Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan modal dasar untuk membangun suatu bangsa
yang maju. Dalam hal ini pendidikan berperan membentuk kader-kader bangsa
yang berkualitas dan mampu bersaing dalam era globalisasi seperti sekarang ini.
Untuk mencapai hal tersebut diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari
pemerintah dan semua pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dalam
rangka peningkatan mutu pendidikan nasional.
Peningkatan mutu pendidikan nasional dapat dilakukan apabila para
siswa menguasai pengetahuan umum minimum. Menurut Suherman (2003: 60)
pengetahuan umum minimum itu di antaranya adalah matematika. Oleh sebab itu
pemerintah menjadikan matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang
diujikan pada ujian nasional.
Sebagai salah satu pelajaran yang diujikan pada ujian nasional,
matematika memiliki beberapa permasalahan salah satunya adalah proses
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran matematika sering dijumpai kesalahan
dalam memahami suatu konsep matematika. Kesalahan pemahaman konsep ini
akan mengakibatkan siswa kesulitan dalam mempelajari konsep-konsep
selanjutnya, ini dikarenakan matematika memiliki keterkaitan antar konsep yang
satu dengan yang lain.
2
Telah diakui secara luas bahwa pemahaman konsep matematika memiliki
peran yang cukup besar bagi siswa dalam hal motivasi, penampilan dan
kecakapannya dalam bidang matematika yang menunjang prestasi belajar siswa.
Oleh karenanya, wajar jika guru mempunyai keyakinan intervensi dengan
siswanya melalui peningkatan pemahaman konsep matematika untuk prestasi
belajar siswa yang lebih baik.
Kesalahan pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika dapat
terjadi dari dua pihak, yakni guru maupun siswa (Karimah: 2009). Kesalahan dari
pihak guru antara lain, kurang menguasai inti materi dari pokok bahasan yang
diajarkan, tidak adanya media atau alat peraga yang dapat membantu
penyampaian konsep matematika secara jelas. Kemungkinan kesalahan konsep
matematika yang disebabkan oleh siswa antara lain, siswa salah menerima
terhadap pengertian dasar atau konsep dari suatu pokok bahasan yang disajikan
oleh guru, kurang berminat terhadap pelajaran matematika, cenderung hanya
menghapal, tidak berusaha memahami rumus-rumus maupun contoh penyelesaian
soal yang ada, bawaan siswa itu sendiri baik dari sekolah ataupun dari kelas
sebelumnya.
Kesalahan pemahaman konsep matematika juga dapat terjadi akibat
jumlah siswa dalam kelas terlalu banyak. Jumlah siswa yang paling ideal agar
terciptanya pembelajaran yang kondusif yaitu 20-30 siswa, tetapi sekolah-sekolah
yang ada di Banten khususnya daerah Serang rata-rata memiliki siswa lebih dari
40 orang, salah satunya adalah SMP Informatika.
3
SMP Informatika adalah suatu sekolah menengah pertama yang memiliki
jumlah siswa lebih dari 45 orang dalam satu kelasnya, ini sudah jauh dari kondisi
ideal. Guru-guru yang mengajar di SMP Informatika merasa kesulitan untuk
memberikan pemahaman kepada para siswa secara merata, ditambah lagi
kurangnya motivasi belajar dari siswa. Kondisi ini mengakibatkan prestasi belajar
matematika di SMP informatika masih rendah yaitu 65 (data guru SMP
Informatika tahun 2010 ).
Bertolak dari permasalahan tersebut, maka diperlukan alternatif metode
pembelajaran yang cocok diterapkan pada suatu kelas yang memiliki jumlah siswa
yang banyak. Metode pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada semua
siswa untuk dapat memahami konsep matematika secara merata, sekaligus dapat
meningkatkan motivasi belajar para siswa, salah satu metode pembelajaran
tersebut adalah Tutor Sebaya.
Tutor sebaya adalah suatu pembelajaran yang dilakukan oleh siswa
(Tutor) yang memiliki prestasi akademik yang lebih baik dan hubungan sosial
yang memadai untuk membantu teman-temannya yang memiliki prestasi
akademik yang lebih rendah (Rahmawati: 2008). Metode pembelajaran tutor
sebaya ini diplih atas dasar siswa lebih terbuka dengan teman sendiri
dibandingkan dengan gurunya, sehingga diharapakan para siswa yang belum
memahami konsep yang diajarkan dapat langsung bertanya kepada tutor.
Kelebihan lain metode tutor sebaya dapat menciptakan hubungan yang
saling menentukan dan membutuhkan antara guru, siswa yang presetasi belajar
matematikanya lebih tinggi dan siswa yang prestasi belajarnya lebih rendah.
4
Kondisi ini dapat meminimalisir kesenjangan yang terjadi antara siswa yang
prestasinya lebih rendah dengan siswa yang prestasinya lebih tinggi dalam suatu
kelas. Selanjutnya semua siswa akan termotivasi dalam belajar matematika dan
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Sehingga jumlah siswa
yang banyak bukan lagi menjadi suatu masalah untuk menciptakan kondisi belajar
yang kondusif dan menyenangkan.
Banyak penelitian tentang pembelajaran tutor sebaya yang telah
dilakukan dikalangan pendidik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Antonius
(2007) menyimpulkan bahwa pengunaan metode pembelajaran tutor sebaya dapat
meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa. Penelitian yang dilakukan
oleh Febrian (2008) mengenai penggunaaan metode tutor sebaya menyimpulkan
bahwa metode tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep
matematika siswa SMP pada materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan.
Berdasarkan beberapa informasi yang diuraikan di atas, maka penelitian
ini akan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya sebagai upaya untuk
meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang
selanjutnya diharapkan akam meningkatkan prestasi belajar siswa SMP
Informatika.
5
B. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH
A. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah pokok yang merupakan
pertanyaan penelitian adalah:
a. Apakah metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan
kemampuan pemahaman konsep matematika siswa?
b. Bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran tutor sebaya?
B. Batasan Masalah
Pada penelitian ini penulis membatasi masalah pada pembelajaran
matematika pada pokok bahasan Teorema Phytagoras
C. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini
bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemahaman konsep konsep
matematika siswa dengan pembelajaran tutor sebaya.
2. Untuk mengetahui sikap siswa terhadap pengajaran metematika dengan
metode pembelajaran tutor sebaya.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Guru
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai rujukan bagi pendidik dan
pengajar dalam upaya menyelenggarakan pembelajaran yang inovatif
6
dan dapat diaplikasikan untuk mengembangkan model-model
pembelajaran lebih lanjut.
2. Bagi Siswa
a. Proses pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman konsep dan
kemampuan dalam bidang matematika maupun secara umum
kemampuan mengatasi permasalahan dalam hidupnya.
b. Siswa lebih termotivasi untuk belajar matematika
c. Siswa lebih terbuka kepada teman sebayanya, sehingga mau
berperan dalam kelompoknya.
3. Bagi Sekolah
Dengan adanaya penelitian ini, proses pembelajaran di sekolah
dapat meningkat, sehingga kemampuan dan prestasi siswa semakin
baik serta kualitas sekolah semakin meningkat.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika pada dasarnya menganut: prinsip belajar
sepanjang hayat, prinsip siswa belajar aktif, dan prinsip learning how to
learn (Sumarmo, 2010: 14). Prinsip siswa belajar aktif, merujuk pada
pengertian belajar sebagai sesuatu yang dilakukan oleh siswa, dan bukan
sesuatu yang dilakukan terhadap siswa.
Pernyataan tersebut menganut pandangan konstruktivisma bahwa
siswa sebagai individu yang aktif membangun pengetahuan dan bukan sekadar
penerima informasi yang sudah jadi. Dalam pandangan konstruktivisme
belajar merupakan suatu proses, situasi, dan upaya yang dirancang guru
sedemikian rupa sehingga membuat siswa belajar sesuai dengan prinsip
learning how to learn. Dengan kata lain, dalam pembelajaran guru berperan
sebagai fasilitator, motivator, dan manajer belajar bagi siswanya.
Tugas guru adalah memilih informasi/tugas/masalah baru yang
berkaitan dengan pengetahuan awal siswa, dan menciptakan lingkungan
belajar (peran sebagai fasilitator) agar terjadi interaksi antara informasi baru
dengan pengetahuan awal (kondisi tak seimbang). Kemudian guru membantu
siswa agar melalui akomodasi dan asosiai terjadi keseimbangan baru (peran
sebagai motivator) sehingga terbentuk pengetahuan baru pada siswa. Kegiatan
guru memilih informasi (tugas) baru, menciptakan lingkungan, dan
8
memotivasi siswa secara keseluruhan menggambarkan peran guru sebagai
manager belajar.
UNESCO merinci prinsip learning how to learn pada empat pilar
pendidikan sebagai berikut (Sumarmo, 2010: 14).
1. Belajar memahami (Learning to know) Belajar memahami pengetahuan
matematika (konsep, prinsip, idea, teorema, dan hubungan di antara
mereka).
2. Belajar berbuat atau melaksanakan (Learning to do) Belajar melaksanakan
proses matematika (sesuai dengan kemampuan dasar matematika jenjang
sekolah yang bersangkutan)
3. Belajar menjadi diri sendiri (Learning to be) Belajar menjadi dirinya
sendiri, belajar memahami dan menghargai produk dan proses matematika
dengan cara menunjukkan sikap kerja keras, ulet, disiplin, jujur,
mempunyai motif berprestasi dan disposisi matematik
4. Belajar hidup dalam kebersamaan (Learning to live together). Belajar
memahami orang lain, bekerja sama, menghargai dan memahami pendapat
yang berbeda, serta saling menyumbang pendapat.
B. Tutor Sebaya
Sekolah memiliki banyak potensi yang dapat ditingkatkan efektifitasnya
untuk menunjang keberhasilan suatu program pengajaran. Potensi yang ada di
sekolah, yaitu semua sumber-sumber daya yang dapat mempengaruhi hasil
dari proses belajar mengajar. Keberhasilan suatu program-program
9
pengajaran tidak disebabkan oleh satu macam sumber daya, tetapi disebabkan
oleh perpaduan antara berbagai sumber-sumber daya saling mendukung
menjadi satu sistem yang integral (Wijaya, dkk: 1988).
Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru. Sumber belajar
dapat orang lain yang bukan guru, melainkan teman dari kelas yang lebih
tinggi, teman sekelas, atau keluarganya di rumah. Sumber belajar bukan guru
dan berasal dari orang yang lebih pandai disebut tutor. ada dua macam tutor,
yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang
lebih pandai, dan tutor kakak adalah tutor dari kelas yang lebih tinggi
(Harsunarko, 1989: 13).
Sehubungan dengan itu ada beberapa pendapat mengenai tutor sebaya,
diantaranya adalah: Supriyadi, Dedi (1985: 36) mengemukakan bahwa tutor
sebaya adalah seorang atau beberapa orang peserta didik yang ditunjuk dan
ditugaskan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.
Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih tinggi.
Ischak dan Warji (1987: 44) mengemukakan bahwa tutor sebaya adalah
sekelompok peserta didik yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran,
memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam
memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya. Semiawan, Conny, dkk
(1987: 70) mengemukakan bahwa peserta didik yang pandai dapat
memberikan bantuan belajar kepada peserta didik yang kurang pandai.
Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman-teman sekelasnya di luar
sekolah. Mengingat bahwa peserta didik adalah unsur pokok dalam
10
pengajaran maka peserta didiklah yang harus menerima dan mencapai
berbagai informasi pengajaran yang pada akhirnya dapat mengubah tingkah
lakunya sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, maka peserta didik harus
dijadikan sebagai sumber pertimbangan didalam pemilihan sumber
pengajaran (Sudirman, dkk. 1987: 210).
Tutor sebaya adalah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya
yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman
sekelasnya di sekolah. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat
menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami,
dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya
untuk bertanya ataupun minta bantuan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Longstreth (Muntasir, dkk. 1985: 82-83) tentang hubungan anak dengan anak,
sebagai berikut:
Interaksi kawan membukakan mata anak terhadap pola
tingkah laku yang berlaku dalam kebudayaan itu, dan yang
sering dilakukan; dan dengan demikian ia condong untuk
mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku yang dipakai untuk
pergaulan yang berlaku....
Tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman
yang justru sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri. Dalam
persiapan ini antara lain mereka berusaha mendapatkan hubungan dan
pergaulan baru yang mantap dengan teman sebaya, mencari perannya sendiri,
mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep yang penting,
mendapatkan tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial (Dinkmeyer,
1985: 164-165). Dengan demikian beban yang diberikan kepada mereka akan
11
memberi kesempatan untuk mendapatkan perannya, bergaul dengan orang-
orang lain dan bahkan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.
Prosedur penyelenggaraan tutor sebaya menurut Branley (1974: 53) ada
tiga model dasar dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan tutor,
yaitu:
1. Tutor to student
2. Group to tutor
3. Student to student
Adapun penyebaran dari tiga model ini adalah sebagai berikut:
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Dalam pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya, Si tutor
hendaknya Tutor adalah peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih
dibandingkan dengan teman-teman pada umumnya, sehingga pada saat ia
memberikan pengayaan atau membimbing teman-temannya ia sudah
menguasai bahan yang akan disampaikan kepada teman-teman lainnya.
siswa
siswa
siswa
siswa
d
siswa
tutor
tutor
grup
siswa
siswa
siswa
siswa
tutor
12
C. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika
1. Pengertian kemampuan pemahaman konsep matematika
Pemahaman merupakan salah satu daerah ranah kognitif dari
Taksonomi Bloom. Menurut Sudijono (2005: 50) menyatakan bahwa
pemahaman (comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk
mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat.
Seorang siswa dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan
penjelasan atau memberi uraian lebih rinci tentang hal itu dengan
menggunakan kata-katanya sendiri. Tahap pemahaman sifatnya lebih
kompleks dari pada tahap pengetahuan. Untuk dapat mencapai tahap
pemahaman terhadap suatu konsep matematika, siswa harus mempunyai
pengetahuan terhadap konsep tersebut.
Ruseffendi (2006: 24) menyatakan bahwa tujuan pendidikan daerah
kognitif itu dibagi ke dalam 6 aspek, salah satunya aspek pemahaman
(comprehension). Siswa bila mengerti tentang sesuatu maka dia telah
memahami sesuatu. Kemampuan pemahaman matematika dapat diartikan
sebagai kesanggupan atau kemampuan siswa dalam memahami atau
mengerti tentang matematika baik ketika guru sedang menerangkan materi
ataupun dalam bentuk soal yang diberikan.
Skemp (Sumarmo, 1987: 24) membedakan dua jenis kemampuan
pemahaman konsep matematika yaitu pemahaman instrumental dan
pemahaman relasional. Pemahaman instrumental sejumlah konsep
diartikan sebagai pemahaman atas konsep yang saling terpisah dan hanya
13
hafal rumus dalam perhitungan sederhana. Sebaliknya dalam pemahaman
relasional termuat suatu skema atau struktur yang dapat digunakan pada
penyelesaian berbagai masalah yang lebih luas, dalam pemahaman
relasional, sifat pemakaiannya lebih bermakna.
Sedangkan menurut bloom (Sunardi, 1993: 23) yang dimaksud dengan
pemahaman adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti
mampu mengungkapkan suatu materi yang dapat disajikan kedalam bentuk
yang dapat dipahami, mampu memberikan interpretasi dan mampu
mengklasifikasikan Bloom (Ruseffendi, 1991: 221) membedakan tiga
jenis pemahaman yaitu : (1) Translation (pengubahan), yaitu pengalihan
dari bahasa konsep ke dalam bahasa sendiri atau pengalihan dari konsep
abstrak ke suatu model atau simbol, misalnya mampu mengubah soal kata-
kata ke dalam simbol atau sebaliknya. (2) Interpretation (mengartikan),
yaitu menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui
berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan
kejadian, membedakan yang pokok dengan bukan pokok, misalnya mampu
mengartikan suatu kesamaan. (3) Extrapolation (perkiraan), misalnya
mampu memperkirakan suatu kecenderungan atau gambar. Dengan
ekstrapolasi diharapkan seseorang mampu melihat dibalik yang tertulis,
dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas
persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus ataupun masalah.
Untuk memahami suatu objek secara mendalam, Michener (Sumarmo,
1987: 24) mengatakan bahwa seorang harus mengetahui : (1) objek itu
14
sendiri, (2) relasi dengan objek lain yang sejenis, (3) relasinya dengan
objek lain yang tak sejenis, (4) relasi-relasi dengan objek lainnya yang
sejenis, dan (5) relasi dengan objek dalam teori lainnya.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan kemampuan pemahaman
konsep matematika adalah kemampuan dalam mengenal, memahami dan
menerapkan suatu konsep matematika secara tepat sebelum menganalisis
lebih lanjut.
Kemampuan pemahaman konsep matematika yang akan dikaji pada
penelitian ini mencakup kemampuan mengingat, menerapkan konsep dan
rumus, dan memecahkan suatu masalah.
2. Indikator yang menunjukan kemampuan pemahaman konsep
matematika
Indikator yang menunjukkan kemampuan pemahaman konsep
matematika (Depdiknas: 2006) antara lain:
a. Menyatakan ulang sebuah konsep
b. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai
dengan konsepnya)
c. Memberikan contoh dan non-contoh dari konsep
d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi
matematis
e. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep
f. Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi
tertentu
15
g. Mengaplikasikan konsep secara algoritma.
Menurut NCTM (Rostika, 2007: 15) indikator untuk mengetahui
kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dapat dilihat dari
kemampuan siswa dalam :
a. Mendefinisikan secara verbal dan tulisan
b. Mengidentifikasi dan membuat contoh
c. Menggunakan model, diagram dan simbol-simbol untuk
merepresentasikan suatu konsep
d. Mengubah suatu bentuk representasi kebentuk yang lainnya
e. Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep
f. Mengidentifikasi sifat suatu konsep
g. Membandingkan dan membeda-bedakan konsep-konsep
Penelitian ini akan menggunakan indikator yang dikemukakan
Depdiknas, karena indikator ini lebih kongkrit dan lebih cocok untuk
mengukur peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika
siswa SMP. Adapun indikator yang akan digunakan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
a. Kemampuan menyatakan ulang suatu konsep ; indikator ini dipilih
karena dapat menuntut siswa untuk memahami dasar suatu konsep
yang akan dipelajari. Kemampuan pemahaman konsep siswa akan
benar benar tertanam dengan baik apabila siswa dapat
mendefinisikan (menyatakan ulang) suatu konsep. Contoh soal
16
untuk mengukur kemampuan menyatakan ulang suatu konsep ini
adalah :
Pertanyaan : Jelaskan definisi dalil Phytagoras!
Jawaban : Dalil Phytagoras didefinisikan sebagai kuadrat sisi
miring sebuah segitiga siku-siku yang sama dengan jumlah kuadrat
panjang sisi yang lainya
b. Kemampuan mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifatnya
(sesuai dengan konsepnya) ; indikator ini dipilih karena dapat
menuntut siswa untuk mampu membedakan objek-objek sesuai
dengan konsep yang mereka pelajari.
Contoh soal untuk dapat mengukur mengklasifikasi objek-objek
menurut sifat-sifatnya ini adalah :
Pertanyaan : Perhatikan gambar segitiga siku-siku ABC di bawah
ini!
Berdasarkan dalil Phytagoras tentukan rumus-rumus untuk
mencari panjang AC, AB dan BC!
Jawab :
* Rumus untuk mencari panjang AB
AC
2
= BC
2
+ AB
2
AB
2
= AC
2
- BC
2
2 2
AB AC BC =
A
C B
17
* Rumus untuk mencari panjang BC
AC
2
= BC
2
+ AB
2
BC
2
= AC
2
- AB
2
* Rumus untuk mencari panjang AC
AC
2
= BC
2
+ AB
2
c. Kemampuan memberikan contoh dan non-contoh dari suatu
konsep; indikator ini dipilih karena dapat menuntut siswa untuk
dapat membedakan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep.
Siswa yang telah memahami konsep dasar suatu materi akan
dengan mudah untuk membedakan yang termasuk contoh dan
bukan contoh dari suatu materi.
Contoh soal untuk dapat mengukur kemampuan memberikan
contoh dan non-contoh ini adalah :
Pertanyaan :perhatikan tiga buah bilangan dibawah ini.
Bilangan-bilngan ini menyatakan pajang sisi-sisi suatu segitiga.
Tentukan bilangan mana yang merupakan contoh sisi-sisi suatu
segitiga siku-siku!
a. 8, 6, dan 4 b. 4, 5, dan 6
Jawab : untuk bilangan 8, 6 dan 4 berarti sisi terpanjangnya 8
Apakah 8
2
= 6
2
+ 4
2
64 = 36

+ 16
Ternyata, 64 = 52 (kalimat salah)
2 2
BC AC AB =
2 2
AC BC AB = +
18
Jadi 8,6 dan 4 bukan merupakan sisi pada segitiga
d. Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk
representasi matematis; indikator ini dipilih karena dapat
menuntut siswa untuk dapat mengembangkan konsep-konsep
yang telah mereka pelajari. Ini akan membantu untuk pendalaman
konsep siswa. Contoh soal yang dapat mengukur kemampuan
menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis
ini adalah:
Pertanyaan : pada balok ABCD.EFGH di samping, AB = 8 cm,
BC = 6 cm dan CG = 15 cm. Hitunglah panjang AC!
Jawab : ABC A siku-siku di titik B, maka:
2 2 2
2 2 2
6 8 + =
+ =
AC
BC AB AC
36 64
2
+ = AC
100
2
= AC
10 100 = = AC
Jadi panjang AC = 10 cm
E
C
D
F
A
B
G
8 cm
6 cm
H
15 cm
19
e. Kemampuan menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau
operasi tertentu; indikator ini dipilih karena menuntut siswa untuk
dapat memanfaatkan pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya
dalam pemecahan masalah matematika dengan memilih prosedur atau
operasi tertentu yang sesuai dalam pemecahan masalah tersebut.
Contoh soal yang dapat mengukur kemampuan menyajikan konsep
dalam berbagai bentuk representasi matematis ini adalah:
Pertanyaan : sebuah tangga yang panjangnya 5 m bersandar pada
tembok. Jarak ujung bawah tangga terhadap tembok tersebut adalah 3
m. Berapakah tinggi ujung atas tangga dari lantai?
Jawab:
2 2 2
BC AB AC + =
2 2 2
3 5 BC + =
2
9 25 BC + =
2
9 25 BC =
2
16 BC =
16 = BC
4 = BC Jadi panjang BC adalah 4 cm
5 m
3 m
20
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VIII-A SMP
Informatika Serang semester I (satu) tahun pelajaran 2011/2012 yang
berjumlah 49 siswa.
B. Setting penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Informatika Serang pada kelas VIII-A,
sedangkan waktu pelaksanaannya pada semester I (satu) tahun pelajaran
2011/2012.
C. Metode Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan
pemahaman konsep matematika siswa di kelas VIII A SMP Informatika
Serang. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu upaya pembelajaran
tutor sebaya sebagai sebuah solusi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini memilih menggunakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yang
beusaha mengkaji dan merefleksikan suatu pendekatan pembelajaran di kelas.
Proses pembelajaran tidak lepas dari adanya interaksi antara guru dengan
siswa, ruangan kelas, materi dan simber belajar yang digunakan, sehingga
dalam penelitian ini keseluruhannya ditujukan untuk peningkatan prestasi
belajar siswa selama proses belajar mengajar berlangsung
21
D. Desain Penelitian
Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini, sebagaimana lazimnya
dalam penelitian tindakan yaitu berbentuk siklus. Secara operasional tahap-
tahap kegiatan yang ditempuh pada tiap siklus tindakan meliputi empat
kegiatan, yaitu: (1) tahap perencanaan tindakan (Plan). (2) tahap pelaksanaan
atau tindakan (Action). (3) tahap kegiatan pengamatan (Observation). (4) tahap
kegiatan perenungan (Reflective).
Siklus dalam penelitian kelas digambarkan dalam bentuk spiral, seperti
ditunjukkan dalam gambar berikut:
Siklus I
Siklus II
Siklus selanjutnya
Gambar 3.1: Siklus penelitian tindakan kelas
Plan
Reflektive
Action &
Observation
Plan
Action &
Observation
Reflektive
22
Untuk lebih memperjelas kegiatan tiap siklus maka disajikan tabel berikut :
Tabel 3.1
Tahapan Penelitian Tindakan Kelas dan Indikator Setiap Siklus
Siklus I Perencanaan 1. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan
dalam PBM (Proses Belajar Mengajar) yaitu dengan
metode pembelajaran Tutor Sebaya
2. Menetukan pokok bahasan yaitu Teorema Pythtagoras
3. Mempersiapkan rencana pembelajaran
4. Menyiapkan sumber belajar
5. Mempersiapkan format observasi pembelajaran
Tindakan 1.Menerapkan tindakan yang mengacu pada perencanaan
pembelajaran yang telah disiapkan
2.Melakukan evaluasi yaitu dalam bentuk tes kemampuan
pemahaman yang berbentuk uraian
Pengamatan Melakukan observasi dengan memakai format observasi
Refleksi 1. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan
2. Menganalisis data hasil evaluasi
3. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil analisis,
untuk digunakan pada siklus berikutnya
Siklus II Perencanaan 1. Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan
masalah
2. Merencanakan rencana pembelajaran untuk siklus II
3. Menentukan pokok bahasan
23
4. Mengembangkan rencana pembelajaran
5. Menyiapkan sumber belajar dan buku paket
6. Mempersiapkan format observasi pembelajaran
Tindakan 1. Pelaksanaan program tindakan II
2. Melakukan evaluasi yaitu dalam bentuk tes kemampuan
pemahaman dalam bentuk uraian
Pengamatan 1. Melakukan observasi dengan memakai format observasi
2. Pengumpulan data tindakan yang telah dilakukan
Refleksi Evaluasi Tindakan II
Penelitian ini dikatakan berhasil jika :
1. Adanya peningkatan dari siklus satu ke siklus berikutnya. Peningkatan siklus satu
ke siklus dua dilihat dari hasil tes pemahaman.
2. Sudah diperoleh data dari instrumen penelitian yang disiapkan
3. Daya serap siswa sudah mencapai lebih dari 70% dan Nilai rata-rata tes
kemampuan pemahaman konsep siswa lebih dari 60
E. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan
data adalah sebagai berikut:
1. Lembar Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran langsung mengenai
aktivitas siswa siswa dan guru selama proses pembelajaran dengan
menggunakan metode tutor sebaya. Data observasi ini juga sebgai alat bantu
24
untuk menganalisis dan merefleksikan setiap tahapan pembelajaran, sehingga
perbaikan-perbaikan untuk tindakan selanjutnya dapat dilaksanakan.
2. Angket
Angket yang digunakan pada penelitian ini adalah untuk mengukur sikap
siswa terhadap pembelajaran matematika dan juga profesi guru. Bentuk angket
yang digunakan yaitu angket berstruktur dengan menggunakan model skala
likert
3 . Foto dan Video
Foto dan Video untuk merekam kejadian penting selama pembelajaran
dan sebagai bukti tersirat bahwa penelitian ini dilaksanakan.
4. Lembar penilaian proses pembelajaran
Lembar penilaian proses pembelajaran berfungsi untuk menilai secara
keseluruhan, baik membuka pembelajaran, metode dan media yang digunakan,
maupun sikap siswa terhadap pembelajaran matematika pada setiap pertemuan.
5. Tes Pemahaman Konsep
Menurut Bukhori, Muchtar dalam Arikunto (2006: 32) tes adalah
percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada tidaknya hasil-hasil pelajaran
tertentu pada seorang siswa atau kelompok siswa
Tes pemahaman konsep matematika yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah tes dalam bentuk uraian (subyektif). Dengan tes uraian
siswa dituntut untuk lebih berfikir, sehingga kemampuan siswa dalam
mengerjakan soal matematika terlihat dengan jelas.
25
Menurut Suherman (2003: 67) dan Arikunto (2006: 162) tes subjektif
mempunyai kelebihan yaitu :
1. Mudah disiapkan
2. Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-
untungan
3. Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun
dalam bentuk kalimat yang bagus
4. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya
dengan gaya bahasa dan caranya sendiri
5. Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang
diteskan
Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat ukur harus memenuhi
persyaratan tes antara lain memiliki validitas dan reliabilitas (Arikunto,
2006:57). Maka sebelum digunakan soal tersebut diuji coba untuk mengetahui
apakah soal tersebut memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, selain itu
juga untuk mengetahui tingkat kesukaran dan daya pembeda soal.
1. Uji Validitas
Sebelum soal diujicobakan secara empiris, maka peneliti menggunakan
validitas muka terlebih dahulu. Validitas muka dilakukan dengan
mendiskusikan soal yang akan disajikan tes kepada teman, guru matematika,
dan pembimbing. Dari hasil diskusi diperoleh perbaikan-perbaikan baik itu dari
segi isi maupun perbaikan redaksi atau penulisan kalimat. Kemudian soal
tersebut diujicobakan secara empiris di kelas VIII SMP Informatika.
26
Suatu alat evaluasi disebut valid apabila alat tersebut mampu
mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi (Suherman, 2003: 135). Adapun
rumus yang digunakan untuk menentukan koefisien validitas adalah rumus
korelasi produk moment memakai angka kasar yaitu:
xy
r =
( )( )
( ) ( ) ( ( )




2
2
2
2
Y Y N X X N
Y X XY N
Arikunto (2006: 72)
Keterangan
X = Nilai hasil uji coba
Y = Nilai formatif
N = Banyaknya subyek
xy
r = Koefisien korelasi antara variabel X dan Y
Kategori kevalidannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.2
Klasifikasi Interpretasi Validitas Soal
Koefisien Validitas Klasifikasi
0,80
xy
r < s
1,00
Sangat Tinggi
0,60
xy
r < s
0,80
Tinggi
0,40
xy
r < s
0,60
Sedang
0,20
xy
r < s
0,40
Rendah
0,00
xy
r < s
0,20
Sangat Rendah
(Arikunto, 2006: 75)
27
Tabel 3.3
Hasil uji validitas soal
Item Soal Besarnya r
xy
Interpretasi
1
2
3
4
0.8
0.83
0.79
0.69
Validitas sangat tinggi
Validitas sangat tinggi
Validitas tinggi
Validitas tinggi
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu alat evaluasi yang selalu konstan.
Suherman (2003 :197) mengatakan, reliabilitas suatu alat evaluasi maksudnya
suatu alat yang memberikan hasil yang tetap sama. Dalam penelitian ini,
reliabilitas akan dicari dengan menggunakan rumus Alpha yaitu:
11
r
=
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|


2
1
2
1
1
1 s
s
n
n
(Riduwan, 2009: 115)
Keterangan:
n = Banyak butir soal

2
1
s = Jumlah varians skor setiap butir soal
2
1
s = Varians skor total
11
r = koefisien reliabilitas
Interpretasi reliabilitas sesuai dengan aturan J.P Guilford (Suherman, 2003:
177) yang disajikan dalam tabel berikut:
28
Tabel 3.4.
Klasifikasi Interpretasi Reliabilitas Instrumen
Besarnya r
11
Interprestasi
r
11
0.20
0.20 < r
11
0.40
0.40 < r
11
0.60
0.60 < r
11
0.80
0.80 < r
11
1.00
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Tinggi sekali
(Suherman, 2001: 156)
Tabel 3.5
Hasil Uji Reliabilitas Instrumen
Besarnya r
11
Interprestasi
0.729031
Tinggi
3. Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran suatu butir soal bisa dinyatakan dengan indeks
kesukaran. Dalam membuat soal diharapkan jangan terlalu sukar dan jangan
terlalu mudah. Untuk menghitung tingkat kesukaran dari suatu soal maka
digunakan rumus:

SMI
X
TK

=
Keterangan:
TK = Tingkat kesukaran
29

X = Rata-rata skor
SMI = Skor maksimal ideal
Dengan klasifikasi indeks kesukaran dalam Surapranata (2005: 21)
adalah sebagai berikut:
Tabel 3.6
Klasifikasi Tingkat Kesukaran
Nilai TK Interpretasi
TK < 0.3 Sukar
0.3 TK 0.7 Sedang
TK> 0.7 Mudah
Surapranata (2005: 21)
Tabel 3.7
Hasil Uji Tingkat Kesukaran
Item Soal Besarnya r
xy
Interpretasi
1
2
3
4
0.588
0.594
0.348
0.154
Sedang
Sedang
Sedang
Sukar
4. Daya pembeda Soal
Untuk menghitung koefisien daya pembeda tiap butir soal, digunakan
rumus:
30
DP =
SMI
X X
B A
__ __

Keterangan:
DP = Daya Pembeda
A
X = Rata-rata skor kelompok atas
B
X = Rata-rata skor kelompok bawah
SMI = Skor maksimal ideal
Klasifikasi Daya Pembeda berdasarkan koefisien Daya Pembeda pada tabel
3.7 (Suherman, 2003: 202) adalah:
Tabel 3.8
Klasifikasi Daya Pembeda
Daya Pembeda Klasifikasi
DP s 0.00 Sangat jelek
0.00 < DP s 0.20 Jelek
0.20 < DP s 0.40 Cukup
0.40 < DP s 0.70 Baik
0.70 < DP s 1.00 Sangat baik
(Suherman, 2003: 202)
31
Tabel 3.9
Hasil Uji Daya Pembeda
Item Soal Besarnya r
xy
Interpretasi
1
2
3
4
0.511
0.733
0.511
0.267
Baik
Sangat Baik
Baik
Cukup
F. Pengumpulan dan Pengolahan Data
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan pada setiap aktivitas siswa dan situasi yang
berkaitan dengan tindakan penelitian yang dilakukan. Hal ini bertujuan untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Pengumpulan data secara garis
besar dilakukan pada saat berikut:
a. Lembar Observasi
b. Angket
c. Foto dan Video sebagai bukti penelitian
d. Lembar Proses Pembelajaran
e. Hasil tes pemahaman konsep siswa pada siklus I dan siklus II
2. Pengolahan Data
Data yang diperoleh pada setiap siklus dianalisis sebagai berikut:
a. Kategorisasi data
32
Data yang dianalisis dan direfleksi terlebih dahulu
dikategorisasikan berdasarkan fokus penelitian. Data dalam penelitian ini
menggambarkan tentang peningkatan pemahaman konsep matematika
siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan metode tutor sebaya.
b. Interpretasi Data
1) Lembar Observasi
2) Angket
Angket terdiri dari 20 butir soal yang harus dijawab oleh siswa. Penilaian
yang diberikan menggunakan skala Likert, dengan perhitungan persentase
sebagai berikut:
100%
n
f
P =
Keterangan: P = Persentase jawaban
f = Frekuensi jawaban
n = Jumlah responden
Adapun pembobotan pada skala Likert dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.10
Skala Penilaian Angket
Jawaban
Pernyataan
Positif
Pernyataan
Negatif
Sangat Setuju (SS) 4 1
Setuju (S) 3 2
Tidak Setuju (TS) 2 3
Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4
33
Tabel 3.11
Kriteria Interpretasi Skor Angket
Persentase Kriteria
75 < % 100 Sangat baik
50 < % 75 Baik
25 < % 50 Cukup
0 < % 25 Kurang
3) Foto dan Video
4) Lembar penilaian proses pembelajaran
Lembar penilaian proses pembelajaran yang diisi oleh observer,
dianalisa dengan menggunakan skor 1 4 dengan ketentuan sebagai
berikut:
Tabel 3.12
Skor Penilaian Proses Pembelajaran
Skor Indikator
1 Jika tidak ada deskriptor yang tampak/teramati.
2 Jika satu deskriptor tampak/teramati.
3 Jika dua dekkriptor tampak/teramati.
4 Jika tiga atau empat deskriptor tampak/teramati.
34
Tabel 3.13
Kriteria Penilaian Proses Pembelajaran
Nilai Kriteria
7.5 < Nilai 10 Baik sekali
5.0 < Nilai 7.5 Baik
2.5 < Nilai 5.0 Cukup
0 < Nilai 2.5 Kurang
5) Tes kemampuan pemahaman konsep
Dalam penelitian ini nilai yang diberikan memiliki bobot sesuai
dengan aspek yang telah ditentukan, yaitu aspek kemampuan
menyatakan ulang suatu konsep, kemampuan mengklasifikasi objek-
objek menurut sifat-sifatnya, kemampuan memberikan contoh dan
non-contoh dari suatu konsep, kemampuan menyajikan konsep dalam
berbagai bentuk representasi matematis dan kemampuan
menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi
tertentu. Sehingga nilai akhir yang diperoleh menggunakan rumus:
100
SMI

=
Keterangan: NA = Nilai Akhir
N = Total Nilai
SMI = Nilai Maksimal Ideal
35
% 100
n

= X
Keterangan: X = rata-rata
= jumlah nilai seluruh siswa
n = banyaknya subyek
5. Persentase daya serap
Dengan mengambil data dari data tes dan tugas yang diberikan
oleh guru. Untuk menghitung persentase daya serap (Depdikbud RI,
1994:39)
Menggunakan rumus:
Jumlah skor total subjek
Daya serap siswa = 100%
Jumlah skor total maksimum
siswa yang memperoleh daya serap > 65%
Daya serap kelas = 100%
Jumlah seluruh siswa
Jumlah nilai seluruh
Nilai rata-rata = 100%
Jumlah siswa