Anda di halaman 1dari 58

explore

Yogyakarta - 1 Januari 2012

KotaGede

explore

Yogyakarta - 1 Januari 2012

KotaGede

Fotografer Wahyu Widhi W Penulis Wawies Wisnu Wisdantio Desain dan Lay Out Untung Sumarsono Editor Fitria Werdiningsih Sita Apriliasari

"Ayunan langkah perjalanan bagai serpihan mozaik yang menjahit masa lalu dan masa kini. Jejak-jejak segera menjadi masa lalu untuk selalu dikenang dan entah suatu saat nanti bayang-bayang itu akan kembali ditelusuri oleh saya, anda, atau bahkan oleh anak cucu kita"

capan selamat pagi tersaji hangat, bertabur bumbu wajah sumringah (ceria) menjadi kudapan di pagi pertama tahun 2012. Mungkin hanyalah menu ala kadarnya yang jauh dari rasa kenyang. Namun, akan sangat berbeda rasa ketika menikmatinya dibawah bayang rimbun dedaunan Waringin Sepuh (Beringin Tua) kota tua dengan segudang cerita yang lestari tersembunyi dibalik dinding-dinding rapuh berlumutnya. Bahkan, jauh lebih berkesan daripada gegap gepita menyambut pergantian tahun semalam yang dipenuhi hiruk pikuk bertabur dentum ledakan kembang api beragam warna dan nyaring suara terompet bersahut-sahutan. Semua berawal dari selembar announcement Forum Joglo dan tawaran jelajah budaya lamanya yang didapat Fitria ketika menikmati suasana temaram Kotagede terbalut eksotisme musik jazz dalam acara Ngayogjazz 2011. Menjadi sebuah ide akan kegiatan Blusukan menelusuri lurung-lurung (lorong-lorong) sempit Kotagede disepakati menjadi pengisi hari pertama di awal tahun. Kotagede, Kota tua di sudut tenggara Yogyakarta yang selalu di-identik-kan dengan kerajinan Perak Bakar dan pesona rumah kaum Kalang-nya.

Fitria, Sita, Widhi, Untung, maupun saya sendiri tak pernah mengira bila trip ini akan sama gurihnya Jadah Manten yang menjadi welcome snack dan awal perjalanan panjang selama lebih dari 3 jam kedepan. Awal mengesankan untuk sebuah trip yang awalnya kami kira akan dimenemukan suasana layaknya sebuah tour di museum ditemani para guide yang bermuka datar dengan senyum dipaksakan sambil menghamburkan berbagai informasi kaku bak teks book. Perkenalan singkat yang ringan ketika mbak Shinta sang sekretaris forum Joglo memperkenalkan apa dan siapa forum joglo, mas David sang pemandu perjalanan, dan mbak Lista yang tak pernah lepas dari view finder kamera DSLR-nya ditanggapi Widhi dan Untung dengan penuh keseriusan. Terlihat dari awal saja mereka berdua telah aktif mengesplorasi setiap lekuk potongan-potongan beras ketan berisi daging cincang berbalut kulit telur dadar tipis itu dan dengan antusias memindahkan dari bambu penjepitnya ke dalam perut mereka masing-masing (doyan apa emang laper mas?... :D ... ). Tetapi ketika mbak Shinta memperkenalkan seorang bapak yang telah beranjak sepuh membuat kami terkaget-kaget. Beliau adalah pak Suryantoro sang koordinator forum Joglo sendiri yang berkenan hadir menyambut kami yang masih terbilang anakanak kemarin sore. Terlebih lagi ketika bapak yang juga cukup intens menjadi penggiat kegiatan konservasi heritage di Kotagede tersebut berkenan untuk menemani jalan-jalan kami kali ini. Wow!!! Belum memulai perjalanan saja kami sudah dibuat tercengang, tak terbayangkan bagaimana suasana perjalanan yang ditemani empat pemandu sekaligus... :D

Njogo Srawung liwat Lurung, Langgar, Pasar lan Kampung

yai Panggung masih kokoh berdiri meski usianya telah mencapai 400 tahun. Akar-akar gantungnya menjulur menyentuh tanah, mengeras bagai beberapa batang pohon yang saling membelit dan menyangga tajuk dedaunan membuat benak membayangkan citra seorang ibu tua yang tengah berjalan berdiri tenang dengan bantuan tongkat-tongkat penyangga tubuhnya yang telah renta. Pagi ini jalanan sepanjang kurang dari 300 meter dari sekitar pelataran sang Waringin Sepuh masih terasa sangat lengang. Rumah-rumah tradisional dikanan kiri jalan setapak yang telah diperkeras batu-batu candi hitam tertata rapi itu pun belum banyak memperlihatkan aktivitasnya. Kesan yang sangat jauh dari suasana yang terjadi ratusan tahun lampau, ketika jalanan ini masih berupa hutan lebat yang sedang dipenuhi ratusan orang tengah bahu membahu menebangi pepohonan. Alas Mentaok (hutan Mentaok) bukanlah hutan biasa, lahan disepanjang sungai Gajah Wong itu dipercaya pernah menjadi pusat Kerajaan Mataram Kuno abad ke-8. Sebuah peradaban kuno yang pernah berjaya dan sangat lekat dengan kisah sejarah wangsa-wangsa terkemuka di tanah Jawadwipa seperti wangsa Syailendra dan Sanjaya. Peradaban yang sangat terkenal karena kedasyatan peninggalannya yang saat ini masih membuat siapapun berdecak kagum ketika memandangnya, seperti candi Borobudur maupun candi Prambanan. Namun entah mengapa, peradaban itu tiba-tiba hilang tak berbekas dan lahan itu perlahan berubah menjadi hutan yang sangat lebat.

Tampak dikejauhan dua pria gagah tengah berdiri mengawasi


jalannya pekerjaan maha berat mem-Babat Alas Mentaok (membuka hutan Mentaok), hutan lebat berumur lebih dari 7 abad. Ki Ageng Pemanahan masih berbadan tegap meski gurat-gurat wajahnya tak bisa lagi sembunyikan usianya yang beranjak senja. Dalam diam, dia hanya berdiri mematung tepat di sebelah putranya Sutawijaya yang sesekali berteriak dan melompat tenggelam dalam hiruk pikuk. Keduanya tak lain adalah pembesar istana sekaligus orang-orang yang paling dipercaya penguasa kerajaan Pajang, Sultan Hadiwijaya. Karena jasa mereka yang berhasil mengalahkan Arya Penangsang dan bala tentara Kadipaten Jipang Panolan di tahun 1549, sang Sultan menghadiahkan lahan luas yang dinamai tanah Mataram di sepanjang sungai Gajah Wong itu sebagai wilayah kekuasaannya. Semenjak dibukanya kembali, perlahan tanah Mataram seakan kembali kembali hidup. Terus berkembang bahkan menjadi layaknya sebuah kerajaan kecil. Bahkan, sepeninggal kakek Pemanahan yang kemudian digantikan Sutawijaya muda, tanah Mataram menjadi pusat kerajaan baru sekaligus menjadi awal sejarah panjang generasi dinasti Mataram di pulau Jawa yang masih terus berkembang dan lestari hingga saat ini.
8

"

oleransi adalah dasar dan pondasi terkuat tempat berdirinya negeri ini" ujar pak Suryantoro diantara langkah-langkah kami menembus relung gapura Padureksa. Gapura dengan nuansa budaya hindu budha dengan balok dan daun pintu kayu penuh relief sulur-sulur dedaunan rumit tertatah halus di tiap sisi terbukanya yang dapat ditangkap oleh mata. Setelah kami mengitari kelir (dinding penghalang) berhiaskan ornamen lambang kerajaan, kesunyian halaman yang sejuk ternaungi pepohonan dan tugu jam berhiaskan mahkota Kasunanan Surakarta menyambut kedatangan kami di halaman masjid tertua di Yogyakarta, Masjid Mataram Kotagede. "Bukan sekedar untuk menghormati para pekerja yang kebanyakan masih menganut ajaran Hindu Budha, namun dibangunnya gapura itu juga menjadi pengingat bahwa Hindu Budha sudah menjadi budaya lama yang tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kehidupan di tanah ini". Kesunyian syahdu dan gemerisik dedaunan sejenak menenggelam kami dalam setiap lekuk dan gurat hasil karya tangan-tangan seniman terbaik dinasty Mataram yang seakan memancarkan doa-doa untuk mengagungkan sang pencipta, menghembuskan kesejukan kesetiap relung benak kami diantara langkah-langkah pelan tapak kaki tanpa alas di atas dinginnya lantai Masjid Mataram yang awalnya hanyalah sebuah langgar kecil tempat Ki Ageng Pemanahan menunaikan kewajibannya.

10

11

Jam tugu hijau menunjukkan pukul 10.30 ketika kami beranjak meninggalkan Masjid
Mataram dan beragam fragmen sejarah yang kembali dikisahkan mas David. Pasarean Senopaten, Kompleks makam raja-raja Mataram yang tak jauh dari Masjid Mataram menjadi tujuan selanjutnya melalui beberapa regol (pintu gerbang) dan kelir pembatas antar pelataran atau petak halaman yang masing-masing dilingkupi dinding tebal pembatas. Ternyata ketika kami melalui gerbang Srimanganti dan mencapai pelataran bangsal pengapit, seorang abdi dalem keraton memberi tahu bila hari masih terlampau pagi sehingga gerbang terakhir menuju pelataran Pasarean Senopaten masih terkunci rapat. Sehingga, mau tak mau kami hanya bisa duduk di salah satu sudut bangsal Pengapit beralaskan karpet hijau menikmati keramahan para Abdi dalem yang tengah menjalankan tugasnya.

12

13

14

S imbol-simbol budaya Jawa semakin lengkap terpapar ketika kami sampai di


pelataran Sendang Selirang yang konon menjadi tempat mandi khusus keluarga istana. Sepasang kolam kecil yang diberi nama sendang Kakung (pria) dan Sendang Putri (perempuan). Berada cukup lama di bibir pagar keliling sendang Kakung, mas David menceritakan sejarah panjang yang masih letari tersimpan dibalik permukaan air tempat hidup beberapa ikan yang berukuran cukup besar. Seklumit kisah tentang salah satu "lelaku" dalam kepercayaan yang masih kental dalam budaya masyarakat setempat dan sering kali disebut sebagai budaya Kejawen pun diceritakan mas David masih sangat mudah ditemui di sendang yang cukup sepi itu.

15

Belum habis tawa dan canda ringan kami sambil membahas cerita mas David, seketika suara kami menghilang bak tertelan angin ketika seorang ibu berusia setengah baya mendekat ke pagar telaga tanpa sedikitpun menghiraukan keberadaan kami. Kekusyukan sang ibu melantunkan permohonan panjang dalam bahasa Jawa Kromo Inggil (salah satu tingkatan dalam tata bahasa tradisional suku Jawa- red) yang halus tak urung membuat kami ikut terpaku dalam keheningan. Seakan ikut meng-amin-i doa sang ibu, kami pun baru beranjak meninggalkan sendang Kakung setelah seluruh prosesi itu usai dengan berbagai hal yang berkecamuk dalam benak kami masing-masing.
16

17

18

19

20

21

22

Meninggalkan situs-situs tua disekitar Masjid Mataram yang masih sangat kental dengan
fragmen budaya dalam kehidupan masyarakat Jawa, perjalanan berlanjut pada penelusuran lurung-lurung Kotagede yang rumit saling berkelindan bagaikan jejaring urat-urat nadi. Meski hanya selebar kurang dari 1,5 meter, dinding-dinding tua berlumut seakan ikut berbisik mengisi benak kami dengan cerita beberapa tradisi lama yang masih lestari hingga saat ini. "Waduh, kalo seumpama ada 2 motor yang saling bersilangan di lurung ini, gimana caranya ya pak?" seloroh Fitria. "Ya, mau enggak mau salah satu harus mengalah", jawab pak Surya sambil terkekeh geli. "Urut Tuwo, mbak, hehehe..." (berurutan sesuai usia yang lebih tua - red) tambah mbak Shinta yang membuat kami ikut tertawa.
23

"Sejauh ini sih, memang tidak pernah ada permasalahan karena hal itu, mbak" tambah pak Surya menegaskan masih kentalnya nilai-nilai toleransi dalam keseharian masyarakat Kotagede hingga sekarang. Tak hanya itu, disepanjang perjalanan pun kami menemukan salah satu ciri khas yang sangat mudah ditemui di Kotagede. Keramahan disertai senyum dan tawaran untuk sekedar singgah sejenak menjadi hal yang sangat mudah ditemui hampir disetiap rumah yang kami lalui. Namun sayangnya, terpaksa kami tolak dengan halus mengingat masih jauhnya perjalanan.

24

25

"

Lho!! Mbak Shinta!! Lho..lho... ada pak Sur juga to... Monggo mampir dulu!!"

sergah seorang bapak menyapa ramah ketika kami tiba didekat Pendopo Joglo tua yang baru saja selesai direnovasi. Disela-sela waktu menunggu mbak Shinta yang masih bercengkerama dengan bapak yang tadi menyapanya, pak Surya memperkenalkan alah satu ciri khas Kotagede ketika beranjak duduk di tempat duduk beton di dinding salah satu rumah dan menjorok ke jalanan. "Tempat duduk ini namanya Tadahlas, alias tadah (tempat) alas (dasar) ... maksudnya alas manusia alias pantat.... hahahaha... Disinilah biasa orang-orang Kotagede berkumpul dan bercengkerama satu sama lain.... tidak hanya disini... hampir disemua rumah di Kotagede punya Tadahlas. Jadi bisa dibayangkan bagaimana eratnya persaudaraan di sini".

26

27

28

"

ho, Fit!!!! Kamu pernah kesini ya??!! hahahaha" teriakan Widhi dari kejauhan disela-sela keasyikannya menjepretkan kamera mau tak mau telah membuat kami penasaran dan beranjak meninggalkan pak Surya yang masih menikmati suasana di Tadahlas. Tiba-tiba tawa lepas kami meledak bersama-sama setelah mendekati tempat mas Widhi berdiri sambil melihat ke dinding-dinding disekeliling kami yang penuh grafity liar. Uniknya, hampir disetiap dinding ditemukan goresan membentuk sebaris nama Fitria dalam berbagai ukuran.... :D ... "Jangan-jangan Fitria mengajak kita ke kotagede cuma mau nunjukin ini nih... hahahaha... nunjukin kalo sekarang jadi artis di Kotagede" seloroh Untung membuat gelak tawa kami semakin keras berderai. "Siauuulll!!!" jawab Fitria disela-sela tawanya.
29

Tak jauh dari pelataran tembok ratapan


Fitria (hehehehe... sorry fit... belum menemukan nama yang cocok untuk menyebutnya sih... :P...), langkah-langkah kami kembali terhenti di halaman sebuah rumah ekletis yang cukup apik mempadukan ketradisionalan Joglo dengan gaya arsitektur jengky, gaya bangunan yang banyak berkembang di era 60-an.

30

"

umah ini salah satu joglo tua di Kotagede yang masih sangat terawat", ujar mas David. "Rencananya sih rumah ini akan dikembangkan jadi salah satu homestay bagi para petualang Heritage yang berminat melewatkan waktu lebih lama di Kotagede, semoga saja cepat terealisasi" timpal mbak Shinta bersemangat. "Monggo... monggo masuk, monggo kalo mau lihat-lihat, tapi maaf sekali, rumah kami masih sangat kotor karena banyak yang belum selesai dibenahi", ramah bu Gunawan menyambut. Seketika panas sinar matahari tergantikan oleh kelembaban suhu ruangan sejuk membelai kulit. Di sebuah ruang besar yang belum tertata dan berbagai furniture kuno diletakkan ala kadarnya agar tetap bisa digunakan, benak kami seakan membawa kembali ke masa-masa kecil ketika suasana yang sama masih sangat mudah kami temukan.

31

Keunikan rumah Keluarga Gunawan yang membuat kami terpukau adalah


kesempatan untuk bisa melihat langsung salah satu fragmen yang memperlihatkan geliat masyarakat Kotagede dimasa revolusi. Mungkin sekilas tidaklah semenarik yang kami bayangkan sebelumnya. Situs sejarah itu hanya berupa sebuah almari kuno yang mulai lapuk termakan jaman dan tak lagi berdiri tegak. Saat daun pintu almari itu dibuka pun, kami hanya melihat barang-barang usang berdebu yang tak lagi berfungsi. Tetapi, ketika kami cermati lebih jauh, ternyata barang-barang itu menyamarkan bagian belakang almari yang tidak berdinding dan berhubungan dengan sebuah lubang besar menganga.

32

Ya! Sebuah Pintu Rahasia! "Dahulu kalau ada serangan udara, atau ada serangan dan sweeping tentara penguasa kolonial, lewat almari inilah kami masuk ke gua (lubang) dibelakangnya. Sehingga setiap kali tentara Kolonial masuk ke dalam rumah, mereka selalu tertipu dan menganggap rumah ini hanyalah rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya pergi mengungsi", ujar bu Gunawan menjelaskan sambil sesekali matanya menerawang jauh seakan hendak mengenang kembali masa-masa itu. "Meski cuma lubang kecil, jasanya sangat besar ketika melindungi keluarga ini. Karena itulah kami tetap mempertahankan keberadaannya".
33

Di ruang tengah yang awalnya merupakan pendopo joglo, bu Gunawan kembali


melanjutkan berbagai kisah lama lainnya yang tersimpan rapi hampir disetiap furniture maupun setiap lekuk keindahan kayu berukir pada balok-balok kayu tumpang sari dengan penyangga empat soko guru (tiang penyangga) berumpak batu hitam legam di tengah ruangan. Belum habis kisah-kisah lama itu terceritakan, tak disangka-sangka suasana dalam pendopo menjadi semakin ramai ketika mas Totok Surahman datang bersama putranya, pria yang juga salah satu pengurus Forum Joglo sekaligus kepala rumah tangga yang dibinanya bersama mbak Shinta.

34

"Baru kali ini saya merasakan trip jalan-jalan yang jumlah pemandunya sama banyak dengan jumlah peserta trip-nya... hahahahahaha", seloroh Fitria dan Sita sambil tawa geli ketika mas Totok memutuskan ikut menemani kami menelusuri lurung-lurung Kotagede. "Sekalian ngajak si kecil jalan-jalan, mbak. Mumpung hari minggu.. hehe" ujar mas Totok yang ternyata tak kalah ramah dibanding pasukan forum Joglo lainnya yang sudah lebih dulu menemani kami semenjak pagi.

35

36

Semakin jauh ke arah barat, memasuki lorong-lorong kampung Citran memberikan


nuansa terasa sedikit berbeda. Banyak lorong-lorong sempit yang tak lagi terapit dindingdinding tua berlumut. "Sayang sekali, gempa banyak mengubah wajah Kotagede. Terlalu banyak dinding lurung maupun bangunan lama yang roboh. Bahkan nggak sedikit yang dibiarkan begitu saja karena pemiliknya tak mampu mendirikannya kembali", ujar mbak Shinta sambil sesekali menunjukkan beberapa pelataran penuh alang-alang liar diantara puing bangunan terlantar yang kami lalui disepanjang perjalanan.

37

Sinar matahari semakin kejam membakar ketika lorong demi lorong terus kami lalui.
Dari joglo Tumenggungan yang merupakan satu-satunya joglo dengan konstruksi gantung hingga sampai di Omah UGM.

38

Tergoda sejuk semilir angin setelah terpanggang panasnya matahari, kami menghempaskan tubuh ke lantai pelataran tegel abu-abu omah UGM yang dingin. Teras unik dengan furniture lama di sisa-sisa Gandhok (ruang samping rumah Jawa) tepat di sebelah timur pendapa yang telah dibangun kembali dengan tetap mempertahankan sisa-sisa dinding tak utuh menjadi sebuah monumen pengingat kejadian maha besar di tahun 2006 lalu.
39

40

Kenarsisan kami mulai menggeliat... :P .... beruntung, mbak Lista ternyata cukup berbesar hati berkenan mengabadikan kami meski pose-pose kami mungkin "sedikit" tak wajar baginya... hahaha.. :D. Seakan belum juga terpuaskan, usai menyerap habis seluruh informasi dari setiap diorama dalam omah UGM, teras yang asri-pun kembali menjadi korban kenarsisan kami. Bahkan, Mbak Shinta, Mas Totok, Mas David, Mbak Lista, dan bahkan Pak Suryantoro pun sedikit teracuni ajakan kami untuk berfoto bersama (untungnya beliau-beliau tidak ikut teracuni mengambil pose-pose kami yang tak wajar, haahahahaha).....

41

42

"Kelihatannya hari sudah terlalu siang, bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke tempat makan siang", tawaran yang langsung kami sambut serempak,

"Setujuuuuuuu, hahahaha!!!!"
43

44

tape terakhir perjalanan pun kembali berlanjut ditengah sinar matahari yang semakin terasa tajam mengiris kulit. Lorong demi lorong, joglo demi joglo, berkenalan dengan sejarah pos penjagaan yang tepat berada di persimpangan jalan yang seringkali disebut pos Malang (jawa: melintang, red), lorong omah kalang milik jutawan Rudi Pesik yang pernah digunakan menginap Lech Walesa, presiden Polandia era 1990-1995. Sayang sekali, waktu kembali menjadi penghalang kami untuk menyaksikan koleksi benda budaya di rumah seni Rudi Pesik.
45

Langkah-langkah kami terus terayun memasuki lorong-lorong kampung Ngerikan hingga menembus ke Jalan Mondorakan yang memisahkan wilayah Kotagede menjadi 2, yaitu sisi utara jalan masuk dalam wilayah administrasi kota Yogyakarta dan di sisi selatan jalan yang masuk dalam wilayah pemerintahan kabupaten Bantul.

46

Menyeberangi Jalan Mondorakan, kami tiba dalem Sopingen, salah satu dari sekian banyak saksi bisu sejarah panjang yang bertebaran di hampir seluruh wilayah kota tua ini. Sebuah rumah tua yang didalamnya pernah terjadi berbagai kejadian bersejarah dunia politik semenjak era kebangkitan kaum muda hingga era ketika Partai Komunis Indonesia masih memiliki kekuatan politis di negeri ini.
47

Akhirnya, petualangan inipun berakhir


disebuah rumah sederhana ternaungi pepohonan rindang yang usianya mungkin sudah sangat tua. Ndalem Ngaliman, demikian mbak Shinta menyebutnya. Tepat didepan rumah Bp. H. Ngalim, dalam naungan atap joglo telah tertata sebuah meja kecil lengkap dengan hidangan sederhana yang menyambut.
48

49

"Monggo, monggo, selamat datang di Dalem Ngaliman", ujar mbak Shinta sambil mengajak kami berkenalan langsung dengan pak Ngalim yang meski usianya sudah cukup sepuh masih tetap sigap bergerak dan mantap menyambut setiap uluran jabat tangan kami. Ini dia yang harusnya menjadi welcome snack tadi pagi. Perkenalkan, inilah yang dinamakan Kipo, penganan berwarna hijau yang sedikit terdapat noda menghitam karena dipanggang diatas bara api terpapar cantik diatas piring-piring kecil bersanding dengan segelas minuman ramuan rempah yang biasa disebut wedhang Secang menjadi pemandangan sangat indah dimata kami.

50

Tanpa menunggu lebih lama lagi, sepotong demi sepotong kipo yang terbuat dari ulenan tepung ketan lembut berisi parutan kelapa manis berpindah dari piring-piring kecil itu masuk ke dalam mulut kami yang seakan tak lelah mengunyah. Sementara wedang Secang yang hangat kembali menyegarkan tubuh lelah kami. Dan akhirnya bersama-sama dengan pak Ngalim, kami rasakan nikmatnya masakan "rumahan" yang telah disiapkan secara khusus. Entah mengapa, meski sederhana, makan siang kali ini terasa sangat berbeda. Mungkin saja memang keramahan sang tuan rumah yang duduk bersama-sama dengan kami, ataukan memang kami terlalu lapar ... :P, Entahlah.....

51

Ketika Sesrawungan itu Harus Berakhir

52

Kesejukan angin, perut penuh, dan tempat merebahkan tubuh di lantai joglo yang
dingin saat hari tengah panas menyengat, menjadi perpaduan sangat sempurna untuk menghadirkan rasa kantuk yang bisa dipastikan akan membuat kelopak mata siapapun terasa luar biasa berat! Hahaha.... Cukup lama kami asyik memanjakan diri di joglo Dalem Ngaliman, Widhi lebih memilih menyerah pada rasa kantuk dan tertidur disalah satu sudut pendopo, Untung ternyata masih memiliki sedikit ruang dalam perutnya sehingga tetap menyibukkan diri dengan piring kipo ke-tiganya, Sita dan Fitria terlihat asyik berbagi pengalaman dengan mbak Shinta tentang suka duka menjalani kesehariannya menjadi penggiat forum joglo dan pelestari heritage Kotagede, sedangkan saya sendiri menyibukkan diri membolak-balik halaman-halaman buku Toponim Kotagede hasil karya keroyokan tiga penulis sekaligus, yaitu Erwito Wibowo, Hamid Nuri dan Agung Hartadi yang banyak mengulas sejarah penamaan di Kotagede (hiks... ketemu buku bagus tapi nggak bawa uang cukup... :p ...).
53

"Lho, masih banyak kok mas, kok sudah selesai?" ujar mbak Shinta sambil berdiri dan kembali sambil menyodorkan dua piring terakhir kipo yang masih tersisa diatas meja. Tentu saja Untung yang sepertinya telah jatuh hati pada penganan hijau manis itu menyambut penuh antusias. Waktu terus bergulir hingga akhirnya gulungan-gulungan mendung tebal mulai menyelimuti sepanjang ufuk utara hingga ke barat dan terus bergerak ke arah kami. Meski dengan berat hati, kami harus berpamitan dengan keluarga Pak Ngalim, mas Totok, mas David, mbak Lista (yang sampai akhir masih tetap setia dengan senyumnya tanpa banyak berkata... :P) dan bapak Suryantoro. "Mari saya antarkan sampai ke pelataran parkir. Sekalian ambil beberapa barang yang masih saya tinggalkan disana", ujar mbak Shinta sigap berdiri bersiap diri menemani kami berjalan kaki ke pelataran Waringin Sepuh tempat motor-motor dititipkan.

54

Kotagede tetap menjadi tempat yang terlalu eksotis untuk segera kami tinggalkan begitu saja hanya karena mendung tebal. Jabat tangan sebagai pengikat tali paseduluran (Jawa: tali persahabatan, red) pun akhirnya memisahkan kami dengan mbak Shinta dan teman-teman baru di forum Joglo. Namun, sudut-sudut Kotagede ternyata masih cukup menggoda kami untuk tidak segera meninggalkannya, "hey, kita masih punya uang sisa makan malam kemarin lhooo..... kita beli coklat aja yuuuk", ujar fitria. "Iya nih, sekalian mau beli oleh-oleh buat temen-temen di Jakarta", sambut Untung yang akan berangkat ke ibukota ke-esokan harinya. Akhirnya, semua perjalanan panjang inipun berakhir dengan pesta coklat disalah satu outlet coklat terkenal dari Kotagede yang letaknya tak jauh dari pelataran situs Watu Gilang di selatan pasar Kotagede yang masih ramai oleh penjual penganan tradisional.
55

Kotagede, kota tua ini agaknya akan kembali kami jajaki. Meskipun belum tau kapan itu akan kami lakukan, tapi pasti kami akan kembali. Petilasan Keraton Mataram yang penuh dengan berbagai situs tua penuh kisah panjang perjalanan kerajaan Mataram di Tanah Jawa, seperti: situs Watu Gilang, situs tembok pangeran Rangga, situs gerbang kembar, atau menikmati berbagai koleksi benda budaya di museum budaya Rudi Pesik, menjajaki rumah-rumah Kalang, merasakan membuat perhiasan perak hasil karya kami sendiri, dan mungkin kembali bersama forum Joglo untuk merasakan trip malam yang tadi sempat ditawarkan mbak Shinta.

Kotagede, tunggu kedatangan kami tuk kembali suatu saat nanti... :)

56

Divisi Jelajah Pusaka Kotagede FORUM JOGLO


Ndalem Ngaliman,Kompleks Sopingen, Prenggan Kotagede Yogyakarta Indonesia Telepon : 0274 6665448 : 085 743 768 8484 e-mail : shintank@yahoo.com FB Page : kotagedeheritage.org |sanggar tari tejo arum kotagede | Perpustakaan Heritage Kotagede | Kotagede Heritage Trail

www.kotagedeheritage.org Rekening :
BRI KCP Gedongkuning, No. Rek : 1008-01-000826-53-2 an. Shinta Noor Kumala

Bantuan Anda akan sangat berguna untuk pelestarian bangunan bersejarah di Kota Gede

57

2012
Share pengalaman atau destinasi favorit Anda. Hubungi kami di: www.landscapeindonesia.com
58