat tajam sekitar +0,80 Volt sampai +0.90 Volt. Metode ini sangat cocok untuk sampel bentuk sediaan syrup yang berwarna (Gandjar, G.H., dan Rohman, A., 2007). Menurut Higuchi 1968 dan The International Pharmacopoeia tahun 2003, kadar parasetamol dapat ditetapkan secara nitrimetri, dimana parasetamol direfluks dengan H2SO4 10 % b/b, sehingga diperoleh para-aminofenol dan dititrasi secara nitrimetri, menggunakan indikator pasta kanji. 2. Serimetri Menurut British Pharmacopoeia tahun 2007 dan Hermann, J 1991 parasetamol dapat ditetapkan kadarnya secara serimetri menggunakan larutan serium(IV)sulfat sebagai pentiter. Dilarutkan 0.300 g didalam campuran 10 ml akuades dan H2SO4 encer, kemudian direfluks selama 1 jam dan diencerkan sampai 100.0 ml dengan akuades. Pipet 20 ml dan tambahkan 40 ml akuades, 15 ml HCl encer dan 0.1 ml ferroin, kemudian

12

dititrasi dengan larutan Serium(IV) sulfat 0.1 N sampai terbentuk warna kuning kehijauan dan dilakukan titrasi blanko. 3. Secara Spektrofototmetri UV-VIS Jika dilihat dari strukturnya parasetamol memiliki gugus kromofor yang dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet, Menurut Moffat, dkk., (2005) parasetamol memiliki serapan maksimum dalam larutan asam pada panjang gelombang 245 nm (A11=668a) dan dalam larutan basa pada panjang gelombang 257 nm (A11=715a). Menurut Farmakope Indonesia edisi III tahun 1979, parasetamol dalam sediaan tablet dapat ditetapkan secara spektrofotometri ultraviolet pada larutan basa pada panjang gelombang 257 nm dan menurut Shrestha dan Pradhananga, tahun 2009, parasetamol dapat ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri visibel berdasarkan pembentukan warna setelah direaksikan dengan 1naftol atau resorsinol kemudian dianalisis pada panjang gelombang 505 nm. 4. Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 dan USP XXX tahun 2007, kadar parasetamol dalam sediaan tablet dapat ditetapkan secara KCKT dengan menggunakan fase gerak; campuran air-metanol (3:1). 5. Spektrofotometer inframerah Secara umum spektrofotometer inframerah digunakan untuk

menentukan gugus fungsi suatu senyawa organik dan untuk mengetahui informasi struktur suatu senyawa organik dengan membandingkan daerah

13

sidik jarinya. Pengukuran pada spektrum inframerah dilakukan pada daerah cahaya inframerah tengah (mid-infrared) yaitu pada panjang gelombang 4000-200 cm-1 (Dachriyanus, 2004). Energi yang dihasilkan oleh radiasi ini akan menyebabkan vibrasi atau getaran pada molekul. Pita absorbsi inframerah sangat khas dan spesifik untuk tipe ikatan kimia atau gugus fungsi, metode ini sangat berguna untuk mengidentifikasi senyawa organik dan organometalik (Dachriyanus, 2004) Vibrasi molekul dapat digolongkan atas dua golongan : 1) Vibrasi regangan (Streching) , Vibrasi regangan (Stretching Vibration), yaitu vibrasi yang mengakibatkan perubahan

panjang ikatan suatu ikatan, vibrasi regangan dibagi menjadi dua macam : Regangan simetri yakni bergerak bersamaan dan searah dalam satu bidang datar Regangan asimetri yakni bergerak bersamaan dan tidak searah tapi masih dalam satu bidang datar 2) Vibrasi tekuk (Bending Vibrations) Vibrasi tekuk (Bending Vibrations), yaitu vibrasi yang mengakibatkan perubahan sudut ikatan antara dua ikatan, vibrasi ini dibagi menjadi 4 bagian: Vibrasi Goyangan (Rocking), unit struktur bergerak

mengayun asimetri tetapi masih dalam bidang datar. Vibrasi Guntingan (Scissoring), unit struktur bergerak mengayun simetri dan masih dalam bidang datar.

14

Vibrasi Kibasan

(Wagging), unit struktur bergerak

mengibas keluar dari bidang datar. Vibrasi Pelintiran (Twisting), unit struktur berputar mengelilingi ikatan yang menghubungkan dengan molekul induk dan berada di dalam bidang datar ( Susilo, A., 2009 ). 6. Validasi Metode Analisis Validasi metode analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu, berdasarkan percobaan laboratorium untuk

membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaanya.Validasi metoda menurut United States Pharmacopoeia (USP) dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis yang digunakan akurat, spesisfik dan reproduksibel serta tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Suatu metode analisis harus divalidasi untuk melakuka n verifikasi bahwa parameter-parameter kinerjanya cukup mampu untuk mengatasi problem analisis (Gandjar, G.H., dan Rohman, A., 2007). Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode analisis : a. Kecermatan (accuracy) Merupakan ukuran yang menunjukan derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan ditentukan dengan dua cara yaitu metode simulasi penambahan baku (spiked-placebo recovery) dan metode

(standard addition method). Dalam metode

15

simulasi sejumlah analit bahan murni ditambahkan ke dalam campuran bahan pembawa sediaan farmasi lalu campuran tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar analit yang ditambahkan, tetapi bila tidak memungkinkan membuat sampel placebo karena matriksnya tidak diketahui seperti obat-obat paten atau karena analitnya berupa suatu senyawa endogen misalnya metabolit skunder maka dapat dipakai metode adisi. Metode adisi dibuat dengan menambahkan sejumlah analit dengan konsentrasi tertentu pada sampel yang diperiksa, lalu dianalisis dengan metode tersebut (Harmita, 2004). b. Keseksamaan (Precision) Merupakan ukuran yang menunjuakan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Keseksamaan dilakukan dengan cara melakuka n analisis, minimal 9 kali perlakuan yaitu tiga konsentrasi dengan tiga replikasi atau minimal 6 replikasi pada konsentrasi 100 %. c. Selekt ivitas (spe sifisitas) Merupakan suatu parameter untuk mengetahui

kemampuannya yang hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matrik sampel. Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derjat penyimpangan metode yang dilakukan terhadap

16

sampel yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainya dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel yang tidak

mengandung bahan lain yang ditambahkan d. Linearitas Adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematika yang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Menurut USP XXX, linieritas dilakukan dengan melakuka n analisis, minimal 5 konsentrasi dengan kisaran 80-100 % dari konsentrasi perlakuan. e. Rentang (Range) Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukan dapat ditetapkan dengan kecermatan dan linieritas yang dapat diterima f. Batas Deteksi dan Batas Kuantisi Batas deteksi merupakan jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blanko, batas deteksi merupakan uji batas. Batas kuantisi merupakan kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama g. Ketangguahan metode Ketangguahan metode merupakan derajat ketertiruan hasil uji yang diperoleh dari analisis yang sama dalam berbagai kondisi

17

uji normal seperti laboratorium analisis, instrument, bahan pereaksi, suhu dan lain-lain. Ketangguhan metode dinyatakan sebagai tidak adanya pengaruh perbedaaan operasi atau lingkungan kerja pada hasil uji. Ketangguhan metode merupakan ukuran ketertiruan pada kondisi opersi normal antar lab dan antar analis

18

BAB IV PENUTUP 1. KESIMPULAN Penetapan kadar parasetamol dan ibuprofen dapat dilakukan dengan menggunakan metode nitrimetri, alkalimetri,

spektofotometri UV visible. 2. SARAN Sebaiknya dilakukan praktikum tentang analisis volumetri terhadap sediaan obat, karena sangat berhubungan dengan jurusan farmasi Mahasiswa sebaiknya memperkaya pengetahuannya dengan

mencari lebih banyak lagi teori teori tentang analisis volumetri.