Anda di halaman 1dari 14

1

MAKALAH HIV/AIDS

1. Pengertian HIV/ AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah Virus yang menyerang sistim kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya AIDS. Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu.

HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia, terutama CD4 positive T-sel dan macrophages (komponenkomponen utama sistem kekebalan sel) dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol). Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang

beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia. Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya dalam memerangi infeksi dan penyakit- penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami defisiensi kekebalan. Penyakitpenyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang parah dikenal sebagai infeksi oportunistik karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang melemah. AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV merupakan virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penurunan kekebalan tubuh, sehingga tubuh rentan terhadap penyakit lain yang mematikan. AIDS disebabkan oleh Virus (Jasad Sub Renik) yang disebut dengan HIV. sedangkan HIV (Human Immunodeficiency Virus) itu sendiri adalah Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya AIDS.

Istilah AIDS dipergunakan untuk tahap- tahap infeksi HIV yang paling lanjut. Sebagian besar orang yang terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan, akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 8-10 tahun. AIDS diidentifikasi oleh berdasarkan Organisasi beberapa Kesehatan infeksi Dunia tertentu, (World yang Health

dikelompokkan

Organization) sebagai berikut: Tahap I penyakit HIV tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak dikategorikan sebagai AIDS.

Tahap II (meliputi manifestasi mucocutaneous minor dan infeksiinfeksi saluran pernafasan bagian atas yang tidak sembuh- sembuh)

Tahap III (meliputi diare kronis yang tidak jelas penyebabnya yang berlangsung lebih dari satu bulan, infeksi bakteri yang parah, dan TBC paru-paru), atau

Tahap IV (meliputi Toksoplasmosis pada otak, Kandidiasis pada saluran tenggorokan (oesophagus), saluran pernafasan (trachea), batang saluran paru-paru (bronchi) atau paru-paru dan Sarkoma Kaposi). Penyakit HIV digunakan sebagai indikator AIDS.

2. HIV Melemahkan Sistem Kekebalan Manusia Sasaran penyerangan HIV adalah Sistem Kekebalan Tubuh, terutama adalah sel-sel Limfosit T4. Selama terinfeksi, limfosit menjadi wahana pengembangbiakan virus. Bila sel-sel Limfosit T4 -nya mati, virus akan dengan bebas menyerang sel-sel Limfosit T4 lainnya yang masih sehat. Akibatnya, daya tahan tubuh menurun. Akhirnya sistem kekebalan tak mampu melindungi tubuh, sehingga kuman penyakit infeksi lain (kadang disebut Infeksi Oportunistik / Infeksi Mumpung) akan masuk dan menyerang tubuh orang tersebut. Bahkan kuman-kuman lain yang jinak tiba-tiba menjadi ganas. Kumannya bisa Virus lain, Bakteri, Mikroba, Jamur, maupun Mikroorganisme patogen

lainnya. Penderita bisa meninggal karena TBC, Diare, Kanker kulit, Infeksi Jamur, dll. Bila seseorang telah seropositif terhadap HIV, maka dalam tubuhnya telah mengandung HIV. Dalam jumlah besar HIV terdapat dalam darah, cairan vagina, air mani serta produk darah lainnya. Apabila sedikit darah atau cairan tubuh lain dari pengidap HIV berpindah secara langsung ke tubuh orang lain yang sehat, maka ada kemungkinan orang lain tersebut tertular AIDS. Cara penularan yang paling umum ialah: senggama, transfusi darah, jarum suntik dan kehamilan. Penularan lewat produk darah lain, seperti ludah, kotoran, keringat, dll. secara teoritis mungkin bisa terjadi, namun resikonya sangat kecil.

3. Penularan HIV Bila seseorang telah seropositif terhadap HIV, maka dalam tubuhnya telah mengandung HIV. Dalam jumlah besar HIV terdapat dalam darah, cairan vagina, air mani serta produk darah lainnya. Apabila sedikit darah atau cairan tubuh lain dari pengidap HIV berpindah secara langsung ke tubuh orang lain yang sehat, maka ada kemungkinan orang lain tersebut tertular AIDS. Cara penularan yang paling umum ialah: senggama, transfusi darah, jarum suntik dan kehamilan. Penularan lewat produk darah lain, seperti ludah, kotoran, keringat, dll. secara teoritis mungkin bisa terjadi, namun resikonya sangat kecil.

a. Penularan lewat senggama : Pemindahan yang paling umum dan paling sering terjadi ialah melalui senggama, dimana HIV dipindahkan melalui cairan sperma atau cairan vagina. Adanya luka pada pihak penerima akan sebabnya pelaku

memperbesar kemungkinan penularan. Itulah

senggama yang tidak wajar (lewat dubur terutama), yang cenderung

lebih mudah menimbulkan luka, untuk tertular HIV. b. Penularan lewat transfusi darah :

memiliki kemungkinan lebih besar

Jika darah yang ditranfusikan telah terinfeksi oleh HIV , maka virus HIV akan ditularkan kepada orang yang menerima darah, sehingga orang itupun akan terinfeksi virus HIV. Risiko penularan melalui transfusi darah ini hampir 100 %. c. Penularan lewat jarum suntik : Model penularan lain secara teoritis dapat terjadi antara lain melalui : 1) Penggunaan akupunktur (tusuk jarum), tatoo, tindikan. 2) Penggunaan alat suntik atau injeksi yang tidak steril, sering dipakai oleh para pengguna narkoba suntikan, juga suntikan oleh petugas kesehatan liar. d. Penularan lewat kehamilan : Jika ibu hamil yang dalam tubuhnya terinfeksi HIV , maka HIV dapat menular ke janin yang dikandungnya melalui darah dengan melewati plasenta. Risiko penularan Ibu hamil ke janin yang

dikandungnya berkisar 20% - 40%. Risiko ini mungkin lebih besar kalau ibu telah menderita kesakitan AIDS (full blown). HIV tidak akan menular melalui bersalaman, berpelukan, berciuman, batuk, bersin, memakai peralatan rumah tangga seperti alat makan, telepon, kamar mandi, kamar tidur, gigtan nyamuk, bekerja, bersekolah, berkendaraan bersama, dan memakai fasilitas umum misalnya kolam renang, toilet umum, sauna. HIV tidak dapat menular melalui udara. Virus ini juga cepat mati jika berada di luar tubuh. Virus ini dapat dibunuh jika cairan tubuh yang mengandungnya dibersihkan dengan cairan pemutih (bleach) seperti Bayclin

atau Chlorox, atau dengan sabun dan air. HIV tidak dapat diserap oleh kulit yang tidak luka.

4. HIV mengakibatkan AIDS Infeksi HIV menyebabkan penurunan dan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi penyakit dan dapat menyebabkan berkembangnya AIDS. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih banyak dirusak oleh Virus HIV. Ketika manusia terkena Virus HIV belum tentu terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan. Dengan gaya hidup sehat, jarak waktu antara infeksi HIV dan menjadi sakit karena AIDS dapat berkisar antara 10-15 tahun, kadang-kadang bahkan lebih lama. Terapi antiretroviral dapat memperlambat perkembangan AIDS dengan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam tubuh yang terinfeksi. Ada beberapa tahapan ketika seseorang dikatakan terinfeksi HIV hingga terkena AIDS. Tahapan-tahapan itu antara lain:
1. Tahap 1: Periode Jendela

a) HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah b) Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat c) Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini d) Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan
2. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:

a) HIV berkembang biak dalam tubuh b) Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat c) Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV d) Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)
3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)

a) Sistem kekebalan tubuh semakin turun b) Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll c) Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya
4.

Tahap 4: AIDS a) Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah b) Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

5. Cara Melindungi Diri dari Penularan AIDS Sampai saat ini belum ada jenis obat khusus untuk menyembuhkan orang yamg terkena infeksi HIV/ AIDS. Hanya saja perkembangan virus ini dapat diperlambat. Kombinasi yang tepat antara berbagai obat-obatan antiretroviral dapat memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan menunda awal terjadinya AIDS. Pengobatan dan perawatan yang ada terdiri dari sejumlah unsur yang berbeda, yang meliputi konseling dan tes mandiri (VCT), dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan

IMS, pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral. Dalam suatu sel yang terinfeksi, HIV mereplikasi diri, yang kemudian dapat menginfeksi sel-sel lain dalam tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang diinfeksi HIV, semakin besar dampak yang ditimbulkannya terhadap kekebalan tubuh (immunodeficiency). Obat antiretroviral digunakan dalam pengobatan infeksi HIV. Obat-obatan ini bekerja melawan infeksi itu sendiri dengan cara memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh. Obat-obatan antiretroviral memperlambat replikasi sel-sel, yaitu memperlambat

penyebaran virus dalam tubuh dengan cara mengganggu proses replikasi. Cara yang dilakukan antara lain sebagai berikut : a. Menghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI) HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja reverse transcriptase dengan cara mencegah proses pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut.

b. Menghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI) Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri. Hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi. c. Menghambat Protease (PI) Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus baru. Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain. Penghambat protease mencegah pemecah-belahan protein dan karenanya memperlambat produksi partikel virus baru.

Setiap orang, khususnya remaja harus melindungi diri dari AIDS. Karena kalau seorang remaja tertular HIV, maka keseluruhan cita-cita dan masa depan remaja tersebut hancur lebur. Secara mudah, perlindungan dari AIDS dilakukan dengan cara ABC, ialah: a. [A] : Abstinence) alias PUASA Bagi remaja yang belum menikah. Jauhkan diri dari zina. Onani atau masturbasi, merangsang diri sendiri sehingga puas (orgasmus) sebenarnya kurang baik. Namun resikonya paling kecil. Jadi dalam keadaan yang benar-benar tidak kuasa menahan diri dan tidak mampu berpuasa, onani dapat dijadikan jalan keluar. Asal jangan menjadi kebiasaan. Jangan terlalu sering. b. [B] : Be Faithful alias Setia Pasangan Hidup Bagi mereka yang sudah menikah. Hanya bersenggama dengan pasangan setianya. Sebagian besar satu suami dengan satu istri. Dalam keadaan khusus satu suami dengan 2-4 istri, namun yang penting kesetiaan dari semua pihak, baik istri maupun suami. Di sinipun, bila suami istri berpisah dalam waktu lama, onani merupakan jalan keluar sementara yang paling tidak beresiko.

c. [C] Condom alias Kondom Bagi mereka yang berada dalam keadaan-keadaan khusus, antara lain ialah para suami atau remaja yang tidak kuat puasa atau setia (atau onani), dan masih terdorong melakukan zina. Pemakaian kondom akan melindungi mereka dari penularan PHS dan AIDS, dan melindungi istri atau pacar mereka dari penularan penyakit. Bagi para pelacur, patut ditumbuhkan motivasi memakaikan kondom pada pasangan kencan mereka. Dalam keadaan darurat, misalnya pasangan suami-istri di mana salah satu menderita PHS, juga AIDS, pemakaian kondom amat dianjurkan untuk

10

mencegah pen

ularan AIDS lebih lanjut kepada pasangannya. Yang

penting dalam pemakaian kondom ialah (sambil dipraktekkan) melindungi keseluruhan penis dan dipakai sepanjang proses senggama untuk menghindari sentuhan antara penis dan vagina.

Selain itu, perlindungan yang sangat penting ialah: a) Hindari transfusi, dengan selalu berhati-hati. Bila terpaksa ditransfusi, yakinkan bahwa darah diperiksa yang ditransfusi adalah darah yang telah

oleh Unit Kesehatan Transfusi Darah

(UKTD) PMI sebagai

darah bebas HIV (juga bebas hepatitis, malaria dan sifilis). b) Hindari suntik-menyuntik. Sebagian besar obat sama atau lebih efektif diminum daripada disuntikkan. Bila terpaksa disuntik, yakinkah jarum dan tabung suntiknya baru dan belum dipakai untuk orang lain. c) Berhati-hatilah dalam menolong orang luka dan berdarah. Gunakan prosedur P3K yang baku dan aman. d) Bila ada sesuatu tanda atau gejala yang meragukan, secepatnya periksa ke dokter.

Sikap Gereja terhadap HIV dan AIDS Bagaimanakah sikap gereja berhadapani dengan HIV dan AIDS? Suatu pergumulan yang mengemuka melihat kenyataan penyebaran HIV dan AIDS yang begitu meluas dengan berbagai kompleksitas disekitarnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa gereja sangat lambat melakukan aksinya dalam proses pencegahan penularan penyakit yang dahsyat ni. Sebaliknya gereja lebih banyak berkutat pada masalah dosa dan upah dosa atau hukuman terhadap para pendenita HIV/AIDS. Pada dasarnya siasat gereja adalah suatu disiplin gereja yang mengandung unsurunsur penggembalaan, hukuman dan pertobatan yang bertujuan untuk membina jemaat agar hidup sesuai dengan firman Tuhan.

11

Status sebagal pengidap HIV/AIDS seharusnya tidak boleh menjadi alasan gereja untuk menjalankan siasat gereja karena penggembalaan terhadap para pengidap HIV/AIDS dilakukan dalam rangka pendampingan dan bukan hukuman. Saat ini beberapa gereja sudah mulai melakukan pelayanan terhadap ODHA (Orang Dengan HIV AIDS), tetapi warga gereja belum sepenuhnya mengerti. Gereja juga melakukan seminar-seminar untuk mengubah pandangan lama dan menghimbau warganya, namun tampaknya masih banyak warga gereja yang belum siap. Butuh waktu yang lama untuk mengubah pemahaman mentalitas jemaat gereja.

Refleksi Teologis terhadap HIVdan AIDS Manusia adalah ciptaan Allah yang mewarisi kehidupan yang damal sejahtera ditengah keutuhan ciptaan-Nya. Karena dosa, keutuhan ciptaan Allah menjadi rusak, yang mengakibatkan munculnya fenomena alam yang mengacaukan kehidupan ini (Kejadian.3). Namun karena kasih Allah kepada manusia maka Allah mengutus Yesus Knistus melakukan tindakan penyelamatan, yakn; pembebasan manusia dan segala ancaman maut. (Roma 6:23). HIV/AIDS adalah salah satu fenomena alam yang menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Pendenitanya adalah para korban yang untuknya karya penebusan Yesus harus berlaku. Masyarakat Perjanjian Lama melihat fenomena penyakit yang tidak dapat disembuhkan (penyakit kusta) sebagal akibat dan dosa (lmamat 13). Pemahaman ni masih mempengaruhi pemahaman masyarakat hingga saat ni yakni HIV dan AIDS itu adalah manifestasi dosa dan kutuk (Mazmur 107:17). Sementara Perjanjian Baru memperlihatkan penyakit dan penderitaan adalah sarana untuk menyatakan pekerjaan Allah (Yohanes 9:3). Penyakit yang dianggap kutuk, seperti kusta, termasuk HIV/AIDS bukanlah sesuatu yang membuat manusia semakin terisolir, tetapi membuat manusia semakin menyadari dan percaya akan kehadiran dan peran Allah dalam tiap penistiwa kehidupan (Matius 8: 1-4; Matius 9:27-31). Terbukti bahwa pada akhirnya ilmu pengetahuan menemukan pengobatan

12

penyakit kusta. Memposisikan HIV dan AIDS dalam konteks ni dimana suatu saat akan ada obat untuk HIV/AIDS. Refleksi Teologis haruslah bersandar kepada Alkitab. Tapi Bagaimana kita menghubungkan persoalani sehari-hari, apakah harus selalu berhubungan dengan ayat-ayat di Alkitab?.Kita harus belajan bahwa kita tidak harus mengutip satu ayat dan menjadikannya semacam obat mujarab. Khususnya didalam membangun etika hidup haruslah dilihat konteksnya. Kalau kita menolak konteks dan nasihat Alkitab kita akan mendapat masalah. Disisi lain kita juga tidak bisa hanya mengikat din ke konteks saja, karena disatu sisi ada perintah moral yang sangat mengikat kepada satu konteks, tetapi ada pula yang benlaku kepada semua konteks. Sebagai contoh, seorang sopir menabnak seorang anak kecil den meninggal. Sang sopir mengatakan ni adalah kehendak Allah dan seolah-olah bukan tanggung jawab die dan mengatakan Tuhan yang membuat itu terjadi. Padahal sesungguhnya setiap orang memiliki kebebasan dan tanggung jawab dalam hidupnya. Dalam keadaan sulit ODHA bisa saja berteriak "Mengapa Tuhan meninggalkan aku?, mengapa ml terjadi padaku?" Ayub adalah contph seorang yang sekalipun menggugat Allah, tetapi bergantung kepada Allah, karena suatu keyakmnan akan kehadiran dan peran Allah dalam kehidupannya. ODHA bisa merasakan dirinya sebagai korban yang diharapkan dalam cerita orang Samania. Dalam etika kehidupan bermasyarakat kita tidak bisa mengambil dan menerapkan kata-kata Alkitab bendasarkan ape yang tentulis ayat pen ayat. Kite bisa mengeluh kepada Tuhan, kita akan menemukan pertanyaan yang tidak terjawab, tidak boleh ada diskriminasi, kita harus bersikap sepenti onang Samaria. Menerapkan Refleksi Teologis sebagal agenda gereja dalam menangani HIV/AIDS ada tiga alamat yang menjadi target sasanan : 1. Khalayak umum dan warga gereja pada khususnya

13

2. KeIuarga dan Lingkungan dimana ada ODHA, yaltu dengan mengubah orientasi pertanyaan dari "Mengapa kamu sakit?" menjadi "Bagaimana

menanggulangi penyakit?" 3. ODHA sendiri, yaitu dengan melakukan harm reduction atau pengurangan dampak buruk dengan pendampingan serta merangkul mereka dengan penuh cinta kasih sebagal makhluk yang bermartabat.

14

Pandangan saya tentang HIV / AIDS :

Dalam pandangan kita mungkin ODHA (orang dengan HIV/AIDS) adalah sesosok orang yang menyeramkan , suka narkoba, seks bebas, pergaulan yang bebas dsb sehingga mereka terkena penyakit ini. Karena ketakutan itulah yang membuat kita antipati dengan para ODHA. Tanpa kita sadari orang ODHA adalah orang yang rapuh. Baik fisik maupun mentalnya . Rapuh fisik karena virus HIV yang terus mengerogoti tubuhnya dan rapuh mental karena kecil hatinya dikucilkan banyak orang. ODHA sangat membutuhkan dukungan, motivasi dan semangat untuk hidup. Sebagai makhluk sosial sudah sepantasnya kita membantu para ODHA supaya mempunyai semangat hidup bukan justru mengucilkan mereka. Yang harus kita hindari itu virusnya bukan orangnya. Supaya kita terhindar dari virus HIV tersebut , kita harus pandai-pandai menjaga diri dari yang namanya free sex, narkoba, pergaulan bebas dan hal-hal yang bisa menularkan virus tersebut. Karena sekali kita terkena virus itu , kita tidak bisa keluar dari permasalahan ini. Sayang sekali kalau masa depan kita hilang hanya karena virus ini.